alexa-tracking

[Fantasy] Promise

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5557420aa2c06efd5e8b456d/fantasy-promise
[Fantasy] Promise
Selamat malam agan-agan. Hamba mohon izin untuk mencorat-coret di SFTH ini.
Maafken jikalau tulisan hamba jelek, maklum, imajinasi hamba masih lah dangkal. Mohon kritik pedasnya biar hamba bisa berevolusi menjadi lebih baik.

Tulisan ini jauh dari unsur SARA, semuanya murni fiktif tanpa ada maksud menjatuhkan pihak manapun.

Selamat menikmati.

Pendahuluan

Jakarta, 20 GY

Quote:


Hancur. Ya, itu lah kata yang bisa ku ungkapkan melihat kondisi kota tempat ku tinggal sekarang. Aku melihat gedung-gedung terbengkalai dari atap rumah ku. Tidak terlihat sedikitpun keindahan dari kota Jakarta saat ini. Semenjak revolusi dunia, yang dipimpin oleh segilintir orang yang mengaku dirinya sebagai God’s child , dunia pun berubah. Banyak Negara porak poranda akibat dari revolusi itu, Negara adikuasa jatuh, Negara berkembang hancur, bahkan Negara miskin pun ikut luluh lantah akibat keegoisan orang-orang tersebut. Hasil dari revolusi itu membentuk sebuah koloni baru yang berisikan orang-orang yang dianggap penting bagi dunia. Bagi ku mereka hanya sekedar sampah dunia yang tidak pantas menyandang status sebagai manusia.

Quote:


Sampah? Mungkin kalian heran kenapa aku menyebut mereka sampah. Koloni tersebut memisahkan diri dan membangun sebuah tempat tinggal baru yang bernama God’s realm . Kalian pasti berfikir bahwa mereka menguasai suatu Negara dan merubahnya menjadi God’s realm kan, kalian keliru. God’s realm itu sebuah pesawat besar, sangatlah besar, mampu menampung jutaan orang yang kusebut sampah tersebut. Pesawat itu berada di antara daratan bumi dan atmosfer bumi. Mereka membawa hampir semua hal-hal penting ke pesawat itu, meninggalkan kekacauan di seluruh penjuru bumi ini. Hasilnya dalam hitungan tahun, semua Negara di seluruh dunia jatuh. Mereka yang dianggap berguna, akan diselamatkan oleh koloni dan berhak tinggal di sana. Mayoritas sih para pemimpin dunia, bos-bos mafia, konglomerat dan ilmuwan-ilmuwan. Sisanya, ya tetap di bawah sini, bertindak semakin anarkis demi berjuang untuk hidup.

Quote:


Namun mereka masih bermurah hati kok, bagi siapapun yang mau membayar pajak perlindungan kepada mereka, pasti akan diberikan perlindungan di bumi bawah. Mereka akan tinggal di sebuah koloni kecil yang dibangun hampir di tiap-tiap pulau di bumi ini. Koloni itu disebut Mid-zone, mereka dilindungi oleh para prajurit khusus. Salah satu Mid-zone mereka itu adalah Jakarta. Persisnya di segitiga emas Jakarta. Tembok baja setinggi 100 meter dibangun untuk melindungi kawasan Mid-zone itu. Yah, bagi mereka-mereka yang punya duit berlebih dan ingin hidup aman, pasti akan memilih tinggal disitu. Sayangnya aku tidak masuk dalam kategori itu.

‘Sore yang indah.’ batin ku.
Situasi yang mulai sedikit kondusif membuat ku tenang. Selama ini aku harus waspada tingkat kronis setiap sore menjelang malam. Karena banyak penjarah yang mulai beraktifitas. Aku menikmati pemandangan di depan ku sampai tiba-tiba semua menjadi gelap. Kurasakan sepasang tangan yang lembut menutup mata ku. Refleks aku memegang tangan tersebut dan seketika aku tau siapa dia. Wangi nya yang khas membuat hati ku semakin tentram.

“Gadis.” Panggil ku.
“Ihh.. Kok tau sih. Nyebelin deh.” Wanita yang kupanggil Gadis itu melepaskan tangannya dari wajahku.
Aku langsung berbalik menghadap Gadis dan melihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang nya sedang menggembungkan pipinya karena sedang kesal sepertinya.

