alexa-tracking

#NoBodyKnow Kalo Males Baca gapapa gan gausah di Read ^^ Boleh di Reshare kok

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5536513560e24bfc1f8b456a/nobodyknow-kalo-males-baca-gapapa-gan-gausah-di-read--boleh-di-reshare-kok
#NoBodyKnow Kalo Males Baca gapapa gan gausah di Read ^^ Boleh di Reshare kok
#NobodyKnow.

Disini penulis berperan sebagai semua benda mati yang ada di sekitar atau sering digunakan oleh penulis. Kalau ditanya benda matinya apa saja? Itu bisa semua hal yang ada disekitar penulis. Dan penulis berperan sebagai pihak ke 3

===================================

Berawal dari sebuah perkenalan kecil yang dialaminya. Aku tak pernah tahu apa yang ia (Penulis) rasakan. Karena setelah pertemuan yang lama ia begitu merasa senang dan begitu gembira. Aku tak pernah tahu apa yang ia rasa. Apakah ia bertemu kembali dengan orang special yang sempat hilang sekian lama? ataukah ia memang merasa senang ketika kembali dipertemukan kembali setelah sekian lama tak berjumpa? ah aku tak pernah mengerti apa yang ia rasakan. Yang aku lihat ia begitu senang dan bahagia ketika orang itu membalas setiap chatnya;

Hingga akhirnya aku rasa ia berhasil atau memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang tersebut. Jelas aku terkejut mengapa ia (penulis) begitu bahagia bertemu kembali dengan orang tersebut, Mungkin ia begitu indah menurutnya (penulis). Aku hanya bisa melihat ia begitu senang ketika bisa bertemu kembali dan juga bisa saling bercanda bersama dilatar rumahnya. Aku melihat ia (penulis) begitu bahagia ketika bisa saling bernyanyi bersama sembari sesekali meng-genjreng gitar kopongnya bersama orang tersebut. Mungkin itu sebuah kebahagiaan untuknya meskipun aku sendiri tak tahu apa yang orang tersebut rasakan ketika bersamanya (penulis).

Hingga akhirnya hari semakin petang. Aku melihatnya memancal sepeda motornya untuk mengantar orang tersebut pulang kembali kerumahnya setelah sebelumnya ia jemput ditempat yang sudah mereka sepakati bersama. Aku melihat raut wajahnya (Penulis) begitu senang dan bahagia setelah sampai dirumah. Aku sedikit yakin bahwa ia memiliki perasaan kepada orang tersebut. Karna aku tak pernah melihat ia begitu senang tak seperti biasanya;

dan akhirnya ia mulai untuk men-Chat sebuah kata kata kecil kepada orang tersebut walau hanya sekedar mengucapkan kata terima kasih yang mungkin terselip sebuah perasaan yang mungkin terlalu cepat untuk ia nyatakan kepada orang tersebut. Sehingga aku yakin ia hanya ingin melihat apa respon dari orang tersebut, apakah orang tersebut memiliki perasaan yang sama terhadapnya (Penulis) atau hanya mengganggap ia sebatas teman lama yang baru bertemu setelah sekian lama.

Hari demi hari aku selalu memperhatikannya. Aku melihat perbedaan yang amat sangat aneh. Aku tak pernah tahu apa yang ia rasakan saat itu. Apakah ada masalah atau ada apa? Tapi aku hanya bisa memperhatikannya.

Hingga akhirnya aku rasa ini adalah sebuah akhir untuk ia (Penulis) tanpa aku sadari, ia telah terlebih dahulu menyatakan perasaannya kepada orang tersebut lewat chat. Ah itu terlalu bodoh aku rasa. Jelas saja ia mulai berubah, ya aku tak bisa membantunya dalam hal apapun. Karna aku kira ini adalah akhir untuknya.
Perlahan orang tersebut mulai mengganti ID Chat nya. Dan alhasil ia hanya bisa men-Delete Contact orang tersebut. Aku tau itu berat untuknya. Tak dirumah, Tak disekolah, hanya raut wajah Khawatir, Galau, Cemberut, Sedih dan lain lain. Wajah itulah yang aku liat darinya meskipun banyak orang disekitarnya yang mencoba menghiburnya.

Aku ingin sekali menayakan ia ada apa. Tapi aku berubah fikiran ketika sahabat nya bertanya ia kenapa? Karna ia hanya bisa diam dan diam saja. Akupun hanya bisa diam melihat ia seperti itu dimanapun.

