alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
I Never Stop [True Story]
4.5 stars - based on 12 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5520c75e148b4685748b456f/i-never-stop-true-story

I Never Stop [True Story]

Apa Yang Agan Rasakan Setelah Membaca Cerita 'I Never Stop'?
Apa Yang Agan Rasakan Setelah Membaca Cerita 'I Never Stop'?
Cerita Yang Luar Biasa.
79.31%
Cerita Agan Biasa Saja, Perlu Banyak Perbaikan.
20.69%
I Never Stop [True Story]


Quote:


Wanita itu rumit, serumit menyebrangi lautan tanpa berenang, tanpa alat bantu, dan juga tanpa kendaraan. Sekalipun gua Einstein, belum tentu gua bisa menebak dengan tepat isi hati wanita. Karena wanita bukanlah kumpulan rumus-rumus fisika, lebih dari itu, wanita adalah kumpulan rumus-rumus perasaan yang menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh.

Disinilah semuanya dimulai, bermula dari pandangan pertama hingga akhirnya menjadi seseorang yang sangat berharga. Berharga satu tingkat diatas diri gua sendiri dan satu tingkat di bawah berharganya kedua orang tua gua.

Selamat Membaca!

Diubah oleh mpasha14
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 10
Index I Never Stop Story


Quote:


Quote:
Diubah oleh mpasha14
ya memang rumit fikiran wanita emoticon-Malu
baru starter kan??
tendain dulu emoticon-Paw
Part 1 - Cinta?


Pernahkah lo memberikan sekuntum mawar layu kepada pujaan hati lo? Gua pernah. Kejadian itu yang membuat hidup gua berubah 180 derajat. Gua ngga akan pernah lupa kejadian itu, ngga akan pernah. Maka dari itu, gua ngga akan pernah berhenti, berhenti mencoba memenangkan pujaan hati gua yang sukses 'ngacak-ngacak' hidup gua selama ini.

Tampak jelas di ingatan gua tentang kejadian beberapa tahun lalu. Kejadian di mana perubahan dalam hidup gua begitu kontras. Saat-saat dimana gua benar-benar merasakan apa yang namanya cinta, walau gua sendiri ngga begitu yakin apa itu cinta. Berbicara tentang cinta, gua sebenarnya adalah pelaku baru di dunia percintaan. Gua ngga begitu yakin dengan fisik gua, itu salah satu alasannya. Tapi gua selalu berusaha bersyukur atas pemberian Tuhan ini. Ya memang, manusia itu tidak pandai bersyukur, tapi setidaknya gua sudah berusaha.

Lalu pertanyaannya, apakah gua se-'jelek' itu sampe-sampe gua baru merasakan apa yang namanya cinta? Gua rasa ngga. Bukannya gua merasa 'sok kegantengan' tapi gua merasa penampilan gua ngga jelek-jelek amat. Gaya anak zaman sekarang pun selalu gua ikuti perkembangannya, tentu saja dengan menyaring terlebih dahulu gaya yang menurut gua masih 'wajar' untuk di ikuti. Walau gua ragu soal fisik gua, tapi tampaknya itu bukan masalah utamanya, lalu apa yang jadi masalah utamannya? Masalah utamannya adalah mental gua. Gua belum yakin betul soal pacaran, bahkan gua cenderung ngga peduli apa itu 'pacaran' atau bahasa puitisnya 'menjalin kasih dengan sang pujaan hati'.

Balik lagi ke topik awal. Saat itu gua sedang merasakan apa yang orang-orang sebut dengan 'cinta'. Bisa dibilang ini cinta pertama gua, walau sebenarnya gua sudah pernah pacaran sebelumnya. Kenapa gua bilang ini cinta pertama? Alasannya simple, karena gua ngga merasakan 'cinta' pada mantan-mantan gua sebelumnya. Gua jahat? Ya memang gua jahat, tapi setidaknya gua menghargai orang yang 'suka' sama gua dengan cara 'memacarinya' walau bukan atas dasar cinta. Cinta pertama gua ini namanya Dona, nama yang indah seindah orangnya. Dona bertubuh tinggi langsing, kulit kuning langsat, rambut panjang sebahu, serta yang paling menonjol dari ciri-ciri fisiknya adalah pipi dan bibirnya merah merona seperti sehabis dandan, walau gua sendiri ngga yakin dia tipe cewe yang hobi 'dandan' apalagi 'perawatan', hal itu terlihat dari penampilannya yang sederhana tapi menawan. Membuat hati setiap pria melayang-layang setiap kali melihatnya. Tapi gua sendiri ngga mau melayang-layang seperti itu, alasannya sih simple, takut jatuh. Selain cantik, Dona adalah salah satu cewe cerdas di kelas gua, itu semua terbukti dari hasil ulangannya yang selalu diatas teman-teman gua yang cukup 'pintar', tentu saja nilai dia juga di atas nilai gua. Ah sial! Makin kepincut deh gua sama dia.

