alexa-tracking

If My Heart Can Stay

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/552fc6f0118b46bd608b456d/if-my-heart-can-stay
If My Heart Can Stay
Well, Hello everyone!

Ini udah cerita ke-empat yang gue buat di SFTH. Tapi kali ini gue gak akan cerita tentang Karl dan Herman, bukan juga tentang Dave - Angel, tapi tentang seorang pria yang konon katanya memiliki tingkat ke-egoisan tinggi serta terlalu bergantung pada fakta dan logika. Lebih buruknya lagi? Dia gak percaya yang namanya Cinta.

Baginya kebenaran itu hanya ada satu dan itu yang harus di cari dan dipertahankan. Karena perinsip itu jugalah yang membuatnya terseret kedalam suatu masalah besar.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, i present to you

If My Heart Can Stay

Enjoy!

Quote:
If My Heart Can Stay
If My Heart Can Stay

Genre: Fiction-


Index
Spoiler for Index:


Cerita Gue yang lainnya
Spoiler for :

If My Heart Can Stay

Prologue

aApa yang terlintas di dalam pikiran kalian ketika nyawa sudah berada di ujung jurang kematian? Orang tua? Adik atau kakak? Pasangan atau bahkan selingkuhan? Atau mungkin benda yang kalian sayangi? Rata-rata orang akan memikirkan hal-hal yang paling menyenangkan dalam hidup ketika mereka tahu mereka akan hmm… meninggal. Aneh rasanya aku berkata seperti ini padahal aku sendiri belum pernah merasakan kematian. Tapi percayalah, aku tahu rasanya berada di depan malaikat pencabut nyawa atau setidaknya ketika aku merasakan mobil yang terguling beberapa kali dengan darah yang terus mengalir dari kepalaku beserta suara mobil lain yang pergi menjauh. Aku bisa merasakannya. Kehadiran si malaikat pencabut nyawa. Aku tahu, aku dalam bahaya besar.

Ketika mengetahui kondisiku yang sekarang, mungkin kalian akan menanyakan hal yang sama kepadaku. Apa yang aku rasakan ketika berada di ujung jurang kematian? Hmm… aneh memang, tetapi hal yang pertama dan satu-satunya yang aku ingat adalah toples bekas selai kacang yang berisikan banyak sekali bintang-bintang dari kertas yang berwarna-warni. Aneh? Memang. Lucu? Rasanya tidak. Tapi hal itulah yang pertama kali aku ingat. Baru setelah itu aku mengingat namaku. Edgar Levi France atau biasa dipanggil dengan Elf.

><><><><><
Ceritanya bergenre ap gan?

Situasinya brada dmna ne?
Salam kenal dari ane yak.. emoticon-Big Grin
Quote:


Salken juga gan. emoticon-Big Grin

Fiksi pasti. Drama? Ada. Romance? Ini lagi. Detective? Iya. Jadinya gue rada bingung kalau yang begini masuk kategori apa. Hahaha.

Situsinya berada di dua negara. Nanti ada di cerita kok.

Chapter 1

Saat-saat tenang dan damai dalam hidupku terjadi setelah lulus dengan gelar sarjana dalam bidang psikologi. Yang menjadi kebanggan adalah aku lulus di usia yang ke-22 dengan predikat ‘anak dingin yang menyebalkan’. Aku bekerja di sebuah kantor berita yang cukup terkenal di daerah Seattle, USA, bahkan di dunia. Aku memilih bekerja di luar negeri dengan harapan menjadi orang yang sukses. Namun coba tebak? Aku berakhir dan terjebak di sebuah ruangan yang cukup besar dengan cat warna-warni, sebuah meja, sebuah kursi kantor, dan beberapa rekan kerja. Ini pertanda baik? Siapa bilang? Awalnya mungkin iya. Terlebih saat aku pertama kali datang kemari, mereka menyambutku dengan baik karena aku merupakan anak seorang penulis novel fiksi terkenal ditambah ibuku yang dulunya seorang ilmuan. Setelah itu? Buruk. Mereka tahu aku tidak bisa merangkai kalimat yang halus seperti ayahku atau murah senyum dan ramah seperti ibu. Dari situlah orang mulai meragukan diriku walaupun masih banyak yang baik termasuk sang manajer dan seorang sahabat. Mereka berdualah yang berhasil menemukan bakat terpendam yang aku miliki. Seorang pengamat yang terlalu bergantung kepada fakta dan logika.

