alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/555a17f6d89b0984058b4569/al-quran-di-baca-langgam-jawa
Jawaban atas munculnya Al-Qur'an di baca langgam jawa
Assalamu 'alaikum wr. wb. Ustadz, ramai di
media sosial perbedatan masalah hukum
membaca Al-Quran dengan langgam Jawa. Ada
yang mengharamkan dan ada juga yang
membolehkan. Lalu bagaimana tanggapan ustadz
dalam masalah ini, apakah hukumnya boleh atau
tidak?
Mohon penjelasan yang adil dan seimbang serta
mencerahkan. Terima kasih. Wassalam
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dalam masalah ini memang wajar terjadi
perbedaan pandangan di antara banyak pihak.
Sesama pihak-pihak yang memang ahli di bidang
ilmu baca Al-Quran, yaitu para qari dan ulama
qiraat pun kita menemukan perbedaan pendapat.
Dan lucunya, perbedaan pendapat ini pun menular
juga di kalangan yang bukan ahlinya, yaitu
mereka yang bukan qari' dan bukan pula ulama
ahli qiraat. Mereka yang boleh jadi baca Qurannya
pun masih ngalor-ngidul, blang bentong tidak
karuan, tetapi tiba-tiba merasa menjadi ahli
qiraat nomor wahid. Mereka ini dengan
mudahnya menuding-nuding kesana kesini dan
menyalah-nyalahkan siapa pun yang dianggapnya
berseberangan cara pandang.
Kita harus maklum dengan kelakuan kalangan
awam yang rasa sok tahu ini. Apalagi ada juga
yang mengakit-ngaitkannya dengan urusan
politik, sampai saya juga dapat SMS yang
mengingatkan bahwa Indonesia layak dapat
adzab dan dihancurkan Allah gara-gara
pemerintah dzalim membiarkan masalah ini.
Sekilas buat sebagian kita mendengarkan Al-
Quran dibaca dengan langgam Jawa ini memang
terasa aneh. Karena biasanya yang kita dengar
semuanya nada-nada bacaan Al-Quran itu khas
timur tengah (middle east). Tetapi kali ini nada-
nadanya punya nuansa khas tanah air, yaitu
nada-nada Jawa. Buat yang biasa mendengarkan
wayang, terasa ini bukan bacaan Al-Quran tetapi
tembang-tembang khas di pewayangan.
Sehingga wajar bila ada yang terlalu mudah main
haramkan saja, khususnya bila yang mendengar
itu orang-orang Arab sana. Jangankan kuping
mereka, kuping kita yang asli made in Indonesia
pun merasa rada aneh. Tetapi apakah sekedar
merasa aneh lantas hukumnya jadi haram?
Dalam hal ini sebaiknya kita yang awam ini
jangan terlalu mudah main bikin fatwa sendiri.
Ada baiknya kita serahkan kepada para ulama
ahli qiraat yang memang ahlinya. Kalau pun ada
perbedaan pendapat dari mereka, setidaknya kita
tidak mengambil alih hal-hal yang bukan
wewenang kita.
A. Pendapat Yang Mengharamkan
Ada beberapa ulama ahli qiraat yang sudah
berfatwa tentang haramnya membaca Al-Quran
dengan langgam Jawa ini. Salah satunya adalah
Syeikh Ali Bashfar yang bermukim di Saudi
Arabia. Salah seorang muridnya ada yang
mengirimkan rekaman bacaan Al-Quran dengan
langgam Jawa ini. Dan kemudian jawaban dari
beliau berupa larangan.
Kesalahan tajwid; dimana panjang mad-nya
dipaksakan mengikuti kebutuhan lagu.
Kalau saya cermati apa yang beliau fatwakan itu,
setidaknya saya mencatat ada empat masalah
yang beliau tuturkan, antara lain adalah :
1. Kesalahan Lahjah
Kesalahan nomor satu dari rekaman yang
diperdengarkan itu menurut beliau adalah
kesalahan lahjah si pembacanya yang cenderung
orang Jawa. Seharusnya lahjahnya harus lahjah
Arab.
Dan banyak orang yang mengharamkan hal ini
dengan berdalil kepada hadits berikut :
Bacalah Al-Quran dengan lagu dan suara orang
Arab. Jauhilah lagu/irama ahlkitab dan orang
orang fasiq. Nanti akan ada orang datang
setelahku membaca Alquran seperti menyanyi dan
melenguh, tidak melampau tenggorokan mereka.
Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang
mengaguminya. (HR. Tarmidzi)
2. Dianggap Memaksakan Diri (Takalluf)
Kesalahan kedua dianggap adanya semacam
sikat memaksakan, atau takalluf. Pembacanya
dianggap terlalu memaksakan untuk meniru lagu
yang 'tidak lazim' dalam membaca Al-Quran.
3. Dicurigai Ashabiyah
Ditambahkan lagi dalam fatwa beliau bahwa ada
kecurigaan yang dianggap cukup berbahaya, yaitu
bila ada niat merasa perlu menonjolkan kejawaan
atau keindonesiaan. Hal ini dianggap membangun
sikap ashabiyyah dalam ber-Islam. Padahal
ashabiyah itu hukumnya haram.
4. Khawatir Memperolok Al-Quran
Dan yang paling fatal jika ada maksud
memperolok-olokkan ayat-ayat Allah yang