Waktu terus berjalan, tak terasa sudah pertengahan semester 1. Saat itu gua baru menginjak kelas 10 di salah satu sekolah favorit di kota Bandung. Sampai sejauh ini gua belum juga punya keberanian untuk ngedektin Dona. Tapi ada satu kejadian dimana gua berhasil ngedeketin dan ngomong panjang lebar sama dia.

"Okey, sekarang kalian bentuk kelompok terdiri dari 6 orang dan kerjakan apa yang barusan ibu suruh." Ucap salah seorang guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas gua.

Belum sedetik setelah bu Lina menyuruh kami, kelas gua serasa mau meledak. Seluruh teman-teman gua jalan kesana-kesini, teriak sana-sini, manggil sana-sini mencari anggota kelompok yang menurut mereka bisa di 'andelin'.

"Buset dah, kaya mau perang aja nih kelas. Ribut amat!" Gerutu gua dalam hati.

Gua belum juga beranjak dari kursi tempat gua duduk. Alasannya sih ada 3, yang pertama gua males berdiri, yang kedua gua belum akrab dengan seluruh orang di kelas, dan yang terakhir gua ngga tau harus masuk kelompok mana.

"Jar, lu mau masuk kelompok gua kagak?" Tanya Ahmad, temen sebangku gua pada waktu itu.
"Emang kelompok lu ada berapa orang?" Gua melontarkan pertanyaan yang paling umum ditanyakan seseorang ketika dalam keadaan semacam ini.
"Di kelompok gua, ada gue ..." Ahmad menghentikan ucapannya. Tentu saja ngebuat gua jadi penasaran.
"Terus?" Ucap gua penasaran.
"Ada gua, dan elu"
"Hah? Cuman berdua? Kampret! Gua kira kelompok lu udah 5 orang, ditambah gua nanti jadi 6."
"Habisnya lu diem aja sih, gue jadi kesian liat muka lu murung kaya tadi."
"Yaelah Mad, lu kan tau temen yang akrab sama gua baru lu doang."
"Makanya, kalau di kelas baru tuh harus aktif. Jangan ngebangke terus kaya bangkong. Yaudah kita masuk kelompok dia aja yuk!" Ujar Ahmad menunjuk sekumpulan cewe yang sedang berdiskusi di sebrang meja gua.
"Dona?" Ujar gua bertanya.
"Udah ikutin aja gua, dari pada kita diem aja, ngga dapet kelompok nanti." Katanya seraya menarik lengan gua menuju meja di sebrang gua.

***

"Eh Don, kita boleh masuk engga?" Tanya Ahmad sedetik setelah kita berdua tiba dihadapan Dona dan yang lainnya.
"Oh boleh kok boleh, masuk aja Mad. Oiya manggilnya jangan 'Don' banget dong, ngga enak jadinya." Ujar Dona sambil tersenyum manis ke arah gua dan Ahmad. Oh My God! Senyumnya itu loh, manis banget! Serius deh gua ngga boong.
"Ohahahaha, sorry deh." Ucap Ahmad sambil tertawa keras, membuat seisi kelas memandang ke arah kami.
"Mad, kalau lo mau ketawa liat kondisi dong." Kata gua sambil menyikut perut Ahmad. Sontak Ahmad langsung menutup mulutnya dengan kedua belah tanganya.
"Yaudah duduk sini Mad, Jar." Perintah Desi, teman sekelompok Dona.
"Nah, sekarang kelompok kita pas 6 orang. Oiya Jar, ngga apa-apa kan kalau kalian cowo cuman berdua?" Oh Man! Cuman gua yang di tanya sama Dona! Betapa senangnya gua.
"Eng, engga apa-apa kok santai aja." Balas gua sambil belaga gagap.
"Oke deh. Sekarang kamu sama Ahmad tulis nama lengkap di sini ya terus isi yang ini, nanti baru deh yang ini." Dona beranjak dari kursi lalu berdiri di samping gue sambil menjelaskan tentang tugas yang di berikan bu Lina barusan. Buset dah! Dengan jarak sedekat ini, gua bisa mencium aroma parfum yang dia pake. Selain itu, rambut panjangnya berjatuhan mengikuti gerak kepalanya tepat di depan muka gua, membuat pesonanya makin indah di depan gua. Oh Damn! Makasih Tuhan, engkau sudah ciptakan bidadari secantik ini. Saking terpesonanya, gua sampe ngga denger ucapannya yang panjang lebar itu.

