alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55598381529a45f1388b4567/just-a-lil-story-about-mukena
just a 'lil story about mukena
just a 'lil story about mukena


Ini cuma sebuah catatan kecil tentang perlengakapan ibadah yang biasa digunakan oleh Muslimah, yakni MUKENA. Kalo dulu model dan motif mukena cuma itu2 aja, namun sekarang banyak sekali variasi dari mukena itu sendiri, mulai dari model, bahan, sampai motif. Sekarang ini mukena sudah masuk dalam kategori fashion, ini menunjukkan mukena sudah 'naik kelas'.
Saya cuma mau share tentang mukena batik, salah satu variasi mukena yang banyak diincar sama aganwati terlebih menjelang puasa/lebaran. Di kota Solo sendiri yg notabene sebagai salah satu kota batik di Indonesia juga banyak yg memproduksi mukena batik. Seperti halnya baju batik, mukena batik sendiri dibedakan dari bahan dan jenis batiknya.
Bahan yg digunakan dalam produksi mukena batik di Solo kebanyakan atau bisa dikatakan semuanya menggunakan bahan santung yg memang cocok utk mukena karena bahannya adem alias tidak panas. Santung sendiri ada tingkatan kualitasnya, mulai dr santung yg super tipis, sampai santung dg kualitas grade A+ yg tebal namun tetap dingin.
Sedangkan jenis batik yg digunakan dalam produksi mukena batik ada batik printing, batik cap, dan batik tulis (-jarang sekali mukena yg diproduksi dg batik tulis, mengingat harganya yg tinggi-).
Nah yg kebanyakan beredar di pasaran tuh mukena batik printing, karena harganya yg murah dan terjangkau. Dan hanya sedikit sekali produsen mukena di kota Solo menggunakan batik cap, karena proses batiknya yg lumayan lama dan semuanya dilakukan dg tangan a.k.a handmade, dan harganya sendiri tentu jauh lebih mahal dr mukena dr bahan batik printing.




Quote:Quote:
Quote:TIPS MEMBEDAKAN BATIK PRINTING & BATIK CAP
Quote:1. Cium bau kainnya, kalo kainnya bau minyak tanah brarti itu adalah batik printing, sedangkan batik cap kainnya bau 'malam' atau lilin utk membatik.
Quote:2. Coba dibolak-balik kainnya, biasanya sih batik printing tuh batiknya cuma di luar kain saja, dan beda dg batik cap, batiknya bolak-balik mungkin agan/wati bingung utk bedain mana kain yg bagian dalam dan luar.



Gitu aja AGAN/WATI/KASKUSERS catatan kecil saya tentang mukena batik, moga2 nambah pengetahuan. O iya, aganwati mohon di klik link di bawah ini ya.....


Quote:Quote:just a 'lil story about mukena
Quote:just a 'lil story about mukena
Quote:just a 'lil story about mukena
Quote:just a 'lil story about mukena



Quote:
Quote:terima kasih AGAN/WATI/KASKUSERS
Quote:semoga yg baca thread ini tambah keren & kaya
Quote:just a 'lil story about mukena
Terkadang kita kesulitan merawat mukena mulai dari mencuci sampai menyimpannya. Mungkin kalo kita mikirnya praktis ya kasih aja cucian sama pembantu di rumah, atau masukin aja ke jasa laundry. Beres dan tidak ribet. Tapi alangkah baiknya kita sendiri tahu seluk beluk bagaimana cara merawat mukena entah itu mukena batik maupun mukena lukis.


