alexa-tracking

Aku mah gitu orangnya

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5531d71514088deb6f8b456b/aku-mah-gitu-orangnya
Aku mah gitu orangnya
Quote:


Quote:


Spoiler for penting:


Spoiler for index:
Part 1

“Astaga Tata, kamu nggak ada capeknya apa yah. Aku yang lihat aja geleng-geleng kepala sendiri, apalagi Reno tuh, pasti dia eneg mampus sama kamu emoticon-Cape d... (S)” seru Jessy teman sekelas, sebangku sekaligus sahabatku sejak SMP
“Apaan sih Jes? Lihat tuh, sama sekali nggak merasa terganggu kok” kata ku mencoba membela diri, nggak mau dianggap membuat eneg Reno
“nggak merasa terganggu kata kamu? Coba kamu lihat baik-baik ekspresi wajahnya, udah Ta… Jangan ngejer cowok dengan cara super agresif plus norak gitu ah, nurunin martabat kamu aja tau nggak… emoticon-Nohope
“Berisik kamu Jes, ini namanya usaha tau nggak emoticon-Mad
“terserah kamu deh Ta, susah ngomong sama orang kurang waras emoticon-Nohope
“ya udah sana jauh-jauh…”

Mata Jessy melotot ketika aku mengusirnya, lalu pergi berdiri dan bergegas menjauh dariku. Sedangkan aku sama sekali tak peduli dengan omongan Jessy. Dari tempat duduk ini aku bisa menatap Reno dengan segala ketampanannya menikmati makan siangnya.

Saat ini aku duduk dikelas 2 SMA. Masa yang paling indah menurut mereka yang pernah melewatinya. Begitu pun denganku, aku ingin masa SMA ini bisa mempunyai pacar sekeren, sepintar dan setampan Reno. Pastinya itu akan menjadi kenangan tak terlupakan.

Aku mengejar Reno sejak memasuki SMA tempatku bersekolah ini. Dari pandangan pertama aku melihat Reno, aku sudah kesengsem. Dan aku makin kesengsem ketika tau, selain tampan Reno juga berprestasi. Bahkan sekarang dia menjabat sebagai ketua OSIS disekolahku.

Walaupun sampai saat ini kehadiranku masih tak dianggap oleh seorang Reno. Reputasiku disekolah sebagai penggila Reno sudah bukan menjadi rahasia lagi. Karena aku memang dengan sangat terang-terangan mengejar Reno. Banyak dari mereka yang memandangku aneh, banyak juga yang bilang tak waras.

“Hai, boleh duduk disini nggak?” tanyaku dengan senyum merekah lebar dan mata mengerjap-ngerjap memandang wajah Reno dari dekat

Reno hanya sedikit melirik lalu kembali melanjutkan makan siangnya. Tapi aku tak menyerah begitu saja. Dengan tanpa rasa canggung aku lebih merapatkan wajahku disisi Reno.

“Kamu ganteng banget, ya ampun… emoticon-Belo” gumam ku sambil bertopang dagu menatap Reno

Reno mulai terlihat risih dengan kehadiranku. Sebelum aku sempat mengelak, jari tengah dan jari telunjuk Reno yang dirapatkan sukses mendorong dahiku kebelakang. “Kamu ngga capek apa ganggu aku? emoticon-Nohope
“nggak akan capek sampai kamu bisa jadi cowok aku, muehehehe emoticon-Malu” kata ku tanpa merasa bersalah seraya mengedip-ngedipkan mata ku yang lentik ini emoticon-Malu

Reno hanya menaikkan sebelah alisnya lalu beranjak meninggalkan aku yang masih bertopang dagu menatapnya

“eh tunggu, aku ikut…” seru ku lalu mengejar Reno yang bergegas berjalan keluar kantin sekolah

Terus saja aku mengekor dibelakang Reno tanpa rasa malu dan bersalah. Menjadi tontontan anak-anak yang duduk diteras kelas pun aku tak peduli. Tetap saja aku setia mengekor dibelakang Reno. Aroma parfum Reno yang berjalan tepat didepanku terkadang membuai hidungku. Seakan aroma itu terus memanggilku untuk mengikuti aroma itu.

“aduh…” tanpa sadar Reno mendadak menghentikan langkahnya

Aku yang sedari tadi mengekor dibelakang tak sengaja menabrak tubuh Reno. Aku sedikit mendongak keataas untuk bisa memandang wajah Reno. Tatapan tajamnya seolah menghakimiku. Bukannya gentar, aku malah makin tak bisa mengedipkan mataku.

“perfect…” ujarku ketika mataku dan reno berbenturan pandang

Aku kaget saat tanganku tiba-tiba ditarik oleh Reno. Ini pertama kalinya aku merasakan sentuhan dari tangan Reno. Sejak dulu, jangankan menyentuh, memandangku pun dia merasa gusar.