“Kok kamu tau sih kalo itu aku.” Celetuk gadis.

“Ya tau dungs, yang pake wewangian itu kan cuma kamu. Lagian yang tau aku disini juga kan cuma kamu. Gimana sih kamyu.” Aku berkata sambil mencubit pipi Gadis. Gemesin banget sih kamu Gadis.

“Sakit tauk.” Balas gadis sambil melepaskan diri dari ku.
“Okeh, fine. Malem ini ga ada jatah buat kamu. TITIK.” Sambil melenggang pergi.

“Eh, eh, ga ada jatah? Cilaka dua belas. Bisa-bisa fuyunghai ini nanti malem.”
“Dis, dis, Gadis, tunggu.” Teriakku sambil menyusul gadis.

~~~


Sejenak aku berhenti mengejar gadis. “Oh iya, para pembaca. Nama ku Dickey. Tolong kalo manggil jangan di singkat. Karena bisa terjadi salah penafsiran. Okeh, bye dlu ye. Bunda ratu lagi marah nih, bisa ribet urusannya ntar. Ciaoo.” Dan aku pun kembali mengejar gadis.
fantasy ya ?
keren nih kayaknya.. emoticon-Big Grin

keep apdet dick eh dickey.. emoticon-Ngakak
BAB I

Disebuah rumah disekitaran tebet, dekat dengan perbatasan Mid-zone. Suasana mencekam terlihat dari sebuah rumah mungil berpagar hitam.

No, sekali No ya No.” terdengar suara merdu dari seorang wanita, namun dari nada wanita tersebut dapat dirasakan aura membunuh yang kuat.

Tak jauh dari wanita tersebut, terlihat seorang pria yang berdiri mematung. Dari wajahnya yang pucat pasi terpancar rasa takut yang teramat sangat.

“ Ga..Gadis, jangan gitu please. Masa aku ga dapet jatah sih. Ntar aku jadi ga konsen loh kalo lagi jaga.” Pria tersebut memelas kepada wanita tadi.

“ Bodo.” Jawab wanita itu singkat.

“ Kok gitu, ntar kalo aku gag konsen, nanti penjarahnya menang banyak loh.” Jawab pria itu berusaha bernegoisasi.

“ Oh, ngancem nih ceritanya. Okeh fine, 1 minggu ga akan ada jatah buat kamu. Dan sekarang, KELUAR.” Balas gadis mengancam.

’ what the ffuu..’
Seketika aku beranjak dari posisi ku agar tidak memancing kemarahan Gadis lagi. Aku bergegas menuju kamar dan langsung mengambil senjataku yang tergeletak di Kasur. Aku pun langsung menuju teras rumah. Aku jadi teringat kata-kata dari abang nya gadis dulu, “ Dibalik pria yang kuat, pasti ada wanita yang lebih kuat lagi. “. Dan terbukti sekarang, Gadis memang menakutkan kalo lagi marah.

Pasti kalian menganggap aku sombong kan, merasa menjadi pria kuat. Tapi memang begitu kenyataannya, aku memang kuat. Kalo aku tidak kuat, bagaimana aku bisa bertahan hidup di bumi anarkis ini. Ditambah, aku juga harus menjaga Gadis sesuai janjiku kepada abangnya yang sudah tiada. See, I am strong. and ladies, stop complaining.

Aku duduk di teras rumah, meratapi nasib sial ku hari ini. Lagian salahku dimana coba, aku kan langsung tau kalo tadi itu si Gadis. Apa aku harus sok romantis gitu, hoekk. Perutku pun mual atas sugesti itu.
“Tidak, aku laki-laki sejati dengan harga diri yang tinggi. Masa aku harus sok-sok romantis gitu sama wanita. Ini tidak bisa dibiarkan, aku akan menuntut hak ku sebagai lelaki sejati.” Aku pun berbicara sendiri dengan nada lantang di teras rumah. Tekad ku bulat, ini masalah gengsi.

Dan…

“DICKEYYY… DIEM. JANGAN RIBUT.” Terdengar teriakan dari dalam rumah.

Seketika nyaliku menciut, seperti jatuh dari atas gedung lantai seratus. “ Siap, bunda ratu.” Balas ku lesu.

Yah, daripada urusan jadi panjang, aku pun mulai berjaga-jaga. Aku pun mengitari rumah, untuk memastikan semua jebakan-jebakan yang telah kupersiapkan guna mencegah serangan penjarah. Setelah ku rasa cukup, aku kembali ke teras rumah dan duduk bersila persis di depan pintu masuk.

Allright brother, kita mulai lagi yah sesi jaga malam hari ini.” Aku berkata kepada pedang katana yang terbuat dari kayu di sebelahku. Katana itu peninggalan dari abang nya Gadis. Dengan katana itu pula aku mampu menjaga gadis dari serangan buaya darat. Serangan buaya darat ini emang tidak bisa dipungkiri, semakin menurunnya populasi wanita-wanita cantik nan bahenol membuat banyak lelaki hidung belang bertransformasi menjadi lebih beringas. Maka dari itu, bisa kalian bayangkan, siang gebukin buaya darat, malam gebukin penjarah. I am amazingly strong.

Mungkin kalian mengira aku manusia super bukan. Tidak, aku bukan manusia super. Aku hanya manusia biasa yang memiliki kekuatan berlebihan (bedanya apa ? #penulisbertanya). Ya, sebenarnya sih aku tiap malam itu ga jaga bener-bener juga. Nyambil tidur lah, iya keles aku ga tidur. Insting ku yang tajam lah kunci dari semua itu. Karena hidup di dunia yang keras ini, insting ku jadi tajam. Semua jebakan yang kusiapkan itu untuk membuat suara gaduh, dengan begitu aku tau kalo ada yang masuk ke areal rumah kami ini.

