alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
5 stars - based on 10 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5526707a582b2ef0368b456e/how-the-story-ends

How The Story Ends

How The Story Ends


Gue Arya, mungkin para penghuni SFTH jaman dulu (sekitar 2011-2012) pada kenal gue yak emoticon-Ngakak (S) sekarang gue juga agak asing dengan SFTH karena udah jarang banget nongol disini. Untuk yang belum baca cerita gue, silahkan baca cerita yang lama dulu, supaya tau tokoh-tokoh dan jalan ceritanya. Jadi ketika baca cerita gue yang baru ini, kalian bakal paham. Apa perlu gue perkenalan ulang? Hmm sedikit singkat tentang gue, nama gue Arya seperti yang sudah gue bilang diatas, gue anak kedua dari dua bersaudara. Usia gue masih sangat muda dan saat ini gue sudah punya anak usia 6 bulan. Dicerita yang lama, pada awalnya gue dedikasikan cerita itu untuk mantan gue, dimana bermula saat gue masih SMP, dan dicerita ini gue dedikasikan untuk istri gue, dimana cerita ini akan gue mulai ketika gue masuk kuliah.

Gue terkenal sebagai seseorang yang sama sekali tidak bisa setia, selalu saja gue mencari celah untuk sekedar say hi atau parahnya main-main / selingkuh dengan wanita lain padahal gue udah punya pacar yang jelas-jelas sayang, cinta dan sabar banget ngehadapin gue, namun sekeras apapun gue mencoba untuk setia, selalu saja gue tergoda untuk melakukannya lagi, lagi dan lagi.

Ini adalah kisah seorang pemuda berusia belasan yang pada akhirnya luluh dan sangat setia setelah kelahiran anak pertamanya. Enjoy!

How The Story Ends


Quote:


Diubah oleh deefrock
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 4
RESERVED
naaahhh akrnya elu kmbali bang emoticon-Ngakak (S)
nitip sendal dlu bang sambil nunggu apdetan emoticon-Big Grin
PART 1

“Ahhh cape nih Syif, ngurusin yang kayak gini mulu.. Bulak-balik gak beres-beres tapi berkasnya...” Gue menggerutu kesal ke Syifa.

By the way Syifa itu adalah pacar gue, sudah sekitar setahun lebih kita berpacaran, entahlah berapa pastinya karena gue samasekali gak pernah inget sama jumlah lamanya kami menjalin kasih. Syifa 2 tahun lebih tua dari gue, dia sudah kuliah di salah satu univ swasta sedangkan gue yang masih bocah ini baru saja mengurusi berkas-berkas untuk masuk kuliah.

“Kenapa sih, Ar.. Ngurusin buat masa depan aja kamu males-malesan gini. Kalo gak mau kuliah ya tinggal bilang Ayah, gak susah kan?” Syifa seperti udah males ngadepin gue yang emang sama sekali gak ada niatan untuk kuliah.

Ya memang gue sama sekali gak ada niatan untuk kuliah. Gue lebih senang memulai suatu usaha dan memajukannya dengan hasil gue sendiri, tanpa harus kuliah. Tapi apa daya, gue hanyalah seorang anak yang masih membutuhkan orang tua, jadi gue harus tetap nurut sama orang tua, dan dengan berat hati dan malas-malasan gue mulai mengurusi berkas-berkas, keluar-masuk sekolah, legalisir dan tektekbengek lainnya.

Untungnya saja ada Syifa, dia selalu mau gue repotin dengan menuruti gue dan mengantar-antar gue untuk mengurusi kuliah gue ini. Pada saat ini yang sibuk daftarin gue kuliah ya Syifa ini, gue sih asik duduk aja sambil main handphone, sedangkan syifa mengurusi segala macamnya sampai semuanya selesai.

Sebenarnya sih gue udah keterima disalah satu Universitas Negeri di Kota Bandung, tapi gak gue ambil karena gue tau sendiri bagaimana ketatnya suatu aturan di Universitas Negeri, jadi gue cari Universitas swasta aja. Walaupun ayah gue memaksa gue untuk ambil Univ Negeri, gue meminta pengertiannya dan berjanji-janji palsu bahwa gue akan kuliah dengan bener walaupun di Univ Swasta.

“Nih udah beres kamu tinggal masuk aja, disini gaada MOS segala kok tenang aja ya hunny” Kata Syifa sambil ngasih gue map yang berisi berkas-berkas.

“Iya Syif... Makasih banyak ya pacarnya akuu...” Gue berkata sambil mecubit-cubit tangannya.

“Ada maunya nihh kalo udah manja-manja gini..” Tanya Syifa.

“WS (Warung Steak) yuk, Beeeeb...” Gue berkata manja sambil gandeng di sambil menuju mobilnya.

“Iya hayu deh hayuuu, seneng banget sih ke WS...”

Gue pun melajukan mobilnya melewati macetnya dan ramainya kota Bandung di sore hari. Gue mengarahkan mobil kearah Taman Sari sambil melantunkan lagu yang gue play di MP3 Player mobil Syifa. Lagu dari All Time Low menemani perjalanan kami pada sore ini, mobil yang gue kemudikan mungkin hanya melaju sekitar 20km/jam karena padatnya kota Bandung di jam-jam pulang kerja ini.

Warung Steak and Sh*ke merupakan tempat makan favorit gue, bukan karena rasanya yang sangat enak, bukan. Tapi karena harganya yang cukup bersahabat di kantong pelajar seperti gue emoticon-Ngakak (S) Tempat ini merupakan tempat favorit gue sama Syifa ketika kami sedang kehabisan uang emoticon-Ngakak (S)

“Udah aku tebak kamu pasti pesen sirloin double sama milkshake coklat kaaaan? Makannya aja double tapi tetep aja kurus ga gendut-gendut” Syifa berkata sambil membolak-balikkan kertas menu berwarna kuning yang hanya selembar itu.

