alexa-tracking

[JEDARRRRRRRRR] SURAT TERBUKA Akbar Faisal soal KASTAFFPRES dan HAVARD

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5521b5ced44f9f2b7d8b456e/jedarrrrrrrrr-surat-terbuka-akbar-faisal-soal-kastaffpres-dan-havard
[JEDARRRRRRRRR] SURAT TERBUKA Akbar Faisal soal KASTAFFPRES dan HAVARD
Jakarta (5/4) – Tampaknya pembagian jabatan ala
Jokowi mulai terasa tak adil. Tak pelak, nada marah
dan kritis orang-orang Jokowi mulai mencuat satu
per satu. Salah satu di antaranya dari Akbar Faisal
yang merupakan mantan Deputi Tim Transisi Jokowi-
JK. Ketidakpuasan Akbar Faisal tertuang dalam surat
terbuka yang merebak melalui media sosial. Dari
surat itu, Akbar Faisal memilih berada di “barisan”
Megawati dan menyerang Kepala Staf Kepresidenan
Luhut Binsar Panjaitan yang terakhir memilih
menunggu deputinya sebagai “Orang Lulusan
Harvard.”
Ketua DPP Partai Nasional Demokrat (NasDem) ini
menulis surat terbuka yang ditujukan kepada satu
dari empat Deputi Kepala Staf Kepesidenan Luhut
Binsar Panjaitan, Yanuar Nugroho:

