alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Semoga Tuhan Memelukmu di SurgaNYA Nanti
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/553e5770d89b09941a8b4570/semoga-tuhan-memelukmu-di-surganya-nanti

Semoga Tuhan Memelukmu di SurgaNYA Nanti

Pagi itu aku berkelahi, tepatnya memukul seseorang yang tidak aku kenal, anak muda berseragam putih abu-abu. Gara-garanya sepele, si anak yang berboncengan itu menabrak seorang ibu penjual sayur, yang biasa berkeliling kampung menjajakan dagangannya dengan sepeda ontel bututnya.

Kejadiannya tepat di depanku, disebuah simpangan kecil yang tidak begitu jauh dari rumahku. Tidak frontal memang, tapi membuat beberapa ikat sayuran dan macam-macam bungkusan jualannya jatuh ke tanah.

Sebenarnya masalah bisa langsung selesai bila si pelaku turun dari motor dan membantu ibu tadi untuk mengumpulkan dagangannya yang berantakan itu. Tapi dasar anak muda, bukannya membantu atau minta maaf, malah tancap gas, berniat kabur dengan menyisakan asap knaplot yang bikin mata perih dan membuatku sedikit batuk.

Tanpa menunggu bendera start dikibarkan, aku langsung tancap gas juga untuk mengejar anak tadi. Hanya dalam hitungan sepersekian detik atau tidak sampai 50 meter jaraknya, anak ugalan tadi dapat kuhentikan dengan paksa. Sempat kaget juga dia melihat ada yang bisa mengejar laju motornya. Maklum penampilan motornya oke banget, model balap seperti tunggangannya Valentino Rossi. Rupanya dia belum tahu dan belakangan baru sadar kalau yang mengejar adalah motor berlabel “Cantona7” yang kesohor itu.

Dengan tenang jagoan kita ini (ehm..ehm..) meminta supaya anak tadi bertanggungjawab terhadap si ibu penjual sayur itu. Setidaknya meminta maaf atau membantu mendirikan sepedanya yang terjatuh itu.Tapi apa lacur, bukannya nurut malah ngajak berantem, main keroyok pula. Tanpa pikir panjang aku langsung mengeluarkan jurus patpatgulipat warisan Abang Indra, guru silatku waktu di SD. Ternyata ampuh juga, hanya dengan sekali tipuan musuh langsung sempoyongan akibat terkena pukulan yang mengenai rahang kirinya. Sebenarnya tidak begitu telak kenanya, walau begitu cukup membuat gentar dan ciut nyali kedua anak itu.

Saat itulah si ibu penjual sayur itu berlari menghampiri kami, melerai kami dan menasehati kami agar tidak berkelahi. “Sudah nak, sudah nak, jangan bekelahi ikam.” (jangan berkalahi kamu), katanya berulang-ulang dengan bahasa Banjar tapi dengan logat Jawanya yang kental. “Bibi kadapapa na, mungkin inya kada sengaja jua!” (Bibi tidak apa-apa kok, mungkin dia tidak sengaja juga!), kata si ibu itu lagi sambil memelototiku. Sebuah ucapan bijaksana yang menyadarkan kami untuk tidak saling serang.

Belakangan aku berpikir, betapa bijaknya sifat ibu ini. Manusia penyabar yang pernah kutemui. Dari seorang korban ketidakadilan tapi justru membela pelakunya saat tertangkap. Seandainya aku menjadi ibu tadi, mungkin aku akan ikut memukul anak itu juga, demikian pikirku. Hari ini aku mendapat pelajaran hidup yang sangat berharga, hanya dari seorang ibu penjual sayur! (Maaf ya Bu, ada kata ‘hanya”nya). Bukan dari orang golongan atas yang berpendidikan dan mengaku pintar tapi kebanyakan busuk hatinya.

Ketika orang mulai berdatangan, akupun langsung pamit kepada si ibu tadi, sambil menanyakan apakah betul dia tidak kurang suatu apa, yang dijawab dengan anggukan disertai dengan senyuman manis dari balik topi Golkar yang warna kuningnya sudah berubah menjadi coklat akibat terlalu sering terkena debu jalanan. Sebelum pergi sempat kulihat kedua anak itu menyalami si ibu dengan tertunduk-tunduk. Pasti mereka minta maaf pikirku, batinkupun bersyukur.

Sesampainya dirumah, duduk aku dimeja makan, maksud hati mau sarapan tapi malah tercenung, teringat-ingat akan kejadian yang baru dialami. Seumur hidup baru sekali ini aku berkelahi dan memukul orang. Kita anti kekerasan! Kita anti anarkis! Begitulah yang sering kami dengung-dengungkan kepada semua anggota suporter sepakbola kami, agar mereka tidak membuat ulah saat menonton suatu pertandingan.