“Tau aku banget sih, Beb. Aku juga tau kamu pasti pesen chicken steak sama milkshake strawberry ya kaaan?”Gue berkata kemudian menyalakan sebatang rokok.

Gue sama Syifa memang sering banget kesini, makanya kita sampai hafal pesanannya karena memang dari awal kita pertama kesini sampai sekarangpun menu yang kita pesan gak pernah ganti, pasti itu-itu aja. Sirloin Double + milkshake coklat untuk gue dan Chicken Steak + milkshake strawberry untuk Syifa.

Selama makan Syifa selalu senyum-senyum sendiri ketika lihat gue makan, memang kebiasan Syifa tiap makan ya liatin muka gue yang cameuh ini, jadi rada aneh gitu kalau lagi ngunyah makanan, kayak marmut katanya. Tega memang, pacar sendiri dikatain kayak binatang.

“Apaansi, Beb. Pasti aja kalo lagi makan liatin aku mulu..” Gue membuka pembicaraan setelah sebelumnya kami larut dengan makanan masing-masing.

“Lucu ih kalo lagi makan. Ganteng, Hun..” Katanya sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah gue.
“Aku mah emang ganteng kapan pun, Beb..” Jawab gue kepedan tiap dia bilang ganteng.

“Iya bilangnya sih ganteng, tapi disamainnya sama marmut..” Sambung gue lagi.

Dan teruslah kami berdebat membicarakan marmut dan lain sebagainya sampai makanan habis.

“Semangat dong hunny ngadepin kuliah, kuliah itu asik kok. Gak seperti yang kamu pikirin..” Syifa menyemangati gue yang memang sangat malas untuk menghadapi kuliah.

“Iya asik sih asik, Beb. Tetep aja aku males ngadepin jadwal yang rutin..” Jawab gue lalu mneghirup asap rokok dalam-dalam.

“Kalo cepet lulus kuliah kan, cepet juga kamu ngelamar aku, Hun...” Goda dia.

“Cepet atau lambat, mau aku lulus kuliah ataupun engga, secepatnya aku bakal lamar kamu, Beb!..” Jawab gue dengan pasti.


Tunggu aja tanggal mainnya, Syif. Cepat atau lambat, aku bakal lamar kamu!


Baby I'm Yours
by Arctic Monkey

Baby, I'm yours (Baby, I'm yours)
And I'll be yours until the stars fall from the sky,
Yours, until the rivers all run dry
In other words, until I die


Baby, I'm yours (Baby, I'm yours)
And I'll be yours until the sun no longer shines,
Yours, until the poets run out of rhyme
In other words, until the end of time


I'm gonna stay right here by your side,
Do my best to keep you satisfied
Nothin' in the world could drive me away
'Cause every day, you'll hear me say

Baby, I'm yours (Baby, I'm yours)
And I'll be yours until two and two is three,
Yours, until the mountains crumble to the sea
In other words, until eternity

Baby, I'm yours
(Til the stars fall from the sky)
Baby, I'm yours
(Til the rivers all run dry)
Baby, I'm yours
(Til the sun no longer shines)
Baby, I'm yours
(Til the poets run out of rhymes)

PART 2

Gue bermalas-malasan dan gak mau untuk kuliah pun, pada nyatanya kan gue harus tetap menjalani itu. Bisa dipecat jadi anak mungkin kalo gue gak jadi kuliah, padahal Ayah gue udah membayar semuanya. Dengan malas gue bangun pagi-pagi di hari Sabtu yang seharusnya digunakan untuk sekedar bermalas-malasan dan bangun siang. Pergi ke garasi untuk memanaskan si jujup motor kesayangan gue, kemudia berangkat mandi.

Syifa emoticon-Cek PM (S) : Semangat hunny pengenalan mahasiswanya. Kalo kamu semangat, nanti malem kita jalan deeh malem mingguan yah yah yaaaah emoticon-Kiss (S)

Gue lihat ada pesan dari Syifa begitu gue beres mandi, dan dengan cepat kita gue membalasnya.

Gue emoticon-Cek PM (S) : Iya beeeeb, bebek goreng borromeus yahhh

Syifa emoticon-Cek PM (S) : Siap sayangkuuuu emoticon-Malu (S) emoticon-Kiss (S)

Setelah siap-siap menggunakan kaos dibalut dengan kemeja kotak-kotak dan jelana jeans biru belel gue siap menuju ke kampus. Setibanya dikampus sudah banyak sekali orang yang duduk berbaris disebuah aula yang cukup besar. Gue lihat jam tangan dan memang benar saja, gue sudah telat sekitar 15 menit. Ada 2 meja berjejer yang diduduki oleh kakak-kakak mahasiswi yang sepertinya menunggu untuk registrasi para mahasiswa baru. Gue menghampiri kakak-kakak mahasiswi yang lumayan seger-seger itu. Baru saja gue mendekat gue langsung ditanya oleh salah satu dari mereka.

“Fakultas apa?..” Tanya seorang kakak mahasiswi itu.

“Fakultas Teknik, Kak..” Jawab gue dingin.

“Yaudah isi dulu datanya disini..” Kakak mahasiswi itu menunjuk sebuah buku.

Gue mengisi buku itu dengan tulisan gue yang sangat jelek. Eh emang bener loh tulisa gue itu jelek dan kadang gue sendiri gak bisa ngebacanya. Malah kata guru gue dan kebanyakan orang lainnya tulisan gue itu kayak sledri dan sleting.

