alexa-tracking

Tentang Cinta

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/554b28aa582b2e8c518b456a/tentang-cinta
Tentang Cinta
Selamat Sore Agan/Sista, sepuh di forum SFTH. Membaca kisah-kisah disini, izinkan saya berbagi cerita berjudul :

TENTANG CINTA
(Cinta Adalah sepaket kenyataan perasaan berupa suka, sayang, rindu dan kecewa yang kerap dibumbui drama)

Tentang Cinta

Aturan Main di Thread ini :
1. Dilarang untuk KEPO
2. Update Dua Hari 2 x, dilakukan pada Jam 11:00 -15:00
2. Aturan Lain akan menyesuaikan
Ditunggu komennya dan mohon dibantu rate emoticon-Smilie


Quote:


Bagian 1 : Sedikit Tentang Cinta
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
#11
#12

Bagian 2 : Sepenggal Kenyataan Perasaan
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
#11
#12
#13


Bagian 3 : Lying Is The Most Fun Woman Can Have Without Taking Her Clothes Off
#1 - Segera / Soon -

#1

Bagian 1: Sedikit Tentang Cinta

#1

Spoiler for Risalah Pengantar:


Hawa dingin mulai menyelimuti ibukota, menggenapi keperkasaan gelapnya malam yang tiba lebih awal hari ini dibandingkan biasanya. Seorang lelaki mempercepat langkahnya menuju sebuah Bar. Masuk ke dalam Bar, duduk di sebuah kursi di dekat meja bartender.

“Hei Bob, Scotch!” Perintah Jimmy sembari memperlihatkan jari telunjuknya. Dengan cekatan, tangan Bob menuangkan Scotch ke dalam gelas sloki, dan menaruhnya di depan Jimmy. Diteguknya minuman itu dan mengakhiri ritualnya dengan sebuah desahan penuh kepuasan.

“Aaaahhh...yeah. This taste is so good, Bob!”

Bob hanya tersenyum mendengarnya. Dia kembali melayani pelanggan yang lain, dengan cekatan tangannya menggoyang muddler, mempersiapkan cocktail sesuai dengan pesanan. Jimmy merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah lighter, menyalakan sebatang rokok. Dihisap rokok dalam-dalam, lalu mengeluarkan asapnya perlahan, bersamaan dengan segumpal beban yang ada dalam pikirannya.

So, kejadian apa hari ini, Jim?”

“Seperti sebelumnya, Bob. Tiada yang spesial. Semuanya berjalan seperti biasa. Seperti rutinitasmu sehari-hari. Aku kembali harus menjilat atasanku lagi untuk mengakomodir kebutuhan proyek departemenku. Aku lelah dengan semua ini.” Ujarnya kembali menghisap rokok dalam-dalam, kemudian menghela nafas panjang. Mendengar ucapan Jimmy, Bob yang asyik memperbaiki tatanan minuman di lemarinya sejenak menghentikan aktivitasnya.

“Aku ingin memberimu sebuah saran gratis. Kamu tahu wanita yang sedang bermain piano itu? Dia tadi bercerita kalau dia baru saja dipecat dari pekerjaannya. Alasannya sederhana, karena dia tidak ingin menjilat atasannya. Simpel, bukan? Sekarang, pilih, seperti sekarang atau seperti dia. Dunia ini memang kejam.”

Jimmy memperhatikan wanita itu. Tangannya lincah menekan tuts demi tuts. Namun, nada demi nada yang bergema dari tuts piano begitu kelam, dingin dan tidak bersahabat.

“Sepertinya aku familiar lagu yang dimainkan ini, Bob. Tapi aku lupa.”

“Moonlight Sonata.” Ucap Bob

Jimmy terdiam dan tetap memperhatikan wanita itu. Saat rasa ibanya datang, dia mencoba untuk tidak terlalu melankolis. Dia mengalihkan pandangannya, dan kembali menikmati sebatang rokok yang mulai mengecil yang masih menempel di sela-sela jarinya. Tiba-tiba, seorang pria mendekat, lalu duduk di sebuah kursi yang ada di sampingnya. Menyampaikan pesanannya kepada Bob.

“Bro, bir segelas.” Ucap pemuda itu. Bob mengangguk dan menyajikan permintaannya. Diteguknya bir tersebut hingga tersisa seperempat gelas, dan mengangkat jempolnya ke arah Bob. Seperti biasa, Bob hanya tersenyum. Jimmy memperhatikan sekilas pemuda yang duduk di sampingnya, dan melempar sebuah senyuman. Digesernya sebungkus rokok dan sebuah lighter di depannya ke arah sang pemuda.

“Rokok?” Tawarnya kepada sang pemuda. Pemuda itu mengambil sebatang rokok dari kemasannya dan mulai menyalakannya.

Thanks.” Ucapnya pelan.

Jimmy kembali menikmati sebatang rokok yang menempel di sela bibirnya. Di hisapnya dalam-dalam, mengepulkan asap keluar dari mulutnya, lalu menghela nafas panjang. Pemuda itu melakukan hal yang sama. Hanya keheningan yang mereka sisakan. Mereka terlihat canggung untuk memulai pembicaraan yang memancing Bob untuk menggoda keduanya.

“Kalian berdua seperti sepasang kekasih yang sedang marahan. Berbagi rokok yang sama, tetapi tidak memulai percakapan.”

Jimmy dan pemuda itu memalingkan wajahnya ke arah Bob, kemudian tertawa kecil.

“Baiklah, Bob. Kamu menang. Namaku Jimmy. Biasa dipanggil Jim.” Jimmy menyodorkan tangannya untuk berkenalan. Pemuda itu mengayungkan tangannya. Dia menjabat tangan Jimmy seraya berkata, “ Toni.”

“Kamu sering ke sini?” Selidik Jimmy, mengepulkan asap rokok dari dalam mulutnya.

#2

“Tidak juga.”

So?”

“Mencari hiburan.” Jawab Tony singkat sembari tak mau kalah dari Jimmy, mengepul asap yang nyaris sama banyak dari mulutnya. Tony mengalihkan pandangannya ke arah kiri. Matanya memicing menangkap seorang wanita yang sedang bermain piano. Seringai yang diperlihatkannya memberi kode bahwa dia akan menggoda wanita itu. Jimmy menepuk pundak Toni dan memberikan tatapan mendalam. Kemudian menggelengkan kepalanya. Sebuah gestur bahwa dia tidak menginginkan Toni mengganggu wanita itu.

“Urungkan niatmu, Anak Muda. Kamu tidak akan mendapatkannya.” Tutur Jimmy.

“Kenapa?” Tanya Toni dengan nada sedikit kesal

“Santai, bro. Santai. Bob, beritahu dia.” Titah Jimmy.

“Wanita itu, dua jam yang lalu dia bercerita kepadaku bahwa dia dipecat dari pekerjaannya. Lebih baik tidak mengganggunya.” Terang Bob singkat sembari memainkan cocktail shaker dengan lincah.

“Wanita itu sedang bersedih. Sudahlah.” Timpal Jimmy.

Toni memalingkan wajahnya dan menatap rak minuman yang ada di depan matanya. Sembari mengeluarkan asap dari mulutnya secara perlahan, dia berkata, “Kamu benar-benar meremehkan kejantananku.”

Jimmy enggan berdebat lebih panjang. Diteguk Scotch dengan santai, menghilangkan sejenak dahaga kerongkongannya. Ditariknya sebatang rokok dari bungkusnya, dan mulai menikmatinya. Sebuah kepulan asap yang keluar dari mulutnya, mengawali rangkaian kata demi kata yang telah tersusun rapi di pikirannya, yang akan disampaikannya sebagai sebuah pembelaan terhadap keluhan pria yang duduk disampingnya.

“Kamu tahu? Jika kamu menginginkan sate kambing, cukup datangi penjual sate kambing, dan nikmati satenya. Sebagian orang begitu bodoh sampai memelihara kambing untuk menikmati satenya.” Sambung Jimmy. Bob tertawa mendengar hal itu. Toni yang tidak memahami maksud perkataan Jimmy, berusaha menahan emosinya dengan meneguk sisa bir di gelasnya. Sayangnya, hal itu belum bisa mengatasi rona kemarahan di wajahnya.

“Bung, ini tidak lucu.”