mereka samakan dengan lagu-lagu wayang
dalam suku Jawa.
Maka dengan dasar empat masalah di atas
dianggap bahwa membaca Al-Quran dengan
langgam Jawa itu tidak boleh dilakukan.
Nampaknya fatwa beliau ini kemudian disebar-
luaskan di berbagai media, dan siapapun bisa
membacanya.
B. Pendapat Yang Membolehkan
Sementara kita juga menemukan ulama ahli qiraat
di Indonesia, sebut saja misalnya KH. Prof. Dr.
Ahsin Sakho Muhammad. Beliau seorang pakar
ilmu yang langka: ilmu-ilmu Al-Quran. Lulus
sebagai doktor dari Jamiah Islamiyah Madinah
dengan prestasi mumtaz syaraful ulaa alias
cumlaude. Kiprah beliau di dunia ilmu qiraat di
Indonesia tidak perlu dipertanyakan lagi. Beliau
pernah menjadi rektor dan guru besar di Institut
Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta dan menjadi team
pentashih terjemahan Al-Quran di Departemen
Agama RI.
Kalau kita tanyakan masalah ini kepada beliau,
nampaknya pandangan jauh beliau lebih luas.
Barangkali karena beliau memang orang
Indonesia asli yang paham betul karakter bacaan
Al-Quran bangsa ini. Beliau mengatakan sebagai
berikut :
"Ini adalah perpaduan yang baik antara seperti
langit kallamullah yang menyatu dengan bumi
yakni budaya manusia. Itu sah diperbolehkan.
Hanya saja, bacaan pada langgam budaya harus
telap berpacu seperti yang diajarkan Rasul dan
para sahabatnya. Dalam hal ini, tajwid dalam
hukum bacaannya, panjang pendeknya dan
mahrajnya".
Lebih lanjut beliau menambahkan :
"Cara membaca Al-Quran yang mengacu pada
langgam budaya Indonesia sangat diperbolehkan
dan tidak ada dallil shahih yang melarang hal
demikian. Hanya saja, saya belum pernah
mendengar 'jawabul jawab' di dalam langgam
Cina, atau pun di Indonesia. Tetapi jika hanya
sekedar langgam Jawa, Sumatra, Sunda, Melayu
dan lainnya itu sah saja, selama memperhatikan
hukum bacaan semestnya. Itu kratifitas
budayanya".
1. Hadits Larangan Selain Langgam Arab
Lalu bagaimana dengan hadits yang mana
Rasulullah SAW mengharamkan kita
menggunakan langgam selain Arab? Terjemahan
haditsnya kurang lebih seperti berikut ini :
Bacalah Al-Quran dengan lagu dan suara orang
Arab. Jauhilah lagu/irama ahlkitab dan orang
orang fasiq. Nanti akan ada orang datang
setelahku membaca Alquran seperti menyanyi dan
melenguh, tidak melampau tenggorokan mereka.
Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang
mengaguminya. (HR. Tarmidzi)
a. Sanad Yang Lemah
Dari sisi sanad sebenarnya kalau ditelurusui
kedudukan hadis ini tersebut tergolong dalam
hadis dha'if (lemah). Karena salah satu sanad
perawinya ada yang terputus sehingga hadits itu
menjadi dhoif. Bahkan ada muhaddits yang
mengatakan bahwa hadits ini termasuk munkar
dan bukan termsuk hadist.
Maka dari sisi derajat hadits ini tidak bisa
dijadikan hujjah alias tidak perlu dipakai.
b. Langgam Arab Yang Mana?
Negeri Arab di masa Rasulullah SAW sangat
sempit dan terbatas, seputar Mekkah, Madinah
dan kisaran jaziarah Arabia saja. Di luar itu tidak
pernah disebut Arab. Habasyah, Mesir, Yaman,
Palestina, Suriah, Iraq, Iran di masa itu masih
bukan Arab. Agama yang dianut penduduknya
bukan agama Islam, mereka dianggap sebagai
bangsa-bangsa kafir non Arab. Bahkan bahasa
mereka pun juga bukan bahasa Arab.
Jadi kalau pun hadits Rasulullah SAW yang dhaif
itu masih mau dipaksa-paksa juga untuk dipakai,
tetap saja tidak tepat. Seandainya hadits itu
dibilang shahih, dan larangan Rasulullah SAW itu
'terpaksa' kita ikuti juga, maka nagham atau
irama cara baca Al-Quran yang kita kenal selama
ini pun harusnya terlarang. Sebab nagham
Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, Sika, dan
Jiharka itu bukan dari Mekkah atau Madinah,
bahkan bukan dari Jaziarah Arab.
Ketujuh jenis nagham itu malah berasal dari Iran.
Dan Iran di masa Rasulullah SAW bukan negeri
Arab. Bahkan sampai hari ini pun tidak pernah
dianggap sebagai negara Arab. Pemerintah Iran
sendiri pun tidak pernah mengaku-ngaku sebagai
negara Arab. Bahasa resmi mereka pun juga
bukan bahasa Arab melainkan bahasa Persia.
Jadi kalau mau melarang langgam Jawa
misalnya, maka tujuh langgam yang sudah kita
kenal sepanjang sejarah Islam itu pun harus
dilarang juga, lantaran bukan langgam Arab
sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah
SAW.
2. Lahjah Tidak Benar
