alexa-tracking

[Kenapa??] RI Belum Bisa Lepas dari Pangan Impor, Ini Daftarnya

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5521d239902cfebb098b456c/kenapa-ri-belum-bisa-lepas-dari-pangan-impor-ini-daftarnya
[Kenapa??] RI Belum Bisa Lepas dari Pangan Impor, Ini Daftarnya
Jakarta - Sampai sekarang, Indonesia belum bisa lepas dari bahan pangan impor. Buktinya, mulai dari garam, bawang, minyak goreng, teh, hingga beras masih dipasok dari negara lain.

Data tersebut terangkum dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Senin (6/4/2015).

Datangnya pangan impor berasal dari banyak negara. Mulai dari Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, hingga Brasil.

Berikut rinciannya bagian pertama.

1. Garam

Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan garis pantai yang panjang, harus menerima kenyataan masih mengimpor garam. Impor bahkan terjadi hampir setiap bulan, dalam volume dan nilai yang besar.

Impor pada Februari 2015 adalah 101.622 ton atau senilai US$ 4,8 juta.

Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, ada peningkatan yang signifikan. Januari 2015 dilaporkan impor garam hanya 27.459 ton, atau nominalnya US$ 1,3 juta. Akumulasi impor dua bulan tersebut adalah 129.080 ton atau US$ 6,7 juta

Garam impor paling besar bersumber dari Australia, volumenya di Februari sebesar 101.407 ton atau US$ 4,8 juta.

Kemudian adalah Singapura 2,5 ton atau US$ 8.417, India sebesar 112 ton atau US$ 9.393, dan negara lainnya secara total 100,8 ton atau US$ 13.963.


2. Teh

Teh impor yang masuk ke Indonesia mencapai 1.211 ton pada Februari 2015, atau setara dengan US$ 1,8 juta. Sedangkan di Januari, volumenya 1.574 ton atau US$ 2,5 juta.

Berikut rincian asal negara teh impor:

Vietnam 662 ton atau US$ 755 ribu
Kenya 144 ton atau US$ 380 ribu
Srilanka 43 ton atau US$ 176 ribu
Iran 246 ton atau US$ 162,9 ribu
Jepang 9,2 ton atau US$ 160,9 ribu
Negara lainnya 105 ton atau US$ 247 ribu

3. Kopi

Untuk kopi, volume yang diimpor Indonesia di Februari 2015 mencapai 430 ton atau US$ 1,6 juta. Untuk bulan sebelumnya lebih rendah, dengan volume 260 ton atau US$ 1,5 juta.

Impor kopi berasal dari:

Brasil 231 ton atau US$ 886,3 ribu
Malaysia 13,6 ton atau US$ 145,6 ribu
Thailand 76 ton atau 279 ribu
Papua Nugini 60 ton atau US$ 114 ribu
Negara lainnya 48,6 ton atau US$ 232 ribu.


4. Gula

Gula menjadi salah satu komoditas pangan yang diimpor hingga sekarang. Baik untuk jenis gula pasir dan tebu. Volumenya pun juga cukup besar dan berlangsung setiap bulan.

Gula pasir diimpor pada Februari 2015 sebanyak 10.614 ton atau US$ 4,7 juta. Naik dibandingkan Januari yang tercatat 5.969 ton atau US$ 2,8 juta.

Sementara itu untuk gula tebu diimpor sebanyak 234.870 ton, atau setara dengan US$ 95,1 juta. Angka ini turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 395.909 ton atau US$ 168,5 juta.

Berikut rincian negara asal impor gula:

Gula Pasir

Thailand 9.814 ton atau US$ 4,3 juta
Singapura 500 ton atau US$ 217,7 ribu
Malaysia 300 ton atau US$ 120,3 ribu

Gula Tebu

Brasil 186.158 ton atau US$ 76,8 juta
Thailand 48.712 ton atau US$ 18,2 juta

5. Kedelai


Fakta menyebutkan, kedelai yang tersedia di dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan, sehingga masih harus diimpor. Bahan baku tahu dan tempe ini masih sulit dipenuhi, bila hanya mengandalkan produksi dalam negeri.

Pada Februari 2015, impor kedelai tercatat mencapai 207,4 ribu ton atau US$ 103,5 juta. Tidak jauh berbeda dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yang sebesar 164,9 ribu ton atau US$ 83,7 juta.