"Jar, Oi Fajar! Halo!"
"Oh iya, iya okey! Siap bos!" Ujar gua celetukan ngga jelas.
"Okey, sekarang ulangin perkatan aku."
Quote:


iya gan benar sekali emoticon-Malu

Ahoy, agan keduaxxx
Part 2 - Ahmad


"Emm.." Gua mencoba mengulang perkatannya yang sebenernya gua ngga tau apa yang dia omongin panjang lebar.
"Ishh.. kamu mah." Dona mencubit lengan gua lembut. Dalam hati gua berkata 'Oh, begini toh rasanya di perhatikan.'
"Iya deh maaf, maaf."
"Yaudah, gue aja deh yang jelasin." Ujar Dina, teman sebangku Dona.

Setelah itu, gua akhirnya mendengarkan penjelasan dari Dina. Ternyata sulit juga tugas yang di berikan bu Lina. Sebagai ketua kelompok, Dina membagi tugas kepada kami semua untuk mempersingkat waktu. Gua berdalih mengerjakan di rumah lebih baik, makanya gua santai di kursi tempat gua duduk sambil cengengesan ngga jelas liat muka si Ahmad lagi serius ngerjain tugas tersebut.

"Heh! elu kerjain dulu tugasnya baru santai-santai!" Ujar Fany, teman sekelompok gua yang duduk tepat di sebelah kanan gua.
"Udah selese gua mah. Emangnya elu."
"Mana sini gua liat?"

Tettt..

Bel sekolah pun berbunyi, dan kami semua sontak bersorak girang karena waktunya pulang telah tiba.

"Tuh kan udah bel, waktunya pulang!" Baru sedetik Fany memegang buku gua, gua langsung menyambarnya lalu dengan cepat gua lemparkan ke dalam tas.
"Ish.." Gumam Fany.

***

Saat gua sedang bersiap untuk pulang ke rumah, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk pundak gua cukup keras. Sontak gua langsung berbalik, ternyata Ahmad yang berdiri di belakang gua. Wajahnya terlihat serius dari pada biasanya, jadi gua kira sekarang bukan waktu yang tepat untuk membalas tepukan yang cukup keras barusan.

"Ada apa Mad?" Gua bertanya seraya memegangi pundak gua yang cukup 'panas' bekas tepukan barusan.
"Lu mau bantuin gua kagak? Ini soal Dona." Ujar Ahmad dengan nada serius.
"Lu mau nembak dia?" Ujar gua balik bertanya.
"Kok lu tau sih?"
"Yaelah, kalau bukan soal nembak dia ya apalagi? Gua ragu lu mau nanyain tugas yang barusan."
"Emmm.. bener juga lu."
"Kesambet apaan loh sampe-sampe berani nembak cewe?"
"Wes jangan salah bro, gini-gini gue gentleman!" Ujarnya sambil menepuk dadanya berkali-kali, "Gue sebenernya udah lama suka sama dia, tapi baru sekarang gue berani ngungkapin isi hati gue." Tambah Ahmad.