Lahjah yang dianggap tidak benar oleh Syeikh Ali
Basfar itu boleh jadi memang demikian.
Maksudnya si pembacanya dianggap kurang baik
bacaannya. Dan itu biasa, semua yang pernah
ikut daurah Al-Quran dengan beliau pasti pernah
merasakan disalah-salahkan ketika dianggap
lahjah kita kurang pas di telinga beliau.
Namun kita harus membedakan antara lahjah
dengan langgam. Yang beliau kritisi adalah
lahjahnya yang kurang tepat dan itu harus diakui.
Membaca Al-Quran memang harus dengan lahjah
yang benar. SIfat-sifat huruf, makharijul huruf
dan juga hukum-hukum yang berlaku pada ilmu
tajwid memang wajib ditaati dan dijalankan
dengan benar.
Tetapi langgam adalah sesuatu yang lain dan
berbeda. Karena langgam merupakan irama atau
nada, bukan lahjah. Contoh mudahnya, ketika
membunyikan huruf shad, pipi harus kembung.
Huruf ra' kadang harus dibaca tebal kadang
harus tipis. Ini semua adalah lahjah dan bukan
irama.
Sedangkan langgam itu adalah irama dan nada,
sama sekali tidak ada hubungannya dengan titik
artikulasi, pelafalan huruf ataupun hukum-hukum
seperti idzhar, idgham, iqlab dan ikhfa'. Dan kalau
sudah masuk wilayah irama dan nada, tiap
bangsa dan tiap negeri pasti punya ciri khas yang
identik dan tidak bisa dipisahkan.
Kalau kita mendengar orang Cina asli di Tiongkok
sana sedang membaca Al-Quran, pasti kita akan
merasakan ada 'nada-nada' khas Cina. Begitu
juga kalau kita dengar orang Melayu membaca
Al-Quran, kita akan merasakan nuansa khas
nada-nada kemelayuan. Apakah ini dianggap
melanggar ketentuan membaca Al-Quran?
Jawabnya tentu tidak sama sekali.
Tetapi ketika orang Jawa keliru membunyikan
huruf 'ain menjadi 'ngain', atau huruf ha' dibaca
menjadi 'kha' atau huruf ba' yang dibunyikannya
lebih nge-bass karena lahjah Jawanya, disitulah
letak kekeliruan yang harus diluruskan. Adapun
nada bacaan yang terasa nada Jawa selama tidak
menyalahi hukum-hukum bacaan, tentu tidak jadi
masalah.
3. Langgam Jawa = Menghidupkan Ashabiyah?
Adapun masalah membaca Al-Quran dianggap
menghidupkan ashabiyah, jelas sekali bahwa yang
jadi masalah bukan pada langgamnya tetapi pada
niat dan tujuan untuk menghidupkan ashabiyah.
Kalau memang niatnya semata-mata ingin
menghidup-hidupkan ashaiyah, tentu saja
hukumnya haram.
Tetapi bagaimana kita bisa pastikan bahwa yang
membacanya punya niat tersebut? Lantas
bagaimana kalau si pembacanya sama sekali
tidak punya niatan dan maksud untuk
menghidup-hidupkan ashabiyah? Apakah kita
tetap memaksanya harus ashabiyah?
Ketika kita menyanyikan lagu Indonesia Raya,
bukankah itu juga ashabiyah? Ketika kita
mengibarkan sang saka Merah Putih, bukankah
itu ashabiyah? Apakah haram kita
menyanyikannya dan mengibarkan bendera Merah
Putih?
4. Langgam Jawa = Menjelekkan Al-Quran
Apalagi kalau dikatakan bahwa langgam Jawa itu
dianggap menjelekkan Al-Quran. Tentu sifatnya
sangat subjektif sekali. Apa benar qari yang
lahjahnya sempurna, tajwidnya benar dan
suaranya fasih luar biasa, ketika membaca Al-
Quran dengan langgap Jawa lantas niatnya ingin
mengolok-ngolok dan menjelekkan Al-Quran?
Kesimpulan
Apa yang saya tulis di atas semuanya bukan
pendapat saya, tetapi hanya hasil kutipan dan
saduran dari pendapat para pakar ilmu qiraat
semata. Dan kalau ada dua pendapat yang saling
bertentangan, kita harus maklum. Namanya saja
masalah ijtihad, para ahlinya silahkan berbeda
pendapat.
Sementara kita yang bukan ahli ilmu qiraat,
apalagi yang kualitas bacaan Al-Qurannya masih
parah dan bermasalah besar, sebaiknya kita
menahan diri untuk tidak ikut-ikutan berfatwa.
Biarkan saja para pakarnya yang berbeda
pendapat, sebab mereka memang ahlinya. Mereka
berhak dan punya kompetensi untuk itu.
Adapun kita, mari kita duduk manis saja
mendengarkan para pakar berbeda pendapat,
tidak perlu merasa jadi pahlawan kesiangan di
bidang yang sama sekali bukan keahlian kita.
Dari pada bikin komen terlalu jauh ternyata
kurang tepat, lebih baik kita tahu diri. Saya
sendiri agak segan menuliskan masalah ini,
karena tahu persis bahwa para pakarnya saja
sudah berbeda pendapat. Jangan pula bertanya
saya ikut yang mana.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA
gan tritnya d rapiin dong.. sebenernya menarik sih.. cm kurang rapi.. jd ane belom baca.. emoticon-Embarrassment