Aku tinggal di sebuah rumah berwarna putih sederhana dengan gaya khas kolonial. Awalnya rumah ini merupakan rumah dengan gaya moderen dan terlihat bagus. Tetapi aku memutuskan untuk merubah desainnya karena aku suka dengan rumah-rumah kolonial seperti di dalam film. Rumah ini juga yang menjadi tempat aku membuka usaha praktek bagi mereka yang sekedar ingin curhat atau trauma akan suatu kejadian tertentu. Jika kalian ingin mampir, maka datanglah ke Elm street no.77. Tapi jangan datang jam delapan pagi karena aku sedang bekerja.

Saat itu hari berjalan seperti biasanya. Aku bangun pagi, mulai bekerja, berbasa-basi dengan pegawai yang lain, lalu pulang kerumah. Setelah mandi dan makan malam, aku menyalakan komputer untuk melihat seberapa banyak e-mail curhatan yang masuk. Ketika aku sedang berkonsentrasi membaca sebuah e-mail…

TOK TOK TOK

Ah! Manusia macam apa yang menganggu malam-malam begini?

"Elf! Kau ada di dalam?"

Suaranya cukup dalam dan berat. Ah ya. Well, kalian baru saja mendengar suara rekan kerja sekaligus sahabat terbaikku, Jimmy.

"Elf! Jawab aku! Kau ada di dalam?"

"Ya ya Jim! Aku ada disini. Masuklah"

"Aku ingin sekali masuk dan menciummu, tapi pintunya terkunci!"

"Oh iya. Tunggu sebentar. Akan ku cari kuncinya dan lemparkan kepadamu." Aku lalu berdiri, meraih kunci yang berada di atas televisi, dan melemparkannya keluar melalui lubang ventilasi kecil diatas pintu. "Tangkap!"

"Elf! Jangan bilang kau akan melemparkan kunci itu lag... AUCH! ELF!" Teriak Jimmy.

"Aku tidak mendengar apa-apa" jawabku.

Perlu kalian ketahui bahwa Jimmy adalah pria berusia 25 tahun dan sahabat terbaikku, warga asli Amerika yang cukup lancar berbahasa Indonesia. Aslinya dia bernama Jim Hawthorne. Namun dia lebih suka dipanggil Jimmy.

Dia memang memiliki ketertarikan tersendiri dengan Indonesia khususnya Jawa. Tinggi, berambut pirang, matanya berwarna biru, dan berkulit putih ditambah dengan ketampanannya membuat dia terlihat sebagai sosok pria sempurna yang baik hati terlebih kepada wanita. Padahal... Dia playboy yang payah.

"Kau tahu salah satu hal yang paling menyebalkan dari dirimu?" Tanya Jimmy yang masuk dengan membawa makanan dan wajah berwarna merah padam.

"Apa? Memangnya aku terlihat seperti mempunyai hal menyebalkan lainnya selain keangkuhan dan kepintaran, Jim?"
Jimmy lalu menaruh kunci dan makanannya diatas meja. "Ya. Malas! Itu salah satunya. Jangan lupakan itu, Elf! Terima kasih telah membuka pintunya."

"Sama-sama." Jawabku. “Jadi, ada apa? Tidak mungkin kau datang malam-malam begini tanpa ada sesuatu hal yang penting atau bahkan… tidak berguna. Dilihat dari banyaknya makanan yang kau bawa dan muka yang ceria serta baju berwarna biru muda, aku rasa kita akan menghabiskan malam ini dengan pembicaraan yang tidak berguna."

“Ah Elf. Tidak bisakah aku minum?”

“Soal cinta? Atau pekerjaan? Oh, atau cinta dalam pekerjaan?”

“Elf… tolong. Aku haus.” Jawab Jimmy.

“Oh ya tentu. Air putih atau susu?”