Gelap malam pun mulai turun perlahan, kututup mata ku dan mulai memfokuskan pada pendengaran. Perlahan ku turunkan fungsi-fungsi indra ku yang lain dan kutingkatkan lagi pendengaranku. Ku dengar suara angin berhembus, jangkrik berderik, lolongan anjing liar. Jelas, semuanya terdengar jelas. Satu jam berlalu tanpa ada apapun yang terjadi. Dua jam berlalu. Tumben malem ini suasananya kondusif. Jangan-jangan mereka jera lagi datang ke rumah ini. Tapi bagus lah, kalo gitu kan aku bisa nyantai. Untuk membuatku lebih yakin, kutingkatkan lagi indera pendengaranku sampai ke level maksimum, mencari-cari apakah ada yang terlewatkan oleh ku. Kriyukk… Perutku mengeluarkan suara.

Konsentrasikupun buyar dan refleks tanganku memegang perutku yang mengeluarkan suara-suara merdu. ‘arghh.. laparrr…Gadis, sungguh tega dikau’ batinku berkecamuk.

Terpaan lapar ini mulai membuatku semakin galau kronis. Bagaimana tidak, aku harus tetap konsen berjaga namun perut ini perlahan mulai melakukan aksi mogok kerja. Imbasnya, aku hanya duduk sambil memegang perut mungilku yang berteriak-teriak menggemakan suara “Kriyuk”.

Gelap malam pun semakin pekat, udara semakin dingin, dan perutku semakin brutal. Hingga akhirnya aku mencium aroma kari. Gawat, aku sudah sampai di tahap delusi. Sampai-sampai bayangan ku akan makanan terasa nyata. Kupejamkan mataku untuk mencoba mengusir delusi ini. Namun aroma kari itu semakin menggoda. Oh tuhan, aku belum siap untuk menjumpai mu. Aku belum menunaikan janjiku kepada abangnya Gadis. Aku berdoa, berdoa dan berdoa terus. Dan aroma kari itu juga semakin nyata, kini tepat di depan hidung ku aroma kari itu tercium, hangatnya kuah kari pun terasa di kulit mukaku.

Kucoba membuka mataku, dan benar saja. Semangkuk kari ada di depan wajahku. Delusiku semakin berbahaya, sampai pada tahap aku bisa melihat kari di depan wajahku. Sepertinya aku sudah berada di surga. Maafkan aku Gadis, aku meninggalkan mu lebih dulu.

“Nih makan.” Sebuah suara merdu membuatku tersentak.

Kulihat Gadis berdiri di sebelahku sambil memegang semangkuk kari di depan wajahku. Loh, ini bukan delusi ya. Aku masih bingung, apa jangan-jangan ini delusi tingkat maksimum, sampai-sampai aku membayangkan Gadis ada di sebelahku. Aku pun mencubit pipi mungil Gadis, dan…

“Dickey, sakitt…” teriak gadis sambil memegang pipi nya yang baru saja aku cubit.

Wah ternyata ini kenyataan. Oh tuhan terima kasih engkau telah mendengar doa ku. Aku pun tersenyum dan segera mengambil mangkuk kari tersebut. Naas, Gadis malah lebih cepat menjauhkan mangkuk itu sebelum aku berhasil mengambilnya.

“Ga jadi, aku udah niat ngasih jatah makan baik-baik malah dikasarin.” Dan Gadis pun berputar hendak meninggalkanku.

“Gadis, hiks hiks, aku minta maaf yah. Kirain tadi aku berdelusi karena kelaparan.” Aku pun memelas kepada Gadis.

“Please dis, maafin yah. Aku kelaparan banget nih. Mau mati rasanya.” Aku pun semakin memelas.

Gadis pun tersenyum renyah, “ya udah, nih makan. Aku tau kok kalo kamu kelaperan.” Gadis berkata seraya menyerahkan mangkuk kari tadi.

Yeahhh, aku makan. Aku makan. Aku makan. Hanya itu yang ada di otakku saat ini. Segera kulahap kari tersebut. Huahhhh, rasanya nikmat. Gadis engkau emang malaikat ku. Sudah cantik, perhatian, pinter masak lagi. Bahagianya aku.

Aku makan dengan lahapnya, seperti orang yang udah ga makan satu minggu gitu kesannya. Kutangkap dari sudut mataku, gadis duduk memperthatikan ku makan sambil tersenyum. Uwahhhh, senyumnya itu loh, begitu ikhlas begitu menenangkan hati. Gadis, aku janji, tiada seorang pun ku izinkan merebut senyuman itu dari wajahmu.

“enak?” Tanya gadis lagi.

Aku hanya menunjukkan muka ku yang penuh dengan air mata kebahagiaan akan kenikmatan yang kurasakan saat ini.

“Hihihi… cowok kok nangis.” Sindir gadis lagi.

“Ini bukan nangis Gadis. Ini air mata kebahagiaan karena bisa menikmati makanan yang lezat ini dan ditemani oleh bidadari malam yang cantik nan jelita.” Puji ku.

Kuulihat pipi gadis merona merah, “ya udah, aku masuk yah. Jaga yang bener.” Gadis pun berdiri lalu, ‘Cup..’ sebuah ciuman hinggap di kepalaku. Dan gadis langsung berlari kecil ke dalam rumah. Aku terbodoh, 1 detik, 2 detik, 3 detik, ‘whatttt the heck was that…..’ batin ku bergemuruh. Perasaan ku bergelora. Dan semangat ku menjaga meningkat drastis. Ku pegang bekas ciuman Gadis tadi, dan aku tersenyum layak nya orang goblok. “besok gak keramas ah…”