“Hei Bro, calm down. Tenang, santai. Maksud perkataanku, jika kamu hanya menginginkan fisik wanita, kamu langsung datangi saja tempat yang menyediakannya. Lokalisasi. Jangan berhubungan secara emosional dengan wanita bila kamu hanya menginginkan kepuasan fisik semata.” Terang Jimmy meyakinkan. Bob hanya geleng-geleng kepala sembari tertawa melihatnya. Toni sepertinya tidak terlalu senang dengan ucapan Jimmy. Rona kesal masih diperlihatkan pemuda itu. Jimmy tak punya pilihan selain mengeluarkan jurus andalannya. Berkelakar.

“Okay...Okay...Aku punya lelucon. Semoga tidak tersinggung.” Tambahnya lagi.

“Pria rupawan sepertimu pasti sering dipanggil wanita dengan sebutan, Handsome, bukan?”

Toni mengangguk sedikit menyombongkan diri.

"Kalau dua orang berhubungan sex disebut twosome, tiga orang berhubungan sex disebut threesome, dan empat orang berhubungan sex disebut foursome, maka kamu akan mengerti kenapa banyak wanita memanggilmu “Handsome” bukan?”

Ketiganya tertawa.

“Sialan...ganteng begini dituduh “handsome”.” Protes Toni yang diabaikan oleh Bob dan Jimmy. Suasana jadi mencair. Jimmy dan Bob tetap tertawa.

“Okay...kamu berhasil, Jim. Guyonanmu cerdas dan lucu. Thank you.”

Jimmy hanya tersenyum mendengar pujian Toni.

“Bob, bir segelas lagi.” Pinta Toni. Dengan cekatan, Bob menuang bir ke dalam gelas Toni.

“Dan jangan lupa Scoth-nya Jimmy. Aku mentraktirmu, Jim.” Tambahnya lagi

“Owh..Tidak perlu. Berikan aku Bir, sama seperti dia, Bob.” Ujar Jimmy

Keduanya menikmati minuman yang disajikan oleh Bob. Beberapa saat setelahnya, seorang pria datang dan duduk di sebelah Toni. Memesan bir, sama seperti halnya Toni.

“Bir satu, Mas.” Pintanya pelan. Bob segera menyajikannya. Jimmy dan Toni tidak terlalu peduli dengan kehadiran orang asing yang disamping Toni. Keduanya tetap asyik menikmati rokok, menghisapnya dalam-dalam, mengepul asapnya hingga menyebar ke sekitar mereka.

“Aku punya pertanyaan, Toni. Sesuatu yang serius.” Ucap Jimmy sembari memperlihatkan rona bercanda.
KASKUS Ads

#3

“Apa, Jim?”

“Menurutku, rindu adalah perasaan bahagia yang menyakitkan. Menurutmu bagaimana?”

“Entahlah.” Jawab Toni singkat.

“Baiklah...bantu aku. Bahasa Inggrisnya Rindu?”

“Miss.”

“Bahasa Inggrisnya, Aku Merindukanmu?”

“Tidak ada yang lebih sulit dari itu? I Miss You.” Ucap Toni sedikit sombong.

“Baiklah, Anak Muda. Bagaimana dengan bahasa Inggrisnya “Aku terlalu amat sangat merindukanmu sekali dan berharap kamu datang kemari dengan membawa cinta dan kasihmu?” Jimmy kembali bertanya. Toni hanya menggelengkan kepalanya tanda menyerah. Jimmy tertawa seraya berkata,

“Ngemiss-ngemiss.”

Keduanya tertawa.

“Hahaha, sialan. Aku tidak memikirkan sampai ke sana. Luar biasa, hahaha. Mari bersulang.” Ajak Toni sembari mengangkat birnya, disambut dengan ayunan tangan Jimmy. Toni meneguk birnya tanpa sisa. Diletakkannya gelas dan bersendawa penuh kemenangan.

“So, Beritahu aku, Jim. Apa pekerjaanmu?”

“Pekerjaanku? Memandikan paus dan ikan duyung.” Jawab Jimmy sekenanya. Bob dan pria disamping Toni ikut tertawa.

“Aku serius.”

“Okay...aku bekerja di salah satu perusahaan top yang bergerak di bidang telekomunikasi. Tentunya, meski menghabiskan waktu di bar malam ini, aku tetap menyaksikan iklan produk kantorku di tv ketika pulang nanti.” Ujar Jimmy menarik sebatang rokok dari bungkusnya dan menyalakannya.

“Ohhh.”

"Kamu?”

Jimmy balik bertanya.

“Aku seorang anak kuliahan. Sudah lima setengah tahun, belum niat untuk tamat. Ternyata sekolah itu tidak seburuk yang kubayangkan sebelumnya.”

“Dan aku merasa menjadi muda lagi berteman denganmu, Toni.” Timpal Bob tersenyum sembari menujukkan jarinya ke arah Toni.

“Orang bodoh mengalahkan orang pintar sudah lazim dalam dunia pekerjaan. Dalam dunia pekerjaan, kamu membutuhkan relasi dan sedikit keberuntungan. IP dari kampus? Hanya dimiliki oleh yang tidak memiliki keduanya.” Ujar suara seorang pria yang duduk di samping Toni berbunyi mengomentari percakapan mereka.

Toni dan Jimmy terperajat mendengar perkataan tersebut. Sebuah kalimat sakti yang memang bila dipikirkan oleh akal sehat ada benarnya. Terlebih bagi Toni yang tak kunjung menyelesaikan kuliahnya, tentunya rangkaian kata itu menjadi sebuah pernyataan yang bisa digunakannya untuk membenarkan dirinya.
izin nenda dimari gan
nandain dulu .
sekalian emoticon-Rate 5 Star
Quote:


Silahkan ganemoticon-2 Jempol
jangan lupa di emoticon-Rate 5 Star
image-url-apps
kayaknya asyik nih cerita..

lelucon tentang "rindu" juga enggak garing.. emoticon-Big Grin
Quote:


Thank you gan emoticon-Big Grin

Keep reading dan jangan lupa di emoticon-Rate 5 Star ya gan

#4

“Setuju.” Balas Toni sembari memperlihatkan jempolnya ke pria yang duduk disampingnya.

Jimmy hanya tersenyum kecut menanggapi respon Toni.

“Bila IP bukan sebuah penentu dalam pekerjaan, tentunya banyak orang tidak akan mempersoalkan perkuliahan. Dan tentunya perguruan tinggi negeri tidak perlu membuka jalur khusus bagi anak-anak orang berada. Bahkan sepertinya tidak adil. Asal kamu memiliki uang, kamu bisa belajar dimanapun yang kamu suka, bahkan di perguruan tinggi negeri yang bonafit sekalipun.” Sergah Jimmy tidak setuju dengan perkataan pria disamping Toni.

“Hmm...baiklah. Namaku Hanif.” Ujar pria itu sembari mengulurkan tangannya.

“Jimmy.”

“Toni.” Giliran Toni yang menjabat tangan Hanif.

“Apa masalah anak orang berada? Orangtua mereka sanggup memberikan dana lebih yang dapat dipergunakan kampus negeri untuk mengembangkan institusi mereka. Melakukan riset, penelitian maupun pengembangan nonteknis seperti penambahan infrastruktur. Anak orang berada diproyeksikan oleh orangtuanya untuk memimpin usaha atau bisnis orangtuanya, atau menduduki jabatan penting lainnya. Apakah mereka membutuhkan IP? Rasanya tidak. Tetapi mereka membutuhkan gengsi, prestise.”

“Maksudnya? Maaf, aku tidak mengerti.” Tutur Toni.

“Sederhananya begini, Toni. Apakah sama harga bir yang kamu minum di bar ini dengan bir yang kamu beli dari sebuah minimarket? Atau sebuah pusat perbelanjaan?”

Toni hanya menggelengkan kepalanya.

“Itu, gengsi yang kamu bayar lebih untuk menikmati minuman. Jenis sama, harga berbeda. Dan gengsinya juga berbeda.” Tutup Hanif penuh kemenangan. Jimmy terdiam. Kali ini dia tidak memiliki argumentasi lain. Toni begitu kagum terhadap sosok Hanif yang baru dikenalnya.

“Wow...keren. Aku mengerti. Coba kamu bayangkan, Jim. Apabila seseorang sehebat dia menjadi dosen di kampusku, aku pasti tidak selama ini untuk selesai kuliah.”

