alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/555b3a3554c07a973d8b4568/dibalik-kisah-para-pengungsi-rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
PROLOG
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya

Quote: Membicarakan yang sedang hangat-hangat nya di SOSMED maupun di Media-media lokal maupun Internasional tentang para pengungsi etnis Rohingya maupun para pencari suaka asal Bangladesh, ane akan memberikan beberapa cerita tragis tentang Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Myanmar terhadap etnis Rohingya di berbagai negara bagian/provinsi di negara tersebut.

Agar orang-orang yang mengatakan "utamakan dahulu warga negara sendiri" lebih membuka hati mereka dan lebih menunjukan empati maupun simpati pada korban Tragedi kemanusiaan ini.

apa yang terjadi di Myanmar ini sudah diluar akal sehat, bagaimana tidak? orang2 dengan mudahnya membunuh, memerkosa, membakar, menghancurkan... padahal mereka dulu tetangga, kawan akrab, namun karena ada konflik horizontal sekarang mereka saling membunuh...

Anda mungkin masih ingat bagaimana tragedi kemanusiaan di berbagai daerah di Indonesia yang terjadi 17 Tahun silam?
bahkan sebagian orang menganggap kejadian ini adalah pembersihan etnis. Yang mana saya sebagai Muslim pun juga mengutuk perbuatan keji dengan mengatasnamakan etnis maupun agama.

Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Ilustrasi


mungkin kejadian 20 Mei 98 lalu hampir sama dengan yang terjadi di myanmar, perbedaannya adalah di Indonesia etnis tionghoa masih mendapatkan tempat dan diakui warga negara Indonesia walaupun bukan Ras/etnis melayu.
sedangkan di Myanmar, etnis Rohingya tidak lagi mendapatkan tempat entah itu di Myanmar ataupun di Bangladesh.

maka dari itu banyak dari etnis rohingya mengungsi ke negara-negara terdekat, namun naas 4 negara terdekat pun enggan menerima mereka.
jika dibandingkan kembali dengan tragedi kemanusiaan oleh Hitler yang biasa disebut dengan holocaust. mungkin hampir sama, yang membedakannya adalah holocaust tragedi yang menimpa yahudi, dan Rohingya adalah muslim.
dan holocaust diliput media sedemikian heboh, sedangkan tragedi kemanusiaan rohingya tidak seheboh holocaust.

padahal sekarang orang dengan mudah mendapatkan informasi dibandingkan dengan zaman 40an sampai 50an.


HISTORY
Quote:Awal Mula Kejadian
Kisah tragedi yang memilikan itu terjadi ketika dalam perjalanan menuju rumah dari tempat bekerja sebagai tukang jahit, Ma Thida Htwe, seorang gadis Buddha berumur 27 tahun, putri U Hla Tin, dari perkampungan Thabyechaung, Desa Kyauknimaw, Yanbye, ditikam sampai mati oleh orang tak dikenal. Lokasi kejadian adalah di hutan bakau dekat pohon alba di samping jalan menuju Kyaukhtayan.

Penyelidikan menunjukkan bahwa Htet Htet (a) Rawshi tahu rutinitas sehari-hari korban yang pulang-pergi antara Desa Thabyechaung dan Desa Kyauknimaw untuk menjahit. Menurut pengakuannya dia berbuat dipicu oleh kebutuhan uang untuk menikahi seorang gadis, dan berencana untuk merampok barang berharga yang dipakai korban.

Spoiler for agak DP:


Bersama dengan Rawphi dan Khochi warga muslim Bengli. Rawshi menunggu di pohon alba dekat tempat kejadian. Tak lama Ma Thida Htwe yang diincarnya datang dan berjalan sendirian, ketiganya lalu menodongkan pisau dan membawanya ke hutan. Korban lalu diperkosa dan ditikam mati, tak lupa merenggut lima macam perhiasan emas termasuk kalung emas yang dikenakan korban.

Untuk menghindari kerusuhan rasial dan ancaman warga desa kepada para tersangka, aparat kepolisian setempat bersiaga dan mengirim tiga orang pelaku tersebut ke tahanan Kyaukpyu. Sehubungan dengan kasus Ma Thida Htwe yang dibunuh, sekelompok orang yang terkumpul dalam Wunthanu Rakkhita Association, Taunggup, membagi-bagikan selebaran kepada penduduk lokal di tempat-tempat ramai di Taunggup, disertai foto Ma Thida Htwe dan memberikan penekanan bahwa massa Muslim telah membunuh dan memperkosa dengan keji wanita Rakhine.

Sorenya tersiar kabar bahwa ada mobil yang berisikan orang Muslim dalam sebuah bus yang melintas dari Thandwe ke Yangon dan berhenti di Terminal Bus Ayeyeiknyein. Petugas terminal lalu memerintahkan bus untuk berangkat ke Yangon dengan segera. Bus berisi penuh sesak oleh penumpang. Beberapa orang dengan mengendarai sepeda motor mengikuti bus. Ketika bus tiba di persimpangan Thandwe-Taunggup, sekitar 300 orang lokal sudah menunggu di sana dan menarik penumpang yang beridentitas Muslim keluar dari bus. Dalam bentrokan itu, sepuluh orang Islam tewas dibantai dan bus juga dibakar hancur luluh lantak.