“Ah! Ayolah Elf. Sudah berapa lama kau mengenalku? Aku benci susu. Kau tahu aku suka beer. Itupun jika kau punya” Goda Jimmy.

"Whooa! Aku tidak akan menyimpan minuman itu didalam rumah. Aku tidak suka alkohol dan tidak akan pernah mau meminumnya. Akan kuambilkan diet coke saja. Anna! Tolong ambilkan dua kaleng diet coke dan segelas air!”

Wajah Jimmy tampak bingung “Siapa Anna? Pacar barumu?”

“Tentu saja bukan Jim. Dia asisten rumah tangga. Kapan terakhir kau kesini?”

“Hmm. Sekitar satu minggu lalu?”

“Nah. Selama itu aku sudah merekrut Anna. Jadi Jim, kali ini tentang apa? Praktikku sebagai seorang psikiater atau urusan pribadi yang menyangkut cinta pekerjaan?”

“Ya ya. Tuan yang selalu benar. Terkadang aku bingung mengapa aku bisa bersahabat dengan dirimu. Manusia sejenis Sherlock tapi bukan detektif walau tingkat menyebalkannya sama.” Gerutu Jimmy.

“Hei! aku bukan Sherlock, tapi aku pengagumnya.” Selaku.

“Terserah. Apakah kau akan mengambil kasus itu?”

“Kasus? Yang mana?”

“Pasien perempuan. Siapa namanya? Bella?”

“Oh ya. Bella. Pasien yang menderita trauma setelah kematian pacarnya dan takut dengan pria berkacamata seperti diriku karena pacarnya, yang secara kebetulan memakai kacamata. Terlebih dia baru berusia 20 tahun. Ah, pasien yang sungguh menyebalkan.”

“Hei hei. Tapi dia cantik kan? Bagaimana dengan bentuk tubuhnya?” Jimmy memasang tampang mesum.

“Jim. Tolong. Jangan begitu. Walaupun dia cantik tetap saja menyebalkan.” Aku memperhatikannya sebentar. Sepertinya dia kemari bukan untuk menanyakan pasien perempuan yang sedang aku tangani namun ada hal yang lain lagi. “Jujur saja. Apa alasanmu kemari?”

“Ah. Terlihat mencolok ya?”

“Sangat Jim. Sangat. Jangan lupa kalau kau payah untuk berbohong. Itu Fakta.”

“Jadi begini. Ahhh… uhmm… aku tidak tahu mau mulai dari mana. Tapi yang pasti aku melihat sosok perempuan cantik pagi ini di ruang kerja kepala bagian HRD.”

“Ah. Soal cinta.” Selaku.

“Bukan. Bukan itu maksudku Elf. Memang dia sosok perempuan yang mempesona. Tapi aku takut kalau-kalau dia diterima bekerja, dia akan menyingkirkan kita.”

“Dan soal pekerjaan.”

“Elf. Ini bukan soal pekerjaan juga. Tetapi, sangat disayangkan jika perempuan itu tidak diterima bekerja disini. Maksudku di kantor kita.”

“Ah ya. Ini jelas cinta dalam pekerjaan.” Selaku kembali.

“Elf! Bukan itu intinya!”

“Lalu apa? Aku bahkan tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Jim. Terlalu berbelit-belit. Begitu banyak basa-basi. Langsung saja kepada intinya. Anna! Dimana diet coke dan…” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Anna datang dengan membawa dua diet coke dan segelas air mineral.

“Silahkan diminum.” Katanya.

“Ya. Terima kasih Anna. Jim, silahkan ambil dua diet coke tapi jangan air mineral. Itu miliku. Sekarang, mari kita lanjutkan. Langsung kepada intinya.”

Jimmy membuka minuman kaleng itu, meneguknya beberapa kali, kemudian mulai berbicara. “Aku mau menjodohkan dirinya dengan dirimu, Elf.” Nadanya kini menjadi serius.

“Oh, Jim. Jangan bercanda.”

Jimmy menatap tajam padaku. “Nope. I’m not joking with you right now. This is serious.”

“JIM! Kau gila!”