Jleb! Sahabat gua sendiri mau nembak orang yang gua suka. Perasaan gua campur aduk, antara mau ngebantu sahabat gua atau mau ngikutin kata hati gua. Oke lah, kali ini gua harus mementingkan sahabat gua dulu diatas kepentingan gua. Rasanya lucu sekali seorang Fajar Pratama patah hati karena cinta, gua yang dulu ngga pernah peduli sama apa yang namanya cinta sekarang malah berubah menjadi seorang yang patah hati karena cinta. Hahahah lucu sekali. Tapi apa boleh buat, itulah yang terjadi.
Diubah oleh mpasha14
Part 3 - Broken Heart


"Yaudah, lu mau minta tolong apaan?"
"Tolong sampein dong ke dia, gua mau ngomong. Kebetulan dia belum pulang." Ujar Ahmad serius seraya menunjuk ke arah Dona yang sedang duduk-duduk santai di depan kelas bersama beberapa teman wanitanya.
"Oke lah. Lu tunggu di sini ya." Ujar gua. Dengan perasaan terpaksa gua melangkah mendekati Dona.

***

"Emm, Na. Mau ngomong boleh?" Ujar gua ngga lama setelah gua sampe di hadapan Dona dan yang lainnya.
"Oh boleh kok boleh, mau ngobrol dimana?" Ujarnya balik bertanya.
"Di sana aja." Tunjuk gua ke dalam kelas.
"Yaudah yu!" Ujarnya sambil menarik lengan gua.
"Gua pinjem sebentar ya!" Kata gua ke temen-temennya sambil sedikit berteriak.

***

"Eh Dona." Ujar Ahmad yang pura-pura ngga sadar atas kehadiran Dona.

Gua rasa kehadiran gua ngga di harapkan oleh Ahmad. Oleh karena itu, gua mencoba melangkah keluar kelas sambil membawa perasaan sedih yang memuncak di dalam hati. Belum selangkah gua berjalan, Dona memanggil nama gua.

"Eh Jar, mau kemana? Katanya mau ngomong."

Tanpa berbalik, gua membalas pertanyaanya sambil melangkah keluar kelas.

"Yang mau ngomong Ahmad, bukan Gua."

Gua pun terus berjalan menjauhi kelas hingga akhirnya sampai pada gerbang sekolah. Semakin cepat gua melangkah, semakin sakit hati ini mengingat kejadian barusan. Perasaan yang ngga pernah gua rasain sebelumnya. Sesampainya di rumah, gua langsung menuju kamar gue dan berbaring di atas kasur tanpa melepas sepatu. Gue terus berpikir keras soal kejadian barusan. Sempat ada perasaan menyesal karena sudah membantu Ahmad mendapatkan Dona. Tapi apa boleh buat, semuanya mengalir seperti air.

Tak disangka, keesokan harinya keadaan kelas gue ribut kaya di pasar. Rata-rata dari mereka tak percaya atas apa yang di lakukan oleh Ahmad kemarin. Ada yang memberi selamat, ada yang acuh tak acuh, dan ada pula yang tidak menyukai kejadian kemarin. Karena keributan tersebut, gue dapat simpulkan bahwa Dona sudah menerima pinangan Ahmad untuk dijadikan pacar. Gue pun merasa mereka adalah pasangan serasi. Serasi disini gua artikan sebagai 'sama-sama cakep'. Walau Ahmad sedikit 'brandal' tapi gue perhatikan, Dona ngga masalah dengan itu semua. Oh Man! Kenapa harus ada kejadian kaya gini sih. Mau gamau, suka ngga suka gua harus terima semua ini dengan lapang dada. Karena kebahagiaan sahabat gua adalah sebagian dari kebahagiaan gua juga. Tapi sisi baiknya gua jadi lebih aktif di kelas, karena kejadian kemaren sudah membuat gue sadar bahwa sebenarnya gue butuh banyak teman.
Di tunggu update'nya Gan mantap ceritanya emoticon-2 Jempol
Quote:


Allhamdullilah, makasih gan. emoticon-Malu
Tunggu part selanjutnya ya emoticon-Big Grin
izin nanem pohon beringin om buat nangkring.