Spoiler for awas..! DP ya...gak kuat jangan dibuka!:


Etnis Rohingya
Rohingya adalah grup etnis yang kebanyakan beragama Islam di Negara Bagian Rakhine Utara di Myanmar Barat. Populasi Rohingya terkonsentrasi di dua kota utara Negara Bagian Rakhine sebelumnya disebut Arakan. Etnis Rohingya adalah masyarakat muslim yang hidup tanpa kewarganegraan di Myanmar. Muslim Myanmar hanya berjumlah 4% dari total populasi Myanmar dan menjadikan etnis Rohingya minoritas. Etnis Rohingya tinggal di perbatasan Myanmar dan Bangladesh sejak wilayah itu masih menjadi jajahan Inggris. Namun, saat kedua negara itu merdeka, mereka mendapat perlakuan buruk. Walau sama-sama beragama muslim, etnis Bengal selaku mayoritas di Bangladesh enggan mengurus mereka. Hal ini menyebabkan banyak keluarga Rohingya nekat menetap di Myanmar.

Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
ilustrasi

Etnis Rohingya hidup di perbatasan dengan Bangladesh, sangat mudah untuk mengusir masyarakat Rohingya untuk meninggalkan Myanmar dan menetap di Bangladesh. Sebelumnya pada perang dunia ke II, banyak masyarakat Rohingya yang juga berimigrasi ke Bangladesh dan saat ini yang menetap di Rohingya hanya 90.000 orang. Banyak konspirasi yang berkembang di Asia mengenai Rohingya, ada yang mengatakan muslim sebagai teroris, ada juga yang mengatakan muslim tidak mau murtad dan memeluk Budha hingga akhirnya dibunuh. Namun, dibandingkan dengan sekedar konspirasi, fakta yang berkembang adalah dibantainya etnis Rohingya di Myanmar.

Pada tahun 1988, muncul sistem baru di Myanmar. Walaupun rezim otoriter militer yang memimpin, tapi Myanmar menggunakan sistem pasar. Ketika itu ada undang-undang baru yang namanya The Union of Myanmar Foreign Investment Law. Payung hukum ini adalah perlindungan terhadap sektor eksplorasi dan pengembangan sektor minyak dan gas alam yang melibatkan korporasi-korporasi asing.

Pada kasus Arakan ini adalah pertarungan soal minyak dan gas bumi. Pada tahun 2005, perusahaan gas Cina menandatangani kontrak gas dengan pemerintah Myanmar untuk mengelola eksplorasi minyak. Dari konflik kepentingan ekonomi itu dari konflik ekonomi menjadi konflik sosial secara horisontal. Pihak rezim militer di Myanmar dari era Ne Win hingga sekarang ini, ternyata telah melibatkan perusahaan asing semacam Chevron AS maupun Total Perancis, padahal kedua negara ini kan di permukaan mengangkat isu hak asasi manusia. Tampaknya sulit dihindari dugaan ada pertarungan bisnis yang bermain melalui pintu belakang dari rezim militer Myanmar.

Upaya sengaja untuk merampas hak atas tanah, penolakan kewarganegaraan, pembantaian massa, pengusiran, pembakaran pelarangan pelaksanaan ibadah, penutupan jalur pasokan makanan, dan sejumlah tindakan brutal lainnya adalah sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (HAM)

Tindakan diskriminatif yang menimpa Muslim Rohingya berlatar belakang agama. Ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Penganiayaan yang dilakukan dengan cara-cara militer kepada warga sipil harus segera dihentikan. Seluruh bangsa-bangsa di dunia harus bertanggungjawab atas nasib dan masa depan suku Rohingya di Myanmar. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh tentara Myanmar ini tidak dapat ditolerir atas nama apapun. Bahkan, tindakan-tindakan ini mengindikasikan telah terjadinya skenario pembasmian etnis terhadap kaum muslim Rohingya.

Konflik Horisontal Antar Agama
Ternyata bukan hanya ditekan oleh militer dan pemerintahan Birma. Etnis muslim Rohingyapun juga menjadi sumber konflik horisontal antar agama. Konflik horisontal ini semakin memanas ketika para tokoh pemuka agama sudah mulai ikut melakukan intervensi. Di sejumlah titik dekat pengungsian, sekelompok biksu mengeluarkan selebaran berisi peringatan kepada warga Myanmar untuk tidak bergaul dengan Muslim Rohingya. Sementara selebaran lainnya berisi rencana untuk memusnakah kelompok etnis lain di Myanmar. Lebih rumit lagi, ketika dua organisasi biksu terbesar di Myanmar, Asosiasi Biksu Muda Sittwe dan Asosiasi Biksi Mrauk Oo menyerukan agar warga Myanmar tidak bergaul dengan Muslim Rohingya. “Muslim Rohingya bukanlah kelompok etnis Burma. Mereka akar penyebab kekerasan,” kata salah seorang pemimpin biksu, Ashin Htawara dalam sebuah acara di London.

Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
ilustrasi

Direktur Arakan Project LSM lokal, Chris Lewa, mengungkapkan “Biarawan Myanmar disebut turut andil menyebarkan kebencian terhadap Muslim Rohingya. Beberapa tahun terakhir, para biksu memainkan peranan dalam penolakan masuknya bantuan kepada umat Islam,” Beberapa anggota badan kemanusiaan di Sittwe juga ikut bersaksi bahwa sejumlah biksu ditempatkan dekat kamp pengungsi. Mereka memeriksa setiap orang yang berkunjung lantaran khawatir akan memberikan bantuan. Para pengamat mengatakan, biksu Myanmar terlihat memblokir bantuan internasional yang ditujukan untuk pengungsi muslim. Di Sittwe misalnya, para biksu menolak untuk mengizinkan masuknya bantuan internasional. Menurut mereka, bantuan itu sangat bias. Amnesty Internasional mengatakan selepas bentrokan Muslim Rohingya kerap mendapat serangan fisik. Bahkan tak jarang jatuh korban.