“Bodoh? Rasanya tidak, Toni. Lebih tepatnya malas. Jangan mencari kambing hitam. Cemani saja harganya sudah mahal, apalagi kambing hitam.” Canda Jimmy. Cemani adalah ayam berwana hitam, yang seluruh tubuhnya berwarna hitam. Lagi dan lagi, Jimmy dan Toni menghisap rokok dalam-dalam bersamaan. Keduanya asyik menikmati rokok, dan Jimmy baru menyadari bahwa rokok belum ditawarkan kepada Hanif.

“Rokok?” Tawar Jimmy kepada Hanif.

Hanif hanya menggelengkan kepalanya. Jimmy mengerti. Hanif tidak merokok.

So, Hanif, kamu pria yang mana? Memiliki IP atau koneksi? ” Selidik Jimmy.

“Aku?”

Jimmy menganggukkan kepalanya.

“Bukan keduanya. Aku pria yang tidak memiliki IP, dan juga tidak memiliki koneksi tentunya. Aku hanya pria yang memiliki sedikit keberuntungan dalam kerja keras. Aku menjalankan sebuah usaha sendiri di bidang teknologi. Lebih tepatnya menjual solusi teknologi informasi. Jika kamu pernah mendengar LombuMora? Itu perusahaan yang kubangun dengan bantuan beberapa teman.”

“Ya, aku tahu LombuMora. Wow, aku tidak pernah berpikir bertemu dengan salah satu petingginya. Sungguh sebuah kehormatan bisa berkenalan denganmu, Hanif. Meski terlihat cukup muda, pencapaianmu luar biasa.” Puji Jimmy lagi.

“Hehe, kamu berlebihan, Jimmy.” Ujar Hanif sedikit kikuk.

“Tidak, Hanif. Kamu adalah model yang cocok bagi generasi muda. Hei Toni, ini adalah model yang ideal untukmu.” Saran Jimmy.

Toni mengernyitkan dahinya. Diperhatikannya Hanif dengan seksama, layaknya seorang pesulap mentalist yang sedang membaca pikiran targetnya.

“Sepertinya tidak, Jim. Aku dan Hanif memiliki dua karakter yang berbeda.” Ujarnya sembari menghembuskan asap rokok keluar dari mulutnya.

Hanif dan Jimmy teperangah.

“Aku akan membuktikannya. Aku menantangmu, Nif. Kamu lihat waitress itu? Namanya Hana. Aku menantangmu untuk mendapatkan nomor teleponnya.” Ujar Toni. Mendengar tantangan Toni, Bob ikut nyambung dalam pembicaraan.

“Wow...lihat siapa yang kita punya disini. Seorang player bernama Toni menantang seorang pria yang baru hari ini kutemu di tempat ini mendapatkan nomor telepon Hana. ” Timpal Bob yang tiba-tiba memberikan komentar sambil tetap sambil memainkan shaker di tangannya.

“Bagaimana?” Tantang Toni lagi.

#5

Hanif hanya tersenyum sembari mengangkat tangannya. Dia menyerah.

“Hahaha, baiklah. Aku sudah menduganya, Jim. Kamu lihat Hanif, seorang dengan pakaian yang sangat modis datang ke Bar malam ini, untuk pertama kalinya. Ini tentunya sebuah kebetulan yang menyenangkan bagi kita. Sukses di usia yang sangat muda, tentu Hanif sudah mengorbankan begitu banyak waktunya untuk pekerjaannya. Sehingga melupakan bagaimana caranya menggoda wanita.” Canda Toni.

“Akan kuperlihatkan kepadamu, bagaimana caranya berkenalan dengan wanita.”

Toni memanggil seorang wanita yang duduk di meja yang berseberangan dengan mereka. Wanita itu bergerak menuju ke arah mereka. Toni mempersilahkannya duduk.

“Maafkan aku, Nona. Temanku memaksaku untuk berkenalan denganmu. Sepertinya mereka takut untuk menanyakan namamu.” Ucap Toni sembari mengerling ke arah Jimmy dan Hanif. Wanita itu tersipu malu mendegar ucapan Toni.

“Perkenalkan, namaku...Jo.” Ucap Toni mantap sembari mengulurkan tangannya.

“Jo?” Wanita itu mengernyitkan dahinya.

“Jodohmu sayang.” Timpal Toni sembari tersenyum.

Wanita itu tersenyum tersipu malu. Jimmy dan Hanif tertawa sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mereka semakin yakin bahwa mereka tidak akan pernah bisa mengimbangi anak kuliahan bernama Toni dalam urusan goda-menggoda wanita.

“Namaku Sylvia.” Balas wanita itu singkat.

“Jadi bagaimana, Sylvia? Aku tidak begitu buruk, bukan?” Ujar Toni mencari pembenaran diri.

Sylvia tertawa.

“Beritahu namamu terlebih dahulu, Jo. Aku akan memberitahu pandanganku.”

“Namaku Toni. Lengkapnya, Toni Yang Terpesona Akan Kecantikanmu Dan Menginginkanmu Jadi Pasangan Hidup.” Terang Toni diakhiri dengan sebuah senyuman maut.

Sylvia kembali tertawa.

“Berapa banyak wanita yang kamu perlakukan seperti ini, Toni?” Selidik Sylvia sembari tetap tersipu malu dengan rayuan Toni. Toni mendekatkan kepalanya ke kepala Sylvia.

“Satu trik tidak akan bekerja dalam dua orang. Jadi, ini adalah yang pertama kali.” Bisiknya lagi. Sylvia tertawa kecil. Jimmy dan Hanif termangu melihat kelihaian Toni dalam menggoda wanita yang baru saja dikenalnya.

“Kamu mengesankan, Toni. Tapi maaf Toni, aku harus pergi.” Ujar Sylvia.

“Tunggu dulu, setidaknya kamu berkenalan dengan temanku. Nama mereka adalah Hanif dan Jimmy.” Terang Toni.

Sylvia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya, memberikannya kepada Toni.

“Maaf, kebetulan aku tidak minat berkenalan dengan pecundang.” Canda Sylvia ditutup dengan sebuah senyuman sembari meninggalkan ketiganya. Toni tertawa, Hanif dan Jimmy hanya terperajat mendengar perkataan Sylvia yang perlahan mulai menghilang dari hadapan mereka.

Gentlement, aku tidak memintanya memberikan nomor ponselnya. Dia memberikannya sendiri. See?” Tutur Toni penuh kemenangan sembari memperlihatkan sebuah kartu nama yang terselip di antara dua buah jari tangannya. Hanif dan Jimmy bertepuk tangan memberikan sanjungan kepada mahasiswa yang baru saja memperlihatkan aksinya bersama wanita yang baru dikenalnya.
“Baiklah. Bob, berikan kami bir. Giliranku mentraktirnya. Dia baru saja memperlihatkan betapa berbahayanya dirinya bagi para pria yang memiliki pasangan. Maafkan aku meremehkanmu mengenai wanita yang stress tadi.” Ujar Jimmy yang disambut tawa kecil Bob. Jimmy memalingkan pandangannya ke arah Toni. Rasa kagumnya belum juga berhenti. Ingin mengetahui kehidupan pria muda itu lebih jauh.

“Kamu belum berbicara mengenai dirimu, Toni. Ceritakan sedikit tentang kehidupan pribadimu. Tiadakah yang menarik selain kehidupan perkuliahanmu yang cukup memprihatinkan, atau kemampuanmu menggoda kaum hawa?” Tambahnya lagi.

“Well, sebenarnya aku cukup enggan membicarakan soal ini, tapi baiklah. Aku beruntung terlahir di keluarga yang cukup berada. Ayahku seorang pekerja keras, jarang di rumah. Ibuku juga demikian. Aku tidak pernah kekurangan apapun, kecuali waktu mereka. So, aku mulai mencari kesenanganku sendiri dengan bermain musik, hingga bermain wanita.”

“Musik? Kamu seorang musisi?”

“Itu hanya Hobi, Jim. Musik dan wanita selalu berdampingan.” Kelakarnya.

“Tepat sekali. Luar biasa. Aku tidak pernah menyangka hari ini akan bertemu dengan dua pria asing di bar ini yang sangat mengagumkan. Guys, sudikah bersulang denganku untuk momen istimewa ini?” Ujar Jimmy sembari mengangkat minuman mereka dan bersulang. Toni kembali menyambung perkataannya.

“Aku juga senang berkenalan denganmu, Jim. Kamu pria yang jenaka dan lucu. Bagaimana menurutmu, Nif?”