ane memang robot paling keren.. emoticon-Cool
Quote:Original Posted By namimi
gan tritnya d rapiin dong.. sebenernya menarik sih.. cm kurang rapi.. jd ane belom baca.. emoticon-Embarrassment


ane memang robot paling keren.. emoticon-Cool

he... iya sorry gan emoticon-Ultah
Rapiin dulu gih emoticon-Traveller
Quote:Original Posted By namimi
gan tritnya d rapiin dong.. sebenernya menarik sih.. cm kurang rapi.. jd ane belom baca.. emoticon-Embarrassment


ane memang robot paling keren.. emoticon-Cool


Kok mimi jadi robot emoticon-Mewek
kalu ane lebih ke membumi saja. terlalu berat untuk diresapi.
yg penting kalu mau belajar Al-Quran carilah guru untuk mengajar,jgn belajar otodidak.
ane gak peduli gan.
emoticon-Big Grin
what a good thread emoticon-thumbsup
"let's see how many of you saw this thread is left align & how many of you saw this thread is not having right margin properly"


mejeng aja,, emoticon-Cool
Quote:Original Posted By septiansendi


Kok mimi jadi robot emoticon-Mewek


banyak req yg blg ane jadi robot gan.. emoticon-Cool


ane memang robot paling keren.. emoticon-Cool
iya nih kemaren ane baca2 gi rame banget
Quote:Original Posted By namimi


banyak req yg blg ane jadi robot gan.. emoticon-Cool


ane memang robot paling keren.. emoticon-Cool


Padahal aku percaya mimi bukan robot emoticon-Mewek
Dapat dari ustadz Musyaffa

Boleh, Tapi Jangan Dikerjakan! ::.

Pak Kamsud pagi itu belum sempat sarapan di rumah, maka sebelum kerja, ia mampir dulu di Warteg Pak Karman langganannya. Belum juga sempat duduk, Pak Kamsud langsung ditembak pertanyaan sama pak Karman.

Nah, ini dia Pak Kamsud kebetulan sekali nih" kata pak Karman. "Ada apa emang koq pakai kebetulan segala?" tanya pak Kamsud keheranan. "Gini pak Kamsud, dari kemaren di Warteg ini banyak orang ngobrolin tentang baca Quran dengan langgam Jawa, menurut pak Kamsud sendiri gimana itu?" "Ya, kalo menurut saya pribadi sih itu namanya kurang kerjaan." "Lha koq gitu pak?" tanya pak Karman.

"Sekarang fungsi daripada baca Quran itu sendiri apa coba, saya tanya pak Karman?" "Ya untuk didengar, dipahami, dihayati dan kemudian diamalkan." "Nah betul itu. Sekarang kalo baca Quran tapi malah bikin konflik apa itu gak kurang kerjaan namanya?" "Gak gitu juga lah pak Kamsud, selama baca Quran itu telah memenuhi kaidah Tajwid dan tidak merubah maknanya, mau dibaca dengan nada Jawa atau nada Arab juga terserah aja kan? Lagian banyak juga lho, para Kyai yang mengatakan itu boleh."

"Tanpa sedikit pun mengurangi rasa hormat saya kepada para Ulama, tapi penjelasan mereka itu harus kita pahami secara proporsional pak Karman; karena mereka mungkin mengungkapkan hukum dasarnya saja, bukan siasat fatwanya. Maka bisa jadi sesuatu itu diperbolehkan, tapi tetap jangan dikerjakan karena dapat mendatangkan mafsadat lain yang lebih besar dan belum tentu sepadan dengan prediksi maslahat yang akan didapat."

"Maksud pak Kamsud gimana sih, saya koq makin gak paham?" "Maksud saya gini, pak Karman biasa shalat Jumat pakai baju koko, sarung dan peci. Sekarang coba nanti pak Karman shalat Jumat pakai kaos singlet, celananya setengah betis yang penting nutup aurat, kemudian pakai helm sebagai ganti peci. Itu sah gak menurut pak Karman?
Dengan alasan; bahwa kaos singlet itu lebih adem kalo dipake, dan helm itu jauh lebih menjamin keselamatan kepala kita?"

"Ya nggak sah tho pak Kamsud, masa' shalat pakai helm, kurang kerjaan saja." "Shalatnya tetep sah pak Karman, karena shalat itu yang penting pakaiannya suci dan menutup aurat, ini kaedah dasarnya, hukum awalnya. Tapi memang, shalat dengan memakai helm itu sesuatu yang kurang kerjaan, demikian juga shalat dengan kaos singlet, meskipun ada yang membolehkan, tetap saja itu aneh dan kurang kerjaan.

Jadi, meskipun boleh, tapi jangan dilakukan!" "Koq bisa pak, seuatu yang boleh tapi jangan dikerjakan?" "Jadi begini, pak Karman tahu karung goni kan? Itu lho, yang biasa dibuat balap karung anak-anak pas 17-an? Sekarang kalo umpamanya ada wanita yang memakai karung goni untuk menutup auratnya, mulai dari atas sampai bawah dia pakai karung goni, lalu dia jalan ke pasar, ikut majlis taklim dan nganter anak ke sekolah dengan kostum kaya gitu, boleh gak itu?

Secara hukum dasar itu boleh-boleh saja, karena Islam hanya memerintahkan wanita menutup auratnya dengan batasan yang jelas, adapun mengenai jenis kain yang digunakan, itu kan gak ada keterangan detailnya. Jadi hal semacam ini, meskipun boleh, tapi aneh di sebuah masyarakat, makanya jangan dilakukan karena bisa menimbulkan fitnah." "Tapi kan, nada Jawa itu bukan sesuatu yang aneh bagi masyarakat kita Pak?" "Tidak aneh kalo untuk wayangan, tapi aneh kalo untuk baca Quran.