~~~


“Hoaaemmmm..” aku menguap.

Tadi malam merupakan malam pertama aku jaga tanpa tidur. Boosting ciuman dari Gadis itu benar-benar manjur. Mataku terjaga penuh seakan habis minum kopi yang diseduh dengan kratingdeng, itu loh minuman berenergi itu. (Penulis : emang enak yah kalo kopi diseduh pake kratingdeng?).

Aku masuk ke dalam rumah, kulihat Gadis mulai beraktifitas. Wajahnya yang cantik terlihat sangat bahagia hari ini, biasanya juga gitu kok. Tapi hari ini kesannya beda aja gitu. Aku pun beringsut menuju kamar ku, “ahh, tidur sejenak enak nih.” Batinku.

‘Prang..’

Baru saja aku memejamkan mata, aku tersentak, ku dengar suara kaca pecah, disusul suara gaduh diluar. Dengan sigap aku segera berlari keluar dari kamar menuju sumber suara itu. Aku kaget dengan apa yang kulihat di depan ku. Gadis disekap oleh seseorang yang tidak ku kenal. Kulihat wajah Gadis yang ketakutan.

“Woy, lepaskan dia. Kalau tidak..” Teriakku lantang sambil mengambil posisi siaga dengan katana ku. Lelaki itu pun melihat ku.