Yth. Pak Yanuar Nugroho,
sy akbar faizal. Alumni IKIP Ujung pandang jurusan
sastra (S1) dan Komunikasi Politik (S2) UI. Skrg anggota
DPR-RI. Sy ucapkan selamat atas jabatan mentereng
sbg deputinya Jendral Luhut. Pak Luhut dulu bagian dr
tim kampanye Jokowi-JK dan jg Tim Transisi.
Ada bbrp peran pak Luhut yg cukup layak utk dicatat dlm
pemenangan Jokowi meski menurutku tdk sebesar peran
Megawati yg memerintahkan PDIP hingga ke akar
rumput utk memenangkan Jokowi. Sesungguhnya
Jokowi tak akan jadi Presiden jika PDIP atawa Mega tdk
merekomendasikan Jokowi.
Hal yg sama jg terjadi pada Surya Paloh, Muhaimin
Iskandar, Wiranto dan belakangan Sutiyoso. Selanjutnya
bergabung berbagai relawan spt Projo, Bara JP, Seknas,
dll. Tak boleh dilupakan sayap2 partai pengusung spt
PIR Dr Nasdem dlm komando Martin Manurung dan
Relawan Cik Ditiro dlm komando kawan2 PDIP. Pasukan
PKB terutama Marwan Jafar berjibaku dgn kami di
Timkamnas dlm komando Cahyo Kumolo dan Andi
Wijayanto berkeliling Indonesia meneriakkan “Pilih
Jokowi krn bla…bla…bla…”.
Tak ada anak Harvard ditim pemenangan kami. Yg agak
jauh kuliahnya itu paling Eva K.Sundari yg pernah
sekolah di Inggris entah dimana. Sy tak terlalu paham
pula apakah di Inggris sana dia menemukan suaminya
yg org Timor Leste dan membuatnya dimaki setiap hari
oleh tim Prabowo sbg katholik sejati atau pengkhianat
bangsa dst.
Rieke Pitaloka setahu saya kuliah di UI namun berkeliling
dr kampung ke kampung sepanjang Jawa utk
meyakinkan Ibu2 utk memilih Jokowi dan berakibat dia
disumpahi sbg keturunan PKI di semua medsos. Ada
pula yg bernama Teten Masduki yg setahu saya hanya
alumni IKIP Bandung namun fokus ke Jawa Barat dan
meyakinkan semua seniman2 bermartabat utk
mendukung Jokowi spt Slank atau Iwan fals atau Bimbo.
Jika Anda tahu ttg “Konser 2 Jari” yg menjadi
pamungkas kampanye dan membalikkan persepsi publik
ttg besarnya dukungan massa terhadap Jokowi dan
Prabowo di masa2 krusial saat itu, itu adl kerjaan Teten.
Pak Luhut sendiri setahu saya (dan sesungguhnya sy
sangat tahu masalahnya) banyak menghabiskan waktu
dikantor pemenangan yg dibentuknya di Bravo 5
Menteng dan berdiskusi or menelepon banyak org yg
saya dengar sbg “org LBP” entah dimana saja.
Bbrp kali sy rapat dgn tim mrk dimana hadir para
pensiunan Jendral yg –mohon maaf– msh merasa sbg
komandan pasukan dgn berbagai kewenangan. Juga
proposal beliau ttg sistem IT beliau yg –cukup memarkir
mbl didepan KPU dan seluruh data2 bisa tersedot. Kami
di Jl.Subang 3A –itu markas utama pemenangan
Jokowi Mas– terkagum2 membayangkan kehebatan
teknologi pak LBP sekaligus mengernyitkan dahi ttg
proses kerja penyedotan data tadi. Sy yg pernah menjadi
wartawan senyum2 saja sebab sedikit paham soal IT.
Senyumanku semakin melebar saat membaca jumlah
dan yg dibutuhkan utk pengadaan teknologi sedot-
menyedot tadi. Dlm hal massa, tercatat 2 kali LBP
mengumpulkan masy Batak di Medan dan Jkt utk
mendukung Jokowi-JK. Mas Yanuar, sy merasa perlu
menulis spt ini sebab sy merasa kantor Anda terlalu jauh
mendeskripsikan diri akan tugas dan kualifikasi staf
sebuah kantor Kastaf Presiden.
Sebenarnya sy tak perlu terlalu menanggapi soal Harvard