Masuklah gue kedalam aula dan duduk dibarisan para mahasiswa baru fakultas teknik. Acaranya sangat membosankan menurut gue, karena hanya pengenalan-pengenalan para pejabat dan rektor dari universitas gue. Dan sisanya hanyalah peraturan-peraturan yang harus ditaati para mahasiswa baru. Cukup lama acara tersebut berlangsung, dan gue sama sekali gak menghiraukan para pembicara, gue hanya bemain game di handphone dan telinga gue pun gue cocokin pake earphone.

Menjelang sore, barulah acara selesai. Acara selama ini hanya mendengarkan pejabat-pejabat ngomong, sangat membosankan! Gue lihat mahasiswa lain sih mereka kayak banyak nyatet catetan gitu, tapi banyak juga sih yang kayak gue, buku nya suci gak ada secoret tulisan pun.

“Ada info apa aja tadi?” Tanya gue ke orang yang disebelah gue. Cewek.

“Ya gitu, banyak banget. Ga nyatet emangnya?” Tanya dia. Sambil senyum.

“Ga nyatet. Malesin soalnya acaranya. Heeee.. Eh ya gue Arya”Gue senyum sambil mengulurkan tangan.

“Gue, Tyas. Yaudah, Ar foto aja nih catetan gue pake HP lo..” Tyas menjabat tangan gue.

Jepret...

“Thanks ya, Yas.. Yaudah gue duluan ya...”

Sekilas tentang Tyas, dia cukup tinggi, badannya bagus lah ya, dan yang paling penting di cantik brooo. Dan aneh aja gitu cantik-cantik masuk jurusan Teknik.

Gue langsung menuju rumah Syifa, menagih janjinya untuk bermalam mingguan bersama setelah gue mau mengikuti acara pengenalan mahasiswa baru.

Daerah Jalan Jakarta gak pernah keliatan sepi, selalu aja ramai. Salah satu pemukiman padat di Timur Kota Bandung. Dan gue harus melewati jalan ini untuk sampai dirumah Syifa. Untung saja gue pakai motor, kalau pakai mobil kebayang deh gimana macetnya.

Jarak rumah gue dan Syifa lumayan jauh, kalau naik motor bisa 20 menit. Gue Bandung Utara, dia Bandung Timur.

Gue tiba di rumah ber cat putih, bergaya minimalis dengan pagar cukup tinggi berwarna hitam. Didalamnya terdapat halaman sederhana dengan kolam kecil dan air mancur ditengahnya. Sang empunya rumah udah menunggu kedatangan gue sambil baca buku di ayunan yang ada di taman itu. Begitu gue sampai depan pagar, dia langsung senyum dan cepat-cepat membukakan pagar.

“Hunny....”Syifa berteriak kecil memanggil gue.

“Iya beeeb, yuk pergi. Ayah ada dirumah?..” Tanya gue sambil memarkirkan motor di samping mobilnya.

“Ada yuk. Masuk dulu, Hun..” Jawabnya sambil menggandeng tangan gue.

“Yaaaah, ada Arya nihhh..” Teriaknya begitu masuk pintu rumah.

“Aku ganti baju dulu ya, Hun..” Lanjutnya lagi.

Diruang tamu terdapat beberapa sofa dan juga lemari yang berisi hiasan dan koleksi-koleksi ayah dan ibunya Syifa, yaitu patung-patung dan pajangan dari luar negeri. Disebuah buffet terdapat beberapa foto keluarga mereka, ada ayahnya, ibunya, Syifa, dan juga adiknya, Faisya. Ditembok sisi lain terdapat foto keluarga mereka yang terpajang dengan ukuran yang cukup besar.

“Sore, Om..” Gue salam sama ayahnya Syifa begitu ayahnya nongol dari ruang TV.

“Iya Ar, mau kemana nih? Pake mobil aja ya Ar, Syifa semalem demam tuh, katanya kurang enak badan..”

“Iya maaf om, kayanya kecapean nganter Arya ngurusin buat kuliah hehhe..”Gue nyengir kuda.

“Iya gak papa, yang penting kuliah kamu lancar, Ar. Kata Syifa kamu gak mau kuliah ya?..”Tanya Ayahnya.

“Iya om, Arya lebih minat usaha..”

“Waah kayak om dulu tuh..”

15 Menit gue menunggu Syifa yang lagi ganti baju sambil ngobrol sama ayahnya. Ternyata sama kayak gue, ayahnya Syifa dulu malas kuliah dan akhirnya membuka sebuah usaha, ketika usahanya sedikit maju, barulah dia melanjutkan kuliah, mengambil kelas karyawan.

Syifa turun dari lantai 2, dia udah rapih menggunakan kaos putih dengan dibalut jaket jeans berwarna biru belel dan celana ketat khasnya. Rambutnya di kuncir asal-asalan seperti permintaan gue setiap main dengannya. Satu kata. Cantik!

“Yuk, Hun.. Ayah mau ikut?..”Tanya Syifa ke ayahnya.

“Enggak ah, ayah ngerti sama yg mau pacaran hahahaha...” Jawab ayahnya.

“Yaudah, aku pergi dulu ya, Yah.. Assalammualaikum..”

“Om, Arya pergi dulu ya.. Pinjem anaknya oom..”

Bisa dibilang gue sudah sangat dekat dengan keluarganya Syifa. Begitu juga dengan Syifa dia sudah sangat dekat dengan keluarga gue. Gak jarang gue nginep dirumah Syifa dengan sepengetahuan orangtua gue dan orangtuanya. Tentunya berbeda kamar.