Bila diakumulasi dalam dua bulan tersebut, maka impor tercatat 372,3 ribu ton atau US$ 187,2 juta. Naik tips dibandingkan periode 2014 yang sebesar 348 ribu ton atau US$ 199,9 juta.

Berikut rincian negara pemasok kedelai ke Indonesia :

Amerika Serikat (AS) 198 ribu ton atau US$ 98,7 juta
Kanada 5.949 ton atau US$ 3,1 juta
Malaysia 1,5 ribu ton atau US$1,1 juta
Tiongkok 524 ton atau US$ 288 ribu
Negara lainnya 848 ton atau US$ 360 ribu


6. Beras

Indonesia masih mengimpor beras, namun beras yang diimpor adalah jenis medium dan premium untuk kebutuhan restoran, hotel, dan masyarakat atas.

Impor beras ini pada Februari 2015 adalah 7.912 ton, atau senilai US$ 3,1 juta.

Dibandingkan dengan sebelumnya, impor beras pada Februari menurun signifikan. Karena pada Januari volume impor yang dilaporkan mencapai 16,6 ribu ton atau US$ 8,3 juta.

Berikut negara pemasok beras ke Indonesia:

Thailand 1.030 ton atau US$ 615 ribu
Vietnam 550 ton atau US$ 219 ribu
Pakistan 6.000 ton atau US$ 2,1 juta
Tiongkok 32 ton atau US$ 121 ribu
Malaysia 300 ton atau US$ 28 ribu

sumber


tanya kenapa??emoticon-Big Grin

===========================

Kualitas Garam Indonesia Masih Rendah, Ini Alasannya

JAKARTA - Kualitas garam di Indonesia masih dalam kategori rendah, oleh karena itu belum bisa memenuhi standar kualitas garam ekspor.

Menurut Direktur Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pengembangan Usaha KKP, Riyanto Basuki ada beberapa faktor yang menyebabkan kualitas garam Indonesia masih rendah.

"Kalau dilihat dari lahan, di Indonesia itu terfragmentasi. Perorangan menguasai lahan garam 0,27 hektar, itu kalau diteliti belum begitu efisien untuk proses yang dilakukan secara mandiri," kata dia di Gedung Kementerian KKP di Jakarta, Selasa (6/1/2015).

Dengan lahan yang terfragmentasi tersebut, maka dibutuhkan penyatuan. Namun, Riyanto mengakui, masalah penyatuan lahan ini adalah masalah yang kompleks, karena menyangkut kepemilikan.

Riyanto menyebut, untuk memproduksi garam minimal membutuhkan lahan seluas lima hektare (ha). Dengan luas lahan tersebut akan menghasilkan kristal garam yang berkualitas.

Sementara masalah lainnya adalah produktivitas. Riyanto mengungkapkan, fakta di lapangan saat ini produktivitas garam rakyat sekira 80-90 ton per ha per musimnya. Pihaknya menargetkan produktivitas bisa ditingkatkan menjadi 100-120 ton per hektare (ha), di samping penambahan teknologi, perbaikan distribusi serta penambahan gudang.

"Ini yang mau kita tingkatkan," katanya

http://economy.okezone.com/read/2015...-ini-alasannya

=======================================

MOJOKERTO – Pemerintah RI enggan menyetop kebijakan impor gula untuk menaikkan harga jual gula petani. Kebijakan impor gula dipertahankan guna mencukupi kebutuhan gula nasional yang belum tertutup oleh produksi lokal.



Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan, pemerintah bakal membatasi keberadaan gula impor. Namun, kebijakan tersebut diberlakukan secara bertahap melalui program-program yang bertujuan meningkatkan produksi gula lokal.

’’Pasti kita akan batasi,’’ katanya selepas mengunjungi Pabrik Gula Gempolkrep dan Pabrik Bioetanol di Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, kemarin siang.

Menurut Wapres, kebijakan mengimpor gula tetap dilakukan mengingat kebutuhan gula nasional belum bisa dicukupi oleh produksi dalam negeri. Pihaknya menyebutkan, saat ini kebutuhan gula nasional mencapai 4,5 juta ton.