Seperti memakai sarung itu tidak aneh kalo buat shalat di masjid, tapi coba pakai sarung saat ngantor atau ngajar di sekolahan, anak SD juga tahu kalo itu aneh dan mereka bakal ngetawain kita."

"Jadi intinya boleh tapi jangan dikerjakan? Kalo saya tetap melakukannya gimana pak?" "Ya sudah gini saja pak, sekarang bapak punya Warteg yang banyak pelanggannya, biasanya saat pak Karman melayani pelanggan maka pak Karman akan membersihkan piring dengan sebuah kain lap.

Sekarang coba bapak pergi ke toko dan beli CELANA DALAM yang baru, paling bagus, paling mahal, merk-nya terkenal, steril dan belum pernah dipakai, kemudian pak Karman kalau ada pelanggan datang, nanti pak Karman nge- lap piringnya pakai celana dalam yg baru itu, gimana?"

"Ah, aneh-aneh saja pak Kamsud ini, koq idenya nggilani kaya gitu?!" "Lho, ini bukan nggilani pak, pada faktanya, mohon maaf ini, CELANA DALAM yang baru dari toko itu jauh lebih bersih dari kain lap punya pak Karman yang sudah dipakai berkali-kali, keduanya sama-sama kain, yang membedakan hanya bentuk jahitannya saja.

Jadi secara hukum dasar, sah-sah saja kalau pak Karman menggunakan CELANA DALAM buat nge-lap piring." "Kalo kaya gitu pelanggan saya nanti bakal kabur semuanya lah pak Kamsud."

"Nah, itulah yang ingin saya sampaikan pak Karman. Kita ini hidup di tengah masyarakat Indonesia, kita harus paham mana yang telah menjadi perspektif paten dalam sebuah masyarakat, sehingga hal tersebut perlu kita jaga dan tak perlu kita mengada-ada sebuah inovasi dengan alasan yang kita buat-buat namun ide tersebut justru membuat masyarakat ribut dan berpecah-belah.

Sudah cukuplah kita ini diuji dengan banyak hal, apa tidak cukup kita diuji dengan harga-harga meroket namun mata uang justru menghujam dan menyelam?

Islam Nasionalis itu adalah Islam yang sadar dia tengah hidup di mana dan berhadapan dengan siapa, jangan terlalu anti banget lah dengan yang berbau-bau Arab, masa' nanti kalo kita mati minta dikafanin dengan batik? Dan gak mau dikafanin dengan kain putih? Mungkin itu boleh, tapi sekali lagi, jangan dikerjakan!" "Pertanyaan terakhir pak, tadi pak Kamsud nyinggung tentang Siasat Fatwa, maksudnya apa itu pak?"

"Dalam konteks ini maksud saya adalah; menghindari kontroversi horisontal antara masyarakat yang dapat menjerumuskan ke dalam perpecahan.

Sebisa mungkin kita hindari hal tersebut dengan mengambil pendapat yang dapat menyatukan umat. Dalam Al-Quran, hal ini dicontohkan oleh Nabi Harun, yaitu saat Samiri, seorang gembong munafik bani Israel membuat lembu sesembahan, Nabi Harun tidak lantas seketika menghukumnya, akan tetapi mengakhirkannya hingga adik beliau, yaitu Nabi Musa datang.

Pada dasarnya menyekutukan Allah itu dosa besar, tapi dengan kecerdasan Siasat Fatwa agar bani Israel tidak terpecah-belah, Nabi Harun kala itu lebih mengedepankan persatuan umat daripada permasalahan akidah. Walaupun memang, akhirnya mereka mendapat hukuman juga.

Jadi, tugas pemimpin itu adalah menjaga persatuan rakyatnya, bukan malah bikin mereka ribut dan saling hujat." "Okelah pak Kamsud, makasih buat sharingnya!" "Saya juga terimakasih buat pak Karman, yang bakalan kasih saya makan gratis pagi ini.. hehe." "Haha.. cerdik juga pak Kamsud ini, boleh, boleh.. silahkan makan sepuasnya. Khusus buat hari ini pak Kamsud saya gratisin.." "Naaah.. gitu dong, itu baru bener-bener Muslim Nasionalis, membantu dan merangkul saudaranya yang tengah kelaparan.. haha.."
Tanda tanda kiamat sudah dekat..
Quote:Original Posted By muslih.ganteng
Dapat dari ustadz Musyaffa

Boleh, Tapi Jangan Dikerjakan! ::.

Pak Kamsud pagi itu belum sempat sarapan di rumah, maka sebelum kerja, ia mampir dulu di Warteg Pak Karman langganannya. Belum juga sempat duduk, Pak Kamsud langsung ditembak pertanyaan sama pak Karman.

Nah, ini dia Pak Kamsud kebetulan sekali nih" kata pak Karman. "Ada apa emang koq pakai kebetulan segala?" tanya pak Kamsud keheranan. "Gini pak Kamsud, dari kemaren di Warteg ini banyak orang ngobrolin tentang baca Quran dengan langgam Jawa, menurut pak Kamsud sendiri gimana itu?" "Ya, kalo menurut saya pribadi sih itu namanya kurang kerjaan." "Lha koq gitu pak?" tanya pak Karman.

"Sekarang fungsi daripada baca Quran itu sendiri apa coba, saya tanya pak Karman?" "Ya untuk didengar, dipahami, dihayati dan kemudian diamalkan." "Nah betul itu. Sekarang kalo baca Quran tapi malah bikin konflik apa itu gak kurang kerjaan namanya?" "Gak gitu juga lah pak Kamsud, selama baca Quran itu telah memenuhi kaidah Tajwid dan tidak merubah maknanya, mau dibaca dengan nada Jawa atau nada Arab juga terserah aja kan? Lagian banyak juga lho, para Kyai yang mengatakan itu boleh."