“Kalau tidak?” lelaki itu bertanya dengan suara berat.

“Sepertinya ada sang pahlawan kesiangan disini.” Terdengar suara berat lainnya memasuki ruangan tempat kami berdiri.

“HAHAHAHA…” beberapa orang lagi masuk sambil tertawa.

1, 2, 3, 4,… 8 orang. Gawat, 8 orang bersenjata. Gimana ngadepinnya nih. Namun aku mencoba menenangkan pikiranku.

“Bereskan dia” ucap lelaki yang menyekap Gadis sambil menyeret Gadis keluar.

“ Dickeyy… nggak, aku nggak mau.” Teriak gadis histeris karena ketakutan sampai samar suara Gadis kudengar.

damn, gak ada waktu lagi. Segera kuserang orang yang terdekat denganku dengan tarian pedang aliran Melayu. Kombinasi antara tarian dan ilmu pedang, cukup efektif untuk menghadapi musuh bergerombol seperti ini. 1, 2, 3, 4 orang berhasil kujatuhkan. Tersisa 3 orang pikirku.

“Boleh juga bocah ini. Sayang kekuatannya gak ada rasanya.” Satu dari empat orang yang kujatuhkan itu bangkit kembali.

‘Bukk..’ sebuah pukulan telak mengenai rusuk kiri ku. Urgh sial, serangan dari titik mati ya. Belum sempat aku memposisikan diri, ‘Bukk..’ satu lagi pukulan tepat di rusuk kanan ku. Damn, serangan titik mati ini sangat fatal. Aku pun mencoba mengambil jarak dari mereka untuk mengatur strategi, namun sayang mereka langsung menyerbu ke arahku. Aku yang tidak siap refleks memfokuskan diri pada pertahanan. Seluruh tubuhku jadi bulan-bulanan mereka. Pertahananku sudah hampir mencapai batasnya. Dan tiba-tiba kurasakan perih, sangat perih, dari belakang tubuhku, dilanjut dengan rasa dingin yang masuk kedalam tubuhku dan perih kembali terasa di bagian depan tubuhku.

Kulihat sebuah pedang besi menembus tubuhku. Shock, itulah yang kurasakan. Hilang semua konsentrasiku, aku pun berlutut kehabisan tenaga. Dan mereka semakin brutal menghajar diri ku yang sudah tak bertenaga ini. Pukulan dan tendangan semua masuk ke tubuhku. Aku tertidur tak berdaya.

“Makanya, jangan sok jadi pahlawan kau bocah. Kau tidak tau siapa kami!” hardiknya sambil menendang perutku.

“Well, sebelum kau mati. Kuberitahu kau siapa kami ini, hitung-hitung sebagai hadiah. Kami ini GSG, Gerombolan Serigala Garang. Ingat itu bocah ‘cuihh’.” Dia berkata sambil meludah kepadaku.

“Okey, sekarang kalian ambil barang-barang berharga dari rumah ini. Terus kita pergi. Biarkan bocah itu mati perlahan.” Ucap suara berat itu.

Pandanganku semakin kabur. Damn, aku gagal menjaga Gadis. Maafkan aku bang, aku gagal menunaikan janjimu. Perlahan rasa dingin mulai mengerubungi tubuhku. Gelap.
bab 1nya lumayan panjang nih.. sip itu
kyk familiar alur yg beginian emoticon-Big Grin

baru pertama kali ane baca thread fantasy emoticon-Big Grin. ijin ngekos disini gan
Awalnya mirip mirip elysium nih ato emang terinspirasi ya,keren dah.
Keep update bang
gaya penulisan kocak, ada beberapa kalimat yg alhasil gw malah ketawa ngakak haha, cuma untuk setting deskripsi keadaan awalnya blom ngeh maksudnya dia ada di alam yg kayak gimana dn gmn? emoticon-Bingung (S)
Cerita fantasy??

INSTANT SUBSCRIBES!