Sedangkan, total produksi gula lokal hanya mencapai 2,5 hingga 2,8 juta ton. ’’Jadi kita harus impor 2 juta ton. Kalau kita tidak impor, kita tak bisa minum teh,’’ terang pria asal Makassar itu.

Dia menjelaskan, persoalan utama dalam masalah gula nasional adalah bukan soal impor gula, melainkan persoalan minimnya pasokan gula produksi lokal. ’’Persoalannya supply dalam negeri harus lebih baik dari sebelumnya. Dan juga rendemennya juga baik (meningkat),’’ jelas JK.

Dia berdalih, jika pemerintah memilih kebijakan menaikkan harga jual gula petani lokal, maka malah menimbulkan risiko meningkatnya penyelundupan gula asal luar negeri.

Ke depan, Wapres menandaskan Pemerintah RI bakal memfokuskan perbaikan rendemen tebu dan kualitas lahan. Caranya, dengan menyorong program pembangunan pabrik gula baru.

’’Kami ingin dalam beberapa tahun ke depan, telah membikin pabrik baru 10 unit. Supaya, rendemen gula lokal meningkat menjadi 10. Rumusannya 100:10. Jadi lahan 100 hektare dan 10 rendemen,’’ bebernya.

Pihaknya menegaskan, dengan adanya perbaikan lahan dan rendemen, petani bakal untung. Sebab, berdasar pantauannya sejumlah PG di Jawa yang memiliki rendemen rendah, petaninya mengalami kerugian.

Sedang, salah satu pabrik gula yang terbaik ada di Mojokerto yakni PG Gempolkrep, produksi gulanya mencapai 85.000 ton dengan rendemen nyaris mencapai 8. ’’Di sini yang terbaik. Jadi ke depan yang terbaik ini harus mentransformasikan ke yang buruk,’’ ucap Wapres.

Banyaknya stok gula di PG Gempolkrep, disinggung Wapres, bukan lagi gula petani. Gula tersebut milik pedagang. Tinggal ada dua kemungkinan untuk dilepas di pasaran. ’’Tinggal menunggu harga naik atau membiarkan sampai harga tinggi,’’ sambungnya.

Kunjungan orang nomor dua di Pemerintahan RI ini didampingi oleh Menko Perekonomian Sofyan Jalil dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Hadir pula Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP) dan Wali Kota Masud Yunus. Wapres melihat kondisi pabrik gula yang berusia 102 tahun tersebut dan melihat lokasi pabrik bioetanol.

Yang Diimpor Lebih dari Kebutuhan

Sementara itu, Ketua APTR PG Gempolkrep H. Mubin menginginkan pemerintah memikirkan stok gula yang banyak menumpuk di pabrik. Dengan penjualan lambat dengan harga murah diperkirakan tahun depan pabrik bakal kian menumpuk gula di gudang. ’’Lakunya laku, cuma lambat,’’ ujarnya seusai bertemu dengan Wapres dalam kunjungan ke PG Gempolkrep kemarin.

Menurut Mubin, dari produksi 450 ribu kuintal per hari, baru terserap 50 persen. Pihaknya meminta jaminan ke Wapres agar memikirkan solusi jangka pendek agar gula di PG Gempolkrep terjual semua.

Selama ini gula yang terserap hanya 30 persen, dari satu periode per 15 hari dengan hasil 45 ribu kuintal. Dengan total 11 periode.’’Di luar jawa harga Rafinasi Rp 6.500. Sementara itu, Rp 7.901 lewat lelang,’’ ujarnya.

Idealnya, harga jual gula Rp 8.500. Nilai itu dihitung dari ongkos tenaga kerja yang mahal. ’’Tapi ternyata Rp 7.800 untuk premium semboro. Lebih murah tapi apa boleh buat, karena yang menentukan pasar,’’ sambungnya.

Dirinya juga mempertanyakan proteksi pemerintah dari gula impor. Menurut dia, kebijakan impor tidak sesuai kebutuhan gula Nasional. ’’Dari kebutuhan gula 3,5 juta ton. Hasil gula 2,5 juta ton. Yang diimpor justru melebihi,’’ tudingnya.

Ke depan, pihaknya mendorong pemerintah untuk melengkapi sarana dan prasarana petani. Caranya dengan kemitraan. Namun, kalau dibebankan mekanisasi sepenuhnya kepada petani, tentu memberatkan.