Quote: just a 'lil story about mukena
TIPS MERAWAT MUKENA BATIK/LUKIS

Quote:1. Gunakan shampoo saat mencuci. Berbeda dengan mukena dengan model lain, mukena batik/lukis ini tidak diperbolehkan dicuci dengan detergen. Cucilah mukena dengan menggunakan shampoo.
Quote:2. Sebaiknya mencuci mukena batik/lukis dengan menggunakan air hangat agar menjaga serat dan motif dan warna di mukena tetap halus dan terjaga.
Quote:3. Tak diperbolehkan mencuci mukena dengan menggunakan mesin cuci.
Quote:4. Cuci mukena batik/ lukis terpisah dari pakaian lain.
Quote:5. Perawatan mukena batik/lukis harus mendapat perlakuan khusus, mencucinya tidak boleh dikucek maupun disikat. Cukup merendam mukena dengan shampoo.
Quote:6. Ketika aganwati ingin mengeringkan mukena setelah selesai dicuci hindari menjemur mukena langsung di bawah sinar matahari. Hal ini agar warna mukena tidak cepat pudar dan selalu terlihat seperti baru.
Quote:7. Hindari menyeterika dengan panas yg tinggi karena akan merusak motif/warna pada mukena batik/lukis. Selain itu usahakan menyeterika bagian dalam mukena (biasanya menyeterika bagian luar), hal ini dilakukan untuk menjaga motif/warna pada mukena batik/lukis tetap awet, dan tidak pudar.
Spoiler for :

Spoiler for :

just a 'lil story about mukena
Sumber
Jarang sekali produsen mukena yang memproduksi mukena terusan, karena customer yang membeli produk ini terlihat jarang, sehingga model/varian dari mukena terusan ini terbilang sedikit yang beredar di pasaran. Selain itu, 'loyal customer' untuk produk jenis ini kebanyakan adalah orang tua (usia di atas 50 tahun), jadi model, warna serta bahan yg digunakan tidak beragam seperti mukena biasa (atas-bawah). Ya karena selera orang tua tidak neko-neko dan ingin praktis (tidak ribet) memakai mukena. Bagi agan/wati/kaskuser yang ingin membelikan mukena terusan untuk ibu/nenek tercinta, berikut tips-nya.


Quote:just a 'lil story about mukena
TIPS MEMILIH MUKENA TERUSAN
Quote:1. Bahan. Ini menjadi faktor penting dan menjadi urutan pertama sebagai pertimbangan membeli mukena terusan. Orang tua sbg 'loyal customer' produk ini menginginkan mukena dg bahan adem. Biasanya mukena terusan dibuat dg bahan katun atau santung, karena kedua bahan ini sudah terkenal adem dan menyerap keringat, sehingga ibadah sholatnya nyaman.
Quote:2. Ukuran. Harap diperhatikan untuk yang satu ini, karena kebanyakan orang tua memiliki tubuh yg tidak langsing lagi (~maaf~) jadi ukuran lebar mukena terusan harus diperhatikan. Untuk ukuran standar mukena terusan panjangnya 175cm dan lingkar badannya 190cm. Jangan beli mukena terusan yg bahannya bagus tapi ukurannya kecil.
Quote:3. Warna & motif. Kalopun ada pilihan mukena terusan warna, pilihlah warna yang gelap seperti biru dongker, hijau tua, dan abu. Biasanya orang tua suka warna-warna tersebut. Dan kalopun ada hiasan/motif pilihlah yang sederhana, dan jangan memilih yang berlebihan karena orang tua tidak menyukai hal tersebut
Spoiler for :




Demikian agan/wati/kaskuser tips yang saya sharing ini. Moga-moga bermanfaat dan dapat jadi masukan. Thanks banget ya udah baca.


