alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5559b4150e8b46bf328b456f/penegasan-kembali-quotmuslim-wajib-bacaquot
PENEGASAN KEMBALI "MUSLIM WAJIB BACA"
Seorang mukmin, saat menemukan
kebenaran yang sebelumnya belum
pernah ia ketahui, seperti seorang yang
menemukan sebuah barang berharga
yang hilang, yang ia cari sepanjang
siang dan malam. Bagaimana gerangan
perasaannya, manakala berhasil
menemukan barang tersebut? Tentu
senang dan bahagia. Demikian
perumpamaan seorang mukmin,
manakala ia menemukan kebenaran,
yang sebelumnya belum ia ketahui.
Sebelumnya ia tidak sadar kalau
ternyata selama ini berada pada jalan
yang keliru. Lalu ia menemukan
kebenaran yang menyadarkannya dari
kekeliruan tersebut. Tentu ia akan
merasa bahagia dan berlapang dada
untuk menerima kebenaran tersebut.
Sebagai seorang mukmin yang telah
berikrar bahwa Nabi Muhammad
shallallahu ‘ alaihi wasallam adalah
utusan Allah, tentu ia akan lebih selektif
dalam dalam hal amalan ibadah. Bila
ada tuntunannya dari Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam , maka akan
lakukan sebagai bentuk ittiba‘ (mengikuti
sunah) kepada Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam, bila tidak maka ia akan
tinggalkan karena Allah. Karena diantara
konsekuensi dari syahadat Muhammadur
Rasulullah, adalah ittaba’, atau
mencontoh beliau dalam beribadah
kepada Allah. Allah ta’ala berfirman,
ﻗُﻞْ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒﻮﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻓَﺎﺗﺒِﻌُﻮﻧِﻲ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ
ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮﺑَﻜُﻢْ ۗ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ
“Katakanlah wahai Muhammad: “Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imron :
37).
Imam Syafi’i mengatakan,
ﺃَﺟْﻤَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻋَﻠﻰَ ﺃَﻥ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﺒَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺳُﻨﺔٌ
ﻋَﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ e ﻟَﻢْ ﻳَﺤِﻞ ﻟَﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﺪَﻋَﻬَﺎ ﻟِﻘَﻮْﻝِ
ﺃَﺣَﺪٍ
“Kaum muslimin sepakat bahwa siapa
saja yang telah jelas baginya sebuah
sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam , maka tak halal baginya
untuk meninggalkan sunnah itu karena
mengikuti pendapat siapa pun.” ( I’laamul
Muwaqqi’iin , 2: 282).
Pembaca yang dirahmati Allah, terkait
perayaan Isra Mi’raj, ada nasehat indah
dari salah seorang ulama di kota
Madinah An-Nabawiyyah; Syaikh
Sulaiman ar Ruhaili hafizhahullah .
Dimana dalam salah satu majelis di
masjid Nabawi beliau ditanya terkait
masalah ini. Mari simak pemaparan
beliau berikut.
Pertanyaan:
Apakah benar peristiwa Isra dan Mi’raj
itu terjadi bulan rajab? Lalu bolehkah
kita merayakan peristiwa tersebut? Dan
menjadikan hari terjadinya sebagai ‘id
(perayaan yang dirayakan secara
periodik) setiap tahunnya? Dimana pada
hari perayaan tersebut, kita saling
memberi ucapan selamat dan saling
bertukar hadiah?
Jawab:
Tidak ada riwayat yang menerangkan
bahwa peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi di
bulan Rojab. Benar kita tidak meragukan,
bahwa peristiwa Isra dan Mi’raj benar-
benar terjadi. Bahkan ini bagian dari
perkara agama yang qot’i, tidak boleh
seorang muslim meragukannya. Namun
kapan peristiwa ini terjadi? Bulan
apakah?