“Mau kamu apa?” tanya Reno ketika berada dipojokan sekolah yang sepi
“Kamu mau jadi pacar aku?” lanjut Reno

Aku hanya mengangguk dengan sumringah menjawab pertanyaan Reno itu.

“ada syaratnya…”
“iya aku pasti bisa syaratnya, apa apa?” kata ku tak sabar menunggu lanjutan perkataan Reno
“Syarat pertama. Sekali jadi pacarku, tidak ada kata putus” Reno mengemukakan syarat pertamanya seraya mengacungkan satu jari telunjuknya tepat didepan wajahku
“Pasti pasti, aku nggak akan mau putus sama kamu” jawabku dengan antusias dan menggebu-gebu
“lalu apalagi?” lanjutku

Reno memandang keatas sembari mengelus-elus dagunya. Sepertinya dia sedang memikirkan persyaratan kedua untuk ku.

“ok yang kedua, jangan banyak macam dan harus penurut, sudah itu saja”
“sudah? Itu saja? Berarti kita resmi pacaran?”

Aku masih tak percaya bisa jadian dengan seorang Reno. Seperti mimpi rasanya, setahun lebih aku mengejar Reno. Dibilang tak waras, bahkan terlihat seperti murahan dengan kelakuanku yang norak. Dan sekarang Reno Jadi pacarku?

“iya, sekarang tolong jauh-jauh dariku” kata Reno mengibaskan tangannya
“eh kok jauh-jauh?” tanyaku bingung
“Janji nya apa? Nggak mau nurut?”
“iya deh aku nurut, aku balik ke kelas dulu ya my prince, dadaah…”

Aku berjalan menuju kelas dengan perasaan yang sangat gembira. Pasti Jessy tak akan percaya jika aku ceritakan baru saja jadian dengan Reno. Langkahku mengayun, setengah melompat. Aku girang bukan kepalang.
izin gelar tenda sis
ngadem di sini
Ini tata chubby ya?
Kok msh idup emoticon-Takut

buset dah lo agresif bgt ta nguber cowok... Muka tembok pulak...
Gue ilfil nih emoticon-DP emoticon-Ngakak
ngeliat judul tritnya aja aku udah pengen komen
#aku mah gitu orangnya emoticon-Ngakak (S)

neng,, ngebet pisan kamu sama reno emoticon-Stick Out Tongue
emoticon-Ngakak
critanya konyol bener nih
ayo di lanjut lg critanya emoticon-Big Grin
Bener2 lucu neh , beda dari yg laen

Dilanjut sist

Sptny reno pinter, biar tata menjauh dari hidupnya, ya mesti demikian
Part 2

“itu muka happy banget” kata Jessy melihat ku senyum-senyum sendiri duduk disampingnya
“aku punya kabar gembira nih, ah kamu pasti nggak akan percaya” kata ku dengan agak mendramatisir
“alaah Ta, kabar apalagi? Kamu itu sukanya lebay, Untung kamu itu cantik, kalau jelek amit-amit deh emoticon-Nohope
“eh sialan kamu Jess. Denger baik-baik yah, aku baru jadian sama Reno!” kataku dengan mata berbinar-binar
“ah kamu lebay Ta, kalau mau bohong nggak usah lebay juga kali” kata Jessy nggak percaya
“kamu itu harusnya syok Jes, mana ekspresinya, ah kamu nggak seru Jes” aku menggerutu melihat respon Jessy yang tak percaya dan menganggapku berbohong
Jessy menempelkan punggung tangannya didahiku. Maksudnya mau mengecek panas atau nggak. “kamu nggak demam Ta? Wah kamu makin parah nih, kamu harus berobat ke psikiater”
“aku nggak gila Jes… Aku masih waras…” kata ku dengan nada sedikit kesal

Jessy sangat paham dengan ketergilaanku dengan Reno sejak kelas 1 SMA. Terkadang Jessy merasa sedikit malu mempunyai sahabat seperti aku ini. Padahal semasa SMP aku nggak begini. Aku juga nggak tau apa yang terjadi pada diriku. Jika sikap dan kelakuanku nggak minus seperti ini, mungkin ada seorang cowok yang naksir lalu mendekatiku. Aku bisa dibilang menarik, dengan poni rintik-rintik hujan andalanku, pastinya banyak cowok yang gemas terhadapku. emoticon-Malu

Aku juga termasuk siswi berprestasi. Beberapa kali mengikuti lomba debat Bahasa Inggris mewakili sekolahku, dan prestasi terbaikku adalah juara 1 tingkat provinsi. Aku cantik, menarik, dan tidak bodoh. Itu adalah daya tarik yang menurutku cukup bisa membuatku didekati oleh beberapa cowok. Tapi kenyataannya sekarang? emoticon-Frown


Begitu bel pulang sekolah berbunyi dengan segera aku menuju kelas Reno. Tatapanku mencari-cari keberadaan Reno dari depan pintu kelas. Tapi sepertinya Reno sudah nggak ada dikelas. Padahal aku sangat yakin belum melihat Reno keluar kelas.