kurang cepet lu jar, settinganya kurang oke, makanya disusul dah. emoticon-Hammer
Quote:


iya gan kalah cepet emoticon-Frown
Part 4 - Takdir


"Cuy, kenapa lagi lo? Keliatannya lu galau aja seharian." Ucap Fery, salah satu teman sekelas gua.
"Ah kagak! Perasaan lu aja." Ujar gua mengalihkan perhatian.
"Yaelah Jar, sejak kapan anak SMA galau kalau bukan karena cinta?" Kata Fery, To The Point. Kampret banget dah! Kenapa sih orang-orang jago banget nebak ekspresi muka gua. Kayaknya di jidat gua ada tulisan 'Lagi Galau' segede gaban deh, makanya mereka semua pada tau.
"Serius, gue ngga apa-apa. Lu perhatian banget sama gua, jangan-jangan lu suka sama gue ya? Ngaku lu!" Gua mengalihkan perhatian (lagi).
"Najis amat suka sama lu." Ujar Fery sambil berlalu pergi ke kursinya kembali.

***

"Si Ahmad mana nih? Belum dateng juga, padahal bentar lagi masuk." Ujar gua bertanya dalam hati. Sepersekian detik kemudian, Ahmad datang bersama Dona. Ah Damn! Pacaran di depan gua itu sama aja ngajak gua perang.

"Eh Mad! Kampret lama bener lu datengnya, biasanya paling pagi lu."
"Biasa Jar, nungguin dia dulu."

Jleb! Tepat di saat Ahmad menyentuh lengan Dona, perasaan gua hancur seketika. Semua badan gua serasa lemes. Apakah ini yang namanya patah hati? Entahlah, sejauh ini gua baru merasakannya dua kali.

"Kampret! Pacarannya liat kondisi dong." Gerutu gua sedikit kesal.
"Oh iya sorry-sorry. Makanya cepet cari pacar dong."
"Pacar palalu!" Teriak gua dalam hati.

Gua perhatikan, Dona sedikit tidak nyaman ketika Ahmad menyentuh tangannya. Gua rasa itu cukup aneh karena pegangan tangan adalah hal yang lazim pada orang pacaran. Sepertinya Dona tidak seberpengalaman cewe-cewe yang lain soal berpacaran deh. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Dona? Entahlah, gue ngga tau.

Berkaca dari kejadian Ahmad kemarin, gua sedikit merasa kagum kepada Ahmad, dia berhasil macarin cewe yang cukup terkenal di kelas gua walaupun baru kenal setengah semester. Itu semua wajar, karena dia adalah salah satu orang yang aktif di kelas maupun di luar kelas, itulah yang menjadi kelebihan dia ketimbang gue. Gue sendiri adalah tipe cowo yang sedikit cuek dan cenderung low profil. Apakah gua harus se-aktif Ahmad untuk mendapatkan pujaan hati gua? Gua rasa engga perlu karena pujaan hati gua sudah milik Ahmad.

Hari demi hari, minggu demi minggu sudah gua lewati dengan kesendirian dan perasaan galau yang ngga kunjung menghilang. Gue sudah berulang kali mencoba untuk melupakan dia, tapi mengatakannya tidak semudah melakukannya. Mungkin inilah takdir gue, takdir yang mengharuskan gue menjadi bayang-bayang Ahmad untuk mendapatkan Dona.
Part 5 - Sang Pangeran Penyiksa


"Hari ini ngapain ya enaknya?" Gue bertanya dalam hati. Hari ini adalah hari minggu, dan gue ngga tau harus ngapain di minggu yang cerah ini.

Gue mencoba membuka situs jejaring sosial yang sedang marak-maraknya di kalangan anak muda yaitu Facebook. Setelah mengisi kolom E-mail dan Password akhirnya gue sampe pada laman beranda. Di deretan paling atas, gue melihat dengan jelas seseorang yang sepertinya ngga asing lagi bagi gue memposting sebuah status yang bertuliskan 'My Love' dan lampiran beberapa foto. Setelah gue perhatikan, ternyata akun tersebut adalah akun milik Dona yang memposting foto selfie-nya bersama Ahmad. Ah Kampret! Disana Dona disini Dona, oh kenapa gue ngga pernah bisa lepas dari dia sih.

Gue mencoba tenang untuk mengatasi ini, dengan cekatan gue langsung mengeluarkan akun Facebook gue, meng-exit browser Mozila Firefox, lalu mematikan komputer dan beranjak pergi dari hadapan komputer. Gua begitu karena gue berusaha menghindari kejadian yang tidak di inginkan. Takutnya nanti gua malah berkomentar, "Pacaran tau tempat dong! Dasar alay!", atau 'Awas lu, gua tunggu besok di sekolah Mad!", atau yang lebih parahnya lagi gua pukul-pukul tuh si moni (monitor) ampe rusak sekalian.