Para ulama telah menjelaskan, bahwa
tidak ada keterangan riwayat yang
menerangkan bulan terjadinya peristiwa
Isra Mi’raj. Tidak pula zamannya. Yakni
tidak diketahui peristiwa tersebut terjadi
pada bulan apa. Tidak pula di sepulah
hari dari suatu pulan apapun. Oleh
karenanya, para ulama berselisih
pendapat dalam masalah penentuan
bulan terjadinya Isra dan Mi’raj. Karena
disebabkan tidak adanya riwayat shahih
yang bisa dijadikan pegangan dalam hal
ini.
Maka berangkat dari alasan di atas,
tidak boleh kita menjadikan hari ke 27
dari bulan Rojab, sebagai hari Isra dan
mi’raj. Dan menetapkan bahwa pada hari
itulah terjadi peristiwa Isra Mi’raj. Hari
dimana saling memberi ucapan selamat,
demi memeriahkan perayaan tersebut.
Terkadang pula saling bertukar hadiah.
Pertama, karena memang tidak ada
riwayat yang menerangkan bahwa 27
Rojab adalah hari Isra dan Mi’raj.
Kedua, karena Nabi shallallahu’alaihi
wasallam ; dimana beliaulah yang diberi
Allah nikmat untuk mengalami peristiwa
agung ini, dan beliau adalah hambaNya
yang paling banyak bersyukur, yang
mendirikan shalat sampai pecah-
pecahlah telapak kaki beliau; semoga
shalawat serta salam senantiasa
tercurahkan untuk beliau, beliau
bersabda:
ﺃَﻓَﻠَﺎ ﺃَﻛُﻮْﻥُ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺷَﻜُﻮْﺭًﺍ
“Tidakkah aku menginginkan untuk
menjadi hambaNya yang bersyukur?!”
Semoga shalawat dan salam
tercurahkan untuk beliau, namun beliau
tidak pernah merayakan malam Isra dan
mi’raj tersebut. Beliau juga tidak
mengkhususkan malam tersebut dengan
shalat tertentu atau mengkhususkan
siangnya dengan puasa tertentu.
Sementara dalam perkara ini (juga
seluruh seluk beluk kehidupan) umat ini
dituntut untuk meneladani Nabi
shallallahu’alaihi wasallam .
Demikian pula tidak ada keterangan dari
para sahabat -semoga Allah meridhoi
mereka-, bahwa mereka merayakan
peristiwa Isra dan mi’raj. Tidak pula dari
generasi tabi’in, tidak pula dari Imam
mazhab yang empat; yang dijadikan
rujukan -semoga Allah meridhoi para
ulama pendahulu kita, seluruhnya-. Tidak
ada keterangan dari mereka semua,
bahwa mereka merayakan peristiwa ini.
Bahkan meski satu patah katapun
tentang perayaan ini.
Selanjutnya, wahai hamba Allah, saat
Anda mengetahui, bahwa ternyata tidak
ada riwayat tentang hari terjadinya
peristiwa ini, tidak pula berkaitan dengan
perayaannya pada malam maupun siang
harinya, ini menunjukkan bahwa para
salafus shalih tidak terlalu perhatian
dengan waktu terjadinya peristiwa ini. Ini
juga menjadi bukti, bahwa mereka tidak
pernah merayakan peristiwa Isra dan
Mi’raj (yang diklaim terjadi) pada 27
Rojab ini. Karena andai mereka
merayakannya, tentu akan ada riwayat
yang menjelaskan mengenai waktu
kejadian Isra mi’raj. Dan tentu akan ada
penjelasan dari mereka perihal perayaan
ini.
Kemudian, sesungguhnya kaidah syariat
yang kita sepakati bersama, bahwa
agama ini dibangun di atas
ittiba‘ (mencontoh Nabi shallallahu’alaihi
wasallam ). Dan bahwa ibadah itu
dibangun di atas dalil ( tawqif ). Oleh
karenanya, tidak selayaknya bagi
seorang muslim, untuk melakukan suatu
ibadah, kecuali bila ia memiliki cahaya
petunjuk dan bimbingan dari Nabi
shallallahu’alaihi wasallam , yang
menerangkan kepada mereka tata cara
ibadahnya.
