alexa-tracking

A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/555b22a4dc06bd72058b456b/a-born-beauty---berkat-atau-kutukan
Poll: Menurut kalian, cerita ini harusnya:

This poll is closed - 11 Voters

View Poll
Dipanjangin. 54.55% (6 votes)
Diselesain cepet tapi dikasi bonus chapters. 45.45% (5 votes)
A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan
A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan


Dia tidak paham bagaimana setiap orang, entah kaum Adam maupun Hawa dapat menjadi begitu dekat dengannya sejak saat pertama kali bertemu dengannya. Dia juga tidak paham ketika dia pergi dari kehidupan orang-orang yang sudah dikenalnya, dia pasti akan menyisakan kesedihan. Setiap orang menganggapnya begitu berharga sampai-sampai tak mau kehilangannya. Bahkan tidak jarang kaum Adam yang menjadi gila dan putus asa ketika dia pergi.

Dia memang cantik. Matanya hitam legam, hidungnya mancung, bibirnya merah, garis-garis ketegasan terlihat di pipinya, dan kulitnya juga sangat halus. Namun bukan itu yang membuat setiap orang tertarik padanya. Ada sesuatu yang terpendam begitu dalam di dalam dirinya yang seorang pun tidak bisa temukan. Sesuatu itulah yang sanggup menyihir kaum Adam. Sesuatu itu pula yang sanggup menyerap setiap perhatian yang ia perlukan dari kaum Hawa.


INDEX:
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Trivia #1
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Trivia #2
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
Chapter 37
Chapter 38
Chapter 39
Chapter 40
Chapter 41
Chapter 42
Ending
Bonus Chapter

*******


Chapter 1

Dia tidak paham bagaimana setiap orang, entah kaum Adam maupun Hawa dapat menjadi begitu dekat dengannya sejak saat pertama kali bertemu dengannya. Dia juga tidak paham ketika dia pergi dari kehidupan orang-orang yang sudah dikenalnya, dia pasti akan menyisakan kesedihan. Setiap orang menganggapnya begitu berharga sampai-sampai tak mau kehilangannya. Bahkan tidak jarang kaum Adam yang menjadi gila dan putus asa ketika dia pergi.

Dia memang cantik. Matanya hitam legam, hidungnya mancung, bibirnya merah, garis-garis ketegasan terlihat di pipinya, dan kulitnya juga sangat halus. Namun bukan itu yang membuat setiap orang tertarik padanya. Ada sesuatu yang terpendam begitu dalam di dalam dirinya yang seorang pun tidak bisa temukan. Sesuatu itulah yang sanggup menyihir kaum Adam. Sesuatu itu pula yang sanggup menyerap setiap perhatian yang ia perlukan dari kaum Hawa.

Pujian adalah makanan sehari-harinya. Bak ratu dari Selatan, setiap orang datang untuk mempersembahkan padanya segala macam bentuk kebaikan. Hidupnya sungguh terasa manis dan menyenangkan. Namun segala sesuatu yang indah itu tidak begitu saja membuatnya merasa puas. Ada satu hal yang masih ia simpan dalam hatinya, dimana kerinduan terdalamnya terletak rapi bak buku kuno yang belum tersentuh.

//

“Ifone, ini aku bawain kamu jus apel. Persis kayak yang kamu suka,” Raymond, si raja gombal itu kembali mendatanginya pagi ini sambil berlutut di depan gadis yang ia puja dan berlagak seperti seorang pangeran yang sedang memberikan sebuah hadiah kepada seorang putri raja.

Belum sempat Ifone menjawab dan menerima pemberian pemuda itu, Adrian teman SMAnya dulu datang, duduk di sebelahnya dan menyodorkannya sebuah Sundae strawberry yang juga sangat ia sukai. “Pilih mana? Dia atau aku?” Adrian mengedip-ngedipkan matanya dengan genit.

Ifone menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya akan sikap kedua pemuda yang terus bersaing mendapatkannya ini. “Hei, kalian nih. Bisa nggak sih berenti?” ia berdecak kesal. Ia berdiri dari kursi besi yang ia duduki sambil bergantian memandang mereka. “Lagian aku nggak akan pilih kalian berdua. Aku cuman mau pilih apa yang kalian bawa buat aku.” Secepat kilat kedua tangannya merebut jus apel dan Sundae strawberry dari tangan kedua pemuda yang kemudian menunjukkan kekecewaan di wajah mereka. Tanpa berpaling ke belakang, Ifone pergi meninggalkan mereka.

Setelah berjalan beberapa meter dan merasa sudah jauh dari pemuda itu, Ifone berhenti berjalan. Ia meletakkan gelas jus dan Sundae itu di atas sebuah kursi besi yang ada di dekatnya dan mengeluarkan pulpen perekam yang selalu ia bawa di tasnya. Ditekannya tombol ‘Record’ dan ia berkata, “Itu baru Raymond sama Adrian. Belum yang lain. Kayak biasalah. Bakalan ada dua puluh orang lagi yang bakalan gitu. Thomas, Danny, Ricky, Jonathan, etece lah. Dan aku siap,” ia mendesah, membiarkan desahannya juga terekam lalu menekan tombol ‘Stop’. Ia memasukkan pulpen perekamnya kembali ke dalam tas dan mengambil kedua jus dan Sundaenya lalu kembali berjalan.

Pulpen perekamnya itu bagaikan buku diary-nya. Setiap hari tidak ada kata absen untuk merekam setiap aktivitas atau kejadian yang baginya penting atau bahkan sangat tidak penting. Baginya, ia hanya ingin setiap langkah dan cerita di hidupnya tersimpan kalau suatu hari nanti dibutuhkan. Entah seperti karakter Fred dalam novel atau bukunya The Diary of A Wimpy Kid yang akan memberikan jurnalnya kepada para media jika suatu kali ia terkenal, atau bahkan untuk mengenang dirinya jika suatu kali ia harus pergi secara mendadak dari dunia ini. Ralat. Aku nggak mau mati cepet. Intinya adalah bahwa Ifone ingin menuliskan kisah hidupnya bagaikan cerita di dalam sebuah novel.

“Wooooy!!!!” Hana dan Bridgette membuat Ifone melompat terkejut ketika kedua sahabatnya muncul dengan suara mereka yang terlampau keras.

Ifone tidak berkomentar tapi hanya mendesis dengan keras untuk menunjukkan rasa kesalnya pada mereka sambil memicingkan kedua matanya.

Hana dan Bridgette tidak merasa bersalah atas tindakan mereka barusan tetapi malah tertawa terbahak-bahak.

“Fon, ini Sundae pasti buat aku kan?” kata Hana lalu mengambilnya paksa dari tangan Ifone yang memelototinya sekarang.

“Kalau ini, buat aku!” giliran Bridgette mencuri jus apel itu dan menyeruputnya.

Ifone menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia tidak habis pikir setiap hari mereka selalu saja mengambil makanan-makanan pemberian pemuda-pemuda yang menggilainya. Dalam hatinya ia berpikir, betapa beruntungnya mereka menjadi sahabatnya. Namun ketika ia mulai merasa kesal, ia kembali mengingat betapa baiknya mereka padanya. Hana dan Bridgette adalah dua orang yang pernah menemaninya di saat ia kehilangan orang tuanya, bukan karena kematian, tapi karena perceraian.

“Tunggu dulu kek sampai aku bilang iya, jangan ngambil terus dilahap gitu aja,” Ifone memanyunkan bibirnya.

Reaksi kedua sahabatnya itu tidak lagi mengejutkan Ifone ketika seolah tanpa ijinnya lagi, lengan kanan dan kirinya sudah digelayuti oleh mereka. Hatinya yang membara karena kekesalan benar-benar sudah hilang seperti ada es meleleh yang mendinginkannya.

“Iya, iya. Aku maafin,” kata Ifone yang disambut oleh sorakan ‘yee’ riang dari Hana dan Bridgette saat melepaskan kedua lengan Ifone.