Ditolak dimana-mana
Diperkirakan, sebanyak 800 ribu Muslim Rohingnya tinggal di Myanmar. Namun, pemerintah menganggap mereka sebagai orang asing dan warga Myanmar juga menyebut mereka pendatang haram dari Banghladesh. Kondisi Muslim Rohingnya semakin mengkhawatirkan karena dunia tidak mempedulikannya. Bangladesh sendiri tidak bersedia menampung mereka dengan alasan tidak mampu. Sehingga banyak pengungsi Rohingya ke Bangladesh dipulangkan kembali begitu tiba di Bangladesh. Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, menyatakan negaranya tidak ingin ikut campur soal nasib pengungsi Rohingya. Kekerasan dua bulan terakhir yang menimpa etnis minoritas itu bagi dia urusan pemerintah Myanmar. Jangankan mendapat perlindungan, diperlakukan layak saja sudah sangat beruntung. Setibanya di pantai-pantai Bangladesh, mereka dikumpulkan dan dijaga ketat oleh aparat bersenjata lengkap. Di bawah todongan senjata mereka dibariskan lalu diberi nasi bungkus dan satu botol air minum.

Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
ilustrasi

Tentara militer dengan menggunakan senapan serbu semi-otomatis yang biasa digunakan dalam perang itu, kemudian menggiring mereka ke dermaga. Setelah itu mereka disuruh naik ke sampan-sampan yang jauh dari layak untuk menyeberangi lautan. Dengan tanpa belas kasihann sedikitpun para militer tersebut melakukan perintah komandannya untuk memaksa para pengungsi itu untuk masuk ke sampan itu lalu kembalilah ke laut.

Di Bangladesh ditolak di Burma diusir, sehingga para Muslim tak berdaya terkatung-katung di laut tidak tahu harus kemana. Tak peduli mereka mau kemana yang pasti tidak merepotkan Bangladesh. Praktis Muslim Rohingya itu kebingungan harus kembali ke mana. Sebab, di Myanmar mereka tidak diterima bahkan disiksa dan di Bangladesh juga diusir-usir. Bahkan Presiden Myanmar Thein Sein mantan jenderal militer itu mendukung kebijakan yang mendorong terjadinya penghapusan etnis. Thein Sein mengatakan, sekitar 800 ribu etnis Rohingya harus ditempatkan pada kamp pengungsi dan dikirim ke perbatasan Bangladesh. Lebih menyedihkan lagi ketika pejuang demokrasi Myanmar sekaligus peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi memilih diam menghadapi kebijakan Presiden Thein Sein dalam menyelesaikan kasus etnis Rohingya.

Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Presiden Myanmar Thein Sein

Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Aung San Suu Kyi


Saat ini etnis Muslim Rohingya mungkin salah satu kelompok yang paling teraniaya di dunia. Etnis Rohingya tak boleh ada di Myanmar dan tidak diterima di bangladesh. Tak ada pilihan selain naik sampan dan akhirnya terkatung-katung di samudera luas. Banyak di antara mereka yang gagal menaklukan ganasnya samudera sehingga harus tewas dan dikuburkan di lautan. Mudah-mudahan doa para teraniaya itu dapat menyelematkan mereka atas upaya manusia tidak berperikemanusiaan untuk membasminya di muka bumi ini.

sumber tulisan


Quote:Inilah Kisah Pedih Tiga Muslimah Rohingya

Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
ilustrasi


Raihana, Arafa, dan Hamidah, tiga Muslimah dari Myanmar yang melarikan diri menghindari brutalitas di negara mereka dan berlindung ke Bangladesh. Mereka menceritakan kisah mereka menyelamatkan diri dari kematian pasti di negara mereka.

Fars News mengutip al-Arabiya menyebutkan, ketiga Muslimah itu sekarang bersama anak-anak mereka berlindung di Bangladesh dan berada dalam kondisi yang sangat sulit.
Gelombang baru brutalitas yang dilakukan oleh para penganut Budha terhadap umat Muslim Myanmar selama satu setengah bulan terakhir di wilayah Arakan, menurut berbagai sumber telah merenggut nyawa ribuan orang.

Raihana, 25 tahun, kepada kantor berita Anatoli Turki mengatakan bahwa dalam upayanya melarikan diri ke Bangladesh, dia bersama anak perempuannya yang baru berusia satu tahun, terpaksa memakan dedaunan dan ilalang agar bertahan hidup.

Perserikatan Bangsa Bangsa dan berbagai lembaga HAM membenarkan bahwa etnis Muslim Rohingya, Myanmar, telah selama bertahun-tahun menghadapi kezaliman dan kejahatan sistematik oleh pemerintah Myanmar.

Seorang pengungsi Muslimah lainnya bernama Arafah, 27 tahun, mengatakan bahwa dia telah melintasi perjalanan yang sangat sulit dan berbahaya dari Myanmar hingga Bangladesh bersama dua anak perempuannya Jannat (delapan tahun) dan Khurshid (empat tahun).

Arafah menambahkan bahwa setelah suaminya ditangkap oleh pasukan keamanan Myanmar, dia dan anak-anaknya terpaksa melarikan diri karena menurutnya, pasukan keamanan membakar hidup-hidup warga Muslim dan mereka mencegah warga Muslim pergi ke Masjid.

Adapun Hamidah mengatakan, setelah suami dan anak lelakinya ditangkap oleh pasukan keamanan, dan rumah mereka dibakar. Mereka pun terpaksa melarikan diri ke Bangladesh.

sumber tulisan

Kesaksian Horor Pada Tragedi Rohingya

Human Right Watch (HRW) pada Rabu 1 Agustus 2012 mengeluarkan laporan yang menunjukkan kekerasan oleh aparat keamanan terhadap Muslim Rohingya pada bentrokan antara Juni-Juli lalu. Dalam laporan tersebut, HRW mengambil kesaksian 57 warga Rohingya dan Rakhine yang terlibat bentrok.
Laporan setebal 56 halaman itu berjudul "Pemerintah Seharusnya Menghentikan Ini: Kekerasan Sektarian dan Pelanggaran di Arakan." HRW mengecam pemerintah Myanmar yang dinilai tidak mampu melindungi warga Rohingya, malah justru ikut serta membunuh dan memperkosa mereka. Dalam laporan, tidak disebutkan nama asli saksi, demi keamanan mereka.
Salah seorang Muslim Rohingya berusia 36 tahun mengatakan bahwa tentara Myanmar ikut berada dalam barisan etnis Rakhine di Arakan, turut menembaki warga. Polisi hanya melihat saat warga Rohingya disabet parang dan tongkat.

Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
ilustrasi


"Mereka (Arakan) membakar rumah-rumah. Ketika (warga Rohingya) mencoba memadamkan api, paramiliter menembaki mereka. Massa memukuli mereka dengan tongkat besar. Kami mengumpulkan 17 mayat dengan bantuan tentara. Saya cuma bisa mengenali satu orang, namanya Mohammad Sharif. Saya lihat peluru menembus dada kirinya," kata saksi.

Saksi lainnya yang berusia 28 tahun membenarkan hal ini. Dia mengatakan bahwa tentara menembaki mereka dari dekat. Dia bahkan mengatakan korban saat itu berjumlah 50 orang. Saksi lain berusia 36 tahun mengatakan korban jatuh terdiri dari wanita dan anak-anak. "Saya lihat enam orang tewas. Satu wanita, dua anak-anak, dan tiga lelaki," kata dia.

Seorang wanita Rohingya di Sittwe berusia 38 tahun mengatakan pada HRW bahwa pada Juni lalu 50 orang Arakan mengepung rumahnya. Saat itu, sama sekali tidak ada kehadiran polisi dan aparat keamanan.

"Mereka menunjuk rumah kami dan bilang 'Ini adalah rumah Muslim' lalu 10 orang naik ke atas. Ipar saya berusaha kabur dengan lompat keluar jendela. Ketika melompat, orang-orang di luar menangkap dan menggorok lehernya. Kami sembunyi di balik pintu yang sulit ditembus. Mereka bilang 'keluar atau kami bakar, pilih mana?'," kata wanita itu.

Suami wanita tersebut adalah seorang pengusaha yang kerap berhubungan dengan polisi. Ketika suaminya menelepon kenalan polisinya, tidak diangkat. Dia, suami, mertua, dua pembantu dan tetangganya dipukuli. Beruntung, massa lainnya melerainya. Jika tidak, dipastikan mereka tewas.

Lalu massa mengarak mereka ke kantor polisi. Sepanjang perjalanan, mereka jadi bulan-bulanan massa. "Ketika kami sampai, ada 200-300 orang polisi. Beberapa dari mereka teman suami saya. Dia (suami) bertanya, 'kenapa tidak melindungi kami?' polisi itu menjawab 'Kami belum mendapat perintah untuk bergerak. Kami masih menunggu perintah'," lanjutnya lagi.

Pemerintah Myanmar melaporkan 77 orang tewas dalam peristiwa tersebut. Namun, jumlahnya diperkirakan jauh lebih banyak daripada itu. Dalam laporan HRW, aparat dikatakan melarang Muslim Rohingya untuk mengubur kerabat mereka yang tewas dengan cara Islami, beberapa akhirnya dikremasi.

"Saat kekerasan terjadi pada 8 Juni, mayat-mayat ditumpuk dekat jembatan. Kami tidak boleh mengambilnya, untuk mengubur secara agama. Saat ini, jika seseorang melihat ke bawah jembatan, mereka bisa melihat mayat di bawahnya," kata seorang saksi lain.

sumber tulisan

Quote:
Lima cerita sedih muslim Rohingya terjebak di Aceh


1.Pengungsi Rohingya ingin ke Malaysia cari pekerjaan
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya

Sebagian besar dari 581 pengungsi muslim Rohingya yang terdampar di Aceh Utara, mengaku tidak berniat tinggal di Indonesia. Tujuan mereka yang utama adalah Malaysia demi mencari pekerjaan.

Mendengar permintaan itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengklaim siap memfasilitasi para imigran ilegal tersebut. Dalam waktu dekat, pengungsi yang siap berangkat akan diantar ke perairan Selat Malaka. Tapi militer membantah membantu muslim Rohingya menyelundup ke Negeri Jiran.

"Kami akan sediakan bahan bakar dan mengantar mereka keluar perairan Indonesia. Kami tidak akan memaksa mereka pergi ke Malaysia atau Australia, itu sudah bukan urusan kami," kata Jubir TNI Manahan Simorangkir seperti dikutip Channel News Asia, Selasa (12/5).

TNI menyatakan di kapal yang nanti akan diberangkatkan, pemerintah RI sudah memberi bantuan obat-obatan, makanan, serta air bersih. Manahan menjelaskan ratusan pengungsi Rohingya sejak awal tidak berniat ke Indonesia.

"Mereka (ke perairan Aceh) karena butuh bantuan. Mereka tidak ingin ke Indonesia, mereka ingin ke Malaysia," tandasnya.

Sejak Minggu (10/5), ratusan pengungsi Rohingya memasuki perairan Seunedon, Aceh Utara, secara ilegal. Mereka terdampar setelah kapal yang mereka tumpangi kehabisan bahan bakar.


2.Pemerintah Myanmar terbukti diskriminatif kepada muslim Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya

Kelompok pembela hak asasi Fortify Rights mengatakan mereka memiliki bukti dokumen-dokumen memperlihatkan kebijakan pemerintah Myanmar melakukan diskriminasi terhadap muslim Rohingya di negara Bagian Rakhine.