Sampai akhirnya seminggu telah terlewati. Aku lihat ia memberanikan diri untuk meminta maaf akan perasaannya kepada orang tersebut mungkin karena ia terlalu cepat untuk mengatakan cinta kepada orang tersebut dan alhasil ia harus dijauhi seperti itu. Aku melihat jemarinya mengetik sebuah pesan di Facebooknya untuk orang tersebut. Aku yakin ia merasa kehilangan yang amat dalam ketika itu. Jadi Aku hanya bisa membantunya untuk selalu berada disamping nya sebagai benda mati.

Tak lama kemudian, beberapa hari setelah itu. Aku melihat ia begitu sedikit tersenyum bahagia ketika melihat pin baru dari orang tersebut. Ia memberanikan diri untuk mencoba meng-Invitenya kembali dan mencoba menchat nya juga walau hanya sekedar "PING!!!" Kecil yang ia berani kirimkan.
Alhasil ia mendapat respon baik yang membuat ia sedikit tersenyum. Aku melihat ia sedikit demi sedikit mulai mencairkan suasana dan mulai kembali seperti layaknya hanya teman yang bertemu kembali dengan teman lama. Meskipun aku yakin ada perasaan yang tersimpan untuk orang tersebut. Aku bisa melihatnya dari raut wajahnya;

Hingga akhirnya merekapun kembali lagi seperti dahulu. Kembali seperti bersama sama setelah apa yang ia lewati bersama. Dan akhirnya ia pun mencoba membuat sebuah band bergenre acoustik yang berisikan hanya 2 orang. Yaitu ia dan juga orang tersebut;

Hari itu. Aku melihatnya memancal motor lagi untuk menjemput orang tersebut. Aku tak tahu apa yang ia rencanakan. Yang aku tahu ia selalu membawa gitarnya dan selalu seperti itu. Hingga akhirnya aku melihatnya berhenti di sebuah tempat minum es. Wah aku tak tahu apa maunya. Tapi itulah tempat yang biasa ia kunjungi untuk persiapan menuju acara pada tanggal yang sudah dijanjikan dan sudah disepakati bersama.

Hampir 1 minggu ia selalu melakukan hal seperti itu. Meskipun tak setiap hari. Yang aku lihat, ia hanya Menjemput, Duduk dan Saling bernyanyi bersama setelah itu mengantar orang tersebut pulang. Ia tak pernah bosan melakukan hal tersebut. Karna aku yakin ia merasa senang bisa bersama dengan orang tersebut walau hanya seperti itu. Aku yakin ia menyukai hal tersebut.

Akhirnya ia dan orang tersebut harus menghadiri Technical Meeting yang memang sudah dijanjikan untuk datang. Karena ia dan orang tersebut harus menghadiri TM untuk bisa mengikuti Acara pada tanggal yang sudah disepakati. Wah aku senang melihat ia bisa berdua dalam rangka yang berbeda. Meskipun untuk 1 tujuan yang sama;

Terkejut bukan main aku ketika mendengar ia mengatakan semua hal yang selama ini ia pendam didalam hatinya kepada orang tersebut. Bukan main, Aku salut sekali ketika mendengar ia mengatakan kata "Sayang" ya walaupun ia harus mendapatkan jawaban yang menggantung didalam hatinya. Tapi ia tak berkecil hati ataupun kesal dan marah. Karena ia tahu ia bisa jujur kepada orang tersebut.

Setelah itu hari tetap berjalan hingga akhirnya tak terasa ia dan orang tersebut harus benar benar siap untuk menghadapi panggung. Aku melihatnya begitu rapih dipagi hari dengan celana cream agak pucat dan jersey yang dibalut dengan sebuah rompi jeans tak lupa tas yang berisi pakaian ganti dan juga gitar yang ia gendong dari pagi hari. Ia pamit dan meminta restu dari orang tuanya untuk menghadapi demam panggung nantinya, meskipun aku yakin ia tak pernah demam panggung.

Sembari berjalan. Ia mulai menuju kerumah orang tersebut untuk mempersiapkan diri. Ia tak berani untuk memanggil karena posisi nya memang masih sangat awal. Hingga aku hanya melihat ia duduk di latar rumah sampai ada orang yang melihatnya. Dan benar saja, Aku lihat ibu dari orang tersebut melihatnya dan mulai memanggilkan orang tersebut. Mereka saling sapa menyapa dan saling bercanda. Aku melihatnya begitu senang. Hingga akhirnya aku melihat ia untuk menunggunya karena orang tersebut harus memanggil temannya dan juga menunggu temannya yang lain datang.

Ketika semua sudah siap, Aku sedikit terkejut karena mungkin ia mengharapkan bisa membonceng orang tersebut, Alhasil ia harus membonceng teman wanita dari orang tersebut dan orang tersebut memilih bersama dengan teman lelakinya. Aku tak tahu apa yang ia (Penulis) Rasakan pada saat itu. Aku hanya melihat raut wajah senyum sembari sesekali sedikit cemberut sambil terus meratapi jalanan.