Ane baca dulu aaahhh, sejauh ini exciting nih universenyaa emoticon-shakehand

semoga selesai sampe akhir yaaa
Quote:


jadi sebenernya bumi itu di ceritain jadi tiga lokasi, god's realm, mid-zone, dan low-zone. nah gw lupa jabarin kalo starting point mereka itu ada di low-zone. maaf gan. emoticon-Blue Guy Peace

Quote:


akhir pasti sampe kok, alur nya uda jelas. soal nya ini cuma openning dari cerita yang sebenarnya. loh kok. emoticon-Malu (S)
yang di forum sebelah sama yah........
Quote:

wah, ada suhu jowood. hehehe. sama suhu, ini nubi buat untuk versi semua umur nya suhu.
Bab II

PoV Prince

Low-zone, Jakarta, 20 GY

“Hujan deras ya.” Aku melihat keluar jendela kamarku. “Untung lagi gak da kerjaan.”

“Sayang, sini dong. Kok dari tadi ngelamun mulu sih di jendela.” Panggil suara ringan di belakangku.

Aku pun berbalik, ku lihat debby sedang mengenakan pakaianku. Kebesaran sih, tapi debby jadi keliatan sexy. Aku pun beranjak menghampirinya dan langsung memeluknya.

“Uhhh, suka banget sih peluk-peluk aku.” ujar debby.

“Oh, jadi ga suka dipeluk nih ceritanya.” balas ku sambil mengendurkan pelukanku.

"Hihihi, suka loh. Ih gitu aja ngambek." seloroh debby.

Aku yang gemas dengan tingkah debby ini langsung memeluknya lagi dan mencium ubun-ubun kepalanya.

“Makasih sayang.” bisiknya.

"Sama-sama bidadari ku." Kulihat pipinya merona merah akibat perkataanku barusan.

“Uda ah, ntar kamu malah jadi mesumin aku kalo lama-lama pelukan gini.” debby pun mengingatkanku.

Aku hanya cengengesan sambil melepaskan pelukanku pada debby. Lalu kutarik tangannya dan kami pun menuju ruang tengah, tempat ku biasa bermanja-manjaan sama debby. Pembaca please jangan iri yah, dimanja ama cewek cantik dan mungil di saat dunia lagi krisis itu rasa nya, Maknyusss.... Huahahaha.

Kami duduk di sofa sambil bersenda gurau, cowok mana coba yang hati nya gag tentram kalo lagi ama debby yang ceriwis, imut-imut plus perhatian. Ingat pembaca, tolong jangan iri (#Penulisyangiri). Sesekali tanganku yang jahil gelitikin debby yang emang ga tahan geli. Dan balasan yang kuterima, cubitan maut khas debby bersemayam di sekujur tubuhku, Merah dan berbekas. Akhirnya ku kibarkan bendera putih tanda menyerah atas jurus seribu cubitannya debby. Aku pun rebahan berbantalkan pahanya debby, debby pun membelai-belai rambut ku dengan penuh kasih sayang. Gaes, udah hujan, dingin, rebahan di paha cewek, di belai-belai lagi rambutnya. Sungguh indah nya dunia ini. (Penulis : woi woi, ga usa pamer. ntar gw ga lanjutin lagi ni cerita.)

dan...

‘TING TONG’ bel rumahku berbunyi.

Damn, siapa lagi ganggu lagi asyik gini.” Batin ku.

Segera aku berdiri dari sofa. Lagi enak-enaknya di belai-belai ama debby malah keganggu. Dasar tamu kampret. Dengan hati yang dongkol akupun berjalan ke pintu depan.

“Siapa ya?” ucap ku kesal sambil membuka pintu. Namun aku terkejut melihat sosok yang berdiri di depan ku. Seorang laki-laki, basah kuyub ditambah luka lebam disekujur tubuhnya.

“DICKEY..” teriakku spontan.

Laki-laki itu terhuyung ke arah ku hendak jatuh, dengan sigap aku menahan tubuhnya. Kupegang tubuhnya dan kupapah ke dalam rumah ku. Segera kududukkan dickey di sofa terdekat. Belum habis kaget ku kulihat dari bajunya ada noda darah. Segera kubuka bajunya dan kudapati ada luka terbuka seperti bekas luka tusuk di perutnya.

“DEBBY… SIAPIN MOBIL SEKARANG.” Teriakku dari bawah.