"Tanpa sedikit pun mengurangi rasa hormat saya kepada para Ulama, tapi penjelasan mereka itu harus kita pahami secara proporsional pak Karman; karena mereka mungkin mengungkapkan hukum dasarnya saja, bukan siasat fatwanya. Maka bisa jadi sesuatu itu diperbolehkan, tapi tetap jangan dikerjakan karena dapat mendatangkan mafsadat lain yang lebih besar dan belum tentu sepadan dengan prediksi maslahat yang akan didapat."

"Maksud pak Kamsud gimana sih, saya koq makin gak paham?" "Maksud saya gini, pak Karman biasa shalat Jumat pakai baju koko, sarung dan peci. Sekarang coba nanti pak Karman shalat Jumat pakai kaos singlet, celananya setengah betis yang penting nutup aurat, kemudian pakai helm sebagai ganti peci. Itu sah gak menurut pak Karman?
Dengan alasan; bahwa kaos singlet itu lebih adem kalo dipake, dan helm itu jauh lebih menjamin keselamatan kepala kita?"

"Ya nggak sah tho pak Kamsud, masa' shalat pakai helm, kurang kerjaan saja." "Shalatnya tetep sah pak Karman, karena shalat itu yang penting pakaiannya suci dan menutup aurat, ini kaedah dasarnya, hukum awalnya. Tapi memang, shalat dengan memakai helm itu sesuatu yang kurang kerjaan, demikian juga shalat dengan kaos singlet, meskipun ada yang membolehkan, tetap saja itu aneh dan kurang kerjaan.

Jadi, meskipun boleh, tapi jangan dilakukan!" "Koq bisa pak, seuatu yang boleh tapi jangan dikerjakan?" "Jadi begini, pak Karman tahu karung goni kan? Itu lho, yang biasa dibuat balap karung anak-anak pas 17-an? Sekarang kalo umpamanya ada wanita yang memakai karung goni untuk menutup auratnya, mulai dari atas sampai bawah dia pakai karung goni, lalu dia jalan ke pasar, ikut majlis taklim dan nganter anak ke sekolah dengan kostum kaya gitu, boleh gak itu?

Secara hukum dasar itu boleh-boleh saja, karena Islam hanya memerintahkan wanita menutup auratnya dengan batasan yang jelas, adapun mengenai jenis kain yang digunakan, itu kan gak ada keterangan detailnya. Jadi hal semacam ini, meskipun boleh, tapi aneh di sebuah masyarakat, makanya jangan dilakukan karena bisa menimbulkan fitnah." "Tapi kan, nada Jawa itu bukan sesuatu yang aneh bagi masyarakat kita Pak?" "Tidak aneh kalo untuk wayangan, tapi aneh kalo untuk baca Quran.

Seperti memakai sarung itu tidak aneh kalo buat shalat di masjid, tapi coba pakai sarung saat ngantor atau ngajar di sekolahan, anak SD juga tahu kalo itu aneh dan mereka bakal ngetawain kita."

"Jadi intinya boleh tapi jangan dikerjakan? Kalo saya tetap melakukannya gimana pak?" "Ya sudah gini saja pak, sekarang bapak punya Warteg yang banyak pelanggannya, biasanya saat pak Karman melayani pelanggan maka pak Karman akan membersihkan piring dengan sebuah kain lap.

Sekarang coba bapak pergi ke toko dan beli CELANA DALAM yang baru, paling bagus, paling mahal, merk-nya terkenal, steril dan belum pernah dipakai, kemudian pak Karman kalau ada pelanggan datang, nanti pak Karman nge- lap piringnya pakai celana dalam yg baru itu, gimana?"

"Ah, aneh-aneh saja pak Kamsud ini, koq idenya nggilani kaya gitu?!" "Lho, ini bukan nggilani pak, pada faktanya, mohon maaf ini, CELANA DALAM yang baru dari toko itu jauh lebih bersih dari kain lap punya pak Karman yang sudah dipakai berkali-kali, keduanya sama-sama kain, yang membedakan hanya bentuk jahitannya saja.

Jadi secara hukum dasar, sah-sah saja kalau pak Karman menggunakan CELANA DALAM buat nge-lap piring." "Kalo kaya gitu pelanggan saya nanti bakal kabur semuanya lah pak Kamsud."

"Nah, itulah yang ingin saya sampaikan pak Karman. Kita ini hidup di tengah masyarakat Indonesia, kita harus paham mana yang telah menjadi perspektif paten dalam sebuah masyarakat, sehingga hal tersebut perlu kita jaga dan tak perlu kita mengada-ada sebuah inovasi dengan alasan yang kita buat-buat namun ide tersebut justru membuat masyarakat ribut dan berpecah-belah.

Sudah cukuplah kita ini diuji dengan banyak hal, apa tidak cukup kita diuji dengan harga-harga meroket namun mata uang justru menghujam dan menyelam?

Islam Nasionalis itu adalah Islam yang sadar dia tengah hidup di mana dan berhadapan dengan siapa, jangan terlalu anti banget lah dengan yang berbau-bau Arab, masa' nanti kalo kita mati minta dikafanin dengan batik? Dan gak mau dikafanin dengan kain putih? Mungkin itu boleh, tapi sekali lagi, jangan dikerjakan!" "Pertanyaan terakhir pak, tadi pak Kamsud nyinggung tentang Siasat Fatwa, maksudnya apa itu pak?"