Hingga saat belum sampai tempat tujuan. Ia harus kehujanan bersama yang lainnya. Dan aku melihatnya berteduh di sebuah pertokoan yang memang belum buka. Aku tahu sifatnya. Ia mencoba untuk tak terlihat kecewa atau sedih. Yang aku lihat adalah, ia terus bercanda sembari menikmati sebatang rokok yang dihisapnya yang didapatkan dari teman lelaki orang tersebut. Aku faham betul ia memang suka seperti itu. Karena ia memang bukan orang yang sombong terhadap orang lain.

Hujan mulai berhenti. Aku melihat ia mulai melanjutkan perjalanan dengan wajah yang sedikit mulai perlahan merasakan sedih. Tapi aku tahu, ia tak pernah merasa disakiti. Karena mungkin ia sudah biasa mengalami hal seperti itu. Dan ia juga memang tipe orang pemaaf yang tak pernah mengingat kejahatan seseorang. Terlebih lagi ia masih menyimpan rasa sayang yang besar kepada orang tersebut.

Tapi berbeda dengan perkiraan, aku melihat ia tersasar dan harus kembali kehujanan. Aku melihat ia begitu terkejut ketika teman lelaki itu menggandeng orang tersebut dengan begitu erat dan begitu nyaman. Aku hanya bisa melihat ia meratapi sepasang sepatu yang ia gunakan begitu basah dan terus memperhatikan hal yang ada di depannya. Begitupun dengan orang tersebut, sesekali aku melihat ia menatapi kemesraan orang tersebut dengan teman lelakinya sampai hujan berhenti.

Ketika hujan mulai reda, Ia memilih untuk diam dan melanjutkan perjalanan dengan harapan tak ada kesasar atau halangan apapun. Hingga akhirnya aku dan ia sampai di tempat tujuan dengan penuh rasa bangga. Tapi aku sedikit bingung dengan apa yang ia rasakan. karena mungkin ia begitu merasa bahwa orang yang ia sayang akan dimiliki ornag lain. Tapi ia tetap berperan seolah tak terjadi apa apa.

Sampai di tempat untuk mempersiapkan segalanya. Aku melihat orang tersebut bertanya. "Elu kenapa iz?" wah itu pertanyaan yang mungkin tak akan ia jawab.

Sampai pada saat ia harus naik panggung dan turun panggung dengan perasaan senang, ia tetap diam dan diam. tak banyak yang ia ingin bicarakan. Mungkin ia begitu tak menyangka bahwa ia menyayangi orang yang akan menjadi milik orang lain.

Sampai akhirnya aku melihat ia merapihkan semua peralatannya dan siap untuk pulang. Ia memasukkan gitar kedalam tas gitar, Memasukkan pakaian yang tak dipakai dan juga segalanya. Aku melihat wajah sedih karena handphonenya harus terjatuh dan mati ketika itu.

Hingga akhirnya perjalanan pulang. Aku terus melihat ia meng-Khawatirkan orang tersebut berada di belakang bersama teman lelakinya. Hingga tak tahu kenapa, ia berhenti dipinggir jalan dan menunggu orang tersebut hingga akhirnya orang tersebut lewat. Aku begitu terkejut melihat wajahnya yang begitu shok ketika melihat orang tersebut memluk erat teman lelakinya begitu erat seerat eratnya.

Ia adalah orang bodoh, ia tak pernah memiliki perasaan dendam dengan semua. Karena dia bodoh, ia bisa saja melupakan hal seperti itu ah tapi ia memang sedang sedih mungkin. Jadi aku hanya bisa mempercayainya ia tak kenapa napa. Karena ia memang sangat menyayangi orang tersebut.

Yaps. Handphonenya memang mati dan tak bisa meng-Hubungi orang tersebut. Ia begitu kangen dan ingin sekali bertemu dengan orang tersebut. Meskipun ia tak memegang handphone ia mencari segala cara untuk bisa bertemu kangen dengan orang tersebut sampai akhirnya ia bisa bertemu. Aku yakin banyak yang ingin ia katakan. dan aku yakin ia begitu. Karena terlihat dari matanya yang ingin memeluk orang tersebut sembari berkata "Aku Sayang Kamu Nia". Tapi ia tak berani untuk bisa seperti itu.

Ia hanya bisa membuat orang tersebut nyaman senyaman mungkin hingga akhirnya pun ia dan orang tersebut saling merasa nyaman. Perlahan wajah murung nya mulai kembali ceria karena ada rasa saling nyaman diantara mereka berdua. Aku bersyukur ia bisa menemukan orang yang benar benar bisa mengerti dirinya meskipun statusnya orang tersebut milik orang lain. Dan ia pun tetap tak pernah bosan untuk menunggu dan menunggu apapun resikonya. Sedih, Senang, Kecewa, Ke-Gep, Marah, Kesal, Tertawa, Menangis, Semua ia rasakan bersama meskipun tak semuanya dirasakan bersama.