“Oh,” seru Bridgette. Ia menggeledah tasnya lalu menyodorkan pada Ifone sebuah tas plastik bergambar Teddy Bear yang diterimanya sambil memicingkan mata. “Untuk kamu. Aku search di internet, terus ada satu website yang jual ini. Ya karena ini udah komplit versinya—”

“Aaaaaah, novel-novel Meg Cabot!” serunya gembira sebelum Bridgette menyelesaikan kalimatnya lalu memberikan pelukan singkat pada sahabatnya itu. Ia mengeluarkan satu per satu novel-novel asli karya Meg Cabot itu, memasukkannya kembali dan mendekapnya seolah-olah boneka dari seorang kekasih.

Saat Ifone menutup matanya saking senangnya, ia sampai tidak merasakan Hana menyentuh lengannya dengan jari-jari mungilnya. “Ifone!” akhirnya Hana harus berteriak juga demi membawanya kembali ke dunia nyata.

Ifone memang suka sekali membaca. Ia saja sudah memiliki sebuah perpustakaan pribadi di rumahnya yang berisi ribuan buku.
Sebenarnya itu semua karena ia menuntut orang tuanya yang bercerai itu untuk memenuhi apa yang ia mau sebagai pengganti kasih sayang yang hilang dan seharusnya ia terima dari keluarga yang utuh. Mau tidak mau, orang tuanya selalu memenuhi apa yang ia inginkan.

Dengan desahan kesal Ifone membuka matanya. “Apa sih? Ganggu orang lagi seneng aja,” katanya.

“Jangan dihabisin dulu senengnya. Kamu belum lihat apa yang aku bawain buat kamu,” sahut Hana yang kemudian mengayun-ayunkan di depan wajah Ifone sebuah kantung plastik kecil berisi kalung manik yang pernah ia lihat di majalah Cosmo Girl.

Ifone pun segera meraih kantung itu dari tangan Hana. “Aaaaaaah, makasih Hana,” ia tersenyum sangat lebar.

“Nih, kotaknya jangan lupa,” Hana membuka tangannya dengan sebuah kotak merah yang kecil di atasnya.

Masih tersenyum, Ifone mengambil kotak itu lalu memasukannya ke dalam tasnya beserta dengan kalung manik itu. “Makasih ya girls,” ia meringis sehingga membuat matanya menjadi sipit.

“Yoi, Fon. Kita bakalan jadi sahabat-sahabatmu yang baik kok,” Bridgette dengan gaya tomboy-nya meletakkan tangannya di bahu Ifone.

Dengan lirikan tajam Ifone memandangi tangan dan wajah Bridgette secara bergantian untuk segera memindahkan tangannya yang basah karena uap es yang menempel di gelas jus apelnya itu. Bridgette meringis tak berdosa lalu memindahkan tangannya.

Anyway, kita bentar lagi ada kelasnya Pak Charles nih. Yuk cepetan masuk. Aku nggak mau sampai dikunci di luar kelas kayak minggu lalu gara-gara telat cuman semenit,” desak Hana yang menangis tiga hari lamanya karena insiden itu. Hana memang orang yang sangat cengeng jika merasa disakiti atau melakukan kesalahan yang merugikan dirinya.

“He-eh, yuk, capcus. Jangan sampe ada yang nangis lagi,” Bridgette tertawa puas sambil berjalan bersama Ifone dan Hana menuju ke kelas G.3.7.

***ABB***
Halo semuanya! Saya anak baru disini. Ada temen saya yang posting cerita dia disini dan dapet sambutan baik. Saya ikutan, hihi. Semoga semuanya suka ya. Mohon maaf kalo ada kesalahan, saya bisa diberitahu. Untuk gimana ceritanya menurut pendapat temen-temen, masukan atau kritik, saya terima dengan senang hati.
image-url-apps
Izin nenda yaaa emoticon-Smilie
Moga kentangnya jgn lama2 N Rajin apdet
Quote:


Iya pasti. Ini mau update lagi. Hihi. Thanks ya udah jadi first reader. emoticon-Blue Guy Peace
KASKUS Ads
image-url-apps
Quote:


True story kah sis ??
Klo iya , ane ngefans dah sama bridgette .. tomboy lebih greget emoticon-Maluemoticon-Malu

A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan (Chapter 2)

Chapter 2

Kelas Pak Charles, Fonetik dan Fonologi, tidak selama biasanya karena beliau mendapat panggilan untuk mengikuti rapat dosen mendadak. Tentu saja hal ini merupakan hal yang paling disukai oleh setiap mahasiswa, termasuk Ifone. Rencananya hari ini untuk mendaftar UKM musik yang baru saja dibuka kembali oleh kampusnya dapat lebih cepat ia lakukan. Ia tak perlu lagi takut untuk kehabisan kuota. Tanpa menunggu lama, sesaat setelah pak Charles keluar dari kelas, Ifone pun berlari keluar secepat kilat setelah memberitahu kedua sahabatnya mengenai rencananya.

Gedung UKM letaknya cukup jauh dari gedung kampus Ilmu Budaya. Ia membutuhkan sekitar lima menit lamanya untuk sampai disana. Namun perjalanan itu bukan merupakan masalah baginya. Bahkan ia berpendapat bahwa masalah ada sebagai batu loncatan untuk mencapai tempat yang lebih tinggi – impiannya. Di sepanjang perjalanan, senyumannya pun tidak pernah hilang dari wajahnya, karena ia merasa yakin bahwa kemampuannya bernyanyi dan bermain piano akan membuatnya langsung diterima.

Kerumunan orang merupakan pemandangan yang pertama kali Ifone lihat saat ia sampai di depan ruang UKM Musik. Beberapa dari antara mereka pun terlihat berebut dan saling mendahului saat mengantri. Terlihat jelas sekali bahwa mereka benar-benar menginginkan sebuah tempat di UKM Musik. Tidak heran mengapa mereka seperti itu. UKM Musik sudah seperti jalan menuju ketenaran. Gate of Rising Star, begitu setiap orang memanggilnya. Siapapun yang menjadi anggota dari UKM Musik, walaupun posisi yang mereka dapatkan hanya sebagai backing vocal yang kelihatannya tidak penting, nama mereka sudah pasti menjadi pembicaraan seluruh mahasiswa.

Namun bukan itu yang Ifone inginkan. Walaupun ia tidak akan menolak untuk mendapatkan ketenaran, ada hal lain yang lebih penting dari semua itu. Ia ingin menunjukkan pada orang tuanya bahwa tanpa kasih sayang mereka yang utuh, ia dapat menjadi sukses. Ia dapat meraih impiannya, tanpa dukungan penuh yang seharusnya mereka berikan.

“Hei, kamu nggak ngantri?” Ifone merasakan tepukan ringan di bahunya lalu berpaling dan menemukan seorang pemuda yang belum pernah ia kenal sedang memandangnya.

Ifone menaikkan alisnya. “Kamu ngomong apa?” tanyanya.

Pemuda itu mendesah kesal sambil memutar kedua bola matanya. “Udah ketelen,” sahutnya sinis lalu meninggalkan Ifone yang terngaga mendengar responnya.

“Orang aneh,” Ifone menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. “Nyebelin banget. Awas aja kalo ketemu lagi. Nggak bakalan aku ladenin. Dasar cowok nggak sopan.” Ia menghentakkan kaki kirinya karena kesal dan tak sengaja menjatuhkan salah satu buku modul yang belum sempat ia masukkan ke dalam loker.

Dengan gerak reflek, Ifone berjongkok untuk mengambil buku itu kembali. Namun bukannya memegang buku itu, tangannya menggenggam sebuah tangan lain yang sudah lebih dulu menyentuh bukunya. Akibatnya ia terkejut dan terpelanting ke belakang saat melihat seorang pemuda lain yang tidak ia kenal bertatapan dengannya dalam jarak yang begitu dekat.

“Kamu nggak papa?” pemuda itu mengulurkan tangannya pada Ifone.

Sementara itu, Ifone dengan masih terduduk di atas paving jalan seolah tak berkedip memandangi pemuda itu. Sempurna adalah sebuah kata yang Ifone dapat gambarkan mengenainya. Iris matanya berwarna abu-abu, hidungnya mancung, bibirnya seksi, rambutnya lurus berwarna coklat tua dan bergaya Fauxhaux, benar-benar tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.