“Ridho, sini…” kataku sambil melambaikan tangan kearah Ridho

Ridho ini adalah teman sebangku Reno dikelas. Satu SMP juga denganku. Ridho pun sering memandangku aneh. Sangat berbeda dengan masa SMP dulu.

“apaan?” tanya Ridho menghampiriku. Terlihat dari wajahnya sedikit malas meladeniku, pasti dia tau maksud kedatanganku, apalagi kalau bukan Reno
“pacarku mana?” tanyaku dengan memainkan alis naik turun
“hah? pacar? Siapa?” Ridho balik bertanya dengan kebingungan
“ah kamu Dho, siapa lagi kalau bukan my prince yang paling ganteng sedunia Reno emoticon-Nohope
“astaga Tata… lama-lama kamu makin nggak waras deh”
“ih Ridho, nggak usah bawel deh, aku sekali lagi tanya, pacarku kemana?”
“kalau kamu pacarnya telpon dong, SMS juga bisa”
“ide bagus, aku nggak kepikiran emoticon-Hammer

Ridho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahku. Aku sama sekali nggak merasa risih dengan semua sikap dan kelakuanku ini. Mereka saja yang kurang bisa mengerti tentang aku.

“Ta, sini deh aku kasih tau..” ujar Ridho dengan nada sedikit lemah, sepertinya ada rahasia yang ingin dia sampaikan
“apaan Dho?” tanya ku penasaran
“Kamu kalau nggak norak gini ngejer-ngejer Reno, yang suka sama kamu itu buanyaaak tau nggak. Udah cantik, otak juga lumayan. Sayangnya kamu itu bikin ilfil, kurang waras. Mana ada yang mau deketin kamu “

Sontak saja tanganku melayang kebelakang kepala Ridho. Aku jitak kepalanya, lalu lari sebelum Ridho membalas dengan ketekan mautnya. emoticon-Ngacir

Aku menunggu didepan gerbang sekolah. Berkali-kali aku mencoba menelpon Reno, tapi nihil. Sama sekali nggak ada kabar. SMS ku pun nggak ada balasan. Sekolah mulai sepi, Jessy yang sedari tadi mengolok-oloku karena Reno nggak juga datang pun sudah pulang.

"nggak capek apa neng? udah sore ini.." kata pak satpam mencoba mengajakku ngobrol
"hehehe iya nih pak, nggak kerasa udah sore, Tata balik deh Pak, tenang aja pak, besok pagi ketemu lagi kok, nggak usah kangen..."

Walaupun kecewa aku mencoba tetap ceria. Aku berjalan menuju tempat aku biasa menunggu angkot. Batu-batu kerikil dijalanan ini menjadi pelampiasanku, aku tendang sembarang. Aku perlu melampiaskankan rasa kecewaku.


"kiri ya..." kata ku dengan suara agak lantang, sopir angkot itu pun dengan segera meminggirkan angkotnya


Rasanya aku nggak mau segera pulang kerumah. Aku masih ingin menghibur diri. Pikiranku berubah ketika angkot melintasi sebuah warnet dipinggir jalan. Aku turun dan berjalan memasuki warnet itu.

Pada saat itu spek hp masih ala kadarnya. jejaring sosial saat itu yang sedang populer adalah friendster, biasa disingkat fs. Jika sedang diwarnet, aku selalu membuka fs Reno, sekedar stalking. Aku boleh bernafas lega, selama ini belum ada sama sekali tampak Reno foto berdua dengan seorang cewek.


*******

"ma, aku pulang..."

menjelang magrib aku pulang kerumah. Ketika ditanya oleh Mama, aku beralasan ada kegiatan disekolah. Padahal anak ceweknya yang imut dan menggemaskan ini sedang kecewa. emoticon-Frown

Selesai mandi menyegarkan diri, aku melihat hp ku menyala-nyala dan bergetar-getar. Ketika melihat ada nama Reno dilayar hp ku, aku reflek melompat kegirangan.

jangan nelpon & SMS trus, berisik tau

Walaupun SMS Reno itu bernada ketus aku tetap girang bukan kepalang. Akhirnya Reno mau juga membalas SMS ku.

asik, makasih ya my prince udah mau bales SMS ku... lagi apa my prince? udah belajar? udah ngerjain PR?