just a 'lil story about mukena



Pada awal sebelum agama Islam masuk ke tanah jawa, wanita pada masa itu cuma memakai kain panjang (jarik) dan kemben. Cara memakainya cuma dililitkan di tubuh. Jarik digunakan sebagai bawahan dan kemben digunakan sebagai atasan dan untuk menutup bagian dada (~maaf~).
Perubahan besar muncul setelah agama/syariah Islam dikenalkan dan dibawa masuk ke tanah jawa oleh para wali songo. Islam mengajarkan tentang sholat, dan wanita yg sudah masuk Islam dan akan melaksanakan ibadah sholat harus menutup seluruh auratnya kecuali muka dan kedua telapak tangan. Dari sinilah muncul gagasan yg merupakan 'kompromi' antara wali songo dengan masyarakat jawa pada waktu itu (khususnya perempuan jawa) tentang pakaian yg sah untuk sholat. Kenapa hal ini dilakukan karena perempuan jawa pada waktu itu menginginkan pakaian yg biasa dipakai sehari-hari tetap bisa dikenakan (yakni jarik dan kemben), tapi pada waktu sholat mereka (perempuan jawa yg sudah masuk Islam) ingin sesuai dengan syariah Islam seperti yg diajarkan oleh wali songo.
Sekarang penggunaan mukena populer di kawasan Asia Tengara (etnis melayu), termasuk di Indonesia. Muslim Malaysia sendiri menyebut mukena dengan 'telekung'.






Spoiler for :

just a 'lil story about mukena
Banyak sekali varian produk mukena yang dijual di pasaran, dan masyarakat (yg beragama Islam) sepertinya terbelah dalam menyikapi hal tersebut, terutama dalam menyikapi mukena warna-warni yang banyak dipakai aganwati/muslimah dalm sholat.
Mengenai warna mukena, tidak ada ketentuan harus warna tertentu. Mau putih, mau hitam, atau warna lain, tidak masalah. Perempuan-perempuan di Arab Saudi berpakaian serba hitam, dan pakaian hitam itu pula yang mereka gunakan ketika mereka melakukan sholat. Sementara perempuan-perempuan Turki lebih memilih mukena atau pakaian shalat mereka berwarna krem. Semua itu boleh-boleh saja.
Memang ada anjuran untuk memakai pakaian dengan warna putih seperti dalam hadits Nabi.

Quote:Yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Pakailah pakaian putih, karena pakaian putih adalah sebaik-baik pakaian kamu. Dan kafanilah jenazah kamu dengan kain putih." (HR. Abu Dawud)
Tapi itu juga tidak berarti bahwa pemakaian warna selain putih tidak boleh, karena Rasululloh SAW tidak selalu berpakaian serba putih.
just a 'lil story about mukena
Kesimpulannya pemakaian mukena warna dalam sholat itu tidak dilarang kok, karena dalam hadits tidak dijelaskan secara spesifik harus menggunakan warna putih dalam sholat. Dan ini tidak berlaku bagi perempuan aja, kaum laki-laki boleh juga kok memakai pakaian selain warna putih dalam sholat. Asal harus menutup aurat dan bersih (tidak terkena najis).

just a 'lil story about mukena
just a 'lil story about mukena
MUKENA UNTUK IBU
(karangan Siti Nur, 3/9/2012)


“selamat beraktifitas dan tetap semangat” aku mengakhiri siaranku di salah satu stasiun radio swasta di kota Bogor.
Ku tancapkan sisa-sisa semangatku sore itu, sutera jingga di langit barat terpintal angin yang berbisik-bisik, membawaku memenuhi seruan yang menggema dari masjid agung kota Bogor.

“Alhamdulillah, Yaa Allah, sapaan hangat-Mu menentramkan hatiku yang tengah kacau, aku tak ingin lagi bintang kecilku meredup lantaran menunda-nunda sholat” gumamku dalam hati.

Menjadi penyiar bukanlah mimpiku, bukan pula perkara yang mudah, harus pandai menjaga lisan yang sia-sia juga dituntut menampilkan ‘mood’ terbaik meski hatiku tak selalu demikian. Tapi apa boleh buat aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, ijazah SMA tidaklah cukup untuk modal mendapat pekerjaan yang lebih baik, kurasa pekerjaan ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku sendiri meski awal ramadhan lalu ibu pulang dan mengirimku uang tapi aku tak ingin terus tergantung padanya, aku ingin mandiri, sekuat tenaga mencari rizki yang halal selain dunianya dapat akhiratnya pun dapat, sebagai ibadah tambahan di bulan ramadhan apalagi besok sudah memasuki bulan syawal.
Hari ini aku tak langsung pulang, aku ingin membelikan sesuatu untuk ibu, yah sebuah mukena untuk sholat idul fitri besok, ibu berjanji akan pulang hari ini lewat SMS yang kudapat siang tadi, meski tak seberapa aku ingin ibu turut menikmati hasil kerja kerasku, walau aku tau sebesar apapun cinta yang kuberikan tak akan dapat melunasi perjuangan dan pengorbanan ibu. Ahh… setidaknya aku lega telah memberikan cinta tulus ini pada wanita itu, kasihan ibu sejak ayah meninggal 4 tahun lalu, ibulah yang berjuang untuk hidup bersamaku.

