alexa-tracking

Mengakhiri Ketidakadilan Global

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/553e4f051cbfaab0498b4569/mengakhiri-ketidakadilan-global
Mengakhiri Ketidakadilan Global
Sudah sering bangsa ini dibuat malu oleh sejarah. Kebesaran dan kemakmuran masa lalu seperti kepayahan yang diulang lagi. Namun, sejarah sama sekali tidak terasa getir di peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Kesadaran antiimperialisme yang digaungkan Presiden Soekarno di Bandung pada 1955 dibangkitkan lagi lewat seruan keadilan global oleh Presiden Joko Widodo.

Di hadapan lebih dari 100 kepala negara/kepala pemerintahan, wakil kepala negara/kepala pemerintahan, serta perwakilan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, kemarin, Jokowi dengan lugas menggugat ketidakseimbangan dunia. Ada tiga pokok utama yang disoroti Jokowi.

Pertama, ia mengingatkan perjuangan KAA yang belum selesai. Penderitaan rakyat Palestina ialah utang di atas keadilan global. Sebab itu, Jokowi kembali menegaskan seruannya seperti yang telah diungkapkan di hari sebelumnya bahwa negara KAA harus memperjuangkan sebuah negara Palestina yang merdeka.

Tidak berhenti pada penderitaan Palestina, Jokowi juga tegas mengecam entitas yang semestinya berada di garda depan kesetaraan dunia, yakni PBB.Inilah yang menjadi pokok kedua pidato Jokowi.

Dengan terbuka Jokowi mengecam PBB yang lebih memihak negara kaya (Utara). Sebab itu pula ia menyerukan reformasi badan dunia yang sudah berusia 69 tahun itu.

Jokowi juga mengkritik terlalu besarnya peran badan keuangan dunia, seperti Bank Dunia, IMF, dan ADB. Pengelolaan ekonomi dunia di tangan ketiga lembaga tersebut ialah prinsip yang sudah usang dan karenanya, Jokowi menyerukan perlunya kekuatan ekonomi baru.

Memang, pidato itu baru awal dari langkah. Perubahan dunia tidak akan tercipta dari Jokowi ataupun Indonesia semata, tetapi butuh solidaritas seluruh negara peserta KAA.

Namun, seperti juga yang telah dibuktikan Bung Karno, gerakan perubahan dimulai dari keberanian. Tidak hanya berani menetapkan tujuan yang menjadi cita-cita bersama, tapi juga berani mengungkapkan kelemahan dan kegagalan global. Itulah, misalnya, yang mewujud dalam bentuk kolonialisme dalam sistem komunitas internasional.

Karena itu, kita pantas bangga memiliki pemimpin negara yang berani menunjukkan kapasitasnya di forum internasional. Lebih dari itu, seruan Jokowi ialah tamparan bagi negara-negara kaya, lembaga keuangan dunia, dan PBB.Gerakan yang didengungkan Jokowi mengingatkan mereka bahwa sejatinya kerja sama negara-negara di dunia bukanlah layaknya bisnis yang mementingkan untung semata.

Posisi negara bukan ditentukan dari banyaknya kapital yang ia miliki ataupun banyaknya dana yang ia gelontorkan. Pun begitu dengan kerja sama antar negara yang semestinya didasarkan karena cita-cita murni perdamaian, bukan dalam bentuk baru penjajahan.

Tentu saja pidato Jokowi yang menantang tersebut tak cukup hanya dipuji, tetapi harus diuji apakah benar-benar menjadi bahan bakar baru menggerakkan revitalisasi dan reaktualisasi Dasasila Bandung mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat Asia-Afrika.

Apa yang digambarkan Presiden Jokowi sebagai ketidakadilan, kesenjangan, dan kekerasan global harus benar-benar didaratkan. Saatnya negara-negara KAA bergerak nyata.Kekuatan baru dunia hanya bisa lahir jika negara Asia dan Afrika saling mendukung. Negara-negara KAA yang menjadi pusat ekonomi baru dunia selayaknya menjadi motor perekonomian kawasan. Kerja sama di antara negara harus ditingkatkan, baik perdagangan, energi, teknologi, sumber daya manusia, maupun lingkungan.
emoticon-I Love Indonesia
pidato yang sangat menyentuh