Pemerintah Myanmar hingga kini belum menanggapi laporan dari Fortify Rights itu, seperti dilansir BBC, Selasa (25/2).

Pemerintah Myanmar selama ini menganggap muslim Rohingya sebagai kelompok imigran asing, bukan sebagai warga negara. Warga Myanmar mayoritas Buddha juga selama ini menyiarkan kebencian terhadap muslim Rohingya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut etnis Rohingya sebagai salah satu kelompok minoritas paling ditindas di dunia.

Fortify Rights mengatakan mereka sudah menganalisa 12 dokumen pemerintah sejak 1993 hingga 2013 dan mendapatkan bukti bahwa kebijakan pemerintah membatasi kebebasan dasar dari muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

"Pembatasan itu terjadi dalam bentuk pergerakan, pernikahan,l kelahiran, perbaikan rumah dan pembangunan tempat ibadah," kata laporan itu.

Muslim Rohingya di Rakhine juga dilarang bepergian keluar kota tanpa izin.

Laporan itu juga menyebutkan muslim Rohingya menikah dilarang memiliki lebih dari dua anak. Pada laporan lain disebutkan mereka bahkan harus mengajukan izin jika ingin menikah.

Larangan-larangan itu sudah lama didengar tapi yang baru-baru ini diungkapkan adalah larangan itu dikampanyekan oleh pemerintah lokal di Rakhine. Di sana warga Buddha khawatir jika populasi muslim Rohingya suatu hari akan menjadi mayoritas.


3.Pengungsi muslim Rohingya kelaparan di laut dan terdampar di Aceh
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya

Hampir 600 warga muslim Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh diselamatkan di perairan Aceh dua hari lalu.

Sedikitnya dua kapal penuh sesak oleh perempuan dan anak-anak Rohingya ketika diselamatkan oleh nelayan di Aceh.

Myanmar selama ini selalu menolak mengakui warga etnis Rohingya sebagai warga negara.

BBC melaporkan, ratusan ribu warga muslim Rohingya mengungsi dari negaranya untuk menghindari konflik. Mereka keluar lewat Thailand dan juga laut.

Menurut pihak berwenang mereka sudah berada di laut selama sepekan. Mereka kemungkinan mencoba menuju Malaysia, kata Steve Hamilton dari Organisasi Internasional untuk Migrasi.

"Mereka mengira sudah sampai di Malaysia. Tapi ternyata di Indonesia. Mereka ditinggalkan oleh para penyelundup," kata Hamilton.

Kapolres Aceh Utara AKBP Achmadi mengatakan sedikitnya 50 orang pengungsi itu harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan.

"Secara umum mereka kelaparan dan kebanyakan dari mereka kurus-kurus," kata Achmadi.

Salah seorang pengungsi bernama Rashid Ahmed mengatakan kepada kantor berita the Associated Press, mereka adalah etnis Rohingya yang meninggalkan Myanmar sejak tiga bulan lalu bersama putranya.

"Kami tidak punya makanan. Kami hanya bisa berdoa," kata dia.

Organisasi Internasional untuk Migrasi memperkirakan sekitar 25 ribu muslim Rohingya dan warga Bangladesh diselundupkan keluar dengan kapal sejak Januari hingga Maret tahun ini.


4.Banyak pengungsi muslim Rohingya dijual jadi budak kapal
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya


Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mencatat Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Bangladesh sebagai empat negara terbesar dengan catatan tertinggi untuk kasus perdagangan manusia.

Pada 2014, Myanmar bahkan dianggap gagal memangkas tingginya tingkat perdagangan manusia mereka, ungkap Kepala sub-komite Penegakan Hak Asasi Internasional Matthew Smith.

Perdagangan manusia ini memakan korban kelompok muslim Rohingya yang mencari suaka dari penyiksaan di Myanmar sejak tiga tahun terakhir. Etnis minoritas Kachin dan Shan terlibat konflik dengan perbatasan China-Myanmar, turut menjadi korban kasus kejahatan yang sama.

Sebanyak 650 ribu muslim Rohingya yang berada di Myanmar dan Bangladesh mempunyai peluang tertinggi terjebak bisnis perdagangan manusia tersebut.

Situasi Rohingya semakin terjepit, setelah Bangladesh tidak mau menampung kaum mereka. Demikian pula respon Malaysia atau Thailand di perbatasan terhadap gelombang pengungsi asal Myanmar itu.

Seperti dilansir situs Thailand, phuketwan.com, Kamis (23/4), pelaku perdagangan manusia biasanya menipu pengungsi Rohingya dengan iming-iming dibantu evakuasi ke Bangladesh atau Malaysia. Ujung-ujungnya, mereka malah dipekerjakan di kapal ikan tanpa bayaran layak, menyerupai budak.

"Perdagangan manusia adalah bisnis besar yang masif dan mereka yang terlibat di dalamnya bisa kaya sekejap dengan dalih perlindungan pencarian suaka," ungkap Smith.

Sejak 2012 lalu, pemerintah Myanmar dan Thailand dinilai membiarkan bisnis tersebut. Perdagangan manusia ini ditaksir menghasilkan keuntungan USD 250 juta (Rp 3,2 triliun).

"Jika pemerintah AS ingin benar memberhentikan perdagangan manusia ini maka standarisasi perlindungan di negara itu harus dipertegas," tegasnya.

5.Warga muslim Rohingya harus keluar masuk hutan selama pelarian
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya


Konflik yang dialami muslim Rohingya Myanmar membuat mereka terus tertekan. Bahkan, banyak yang memutuskan untuk meninggalkan tanah airnya demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Seperti keluarga Muhammad Hanif, bersama 17 sanak saudaranya yang terdiri dari 3 pria dewasa, 7 anak kecil dan 6 ibu-ibu kabur dari Myanmar menuju Australia. Namun, pelarian mereka tidaklah semudah yang dibayangkan. Dari kampung halaman mereka di Desa Monbo, Myanmar, keluarga itu harus keluar masuk hutan secara sembunyi-sembunyi.