"Dalam konteks ini maksud saya adalah; menghindari kontroversi horisontal antara masyarakat yang dapat menjerumuskan ke dalam perpecahan.

Sebisa mungkin kita hindari hal tersebut dengan mengambil pendapat yang dapat menyatukan umat. Dalam Al-Quran, hal ini dicontohkan oleh Nabi Harun, yaitu saat Samiri, seorang gembong munafik bani Israel membuat lembu sesembahan, Nabi Harun tidak lantas seketika menghukumnya, akan tetapi mengakhirkannya hingga adik beliau, yaitu Nabi Musa datang.

Pada dasarnya menyekutukan Allah itu dosa besar, tapi dengan kecerdasan Siasat Fatwa agar bani Israel tidak terpecah-belah, Nabi Harun kala itu lebih mengedepankan persatuan umat daripada permasalahan akidah. Walaupun memang, akhirnya mereka mendapat hukuman juga.

Jadi, tugas pemimpin itu adalah menjaga persatuan rakyatnya, bukan malah bikin mereka ribut dan saling hujat." "Okelah pak Kamsud, makasih buat sharingnya!" "Saya juga terimakasih buat pak Karman, yang bakalan kasih saya makan gratis pagi ini.. hehe." "Haha.. cerdik juga pak Kamsud ini, boleh, boleh.. silahkan makan sepuasnya. Khusus buat hari ini pak Kamsud saya gratisin.." "Naaah.. gitu dong, itu baru bener-bener Muslim Nasionalis, membantu dan merangkul saudaranya yang tengah kelaparan.. haha.."


bener gan...
nice gan..
Nabrak trotoar juga gak dilarang gan, cuma orang yang gak punya akal aja yang nabrakin diri ke trotoar
Modelnya mirip thread satpam yg nanya kl lg jaga boleg g jumatan?
ternyata masalahnya tajwid sama bunyi hurufnya yang menyesuaikan langgamnya yang dianggap ga bener ya gan.

seharusnya tajwid dan lahfaznya nomer satu, baru langgamnya mengikuti.

it's ok, biar banyak orang peduli sama bacaan alQur'an, bahakan orang yg jarang baca sekarang jadi ahlinya
emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By muslih.ganteng
Dapat dari ustadz Musyaffa

Boleh, Tapi Jangan Dikerjakan! ::.

Pak Kamsud pagi itu belum sempat sarapan di rumah, maka sebelum kerja, ia mampir dulu di Warteg Pak Karman langganannya. Belum juga sempat duduk, Pak Kamsud langsung ditembak pertanyaan sama pak Karman.

Nah, ini dia Pak Kamsud kebetulan sekali nih" kata pak Karman. "Ada apa emang koq pakai kebetulan segala?" tanya pak Kamsud keheranan. "Gini pak Kamsud, dari kemaren di Warteg ini banyak orang ngobrolin tentang baca Quran dengan langgam Jawa, menurut pak Kamsud sendiri gimana itu?" "Ya, kalo menurut saya pribadi sih itu namanya kurang kerjaan." "Lha koq gitu pak?" tanya pak Karman.

"Sekarang fungsi daripada baca Quran itu sendiri apa coba, saya tanya pak Karman?" "Ya untuk didengar, dipahami, dihayati dan kemudian diamalkan." "Nah betul itu. Sekarang kalo baca Quran tapi malah bikin konflik apa itu gak kurang kerjaan namanya?" "Gak gitu juga lah pak Kamsud, selama baca Quran itu telah memenuhi kaidah Tajwid dan tidak merubah maknanya, mau dibaca dengan nada Jawa atau nada Arab juga terserah aja kan? Lagian banyak juga lho, para Kyai yang mengatakan itu boleh."

"Tanpa sedikit pun mengurangi rasa hormat saya kepada para Ulama, tapi penjelasan mereka itu harus kita pahami secara proporsional pak Karman; karena mereka mungkin mengungkapkan hukum dasarnya saja, bukan siasat fatwanya. Maka bisa jadi sesuatu itu diperbolehkan, tapi tetap jangan dikerjakan karena dapat mendatangkan mafsadat lain yang lebih besar dan belum tentu sepadan dengan prediksi maslahat yang akan didapat."

"Maksud pak Kamsud gimana sih, saya koq makin gak paham?" "Maksud saya gini, pak Karman biasa shalat Jumat pakai baju koko, sarung dan peci. Sekarang coba nanti pak Karman shalat Jumat pakai kaos singlet, celananya setengah betis yang penting nutup aurat, kemudian pakai helm sebagai ganti peci. Itu sah gak menurut pak Karman?
Dengan alasan; bahwa kaos singlet itu lebih adem kalo dipake, dan helm itu jauh lebih menjamin keselamatan kepala kita?"

"Ya nggak sah tho pak Kamsud, masa' shalat pakai helm, kurang kerjaan saja." "Shalatnya tetep sah pak Karman, karena shalat itu yang penting pakaiannya suci dan menutup aurat, ini kaedah dasarnya, hukum awalnya. Tapi memang, shalat dengan memakai helm itu sesuatu yang kurang kerjaan, demikian juga shalat dengan kaos singlet, meskipun ada yang membolehkan, tetap saja itu aneh dan kurang kerjaan.