“Halo?” pemuda itu melambaikan tangannya di depan wajah Ifone dan membawanya kembali ke dunia nyata.

“Eh, iya. Maaf,” tak tahu apa yang harus ia katakan, Ifone hanya meringis.

Pemuda itu mengulurkan tangannya kembali dan Ifone menyambutnya. Dengan bantuan pemuda itu, ia berdiri kembali.

“Ini buku kamu,” disodorkannya buku itu pada Ifone yang menerimanya sambil masih tersenyum.

“Makasih ya,” Ifone berkata sambil mengagguk pelan.

“Ya udah. Lain kali hati-hati ya,”

Dengan anggukan ringan Ifone menanggapi.

“Em, aku harus pergi sekarang,” kata pemuda yang mulai merasa ada yang lucu dengan sikap Ifone sehingga ia tertawa kecil. “Sampai ketemu lagi.”

Ifone mengangguk dengan masih terbuai walau setelah pemuda itu pergi cukup lama. “Ganteng banget, sih?” ia tersenyum sendiri. “Kira-kira namanya siapa ya? Aku kok nggak pernah lihat sih dia disini sebelumnya?”

Begitu lama ia terbuai dalam khayalannya akan pemuda itu sampai pada satu titik ia terkejut dengan tingkahnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari-jari tangan kanannya berkali-kali seolah untuk membuat dirinya sadar akan apa yang telah terjadi pada dirinya. Seumur hidupnya ia belum pernah bertingkah seperti yang baru saja ia lakukan. Ia menjadi heran akan dirinya sendiri.

Antrian panjang yang Ifone lihat tadi sudah berkurang. Meninggalkan imajinasinya akan pemuda itu, dengan segera ia berjalan cepat berbaris di belakang orang terakhir sebelum orang lain mengambil tempat itu. Tak berapa lama ia berada di antriannya, beberapa mahasiswa berdatangan kembali dan berbaris di belakangnya.

Pendaftaran yang dilakukan tiap orang tidak memakan waktu yang lama. Kini Ifone mendapat gilirannya untuk mendaftar. Pada buku yang terlihat seperti buku tamu, ia melihat angka yang tertera disana. Lima puluh orang termasuk dirinya sudah mendaftar. Namun ia tidak merasa gentar memikirkan kemungkinan akan persaingan yang ketat. Ia sudah merasa yakin akan dirinya sendiri.

Ruangan UKM Musik, Ifone bergumam. Besar dan megah seperti auditorium Broadway. Matanya seolah tak berkedip memandangi seluruh ruangan itu sambil berjalan perlahan. Ia begitu memimpikan untuk bernyanyi di atas panggung yang besar, walaupun ruangan itu hanya memuat sekitar lima ratus orang saja.

Saat Ifone masih terhanyut dalam lamunannya, para pendaftar yang sudah ada di dalam ruangan UKM tiba-tiba berebut satu sama lain untuk duduk di bangku-bangku yang paling depan. Saat itulah ia menyadadari bahwa audisi akan segera dimulai. Dilihatnya kartu pendaftarannya yang menunjukkan nomor 25, tetapi nomor itu tidak mempengaruhi posisi duduk para peserta sehingga ia langsung duduk di tempat yang paling belakang karena hanya disitulah tempat yang masih kosong.

“Hei semua!” seorang pemuda yang umurnya tidak terlalu jauh dari Ifone berdiri di atas panggung dengan dandanan casual-nya. “Seneng banget UKM Musik kedatangan para pendaftar yang antusias. Kita ada dua juri, Harris dan Norma, alumni kampus kita yang udah melalang buana di seluruh penjuru dunia! Beri tepuk tangan buat mereka dong.” Dengan tepukan tangan riuh, semua menyambut Harris dan Norma yang namanya cukup sering dikabarkan koran dan TV.

“Mulainya udah lama belum?” suara tergopoh-gopoh itu sukses mengalihkan perhatian Ifone dari arah panggung.

“Kamu?” itu pemuda menyebalkan yang ia temui saat mendaftar tadi. Ia duduk di sebelah Ifone dengan meletakkan sebuah tas biola di kursi yang kosong di sampingnya, dan tas punggung yang tampak ringan itu di pangkuannya.

Ifone ingin tidak menjawab pertanyaannya itu, tetapi ia mengurungkan niatnya. Lagipula bisa-bisa aku mendapat masalah jika tidak menjawabnya. “Nggak kok. Barusan banget.”

“Oke.” Singkat betul responnya.

“Kamu nggak biasa bilang terima kasih, ya?” ia mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan daripada ia mendongkol nantinya.

Bukannya menjawab, pemuda itu hanya menatap ke arah panggung tak bergeming seolah suara Ifone yang cukup jelas itu tak didengarnya.
Menggeleng-geleng kepala berusaha untuk melupakan kehadiran pemuda itu, Ifone juga kembali berpaling ke arah panggung dan mencoba untuk mengikuti perkataan MC yang sempat ia lewatkan.

Satu per satu para pendaftar maju dan melakukan audisi. Mereka menunjukkan kualitas yang bagus dan bahkan memukau. Tentu saja, karena tak ada satupun mahasiswa yang berani mendaftar jika mereka tidak betul-betul memiliki kemampuan. Terlebih karena UKM Musik pun hanya mengambil lima orang saja setiap tahunnya dari lima puluh orang pendaftar.

Pendaftar nomor 23 maju. Dua lagi dan gilirannya akan tiba. Sedikit peregangan tangan Ifone lakukan. Ia akan bermain piano sambil menyanyi nanti. Ia ingin siap dan tidak merasa gugup saat audisi nanti, karena walaupun sudah terbiasa untuk tampil di depan umum, rasa gugup tetap saja muncul.

“Baiklah, selanjutnya pendaftar dengan nomor urut 24, Jackson Peters, silakan menempatkan diri di atas panggung,”

Pemuda di samping Ifone itu beranjak dari bangkunya dengan membawa biolanya yang masih terbungkus rapi di tasnya. Ia tampak seperti tidak sabar dan hendak keluar dari ruangan UKM Musik. Namun, bukannya pintu keluar yang ditujunya, tetapi panggung.

“Jadi namanya Jackson Peters?” Ifone mengangguk-angguk pelan. “Coba lihat kemampuan cowok sombong itu.”

Pemuda yang disebut Jackson itu mengeluarkan biolanya dan mengapitnya di antara dagu dan bahu kirinya. Tanpa perlu menunggu lama, ia memainkan biolanya dengan indahnya dan memukau setiap orang yang ada di ruangan itu mulai dari awal sampai akhir permainannya itu. Tak seperti pendaftar yang lainnya yang tidak mendapatkan tepukan tangan setelah selesai audisi, kali ini Jackson mendapatkan tepukan tangan yang lebih terdengar seperti gemuruh.

“Oh, bagus juga.” Ifone bergumam. “Tapi aku nggak boleh kalah bagus.” Ia beranjak dari bangkunya sesaat setelah MC menyebutkan nomor urut dan namanya.

Ifone duduk di bangku piano yang sudah tersedia di atas panggung dan memposisikan microphone-nya dengan benar. Ia menarik nafas sebelum ia memulai permainan pianonya.

Lantunan melodi-melodi indah di intro lagu The Way You Look At Me terdengar di seluruh ruangan. Pemilihan lagu ini pun disengajanya, karena jarang-jarang lagu ini dibawakan oleh seorang perempuan oleh karena nadanya yang cukup tinggi walaupun sudah disesuaikan dengan nada dasar untuk perempuan. Namun, tanpa keraguan Ifone mulai bernyanyi dan memberikan penampilan yang begitu mempesona. Nada tinggi pun tidak menjadi momok baginya, sebaliknya, ia justru dengan lihai memainkan suaranya di nada yang tinggi dan menjadikannya terdengar indah.