“Aku sependapat denganmu, Toni. Jimmy juga pria yang mengesankan. Guyonan tadi sungguh luar biasa mengena.” Puji Hanif.

“Hehehe, kalian terlalu memuji. Tetapi aku serius, Toni. Kamu sangat berbahaya bagi para wanita. Bersenang-senanglah sebelum tiba waktunya, kamu akan memilih sebuah jalan menuju akhir dari semuanya. Pernikahan.” Canda Jimmy.

“Oh ya, apakah kamu sudah menikah, Jim?” Tanya Toni.

“Belum.”

Toni tertawa.

“Lihat apa yang kutemukan disini, Nif. Seseorang yang belum menikah memberikan nasehat tentang pernikahan kepadaku. Kamu sangat lucu, Jim. Jangan tersinggung.” Ujar Toni.

“Hehehe, oke, Toni. Memang benar aku belum menikah. Kebanyakan aku mendapat cerita dari teman-temanku. Mereka menyarankanku untuk tidak terburu-buru menikah. Menikah adalah sebuah pilihan yang tidak seindah yang digembar-gemborkan oleh pujangga ataupun media.” Jelas Jimmy.

“Benar. Aku sependapat. Itu sebabnya aku lebih menyukai permainan cinta yang kulakukan sekarang.” Tambah Toni.

“Permainan cinta?”

“Ya Jim, permainan perasaan. Rasanya dicintai lebih dari satu wanita membuatku merasa menjadi pria seutuhnya. Dan aku begitu menikmatinya.” Tuturnya penuh semangat. Hanif hanya menjadi pendengar yang baik. Dia tidak memberikan komentar apapun mengenai cerita cinta yang dibahas oleh Toni dan Jimmy.

“Kamu sendiri, Nif? Sudah menikah?” Selidik Toni.

Hanif hanya menganggukan kepalanya.

“Jadi, Hanif, pria yang sudah menikah, bagaimana rasanya menikah?”

“Menyenangkan.”

Hanif menjawab seadanya. Jimmy paham, bahwa ini adalah urusan privasi seseorang, dan Toni sudah terlalu agresif untuk menanyakan sesuatu kepada orang yang baru dikenalnya. Jimmy mengalihkan pembicaraan kepada Toni.

“Toni, mungkin kamu bisa ceritakan, bagaimana pengalamanmu dengan wanita-wanitamu.” Goda Jimmy.

“Baiklah. Aku sangat menyukai berhubungan dengan wanita yang usianya lebih dewasa dariku. Pacarku saat ini adalah seseorang yang usianya lebih tua dariku dua tahun. Aku mengenal dia di kampus dulu, dan aku telah berhubungan dengannya sejak dua tahun lalu. Dalam sebuah hubungan, selalu ada krisis dan aku mengalaminya. Aku jatuh cinta dengan wanita lain, yang usianya lebih tua dariku juga. Dia sangat menggoda. Aku sangat menyukainya dan aku menjalankan hubungan ini diam-diam. Dan secara keseluruhan, aku menyukai permainan ini.” Terang Toni.

“Wow...aku terkesan. Kenapa kamu memberitahukan kepada kami soal ini? Padahal kamu baru saja mengenal kami.” Selidik Jimmy.

“Baiklah, aku memberitahumu sesuatu. Curhat adalah sebuah percakapan menyenangkan bila tidak memiliki efek samping bocornya sebuah rahasia. Kamu tahu, Jim? Cara terbaik untuk curhat adalah bercerita dengan seseorang yang tidak kamu kenal dan di tempat yang tidak direncanakan. Kamu puas menyampaikan pengakuan yang menyesakkan pikiran, dan dia hanya menikmati sebuah cerita gratis tanpa peduli akan nama-nama yang kamu sebutkan.” Terang Toni.
Jimmy dan Hanif tersenyum. Apa yang dilewatkan mereka selama ini?

“Toni, kamu memang berbahaya, seperti yang dikatakan Jimmy.” Ujar Hanif menyimpulkan.

“Tentu saja, Nif.” Ucap Toni penuh kebanggaan.

“Aku iri melihatmu, Toni. Kamu memiliki begitu banyak kesempatan untuk melakukan apapun yang kamu sukai. Kamu tidak terlalu ambil pusing dengan kejamnya kehidupan ini. Kamu bebas untuk menyukai siapapun, tamat kuliah kapanpun, dan paling penting kamu menjadi dirimu sendiri. Aku menghabiskan hampir seluruhnya masa mudaku untuk mengejar apa yang kuraih saat ini. Aku kehilangan begitu banyak momen sosial bersama dengan teman-temanku, atau bersama dengan orang yang kusukai.” Keluh Hanif.

Well, inilah dunia. Hanif iri kepada Toni, dan banyak orang yang menginginkan posisi Hanif saat ini. Manusia memang tidak pernah puas. Rumput tetangga selalu lebih hijau. Andai aku bisa menjalani kehidupan normal layaknya manusia lainnya.” Giliran Jimmy yang mengeluh.

“Kenapa, Jim?” Selidik Toni

“Hmm, sulit untuk mengatakannya, Toni.”

“Punya pasangan, Jim?” Giliran Hanif penasaran.

“Rumit, Nif.” Jawab Jimmy.

“Biar kutebak. Ditinggal kimpoi?” Canda Toni

Ketiganya tertawa.

“Bukan.”

“Pernah diselingkuhi?” Selidik Toni lebih dalam.

Jimmy hanya tersenyum.

“Rumit, Toni. Sungguh rumit. Suatu hari nanti, aku akan memberitahumu, Stranger!” Canda Jimmy sembari mengambil sebatang rokok, dan menikmatinya.

Ketiganya kembali tertawa.

“Biar kutebak sekali lagi, jadi alasanmu ke Bar ini adalah mencari pasangan?” Toni bertanya lagi.

“Hahaha, terserah menyimpulkan apapun.” Timpal Jimmy menyerah.

“Baiklah pria single dan bermartabat, sepertinya tebakanku benar.” Ucap Toni lalu meminta Bob memberikan sebotol bir lagi.

“Alasanmu ke sini, Toni?” Tanya Hanif mencari topik baru.

“Mencari hiburan. Di luar itu, aku menyebutnya bonus. Kamu sendiri? Apa yang dilakukan oleh orang sesibuk dirimu ke tempat ini? Ini bukan tempat yang cocok untuk membuang waktumu yang berharga, Hanif.” Ujar Toni.

“Seperti dirimu. Mencari hiburan.”

“Baiklah.” Tutur Toni mengambil sebatang rokok, mulai beradu kepulan asap rokok dengan Jimmy. Hanif hanya mencoba menyesuaikan dengan suasana bar. Ketiganya menikmati suasana malam itu.

Tak sepatah katapun terucap lagi. Ketiganya asik sendiri tanpa berkata-kata. Entah terjebak dalam momen awkward atau telah kehabisan basa basi murahan, Jimmy memberanikan diri membicarakan sebuah topik yang sudah terlintas dalam pikirannya sejak datang ke bar. Dan Toni adalah orang yang cukup hebat untuk memahaminya.

“Kamu percaya dengan namanya cinta sejati, Toni?” Tanya Jimmy membuka pembicaraan.

“Kamu bertanya kepada orang yang salah, Jim.”

“Serius, aku meminta pendapatmu. Aku meminta pendapat seorang yang terlihat begitu lihai dalam berkenalan dengan wanita, dan tentunya dalam cinta.”

“Baiklah. Aku akan memberitahumu. Aku tidak percaya dengan yang namanya cinta sejati. Karena aku tidak pernah mengalami cinta sejati. Aku tidak pernah menangis karena ditinggalkan oleh wanita, atau galau karena bertengkar semalaman. Bila aku tidak nyaman dengan pasanganku, aku akan meninggalkannya. Sesederhana itu.”

“Sesederhana itu?” Tanya Hanif ikut nimbrung.

“Ya, sesederhana itu, Nif.”

“Kamu mau melepaskan pasanganmu begitu saja karena kamu tidak nyaman?” Hanif seolah tidak percaya dengan penjelasan Toni.

“Ya...karena aku percaya semua wanita itu memiliki aturan yang sama. Mereka egois dan mahluk yang mengingat segalanya. Dan itu membuatku yakin, suatu hari nanti aku akan kembali dan memenangkan mereka.” Jelas Toni percaya diri.