Jadi, meskipun boleh, tapi jangan dilakukan!" "Koq bisa pak, seuatu yang boleh tapi jangan dikerjakan?" "Jadi begini, pak Karman tahu karung goni kan? Itu lho, yang biasa dibuat balap karung anak-anak pas 17-an? Sekarang kalo umpamanya ada wanita yang memakai karung goni untuk menutup auratnya, mulai dari atas sampai bawah dia pakai karung goni, lalu dia jalan ke pasar, ikut majlis taklim dan nganter anak ke sekolah dengan kostum kaya gitu, boleh gak itu?

Secara hukum dasar itu boleh-boleh saja, karena Islam hanya memerintahkan wanita menutup auratnya dengan batasan yang jelas, adapun mengenai jenis kain yang digunakan, itu kan gak ada keterangan detailnya. Jadi hal semacam ini, meskipun boleh, tapi aneh di sebuah masyarakat, makanya jangan dilakukan karena bisa menimbulkan fitnah." "Tapi kan, nada Jawa itu bukan sesuatu yang aneh bagi masyarakat kita Pak?" "Tidak aneh kalo untuk wayangan, tapi aneh kalo untuk baca Quran.

Seperti memakai sarung itu tidak aneh kalo buat shalat di masjid, tapi coba pakai sarung saat ngantor atau ngajar di sekolahan, anak SD juga tahu kalo itu aneh dan mereka bakal ngetawain kita."

"Jadi intinya boleh tapi jangan dikerjakan? Kalo saya tetap melakukannya gimana pak?" "Ya sudah gini saja pak, sekarang bapak punya Warteg yang banyak pelanggannya, biasanya saat pak Karman melayani pelanggan maka pak Karman akan membersihkan piring dengan sebuah kain lap.

Sekarang coba bapak pergi ke toko dan beli CELANA DALAM yang baru, paling bagus, paling mahal, merk-nya terkenal, steril dan belum pernah dipakai, kemudian pak Karman kalau ada pelanggan datang, nanti pak Karman nge- lap piringnya pakai celana dalam yg baru itu, gimana?"

"Ah, aneh-aneh saja pak Kamsud ini, koq idenya nggilani kaya gitu?!" "Lho, ini bukan nggilani pak, pada faktanya, mohon maaf ini, CELANA DALAM yang baru dari toko itu jauh lebih bersih dari kain lap punya pak Karman yang sudah dipakai berkali-kali, keduanya sama-sama kain, yang membedakan hanya bentuk jahitannya saja.

Jadi secara hukum dasar, sah-sah saja kalau pak Karman menggunakan CELANA DALAM buat nge-lap piring." "Kalo kaya gitu pelanggan saya nanti bakal kabur semuanya lah pak Kamsud."

"Nah, itulah yang ingin saya sampaikan pak Karman. Kita ini hidup di tengah masyarakat Indonesia, kita harus paham mana yang telah menjadi perspektif paten dalam sebuah masyarakat, sehingga hal tersebut perlu kita jaga dan tak perlu kita mengada-ada sebuah inovasi dengan alasan yang kita buat-buat namun ide tersebut justru membuat masyarakat ribut dan berpecah-belah.

Sudah cukuplah kita ini diuji dengan banyak hal, apa tidak cukup kita diuji dengan harga-harga meroket namun mata uang justru menghujam dan menyelam?

Islam Nasionalis itu adalah Islam yang sadar dia tengah hidup di mana dan berhadapan dengan siapa, jangan terlalu anti banget lah dengan yang berbau-bau Arab, masa' nanti kalo kita mati minta dikafanin dengan batik? Dan gak mau dikafanin dengan kain putih? Mungkin itu boleh, tapi sekali lagi, jangan dikerjakan!" "Pertanyaan terakhir pak, tadi pak Kamsud nyinggung tentang Siasat Fatwa, maksudnya apa itu pak?"

"Dalam konteks ini maksud saya adalah; menghindari kontroversi horisontal antara masyarakat yang dapat menjerumuskan ke dalam perpecahan.

Sebisa mungkin kita hindari hal tersebut dengan mengambil pendapat yang dapat menyatukan umat. Dalam Al-Quran, hal ini dicontohkan oleh Nabi Harun, yaitu saat Samiri, seorang gembong munafik bani Israel membuat lembu sesembahan, Nabi Harun tidak lantas seketika menghukumnya, akan tetapi mengakhirkannya hingga adik beliau, yaitu Nabi Musa datang.

Pada dasarnya menyekutukan Allah itu dosa besar, tapi dengan kecerdasan Siasat Fatwa agar bani Israel tidak terpecah-belah, Nabi Harun kala itu lebih mengedepankan persatuan umat daripada permasalahan akidah. Walaupun memang, akhirnya mereka mendapat hukuman juga.

Jadi, tugas pemimpin itu adalah menjaga persatuan rakyatnya, bukan malah bikin mereka ribut dan saling hujat." "Okelah pak Kamsud, makasih buat sharingnya!" "Saya juga terimakasih buat pak Karman, yang bakalan kasih saya makan gratis pagi ini.. hehe." "Haha.. cerdik juga pak Kamsud ini, boleh, boleh.. silahkan makan sepuasnya. Khusus buat hari ini pak Kamsud saya gratisin.." "Naaah.. gitu dong, itu baru bener-bener Muslim Nasionalis, membantu dan merangkul saudaranya yang tengah kelaparan.. haha.."


setuju gan, boleh aja tapi jgn dikerjakan, karena mudharatnya lebih banyak... emoticon-Blue Guy Peace