“Tidak! Aku tidak gila Elf. Sudah berapa lama kamu tidak punya kekasih? Setahun? Dua tahun?”

“Dua.” Jawabku malu-malu.

“Lihat?!” Jimmy berdiri dari sofanya. “Dua tahun! Pria macam apa yang mampu bertahan tanpa wanita selama dua tahun?!”

“Hei! Hei!” Aku mencoba menyelanya.

“Hanya pria yang gila yang mampu bertahan tanpa… wanita…” Perkataan Jimmy terhenti setelah melihat tatapan dinginku.

“Itu. Aku. Pria itu aku Jim. Pria gila yang mampu bertahan tanpa wanita disisinya itu hanya diriku.” Kataku yang mencoba memendam amarah.

“Oh… Ya… Iya… Itu dirimu. Ayolah, Elf! Cobalah untuk jatuh cinta. Atau setidaknya merasakan kencan-”

“Aku sudah cukup lelah dengan hal-hal semacam percintaan Jim. Sungguh. Lagi pula aku tidak mau menjadi seperti dirimu yang berani mengencani dua wanita sekaligus ditempat yang berbeda.” Ledekku.

“Tapi kau lebih payah. Tidak bisa menggoda wanita. Aku ingat waktu ada wanita yang menyukaimu di kantor. Siapa namanya? Megan?”

“Jim. Jangan mulai.”

“Ketika kau tahu dia suka padamu, kau menjadi salah tingkah dan itu lucu! Kau bahkan salah mengetik kartu ucapan. Yang seharusnya untuk kedukaan tapi isinya kalimat romantis. Hahahah!” Tawa Jim mengisi ruang tamuku.

Jujur aku sedikit kesal. Tapi tak apalah. Biarkan dia senang terlebih dahulu. “Jim. Aku masih mengingat momen dimana kau berkencan dengan seorang wanita lalu ketahuan oleh pacarmu sendiri. Mereka berdua menyiramkan minuman kepadamu padahal jas yang kau pakai itu cukup mahal. Kau tahu? Itu lebih lucu.”

“Hei!” Jimmy mulai kesal.

“Itu fakta Jim. Fakta.” Aku lalu melihat keluar jendela dan menyadari ini sudah larut malam. “Jim. Mau pulang atau…”

“Menginap. Aku memilih menginap. Lagipula motorku kehabisan bensin.” Jimmy lalu mendekat kepadaku sambil setengah berbisik. “Tapi bisakah aku menggoda asisten rumah tanggamu itu?”

“Bodoh!” Kataku sambil memukul kepalanya. “Dia bukan cuman wanita biasa. Dia memiliki harkat dan martabat. Ditambah dia merupakan sekretaris pribadiku.”

“Dan kau tidak memiliki hubungan-”

Aku kembali memukul kepalanya. “Jangan bicarakan hal bodoh. Besok kita harus bekerja jadi, mari tidur.” Kataku sambil melangkah pergi menuju kamar diatas.

“Elf! Bisakah aku memin-”

“Akan kupinjamkan! Tapi jangan gunakan kemeja terbaikku! Kau bisa tidur dikamar tamu tapi jangan coba-coba goda Anna!” Kataku yang lalu masuk kedalam kamar.

Setelah menyikat gigi dan mencuci muka, aku naik keatas kasurku, menarik selimut, melihat toples bekas selai kacang, lalu mematikan lampu kecil. Setelah itu aku berdoa lalu mencoba untuk tidur. Tapi sepertinya sangat sulit. Ada apa ini? Apa yang kupikirkan? Ah! Sial. Aku jadi memikirkan perempuan yang dibicarakan Jimmy. Secantik apa dia? Sehebat apa? Aku penasaran jenis wanita seperti apa dia.