ini. Sy jg pernah kesana tp sbg turis. Otak saya memang
tak akan mampu kuliah disana.
Lha wong sy org desa. Bahasa Bugis sy jg jauh lbh
lancar dr Bahasa Inggris saya. Namun soal Harvard ini
mmebuat saya merasa “koq kalian menghina bangsamu
sendiri? Merendahkan kualitas pendidikan bangsamu yg
kabarnya akan kau katrol kualitasny dgn cara
memasukkan org Harvard atau entah dr mana lg di kuar
negeri sana? Mengapa kalian semakin jauh dr
‘kesepakatan awal kita di tim dulu utk menghormati
bangsamu sendiri’? Mengapa kalian makin kurang ajar
saja?” Sy sebenarnya pernah ingin mempersoalkan
lembaga bernama Kastaf ini sebab sejujurnya “tak ada”
dlm perencanaan kami di Tim Transisi dulu.
Sekadar menginfokan ke Anda Mas bhw Tim Transisi itu
dibentuk Pak jokowi utk merancang pemerintahan yg
akan dipimpinnya. Tp sy sungguh tak nyaman
mempersoalkan itu sebab akan dituding macam2. Mis,
akh…krn AF kecewa tdk jadi mentri dll. Dan msh byk lagi
sebenarnya yg ingin sy pertanyakan. Termasuk surat
presiden ke DPR ttg Budi Gunawan yg disusul
kontroversi2 lainnya.
Kemana para pemikir Tata Negara disekitar Pak Jkw
skrg? Yg kudengar selanjutnya malah pengangkatan
Refly Harun sbg Komisaris Utama Jasa Marga. Mungkin
Bu Rini anggap Refly sgt paham soal Tol krn setiap hari
melalui macet –persoalan yg pak jkw katakan dulu akan
lbh mudah menyelesaikannya sbg presiden ketimbang
sbg Gub DKI– dr rumahnya di Buaran sana. Mas yanuar,
sbg anggota DPR pendukung pemerintah dan insyaallah
punya peran (meski sgt kecil) terhadap kemenangan Jkw
-JK, sy ingin kalian di istana fokus pada tugas yg lbh
membumi.
Mis, jgn biarkan kami di DPR dihajar bagai sansak oleh
org2 Prabowo dlm kasus kebaikan tunjangan mbl
pejabat, misalnya, hny krn kalian tak mampu
berkomunikasi dgn kami di DPR (atawa parpol
pendukung. Ini jg satu soal sendiri krn terbaca dgn kuat
klu kalian di ring 1 preaiden kini sukses melakukan
Deparpolisasi) dan atau gagal meyakinkan publik akan
seluruh keputusan2 presiden/pemerintah. Soal sesepele
ini tak perlu kualitas Harvard.
Sy merasa mengenal bbrp org di istana negara tempat
Anda berkantor skrg. Entah apa mrk (msh) mengenal sy
skrg. Tp sy nggak memikirkannya. Sy hny minta kalian
disana berhenti melakukan hal yg tak perlu spt deklarasi
soal Harvard yg akan masuk Istana itu. Sekali lg, sy
sebenarnya tak perlu menulis panjang lebar spt ini hny
utk menanggapi soal Harvard ini. Tp sy hrs lakukan sbb
menurutku kalian makin jauh dr seluruh rencana awal
kita.
Dan sayangnya, seluruh rencana awal itu sy pahami dan
terlibat didalamnya. Sy sekuat mungkin berusaha
menghindari kalimat2 keras utk memahami apa yg kalian
lakukan disana. Tp sepak terjang kantor Mas Yanuar
bernama Kastaf Kepresidenan itu makin jauh. Terakhir,
sy sarankan agar menahan diri dlm memberikan
masukan ke presiden.
Jgn racuni pikiran presiden yg polos ini dgn permainan
yg dulu kami hindarkan beliau lakukan meski kadang
gregetan lihat langkah2 tim Prahara. Terkhusus dgn Pak
JK, sy minta kalian berikan rasa hormat. Tgl 9 Juli lalu,
63% penduduk Indonesia memilih Jokowi – JK dan
bukan Jendral Luhut Binsar Pandjaitan apalagi Anda2 yg
bergabung belakangan.
Selamat berakhir pekan.