1 menit

5 menit

10 menit

15 menit

30 menit

1 jam


kriiik... kriik... kriiik...

Aku lelah menunggu, hingga akhirnya hanya suara jangkrik yang menemaniku. Aku menatap nanar layar hp ku. Menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Pandanganku kosong kearah langit-langit, semakin lama semakin berat mata ini, sampai akhirnya aku terlelap dan terjaga.
Quote:


iyah om gan silahkan hehehe emoticon-Big Grin

Quote:


udah diem lo wa, baca duduk manis aj emoticon-Mad
nggak usah ember emoticon-Mad

Quote:


hahahaha
klo inget jaman itu aku jg malu sendiri emoticon-Malu

Quote:


ah masa konyol sih om gan emoticon-Malu (S)

Quote:


thanks om gan udah mampir emoticon-Malu (S)
Part 3

“Sayang…”

Terdengar suara Mama memanggilku dibarengi dengan suara ketukan pintu kamarku. Aku mencoba membuka mata, kulihat baik-baik jam di dinding kamarku. Jam 10 malam. Belum sepenuhnya percaya melihat jam didinding kamarku, aku lalu mencari-cari keberadaan hp ku. Ah benar, nggak salah, ini memang jam 10 malam. Ada apa Mama membangunkan aku jam segini.

“Iya Ma… sebentar…” jawabku dari dalam kamar lalu beranjak dari tempat tidurku untuk membuka pintu kamar

Mataku seketika terbuka lebar ketika melihat sosok seorang cowok dibelakang Mama. Berkali-kali aku mengucek mataku, seakan tak percaya cowok itu adalah Rafi.

“tumben jam segini udah tidur, biasanya masih sibuk belajar, bikin tugas bikin PR?” tanya Rafi mencoba berbasa-basi
“kamu masih idup?” kataku balik bertanya dengan nada sinis
“Tata sayang, nggak boleh gitu sama Rafi dong, jauh-jauh lho datang kesini” kata mamaku mencoba menenangkanku
“aku nggak minta dia dateng kesini ma, dia sendiri yang mau. Ya udah lah, aku ngantuk, aku capek”

Aku memilih masuk lagi kekamar dan mengabaikan Rafi dan juga mamanya. Kedatangan Rafi hanya membuat pikiranku makin tak karuan.

“kamu marah?” tanya Rafi pelan
“Ta, aku minta maaf” Rafi melanjutkan meminta maaf karena tak kugubris
“sudah kumaafkan” kataku singkat
“lalu kenapa masih acuh padaku?” tanya Rafi mulai memelas
“aku capek, aku ngantuk. Tolong keluar dari kamarku” kataku mencoba mengusir Rafi secara halus

Rafi keluar kamar dengan tertunduk lesu. Sebelum menutup pintu kamarku, dia menatapku. Tatapan merasa bersalah. Aku masih ingat dengan jelas saat Rafi pergi dari kota ini tanpa kabar. Saat itu aku baru saja masuk SMA. Aku bertetangga, bersahabat dari kecil dengan Rafi. Rafi itu sudah kuanggap kakak ku sendiri. Aku anak tunggal tak punya kakak maupun adik. Papaku ketika aku masih di bangku SD memilih pergi menikah dengan wanita lain. Aku marah, aku benci ketika Rafi pergi tanpa memberi kabar padaku. Seolah aku ini tak penting. Aku berpikir Rafi tak jauh berbeda dengan Papaku, hanya bisa pergi dengan meninggalkan luka.

Rafi tempatku mengadu, selalu membuatku merasa aman dan nyaman. Setelah dia pergi aku sangat kehilangan. Aku butuh sosok lelaki yang bisa kakak, aku rindu sosok seorang ayah.

Seketika kubenamkan wajahku dibantal berbentuk love itu. Air mataku tak tertahan mengingat semua itu. Dan kini ditambah Reno yang selalu membuatku kecewa. Aku merasa tak penting.

**************

“pagi Ta..” sapa Rafi dengan ramah

Pagi ini aku lebih banyak menekuk wajahku setelah melihat Rafi duduk manis di meja makan.

“Sayang nanti berangkat sekolah dianter Rafi ya, jangan naik angkot”

Ditambah lagi perkataan Mama barusan, aku semakin tak bernafsu makan.

“aku nggak mau ngerepotin orang Ma.” Kataku dengan tegas
“aku nggak repot kok, sekalian mau jalan-jalan dikota ini, sudah lama nggak kesini, pasti banyak yang berubah” kata Rafi tiba-tiba memotong pembicaraanku
“aku mau naik angkot aja ma, udah ah aku berangkat ma..” kata ku lalu mengecup punggu tangan mamaku
“berangkat sama Rafi, jangan bantah mama. Berangkat dianter Rafi, nanti pulang dijemput, temenin Rafi jalan-jalan. Rencana nya Rafi mau melanjutkan Kuliah disini”

Aku hanya bisa menghela nafas. Tak bisa membantah perkataan Mama. Dengan sangat terpaksa pagi ini aku kesekolah dianter oleh Rafi.