Haknya Nabi Muhammad
shallallahu’alaihi wasallam atas kita,
adalah kita tidak menyembah Allah
kecuali dengan petunjuk yang datang
dari beliau shallallahu’alaihi wasallam .
Dan setiap amalan ibadah yang
dikerjakan, yang tidak ada perintahnya
dari Nabi yang mulia ini shallallahu alaihi
wa sallam , maka ibadah tersebut tidak
diterima di sisi Allâh. Nabi
shallallahu’alaihi wasallam telah
mengajarkan kepada kita dan
membimbing kita melalui sabdanya
ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻰ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru
dalam urusan kami ini (urusan agama)
yang tidak ada asalnya, maka perkara
tersebut tertolak .”
Dan beliau senantiasa mengulang-ulang
nasehatnya dalam setiap khutbah beliau;
ﺇِﻥ ﺃَﺻَﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ، ﻭَﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟْﻬَﺪْﻱِ
ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤﺪٍ ﺻَﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠﻢَ ، ﻭَﺷَﺮ
ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ، ﻭَﻛُﻞ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ، ﻭَﻛُﻞ
ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼﻟَﺔٌ ، ﻭَﻛُﻞ ﺿَﻼﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭِ
“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan
adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara
adalah (perkara agama) yang diada-
adakan, setiap (perkara agama) yang
diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap
bid’ah adalah kesesatan dan setiap
kesesatan tempatnya di neraka .”
Maka alangkah indahnya bila umat ini
menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah
yang ada tuntutannya. Karena sungguh
andai mereka menyibukkan hari-hari
mereka dengan ibadah yang ada
sunahnya dari Nabi
shallallahu’alaihiwasallam, maka
sungguh dalam hal tersebut ada
pengaruh yang besar di hati kaum
mukminin; dalam hal kasih sayang
diantara mereka, saling mencintai,
persatuan, kemuliaan mereka,
pertolongan untuk mereka atas musuh-
musuh mereka, dan akan tampaklah
wibawa umat di hadapan musuh-musuh
mereka.
Namun amat disayangkan, banyak dari
hamba-hamba Allah, lebih condong
kepada amalan-amalan ibadah yang
baru, lalu meninggalkan banyak dari
amalan yang ada tuntunannya. Dan
kekurangan ini kembali pada kekurangan
ulama, dan penuntut ilmu, di negeri-
negeri mereka, dalam menjelaskan
sunah kepada masyarakat, mengajarkan
kebaikan kepada mereka, dan mengajak
mereka untuk komitmen terhadap
sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam .
Wasiatku untuk seluruh kaum muslimin,
untuk bersama bertakwa kepada Allah
‘azza wa jalla, mengikuti tuntunan Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wasallam ,
melakukan amalan ibadah yang
disyariatkan oleh Allah ta’ala, dan kita
mendekatkan kepada Allah ‘azza wa jalla
dengan ibadah-ibadah yang dituntukan
tersebut.”
Demikian yang beliau sampaikan.
Rekaman dari tausiyah beliau, bisa anda
simak di sini , di menit ke 06.30 sampai
selesai.
Semoga Allah senantiasa membimbing
kita untuk istiqomah di atas sunah
NabiNya.
***
Direkam dan diterjemahkan oleh Ahmad
Anshori (yang senantiasa butuh akan
taufik dan ampunan Nya)
Madinah, 21 Rojab 1436 / 9 Mei 2015
Artikel Muslim.or.id
PENEGASAN KEMBALI "MUSLIM WAJIB BACA"


Flash Gadget Store
Jln. Moses Gatotkaca no 57-58 Yk
0274-549764
www.flashgadgetstore.com
Thanks gan
ane sependapat sama antum .
mungkin thread antum bisa sedikit membantu temen" kaskus yg belum membuka hatinya buat mempelajari Islam yg sebenar"nya .