“Hahaha, kamu memang keterlaluan Toni.” Timpal Hanif lagi

Well, kamu harus tahu aturan pertama. Semuanya sah dalam cinta. Cinta bukan sesuatu yang bisa kamu paksakan, bukan? Saat kamu jatuh cinta, apakah kamu sengaja jatuh? Tidak. Kamu terjatuh pada pandangan, dan itu membuatmu tidak bisa mengatur cinta. Kamu mencintainya, kamu menginginkannya. Sesederhana itu. Saat cinta itu pergi, maka rasa itu pergi dan kamu tidak akan pernah merasakan hal yang sama lagi.” Terang Toni.

“Singkatnya, cinta adalah sebuah pilihan. Pria terlahir untuk mencari dan menyatakan cinta yang diinginkannya, dan wanita terlahir untuk menolak cinta yang datang kepadanya. Dan Tuhan begitu adil, masih menyisakan rindu yang tak berbalas bagi para pecundang yang tak berani menyatakan cintanya yang mungkin, Jimmy adalah salah satunya” Canda Toni

“Sialan.” Timpal Jimmy.

Ketiganya kembali tertawa.

“Baiklah, aku akan jujur. Kemarin aku mendapatkan sebuah kejutan tak terduga di tempatku bekerja. Kalian mau mendengar?” Tambah Jimmy.

“Tentu saja.” Seru Hanif.

#8

“Oke.” Jimmy mulai mencoba mereka-reka kejadian yang terjadi kemarin, di ruang rapat. Saat dia memimpin sebuah rapat bersama dengan departemennya. Memorinya bergerak lincah, mendeskripsikan momen demi momen yang mampu diingatnya.

“Selamat pagi semuanya.” Sapa Jimmy

“Selamat pagi, Pak.” Jawab seisi ruangan.

“Baiklah, untuk mempersingkat waktu, saya akan langsung ke pokok permasalahan.” Ucap Jimmy. Dengan cekatan Jimmy mulai berbicara mengenai pokok yang mereka bahas dalam rapat. Semua memperhatikan dengan seksama. Kurang lebih satu setengah jam rapat berlangsung. Dan Jimmy langsung meninggalkan ruangan rapat. Sewaktu jam istirahat siang, Jimmy bergabung dengan beberapa orang dari departemen lain untuk makan siang bersama. Namun, semua wanita yang berpapasan dengannya menebar senyuman. Demikian halnya dengan lelaki. Jimmy penasaran, ada apa yang terjadi. Dilihatnya ke bawah, dan menghela nafas panjang.

“Syukurlah, aku kira resleting celanaku terbuka. Tetapi kenapa mereka begitu aneh hari ini? Ada yang salah denganku?” Gumamnya.

“Van, ada yang salah dengan diriku hari ini?” Tanyanya kepada Evan, salah seorang rekanannya.

Evan hanya menggelengkan kepalanya, kemudian tersenyum.

“Kamu pasti tahu sesuatu. Ada apa denganku, Van?” Selidik Jimmy penasaran

“Eng...anu, Pak. Ada gosip yang mengatakan anak buah Bapak suka sama Bapak.” Ujar Evan

Jimmy terperangah.

“Siapa?”

“Sekretaris Bapak.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Tadi sehabis rapat, Bapak langsung meninggalkan ruangan. Demikian halnya dengan sekretaris Bapak. Sekretaris Bapak meninggalkan catatan kerjanya. Dan di dalam catatan kerja tersebut ada beberapa tulisan mengenai perasaannya kepada Bapak.”

“Shit, no way.” Umpat Jimmy


Sekretaris Jimmy menyukai dirinya. Ini seperti sebuah cerita umum yang biasa ditemukan di dalam cerita dewasa. Sebuah kedekatan yang bisa memicu affair antara seorang bos dengan sekretarisnya.

“Seperti cerita dewasa.” Canda Toni.

Hanif tertawa. Jimmy tersenyum masam.

“So, bagaimana kelanjutannya, Jim?” Selidik Toni penasaran.

“Aku mengajak sekretarisku berbicara empat mata. Heart to heart. Dia mengungkapkan semuanya. Dan aku merasa bersalah. Di satu sisi, aku menyukainya sebagai salah seorang rekan kerja. Dia seorang yang sangat cekatan, pekerja keras, dan sangat membantu pekerjaanku. Aku tidak ingin dia salah paham dengan semua yang terjadi, sehingga aku merasa perlu menjelaskannya. Cinta memang tidak selalu berakhir indah.”

“Karena cinta memang tidak pernah berakhir indah. Kata orang, cinta sejati tidak pernah berakhir. Jadi bagaimana mungkin mengharapkan cinta berakhir indah?” Timpal Toni.

“Okay, cukup menggelitik seseorang yang tidak percaya cinta sejati berbicara soal cinta yang berakhir indah. Lalu, sebenarnya kamu ada di tipe yang mana, Toni?” Sindir Hanif.

“Aku memang tidak mempercayai adanya cinta sejati. Aku menyukai konsep cinta dimana aku menginginkan segala sesuatunya berjalan seperti yang diharapkan. Aku menyukai seorang wanita, aku menginginkannya. Menjalin hubungan asmara, aku dan dia bahagia. Sesederhana itu. Cinta sejati, saat kamu memberi tanpa harus menerima? Aku tidak memercayainya, Nif.”

“Begitukah?”

“Ya. Sebagian pecundang di luar sana mencari pembenaran diri dengan mengatakan mencintai tidak harus memiliki. Apapun ceritanya, cinta adalah sesuatu yang harusnya membahagiakan, bukan menyakitkan. Saat kamu berjuang untuk cinta yang kamu inginkan, itu adalah harga yang kamu bayarkan untuk menebus kebahagiaan dari cinta itu sendiri.”

“Berikan aku sebuah contoh.” Pinta Hanif. Jimmy tetap serius mendengarkan.

“Begini, aku pernah menyukai seseorang dengan begitu teramat sangat. Dia adalah gadis tercantik yang pernah kulihat selama hidupku. Aku begitu menginginkannya. Dia begitu sempurna. Kemudian aku mendekatinya, dan mengungkapkan perasaanku kepadanya. Dia menginginkanku untuk pergi dan jangan mengharapkannya. Aku berjuang mendapatkan hatinya. Aku mendapatkannya, aku memenangkan hatinya dan...”

Toni terdiam.

“Lalu?”

“Suatu hari, aku mengetahui bahwa dia mengidap leukemia stadium akhir. Dan kalian tentu bagaimana hal ini berakhir, bukan?” Ucap Toni lirih.

#9

“Kami turut berduka.” Ucap Jimmy.

“Kamu tahu, Jim, Nif? Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan yang telah mengambil seseorang yang begitu kucintai. Mungkin, banyak orang yang mengatakan bahwa aku tidak pernah mencintainya. Well, bila aku tidak mencintainya, kenapa aku harus mengingat kejadian yang telah sepuluh tahun terjadi dan membuatku seperti ini saat ini? Aku takkan pernah bisa mencintai wanita lain seperti aku mencintainya.” Ujar Toni tegar.

Hanif dan Jimmy terdiam.

“Aku mencoba untuk mencintai wanita lain. Dan walaupun aku bisa melakukannya, aku tidak percaya akan cinta sejati, karena cinta sejatiku telah dibawa pergi, oleh seseorang yang takkan pernah kutemui di dunia ini. Aku menjalani hubungan cinta saat ini, karena aku memang nyaman dan menginginkannya, bukan karena aku percaya akan adanya sebuah kesucian cinta yang begitu sejati dan abadi.”

Hanif mangut-mangut mendengar penjelasan Toni. Toni dan Jimmy telah berbagi sejumput kisah mereka. Ini adalah momen yang tepat untuk berbagi kehidupan cintanya. Terlebih, dia mulai percaya apa yang dikatakan Toni, cara terbaik untuk curhat adalah kepada seseorang yang tidak kamu kenal ditempat yang tidak direncanakan, yang akan berlalu dalam hitungan jam kembali kepada kehidupan masing-masing.

“Baiklah, sekarang giliranku. Aku menikahi istriku empat tahun lalu. Minggu depan adalah ulang tahun pernikahan kami yang keempat. Apakah aku menyayangi istriku? Benar. Apakah aku mencintai istriku? Benar. Jadi, apa yang terhilang dalam kehidupanku? Aku tidak tahu seandainya aku punya pilihan lain selain dirinya, akankah aku tetap menikah walaupun mungkin bukan bersama dirinya? Entahlah.”

“Kamu tidak bahagia, Nif.” Ucap Toni menyimpulkan.