Beberapa hari kemudian, atau hampir sebulan sejak kejadian diatas, aku melihat ibu penjual sayur itu lagi, masih menggunakan topi Golkarnya, asyik mengayuh sepedanya yang penuh muatan. Kuhentikan mobilku, kukejar dengan sedikit berlari dan kusapa ia dengan riang.

Si ibu tampak kaget tapi masih mengenaliku, “Oooh, ikam kah nak, ada apa?” (Ohhh, kamu ya nak, ada apa?), ujar si ibu tetap berbahasa Banjar dengan khas logat Jawanya yang medok. Ingin tertawa rasanya mendengar gaya bicaranya, tapi tawaku kutahan, takut dia tersinggung dan malah bikin dosa. “Beli sayur Bu..” kataku.

Diapun mulai menawarkan semua koleksi dagangannya. Aku beli seekor ayam potong, ikan patin, bayam kesukaanku, tempe dan wortel juga sebungkus kecil cabe merah.

Selagi berbelanja, sempat kami berkenalan dan ngobrol tentang harga pangan yang terus naik, iapun mengeluh soal harga obat yang terus melambung. Gaya bicaranya santun, enak didengar dan sangat bersahabat. Kamipun mengobrol diselingi canda, layaknya orang yang sudah lama saling mengenal.

Panggil saja “Bi Mar” jawabnya, ketika aku menanyakan namanya. Aku menawarkan diri untuk memanggilnya “Bu” bukan “Bi”, karena terasa kurang enak didengar bila memanggil dengan panggilan tersebut. “Ndak usah nak..” tolaknya halus, “Wong sa’ kampung sampe langganan ya manggilnya Bibi semua”, sambungnya lagi sambil mengubar senyum manisnya. Keluar deh bahasa aslinya, kata hatiku. Tampak jelas rendah hatinya, sosok manusia tegar yang tidak ingin dikasihani, yang tidak pasrah dengan keadaan.

“Berapa semua Bu?” kataku dengan tetap memanggilnya Ibu bukan Bibi. Diapun lalu mengeluarkan kalkulator kecil yang diselipkan dibalik tumpukan kantong plastik yang tergantung di stang sepedanya. “58 ribu rupiah aja”, jawab Bu Mar sambil bercanda. Akupun memberinya 100 ribu rupiah sisa uangku, yang rencananya untuk mengisi bensin mobilku yang sudah empty. “Susuk’e nggak usah Bu” kataku dengan bahasa Jawa asal-asalan, sambil berjalan menuju mobilku.

“Lho..lho..nak.., kok akeh!” teriaknya terheran-heran, lalu mengejar-ku dan memasukkan beberapa panganan ringan jualannya kedalam mobilku. Aku terpana saat melihat wajah ibu ini, raut keikhlasannya sangat jelas, baik saat menerima maupun memberi sesuatu. Aku yakin, Tuhan akan selalu melindungi dan menjaga orang seperti ibu ini.

Bu Mar adalah salah satu orang terbaik yang pernah kukenal, ia adalah pahlawan bagi keluarganya. Ia menghidupi 2 putri kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Beberapa tahun yang lalu, anak laki-laki tertuanya yang menderita asma meninggal akibat ketiadaan biaya berobat. Suaminya sendiri aku tidak tahu, enggan rasanya menanyakan lebih jauh tentang keluarga mereka. Takut dikira informan polisi atau anggota CIA, jadi malah runyam nantinya.

Tampak beberapa orang melihat dengan bingung saat kami saling melambai sebelum berpisah. Ingin rasanya aku turun dari mobilku untuk memeluknya, tapi takut jalan jadi macet akibat melihat adegan Teletubbies kami. Aku laki-laki, tapi cukup membuat mataku berkaca-kaca saat dia mengucapkan syukur dengan mata terpejam dan berterimakasih padaku.

Ah, Bu Mar. Sebenarnya aku yang berterimakasih padamu. Ibu telah mengingatkanku lagi akan arti syukur dan peduli pada sesama. Syukurkupun terucap kepada Yang Kuasa, yang telah memberiku kesempatan berkenalan dengan wanita hebat ini.

Bu Mar, maafkan aku tidak sempat memelukmu pagi itu.
Bu Mar, semoga Tuhan memelukmu di surgaNya nanti.
Tertitip doa untuk mama tercinta, yang telah lama mendahului kami.
Mama, semoga Tuhan memelukmu di taman yang indah di surgaNya nanti.
Urutan Terlama
menyentuh sekali gan emoticon-Matabelo


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di