"Naik turun bukit, sampai ke jalan raya kita melalui jalur darat sampailah ke Malaysia," ujar Hanif kepada merdeka.com di kantor YLBHI tempat mereka mengungsi di Indonesia, Selasa (9/7).

Hanif menambahkan, perjalanan dilanjutkan ke Medan, Indonesia dengan menggunakan perahu speedboat. Sesampainya di Medan, dengan menggunakan bus mereka bergerak menuju Jakarta.

"Perjalanan menghabiskan tiga hari dari Malaysia ke Jakarta," tuturnya.

Setibanya di Jakarta, nestapa mereka belum usai. Mereka ditipu oleh orang yang membawanya sejumlah 42 ribu ringgit atau setara Rp 124 juta.

Tak pelak mereka hidup luntang lantung di Jakarta hingga akhirnya tidur di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat selama dua hari. Lalu mereka diberi tahu oleh seseorang agar berada di YLBHI saja.

"Kami masih menunggu entah sampai kapan harus bisa ke Australia. Di sana ada family kami," tuturnya

sumber tulisan


Quote:Biksu Wirathu : Saya tidak Ingin Myanmar Seperti Indonesia, Dahulu Budha Mayoritas, Kini Setelah Islam Masuk, Muslim menjadi Mayoritas di Indonesia

Kekerasan Massa Budha Terhadap Muslim

Biksu Budha menarik seorang gadis muslimah muda dan menempelkan pisau ke lehernya.

“Jika Anda mengikuti kami, aku akan membunuhnya,” ejek biksu kepada polisi, menurut saksi, massa Buddha bersenjatakan parang dan pedang mengejar hampir 100 Muslim yang berada di kota ini di pusat Myanmar.

Pada hari Kamis yang lalu , tanggal 21 Maret. Hanya dalam beberapa jam, 25 Muslim tewas. Massa Buddha menyeret tubuh mereka yang berlumuran darah di sebuah bukit di lingkungan yang disebut Mingalarzay Yone dan mereka bakar jenazah muslim tersebut. Beberapa muslim lainnya ditemukan telah dibantai dalam rawa . Seorang juru kamera Reuters melihat sisa tubuh dua anak, berusia 10 tahun atau bahkan lebih muda.

Kebencian etnis di Myanmar tak terkendali sejak kondisi aman 49 tahun kekuasaan militer yang berakhir pada Maret 2011. Dan itu menyebar ke seluruh negeri, dan mengancam transisi sejarah demokrasi negara itu. Tanda-tanda pembersihan etnis telah jelas, dan jelas pula siapa mereka yang menghasut itu.

Selama empat hari, setidaknya 43 orang tewas di kota berdebu dan hampir 100.000 penduduknya , hanya 80 km sebelah utara dari ibukota Naypyitaw. Hampir 13.000 orang, sebagian besar umat Islam, diusir dari rumah mereka dan bisnis. Pertumpahan darah yang dilakukan dan dipimpin oleh biksu Buddha yang dengan kekerasan massa , termasuk setidaknya 14 desa lainnya terancam di pusat Myanmar dan terdapatminoritas Muslim di tepi di salah satu negara Asia yang paling beragam etnis.

Berdasarkan wawancara dengan lebih dari 30 saksi, mengungkapkan pembantaian di waktu fajar menewaskan 25 Muslim di Meikhtila dipimpin oleh biksu Budha – dimana tokoh biksu itu sering dijadikan ikon demokrasi di Myanmar. Pembunuhan terjadi terlihat jelas bahwa polisi tidak melarang dan tiadanya intervensi oleh pemerintah daerah maupun pusat. Kalimat berupa grafiti tertulis di salah satu dinding menyerukan “pemusnahan Muslim.”

Kerusuhan yang terjadi di kota-kota lain, hanya berjarak beberapa jam dari ibukota komersial Yangon, pembantaian yang terorganisir dengan baik, bersekongkol dengan polisi yang hanya menutup mata. Bahkan setelah pembunuhan pada tanggal 21 Maret, menteri utama untuk wilayah tersebut tidak menghentikan kerusuhan yang berkecamuk. Menteri itu hanya menyerahkan kendali kota untuk biksu Budha radikal. Truk pemadam kebakaran di tahan,dan petugas penyelamat diintimidasi.

Pembantaian yang terorganisir
Namun, pembantaian Meikhtila oleh Buddha sangat terorganisir dan juga kelambanan pemerintah dipantau oleh Reuters pada kejadian di barat Myanmar tahun lalu. Kali ini, pertumpahan darah melanda sebuah kota strategis di jantung negara itu, menimbulkan pertanyaan mengenai apakah reformis Presiden Thein Sein memiliki kontrol penuh atas pasukan keamanan Myanmar mengalami perubahan yang paling dramatis sejak kudeta tahun 1962.

Di negara mayoritas-Buddha dikenal sebagai “Tanah Emas” untuk pagoda yang berkilauan, kerusuhan tersebut menelanjangi kebenaran yang sering tersembunyi: Biksu Budha telah memainkan peran sentral dalam kerusuhan anti-Muslim selama dekade terakhir. Meskipun 42 orang telah ditangkap sehubungan dengan kekerasan, biarawan terus memberitakan gerakan cepat menyambut Buddhis nasionalis yang dikenal sebagai “969” yang memicu banyak masalah.