“Bukan. Istriku yang tidak bahagia.” Timpal Hanif dengan rona kesedihan.

“Maaf, ini diluar wilayahku, Nif. Aku tidak bisa berkomentar lebih banyak.” Ujar Toni berusaha untuk tidak mengomentari kehidupan Hanif lebih jauh lagi.

“Its okay. Istriku memang tidak bahagia. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku terlalu terobsesi dengan ambisiku dalam mengejar kesuksesan dalam pekerjaanku. Aku menghabiskan lebih dari setengah dari waktuku setahun berada di luar rumah. Luar kota, luar negeri. Aku...entahlah.”

Jimmy menepuk pundak Hanif sembari melempar sebuah senyum simpati. Mencoba menenangkan pria yang baru ditemuinya hari ini dengan segudang kegundahan.

“Aku mencintai istriku. Tetapi aku mendapatkannya dengan cara yang cukup rumit. Aku merebutnya dari seseorang dengan cara mendekati Ayahnya, yang juga rekanan bisnisku saat itu. Aku hanya mendekatinya selama lima bulan, dan langsung menikahinya. Saat kami pertama kali di rumahnya, dia berkata dia sedang mengejar karirnya sukses sedini mungkin. Entahlah, Jim. Aku tidak mengerti, apakah aku telah merenggut masa mudanya terlalu cepat? Menyandang status seorang istri, di usia yang cukup muda, dimana jiwa masih bergejolak untuk mengejar mimpi-mimpinya?”

Jimmy membisu sepanjang cerita Hanif. Lidahnya terlalu kelu mengomentarinya. Sesekali dipandanginya jauh ke arah lampu yang gemerlap di dalam bar, penuh dengan kesedihan. Memorinya mencoba bergerak, memilah sebuah kisah yang tak pernah dilupakannya. Hanif melihat perubahan rona wajah Jimmy. Terselip perasaan bersalah atas ceritanya.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggung, Jim.”

Jimmy mengalihkan pandangannya, tersenyum kepada Hanif.

“Tidak masalah, Nif. Hanya Sedikit teringat kisah masa lalu.”

“Baiklah, Jim. Sudah saatnya kamu bercerita sesuatu yang rumit.” Goda Toni.

#10

“Kami turut berduka.” Ucap Jimmy.

“Kamu tahu, Jim, Nif? Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan yang telah mengambil seseorang yang begitu kucintai. Mungkin, banyak orang yang mengatakan bahwa aku tidak pernah mencintainya. Well, bila aku tidak mencintainya, kenapa aku harus mengingat kejadian yang telah sepuluh tahun terjadi dan membuatku seperti ini saat ini? Aku takkan pernah bisa mencintai wanita lain seperti aku mencintainya.” Ujar Toni tegar.

Hanif dan Jimmy terdiam.

“Aku mencoba untuk mencintai wanita lain. Dan walaupun aku bisa melakukannya, aku tidak percaya akan cinta sejati, karena cinta sejatiku telah dibawa pergi, oleh seseorang yang takkan pernah kutemui di dunia ini. Aku menjalani hubungan cinta saat ini, karena aku memang nyaman dan menginginkannya, bukan karena aku percaya akan adanya sebuah kesucian cinta yang begitu sejati dan abadi.”

Hanif mangut-mangut mendengar penjelasan Toni. Toni dan Jimmy telah berbagi sejumput kisah mereka. Ini adalah momen yang tepat untuk berbagi kehidupan cintanya. Terlebih, dia mulai percaya apa yang dikatakan Toni, cara terbaik untuk curhat adalah kepada seseorang yang tidak kamu kenal ditempat yang tidak direncanakan, yang akan berlalu dalam hitungan jam kembali kepada kehidupan masing-masing.

“Baiklah, sekarang giliranku. Aku menikahi istriku empat tahun lalu. Minggu depan adalah ulang tahun pernikahan kami yang keempat. Apakah aku menyayangi istriku? Benar. Apakah aku mencintai istriku? Benar. Jadi, apa yang terhilang dalam kehidupanku? Aku tidak tahu seandainya aku punya pilihan lain selain dirinya, akankah aku tetap menikah walaupun mungkin bukan bersama dirinya? Entahlah.”

“Kamu tidak bahagia, Nif.” Ucap Toni menyimpulkan.

“Bukan. Istriku yang tidak bahagia.” Timpal Hanif dengan rona kesedihan.

“Maaf, ini diluar wilayahku, Nif. Aku tidak bisa berkomentar lebih banyak.” Ujar Toni berusaha untuk tidak mengomentari kehidupan Hanif lebih jauh lagi.

“Its okay. Istriku memang tidak bahagia. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku terlalu terobsesi dengan ambisiku dalam mengejar kesuksesan dalam pekerjaanku. Aku menghabiskan lebih dari setengah dari waktuku setahun berada di luar rumah. Luar kota, luar negeri. Aku...entahlah.”

Jimmy menepuk pundak Hanif sembari melempar sebuah senyum simpati. Mencoba menenangkan pria yang baru ditemuinya hari ini dengan segudang kegundahan.

“Aku mencintai istriku. Tetapi aku mendapatkannya dengan cara yang cukup rumit. Aku merebutnya dari seseorang dengan cara mendekati Ayahnya, yang juga rekanan bisnisku saat itu. Aku hanya mendekatinya selama lima bulan, dan langsung menikahinya. Saat kami pertama kali di rumahnya, dia berkata dia sedang mengejar karirnya sukses sedini mungkin. Entahlah, Jim. Aku tidak mengerti, apakah aku telah merenggut masa mudanya terlalu cepat? Menyandang status seorang istri, di usia yang cukup muda, dimana jiwa masih bergejolak untuk mengejar mimpi-mimpinya?”

Jimmy membisu sepanjang cerita Hanif. Lidahnya terlalu kelu mengomentarinya. Sesekali dipandanginya jauh ke arah lampu yang gemerlap di dalam bar, penuh dengan kesedihan. Memorinya mencoba bergerak, memilah sebuah kisah yang tak pernah dilupakannya. Hanif melihat perubahan rona wajah Jimmy. Terselip perasaan bersalah atas ceritanya.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggung, Jim.”

Jimmy mengalihkan pandangannya, tersenyum kepada Hanif.

“Tidak masalah, Nif. Hanya Sedikit teringat kisah masa lalu.”

“Baiklah, Jim. Sudah saatnya kamu bercerita sesuatu yang rumit.” Goda Toni.

#11

Jimmy kembali tersenyum ke arah Toni. Dipalingkannya wajahnya ke arah sebuah gelas yang ada di tangannya. Matanya sayu memelas sejumput harapan di dalam minuman kesukaannya. Memorinya bergerak mundur ke sebuah kisah yang tak mungkin pernah dilupakannya sepanjang hidupnya. Sebuah cerita, dengan seorang wanita yang pernah begitu dicintainya.

Dering ponselnya berbunyi di tengah malam...sebuah nomor baru. Jimmy mengangkatnya.

Jimmy : Halo...

Suara Wanita : (Sambil menangis) Jimmy...

Jimmy : Lia?

Suara Wanita : (Terus menangis)

Wanita itu bernama Amelia, kekasih Jimmy. Jimmy berusaha untuk memahami ada apa yang terjadi pada kekasihnya itu.

Jimmy : Lia, ada apa?

Wanita itu tidak menjawab apapun. Hanya suara isak tangis yang terdengar.

Jimmy : Lia, kamu dimana? Ada apa?”

Amelia : (Sambil terisak-isak) Jimmy, lupakan aku. Lupakan aku. Jangan hubungi aku lagi.

Jimmy : Lia...ada apa?

“Tut...tut..tut...” Percakapan terputus. Jimmy mencoba menelepon balik Amelia.

Jimmy bangkit dari ranjangnya, mengenakan pakaian, bergegas menuju ke garasi. Mobil dikeluarkan dan dipacunya menuju rumah Amelia, menentang hujan yang begitu deras. Dalam pikirannya, muncul sejuta posibilitas apa yang terjadi pada Amelia. Memasuki pekarangan rumah Amelia, Jimmy membunyikan klakson memberi tanda kepada satpam yang berjaga. Jimmy keluar dan bergegas masuk ke dalam rumah. Ketika dibunyikannya bel beberapa kali, seorang pembantu membuka pintu dan betapa terkejutnya dia melihat Amelia beserta orangtuanya dengan seorang pria sedang duduk, menatapnya.