Sama seperti Jackson, Ifone pun menerima tepukan tangan dari seluruh pendaftar dan bahkan juga para juri. Dengan tersenyum bangga ia beranjak dari bangku piano. Sebelum turun dari atas panggung, ia membungkuk kepada semua orang seolah mereka adalah para penonton yang khusus datang untuk menikmati penampilannya.

***ABB***
Tada! Udah ada lagi update-annya. Menurut agan gimana nih ceritanya? Kasi komen yah. Hihi. Thank you!
Quote:


Hahaha, based on true story. Iya. Nanti aku kasi trivia tentang cerita ini kok.
Maaf ya agak lemot. Baru banget di Kaskus. Agak nggak ngerti juga sebenernya. Hahah

A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan (Chapter 3)



Chapter 3

Pengumuman pendaftar yang lolos untuk bergabung di UKM Musik tahun ini di tunjukkan di secarik kertas yang ditempelkan di depan pintu ruang UKM. Semua pendaftar berbondong-bondong untuk melihat siapa yang lolos termasuk Ifone. Dengan sabarnya ia berdiri menunggu untuk mendapat gilirannya melihat kertas itu seolah tidak merasa ragu.

“Hmm,” Ifone hanya bergumam bangga ketika namanya tertulis di atas kertas itu, tepat di bawah nama, “Jackson? Dia lolos juga?”

“Iya, makasih,” suara itu membuat Ifone menoleh seketika ke arah samping kanannya. Disanalah Jackson berdiri dengan bangganya.

Ifone melengos kesal. “Siapa juga yang ngucapin selamat?” ucapnya. Ditinggalkannya pemuda itu tanpa pikir panjang.

Sambil berjalan menuju ke gedung Fakultas Ilmu Budaya yang lebih sering disebut dengan singkatannya FIB, ia mengeluarkan pulpen perekamnya. “Harusnya aku ngerasa seneng bisa lolos masuk UKM Musik tahun ini. Gara-gara cowok nyebelin itu, Jackson Peters, ah seharusnya aku nggak sebut nama dia. Pulpen perekam ini terlalu berharga untuk merekam namanya. Pokoknya, ini bener-bener aneh. Selama hidupku, cowok yang paling nyebelin sekalipun yang pernah aku temui nggak pernah bikin aku begitu sebel kaya sekarang ini. Ada apa sih sama dia? Kenapa kalo dia muncul bikin aku muak?” Ditekannya tombol ‘Stop’ lalu dimasukannya kembali pulpen itu ke dalam sakunya.

Berjalan lurus tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri saking kesalnya membuat Ifone lagi-lagi tak melihat jalan sehingga ia menabrak marking cone yang tertata rapi di lapangan parkir yang ia lewati. Ia menoleh ke kanan dan kirinya dan melihat orang-orang yang berjalan lalu menertawainya. Hanya meringis tak berdosa ia menanggapinya, lalu segera membetulkan marking cone yang ditabraknya dan melanjutkan perjalanannya.

“Ih!” Ifone duduk di antara Bridgette dan Hana di kantin gedung FIB.

“Apa sih, Fone?” sambil menyerutup segelas es mambo Hana menanggapi kekesalan sahabatnya itu.

Bridgette menyodorkan sebuah plastik bakpia yang sudah terbuka. “Makan gih, ilangin keselnya.” Ia menyodor-nyodorkannya walaupun Ifone sudah menolaknya sampai akhirnya ia menyerah.

“Ada cowok ngeselin banget. Ih bener deh. Amit-amit ada cowok begituan,” Ifone mengutarakan kekesalannya pada kedua sahabatnya yang semakin dibuatnya bingung.

Bridgette dan Hana yang diceritai malah tertawa.

“Eh, kok ketawa sih? Tega ya kalian nih. Sahabat lagi susah malah diketawain,” Ifone mengomel.

“Abisnya nggak biasanya banget sih, Fone, kamu tuh,” Bridgette berusaha mengutarakan alasan mengapa ia tertawa. “Kalau masalah cowok kan kamu biasanya cuman cuek-cuek aja walaupun tuh cowok ngejar-ngejar kamu sampe kaya orang gila. Nah yang ini kok bisa bikin kamu sebel segininya sih? Emang dia ngapain kamu?”

Ifone menggeleng.

“Nggak ngapa-ngapain kamu?” sergah Hana. “Kok sebel?”

Ifone mendesis, “Bukan gitu.” Bibirnya sudah mulai manyun-manyun. “Dia nggak ngejar-ngejar aku ataupun ngejek aku. Ya, dia tuh sikapnya sok banget dan nggak tahu terima kasih lagi. Eh, dia bilang sih tadi. Tapi waktu aku nggak ngucapin apa-apa ke dia. Kesannya tuh dia ngeledek aku.”

Sekali lagi Bridgette dan Hana tertawa.

“Ifone, Ifone. Ati-ati kalo sampe kelewat benci lho. Malah jadi suka, tahu rasa deh,” Bridgette menggoda, Hana mengangguk setuju.

Ifone menjulurkan lidahnya. “Amit-amit suka sama cowok sadis, wek,” ujarnya benci. “Udah deh, kalian tuh. Harusnya ngehibur aku malah sudut-sudutin aku.” Diambilnya gelas es mambo Hana dan diseruputnya. “Minta ya.”

“Iya, iya. Terus gimana hasil audisinya?” tanya Bridgette.

“Nggak usah ditanya kita juga tahu jawabannya Bridge,” Hana menyela sebelum Ifone membuka mulut. “Lolos kan, Fone?”

Ifone mengangguk sambil tetap dalam posisi nyamannya menyeruput es mambo.

“Eh, eh. Jangan dihabisin dong, Fone. Siapa yang beli, siapa yang ngabisin,” Hana memprotes lalu mengambil kembali es mambonya.

Ifone meringis. “Abisnya kesel. Maaf, maaf.” Ia menggaruk-garuk kepalanya. Namun sesuatu melintas di kepalanya dan seketika merubah raut wajah kesalnya.

“Napa tuh, jadi senyum-senyum sendiri?” Bridgette yang menyadari perubahan mendadak itu mengomentari.

Ifone tersenyum. “Tapi yah, tadi aku ketemu sama cowok ganteeeeng banget. Beneran deh. Di depan ruang UKM Musik juga. Aku jadi meleleh liat dia.”

Hana berdehem. “Oh, ada yang lagi jatuh cinta pada pandangan pertama toh?” simpulnya.

Ifone mengangguk-angguk.

“Gimana ciri-cirinya?” Bridgette bertanya.

“Hmm, matanya abu-abu, hidungnya mancung, bibirnya seksi, rambutnya gaya umm, tipe-tipe metal gitu, tapi penampilannya rapi banget,” sedetail mungkin Ifone menyebutkan ciri-ciri pemuda yang ditemuinya tadi.

“Loh? Itu kan dosen magang itu,” ucap Hana.

“Dosen magang?” seru Ifone. “Dimana?”

“Iya, dosen magang di FIB ini. Dia kalo nggak salah umurnya tiga tahun di atas kita soalnya baru lulus tahun ini, langsung direkrut jadi dosen disini,” jelas Hana.

Ifone berdecak senang. Di pikirannya sudah terdapat banyak hal mengenai sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan. Antara dia dan dosen magang itu. Namun semuanya itu hilang dalam sekejap ketika ia melihat Jackson masuk ke dalam kantin FIB.

“Kok? Kok dia disini?” mendadak Ifone menjadi kesal kembali.

“Dia siapa?” tanya Bridgette dan Hana bersamaan.

Jari telunjuk Ifone menunjuk pada Jackson yang sedang memesan sebuah minuman dan beberapa makanan kecil. “Yang aku ceritain tadi.”

Jackson berbalik setelah menerima pesanannya, dan tak sengaja matanya beradu dengan mata Ifone. Senyuman tersungging di bibirnya, lalu ia berjalan lalu untuk mencari tempat duduk. Sementara itu, Ifone justru menjadi kesal.

“Ih, ganteng banget, Fone,” kata Bridgette yang terbuai dengan sosok Jackson.