><><><><><
Quote:


Ouh.. macam novel dah ni..
asal jgn ada kentang diantara kita aj ya gan. Hahaha emoticon-Ngakak
Quote:


Gak kok gan. Gak ada kentang diantara kita. Cuman rada gantung aja nanti. Wkwkwk.
Quote:


SEtelah ane baca.. bagus ceritanya gan..!!
pendalaman lingkungan sekitar cukup menyakinkan..
Uda pernah ke amrik ya gan?
Quote:


Makasih gan. Jadi malu... emoticon-Malu (S)

Ke Amrik? Belum. Sama sekali belum. Hanya lihat dari video dan foto yang dikasih sepupu yg memang tinggal disana. Hehehe.
Quote:


Sama sama.. biar semangat nulisnya gan. Hahaha
Ouh.. gtu toh. Pantesan tau lokasinya. Siipp dahh!!!
wih bang karel bikin cerita lagi nih
kirain nyambungin si detektip sama angel, eh ternyata kisah baru
ijin diriin tenda dlu ah, mumpung masih didepan emoticon-Malu (S)
Cerita baruuu.. kaya novel hasil translate emoticon-Big Grin

Tokoh utama cowonya belum pernah jadi playboy ya rel?
ELF?
berasa kesindir gw man.. emoticon-Hammer (S)

semoga lebih kompleks ni cerita dri sblm2nya

SR aja deh gw man emoticon-Blue Guy Peace
Quote:


Iya tadinya. Tapi gak jadi. So, berubah haluan deh.

Quote:


Belom. Hahaha. Gimana mau jadi playboy? Sama cewek aja kadang suka malu-malu kucing. Hahahaha.

Quote:


Dihhh... Pede amat luuu. Hahahaha.

Iya. Ini cerita paling ribet yang pernah gue buat.

Jangan SR dongs pid. Ahhh. Hapid mahh emoticon-Frown
Quote:


sip. banyakin charanya juga

iye2 gw sempetin post klo pas di warnet..
-__-

ane ketinggalan (kelupaan) ngikutin A Girl Named Sarah baru selesai marathon eh udah ada yg baru lagi

well can't wait to see your next work dude

Chapter 1 Part 2

Alarm berbunyi pukul tujuh pagi. Aku terbangun dari tidur, sedikit menarik badan dan menggaruk-garuk paha, lalu kemudian memukul kedua pipiku. Baik. Aku sudah sadar sekarang. Aku segera mandi dan setelah itu berganti pakaian. Tapi ketika aku turun kebawah, aku mengingat Jimmy. “JIM!? Kau sudah siap!?” Teriakku.

“Hmm. Sepertinya tidak ada tanda-tanda. Anna! Tolong bawakan segelas air dingin! Ingat! Dingin!”

Anna memberikan apa yang aku minta. Aku masuk kedalam kamar tidur Jimmy secara diam-diam dan seperti dugaanku, dia masih tertidur pulas. Anak ini mempunyai kebiasaan buruk. Dia tidak pernah bisa bangun pagi walaupun dia tidur lebih cepat. Ada dua cara untuk membuat dia terbangun dari mimpi indahnya. Pertama dengan menggoyangkan seluruh badannya dengan resiko dia akan memukulmu ketika dia terbangun. Dan kedua dengan cara menyiramkan mata dan rambutnya dengan air dingin tanpa harus menerima resiko dipukul. Jelas aku akan memilih cara kedua.

“Jim! Ayo bangun!” Kataku sambil menyiram air dingin.

“AHH!! AHH!! ELF!!” Teriak Jimmy yang kemudian melompat dari kasur. “INI DINGIN ELF! KAU TAU! INI DINGIN!”

“Lalu? Aku harus bagaimana? Aku lebih memilih menggunakan air daripada mendapat tamparan darimu.”

“Ya tapi kan. Ah! Sudahlah.” Jimmy terlihat sangat kesal.

“Aku tunggu di dalam mobil. Lima menit kau tidak datang, aku pastikan akan meninggalkanmu.”

“APA?! Yang benar saja?! Elf! Kau… ah!” Jimmy bergegas masuk kedalam kamar mandi sedangkan aku melangkah keluar rumah dan segera masuk kedalam mobil.

“Anna, tolong jawab setiap e-mail yang masuk dan atur jadwal mereka untuk bertemu denganku. Jangan lupa berikan Jim sarapan paginya dan berikan uang agar dia bisa berangkat kerja. Mengerti?”

“Saya mengerti.” Anna kemudian memberikan kotak sarapan pagi. “Perlukah saya siapkan makan siang anda?”

“Tidak. Aku akan makan diluar. Baiklah aku rasa ini sudah lima menit.” Aku segera menginjak pedal gas dan kemudian pergi menjauh sementara Jimmy hanya bisa berlari keluar sambil berteriak “ELF! ELF! DASAR KURANG AJAR!”

Aku tiba di kantor pukul delapan tepat dan segera melangkah untuk mengisi absensi elektronik agar aku tidak terkena sanksi akibat terlambat. Kantorku cukup besar untuk ukuran perusahaan berita. Di belakang meja resepsionis terpampang sebuah kalimat yang bertuliskan, ‘Seek the Truth Then Be Brave to Tell It to The World. – Steven Harold.’

Kalimat itu di ucapkan oleh sang pendiri perusahaan berita ini ketika pertama kali dia menerbitkan beritanya. Ya, dia adalah Steven Harold. Sang wartawan dan pimpinan yang sudah melegenda karena keberaniannya untuk mengungkapkan kebenaran. Terkadang aku berharap seperti dia yang mempunyai keberanian lebih untuk menyatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar. Namun sayangnya, orang-orang pada jaman sekarang terkesan abu-abu. Untuk mencari keamanan dan kenyamanan, mereka rela mengatakan yang salah itu benar dan sebaliknya. Sangat disayangkan orang-orang yang seperti ini. Orang yang tidak punya pendirian.

“ELF! Dasar kurang ajar! Kalau kau mau bercanda tidak seperti itu!” Jimmy muncul di depanku dengan wajah berwarna merah padam. Aku rasa dia marah? Atau ada hal lainnya?

“Eh? Kok? Aku tidak bercanda. Sudah kukatakan padamu bahwa dalam lima menit aku akan berangkat. Jika kau tidak muncul, ya aku tinggalkan.”

“Tapi tidak seperti itu juga, ELF!”

“Kau sudah kenal aku lama kan, Jim? Aku memang tipikal orang yang sangat-sangat peduli pada ketepatan. Jika kita tidak dapat menjaga ketepatan dan efisiensi waktu, bagaimana nanti dengan anak-cucu kita? Atau bahkan generasi penerusnya? Mungkin mereka bisa lebih buruk. Masa depan yang baik itu dimulai dari hal yang kecil, Jim.”

Jimmy hanya dapat menatapku dengan tatapan anehnya. Aku rasa dia mulai menyadari betapa anehnya diriku atau mungkin cukup menyebalkan. Tapi inilah aku.

“Anna sudah memberikan sarapan paginya?” Tanyaku.

“Sudah. Begitu juga dengan uang bensin.”

“Ayo naik keatas. Ada banyak hal yang harus kita kerjakan hari ini.” Kataku sambil melangkah menuju lift bersama Jimmy.

Aku menekan angka lima dan segera pintu lift tertutup. Namun tepat sebelum pintu tertutup, seorang perempuan berlari ke arah kami dan meminta agar menahan pintu lift. Jimmy hanya dapat diam terpaku ketika melihat perempuan itu sementara aku segera menahan pintu lift agar tetap terbuka dan kemudian perempuan itu masuk.

Nafas perempuan itu tidak teratur namun dia mencoba untuk mengatakan sesuatu. “Te… terima kasih…”

“Ya. Sama-sama.” Jawabku datar. Aku memperhatikan perempuan itu. Rambutnya berwarna coklat dan tidak terlalu panjang. Tinggi? Ya. Bisa dikatakan seperti itu. Perempuan ini cukup tinggi jika dilihat dari sudut pandang para pria. Mata indahnya yang berwarna hijau muda mampu mengikat siapa saja. Wanita ini merupakan sosok sempurna bagi para pria. Ya, cukup sempurna.

“Biar kutebak. Terburu-buru, kemeja serta rok baru, membawa tas yang isinya kertas-kertas tidak penting, serta wajah yang baru aku lihat. Kamu pasti karyawan baru.” Kataku.

Perempuan itu menatapku dengan tatapan kagum. “Y… ya. Aku merupakan karyawan baru. Dan kalian merupakan karyawan baru juga?”

“Ah. Itu tergantung dari kapan kami mulai bekerja. Pria disebelahku ini sudah satu tahun bekerja disini dan aku sudah…”

TING!

“Oh!” Teriak perempuan itu. “Kita sudah sampai. Aku pergi dulu. Harus menghadap manajer di hari pertama. Sampai nanti.” Katanya sambil berlari menuju kantor manajer.

Aku berjalan keluar dari lift sementara Jim masih diam terpaku. Entah apa yang dia pikirkan. “Hei Jim? Sehat?”

“Elf… perempuan tadi… itu perempuan yang aku bicarakan tadi malam. Dia yang ingin aku jodohkan dengan mu.”

“Oh ya. Aku tau dari saat pertama aku melihatnya. Apa kau bermimpi tentangnya?”

“Ya… a… Elf. Sudahlah. Ayo.”

“AH! Sudah kuduga. Kau jatuh cinta padanya, Jim. Kau memang tidak ingin menjodohkan dia dengan diriku dan seperti kataku tadi malam, ini cinta dalam pekerjaan.”

“Elf! Jimmy! Kalian dipanggil oleh manajer.” Teriak Michael. Salah satu rekan kerja kami yang juga tipe orang yang sangat sering menjilat manajer agar cepat naik pangkat.

“Ya. Kami kesana. Ayo Jim.”

Kami masuk kedalam ruangan manajer. Di atas meja terletak papan nama miliknya. Raymond Shawn. Dia merupakan manajer terbaik yang pernah aku temui. Bukan hanya pengertian kepada karyawan, namun dia memiliki kharisma yang tinggi serta paham betul dengan kelebihan dan kekurangan karyawan dan perusahaan ini. Dia manajer yang baik hati dan dia merupakan sahabat dari Steven Harold. Tepat di depan kami berdiri seorang perempuan. Perempuan yang baru saja kami temui di dalam lift.

“Ada perlu dengan kami, bos?” Tanya Jimmy.

“Jimmy, Elf. Perkenalkan sekretaris baru, Autumn Lee. Dan Autmn, ini adalah dua karyawan terbaikku sekaligus atasan kamu. Elf dan Jimmy.”

“Elf.” Kataku sambil menjabat tangannya. “Aku sebagai atasan dalam bidang kriminal dan segala sesuatu yang berhubungan dengan psikologi manusia.”

“Jim. Panggil aku Jimmy, nona manis. Aku tidak seperti Elf. Aku sebagai atasan dalam bidang olahraga dan gaya hidup.” Kata Jimmy dengan senyuman manisnya. Senyuman yang dapat membuat setiap perempuan tersipu malu.

“Sangat senang bisa bertemu dengan bapak berdua. Maaf atas ketidaksopanan ku tadi.”

“Itu bukan masalah. Benarkan, Elf?”

“Ya. Tentu saja.” Jawabku.

“Baik-baik.” Sela bos Shawn. “Kalian sudah saling bertemu dan sekarang kalian bisa kembali ke meja masing-masing. Oh iya. Setelah makan siang, kita akan ada rapat penting. Saya juga mau laporan bulanan kalian nanti. Jangan lupakan itu, Jimmy, Elf.”

“Tentu saja bos.” Kata Jimmy sambil melangkah keluar terlebih dahulu.

Ah. Ya. Jimmy benar. Perempuan itu memang cantik dan mungkin satu-satunya perempuan yang paling cantik. Tapi aku tidak tertarik. Sifatnya? Walaupun sopan namun terlalu optimis. Itu berbahaya. Semoga saja perkiraanku ini salah, namun ada hal lain dibalik senyuman perempuan itu. Siapa tadi namanya? Autumn?

><><><><><
Quote:


Siap pid! emoticon-Big Grin

Quote:


Thanks mate.. Gue amat sangat menghargainya.

Enjoy! emoticon-Big Grin
Keep update emoticon-I Love Kaskus (S) jgn kentang emoticon-Blue Guy Peace

Gembok pejwan hehe emoticon-Big Grin