“Ta, maafin aku…” kata Rafi mencoba membuka pembicaraan dengan kembali meminta maaf padaku
Langsung saja kutepis tangannya yang berusaha memegang tanganku
“stop, berenti disini aja” kataku dengan lantang
“tapi ini masih jauh, Tata.. please maafin aku…” kata Rafi lalu memasang muka melasnya
“aku udah maafin, berenti disini sekarang juga!” kataku mulai agak membentak
“ok, tapi nanti aku jemput ya pulang sekolah”

Rafi menepikan mobilnya tak jauh dari sekolahku. Aku langsung saja membuka pintu dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.

“eh kamu dianter siapa tadi?” tanya Jessy ketika berpasan denganku digerbang sekolah
“kamu salah lihat, aku naik angkot” jawabku mencoba berkilah
“Ah kamu, mataku ini masih berfungsi dengan baik. Nggak mungkin salah lihat” kata Jessy mencoba meyakinkan
“Itu Rafi” kataku singkat
“Hah? Rafi? Balik kesini lagi? Awas saja ketemu denganku, teganya dia membuat sahabatku yang cantik ini sedih”

Sebenarnya aku sedang sedih, kecewa. Tetapi ketika aku melihat Reno berjalan santai menuju kelasnya, aku seperti mendapat semangat baru. Aku seakan lupa bagaimana sifat Reno kepadaku kemarin. Tanpa pikir panjang aku pun meninggalkan Jessy dan berlari menuju Reno.

“kok kamu nggak mampir kekelasku?” tanyaku sedikit manja
“berangkat dengan siapa?” kata Reno balik bertanya
“sendiri, abisnya pacarku nggak mau jemput”
“sana balik, jangan ikutin aku” kata Reno bernada mengusir
“emangnya nggak boleh ya ngikutin pacarku sendiri?”
“janji kamu apa? Masih mau nurut nggak? “

Aku pun memilih beranjak pergi meninggalkan Reno. Aku berpikir keras alasan Reno mau menjadi pacarku. Sejak dulu sifatnya nggak pernah berubah kepadaku. Tetap acuh dan tanpa perasaan.
Hah Tata bikin cerita di SFTH
bukan nya ada kabar burung Doi udah meninggal yah emoticon-Kagetsemoticon-Takut (S)
*oke ini becanda sist* emoticon-Embarrassmentemoticon-Nohope

#guemahgituorangnya

di lanjut sist nulis nya
semoga gak berhenti di tengah jalan emoticon-Big Grin

ati2 di sini banyak Om2 emoticon-Ngaciremoticon-Ngaciremoticon-Ngacir
da aku mah cuma mau bangun tenda ajahh neng dimari. emoticon-Malu (S):
Ane nitip absen sis emoticon-Malu
Moga apdetan lancar ini ..
Quote:


Ia sis
Kn u yg konyol di critany emoticon-Ngakak
Walaupun sedih kecewa, tetap selalu terlihat tegar dan ceria.

Lanjut dong... emoticon-Blue Guy Cendol (L)
hai tata sering apdate ya ceritanya emoticon-Kiss (S)

mejeng mekiwan emoticon-Cool
Part 4

Pulang sekolah hari ini aku langsung bergegas keluar kelas. Aku tak mau teman-temanku melihatku dijemput oleh Rafi. Baru saja aku bernafas lega ketika sudah sampai didepan gerbang sekolah, tetapi aku terkejut melihat sosok Reno yang datang secara tiba-tiba dari belakang.

“kenapa buru-buru?” tanya Reno menepuk bahuku dari belakang
“ehm, enggak kok…” jawabku agak gugup tak melihat kebawah tak berani menatap Reno
“kenapa? Kamu mau nganterin aku balik yah my prince?” tanyaku seperti biasa seraya mengedip-ngedipkan mataku yang lentik emoticon-Malu

Dalam hatiku deg-degan, aku takut tiba-tiba Rafi muncul menjemputku disekolah.

“iya, ayok balik.” Jawab Reno menggerakkan kepalanya kearah parkiran motor
“kamu serius?” tanyaku dengan membelalakkan mata

Aku benar-benar bingung. Aku sudah berjanji dengan Mama, hari ini pulang dijemput Rafi, lalu menemani Rafi jalan-jalan dikota ini.

“kenapa? Keberatan? Ya sudah, aku duluan” kata Reno lalu membalikkan badannya dan berjalan kearah parkiran
“Tata…!!”