Gak jarang juga kami malem mingguan atau main bareng sama orangtua kita masing-masing. Pernah gue sama Syifa nonton bioskop ditemani ayahnya, dan Syifa tetap aja manja-manjaan ke gue dan ayahnya Cuma senyum aja. Beliau juga pernah muda emoticon-Ngakak (S)

Oh iya ada satu yang belum gue sampaikan. Saat ini gue dan dari jaman SMA mengidap satu penyakit yang tidak bisa disebut penyait biasa, penyakit yang menyerang daerah kepala, lebih tepatnya otak. Keluarga gue dan keluarga Syifa udah mengetahui itu, dan mereka sama-sama membantu untuk mencarikan gue obat herbal, disamping gue berobat rutin ke dokter, karena tahap penyakit gue ini masih sedikit ringan. Syifa selalu menguatkan gue yang kadang nyerah karena mengidap penyakit yang gak biasa ini. Dia selalu bangkitin semangat gue dan ngasih gue harepan, bahwa gue bisa sembuh.

Gue dan Syifa berangkat naik mobilnya sedangkan motor gue disimpan dirumahnya. Kita menuju daerah Dago untuk makan di bebek boromeus. Kalo tempat ini, tempat makannya favoritnya Syifa nih. Tempatnya dipinggir jalan gitu, disamping rumahsakit Boromeus.

“Jangan lupa, Hun.. Besok ke pak Haji Sukabumi buat pengobatan yaa, udah tanggalnya nih, awas kalo lupa..” Kata Syifa sambil duduk menunggu pesanan datang.

“Iya, Beeb. Sama kamu yaah..”

“Iya, Hun. Aku pasti nemenin kamu terus kok. Terus Senin check-up ke dokter Hari ya jangan lupa..”

Ini nih cewek idaman! Dia selalu mengingatkan gue untuk berobat, perhatian sama kesehatan gue. Gue yang punya badannya aja kadang lupa tanggal berapa harus check-up dan berobat alternatif.

Thanks Syif..
Dari awal aku udah tau kamu yang terbaik..
Aku aja yang masih selalu gak puas, sampe selingkuh terus...


You
by Christian Bautista

You give me hope
The strength the will to keep on
No one else can make me feel this way
And only you
Can bring you all the best I can do
I believe you turn the tide
And make me feel real good inside

You pushed me up
When I'm about to give up
You're on my side when no one seems to listen
And if you go
You know the tears won't help but show
You'll break this heart and tear it apart
Then suddenly the madness starts

It's your smile, your face, your lips that I miss
Those sweet little eyes
That stare at me and make me say
I'm with you through all the way
'Cause it's you, who fills the emptiness in me
It changes ev'rything, you see
When I know I've got you, with me

You pushed me up
When I'm about to give up
You're on my side
When no one seems to listen
And if you go
You know the tears won't help but show
You'll break this heart and tear it apart
Then suddenly the madness starts

It's your smile, your face, your lips that I miss
Those sweet little eyes
That stare at me and make me say
I'm with you through all the way
'Cause it's you, who fills the emptiness in me
It changes ev'rything, you see
When I know I've got you, with me

It's your smile, your face, your lips that I miss
Those sweet little eyes
That stare at me and make me say
I'm with you through all the way.
'Cause it's you, who fills the emptiness in me
It changes ev'rything, you see
When I know I've got you, with me...
With me...
Quote:


heheheh iya nih baru ada waktu sekarang untuk lanjut, Alhamdulillah ternyata di thread lama banyak yang minta gue untuk lanjut, baru kesampean sekarang emoticon-Malu (S)
yah akhirnya malah pindah lapak, yo weslah emoticon-Ngakak (S)

ijin ngontrak gan sampe thread ini selesai emoticon-Angkat Beer

komen prologuenya dulu, serius lu udah nikah & punya anak? padal sepantaran sm ane, nungguin update berikutnya aja dah emoticon-Smilie
Diubah oleh balola28
Quote:


Hehehehe iya serius gan, gue nikah mudah (sangat muda) malah emoticon-Malu (S) untuk kelanjutannya ya pantengin aja terus emoticon-Ngakak (S)
kayaknya ane kudu baca trit yg lama dulu dah emoticon-Big Grin
karena udh terlanjur baca maka ane tendain dulu emoticon-Metal


emoticon-Paw
DidiMzifc
PART 3

Diawal kuliah, jadwal gue menjadi sedikit padat dari biasanya. Gue yang baru beradaptasi dengan rutinitas seperti ini sempat ngedrop dan butuh istirahat mengingat kondisi badan gue yang tidak sekuat dulu dan memang gue disarankan oleh dokter yang merawat gue untuk tidak berpikir terlalu keras dan juga melakukan pekerjaan yang begitu banyak.

Baru awal kuliah aja, dalam satu minggu gue udah absen 2 kali.

Syifa lah yang akhirnya berbaik hati dan menawarkan diri untuk mengantar jemput gue kuliah, karena memang dia juga sedang mengerjakan tugas akhir jadi jadwalnya gak begitu padat. Meskipun awalnya gue menolak untuk diantar jemput, karena memang harusnya tugas gue lah yang mengantar jemput Syifa kayak dulu. Sekeras apapun gue menolak, Syifa selalu memaksa untuk antar jemput gue. ‘Untuk kebaikan bersama’ selalu itu jawabannya.

Pernah suatu waktu, gue lagi nongkrong di kantin kampus sama temen-temen gue. Ada Edo, Irdan, Yazid, Fawzi.