“Setuju, Bridge,” Hana menepuk pelan telapan tangan Bridgette yang tergeletak di atas meja. “Aku melted nih sekarang.”

Ifone menarik kepalanya ke belakang sementara matanya seolah ingin lepas dari tempatnya melihat reaksi kedua sahabatnya itu. “Woy, kalian tuh cuman liat luarnya aja. Coba kalo tau aslinya. Pasti langsung kabur. Ngerti nggak?” ujarnya cuek; tak mau berurusan dengan segala hal mengenai Jackson. “Udah, udah. Ayo kita ke kelas. Kalian masih ada kelas Poetry sama kaya aku kan?” Dengan paksa, ia menarik tangan Bridgette dan Hana yang masih terbuai itu.

Walau enggan, akhirnya kedua sahabatnya itu terpaksa bangun mengikuti Ifone menuju kelas Poetry yang mau tak mau mereka harus hadiri.

Baru sampai di depan kelas G.3.2 saat Ifone dan sahabat-sahabatnya itu akan masuk, empat orang pemuda menghalangi. Bukan untuk memalak atau bertindak kasar, tetapi untuk mencari perhatian Ifone. Thomas, Danny, Jonathan dan Ricky. Mereka tidak pernah absen untuk menebarkan pesona di depan Ifone.

“Kalian ini, nggak tahu jam ya? Aku harus masuk ke kelas sekarang.” Ifone menggerutu. “Sana pergi deh.”

Jonathan mengambil tangan kanan Ifone. “Ayolah Ifone, sudah dua hari kamu nggak jawab pertanyaanku,” katanya.

Ifone yang ditanya justru mengibaskan tangan Jonathan dan melepaskan tangannya dari genggaman pemuda itu. “Kan aku sudah bilang aku anggap kamu sebagai temen. Jangan gitu ah.” Nada bicaranya tidak kasar, dia tetap berusaha untuk berkata sebaik mungkin agar tidak menyakiti hati teman bermainnya waktu kecil itu.

“Tuh, Jo, udah diusir ya pergi aja,” celetuk Ricky. Gilirannya sekarang merayu Ifone. “Nanti malem nonton bioskop ya. Ada film baru lho. Cinderella. Kamu pasti suka.”

Ifone menggeleng.

Yang tersisa, Thomas dan Danny, menertawai kedua kawannya yang sudah ditolak.

“Nggak usah ketawa deh. Kalian juga nggak usah ngerayu-ngerayu kaya mereka. Jawabanku udah pasti nggak juga buat kalian.” Ifone melenggang pergi bersama kedua sahabatnya meninggalkan keempat pemuda yang telah mentah-mentah ditolaknya itu dan masuk ke dalam kelas.

Baru saja ketiganya duduk, seorang dosen masuk dan menyapa para mahasiswa.

“Selamat pagi, Pa..ak,” Ifone terbelalak melihat siapa yang menjadi dosennya itu. “Dia, dia – dosen Poetry? Girls, dia dosen kita.” Ia setengah berbisik kepada Hana dan Bridgette yang saling berpandangan seolah berkata ‘Lihat, dia kasmaran’.

“Halo semua. Nama saya Maxwell Lee, kalian bisa panggil saya Pak Lee, atau Max juga tidak masalah.” Dosen muda itu memperkenalkan dirinya di depan semua mahasiswa yang sebagian terkagum akan sosoknya yang menawan. “Saya memang belum menjadi dosen tetap, masih magang, tapi saya berharap kalian semua dapat memahami mata kuliah yang saya ajarkan. Aturannya hanya satu. Jika kalian berminat di kelas ini, silakan tinggal, sisanya silakan keluar. Saya akan tuliskan nomor ponsel saya, jika kalian perlu ijin tidak mengikuti kelas.”

Dengan sigap dan cepat Ifone mengambil ponselnya dan mendaftarkan nomor itu ke kontaknya. Baginya, ini adalah peluang yang baik untuk dirinya dekat dengan Max. Dalam hati ia tersenyum gembira.

“Ssst, Fone, kok senyum-senyum sendiri sih? Diliatin tuh sama Pak Lee,” bisik Hana.

Ifone melirik ke arah Max dan benarlah perkataan Hana. Ia sedikit salah tingkah sehingga tersenyum pada Max dan cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain.

Setelah Max mengabsen mahasiswanya, ia memulai kuliah. Sepanjang jam kuliah Poetry, berkali-kali Ifone berusaha untuk tidak salah tingkah setiap kali matanya bertautan dengan mata Max. Namun, kulitnya yang putih itu dengan jelas menunjukkan rona merah di pipinya. Hana dan Bridgette beberapa kali menertawakan sahabatnya itu diam-diam karena hal itu.

Seakan begitu cepat jam kuliah berakhir. Max membubarkan kelas sementara ia masih tinggal sebentar di dalam kelas untuk membereskan barang-barangnya. Ifone yang sedikit tidak memperhatikan perkataan Max saat membubarkan kelas, akhirnya kelabaan membereskan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas. Hana dan Bridgette menggerutu karena mereka harus cepat-cepat untuk pergi ke Biro Keuangan untuk membayar biaya SKS per semester.

“Uh, kamu, Ifone, benar kan?” Max menghentikan langkah Ifone saat ia akan keluar dari kelas bersama kedua sahabatnya.

Ifone mengangguk. “Iya.”

“Saya tidak menyangka kamu jadi anak didik saya.” Senyuman terpampang di wajah Max. Ia membawa menjinjing tasnya yang sudah berisi barang-barang yang ia bereskan tadi.

Bukannya mengatakan sesuatu pun, Ifone hanya meringis.

“Sepertinya kamu dan teman-temanmu buru-buru, ya?” tanya Max.

“Oh,” Ifone berpaling kepada Hana dan Bridgette lalu kembali pada Max, “tidak juga, Pak Lee.”

“Panggil saya Max aja.”

“Oh, Max. Ya. Saya nggak terburu-buru kok. Cuma mereka aja. Apa bapak ada urusan dengan saya?” walau janggal, Ifone tetap menyebut Max ‘bapak’ dan berbicara sedikit formal karena bagaimana pun ia adalah dosennya.

Max menggeleng. “Nggak kok. Cuma tanya aja tadi,” jawabnya. “Ya udah, kamu pergi aja sama temen-temen kamu. Mereka kelihatan buru-buru sekali.”

Ifone melirik Hana dan Bridgette yang memang betul tidak sabar lagi menunggu Ifone yang betah berlama-lama di dekat Max. “Iya, Pak Lee, uh, Max. Saya pergi dulu. Sampai nanti.”

Sampai nanti? Kenapa aku harus mengatakan itu? Aduh!

“Hati-hati. Sampai nanti,” balas Max.

Ifone yang kelewat malu segera bergabung dengan kedua sahabatnya yang sudah menunggu. Mereka menyambutnya dengan tarikan di kedua tangannya. Mereka tidak punya banyak waktu untuk segera mengurus administrasi sebelum antrian panjang terbentuk.

***ABB***
La, la, la, la. Tiga dulu yah untuk hari ini. Chapter lainnya aku lanjut besok. Hoho. Thanks ya yang udah baca. Dan komen. emoticon-Blue Guy Peace

Characters : Images

Ifone
A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan

Hana dan Bridgette
A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan

Jackson
A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan
image-url-apps
wow, ente apdetny kebut"an broemoticon-Belo
smoga kedepannya kebut trusemoticon-Big Grin

ifoneemoticon-Belo..
mnurut ane penulisanny ud bgusemoticon-thumbsup
btw, ane ijin bkin gubuk + api unggun dimari sambil mantau critanyaemoticon-Cool
image-url-apps
wew cerita baru nih... numpang nancepin kuku yah sist.. emoticon-Embarrassment

wah2 bakal ada cinta segitiga nih.. emoticon-Big Grin
ditunggu updetannya sist! mdh2an updetannya lancar.. emoticon-Ngacir
Quote:


Baiklaaaah.. Silakan... Makasiiih yaaaa...

FYI, Sabtu Minggu nggak update yaa..Hoho
Quote:


Makasih makasiiiih..