Aku menoleh kearah sumber suara yang memanggilku. Ternyata itu Rafi, rapih dengan setelan jins hitam, atasan kaos putih polos dan sepatu convers putihnya. Tak lama setelah itu Reno kembali membalikkan badannya. Duh bisa kacau ini, pikirku dalam hati. Reno kembali berjalan kearahku. Aku semakin bingung harus menjelaskan apa tentang Rafi kepadda Reno.

“maaf, kamu siapa?” Tanya Reno dengan santai kepada Rafi
“aku Rafi” jawab Rafi tak kalah santai

Reno menatapku dengan pandangan penuh curiga. Aku tak berani menatap balik Reno. Aku hanya menundukkan kepalaku.

“selingkuhanmu ya?” tanya Reno kepadaku masih dengan tatapan curiga

Aku tersenyum. Dalam hatiku berbunga-bunga Reno bertanya seperti itu kepadaku. Semakin lama aku malah terlihat cengengesan nggak jelas.

“heh, ditanya malah cengengesan” kata Reno sambil mengacak-acak poni andalanku
“aku nggak mimpi kan yah? My prince cemburu yah? Iya kan? Iya?”

Reno terlihat mengerutkan dahinya. Mungkin dia merasa sedikit geram kepadaku, bukannya merasa bersalah malah menggodanya. Padahal aku yakin, yang diharapkan Reno, aku takut, lalu minta maaf kepadanya. Tetapi aku malah terlihat bangga Reno cemburu kepadaku. Dan aku sangat yakin dari membaca raut wajah Reno, dia terlihat kesal. Merasa tak terima diperlakukan seperti itu olehku.

“terserah kamu deh, jadi kamu mau pulang sama dia?” tanya Reno dengan nada terkesan santai tapi seperti dibuat-buat
“aku sih maunya sama kamu my prince, tapi aku udah janji sama Mama, hari ini dijemput Rafi lalu nemenin Rafi jalan-jalan, besok deh kita pulang bareng yah my prince” jawabku dengan tanpa bersalah, mimik wajahku pun dibuat se-cute mungkin
“ya, kesempatan nggak dateng dua kali” kata Reno lalu pergi meninggalkanku dan Rafi

Rafi yang sedari tadi hanya bengong menyimak perbincanganku dan Reno tiba-tiba menarik tanganku. Saat aku menoleh ke arah Reno, dia sudah hilang dari pandanganku. Mau tak mau aku pun mengikuti Rafi kearah mobil yang terparkir dipinggir jalan depan sekolahku.

Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam. Aku mengingat bagaimana konyolnya caraku setahun ini untuk melupakan Rafi. Aku mengakui, mengejar-ngejar Reno dengan cara yang cukup norak dan gila itu salah satu upayaku untuk membuang jauh-jauh Rafi dari pikiranku.

Terkadang aku sering merasakan sakit saat diabaikan oleh Reno. Tapi aku tetap merasa bahagia dengan apa yang kulakukan, walaupun itu membuat imejku sedikit jelek disekolah. Aku masih sedikit menyimpan dendam kepada Rafi. Dia jahat, dia meninggalkanku tanpa kabar.

“cowok tadi pacarmu?” tanya Rafi membuka pembicaraan
“katanya sih begitu” jawabku apa adanya
“lho kok katanya? emoticon-Bingung (S)” tanya Rafi dengan bingung
“ya karena katanya begitu” jawabku dengan cuek
“kamu cinta?”
“iya.” Jawabku tetap memandang lurus kedepan tanpa menoleh kearah Rafi yang sedang menyetir

Rafi menarik nafas panjang. Sepertinya ada penyesalan saat aku berkata iya. Tapi dia bisa apa? Semuanya kini sudah banyak berubah semenjak Rafi meninggalkanku tanpa kabar. Dia harus menanggung konsekuensi ini semua. Dia yang memilih hilang dari hidupku, membuatku sedih dan kecewa.
Part 5

Saat ini nggak ada hal yang lebih membuatku merasa senang selain mengganggu Reno. Seperti pagi ini disekolah, aku sudah standby menunggu Reno dikelasnya dengan setia ditemani Ridho, teman sebangku Reno.

“kamu belum capek nguber Reno? Aku risih tau nggak ngeliatnya, jangan tersinggung ya, harga diri kamu sebagai cewek itu kayaknya jatuh banget..”

Mendengar perkataan Ridho yang berusaha menasehatiku, aku malah tertawa keras hingga pipiku terasa keram.

“makasih yah Dho udah perhatian sama aku, duh aku jadi terharu nih. aku nggak peduli, yang penting aku merasa happy” kataku dengan santai lalu menjitak kepala Ridho

Tak lama kemudian Reno tiba dikelas. Melihat kedatangan Reno aku cengengesan nggak jelas.