Untuk diketahui, dengan rendemen mencapai 7,96 persen, gula yang dihasilkan PG Gempolkrep mencapai 85.968 ton. Melimpahnya jumlah produksi tersebut tidak didukung dengan keberhasilan pelelangan.

Pada musim giling tahun ini, gula petani lokal dilelang dengan harga jauh di bawah harga ketentuan pemerintah yakni Rp 8.150 per kilogram. (fen/yr/JPNN/end)

http://www.jpnn.com/read/2014/12/07/...por-Gula/page2
amankan emoticon-Angkat Beer

RI Produsen Ketiga Terbesar Dunia, Tapi Kok Masih Impor Kopi?

Jakarta -Indonesia merupakan produsen kopi ketiga terbesar di dunia. Namun ternyata kopi impor masih masuk ke dalam negeri. Apa tanggapan pemerintah terkait hal tersebut?

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, kopi yang diimpor Indonesia selama ini adalah kopi instan yang mutunya rendah.

"Impor terbesar dialami produk kopi instan dan disinyalir kopi instan yang diimpor adalah produk yang bermutu rendah," kata Hidayat dalam pembukaan pameran kopi nusantara 2013, di Plaza Kemenperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (25/6/2013)

Sejauh ini, menurut Hidayat, impor kopi sudah turun signifikan. Di 2011, impor tercatat sebesar US$ 78 juta. Kemudian di 2012, ada penurunan 19,01% menjadi US$ 63,2 juta.

"Impor produk kopi olahan turun sangat signifikan," sebutnya.

Sementara itu dari sisi ekspor, Hidayat menuturkan ada peningkatan dari tahun ke tahun. Ekspor produk kopi di 2011 mencapai US$ 268,6 juta yang kemudian meningkat 17,49% menjadi US$ 315,6 juta di 2012.

"Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan kosentrat kopi yang tersebar ke nagar tujuan ekspor seperti Mesir, Afrika Selatan, Taiwan dan negara-negara Asean seperti Malaysia, Filipina dan Singapura," ujarnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), impor kopi yang dilakukan Indonesia selama Februari 2013 tercatat sebesar 1.173 ton atau US$ 3,2 juta. Kopi Brazil masuk dengan volume terbesar, yaitu 364 ton atau US$ 1,2 juta.

Selain itu, Vietnam masukan kopinya ke dalam negeri sebesar 171 ton atau US$ 381 ribu. Italia dengan 21 ton atau US$ 382 ribu, dan Amerika Serikat 11 ton atau US$ 52 ribu, serta negara lainnya 316 ton atau US$ 528 ribu.

http://detikfinance.com/read/2013/06...sih-impor-kopi
garam aja masih impor emoticon-Belo emoticon-Nohope
KASKUS Ads
kapasitas produksi dalam negerinya suram
Kualitas garam di indonesia kurang bagus kah.. sampe imporemoticon-Nohope
Yg lokal kualitas ga bagusemoticon-Ngacir
miris..dan kaya' nya masih akan terus impor
Meski gw sering kritik pemerintah sekarang, buat urusan swasembada pangan tunggu setaun aja progressnya gmn
Quote:


nunggu jokowi jadi presiden om. emoticon-Cendol (S)
Nah klo thread beginian asyik buat dipantengin.

Daya beli masyarakat sekarang turun, karena masyarakat sekarang lebih fokus kepada kebutuhan primer dengan mengurangi sekunder dan tersiernya. Jadi bagaimana memberikan spare/margin buat menaikkan daya beli masyarakatnya terhadap barang sekunder dan tersier adalah dengan menekan biaya bagi barang primer, salah satunya dengan impor barang primer dengan harga dibawah biaya produksi dalam negeri. Dan itu terjadi karena supply dalam negeri ngga bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Klo di thread UKM/PKL yang protes ke Pemerintah kemarin yang sempat dibredel sama momod di BP sempat lihat ada yang posting struktur biaya penggilingan beras, bisa tuh disharing lagi di sini. Kali ajah bisa terjadi forum diskusi gimana caranya menaikkan produksi dan juga menekan biaya produksinya, daripada ngandelin Pemerintah yang Kepalanya cuma jadi tukang stempel doank.
Quote:


Untuk tea dan kopi, Indonesia termasuk produsen dan peng eksport kelas besar di dunia loh. Memang ada import, tapi sedikit, cuman untuk memenuhi permintaan pasar tertentu.