“Do, gue pusing nih..” Kata gue ke Edo temen gue, sambil ngeraba-raba ke meja nyari kacamata gue.

“Waah kenapa lo, Ar?..” Tanya Edo.

“Cabut aja dulu, Ar..” Kata Irdan.

“Iya nih kayanya gue cabut duluan ya bro..”

Gue pun segera nelfon Syifa untuk meminta jemput dan diantarkan kerumah sakit. Karena gue udah merasakan sakit yang luar biasa disekitar kepala gue. Untuk jalan pun kayanya gue gak sanggup. Gue nunggu Syifa dipinggir jalan, sambil membakar sebatang rokok, dan gak butuh waktu lama untuk Syifa sampai ditempat gue berada, kayanya dia memacu mobilnya dengan kecepatan penuh.

Syifa turun dari mobilnya, dia mengambil rokok yang ada ditangan gue kemudian membuangnya. Dia juga mengambil sebungkus rokok yang baru beberapa batang saja gue habiskan beserta koreknya yang ada di saku kemeja gue, kemudian dia buang dan injak-injak. Gue hanya bisa pasrah ngeliatnya. Dia membukakan pintu dan membantu memnawakan tas gue. Barulah saat kita sudah didalam dia memarahi gue tanpa ampun.

“Kamu tuh kenapa sih? Gak peduli banget sama kesehatan. Udh tau lagi pusing gini malah tambah ngeroko!..” Dia mulai nyerocos sambil mengemudikan mobilnya.

“........” Gue cuma diem aja, bingung mau jawab apa. Toh, memang gue salah lagi kumat gini malah ngeroko.

“Kamu sadar dong! Kamu tuh lagi sakit! Harusnya kamu perhatiin kesehatan kamu sendiri, apa gunanya aku, orangtua kamu, orangtua aku, kakak kamu, mereka semua pada peduli sama kesehatan kamu, tapi kamunya sendiri malah acuh kayak gini!..” Dia lanjut marah-marah.

“..........” Gue cuma bisa diem lagi.

Suasana hening. Gue dan Syifa sama-sama diem. Hanya lagu dari radio yang terdengar.

“Iya, aku tau aku penyakitan, aku juga tau aku lemah, dan aku juga udah pernah bilangkan beberapa kali ke kamu, untuk tinggalin aku aja, toh gaada gunanya juga aku dampingin kamu, malah nyusahin kamu aja kan..” Gue angkat bicara.

Memang benar, sudah beberapakali semenjak gue mengetahui penyakit gue yang sebenarnya gue menawarkan pada Syifa utuk meniinggalkan gue, karena udah gak ada gunanya juga gue disampingnya kalao hanya bisa ngerepotin dia, nyusahin dia, dan gue gak bisa menjaga dia sepenuhnya, malah jadi dia yang menjaga gue. Terbalik. Tapi Syifa selalu menolak, dan dia bilang klo dia mau bantu gue dampai sembuh, mau jagain gue sampai sehat seperti dulu lagi, walaupun gue sendiri pun sedikit ragu, apakah gue bisa sembuh atau tidak.

Pandangan gue mulai kabur, gue udah gak kuat nahan rasa sakit yang seolah terus berputar disekitar kepala. Suara Syifa menjawab perkataan gue pun hanya samar-samar bisa gue dengar. Sampai akhirnya, gue tidak sadarkan diri.

Ya. Gue pingsan.

-----------


Gue membuka mata dan masih sulit untuk gue memfokuskan pandangan, semuanya masih blur. Setelah cukup lama mencoba memfokuskan pandangan, gue berhasil melihat sebuah jendela cukup besar dengan sinar matahari pagi yang mencoba menerobosnya, dan gorden berwarna coklat muda menjadi hiasan disampingnya. Gue terbangun didalam ruangan berukuran sekitar 4x4 meter dengan dinding bercat putih tulang. Ini bukan kamar gue, ini rumah sakit.

Gue coba menggerakan tangan dan sedikit sakit, rupanya ada sebuah benda asing yang menancap di punggung tangan gue, dan ada sebuah alat aneh lagi di hidung, yang sedari tadi gue rasakan meniup-niupkan udara kedalamnya. Rupanya selang oksigen.

Di sofa seberang tempat gue tidur, ada seorang wanita yang sedang meringkuk kedinginan berselimutkan pasmina tipis yang samsekali gak menutupi seluruh tubuhnya. Itu Syifa, ya pacar gue yang sangat setia menemani gue. Dia selalu saja memaksa untuk izin kuliah jika ada sesuatu mendadak kayak gini, temenin gue. Dan hebatnya, nilainya selalu komplit dan gak pernah kurang, dia selalu bisa mnegejar ketinggalan-ketinggalannya.

Gue pandangi wajahnya, keliatan banget kalo dia kecapean, tapi sama sekali dia gak pernah ngeluh dan tetap aja nemenin gue, padahal gue tau, dia juga lagi sakit karena dari kemarin dia gak enak badan.
Sepertinya udah cukup lama gue gak sadarkan diri, karena kemarin perasaan gue pingsan dan sekarang bangun udah pagi. Gue meraba-raba meja disamping kasur dan berhasil mengambil handphone gue, udah jam 6 lewat.

Baru saja gue hendak menyalakan TV, masuklah seorang suster dengan membawa peralatan lengkapnya.

“Pagi mas Arya, mau mandi atau di lap aja?..” Tanya suster itu.

“Di lap aja, Sus.. Biarin nanti sama pacar saya..” Jawab gue.

“Yaudah dilepas dulu aja bajunya ya, kan kalo sendiri susah kan ada infusnya..” Jawab suster itu sambil melepaskkan kaos gue.