Pemeriksaan juga menunjukkan motif ekonomi dan agama. Di salah satu negara termiskin di Asia, kaum Muslim Meikhtila dan bagian lain dari pusat Myanmar umumnya lebih makmur daripada kaum Buddha mereka. Di Myanmar secara keseluruhan, Muslim mencapai 5 persen dari rakyat myanmar. Dalam Meikhtila, mereka terdiri dari sepertiga. Mereka memiliki real estate utama, toko elektronik, toko-toko pakaian, restoran dan dealer sepeda motor, penghasilan muslim sangat baik dibandingkan mayoritas Buddha, yang hanya bekerja keras sebagian besar sebagai buruh dan pedagang kaki lima.

Aung San Suu Kyi , Pemenang nobel perdamaian yang Diam Seribu bahasa
Kegagalan pemenang Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, pemimpin oposisi saat ini di parlemen, untuk meredakan ketegangan lebih lanjut merusak citranya sebagai kekuatan moral pemersatu. Suu Kyi, seorang Buddhis yang taat, mengatakan sangat sedikit dan kurang berperan terhadap kerusuhan ini. Dan

Suu Kyi menolak untuk diwawancarai untuk tragedi ini.

Kronologi kejadian kerusuhan
Awal kerusuhan sebenarnya bermula sangat sederhana.

Aye Aye Naing, 45-tahun wanita Buddha, ingin membuat persembahan makanan untuk biarawan lokal. Tapi dia tidak punya uang, dia ingat, Pada sekitar 9 pagi pada tanggal 20 Maret, sehari sebelum pembantaian, ia membawa jepit rambut emas ke kota. Dia itu mencoba menawarkan jepit rambut emas itu seharga 140.000 kyat ($ 160). Bersama suami dan adiknya, ia masuk New Waint Sein, toko emas milik seorang Muslim , pedagang muslim itu menawar 108.000 kyat nya. Sedang Aye ingin setidaknya 110.000 kyat untuk jepit rambutnya.

Pekerja toko emas melihat jepit rambut itu, ternyata jepit itu sedikit rusak, maka Pemilik took muslim itu, seorang wanita muda berusia 20-an, karena rusak maka ia menawar hanya 50.000 kyat. Aye protes, menyebut pemilik tidak masuk akal. Karena hinaan Aye maka pemilik toko muslim itu menamparnya, kata saksi. Aye Aye dan suaminya berteriak di toko tersebut dan segera tiga staf toko muslim itu menarik mereka keluar toko, menurut pengakuan sepihak suami isteri budha itu mereka dipegangi dan dipukuli oleh tiga staf toko.

Akibat itu, massa berkumpul. Polisi tiba di lokasi, menahan Aye Aye Naing dan pemilik toko. Massa yang sebagian besar Buddha berkumpul dan berubah menjadi kekerasan, melemparkan batu, berteriak anti-Muslim dan penghinaan dan mendobrak pintu toko itu, menurut beberapa saksi. Tidak ada yang tewas atau terluka, namun bangunan perumahan Muslim milik toko emas dan beberapa rumah muslim yang lain hampir hancur.

“Toko ini memiliki reputasi buruk di lingkungan,” kata Khin San, yang mengatakan dia menyaksikan kekerasan dari toko umum nya di seberang jalan. “Mereka tidak membiarkan orang memarkir mobil mereka di depan toko mereka” .

Kemudian aroma kebencian dipicu oleh selebaran ditandatangani oleh kelompok yang menyebut dirinya “umat Buddha yang merasa tidak berdaya” yang dibagikan beberapa minggu sebelumnya. Dalam lembaran itu dikatakan bahwa Muslim di Meikhtila berkonspirasi melawan umat Buddha, dibantu oleh uang dari Arab Saudi, dan mengadakan pertemuan rahasia di masjid-masjid. Surat itu ditujukan kepada para bhiksu yang berpengaruh di daerah itu.

Ketegangan meningkat. Sekitar 5:30 pm hari itu, empat pria Muslim sedang menunggu di suatu persimpangan. Seorang biarawan berlalu di belakang dengan sepeda motor, mereka menyerang. Satu memukul pengemudi dengan pedang, menyebabkan dia terjatuh, kata saksi. Pukulan kedua di bagian belakang kepala biarawan itu. Salah satu laki-laki menyiram dia dalam bahan bakar dan membuatnya terbakar, kata Soe Thein, seorang mekanik yang melihat serangan itu. Biarawan itu meninggal di rumah sakit.

Soe Thein, seorang Buddhis, berlari ke pasar. “Seorang biksu telah dibunuh , biksu telah tewas!” dia menangis. Saat ia berlari kembali, massa mengikuti dan kerusuhan mulai. Rumah Muslim dan toko-toko habis terbakar.

Soe Thein mengidentifikasi penyerang dengan nama dan mengatakan ia melihat beberapa hari masih berada di desa setelah sang biksu dibunuh. Polisi menolak mengatakan apakah mereka termasuk di antara 13 orang yang ditangkap dan diselidiki terkait dengan kekerasan Meikhtila.

“KAMI HANYA INGIN MUSLIM”

Malam itu, api melahap banyak Mingalarzay Yone, bangsal sebagian besar Muslim di timur Meikhtila. Api meratakan masjid, panti asuhan, dan beberapa rumah. Ratusan muslim melarikan diri. Beberapa bersembunyi di rumah teman-teman Buddhis ‘, kata saksi. Sekitar 100 muslim lari ke dalam rumah kayu bertingkat milik Maung Maung, seorang sesepuh Muslim.

Win Htein, seorang anggota parlemen di Liga Nasional nya Suu Kyi untuk Demokrasi, mencoba menahan kerumunan . “Seseorang mengambil lenganku dan berkata hati-hati atau Anda akan menjadi korban,” katanya.

