alexa-tracking

LIEM

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5525e5930e8b46a2548b456a/liem
LIEM
Liem…

Malam minggu ini tampak begitu cerah. Bulan bersinar dengan anggunnya, tapi jangan harap kau bisa melihat bintang-bintang di langit kota ini. Cahaya kota ini terlalu terlalu terang, kau takkan melihat bintang. Malam ini seakan menggoda semua orang untuk keluar . Hampir semua tempat di kota ini ramai dikunjungi para pengunjung. Kota ini tidak pernah berhenti bergerak, kota yang selalu sibuk.
Malam semakin larut dan dingin. Beberapa orang memutuskan untuk pulang dan tidur di rumah. Sebagian lagi meneruskan malam mingguannya di club, diskotek, tempat karaoke atau apalah itu. Semua tempat hiburan malam ramai di malam itu. Tak terkecuali klub mawar merah, Sebuah klub kuno di dekat pelabuhan kota ini. Sarang bagi semua penjahat di utara kota ini. Tempat ini sangat kumuh, bau kencing dimana – mana. Pemiliknya adalah seorang bandar narkoba, Baron namanya. Orangnya gemuk, tidak terlalu tinggi, kasar, dan gila. Dia selalu dikelilingi para pengawalnya. Dan Rio adalah pengawalnya yang paling kuat, dingin dan tidak punya perasaan. Satu lagi Febri , pengacara kondang yang selalau bisa meloloskan Baron dari hukum. Setiap malam minggu, tempat ini selalu menyajikan pertarungan tinju antar penjahat. Aturannya simple yang menang dapat uang, yang kalah jadi budak Baron.
Malam ini adalah pertandinganku. Sebenarnya aku benci melakukan ini. Aku benci berada di tempat ini. Dua setengah bulan lalu aku hanya seorang penjual ramuan China. Aku memang menguasai wushu dengan baik. Hanya saja, aku tidak pernah menggunakannya. Liem namaku, orang pasti mengira aku orang Cina karena namaku. Sejak kecil aku dirawat oleh seorang suhu kungfu keturunan China, dia menamaiku Liem, dan aku bukan orang China. Dia juga mengajariku dan Ivan wushu. Ivan adalah sahabat baikku dari kecil. Dia lebih hebat dariku dalam wushu. Dia sering memenangkan kejuaraan wushu semasa di sekolah dulu. Dia hampir lolos seleksi atlet nasional untuk cabang wushu di Asian Games beberapa waktu lalu. Tragis, dia kecelakaan mobil. Kaki kirinya cacat, anak dan istrinya meninggal. Dia depresi berat, dan dia lari ke narkoba. Dia berhutang banyak pada Baron. Dan aku hanya ingin membebaskan dia dari Baron.