“kok my prince baru dateng sih, aku kan nunggunya lama, iya kan Dho? Untung aja ditemenin Ridho nih” seruku lalu bangkit dari duduk dan menarik tangan Reno lalu menggoyang-goyangkan dengan manja
“aku nggak minta kamu nunggu” ujar Reno lalu menarik tangannya dengan cepat
“eh sebentar, kalian ini beneran pacaran emoticon-Belo?” tanya Ridho dengan wajah kepo
“nggak” jawab Reno singkat
“my prince kok gitu, kemarin aja ngajakin aku pulang bareng”

Reno hanya menanggapi perkataanku itu dengan isyarat menggelengkan kepala lalu jari telunjuknya dimiringkan dan diletakkan didahinya.

“cinta nggak pake ngaku-ngaku juga kali Ta… buahahahaha… untung Cuma aku yang denger, kalau orang lain bisa dibully habis kamu” Ridho tertawa terbahak
“heh Dho, kamu sekarang itu juga lagi bully aku tau, daripada kamu jomblo abadi nggak laku” kataku lalu menjitak kepala Ridho
“sialan kamu, nggak liat aku ini 11-12 dengan Reno?”
“bodo amat Dho, aku mau balik kekelas, dadah Ridho, dadah my prince…”

Aku pergi meninggalkan kelas Reno dengan riang berjalan melompat-lompat seperti kelinci menggemaskan. Aku sudah cukup bahagia pagi ini. Nanti istirahat aku pasti kembali mengganggu Reno. Aku suka sekali melihat ekspresi Reno yang marah dan kesal kepadaku. Jika sudah gusar aku semakin gemas, nggak ada sama sekali rasa kasihan melihat Reno yang mungkin tersiksa dan terpaksa.

“gimana Ta? Ditolak lagi? dicuekin lagi?” tanya Jessy ketika aku baru saja duduk disampingnya
“kamu kenapa sih Jes? Nggak bisa liat orang seneng”
“kamu itu makin lama makin aneh tau nggak, aku ini sahabat kamu, bawel juga buat ingetin kamu”
“aneh gimana? Aku merasa normal, baik-baik aja”
“aku nggak tau kamu itu cinta atau terobsesi dengan Reno, kalau cinta kamu nggak akan segila ini”
“udah nggak usah dibahas lebih panjang lagi, kayak buku ini nih… BLEK!! Ketutup deh, selesai urusan”

Jessy hanya menggelengkan kepalanya. Aku masih terlihat santai tanpa memikirkan perkataan Jessy yang menurutku hanya membuatku patah semangat.


Bel istirahat berbunyi, aku menarik tangan Jessy dengan cepat, tak sabar ingin kekantin untuk menemaniku bertemu dengan Reno my prince.

Aku memesan siomay tanpa kecap, tanpa bawang, tanpa kol. Tak lupa segelas es jeruk. Aku makan dengan lahap nggak peduli harus menjaga imej dengan makan perlahan dan sok imut.

“eh itu Reno, bentar ya Jes” ujarku pada Jessy lalu bangkit dan berjalan menyambangi Reno

Aku hanya duduk manis disamping Reno, memperhatikan Reno dengan seksama yang sedang menikmati siomaynya. Reno mencoba nggak mempedulikan kehadiranku, tapi lama kelamaan sepertinya dia risih juga. Dia jadi nggak bisa menikmati siomaynya.

“Ta, ganggu Reno aja kamu ini, sana hus…” usir Ridho kasihan melihat Reno yang mulai terlihat risih
“reno aja nggak keberatan kok, kamu yang sibuk” ujarku lalu menjulurkan lidah kearah Ridho

Tak lama kemudian Reno mendorong dahiku lalu mengacak-acak rambut poniku yang cute ini emoticon-Malu

“my prince kenapa? Berarti daritadi kamu merhatiin aku yah? Ya ampun segitunya, aku jadi malu emoticon-Malu
“astaga Tata, sumpah kamu itu bikin ilfeel tau nggak, cantik kamu ilang!” seru Ridho menggelengkan kepalanya

Aku hanya cengengesan nggak jelas sambil memandangi Reno. Sudah setahun lebih aku begini, dan sikap Reno kali ini berbeda. Dulu Reno nggak pernah marah dan mengusirku, mungkin hanya teman Reno yang merasa risih dan mengolok-olokku. Tapi kali ini Reno mengacak-acak rambutku. Sama halnya seperti kemarin. Aku merasa senang, setidaknya Reno itu menganggapku ada.