Semoga ke depannya terus suka..

Hihi.. Cinta segitiga.. Aw aw..
image-url-apps
Itu nama tokoh nya kok nama asing semua sih bray,nama samaran ya bray,
berasa sinetron gan, sekolahan ane dlu walopun byk yg cantik jg pd cuek cwo2nya...hehehe..no offense lho gan....ah jd rindu masa sekolah....
Quote:


Iya, nama samaran lah. Biar nggak ketahuan. Hihi.
Nanti aku kasi trivia juga kenapa namanya asing tapi tinggalnya di Semarang.
Quote:


Hahahaha, sebenernya ini diangkat dari kisah nyata. Tar di trivia pertama aku kasi tahu.
Ternyata yang di sinetron itu ada di kehidupan nyata. Yakin deh.
Cuma ini aku buat fiksi, supaya lebih greget.

A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan (Chapter 4)

Chapter 4

Di depan Biro Keuangan, Ifone duduk menunggu kedua sahabatnya di sebuah kursi panjang. Dengan pulpen perekamnya, ia mengutarakan isi hatinya. Ia masih memikirkan bahwa seharusnya ia tidak mengatakan ‘sampai nanti’ kepada Max karena hal itu dapat menimbulkan kecurigaan. Ia tidak mau sampai ketahuan telah jatuh hati pada dosennya sendiri. Bisa-bisa berita ini tersebar ke seluruh penjuru kampus dan nama baiknya bisa saja menjadi buruk ketika didengar oleh Geng Clique.

Geng Clique adalah sekelompok mahasiswi terkenal yang ada di kampusnya, terdiri dari lima orang mahasiswi borju dan cantik. Mereka sangat berkuasa di kampus dan kaum Adam sangat mengagumi mereka. Namun, kedatangan Ifone membawa petaka bagi mereka. Semenjak ia ada, perhatian kaum Adam yang dianggap sebagai mahasiswa paling tampan dan kaya berpaling kepada gadis yang satu ini. Mau tak mau, beberapa kali Ifone mendapatkan ancaman dari Geng Clique untuk tidak mendekati para pemuda yang mereka dekati. Larry, Darian, John, Kyle, dan Adrian, teman SMAnya itu. Tentu saja, tanpa merasa terpaksa, ia melakukannya. Menghindari para pemuda itu.

“…Ya gitu deh. Seharusnya memang aku lain kali harus hati-hati kalo ngomong.” Ia menyelesaikan rekaman diary-nya, lalu dimasukkannya pulpen itu ke dalam tasnya kembali.

Hana dan Bridgette tidak biasanya begitu lama berada di dalam Biro Keuangan. Ifone menjadi bosan menunggu. Terkadang ia berdiri, berjalan-jalan di sekitar area depan Biro Keuangan dan kembali duduk. Matanya yang tajam itu memandang ke segala arah, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di depannya. Masih bosan, ia menopang kedua kepalanya di atas tangannya dan perlahan kantuk melanda.

“Woi, kampus bukan buat tidur.”

Ifone tergugah dari tidurnya dan terkejut menemukan Jackson duduk di sebelahnya. “Ngapain sih? Ngikutin aku ya? Ganggu-ganggu aja.”

Jackson mengerutkan dahinya. “Ngikutin apaan? Orang aku lagi ngantri bayar SKS.” Dengan cuek, ia berpaling dari Ifone kepada beberapa helai uang dan secarik kertas di tangannya. Tanpa mempedulikan kehadiran Ifone, ia berkutat pada apa yang dipegangnya.

Ifone merasa kesal dibuatnya. Matanya melihat ke sekelilingnya. “Eh, Jackson, masih ada kursi kosong tuh disana. Kenapa nggak duduk disana sih? Kenapa harus disini?”

Jackson tidak menjawab. Ia malah mengeluarkan sebuah buku saku kecil dan menuliskan sesuatu di dalamnya.

“Denger nggak, sih?”

“Hmm.” Jackson merespon singkat.

“Pindah sana.”

Jackson memalingkan wajahnya pada Ifone. “Apaan sih kamu? Kenapa merintah-merintah gitu? Ini kursi bukan kursi kamu. Lagian ini kursi yang paling deket pintu BiKu (Biro Keuangan). Kalo aku mau duduk disini ya terserah aku dong.”

Ifone berdecak kesal. “Ck, ada ya, cowok yang nyebelin kaya kamu? Seumur-umur nggak pernah liat orang kaya kamu.” Ia beranjak dari kursi yang ia duduki dan berpindah ke kursi yang lain yang ditunjuknya tadi.

Sementara itu, Jackson tetap berkutat pada aktivitasnya sebelumnya.

Belum lama ia duduk, Hana dan Bridgette muncul. Kedatangan mereka membuat hati Ifone merasa lega karena ia bisa segera pergi dari situ. Dari hadapan Jackson.

“Amit-amit, amit-amit, amit-amit,” di sepanjang jalan, Ifone bergumam keras.

“Napa, Fone?” Hana yang mendengarnya berkomentar.

Ifone tidak menjawab. Ia hanya menggeleng.

Bridgette yang tahu benar sifat Ifone tidak membiarkannya begitu saja. “Ada apa sih? Kamu barusan kenapa? Ketemu apa?” Ia menginterogasi. “Atau ketemu…siapa?”

Ifone menghentikan langkahnya, kedua sahabatnya pun melakukan hal yang sama. Ia diam sejenak sampai ia mengungkapkannya. “Dia. Aku ketemu dia lagi.”

“Oh, cowok yang tadi? Yang ganteng banget itu?” tebak Hana. “Dimana? Kok nggak bilang sih?”

Ifone bergidik mendengar perkataan manja Hana. “Ya di depan BiKu tadi, pas nunggu kalian yang nggak nongol-nongol.”

“Harusnya kamu ngomong kalo dia disana, Fone,” Bridgette bukannya mencairkan suasana malah justru memperkeruhnya.

Ifone mendengus kesal. “Udah deh, girls. Aku tuh sebel sama dia. Bisa kan kalo kita nggak nyebut-nyebutin dia lagi?” ujarnya ketus. “Kalo kalian mau ngomongin dia di belakangku, ya terserah. Asal jangan di depanku, oke?”

Bridgette menyentuh lengan Ifone dengan tatapan bersalah. “Maaf, Fone. Kami kan nggak bermaksud gitu.”

“Iya, Fone. Kita janji nggak ngomongin dia lagi di depan kamu deh,” ucap Hana menambahi.

Ifone mengangguk. “Bagus deh. Ya udah, ayo pulang,” ujarnya singkat. Ia masih berusaha menenangkan dirinya dari kekesalan yang melandanya.


Ifone membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia merasa lelah sepanjang hari ini. Sebenarnya bukan karena aktivitas yang ia lakukan. Semuanya itu tidak seberapa. Tetapi pikirannya begitu lelah karena masih merasa kesal pada Jackson. Rasa kesalnya itu benar-benar menguras energinya.

Tok, tok, tok. Tanpa menunggu jawaban dari Ifone, sesosok wanita cantik terlihat dari balik pintu kamar tidurnya.

“Mama?” Ifone beranjak dari tidurnya dan duduk menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.

Jane, mamanya, berjalan mendekati Ifone dan duduk di ranjang, tepat di sampingnya. “Sayang, tolongin mama ya,” sebuah nada manja terdengar dari mulut wanita itu.

Ifone merasa heran dibuatnya. “Mama kok bisa di rumah Ifone? Kok mendadak tanpa ngabarin dulu? Dan minta tolong apa?” tanyannya bertubi-tubi.

Jane meringis dengan tatapan mata seakan menyiratkan sesuatu. “Mama baru dari Bandung nih. Karena ada sesuatu hal yang mendesak yang mama mau obrolin sama kamu, jadinya mama ke Semarang deh.”

“Bukannya lewat telepon atau video call bisa? Biasanya kan gitu.”

Jane menggeleng. “Ini penting banget.”