Bertahanlah kawan. Jangan mati dulu.

~~~


PoV Dickey

“Gelap, dimana ini? Dimana Gadis? Dimana rumah ku?”

Aku mencoba melihat kesana kemari, namun nihil. Aku tidak bisa melihat apa pun. Disini sangat gelap, kelam dan mencekam. Aku dimana, seharusnya aku masih di rumah, tergeletak tak berdaya setelah mendapat luka tusuk. Ya aku ingat. Berarti sekarang aku sudah mati ya, berarti ini alam dimana para ruh berkumpul ya. Aku bingung.

“HAHAHA..” kudengar suara tawa seseorang tepat di belakangku. Seketika bulu kudukku meremang.

“Siapa itu?” panggil ku cepat sambil berbalik ke arah suara tersebut. Namun hanya kegelapan yang bisa kulihat.

“HAHAHA..” tawa itu terdengar lagi kali ini dari sisi kanan ku. “HAHAHA..” dari sisi kiri ku. “HAHAHA..” dan kali ini suara tawa itu terdengar dari segala sisi tempat ku berdiri.

“SIAPA ITU?” kali ini aku panik.

“Sungguh lemah, tidak pantas kau menjaganya, lebih baik kau membusuk di neraka.” Kali ini terdengar suara tepat di depan ku. Aku melihat dengan jelas siapa itu, dia itu aku. Kenapa dia begitu mirip dengan ku.

“SIAPA KAU?” bentakku sambil mencekik leher nya. Namun sosok tersebut hanya tertawa dan mengulang kalimat yang diucapkannya tadi. Emosi ku tak tertahan lagi, segera kuhajar sosok tersebut. Sosok tersebut menguap layak nya asap. Tiba-tiba muncul sosok lain persis seperti sosok yang tadi, tertawa dan mengolok-olok diriku. Muncul sosok yang lain melakukan hal yang sama, muncul lagi, muncul lagi dan muncul lagi. Mereka semua tertawa dan mengolok-olok diriku.

“TIDAK… AKU TIDAK LEMAH…” teriakku membalas ucapan mereka sambil menutup mata dan telingaku. Namun tawa dan olokan mereka tetap terngiang-ngiang di kepala ku.

“TIDAK…” teriakku panjang.

“Dickey.” Sebuah suara lembut memanggil.

Kubuka mata ku, tidak lagi kegelapan yang kulihat, namun sebuah ruangan anggap saja ruangan yang serba putih bersih. Aku melihat sosok yang memanggilku, abangnya Gadis.

“Jangan panik, tadi itu hanyalah kepanikanmu ditambah rasa bersalah yang menghantuimu.” Ucapnya lembut.

“Tapi bang, aku udah gagal sebagai lelaki. Aku ga bisa jaga Gadis seperti janji ku dulu.”

“Siapa yang bilang? Balik kamu sana, masih ada kerjaan yang harus kamu selesaikan.” Balas nya tersenyum sambil menepuk pundakku.

Seketika aku merasa tekanan yang sangat kuat, pandangan ku berputar-putar dengan sangat cepat, hingga aku merasakan kembali tubuhku berada di lantai rumah ku. Aku berusaha berdiri sambil memegang luka ku yang masih mengeluarkan darah. Perlahan aku berdiri dengan bantuan katana ku. Tubuhku seakan bergerak tanpa perintah, bergerak dengan sendirinya menuju ke suatu tempat. Prince, ya hanya itu yang aku tau saat ini.

Aku berjalan keluar dari rumah, menembus hujan dan hembusan angin kencang. Perlahan namun pasti aku menuju kediaman Prince. Aku tidak tahu bagaimana aku masih sanggup berjalan menuju kediaman Prince. Yang jelas, kini aku berdiri tepat di depan pintu rumahnya dan dengan gemetaran tangan kanan ku menekan bel rumahnya. Tak lama kudengar suara menggerutu dari balik pintu dan berkata “Siapa ya?”. Pintu terbuka dan kulihat sahabatku, Prince, berdiri disana dengan tampang shock. Teriakannya memanggil nama ku merupakan limit kesadaranku, aku jatuh.
Baru sempet baca lagi emoticon-Hammer (S)

di sebelah dimana gan? udh tamat yah? mau link donk kalo berkenan emoticon-Embarrassment
Quote:


kalo di sebelah tema nya rada-rada "rada". hehehe..
masih belum tamat kok gan, status masih on-going.