“Sudah ronde 5!!!” Ivan memberitahuku.
“Fokus , Bertahan, tunggu momen tepat, serang sisi kanannya”
Pertandingan dimulai lagi. Aku coba mengingat intstruksi dari Ivan. Ini adalah pertandingan kedua belas ku. Sebelas pertandingan sebelumnya, aku selalu kalah sebelum ronde kedua. Sampai ronde 5 adalah pencapaian terbaikku selama ini. Selama 5 ronde ini aku dihujani ratusan pukulan, dan aku sudah terjatuh tujuh kali seingatku. Aku merasa ini bakal menjadi ronde terakhirku. Badanku sudah lelah, tanganku sudah tak mampu bergerak. Aku hanya bisa bertahan. Dan pertahananku terbuka dimana-mana. Aku hanya bisa pasrah di ronde ini. Dan aku kalah lagi sebuah hantaman telak mengarah ke pelipis kananku. Aku jatuh dan tak sadarkan diri.
Malam sudah berlalu. Sinar mentari pagi menerobos jendela kamarku. Perlahan aku membuka mata. Kepalaku masih pusing. Tapi kesadaranku perlahan mulai pulih. Aku melihat Ivan duduk di sudut kamarku sedang membaca beberapa bukuku.
“Hai !!!” Sapaku.
“Berapa lama gue pingsan ?” tanyaku lagi.
“Lu, keren Liem, Thank you bro!!” jawab Ivan.
“Gue ga tau bakal bales pake apaan?”
“Gue masih kalah.. Sorry bro” jawab gue.
Aku melihat ke arah Jam dinding. Jam menunjukkan pukul 10.30 pagi. Aku masih mengingat – ingat apa yang harus aku lakukan.
“ Tadi Vina ke sini” Ivan memberitahuku.
“Gue yang telpon dia agar kesini” lanjutnya.
“Oh..begitu..” jawabku singkat.
Aku bangkit dari kasurku, mencuci mukaku dan berganti pakaian. Aku ingat hari ini aku ada janji dengan Vina. Aku mencoba menyusul dia, pasti dia tidak jauh. Aku berlari menyusuri komplek pecinan ini. Akhirnya aku melihat Vina, di seberang jembatan. Dan aku pun menghampirinya.
“Vina” aku memanggilnya.
“Kamu udah baikan” sahutnya.
“Ah..Cuma luka kecil” jawabku enteng.
“Pelipismu terluka dan butuh 6 jahitan..mukamu babak belur..memar di seluruh tubuh..dan kau bilang tidak apa – apa..? hebat !!” lanjut Vina.
“Kamu tidak bisa menemui orang tuaku dengan kondisi seperti ini.”
Aku hanya bisa terdiam mendengar perkataan Vina. Seyogyanya, hari ini aku ingin menemui orang tua Vina untuk melamarnya. Vina adalah kekasihku. Dia telah menemaniku kurang lebih setahunan ini. Dia merupakan wanita yang mandiri, dan pintar. Seorang dokter muda di sebuah rumah sakit. Teman masa SMA ku. Dia memeiliki senyuman terindah di seluruh dunia, menurutku. Aku sangat beruntung bisa bersama dia. Tapi aku benar – benar dalam situasi yang sangat rumit. Aku tidak ingin melibatkannya kali ini. Aku sadar aku akan membahayakan kehidupannya.
“Kamu Jatuh lagi?…Panjat tebing kan? Atau parkour ?...kamu sangat ceroboh” Vina melanjutkan percakapannya..
“Ivan sudah cerita semuanya kepadaku..kau bertarung untuk dia hanya untuk membayar hutangnya…dan parahnya kau jual kehormatanmu hanya untuk pertarungan yang sudah diatur..” lanjutnya lagi.
“Aku terpaksa melakukannya..aku tak punya pilihan lain..” jawabku.
“Tapi bukan gini caranya..kamu harus sayang sama tubuhmu sendiri..aku khawatir ...”
Vina kemudian memeluk tubuhku. Aku masih terpaku dalam diamku. Aku mengerti perasaannya. Tak ada yang bisa kujawab. Aku dalam posisi serba salah. Ia benar, aku tak seharusnya bertarrung untuk kalah. Jika aku ingin menolong Ivan, aku harus memenangkannya. Selama ini aku benar – benar bodoh.
Sesaat kemudian Vina melepaskan pelukannya. Dengan muka cemberut dia bilang,” kamu bau banget deh...belum mandi ya?”
“hahaha...iya...ayo kita pulang” ajakku.
Kami berjalan menyusuri kanal di sebelah kampung cina. Sungai ini cukup bersih setelah pemerintahan baru intens membersihkan sungai ini. Di sinilah aku pertama kali bertemu master Liem Ho, yang juga ayah angkatku. Dan di sini pulalah aku pertama kali menyatakan cinta pada Vina, tepatnya di jembatan tadi.
Akhirnya sampai juga di debuah ruko kuno, tempatku berjualan ramuan Cina. Kamarku di lantai dua. Dan di atasnya ada sxebuah tempat latihan kecil. Aku mewarisi semuanya dari master liem ho. Beliau tinggal seorang diri. Anak istrinya telah lama meninggal. Walaupun perkembangan dibidang medis begitu cepat, tempat ini cukup ramai dikunjungi. Ada yang berobat sampai minta ramuan awet muda. Ayah Vina adalah salah satu pelangganku. Beliau suka sekali meminum ramuan gingseng dari klinik ini.
Aku pun mulai membuka pintu ini. Aku terkejut melihat ruangan ini begitu berantakan. Ada yang menghancurkan tempatku. Aku melihat sekitar dan kutemukan sebuah pesan dari Baron.
“Temui aku, di klub, Ivan bersamaku, bawa paketnya, atau dia mati!!!”
“Baron ?” tanya Vina.
“Ivan diculik Baron...kita harus selametin dia...kamu di sini saja..”
“Berjanjilah kau akan kembali”
“Iya...pasti”
Aku ingat seminggu yang lalu, Ivan menyimpan sesuatu di ruang bawah tanah. Apa yang dia simpan? Mengapa Baron mencarinya? Aku menuju ke ruang bawah tanah, mencavri benda itu. Akhirnya aku menemukannya. Heroin..20 kantong heroin. Untuk apa Ivan menyembunyikan heroin sebanyak ini? Aku masukan semua heroin itu ke tas dan bergegas pergi.
Aku bertemu Vina di seberang pintu. Wajahnya cemas mengkhawatirkan sesuatu.
“..aku pergi..jika aku tidak kembali..kamu harus tetap melanjutkan hidup” kataku.
“kau harrus menepati janjimu kali ini...bawa ini...ini giok keberuntunganku.. semoga budha menyertaimu...” Vina mengalungkan kalung giok hijau miliknya.
Sebelum pergi, aku sempatkan membakar dupa untuk ayahku. Dan berdoa untuknya dan keselamatanku.
Setelah itu, aku menuju ke klub mawar merah. Anak buah Baron bersiap menunngguku di depan. Ada sekitar 30 orang malam itu. Lalu Baron keluar.
“hey.. coba liat siapa yang datang?” sapa Baron.
“Mana Ivan?” tanyaku.
“Mana Paketku ?” jawab nya.
Aku menunjukan tas ransel ku, “ini paketmu”
Baron memerintahkan salah seorang anak buahnya,”bawa tikus itu kemari”
Salah seorang penjaganya menyeret Ivan keluar. Kedua tangannya terikat dan kepalanya ditutup oleh kantong, sehingga dia tidak bisa melihat. Kemudian dibukanya penutup kepala itu, dan ivan langsung berteriak, “ Liem lari ini jebakan..!!!”....brug!!! Ivan dipukul oleh Rio hingga terjengkang.
Ada tiga orang di belakangku, mencoba menyergapku. Tapi aku lebih sigap menghindarinya, aku berbaik dan melumpuhkan 3 orang itu. Tapi pengawal yang lainnya mencoba menyerangku secara bersamaan. Mereka banyak sekali aku kewalahan. Salah seorang anak buahnya berhasil merebut tas ranselku. Dan dibawanya pada Baron. Baron masuk ke klub bersama Ivan dan Pengawalnya. Sementara itu, Aku masih sibuk melawan 30an anak buah Baron. Tiba –tiba dari jauh aku melihat sekelompok orang berlari kearahku. “oh sial..ada lagi’ pikirku. Tapi tunggu mereka adalah nelayan lokal yang slalu ditindas Baron. Mereka datang membantuku. Sekarang seimbang, aku melihat Vina diantara mereka.
“Liem..polisi sebentar lagi datang.. ayo kita kejar baron..!!” seru Vina.
“kau bawa semua orang kesini?” tanyaku
“yap..mereka juga ingin membantumu..sama seperti aku juga..” jawab Vina.
“Kau benar benar...”
Sebelum aku selesai bicara Vina langsung menarik tanganku,”jangan banyak bicara!!”
Aku masuk ke dalam klub. Ada Rio menunggu kami. Aku menatap matanya tajam.
“murid terakhir master Liem...hmmm... menarik...” rio menyapa kami.
Rio sebenarnya adalah kakak seperguruanku. Dia dikeluarkan karena berkhianat dan membela Baron.
“hmmh..jurus naga mendaki langit..jurus amatir..” Rio kembali menyombongkan diri.
“baiklah...aku lawan dengan jurus yang sama’
“Viin...mundur..jangan dekat – dekat..” aku menggertak Vina.
Kami memiliki guru yang sama, jurus yang sama dan teknik yang sama. Dan pertarungan pun dimulai. Kami sama- sama menyerang. Tapi aku masih terlalu lemah. Aku terpental jauh. Perbedaan kekuatan yang besar. Aku bangkit lagi dan menyerang lagi. Tapi dengaan mudah dipatahkannya. Dia memukul perutku, aku terpenta lagi.
“Pukulanmu lemah...kau bertarung tanpa tekad..kau hanya menggunakan emosimu” Rio kembali berceramah.
Aku memfokuskan diri. Tiba- tiba aku teringat perkataan guruku., “jadilah rumput yang jika terinjak akan bangkit dan lebih kuat”
Aku bersiap menyerang lagi. Aku masih memakai jurus yang sama. Rio pun mengikutiku. Kami menyerang secara bersamaan. Kami beradu tinju dengan kekuatan maksimal. aku sekarang kali ini aku bertarung bukan hanya untukku saja, tapi untuk Vina, Ivan dan semua orang yang di belakangku. Aku mendorong tinjuku lebih keras lagi. Tampak Rio semakin terdesak. Aku dorong lagi dan dia terpental jauh dan tak sadarkan diri. Aku berhasil mengalahkannya. Tapi aku terlau lelah untuk bergerak. Tangan kananku lumpuh. Sesaat kemudian Baron muncul.
“hebat.. hebat... hebat !!! kau mengalahkan pengawal terhebat ku..tapi cukup sampai disini saja”
“duer..duer...!!!”
“arrgghhh!!!”
Kakiku ditembak Baron. Aku tidak sempat menghindar. Aku tetap berusaha berdiri.
“apa yang yang paling menarik dari kisah cinta? Tragedi..”
“apa tragedi yang paling menyedihkan..? kehilangan..kematian..”
“hey liem!!!bagaimana perasaanmu jika kekasihmu yang cantik itu aku bunuh di depan matamu..hmmmh..”
Baron mengarahkan pistolnya ke arah vinna. Kakiku masih emas untuk mencegahnya. Aku kumpulkan tenaga terakhirku. Baron menarik pelatuknya. Aku mencoba untuk melompat dan..dadaku terasa panas. Aku roboh...semua menjadi gelap .....


×