“Oh ya?” Ifone menaikkan kedua alisnya heran. Tidak biasanya mamanya seperti itu. Segala sesuatu yang dikatakannya penting hanya selalu berkaitan dengan kehidupan pernikahannya. “Apa mama.. mama mau balikan sama papa?”

Jane menunduk. “Kalau itu udah nggak bisa diperbaiki, Fone.”

Kekecewaan terdengar di dengusan nafas Ifone.

“Mama ketemu sama seorang pria. Dia baik banget. Selama mama kerja di Bandung, dia yang selalu jagain mama. Siang ini, dia ngelamar mama.” Raut wajah Jane terlihat berseri-seri ketika menceritakan hal itu.

Ifone yang tidak terlalu tertarik akan apapun mengenai orang tuanya kecuali jika mereka kembali bersama, hanya berkata, “Terus? Aku mau dimintain tolong apa, ma?”

Sebuah sentuhan lembut di lengan Ifone diberikan oleh Jane. “Nanti malam dia ngajak dinner. Ikut mama ya. Mama sekalian mau kenalin kamu sama dia.”

“Ada tugas ma. Nggak bisa.”

“Ifone, ayolah. Jangan gitu.”

“Aku harus ngerjain tugas yang harus dikumpulin lusa, ma.”

“Nah, lusa kan? Bisa tuh dikerjain besok,” raut wajah mama yang memelas itu akhirnya membuat Ifone tak sanggup menolak permintaan mama lagi.

“Iya, iya. Tapi aku nggak mau ribet ya. Dandannya sesuai yang aku mau. Yang sederhana,” Ifone mengajukan syarat.

Sebelum orang tua Ifone bercerai empat tahun lalu, biasanya ia selalu didandani dengan gaya yang baginya terlalu berlebihan. Ia tidak menyukainya. Ia cenderung untuk tampil sederhana dan praktis dalam acara apapun, bahkan termasuk acara formal. Setelan sederhana, rambut yang hanya digerai atau dikuncir samping, dengan sepatu boot sudah menjadi ciri khasnya.

“Oke deh. Makasih anak mama yang paling cantik.” Mama beranjak dari ranjang dan mencium rambut Ifone lalu melenggang pergi keluar dari kamar Ifone.

Pulpen perekam pun diambilnya. Ifone mulai merekam curhatnya. “Aku berharap papa dan mama bersatu lagi. Bukan seperti ini. Aku berharap semua menjadi lebih baik. Aku tahu walaupun mereka bercerai, aku tetap diperhatikan. Segala yang aku ingini selalu dipenuhi. Tetapi kebersamaan itu jauh lebih penting. Aku harap doaku dikabulkan. Aku berdoa agar aku memiliki keluarga yang utuh kembali.” Selesai. Ia meletakkan kembali pulpen itu dan memejamkan matanya untuk melupakan beban hidup yang dirasakannya.

***ABB***
Seneng banget yang udah baca dan komen. Aw, aw, aw. Jadi makin semangat update.
Enjoy the rest of the stories.

A Born Beauty - Berkat Atau Kutukan (Chapter 5)

Chapter 5

Ifone dan mama sampai di sebuah restoran elit yang ada di daerah Semarang atas. Suasana yang sejuk di malam hari memberikan kesan romantis. Sebuah tempat di bagian outdoor restoran sudah direservasi dan disanalah seorang pria dan seorang anak perempuan seumuran Ifone sedang duduk menunggu.

“Maaf, Paul, sudah cukup lama menunggu.” Mama memberikan pelukan singkat pada seorang pria yang disebut Paul itu dan pada anak perempuan yang disebelahnya. “Kenalkan, ini anakku satu-satunya, Ifone.”

Ifone mengangguk pelan dengan sedikit senyuman tersungging di bibirnya.

“Cantik ya, dia. Seperti kamu, Jane,” puji Paul yang membuat wajah mama berseri-seri.

“Dan dia, dia anakmu?” tanya mama balik untuk menutupi rona-rona di wajahnya semakin memerah.

Paul mengangguk. Didorongnya pelan anak perempuannya itu agak mendekat ke arah Jane dan Ifone. “Ini Savannah.”

“Halo, Savannah cantik.” Jane menyapa.

Dengan senyuman lebar, Savannah membalas, “Halo tante. Terima kasih,” kemudian berganti kepada Ifone, “Halo Ifone.”

Ifone tersenyum kecil tanpa membalas sapaan Savannah.

“Ayo duduk,” ajak Paul. Jane duduk di depan Paul, dan Ifone di depan Savannah.

Beberapa kali, Ifone melihat Jane dan Paul saling tersenyum ketika mata mereka bertemu seakan saling berkata-kata dalam bisu. Sesuatu yang Ifone tidak mengerti. Atau yang tak mau ia mengerti. Sementara Savannah, betul-betul terlihat begitu senang melihat papanya akan segera mendapat pasangan baru. Ia bahkan mengambil foto mereka berdua dan membuat keduanya tersipu-sipu.

Kaya anak muda aja nih, mama sama om Paul, kata Ifone dalam hati sambil menggeleng-geleng heran.

Makanan pesanan telah datang. Sambil menikmati makan malam, banyak perbincangan di antara mereka, terkecuali Ifone. Ia lebih memilih untuk tidak banyak bicara. Ia hanya bicara ketika ditanya. Di dalam hatinya, ia masih belum dapat menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa ia akan memiliki papa tiri, sementara ia masih memiliki seorang papa yang memutuskan untuk tinggal di luar negeri, jauh dari dia dan mamanya setelah berpisah. Cepat-cepat ia menyelesaikan makanannya, lalu ia permisi ke kamar kecil. Dibawanya juga tas kecilnya itu serta.

Bukannya segera kembali menuju ke meja dimana mamanya berada setelah selesai dari kamar kecil, Ifone malah beralih keluar dari restoran dan duduk di taman. Sejujurnya, ia hanya ingin pergi dari sana dan menyendiri. Hanya itu.

Dibukanya tas kecilnya itu untuk mengambil pulpen perekamnya untuk mengeluarkan unek-unek¬-nya. Menyadari bahwa ia tak dapat menemukannya, ia menjadi panik. Ia melihat ke kolong bawah kursi taman untuk melihat jika ia tak sengaja menjatuhkannya. Pulpen itu tidak ada disana. Kembalilah ia ke kamar kecil, tapi tetap saja tidak ketemu.

Pulpen itu bagi Ifone seperti nyawanya. Rekamannya selama hari ini belum ia back-up ke laptopnya, seperti yang biasa ia lakukan, karena ia hanya melakukannya setiap sebelum tidur. Frustasi, ia kembali ke kursi taman dimana ia duduk sebelumnya.

Ifone duduk dengan kepalanya terbenam di kedua telapak tangannya. “Gimana ini? Ceroboh banget sih aku?” ia bergumam sendiri.

“Kamu cari ini ya?”

Secepat kilat Ifone membuka wajahnya dan matanya tertuju kepada pulpen kesayangannya itu di tangan seorang pria.

“Max?” ucap Ifone terkejut tanpa sempat mengambil pulpen itu.

Max tersenyum lalu duduk di sebelah Ifone. “Hai,” sapanya. “Ini punya kamu kan?”

Ifone mengangguk lalu mengambil pulpen itu dari Max. “Terima kasih banyak. Untung aja pulpen ini nggak hilang.” Ia menggenggamnya erat-erat seakan benar-benar tidak ingin kehilangan lagi.

“Jadi gara-gara pulpen kamu kelihatan kacau begini?” Max menunjukkan ekspresi heran dengan tawa kecil mengiringi.

Ifone lagi-lagi mengangguk, dan tersenyum memandang Max. Ia hampir lupa bahwa ia memiliki rasa untuk dosennya ini, tapi tidak lama ia mengingatnya dan membuat pipinya merona. Sesegera mungkin, ia palingkan wajahnya ke arah lain untuk menutupinya sambil memasukkan pulpennya ke dalam tas.

“Kamu baik-baik aja sekarang?” sepertinya sikap malu Ifone itu tertangkap oleh Max.