“Lia...” Desahnya pasrah.

“Jimmy...Maafkan aku.” Tutur Lia dengan deraian air mata.

“Jimmy, aku melanggar kepercayaan yang kamu berikan. Aku mengandung anak Bagas.” Tambahnya sembari menunjuk seorang pria yang ada di sampingnya.

“Lia...” Ucap Jimmy dengan mata berkaca-kaca. Ayah Amelia menghampiri dirinya, memberikan seringai yang tidak pernah bersahabat. Sebuah khas dari calon ayah mertua yang tidak pernah merestui hubungan mereka.

“Kamu tahu ini jam berapa? Sekarang kamu sudah dengar, Amelia tidak memilihmu. Pergilah anak muda, pergilah.” Ucapnya menyindir Jimmy secara halus.

Jimmy kehabisan kata-kata. Dibiarkannya air matanya yang berbicara kepada semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Jimmy membalikkan badannya dan melangkah perlahan.

“Jimmy...” Panggil Amelia yang beranjak dari sofa, menghampirinya dengan deraian air mata.

Jimmy acuh tak acuh.

“Jimmy...” Ucapnya lirih sembari memegang lengan kekasihnya itu, dan menatap kedua matanya.

“Maafkan aku...Maafkan Aku..” Mohonnya dengan teramat sangat. Jimmy tidak memerdulikannya, dan tetap melangkahkan kakinya berlalu dari rumah Amelia. Dipacunya mobilnya secepatnya dan berhenti di depan sebuah rel kereta. Dirasakannya hujaman hujan deras yang membasahi badannya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kebahagiaan yang nyaris padam di dalam hatinya. Sekali lagi tak sepatah kata terucap dari bibirnya. Hatinya terlalu beku untuk memahami, lidahnya terlalu kelu untuk menjerit, dan yang tersisa hanyalah dirinya dan hujan yang mengaburkan air mata yang sedari tadi membasahi pipi.


Hanif dan Toni terkejut mendengar cerita Jimmy.

“Aku tidak memahami cinta. Aku menemukan temanku memiliki kisah cinta yang sempurna, aku juga memiliki teman yang memiliki kisah cinta yang indah, namun ketika giliranku merasakan cinta, aku tidak mendapatkan hal terkecil dari kebaikan sebuah cinta.” Ujar Jimmy lirih.

Tanpa sadar, Jimmy langsung mengambil segelas bir yang ada di hadapan Hanif dan mulai meneguknya. Ada perasaan lapang di dalam dadanya, memberikan kekuatan untuk melanjutkan kembali ceritanya.

“Aku cukup beruntung. Sebelumnya, aplikasi belajar yang kukirimkan untuk di sebuah universitas terkemuka di Inggris di terima. Dan saat itu aku menganggap itulah jalan yang telah kupilih. Aku mencoba melupakan Amelia dan untungnya, bisa. Tiga tahun kemudian, aku kembali ke sini dan melanjutkan pekerjaanku dengan status baru yang lebih meyakinkan. Setahun kemudian, aku mengajukan pengunduran diri dan bergabung dengan perusahaan saat ini aku bekerja.” Terang Jimmy.

So, bagaimana dengan Amelia?”

“Entahlah, Toni. Aku tidak tahu. Yang kutahu hanyalah sebuah rasa sakit tentang cinta, sebuah rasa yang membuatku terlalu ragu untuk membuka hatiku untuk seorang wanita. ” Jawab Jimmy.

“Selama itu kamu tidak membuka hati untuk orang lain?” Tanya Hanif seolah tidak percaya.

“Ya, demikianlah kenyataannya.”

So, itu alasanmu kenapa kamu menolak cinta gadis idola yang ada di kantormu?” Selidik Toni.

“Itu alasan salah satunya. Tapi sebenarnya lebih rumit dari yang dibayangkan. Entahlah. Bila harus jujur, aku sendiri tidak terlalu peduli dengan hal itu, hahaha.” Ujar Jimmy tertawa kecil mengakhiri ceritanya kemudian meneguk bir di gelasnya hingga tak bersisa.

#12

“Hei, Bob. Tolong...” Ujar Toni sembari menunjuk kepada gelas mereka yang telah kosong. Bob mengambil tiga botol bir dan mereka mulai menikmatinya. Malam semakin larut. Minuman semakin banyak, kadar alkohol dalam darah semakin meningkat, kesadaran semakin berkurang dan mereka semakin berani untuk terbuka satu dengan yang lainnya.

“Kalian tahu, aku sudah lama tidak menyentuh istriku.” Ujar Hanif terus terang.

Mendengar hal itu, Jimmy dan Toni saling berpandangan, lalu tertawa.

“Istrimu tidak menyukai layananmu, Nif? Hahaha, bila kamu mau, aku punya kenalan yang bisa membantumu. Dia akan membantumu menjadi pria yang lebih perkasa.” Tawar Toni kepada Hanif.

“Hehehe, bukan begitu. Aku jarang di rumah. Klasik, persoalan pekerjaan.”

“Tunggu, atau jangan-jangan kamu sedang terlibat cinta terlarang dengan sekretarismu seperti Jimmy? Ayolah Nif, mengakulah, hahaha.” Tawa Toni menebak-nebak.

“Sialan.” Ujar Jimmy tersenyum masam.

“Hahaha, ayolah. Sepertinya kamu terlalu banyak menonton cerita cinta di televisi atau cerita dewasa, Toni.” Timpal Hanif.

Ketiganya tertawa.

“Karena pekerjaan? Berarti, hari ini aku merasa terhormat memiliki waktu bersamamu, dimana istrimu tidak mendapatkan waktu seperti ini. Bagaimana, Jim? Apakah kamu merasa terhormat bersama Hanif saat ini?”

“Tentu saja, Toni.”

“Baiklah, mari bersulang untuk Hanif, si workaholic sejati yang mengaku sayang istri.” Ujar Toni.

Ketiganya bersulang. Alkohol yang mengalir dalam darah mereka semakin banyak, membuat keberanian mereka semakin menjadi-jadi. Tiada lagi rasa segan, atau hal yang perlu di tutup-tutupi. Hanif melanjutkan ceritanya kembali.

“Aku bingung. Apa yang harus kulakukan untuk memberikan sebuah kejutan bagi istriku. Apa aku harus ke klinik dewasa sebagai hadiah?”

Jimmy dan Toni tertawa mendengarnya.

“Ide bagus, Nif.” Ucap Toni.

“Tidak. Hanif, kamu terlalu berlebihan. Aku punya sebuah ide yang sangat sederhana. Kamu coba hentikan semua aktivitasmu, pekerjaanmu selama seminggu ini hingga perayaan anniversary pernikahanmu. Coba tunda semua rapat, semua pekerjaan. Lakukan ini untuk istrimu.” Sanggah Jimmy terhadap perkataan Toni.

Hanif terdiam berpikir keras.

“Itu hal yang sangat sulit untuk kulakukan, Jim.” Jawabnya.

“Aku mengerti, Hanif. Kalau begitu, cobalah untuk memberi perhatian. Jalani aktivitasmu seperti biasa, namun berilah sedikit warna. Mulai perhatikan dia, berikan dia pujian. Apa kelebihanmu?”

“Kelebihanku, Jim? Aku sedikit ahli dalam memasak. Hobi.”

“Bagus. Ide bagus. Kamu bisa memasak sarapan untuknya.” Simpul Hanif.

“Well, sepertinya semua pria yang bilang “sini aku masakin!” akan kalah dengan pria yang bilang “sini aku masukin!”” Seloroh Toni penuh canda.

Ketiganya kembali tertawa.

“Sepertinya anak muda selalu menginginkan hal yang berhubungan dengan orang dewasa, Jimmy.” Timpal Hanif menanggapi.

“Benar, Hanif. Toni memang sedikit gila.” Candanya lagi.

“Baiklah. Terima kasih atas idenya. Aku akan memikirkan semuanya.” Tutup Hanif.

Jimmy melirik arloji yang melingkar di lengan kirinya. Malam sudah semakin larut, dan dia takut tidak bisa beranjak dari bar itu. Diambilnya dompet yang terselip di kantong celananya, mengeluarkan sebuah kartu. Diserahkan kepada Bob.

“Bob, ini malam indah. Aku ingin mentraktir teman baruku ini. Tambahkan semua tagihan Hanif dan Toni kepadaku saja.” Ujar Jimmy.