“eh ngomong-ngomong aku liat kamu kemarin dijemput Rafi, mau CLBK kah?” tanya Ridho mengalihkan pembicaraan

Aku merasa kesal ketika tiba-tiba Ridho membahas soal Rafi. Di rumah saja aku merasa sangat kesal harus bertemu setiap hari dengan Rafi. Ditambah lagi Ridho membahasnya didepan my prince. Setelah menjitak kepala Ridho, aku beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.

Sebenarnya Rafi itu bukan pacarku. Tapi banyak teman-teman SMP yang bilang kami berdua itu pacaran. Nggak salah mereka berpikiran seperti itu, aku dan Rafi sangat dekat. Setiap aku digoda dan dijahili teman-teman cowok, Rafi yang selalu membelaku.

“Ta, ngomong-ngomong soal Rafi, gimana kelanjutannya? Kamu mau balikan lagi?”

Nggak Ridho, nggak Jessy, sama semuanya. Kenapa harus bahas Rafi? Aku muak mendengar nama Rafi disebut-sebut.

“udah ah Jes, aku nggak mau bahas tentang Rafi, please…” kataku memohon

Dari luar kelas, tampak sosok Reno. Aku seakan nggak percaya ketika Reno melambaikan tangannya memanggilku.

“Jes? Itu Reno manggil aku kan? Nggak salah kan?” tanyaku menyenggol-nyenggol lengan Jessy
“ya siapa lagi? buruan sana”

Aku pun bangkit dari duduk lalu setengah berlari menuju depan kelas.

“nanti pulang sekolah aku anter” ujar Reno langsung berlalu begitu saja

Aku speechless mendengar perkataan Reno itu. Mulutku masih menganga lebar, sama hal nya dengan Jessy yang mendengar perkataan Reno itu dari tempat duduknya.

“Jes, itu tadi beneran kan Reno mau anterin aku pulang? Iyah kan? Iya?”

Jessy masih terbengong tak bersuara, hanya bisa memanggutkan kepalanya menjawab pertanyaanku. Aku pun berlari mengejar Reno yang belum cukup jauh dari kelasku.

“my prince… tadi beneran mau anterin aku pulang sekolah?” tanyaku memastikan
“balik kekelas atau batal” jawab Reno dengan dingin
“kalau diganti ngobrol aja bisa nggak my prince?” tanyaku dengan agak manja
“kenapa?”
“aku nanti dijemput Rafi, kalau aku nggak balik kerumah dianter Rafi, nanti aku dimarah Mama…”
“cowok kemarin itu?”
“iya..”
“baguslah, berarti aku nggak perlu repot nganterin kamu. Balik kekelas sebelum aku buat kamu sakit hati”
“nggak apa-apa yang penting bisa deket sama kamu”
“kamu itu punya pacar tapi mengejarku seperti cewek murahan begini, apa kamu nggak punya hati?”

Terlihat raut wajah Reno marah kepadaku. Aku hanya bisa menundukkan kepala. Aku bingung, Reno saja menganggap Rafi itu pacarku.

“aku bilang baik-baik sekarang, jangan deketin aku lagi! paham?”
“jadi kamu sekarang merasa terganggu yah? Kamu udah nggak cukup sabar seperti dulu ya? kamu dulu selalu menganggap aku nggak ada, tapi baru sekarang kamu bicara begini sama aku”
“jangan deketin aku lagi, kamu paham?”

Ekspresi wajah Reno mulai menakutkan. Sepertinya kesabarannya sudah habis untukku saat ini. Dia terlihat benar-benar marah.

“ok deh my prince, eh Reno… besok-besok jangan kangen sama aku ya…” ujarku mencoba ceria lalu memeluk Reno singkat

Aku berjalan meninggalkan Reno, ketika aku menoleh kebelakang Reno masih terdiam mematung. Sepertinya pelukanku tadi membuat tubuhnya seperti tersengat listrik. Kaku, tak bergeming. Aku merogoh ponsel disaku bajuku, lalu menghapus sebuah kontak yang kuberi nama Reno Myprince. Itu kulakukan dengan sedikit memaksakan senyum dibibirku.

Cukup sampai disini orang menganggapku gila. Nggak punya harga diri, nggak waras dan lain sebagainya. Aku merasa bahagia, dan yang terpenting aku tetap bisa menjaga yang seharusnya wanita jaga pada umumnya. Anggap saja yang kulakukan kemarin adalah sebuah akting belaka. Sekedar melupakan bayangan Rafi yang meninggalkanku. Sekarang aku ingin menjadi diriku yang seutuhnya. emoticon-Smilie
seru ey .. nebak , reno pasti gelgapan pas ditingggal tata nih ..
WE WANT MORE !!! emoticon-Embarrassment
Wah... Makin seru nih.

Lanjutkan sist...