“Eh?” Ifone berlagak tidak mendengar saat berpaling kembali pada Max. “Gimana?”

“Kamu baik-baik aja sekarang?” Max tanpa enggan mengulangi pertanyaannya.

Ifone meringis. “I-iya.”

“Kamu kok ada disini?” lebih lanjut Max bertanya. Tubuhnya sedikit bergeser menghadap Ifone.

Mengingat alasan mengapa ia ada disini membuat Ifone tidak senang. Raut wajahnya berubah seketika, dan Max menangkapnya.

“Aku salah tanya, ya? Ya udah, nggak usah dijawab.”

Ifone menggeleng. Tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. “Cuma makan malam aja sama mama.”

“Terus kenapa disini?”

“Oh, aku butuh udara segar aja sih. Jadi disini.” Ifone mengedikkan bahunya. “Terus, kenapa kamu disini, Max? Makan malam juga?”

Max mengangguk. “Iya. Sama tunangan dan calon mertua.”

Jawaban itu. Jawaban itu bukan yang Ifone harapkan. Rasa yang ia miliki untuk Max sekarang hancur berkeping-keping. Mungkin seharusnya ia tidak bertanya, tetapi hal itu juga tidak mengubah kenyataan yang ada. Mungkin akan lebih menyakitkan jika ia mengetahui kenyataan itu ketika terlanjur jatuh cinta begitu dalam.

Ifone membentuk kata ‘oh’ di bibirnya tapi tanpa suara terdengar.

“Kamu nggak patah hati kan?” goda Max.

Ifone menelan ludah. Max seperti membaca pikirannya. “Ya enggak lah, Max.” Cepat-cepat ia menyangkal. Jangan sampai ia ketahuan menyukai dosennya itu. Ia bisa malu jadinya.

Max tertawa. “Aku bercanda, Ifone.” Dibelainya rambut Ifone seperti sudah lama kenal.

Malam yang indah itu tak seindah kenyataan yang Ifone hadapi saat ini. Nasibnya yang akan memiliki ayah tiri, patah hati sebelum sempat merasakannya lebih dalam, dan…

Dahi Ifone membentuk banyak sekali kerutan saat melihat, “Jackson?” gumamnya yang kemudian ia sesali karena kurang menjaga mulutnya untuk tidak menyebutkan nama seseorang yang akhir-akhir ini telah menjadi musuh bebuyutannya itu.

Max menengok ke sang pemilik nama, lalu kepada Ifone, “Jadi kalian saling kenal?” lalu ke arah Jackson lagi lalu melambai padanya agar datang mendekat.

Ya Tuhan! Apa lagi ini? Kenapa Max harus memanggilnya kesini? Ifone mengeluh dalam hati. Sebisa mungkin ia memalingkan wajahnya agar Jackson tidak melihatnya saat berjalan mendekat. Mimpi apa aku semalem bisa ketemu orang ini disini? Nambahin beban hidup aja.

Sepasang sepatu mengkilat terlihat sepintas mendekat dan berhenti di depan Max. “Kenapa manggil aku, Max?” tanya Jackson.
“Ini temen kamu, kan?” tanpa basa-basi Max mengungkapkan maksudnya memanggil Jackson mendekat.

Ifone menoleh ke arah Max dengan cepat. “Temen? Enggak, bukan.” Ia menyangkal. Amit-amit punya temen jutek kaya dia, cih, lanjutnya dalam hati.

“Bukan temen?” tanya Max.

“Uh, maksudku—”

“Kita ketemu di audisi UKM Musik. Dia termasuk salah satu yang terpilih tahun ini,” Jackson menyahut cepat seakan menolong Ifone yang kebingungan menjawab.

Ifone menuding-nuding dengan telunjuk tangan kanannya. “Itu, itu yang kumaksud.”

Anyway, ngapain kalian berdua disini?” tanya Jackson, lalu matanya mengarah pada Ifone dengan tatapan tajam. “Jangan-jangan kamu godain kakakku ya? Dia udah punya tunangan, mau menikah. Nggak usah ganggu deh.”

Mata Ifone membulat. Kakak? Max punya adik yang kelewatan kalo ngomong? “Siapa yang godain? Orang nggak sengaja ketemu disini. Dasar tukang nuduh!” ia melemparkan pandangan ke arah lain yang tak tentu.

Max berdecak. “Hei, hei, kenapa malah jadi bertengkar?” ia menengahi.

Ifone beranjak dari kursinya. “Permisi, Max. Aku harus kembali ke mamaku.”

Belum sempat ia melangkah, Jane muncul bersama Paul dan Savannah. “Ifone. Kamu nih kemana aja? Lama banget ditungguin ternyata malah disini,” terdengar nada menggerutu darinya.

Max yang masih duduk pun segera berdiri di samping adiknya.

“Jackson?” Savannah, dengan wajah sumringah menyadari kehadiran Jackson, segera menggelayuti lengan pemuda itu. “Kita ketemu juga akhirnya. Udah dari SMA lho nggak ketemu.”

Jackson terlihat tidak menyukai apa yang Savannah lakukan tapi tak bisa apa-apa karena kehadiran Paul, dan pemandangan ini ditangkap oleh Ifone. Rasain kamu, sekarang dibikin nggak seneng sama Savannah, lalu tertawa puas dalam hati.

“Pa, ini dia Jackson yang dulu suka sama Savannah,” dengan bangga Savannah mengenalkan Jackson pada papanya.

“SUKA? APA?” ucap Jackson serta merta.

“Alah, kamu nih, nggak usah pura-pura. Aku udah tahu kok dari dulu,” sahut Savannah.

Ifone yang seharusnya menjadi pusat perhatian karena hampir kena semprotan Jane pun beralih kepada Savannah dan Jackson. Bersyukur dalam hati, Ifone diam-diam tersenyum.

Paul mendekati Jackson. “Nak, kalau kamu memang suka, nggak papa kok. Om merestui hubungan kalian berdua.” Ia menepuk lengan Jackson pelan.

“Betewe, kamu sama Ifone saling kenal ternyata? Wah bagus deh. Kebetulan banget ya. Dia bentar lagi jadi saudara iparku. Jadi kalo kita menikah, semua jadi udah saling kenal,” Savannah menerocos tanpa henti.

Jane, Paul dan Max tertawa mendengar perkataan Savannah. Sementara Jackson dan Ifone secara tidak sengaja sama-sama berkedik menunjukkan rasa tidak suka.

“Uh, apa kita bisa pulang sekarang, ma? Aku capek.” Ifone memecahkan suasana.

“Kalo Savannah boleh stay kan, pa? Mau lebih lama sama Jackson,” timpal Savannah.

“Aduh, maaf ya, Savannah. Bukannya nggak mau, tapi aku ada makan malam sama keluarga mertua kakakku.” Dengan sedikit paksaan Jackson melepaskan tangan Savannah yang sedari tadi belum lepas dari lengannya. “Ayo, Max, kita kembali.”

“Maaf, permisi, semuanya,” ucap Max demi menjaga kesopanan, lalu berpaling pergi menyusul Jackson yang pergi begitu saja lebih dulu.
Savannah tampak murung seketika. Paul segera menghiburnya. Tak mau melihat masalah yang mungkin muncul, bersamaan dengan itu, Jane berpamitan pada mereka lalu pulang bersama Ifone.

***ABB***
Hari ini segini dulu ya. Oh ya, tar aku kasi foto-foto yang lain sebagai karakter. Hoho.
image-url-apps
sifatny Ifone angkuh jg yak trnytaemoticon-Nohope,,,
kl jackson mah cool+cuekemoticon-Big Grin
itu pulpen perekam menarik jugaemoticon-Malu

ditunggu apdetan slanjutnya browemoticon-Big Grin
Quote:


Iya, si Ifone mah gitu orangnya..emoticon-Ngakak (S)
Tapi... coba liat nanti dulu..
Jackson, miahahahaha..emoticon-Cool bikin melting cowok begitu malah. Daripada yang ngejar-ngejar membabi buta. Ahaha

Baiklah! Beres!emoticon-Blue Guy Peace
×