Bob mengangguk mengerti. Diterimanya kartu tersebut dan menggesekkannya ke sebuah mesin. Pembayaran selesai. Waktunya untuk pulang.

“Hanif, Toni, aku harus pulang. Senang bertemu dengan kalian. Ini kartu namaku.” Ujarnya sembari memberikan Hanif dan Toni kartu nama. Hanif juga mengeluarkan dompetnya, dan memberikan selembar kartu namanya untuk Jimmy dan Toni.

“Sepertinya perjalananku masih panjang untuk memiliki kartu seperti ini. Wajar, karena kartu ini tidak laku dipakai untuk bercinta dengan siapapun. Kecuali sama sekretaris sendiri. Bukan begitu, Jim?” Kelakar Toni mengggoda Jimmy.

“Sialan, hahaha.”

“Aku juga harus pulang.” Ujar Hanif.

“Oke. Terimakasih buat malam ini. Sampai bertemu lagi, Stranger.” Ujar Toni.

Jimmy dan Hanif berlalu dari hadapan Toni. Toni berjalan keluar Bar, menuju sebuah lokalisasi langganannya. Jimmy menyempatkan diri ke sebuah toko DVD, sebelum pulang ke rumahnya. Hanif, langsung pulang ke rumahnya, untuk melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda. Demikianlah malam itu terasa tidak biasa, dimana ada tiga pria dengan perbedaan yang kisah cinta, berbagi kisah mengenai cinta.


Cerita Cinta

Sedikit lelah mendesah jiwa

Takkan terulang di kala senja menjelang

Kita bersama untuk menghabiskan cerita

Tentang cinta yang tiada habisnya

Hi teman, malam masih panjang

Barisan kata terucap dengan jantan

Kamu tetap percaya, ini adalah curhat paling tepat

Berbicara kepada orang asing, terasa menyenangkan

Meski tak pernah terlintas dalam pikiran terliar

Ya, kali ini kamu benar


Waktu akan menjawab kegelisahan raga

Hati akan memahami berharganya rahasia

Cepat atau lambat, kita akan kembali bersua

Dan bisa berakhir tak bersama,

Sobat...


Bagian-2
Sepenggal Kenyataan Perasaan



Quote:



Dear HRD,

Bersamaan dengan email ini, saya ingin mengonfirmasi saya telah mengisi form pengajuan selama 3 hari untuk tanggal 13 – 15 April 2005 di HRIS. Pengajuan cuti juga sudah mendapat approve dari atasan saya. Demikian email ini saya sampaikan, atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

Salam,

Mawar



Demikian sebuah surel yang dikirimkan oleh Mawar kepada HRD tempat dirinya bekerja. Sebuah surel yang berisikan keinginannya untuk mengambil “rehat” sejenak dari pekerjaan di kantornya, yang begitu menyita banyak perhatiannya hampir setiap harinya. Sebagai seorang sekretaris, Mawar tidaklah memiliki banyak kesempatan untuk terlepas dari atasannya.

Mawar, seorang wanita yang menjadi ‘idola’ di lingkungan kerjanya. Cantik, pekerja keras, pintar, dan baik hati. Bila harus jujur, Mawar adalah sosok ideal yang diidamkan oleh hampir semua laki-laki di dunia ini. Meskipun demikian, Mawar yang telah memiliki pasangan, dan memiliki banyak “penggemar rahasia”, menyimpan sebuah rahasia kecil yang buruk, dimana dia menyimpan sebuah perasaan kepada atasannya yang di kantor.

“Tok...Tok.” Bunyi ketukan pintu

“Silahkan masuk.” Jawab suara bariton seorang pria yang duduk di dalam ruangan sembari membereskan beberapa berkas yang ada di atas mejanya. Ya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Jimmy, dan Mawar adalah sekretarisnya. Mawar membuka pintu ruangan dan masuk dengan penuh kehati-hatian. Ternyata sang sekretaris yang masuk.

“Eh, Mawar...silahkan duduk. Ada apa?”

“Pak, kemaren saya sudah menyampaikan permohonan cuti saya. Saya ingin bertanya apabila ada pekerjaan lain yang bisa selesaikan, sebelum saya mengambil cuti minggu depan.”

“Hmm...take it easy, Mawar. Saya senang kamu itu sosok yang pekerja keras, namun ide kamu untuk cuti ini adalah ide saya. Kamu menghabiskan begitu banyak perhatian membantuku, begitu hebat. Namun, saya khawatir kamu terpengaruh keadaan sekarang.”

“Saya baik-baik saja, Pak.”

“Mawar, banyak orang berakhir tidak bahagia karena mereka membuat keputusan mutlak dalam emosi sesaat. Saya yakin kamu membutuhkan rehat. Saya tahu kamu telah bekerja begitu keras selama beberapa bulan terakhir, dan insiden tempo hari tentu menganggu pikiranmu. Jika kamu tidak melakukan ini, aku yang akan memintamu untuk melakukannya. Karena kamu begitu berharga buat lingkungan ini.” Tandas Jimmy.

Mawar tediam seribu bahasa dan menundukkan wajahnya. Tiada keberanian tersisa dalam dirinya untuk menghadapi atasan yang dikaguminya.

“Mawar...”

“Ng...Ya..a, Pak?” Jawabnya terbata-bata. Tanpa sadar, air matanya menetes mengaliri wajahnya yang memesona.

“Ini...” Jimmy menggeser sekotak tissue yang ada di depannya. Mawar mengambilnya dan mengusap air matanya.

“Sepertinya kamu sedang dalam mood yang tidak baik. Ngopi sambil ngobrol di kedai depan sepertinya menjadi ide yang bagus. Ayo.” Ajak atasannya. Mawar mengekor dari belakang. Turun dari lift dan berjalan sekitar dua puluh meter, mereka telah tiba di sebuah outlet kedai kopi terbesar di dunia. Setelah memesan, keduanya duduk di sebuah sofa yang tersedia.

“Kamu ingin membahas kejadian kemaren? Baiklah.”

“Kenapa Bapak acuh tak acuh...kenapa, Pak? Saya menyukai Bapak sejak pertama kali bertemu.” Kembali air mata Mawar mengalir, namun kali ini lebih deras dari sebelumnya. Atasannya hanya terdiam. Mulutnya terkunci rapat, tak mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Mawar. Pikirannya meracau memutar insiden beberapa hari lalu, saat jurnal kerja Mawar terjatuh dan ditemukan oleh Office Boy. Sialnya, ruangan rapat digunakan oleh beberapa depertemen pada hari itu dan tidak mudah mencari tahu siapa yang membaca jurnal itu. Diatas semuanya, hal itu tidak menyelesaikan masalah apapun. Setelah berbicara empat mata, Jimmy mengakui sungguh menyukai Mawar sebagai seorang profesional, namun tidak halnya dalam persoalan kenyataan perasaan.

“Pak...”

“Maafkan saya, Mawar. Jawaban saya tidak berubah.” Ucap Jimmy pelan.

“Pak...”

“Kita harus menghargai hubungan kita. Saya senang berteman denganmu, dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi, Mawar. Kamu juga pernah bercerita sudah memiliki kekasih, saya sudah menetapkan pilihan saya terhadap seseorang. Kenapa kamu begitu menginginkan lebih dari sekedar berteman? Hidup kita sudah nyaris sempurna.”

“Pak, mengapa semuanya sulit dimengerti? Semua ini menyakitkan.”

“Mawar, percayalah, cinta tak membuatmu sakit. Kesetiaanlah yang menyakitkan.”

Mawar terdiam seribu bahasa.

“Evan, bagian Engineering, sedari dulu dia menyukaimu. Kamu memiliki banyak penggemar di kantor ini, Mawar. Kamu juga sudah memiliki pasangan. Jalan pikiran wanita memang rumit, serumit kisah cinta Twilight.”

Evan? If I have to, It’s better to lose a lover than love a loser. Dia tidak pernah mengatakan apapun, bagaimana saya bisa menyukainya?”
image-url-apps
ini obrolan strangers yang merasa cocok satu sama lain dan dibawah pengaruh alkohol ya ?

entah kenapa gue yakin ini like true story. because gue juga pernah ngalamin dulu..curhat dengan orang yang enggak di kenal di tempat yang jauh dari rumah..
Quote:



Iya gan emoticon-Malu (S)

Keep reading dan jangan lupa diemoticon-Rate 5 Star ya gan emoticon-Smilie
×