Tapi aku yakin ia begitu senang karena ia mengetahui kalau orang tersebut juga memiliki rasa sayang yang sama dan itupun membuat ia semakin tak pernah mundur kebelakang. Karena semakin hari aku selalu melihatnya semakin dekat seperti sepasang kekasih yang selalu bersama. Meskipun ia tak pernah sama sekali mendapatkan sebuah pelukan yang erat atapun sebuah ciuman kecil yang begitu dekat. Karena aku selalu melihat ia tak pernah ingin melukai ataupung mengotori orang tersebut. Yang aku tahu, Ia hanya ingin membuat orang tersebut berada begitu nyaman di dekatnya (Penulis)

Semakin hari semakin besar rasa sayang ini. Itulah kata kata yang selalu aku dengar ketika ia berkata didalam kamarnya yang sepi. Ia selalu mengatakan bahwa orang tersebut adalah orang yang membuatnya berubah dan selalu berubah setiap saat. Semua rasa sakit yang pernah dialaminya semua hilang ketika berada disamping orang tersebut. Aku selalu tersenyum melihat dia bahagia bersama orang tersebut karena aku yakin ia memang bahagia menemukan orang yang tepat untuk dirinya.

Namun, aku tak pernah tahu. Ia selalu merasa sedih ketika orang tersebut mengatakan akan meninggalkan ia (penulis). Ia selalu merasakan hal yang aneh ketika orang tersebut mengatakan akan pergi. Aku hanya takut ia juga akan ikut pergi meninggalkan segalanya ketika tahu bahwa orang tersebut sudah benar benar pergi. Aku mengerti perasaannya yang selalu menunggu orang tersebut. Meskipun berkali kali orang tersebut mengatakan bahwa dirinya jahat, Aku tahu ia tak pernah menganggap bahwa dirinya jahat. Karena dia sudah nyaman dengan orang tersebut. Dan akupun selalu meyakini bahwa ia adalah orang yang kuat, dan akan selalu menunggu apapun keadaannya.

Ia selalu meyakinkan orang tersebut bahwa orang tersebut bukanlah orang yang jahat. Karena ia tak pernah ingin kehilangan orang yang ia sayangi begitu dalam.
sesekali ia bertanya didalam kamarnya. "Apakah aku salah menyayanginya? Apakah aku harus membuang rasa sayang ini agar ia tak pergi? Apakah sikapku yang menyayanginya yang ingin membuatnya pergi?" Aku selalu khawatir ia seperti itu. Aku mengerti ia menyayangi orang tersebut. Tetapi ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Aku tak pernah ingin melihat ia menyerah begitu saja ketika orang tersebut pergi meninggalkannya. Aku tahu ia tak semudah itu untuk menyerah pada keadaan.

Kata kata terakhir yang aku dengar adalah, Bahwa ia selalu menginginkan untuk bisa "Memeluknya erat sembari mengatakan bahwa ia mencintai orang tersebut, dan menjadi miliknya hingga maut memisahkan mereka". Tetapi aku yakin ia tak akan menyerah.

===================================

Note Penulis :
- Jangan pernah lihat masa lalu orang yang anda sayangi, Tapi yakinkanlah ia untuk bisa berubah untuk masa depan
- Jangan pernah menyerah untuk menunggu orang yang anda sayangi. Selama anda nyaman bersamanya. Buatlah ia senyaman mungkin dan jangan sakiti dia
- Yakinkanlah bahwa ia tak pernah menyakitimu. Maafkanlah setiap kesalahannya, Lupakanlah masalalunya untuk masa depanmu
- Buatlah ia nyaman, Buatlah ia merasa bahwa kamu adalah penantian terakhirnya, Bukan penantiannya ketika ia bosa.

Catatan :
Karakter dalam cerita ini adalah
Aku : Benda mati di sekitar (Motor, Gitar, Handphone, dll dari si penulis)
Ia : Sang Penulis
Orang Tersebut : Wanita yang disayangi dan selalu ditunggu oleh penulis (Tania)
Teman Wanita : Teman dari Orang Tersebut (Tania)
Teman Lelaki : Pacar dari Orang Tersebut (Tania) *Sekarang udah mantan.

Penulis meminta maaf jika ada kesalahan penulisan dalam cerita ini. Penulis hanya mau menuangkan isi hati yang dituangkan dalam sebuah cerita singkat ini.
krik...krik...krikkk

add fb ane gan gald fieldren