“Sebentar ya mas, diambilin dulu airnya..” Sambung suster itu.

Saat ini pun tubuh gue yang sedikit sekseeh ini terlihat kemana-mana. Mendengar pembicaraan gue dan suster, Syifa pun terbangun. Gue angsung senyum lebar kearah dia, dan dia langsung nyamperin gue.

“Mau di lap ya, Hun?..” Tanyanya sambil pegang tangan gue.

“Iya, Beb.. Lap in doong..” Kata gue manja.

“Iya iya...”

Setelah suster membawakan sebaskom air, Syifa pun mengelap badan gue untuk bagian atas. Bagian bawah gue lap sendiri lah ke kamar mandi sambil ribet bawa-bawa tiang untuk menggantungnya labu infus. Ternyata dari semalam gue dipakein pampers, pantes serasa ada yang mengganjal.

Setelah beres semuanya, gue dan Syifa pun ngobrol lagi. Dia menceritakan bagaimana khawatirnya dia pas kemarin gue pingsan dimobilnya. Dia langsung telfon ibu gue dan membawa gue kerumah sakit. Dia cerita kalau kemarin sepanjang jalan dia kaget dan langsung nangis begitu gue pingsan.

Sesampainya dirumah sakit juga dia tetep nangis karena gue gak sadar-sadar. Dia pun menawarkan diri untuk nungguin gue dirumah sakit, karena dia ingin tau perkembangan gue. Makanya ayah dan ibu gue pun semalam pulang. Karena udah ada Syifa yang nemenin gue. Memang selalu gini sih dia, beberapa kali gue masuk rumah sakit, dan selalu Syifa yang nemenin gue, tiap hari, tiap waktu.

“Tadi subuh, dokter kesini. Kamu belum sadar. Kata dokter, kamu gak boleh terlalu kecapean, Hun..” Cerita Syifa, sambil genggam tangan gue.

“Sama satu lagi, satu lagi. Kata dokter, kamu gak boleh ngeroko!..” Sambungnya.

“Yah.. Beeeb, sebataaaang aja ya? Sehari sebatang?..” Pinta gue.

“Gak.. Gak ada ngeroko lagi!..”

Hampir satu minggu, gue habiskan di rumah sakit, dan selama satu minggu itu pula Syifa yang selalu nemenin gue. Orang tua gue, orang tua Syifa, hampir setiap sore juga menjenguk gue. Teman-teman, mantan-mantan, PDKT-an gue juga ada beberapa yang menjenguk gue emoticon-Ngakak (S) .

Diperjalanan pulang, gue satu mobil dengan Syifa. Sedangkan ayah dan ibu gue dimobil yang satu lagi.

“Beeeb, aku bisa sembuh gak ya?..” Tanya gue sambil duduk dikursi penumpang, badan gue masih terasa lemas.

“Pasti bisa lah. Aku, orangtua kamu, orangtua aku, bakalan bantu nyariin kamu obat supaya bisa sembuh, secepatnya..” Jawabnya sambil tetap fokus nyetir.

“Kalo aku gak sembuh juga gimana, Beb?..” Jawab gue pesimis.

“Kamu pasti sembuh kok.. Aku yakin itu..” Jawabnya yakin sambil tersenyum kearah gue.

Syif, you give me hope when I’m about to give up..

I wanna grow old with you, Syif..


Grow Old With You
by Adam Sandler

I wanna make you smile whenever you're sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I'll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you

I'll miss you
Kiss you
Give you my coat when you are cold

Need you
Feed you
Even let ya hold the remote control

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed if you've had too much to drink
I could be the man who grows old with you
I wanna grow old with you
Diubah oleh deefrock
wih apdet lg
msh sama syifa
istrinya syifa juga gan?
enak ya ar nikah haha emoticon-Malu
Quote:


silahkan baca yang lama dulu gan supaya ngerti emoticon-Big Grin nanti baru lanjut yg ini emoticon-Big Grin

Quote:


siapa ya istri gue? hahahahaha
pantengin terus aja broo emoticon-Big Grin
iyaaa enak bngets emoticon-Ngakak (S) emoticon-Malu (S) emoticon-Genit
Quote:


wah menghina
udah tamat ar gua baca cerita lu dr kapan tau
haha
okelah dipantengin emoticon-Malu

PART 4

Sudah lama gue ingin memiliki usaha sendiri, dan sejak kecil sepertinya gue sudah punya jiwa ‘pengusaha’. Dulu waktu gue masih duduk dibangku Sekolah Dasar, tas punggung gue selalu penuh dengan mainan, belum lagi satu tas jinjing yang berisi makanan bekal, selalu gue simpan beberapa mainan didalamnya. Bukan untuk gue pamerkan ke teman-teman, bukan. Tapi mainan semua mainan itu gue jual ke teman-teman.

Pada jam istirahat, dibawah pohon yang cukup rindang gue jejerkan mainan-mainan seperti robot-robotan, mobil-mobilan, action figure, dan lain sebagainya. Lalu gue duduk dibelakangnya sambil menawarkan pada anak-anak lain yang melewat. Lapak gue pun hampir sama penuhnya dengan bapak penjual batagor yang memang selalu penuh saat jam stirahat. Mainan-mainan tersebut gue jual dengan harga yang sangat murah, berbeda dan berbanding jauh sekali dengan harga belinya. 500-2500 harga yang gue patok untuk setiap robot-robotan dan mobil-mobilan, tergantung ukuran mainan tersebut.