( fastnewsindonesia.com )

dari surat akbar faisal ini kita bisa melihat intrik yg diakukan jendral luhut dan jaringanya

63% penduduk infonesia memilih Jokowi- jk dan bukan jendral luhut binsar panjaitan dan hormati pak jk

apakah memang ada semacam kudeta terselubung dimana jkw hanya presiden boneka,dan luhutlah the real presiden?

mari berdoa untuk bangsa dan negara indonesia emoticon-Frown

berita diambil dari kompas....

image-url-apps
MAKASSAR, KOMPAS.com - Anggota DPR-RI asal Sulsel
Akbar Faizal (47), mencurahkan isi hatinya terkait dengan
rencana pengangkatan beberapa alumnus dari Universitas
Harvard di dalam Kantor Staf Kepresidenan. Curhatan yang
diduga berasal dari pesan jejaring sosial mantan anggota
Tim Transisi itu kemudian menyebar di media sosial.Apa isi
surat anggota Fraksi Nasdem, yang kini berada di komisi III
DPR itu? Berikut kutipan lengkapnya (dengan beberapa
perbaikan typo text);
Saya sebenarnya pernah ingin mempersoalkan lembaga
bernama Kastaf ini sebab sejujurnya "tak ada" dalam
perencanaan kami di Tim Transisi dulu. Sekadar
menginfokan ke Anda, Mas, bahwa Tim Transisi itu
dibentuk Pak Jokowi untuk merancang pemerintahan yang
akan dipimpinnya.Tapi saya sungguh tak nyaman
mempersoalkan itu sebab akan dituding macam- macam.
Misalnya, "Akh...karena AF (Akbar Faisal) kecewa tidak jadi
menteri dan lain lain. Dan masih banyak lagi sebenarnya
yang ingin saya pertanyakan.Termasuk surat presiden ke
DPR tentang Komjen (Pol) Budi Gunawan yang disusul
kontroversi lainnya. Kemana para pemikir Tata Negara di
sekitar Pak Jokowi sekarang? Yang kudengar selanjutnya
malah pengangkatan Refly Harun sebagai Komisaris Utama
Jasa Marga. Mungkin Bu Rini anggap Refly sangat paham
soal Tol kerena setiap hari melalui macet --persoalan yang
Pak Jokowi katakan dulu akan lebih mudah
menyelesaikannya sebagai presiden ketimbang sebagai
Gubernur DKI-- dari rumahnya (Refly) di Buaran sana. Mas
Yanuar, sebagai anggota DPR pendukung pemerintah dan
Insyaallah punya peran (meski sangat kecil) terhadap
kemenangan Jokowi -JK, saya ingin kalian di Istana fokus
pada tugas yang lebih membumi.Misalnya, jangan biarkan
kami di DPR dihajar bagai sand zak (karung latihan tinju)
oleh orang-orang Prabowo dalam kasus kebaikan
tunjangan mobil pejabat, misalnya, hanya karena kalian tak
mampu berkomunikasi dengan kami di DPR (atawa parpol
pendukung). Ini juga satu soal sendiri karena terbaca
dengan kuat kalau kalian di ring 1 presiden kini sukses
melakukan deparpolisasi dan atau gagal meyakinkan publik
akan seluruh keputusan-keputusan presiden/pemerintah.
Soal sesepele ini tak perlu kualitas Harvard. Saya merasa
mengenal beberapa orang di Istana Negara tempat Anda
berkantor sekarang. Entah apa mereka (masih) mengenal
saya sekarang. Tapi saya nggak memikirkannya. Saya
hanya minta kalian disana berhenti melakukan hal yang tak
perlu seperti deklarasi soal Harvard yang akan masuk
Istana itu. Sekali lagi, saya sebenarnya tak perlu menulis
panjang lebar seperti ini hanya untuk menanggapi soal
Harvard ini.Tapi saya harus lakukan sebagai berikut;
menurutku kalian makin jauh dari seluruh rencana awal
kita. Dan sayangnya, seluruh rencana awal itu saya pahami
dan terlibat di dalamnya. Saya sekuat mungkin berusaha
menghindari kalimat-kalimat keras untuk memahami apa
yang kalian lakukan di sana. Tapi sepak terjang kantor Mas
Yanuar bernama Kastaf Kepresidenan itu makin
jauh.Terakhir, saya sarankan agar menahan diri dalam
memberikan masukan ke presiden. Jangan racuni pikiran
presiden yang polos ini dengan permainan yang dulu kami
hindarkan beliau lakukan meski kadang gregetan lihat
langkah-langkah tim Prahara.Terkhusus dengan Pak Jusuf
Kalla (JK), saya minta kalian berikan rasa hormat.Tanggal
9 Juli lalu, 53% penduduk Indonesia memilih Jokowi - JK
dan bukan Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan. Apalagi Anda-
Anda yang bergabung belakangan.Selamat berakhir
pekan.Jakarta, Sabtu, 4 April 2015
http://nasional.kompas.com/read/2015/04/06/04533621/
mapir di thread gak kebagian posisi emoticon-Ngakak (S)
ini orang emang BSH sejati, sama orang Indonesia yg berhasil kuliah di LN.
kalau mau kritik ngapain bawa-bawa harvard, ketauan banget siriknya.emoticon-Big Grin
KASKUS Ads
image-url-apps
Quote:


trus kesepakatan/rencana awal waktu kampanye bagaimana?
Quote:


politik mah kalau udah jadi, terserah yg jadi.
ngarep sesuatu karena politik itu ibarat judi, gak pasti dan abu-abu. emoticon-Malu (S)
Quote:

tidak ada bagi2 kursi
non-transaksional

dulu.
image-url-apps
Isi mengawang-awang, tak kontekstual. Harvard harvard emang knapa? Idiot. Isi surat Lebih mirip rengekan gadis abg yg dihianati om om lalu meracau bak orang gila.

Skip skip emoticon-Ngacir

Masih menunggu yg mampu kasih jab mantab
image-url-apps
Quote:


luarrr biasa......

terserah yg jadi? atau tersetah team? jkw ksn ga kerja sendiri?

apalagi posisi jk yg sekarang seperti bukan wapres,gada berita,ga seperti jaman sby yg punya posisi dan peran jelas.

dan kelihatanya luhutlah yg lebih dominan dari pada jk

dari surat akbar faisal ini terlihat jelas dominasi jendral luhut atas jokowi dan posisi kastaff yg tidak ada di rencana awal, trus maksud dari terserah yg jadi itu gimana,jikowi bebas melakukan apapun termasuk memilih dan menjadikan jendral luhut 1/2 presiden dan mengingkari bahwa pada hakikatnya jkw-jk lah yg dipilih rakyat?
image-url-apps
penyesalan selalu datang terlambat, pada salam gigit jari panastak.

menyesal, kenapa dulu tak memilih Prabowo yang jauh lebih nasionalis daripada Jokodok yg plonga plongo
image-url-apps
Quote:


isi ngawang awang? coba ente cermati tulisan akbar faisal di alinea terakhir perihal luhut dan kementar agar jk dihormati

ini klo dijabarkan ini sama dengan membuka pertarungan perebutan pengaruh yg terjadi di istana dimana jkw lebih cindong ke luhut daripada wapresnya dan mari kita cross check dengan kebijakan jokowi selama 6 bulan memerintah dan hilangnya peran jk sebagai wapres dari media media

Quote:


hehehehe......

image-url-apps
Move on dong bung Akbar. Gak bisa move on nih abege! emoticon-Big Grin
image-url-apps
ahli menyedot emoticon-Betty
ada plintiran berita antara media ini dengan media kompas isinya berbeda. 53% dan 63%.
media pun ikut bermain di belakang ini semua. emoticon-Cape d... (S)
image-url-apps
Quote:


mungkin ente betul akbar faisal lum bisa move on tapi wajar juga akibat tanda tangan presiden mengenai mobil ianya diserang pendukung prabowo dan yg tidak kalah penting itu di baca alinea terakhir isi surat si akbar faisal
Quote:

emoticon-Ngakak (S)
alay

ini saya copas kan...n trims masukanya

image-url-apps
Quote:


MAKASSAR, KOMPAS.com - Anggota DPR-RI asal Sulsel
Akbar Faizal (47), mencurahkan isi hatinya terkait dengan
rencana pengangkatan beberapa alumnus dari Universitas
Harvard di dalam Kantor Staf Kepresidenan. Curhatan yang
diduga berasal dari pesan jejaring sosial mantan anggota
Tim Transisi itu kemudian menyebar di media sosial.Apa isi
surat anggota Fraksi Nasdem, yang kini berada di komisi III
DPR itu? Berikut kutipan lengkapnya (dengan beberapa
perbaikan typo text);
Saya sebenarnya pernah ingin mempersoalkan lembaga
bernama Kastaf ini sebab sejujurnya "tak ada" dalam
perencanaan kami di Tim Transisi dulu. Sekadar
menginfokan ke Anda, Mas, bahwa Tim Transisi itu
dibentuk Pak Jokowi untuk merancang pemerintahan yang
akan dipimpinnya.Tapi saya sungguh tak nyaman
mempersoalkan itu sebab akan dituding macam- macam.
Misalnya, "Akh...karena AF (Akbar Faisal) kecewa tidak jadi
menteri dan lain lain. Dan masih banyak lagi sebenarnya
yang ingin saya pertanyakan.Termasuk surat presiden ke
DPR tentang Komjen (Pol) Budi Gunawan yang disusul
kontroversi lainnya. Kemana para pemikir Tata Negara di
sekitar Pak Jokowi sekarang? Yang kudengar selanjutnya
malah pengangkatan Refly Harun sebagai Komisaris Utama
Jasa Marga. Mungkin Bu Rini anggap Refly sangat paham
soal Tol kerena setiap hari melalui macet --persoalan yang
Pak Jokowi katakan dulu akan lebih mudah
menyelesaikannya sebagai presiden ketimbang sebagai
Gubernur DKI-- dari rumahnya (Refly) di Buaran sana. Mas
Yanuar, sebagai anggota DPR pendukung pemerintah dan
Insyaallah punya peran (meski sangat kecil) terhadap
kemenangan Jokowi -JK, saya ingin kalian di Istana fokus
pada tugas yang lebih membumi.Misalnya, jangan biarkan
kami di DPR dihajar bagai sand zak (karung latihan tinju)
oleh orang-orang Prabowo dalam kasus kebaikan
tunjangan mobil pejabat, misalnya, hanya karena kalian tak
mampu berkomunikasi dengan kami di DPR (atawa parpol
pendukung). Ini juga satu soal sendiri karena terbaca
dengan kuat kalau kalian di ring 1 presiden kini sukses
melakukan deparpolisasi dan atau gagal meyakinkan publik
akan seluruh keputusan-keputusan presiden/pemerintah.
Soal sesepele ini tak perlu kualitas Harvard. Saya merasa
mengenal beberapa orang di Istana Negara tempat Anda
berkantor sekarang. Entah apa mereka (masih) mengenal
saya sekarang. Tapi saya nggak memikirkannya. Saya
hanya minta kalian disana berhenti melakukan hal yang tak
perlu seperti deklarasi soal Harvard yang akan masuk
Istana itu. Sekali lagi, saya sebenarnya tak perlu menulis
panjang lebar seperti ini hanya untuk menanggapi soal
Harvard ini.Tapi saya harus lakukan sebagai berikut;
menurutku kalian makin jauh dari seluruh rencana awal
kita. Dan sayangnya, seluruh rencana awal itu saya pahami
dan terlibat di dalamnya. Saya sekuat mungkin berusaha
menghindari kalimat-kalimat keras untuk memahami apa
yang kalian lakukan di sana. Tapi sepak terjang kantor Mas
Yanuar bernama Kastaf Kepresidenan itu makin
jauh.Terakhir, saya sarankan agar menahan diri dalam
memberikan masukan ke presiden. Jangan racuni pikiran
presiden yang polos ini dengan permainan yang dulu kami
hindarkan beliau lakukan meski kadang gregetan lihat
langkah-langkah tim Prahara.Terkhusus dengan Pak Jusuf
Kalla (JK), saya minta kalian berikan rasa hormat.Tanggal
9 Juli lalu, 53% penduduk Indonesia memilih Jokowi - JK
dan bukan Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan. Apalagi Anda-
Anda yang bergabung belakangan.Selamat berakhir
pekan.Jakarta, Sabtu, 4 April 2015
http://nasional.kompas.com/read/2015/04/06/04533621/
image-url-apps
Quote:


Beeeuh, itu sih si Akbar aja yg cemen. Mau ngemis tapi malu-malu. Bukan nya nabok Jokowi sang lelananging jagad, tapi malah nyindir Luhut.
Abege cemen gak bisa move on. emoticon-Big Grin
udah 6 bulan masih ribut2 soal jabatan emoticon-Cape d... (S)
image-url-apps
biasa-biasa aja ndak ada yg istimewa. presiden cuma tinggal tandatangan. hehe... #82
image-url-apps
wah si joko gmn nihhh kasih jatah donk si akbar.... gw masih inget gmn siakbar bela kokowi waktu wawancara dulu,,, eh dapatnya pepesan kosong emoticon-Ngakak
×