Jalan berumput yang kering mengantarku pulang, cericit kutilang berkolaborasi dengan napas alam yang menerbangkan debu-debu, sutera jingga semakin pekat, ku percepat langkahku agar segera sampai di rumah, rumah sederhana berpolet cokelat tua dan muda dengan gerbang tak lebih dari satu meter, peninggalan ayah buah dari suka duka menjadi PNS rendahan. Ayah berwajah keras tapi hatinya tak kurang lembut seperti wanita, penyayang dan peduli, beliaulah yang pertama mengajarku membaca A Ba Ta, beliau yang mengajarkanku berani, membiarkanku bangun sendiri saat pertama kaki kecilku tak mampu menekan pedal sepeda, barangkali tujuannya agar saat dewasa aku mampu bangkit dari berbagai masalah.

Lelah tubuh ini luntur bersama sisa air wudhu yang meluncur dari wajah ini, matahari tenggelam bersama gema Adzan yang merobek langit, Ahh… ramadhan akankah tahun depan kita berjumpa lagi, aku begitu merindukan suasana ramadhan bersama ibu, sudah 2 tahun ibu bekerja di luar kota hanya untuk aku.

“mutia belum tidur? udah malem lho” tegur ibu tanpa menoleh, saat suatu malam aku membanting pintu kamarku
“ga bisa tidur” jawabku singkat “ibu sedang apa sih?” tanyaku
“kain-kain perca ini akan ibu jahit menjadi tas tangan, kalau dijual lumayan buat menambah-nambah penghasilan!”
“boleh muti bantu, bu?” tawarku ibu menjawab dengan senyuman.
Masa-masa itu kembali mampir di memoriku, aku bahagia bisa bersama ibu, terkadang hati ini merasa sepi juga melihat teman-temanku bercanda, bercengkrama, ingin rasanya aku hadir di antara mereka, tapi bagaimana aku akan bersenang-senang sementara ibu bersusah payang agar aku tetap bisa pergi kesekolah, dalam hati ini timbul penyesalan dan rasa bersalah yang tak mampu kuungkapkan. Dan saat ini, ketika aku mulai bisa berdiri sendiri, ibu tetap ingin berkorban untuk aku, aku ingin ibu di rumah saja biar sekarang aku yang mencari rizki tapi ibu menolak.

“mutia, apa kamu ga ingin ibu bahagia?” selidiknya
Aku tertunduk ada air mata tertahan di kelopak mataku “tentu tidak bu, bahagia ibu adalah bahagiaku juga” jawabku
“kalau begitu, izinkan ibu menerima tawaran kerja itu ya, membahagiakanmu adalah suatu kepuasan bagi ibu” katanya
“tapi muti ga ingin melihat ibu susah”
“percayalah nak, ibu sudah berpengalaman menjadi sales” ibu mengusap air mataku dan mendekapku.

Jalan hidup tak selalu senada dengan harapan, derai air kilaukan warna pelangi terkadang merah tak membias merah. Sepeninggal ibu, hari-hari aku hanya sendiri di rumah karena memang aku tak punya kakak ataupun adik, semua pekerjaan rumah kuselesaikan tanpa hambatan, sepulang mengajar anak-anak di TPA dekat rumahku, dahulu sebelum aku menjadi penyiar radio. Setiap satu bulan ibu pulang mengirimku uang. Aku bahagia melihatnya tersenyum tampak tak ada beban. Alhamdulillah….

Tapi rupanya kebahagiaan itu tak bertahan lama, suatu pagi ketika sedang mengajar anak-anak, tiba-tiba ibu pemilik TPA itu menyuruhku pulang dan ia berkata aku tak perlu mengajar lagi, aku tak mengerti kenapa? ibu-ibu di luar memintaku untuk segera meninggalkan tempat itu, teriakan-teriakan itu membuat telingaku sakit, kenapa mereka tega menabur berita bohong bahwa ibu bekerja sebagai wanita penghibur, pel*cur.

Astagfirullah… dari mana asalnya isu itu, aku tau betul ibu bekerja sebagai sales di perusahaan pengimpor kosmetik, serat-serat kapas sudah terlanjur tertiup angin, aku tak bisa mengumpulkannya kembali, aku dijauhi teman-temanku termasuk sahabatku Puri.

“Puri, percayakah kau padaku?” tanyaku siang itu, namun Puri hanya diam.
“maukah membantuku?” tanyaku lagi.
“maaf, mutia kali ini aku tidak bisa, aku capek” gerutunya
“lho, kenapa capek” tanyaku heran
“perlu kamu tau mutia, namaku ikut tercemar karena kelakuan ibumu, dari SMP kita bersama bahkan kau sudah seperti saudaraku, tapi apa balasanmu? maaf mutia, mulai sekarang kumohon jauhi aku!”
“tidak apa-apa Puri, terima kasih sudah menemaniku selama ini dan maaf aku telah mengusik ketenangan hidupmu!”
Dengan berat hati aku merasa kehilangan dan tak ada lagi yang mempercayaiku.

Aku tak mampu menahan hantaman fitnah itu. Yaa Allah, semoga Kau bahagiakan ibu di sana dan Kau damaikan hatinya.
Sebulan setelah berita itu meluas, ibu pulang menentramkanku, mengusap air mataku, rupanya ibu mengetahui yang terjadi. Pelukan hangatnya mengobati hatiku yang luka oleh Puri, petuah bijaknya bagai mata air, tapi kalimat terakhir itu…

“Muti, sudahlah jangan dengerkan mereka, kita hidup susahpun mereka tak akan membantu, hanya kamu satu-satunya harta ibu yang paling berharga, jadilah kamu anak yang baik agar bisa mendoakan ibu supaya Allah mengampuni ibu yang kotor ini”
“maksud, ibu?” tanyaku heran.
“nak, tak ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan selain itu!” tegas ibu
deg.. jantungku seperti berhenti seketika mendengar ucapan ibu. “jadi berita itu tidak bohong?” tanyaku pelan dengan tangis tertahan.
“maafkan ibu muti, ibu hanya ingin membahagiakanmu dan ibu pulang hari ini bermaksud menjemputmu pindah dari sini, ibu sudah sediakan rumah untuk kamu dan ibu jamin keselamatan kesucianmu disana!” terangnya
“tidak bu, aku tidak akan ikut bersama ibu!” tangisku meledak.
“ya sudah sayang, ibu tak ingin membuatmu semakin terluka, baik-baik disini besok pagi ibu pergi lagi”

Takbir yang memenuhi seluruh alam, membuyarkan lamunanku yang baru saja melayang ke masa lalu, mengingat kembali ujian yang bertubi-tubi mulai dari menjauhnya Puri sampai kejujuran ibu yang seketika merobohkan ketegaranku, aku tak mengerti mengapa ibu sampai hati melakukan itu, kalau saja ayah masih bersama kami semua ini tak mungkin terjadi, aku kehilangan panutan, aku memang ingin ibu bahagia tapi tidak begini caranya ibu menemukan kebahagiaan tapi di jalan yang dimurkai Allah. Tak terasa air mata sudah meluap sedari tadi. Ooh ibu… tidakkah kau takut Allah marah, tidakkah kau bersyukur dengan rizqi yang Allah berikan aku tak pernah menuntut apapun darimu ibu, janganlah berbuat seperti itu, Allah tidak suka…

Derit rem mobil melengking, kubuka sedikit tirai kamarku, diseberang sana sosok wanita cantik dan seorang lelaki asing berjalan menuju rumahku, wajah itu aku begitu mengenalnya, ibu.
“Mutia..?” panggil ibu
“Ibu..” gumamku bahagia, aku mencium punggung tangannya dan ibu membalasnya dengan pelukan hangat.
“mari masuk, bu!” ajakku
“apa kabarmu, sayang?”tanya ibu.
“Alhamdulillah, baik bu. Ibu sehat ?” aku balik bertanya
“berkat doamu, nak. Putri ibu yang paling cantik dan baik”
“syukurlah!” ujarku dingin
“Mutia, ibu belikan sesuatu buat kamu!” ibu membongkar tas yang dibawanya dan mengeluarkan kotak kaca kecil berwarna biru muda, seberkas cahaya putih membias ke dinding tertimpa nyala lampu.
“kalung mutiara putih ini ibu belikan spesial buat kamu, Muti!” terangnya
Aku tersenyum tipis “Muti juga punya sesuatu buat ibu!”
“apa itu, sayang?” tanya ibu bahagia

Aku beranjak ke kamarku, mengambil mukena yang kubeli sore tadi, kuharap ibu mau menerimanya.
“Ibu, mukena ini untuk ibu, muti ingin sekali melihat ibu sholat lagi seperti dulu, muti ingin ibu menghentikan pekerjaan ini, takutlah pada Allah bu, besok idul fitri mari kita ikhtiar memperoleh pengampunan-Nya!” aku memelas
“tapi mutia sayang, dengan begini ibu merasa bahagia, lagi pula ibu terlalu kotor untuk mengerjakan sholat!”
“Astagfirullah…ibu.. mutia lebih rela ibu menikah lagi dengan lelaki baik-baik!”
“tapi ibu masih mencintai ayahmu!”
“Masya Allah, ibu keterlaluan!” bentak ku tangisku pun meledak
“maafkan ibu nak, ibu hanya ingin meluluskan cita-citamu, kamu ingin menjadi fisikawan yang hebat, bukan? Marilah ikut ibu, tahun ini kamu harus kuliah!” ibu memelas
Bagai terguyur magma batinku hancur seketika “Demi Allah bu, aku tidak akan ikut ibu sampai ibu kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah!” bentakku “menjauhlah dariku kau bukan ibuku” lisanku semakin tak terkendali.

“Mutia, apa yang kamu katakan? durhaka kamu” sumpah serapah ibu tak kuhiraukan, ibu telah pergi bersama lelaki asing itu entah kemana.
Aku terpaku, tersungkur di balik dinding ruang tamu, aku tertunduk “Ampuni aku, Yaa Allah, aku telah menyakiti hati ibu, Yaa Allah, jagalah ibu di manapun berada, dalam tidur dan jaganya, keselamatan jiwa dan raganya, kesehatan jasmani dan ruhaninya serta kembalikan ia ke jalan yang terang, Ampuni ibu Ya Allah, Ampuni ibu”

“Mutia…!” suara lembut menyapaku “bangun yuk!” katanya lagi
Aku menengadah, seorang wanita berkerudung merah maroon memberikan tangannya membantuku bangkit.
“Puri..?!” sapaku heran. Puri tersenyum manis
“mutia jangan nangis yaa.. kan ada aku, aku yakin kamu anak baik, Allah akan mengabulkan doa anak yang sholeh!” katanya
“Puri..” panggilku pelan
“sudahlah, malam semakin dingin, kamu nginap di rumahku yuk” Puri memohon
“terima kasih sahabat..” aku menerima tawarannya, kami berjalan membelah malam yang pekat, sepekat hatiku mengenang ibu, aku berharap suatu saat ibu kembali membuka hatinya yang tertutup sehingga cahaya kebenaran tak mampu menembusnya.



just a 'lil story about mukena