Gula dan Garam nih yg bikin pertanyaan
jembutlah emoticon-Big Grin
lagu KOLAM SUSU-nya koes plus terbukti HOAX emoticon-Big Grin
Quote:

Koreksi dikit gan, selama ini kita selalu di kasih alesan klo beras import tuh untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kelas atas, restoran dan hotel, anggepan itu sebenernya engga tepat gan.

Beras medium itu sebenarnya ya beras yang sering beredar di masyarakat , yang biasa kita beli dipasar, biasanya berasal dari padi indica dan javanica yang grainnya panjang dan kalau jadi nasi nasinya punel, petani indonesia tuh rata rata ya ngehasilin beras jenis medium ini. Ada juga pedagang yg nyebutnya Beras sentra ramos / IR 1,2,3 itu sebenernya ya beras medium ini, cuma beda nyebutnya aja.

Nah klo beras premium itu banyak klasifikasinya, soalnya ke"premiuman" suatu beras itu tergantung konsumen, ada beras yang bekatulnya masih nempel di anggep premium, ada beras medium yang butir patahnya 1% dianggep premium, ada beras yang wangi melati (mentik wangi/bashmati) atau pandan (pandan wangi), ada juga yang nganggep beras yang putih (dipoles pakai air) itu beras premium. Jadi ke premiuman beras tuh engga jelas.

Nah klo yang di sukai restoran2 tuh sebenernya beras yang nasinya jadi pera (engga punel, misah misah) itu pun cuma untuk masakan tertentu (nasi goreng) dihasilkan dari padi dari IR 64, IR42, Ciherang, klo dipasaran indonesia biasanya disebut beras bengawan, rojolele nah beras inipun biasanya juga disebut beras medium kenapa? Karena orang indonesia itu engga suka nasinya pera, jadi beras gini ini perputarannya di pasarang enggak banter.

Intinya klo ada import beras pasti bakal mempengaruhi harga beras dan gabah, karena beras yang di import itu sama aja sebenernya jenisnya seperti beras yang dihasilkan petani indonesia dan beras import itu di jual di pasar pasar. Pesan saya jangan terlalu percaya klo pemerintah ngomong "Beras import untuk kebutuhan premium" itu bohong.

Sekian koreksi dari saya..
Quote:


Gula dan kedelai sih mayan jelas. Lahan petani secara per individunya terlalu kecil. Hasil produksinya jadi gk efisien dan mahal. Kalau banding di brazil dan amerika, yg jadi negara produsen utama, disana rata-rata petaninya memiliki lahan yg luas dan udah full mesin. Beras dan garam ini yg memang agak gk jelas. Di luar kok bisa murah jauh dari kita yg didalam.
Quote:


emoticon-Nohope
Untuk gula salah satunya mungkin karena pabrik gula Glenmore yang mangkrak . Masalahnya di pendanaan karena untuk mendirikan pabrik gula lumayan padat modal. Padahal gw bercita-cita pengen buat skala mikronya, dengan gula beet yang tingkat rendemannya lebih besar dibanding gula tebu. Udah bincang2 dengan salah satu vendor mesinnya yang ada di Perancis, mereka merujuknya ke Pusat Penelitian Gula yang di Pasuruan, dari sini mereka rekomendasi lihat dulu nanti Pabrik Gula Glenmore gimana, soalnya di Glenmore rencananya ada pengolahan sugar beetnya juga. Begitu lihat Glenmore, beritanya mangkrak, gimana mau dijadiin basis pengolahan gula modern klo begini.
Quote:

klo garam mungkin krn kualitas garam dan kebutuhan garam di mari terlalu banyak mungkin emoticon-Big Grin
Quote:


ngga jg yus..coba aja ente lempar biji paya di tanah pasti lansung tumbuh emoticon-Stick Out Tongue 1 minggu-2 minggu emoticon-Cendol (S)<<----kodeemoticon-Malu/
Quote:

thanz koreksi nya gan emoticon-shakehand
Quote:


wow pengusaha gulaemoticon-Belo
negara agrarisemoticon-I Love Indonesia: