alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/552bd32b128b46d7438b456f/ketika-takdir-berkata

Ketika Takdir Berkata (My True Story)

I choose to love you in silence
for in my silence I find no rejection.

I choose to love you in my loneliness
for in my loneliness no one owns you but I.

I choose to adore you from a distance
for distance shields us both from pain.

I chose to imprison you in my thoughts
cause in my thoughts, freedom is for me to decide

I choose to kiss you on the wind
for the wind is gentler than my lips.

I choose to hold you only in my dreams
for in my dreams there is no end...

-Unknown


Pernah gak kalian ngebayangin suka sama orang dan ternyata orang itu beneran suka sama lo, dan ketika lo tahu "dia" suka sama lo, semua itu gak se-simple yang lo bayangin. Kadang lo bisa sampe berharap itu semua gak usah sama sekali terjadi, di sisi lain kadang lo juga berharap bahwa takdir berpihak kepada lo tapi kenyataanya itu semua cuma sekedar harapan. Pada nyatanya lo harus jalanin semuanya tanpa pernah lo bisa berharap lebih.

Inilah sepenggal kisah hidup gue...
Diubah oleh hujandisorehari
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Part 1 - Intro


“Jangan berakhir
Aku tak ingin berakhir
Satu jam saja
Ku ingin diam berdua
Mengenang yang pernah ada
Jangan berakhir
Kar’na esok takkan lagi
Satu jam saja
Hingga ku rasa bahagia
Mengakhiri segalanya
Tapi kini tak mungkin lagi
Katamu semua sudah tak berarti
Satu jam saja
Itu pun tak mungkin
Tak mungkin lagi
Jangan berakhir
Ku ingin sebentar lagi
Satu jam saja
Ijinkan aku merasa
Rasa itu pernah ada”

Kira-kira itulah potongan lagu yang malam itu terlantun untuk mengisi sisa malam gue dan 2 teman gue. Air mata sepertinya sudah berada di penghujung mata kami yang sudah tinggal menunggu waktunya untuk tertutup pada malam itu. Bukan tanpa alasan hal itu terjadi, kesetiaan Andika terhadap Gadis lah yang membuat kami menahan air mata itu. Andika? Gadis? Ya, pada malam itu kami menonton film “Satu Jam Saja” yang memang cukup menguras emosi dan hati, kalau kata salah satu teman gue pada malam itu, film nya cukup membuat hati galau se-Jabodetabek. Yah, tapi memang itulah kenyataannya film tersebut dengan soundtracknya yang mendayu-dayu dan cukup menyayat hati itu lah membuka sebuah cerita masa lalu gue yang sangat berkesan bagi gue namun sebenarnya sudah sangat ingin gue lupakan.

Sebelumnya perkenalkan, nama gue Joni. Gue adalah mahasiswa tingkat 2 di sebuah universitas negeri yang ada di kawasan Jabodetabek. Gue mahasiswa biasa yang sehari-hari tinggal di kosan, tapi kalau weekend datang gue akan pulang ke rumah gue di bilangan Jakarta-Tangerang, maklum rumah gue sangat dekat dengan perbatasan Jakarta Selatan dengan Tangerang. Terus 2 teman gue yang bersama gue pada malam itu sebut saja Alex dan Blex mereka juga berkuliah di universitas yang sama dengan gue, bahkan mereka kuliah di fakultas yang sama dengan gue. Sehari-hari mereka juga tinggal di kosan yang sama dengan gue dan juga mereka kalau weekend akan pulang ke rumah mereka yang berada di Bekasi. Kayaknya cukup perkenalan tentang diri gue dan 2 teman gue.
Ini cerita baru ya gan??

Ane ijin nenda di mari ya gan,,

Diubah oleh da3j2
Quote:

iye nih gan, selamat menikmati

Quote:


Oke gan di tunggu updatean nya emoticon-Big Grin

Part 2 - Satu Jam Saja

Kembali lagi ke malam itu, film “Satu Jam Saja” memang membuat kami bertiga lupa diri. Lupa bahwa kami adalah 3 orang lelaki yang sehari-harinya terlihat tegar terutama si Alex, menjadi lelaki yang bisa berkaca-kaca karena terhanyut dalam ceritanya yang sangat menyayat hati tersebut. Mungkin bagi laki-laki akan lebih mengena mengingat Andika merupakan sosok lelaki yang memendam kepedihan yang teramat sangat. Oke, lanjut ke hal yang sudah gue bilang sebelumnya, film tersebut sukses untuk membuka sebuah cerita masa lalu gue yang sangat berkesan bagi gue namun sebenarnya sudah sangat ingin gue lupakan dikarenakan film tersebut memiliki beberapa kesamaan dengan cerita gue.

Jadi, setelah melihat film tersebut dan sembari masih mendengarkan soundtrack film tersebut, gue langsung terdiam merenung karena seketika teringat akan cerita gue di masa lalu. Sadar dengan kondisi gue si Blex langsung menanyakan apa yang terjadi dengan gue, “Jon, lo kenapa?” Seketika reflek gue menjawab, “Gapapa kok Blex, emang ada yang salah sama gue?” Langsung Blex mempertanyakan pernyataan gue, “Lo galau banget ya nonton itu film? Kalo iya lebay banget lo, sedih sih tapi ya kali lo sampai segininya.” Terus gue menjawab pertanyaan Blex , “Ah engga kok beneran gue biasa banget malah, cuma capek aja. Kalau mau yang galau itu tuh si Alex matanya udah berair aja tuh, tinggal tunggu tumpahnya.” Alex pun langsung menjawab “Halah lo gausah alasan dengan mengalihkan topik gitu deh Jon.” Seketika gue langsung terdiam dan langsung mulai memasuki memori masa lalu gue.

Kembali ke masa sekolah dasar, sebelumnya latar belakang gue adalah satu murid pindahan dari kota yang terkenal akan pelajarnya dan pindah ke Jakarta saat kelas 4. Saat di Jakarta pun karena kondisi gue yang pindah di saat yang kurang tepat dimana penerimaan murid baru dan pindahan sudah lewat di Jakarta, maka gue harus menjalani kehidupan gue selama 2 tahun di sekolah dasar negeri yang kurang terkenal di Jakarta. Kemudian setelah menjalani 2 tahun masa sekolah dasar gue di Jakarta, pada saat tibalah saat kelulusan dan gue harus memilih sekolah menengah pertama untuk melanjutkan pendidikan gue. Pada saat itu gue belum tahu begitu banyak tentang sekolah menengah pertama yang bagus di Jakarta, namun untungnya gue sempat mengetahui salah satu sekolah menengah pertama negeri yang memang memiliki mutu yang baik di Jakarta, sehingga saat lulus dari sekolah dasar gue dengan nilai yang bagus tapi agak pas-pasan mencoba untuk mendaftarkan diri ke sekolah tersebut. Setelah gue mendaftarkan diri dan dilakukan proses seleksi maka gue resmi menjadi murid sekolah menengah pertama negeri tersebut, meskipun gue masuk dengan peringkat yang sangat memprihatinkan. Namun kini gue sadar bahwa itu semua adalah suratan takdir yang tidak akan pernah bisa gue hindari dan berawal dari situlah kisah yang menggoreskan kenangan yang tidak akan pernah gue lupakan ini dimulai.
judulnya nanggung... cmiiw... cerita galau2 romantis ane paling doyan... kep apdet ya men....
Quote:


maklum baru pertama kali nulis nih gan emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S)

Part 3 - Masa Lalu

Sekitar 7 tahun yang lalu, pada hari setelah gue diterima, tidak terlalu lama kami para calon siswa baru dari sekolah tersebut dipanggil untuk melakukan daftar ulang di sekolah tersebut. Pada hari itu gue melihat banyak sekali murid-murid baru yang sudah diterima di sekolah tersebut dan banyak diantara mereka yang sangat good-looking untuk masa itu dan untuk anak seusia tersebut. Setelah melihat kondisi tersebut gue langsung berkata dalam hati “Wah, ga salah juga ya gue masuk sekolah ini, udah sekolahnya bagus, fasilitasnya juga kelihatannya bagus belum lagi anak-anaknya juga asik-asik dan good-looking lagi.”

Setelah gue berkata seperti itu dalam hati, gue dikejutkan oleh suara dari orang tua gue yang bilang sama gue bahwa ruangan daftar ulang akan diurutkan sesuai dengan peringkat masuknya. Duaarrrr, bagai disambar petir di siang bolong, gue langsung kaget karena gue langsung agak seram ngebayangin akan seperti apa anak-anak yang berada di peringkat yang tidak beda jauh dengan gue. Dalam bayangan gue mereka adalah anak-anak yang bandel dan cukup seram, tapi bayangan itu gue tepis jauh-jauh dan gue langsung berpikiran positif bahwa ini sekolah bagus, gak mungkin anak-anak bandel, seram dan brandal yang notabene biasanya akademisnya kurang akan bisa masuk sekolah ini.

Oke, dari situ gue sudah tidak lagi khawatir dengan hal itu, tapi saat ini yang berkecamuk di kepala gue adalah rasa sedikit malu ya tengsin lah karena orang-orang bisa mengetahui peringkat gue yang sebenarnya, terlebih kalau ada cewek cantik yang peringkatnya lebih bagus dari gue dan tau bahwa gue gak lebih pintar dari dia, haduhhh…. Tapi bagaimanapun gue harus bisa cuek dengan hal tersebut dan dengan bismillah dan muka yang sedikit ditebalkan gue masuk ke ruangan daftar ulang tersebut dan Alhamdulillah setelah melewati proses daftar ulang, jadilah gue secara resmi bagian dari sekolah tersebut.


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di