Orang tua gue yang mengetahui kelakuan gue itu pun cuma senyum aja liatnya. Mungkin mereka memaklumi kelakuan anak bungsunya ini. Mereka tetap aja beliin gue mainan tiap pulang kerja dan gak sampai sebulan kemudian, mainan itu udah gue jual lagi disekolah. Bukannya gak menghargai pemberian orangtua, gue cuma risih aja liat mainan yang begitu numpuk dirumah, jadi ya karena jiwa pengusaha gue udah sejak kecil ya begitulah akhirnya.

Uang jajan yang disimpan oleh ibu setiap hari di meja makan pun gak pernah gue sentuh, karena dulu gue mikirnya ‘disekolah juga nanti dapet uang lagi dari jual mainan’ jadi ibu selalu memasukan uang bekal itu kecelengan singa besar milik gue yang belum dibuka sampai sekarang gue awal kuliah. Entah udah berapa ratus ribu didalamnya atau mungkin juta, karena sampai umur segini pun gue masih rutin memberi makan si singa besar itu.

“Yah, Arya pinjem uang dong..” Ujar gue saat lagi santai di ruang TV.

“Berapa? Buat apaan lagi sih Ar..” Bokap gue tetap fokus nonton TV.

“Mau buka usaha, Yah..” Ujar gue mantap.

Gue memang bukan tipe orang yang mudah diperintah. Makadari itu gue kepikiran untuk membuat usaha sendiri. Jadi gue gak kerja sama orang, tapi orang yang kerja sama gue.

“Berapa yang kamu butuhin?..” Tanya ayah gue.

“Arya belum tau, Yah.. Tolong buatin Arya toko peralatan listrik kecil-kecilan dulu aja, Yah.. Sama alat untuk instalasinya. Nanti Arya mau minta bantuan Om Dedi untuk jalanin usaha ini, kan sama kayak usaha Om Dedi dulu, Yah..”

Gue menjelaskan pada ayah gue seperti apa usaha yang ingin dibuat ini. Gue mau melanjutkan usaha milik om gue yang saat ini udah berenti. Gue akan memulai usaha dari awal, dan meminta bantuan om gue yang saat ini menjadi dosen teknik elektro disebuah universitas. Karena beliau adalah sarjana teknik elektro dan bisa mempekerjakan alumni-alumni dan mahasiswanya. Mempekerjakan disini artinya memberi pekerjaan ya. Karena menginstalasi ini sifatnya freelance. Ketika lagi ada order untuk menginstalasi kantor atau bangunan barulah mereka dipanggil.

Jadi disini gue hanya memanagenya diatasnya saja, untuk mengeksekusi dan mencari pelanggan gue percayakan pada om gue dan mahasiswanya yang sudah lebih berpengalaman karena gue sebenernya bukan lulusan elektro, background gue multimedia, gue hanya memodali aja. Apalagi om gue udah mempunyai banyak channel karena dulu sempat usaha gini juga, berenti karena dia lebih memilih usaha resto. Mudah-mudahan aja beliau mau membantu usaha gue. Ayah gue udah setuju untuk memberikan modal awal usaha gue ini, dan gue berjanji untuk mengembalikan uang ayah gue. Entah kenapa gue yakin kalau usaha ini bakalan maju.

Keesokan harinya sepulang kuliah, gue berkunjung kerumah om gue. Maksud dan tujuan gue berkunjung adalah meneruskan rencana gue yang sudah lama gue impi-impi kan. Setelah bercerita panjang lebar, om Dedi pun meyambut positif rencana gue, dia sangat mau untuk bekerja sama dengan gue. Dia gak ragu untuk berkerja dengan gue yang masih bocah gini, karena diapun tau kalo gue udah serius, gue gak akan main-main dengan rencana yang sudah lama gue susun ini.

Gue mengambil langkah cepat untuk segera memulai usaha ini. Pas lagi gak ada jadwal kuliah gue mulai mengurusi PT yang akan gue buat, mencari-cari lokasi yang bagus untuk membuka toko, dan mencari penyalur barang-barang yang gue butuhkan, tentunya dengan ditemani om Dedi dan juga Syifa. Karena Syifa selalu mewanti-wanti gue untuk gak terlalu capek. Dia selalu mengingatkan gue makan dan minum obat selama gue cape-capean ini.

Om Dedi yang memang sudah berpengalaman membuat usaha ini seolah sangat cepat dalam mengurusi satu persatu urusannya. Cari penyalur kabel, dengan cepatnya dia menemukan. Karena memang backgroundnya dan pengalamannya juga di bidang ini.

Bukan usaha besar memang yang gue bikin, gue hanya memulai usaha kecil-kecilan, namun Om Dedi selalu menyemangati gue, walaupun masih kecil-kecilan untung yang didapat untuk menginstalasi rangkaian listrik suatu kantor atau bangunan itu lumayan besar, sehingga cepat atau lambat, kalau memang serius, gue bisa mengembangkan usaha gue ini menjadi usaha yang lebih besar lagi. Beliau selalu berkata ‘Usia kamu masih sangat muda, Ar! 18 tahun, kamu pasti bisa!’

----------


“Kamu ih pokonya jangan sampe kuliahnya keteteran ah. Aku dukung kamu usaha tapi jangan sampe lupa sama kuliah ya, Huuun...” Kata Syifa sambil mengusap-usap kepala gue.

Saat ini, usaha gue udah mulai berjalan, udah sekitar satu bulan.

Hari minggu, gue lagi santai-santai dirumah. Dan seperti biasa, Syifa selalu mengunjungi gue kerumah. Gue lagi bersantai nonton TV sambil tiduran di paha Syifa. Dia mengusap-usap rambut gue sambil ngobrol tentang kuliah gue.

“Iya, Beeb. Iya aku juga ga ngelupain kuliah..” Jawab gue sambil tetap fokus nonton TV.

“Sama satu lagi, inget. Jangan kecapean ih...” Dia mulai cerewet kayak ibu-ibu.

“Iya tuh, Syif. Arya sekarang jadi banyak kegiatan, pulang kuliah langsung ngurusin kerjaannya, baru pulang lagi malem banget..”Ibu gue ikut-ikutan membuka kartu gue.

Padahal, setiap pulang malam gue gak pernah bilang sama Syifa. Karena gue tau, pasti dimarahin dan dicerewetin dia kalo gue sibuk sampe malem. Gue selalu bilang udah sampe rumah, padahal aslinya gue lagi ngecek ke lokasi tempat Om Dedi dan anak buahnya bekerja.

Jadi sistemnya itu bagi hasil. Client membayar DP 40% diawal untuk memfasilitasi dan membeli barang-barangnya, baru ketika projectnya beres, client bayar sisanya, dan gue bayarkan sebagian ke Om Dedi dan anak buahnya. Sisanya masuk ke kas pendapatan usaha gue.

“Tuh kan, Arya emang gitu, Bu.. Susaaah banget dikasih tau..” Syifa seoalh dibela oleh ibu gue.

“Iya kan buat masa depan juga ini ada usaha kayak gini..”Gue membela diri.

“Iya juga sih, Dek.. Kata Om Dedi udah lumayan banyak ya yg pake jasa kantor kamu?..” Ujar ibu.

“Ya Alhamdulillah sih, Bu.. Berkat channelnya om Dedi juga. Tokonya juga udah lumayan rame, Bu.. Kayanya Arya mesti nambah yang jaganya satu..”

Syukurlah, semua keluarga gue mendukung usaha gue ini. Walaupun mereka semua tetap saja mewanti-wanti gue untuk selalu menjaga kesehatan dan gak terlalu kecapean.

----------


Suatu hari dikampus. Gue, Edo, Irdan, Yazid, dan Fawzi seperti biasa lagi nongkrong-nongkrong dikantin.

“Ar, tau Tyas kan?..” Yazid nanya ke gue.

“Tyas yang mana nih?..” Balas gue.

“ Yang itu loh, Ar.. Yang anak TI..” Fawzi jawab.

“Oh ya tau, tau.. Napa emangnya?..” Gue penasaran.

“Suka sama lo tuh katanya?..”Irdan ikutan nimbrung.

“Wah? Masa iya? Ngaco ah kalian..” Gue kesenengan.

“Serius, sekelas anak TI udah pada tau, waktu lo gamasuk ribut banget deh..” Yazid menjelaskan.

“Yaudah lah biar aja..” Jawab gue santai.

Sialnya saat itu Tyas ngelewat, dan berlari kecil menuju kearah kami. Edo, Irdan, Yazid, dan Fawzi meninggalkan gue melihat Tyas yang sudah mendekat.

“Bro, kita kedalem dulu bentar ya..” Ujar Edo. Mereka pergi ninggalin gue.

Gue bingung aja sendirian, mana disamperin cewek cantik lagi!

“Eh, Yas.. Mereka pada pergi tuh, mau ke siapa?..”Tanya gue.

“Gue mau ke elo, kok...” Ujar Tyas sedikit nakal.

Shit. Mampukah gue setia?

Apa gue bakal kegoda?

kalau ngga salah ini tentang anak sma pacaran sama anak kuliah itu ya,
salah satu cerita happy ending terbaik di sfth..

berlanjut juga ceritanya..
semoga happy ending lagi..
Quote:


Menghina apaan deh? emoticon-Ngakak (S)
Wihh keren deh kalo udah tamat yg itu, tamatin juga dong baca yg ini emoticon-Ngakak (S)

Quote:


Kata siapa terbaik gan emoticon-Malu (S) gue baru aja tau taun kapan belajar nulis emoticon-Malu (S)
Ternyata ada juga yang baca cerita gue emoticon-Malu (S)
Selamat membaca emoticon-Big Grin
Quote:

iya tuh bang trlalu lama ampe udah punya kloningan skarang emoticon-Ngakak (S)
trmasuk paporit bang trit yg lma cma dlu masih SR aja emoticon-Big Grin
nah tuh ada yg nyamperin korban slanjutnya tuh bang emoticon-Shutup
Quote:


Hahaha iya ya yang penting udah balik lagi nulis nih gue emoticon-Big Grin
Weeew SR turun gunung nih ye emoticon-Ngakak (S)
Sikaaaaat korbannya emoticon-Shutup
Ekhmm emoticon-Big Grin Pagi..
Sorry gue mau tanya nih, menurut kalian nih ya yang udah baca cerita gue baik yang dulu ataupun yg sekarang, menurut kalian mening yg mana sih?
A. Tulisan seperti cerita gue dulu yg penuh dengan candaan di sela-sela cerita?

Atau

B. Tulisan seperti cerita gue yg sekarang yg mungkin sedikit serius?

Cuma mau minta pendapat kalian aja, biar gue enjoy nulisnya dan kalian jg enjoy bacanya emoticon-Angkat Beer

Thanks emoticon-Big Grin
yang serius tapi kalo emang diperluin diselipin dah itu banyolannya emoticon-Big Grin






*tumben saya posting di sfth*
kampret, gue kira lo meninggal wkwkwkw. ga taunya masih hidup aja lo, dan sudah nikah lagi emoticon-Nohope. yaudh gw izin bangun rumah di mari gan. Baca PM gue ya
Halaman 1 dari 4


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di