Sekitar 200 petugas polisi hanya menyaksikan kerusuhan di lingkungan tersebut sebelum meninggalkan sekitar tengah malam, katanya.

Sekitar jam 4 pagi, orang-orang Muslim di dalam rumah Maung Maung mengaji dalam bahasa Arab dan kemudian bertakbir, di tengah kerumunan hampir seribu massa Buddha yang berada di luar rumah.

Ketika fajar menyingsing, sekitar pukul 6 pagi, kehadiran polisi di daerah itu hanya ada sekitar 10 petugas. Bahkan mereka (polisi) perlahan-lahan mundur, yang memungkinkan massa untuk menyerang, kata Hla Thein, 48, seorang sesepuh Buddhis.

Kaum Muslim melarikan diri melalui samping rumah, dikejar oleh pria dengan pedang, tongkat, batang besi dan parang. Beberapa dibantai dalam rawa di dekatnya, kata Hla Thein, yang menceritakan kejadian bersama empat saksi lainnya, baik Buddha dan Muslim.

Lainnya ditebas saat mereka berlari menuju jalan puncak bukit. “Mereka mengejar muslim seperti mereka berburu kelinci,” kata anggota parlemen NLD Win Htein.

Polisi menyelamatkan 47 kaum muslimin, sebagian besar wanita dan anak-anak, dengan mengepung mereka dengan perisai mereka dan menembakkan tembakan peringatan ke udara, Hla Thein mengatakan. “Kami tidak ingin menyerang Anda,” teriak seorang biarawan kepada polisi, menurut polisi mereka berteriak, “Kami hanya ingin umat Islam.”

Ye Myint, menteri kepala daerah Mandalay yang mencakup Meikhtila, mengatakan kepada wartawan hari itu situasi sudah “stabil.” Tetapi nyatanya semakin parah. Biarawan bersenjata dan massa Buddha meneror jalan-jalan selama tiga hari berikutnya, kata saksi.

Mereka mengancam Thein Zaw, seorang pemadam kebakaran mencoba untuk memadamkan sebuah masjid terbakar. “Beraninya kau memadamkan api ini,” kenangnya satu teriakan biksu. “Kami akan membunuhmu.” Sekitar 30 biksu menghancurkan tanda yang tergantung di luar stasiun pemadam kebakaran dan mencoba untuk memblokir truknya.

“Seorang bhiksu dengan pisau berayun ke arah saya,” kata Kyaw Ye Aung, seorang petugas pemadam kebakaran .

Tiga hari kemudian, di bukit di mana mayat muslim dibakar, reporter ini menemukan sisa-sisa campuran jenazah dewasa dan anak-anak: potongan tengkorak manusia, tulang dan tulang lainnya, dan ransel anak yang sudah gosong itu.

Terdekat dari situ, truk kota membuang mayat di sebidang tanah di sebelah krematorium di pinggiran Meikhtila itu. Mereka dibakar dengan ban bekas.

Quote:Foto Kondisi Pengungsian Rohingya Di Aceh

Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya








Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya
buset sadis banget ya ganemoticon-Takut

mana terombang ambing di laut lagiemoticon-DP
kadang suka mikir gimana kalo indonesia begitu emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S)
ngeri gan..
untungnya negara kita ga sampe seextreme itu...
walau dulu sempet ada konflik seperti ini juga pada salah satu golongan islam
emoticon-Matabelo
Mana nih amerika dan australia negara pahlawan HAM di bantu dong etnis rohingya
Kasihan juga sih gan, tapi mw gimana lgi, klo diterima di indonesia, pasti semua bakal ngungsi kesini,
Tambah beban negara lagi,
Negara bangladesh ini seharusnya ditekan negara2 lain, masa rakyat sendiri diusir,
miris, sedih, antara percaya gak percaya
mau bantu gimana, gak dibantu juga gimana
pusing pala barbie
Quote:Original Posted By zedaefide
Mana nih amerika dan australia negara pahlawan HAM di bantu dong etnis rohingya


HAM mereka mati gan kalo yang butuh muslim
Wah moga saja mereka diberikan kesabaran
Waduhh... kasian banget nasib Etnis Rohingya ya gan...
ane turut berduka cita gan... emoticon-Berduka (S)
Gimana nih PBB kok diem aja
Quote:Original Posted By suburisdead


HAM mereka mati gan kalo yang butuh muslim


Standar janda berarti ya bray emoticon-Big Grin
tapi kalo sekali dibuka pintu indonesia. negara ini bakal jadi tujuan pengungsi. hari ini rohingya, besok bisa datang rohingya yang lain bahkan warga negara lain.
susah juga serba salah. Presiden harus ambil tindakan tegas, terima atau tolak.
Lagi...media di indonesia terlalu mendramatisir sebuah berita dengan menabahi isu2 sara...jadi tambah sedep deh
Lembaga dan instansi dunia mana nih? Yang biasanya koar-koar kek PBB malah nyungsep, tidak ada respon sama sekali.
Menurut ane ya wajar aja kalau mereka berniat mengungsi di Indonesia, kan mayoritas negara kita sama-sama muslim jadi mereka pikir Indonesia dapat menerima dengan tangan terbuka. Tapi balik lagi sih kepada pemimpin negeri ini, kalau mau bantu ya bantu kalau tidak ya tidak jangan digantungkan kek begini.
Miris!
emoticon-Cape d...
Quote:Original Posted By setanpb
PROLOG
Dibalik Kisah Para Pengungsi Rohingya



HISTORY




emoticon-Berduka (S)
apa gak ada upaya rekonsiliasi dan bantuan internasional agar mereka bisa kembali hidup berdampingan?
Turut berduka gan emoticon-Turut Berduka semoga konflik SARA bisa diredam secepatnya
kampanggggg..... emoticon-Marah