Keesokan harinya gue kembali merenung sambil bergaya sok misterius ketika sampe di kelas. Ya, itulah yang setiap hari gue lakuin beberapa minggu terakhir ini. Memasuki 1 bulan masa pacaran Ahmad dan Dona. Gue melihat ada sedikit kejanggalan di antara hubungan mereka. Gue melihat wajah Dona selalu terlihat kelelahan setiap pagi. Terlihat jelas dia selalu membawa buku lebih di lengannya ketika tiba di kelas Tapi gue berusaha berpikir positif atas ini semua. Untuk menjawab pertanyaan gue itu, akhirnya gue bertanya ke Ahmad yang lagi sibuk mencet sana mencet sini di gadget barunya.

"Mad, lu sama Dona kenapa?" Gue mulai membuka percakapan.
"Kagak ngapa-ngapa." Balasnya tanpa menoleh.
"Eh elu mah." Dengan cepat gue pegang gadgetnya hingga menutupi setengah dari layarnya. "Jawab dulu pertanyaan gue."
"Itu, peer gue belum selese. Gue minta si Dona buat nyelesein. Kan dia pinter." Kata Ahmad santai sambil berusaha menyingkirkan tangan gue dari layar gadgetnya.
"Buset lo mad, kejam amat." Gue berkata seraya mengelengkan kepala.
"Apa boleh buat Jar."

Kesian juga gue ngeliat Dona, di per-'budak' oleh Ahmad. Seandainya gua pacar dia, pantang gue ngelakuin hal keji semacam itu. Tapi sekali lagi gue ngga bisa berbuat apapun untuk membantu Dona.

***

"Ahmad!" Panggil bu Lina.
"Iya bu?" Ujar Ahmad mengacungkan lengannya.
"Sini cepet!" Perintah bu Lina. Tak berapa lama, Ahmad sudah berada di hadapan bu Lina.
"Kenapa tulisan kamu beda! Ibu tau ini bukan tulisan kamu kan?" Ujar Bu Lina dengan nada sedikit tinggi.
"I.. Ini tulisan saya bu."
"Bohong bu! Itu tulisan Dona!" Salah seorang teman gue memprovokatori.
"Bener begitu, Ahmad?" Ujar bu Lina, nampaknya ia sudah mulai marah.
"Eng.."
"Iya bu! Itu tulisan Dona!" Belum selesai Ahmad berbicara, teman-teman sekelas gue mulai memojokan Ahmad kembali.
"Keluar kamu sekarang!" Teriak bu Lina keras.

cerita br, nyimak dl..

klo bisa part nya panjangin dkt donk gan, kayakny kependekan...
Diubah oleh xperia.lover
Quote:


okay gan, ane selalu menggganti part yang kependekan dengan update 2 part sekaligus. jadi bisa di hitung satu emoticon-Smilie
Quote:


bener kata agan ini jar panjangin dikit biar seimbang.

coba lu liat tulisan lu lagi jar part 1 beda loh sama part part selanjutnya. emoticon-Smilie
sorry dopost jar. emoticon-Frown
Diubah oleh kikihari.jr
Quote:


okay gan, terimakasih sarannyaemoticon-Smilie
Ijin bangun tenda gan


Liat kisah agan berasa de javu ane
Part 6 - Complicated Problem


Dengan wajah murung, Ahmad pun berjalan meninggalkan ruangan kelas. Seisi kelas menatap ke arah Dona seakan bertanya 'Kenapa sih lu mau-maunya pacaran sama dia?'. Tak berapa lama setelah 'pengusiran' tersebut, bu Lina mulai buka suara.

"Dona, kamu jangan mau kalau di suruh-suruh kaya gitu ya, ngerti?"
"I.. Iya bu"
"Ibu tau anak muda kaya kalian itu masih baru mengenal apa yang namanya cinta, tapi jangan sampe seperti itu, itu sudah sangat keterlaluan! Ibu minta, kamu cepat putuskan dia!"
"I.. Iya bu" Dona hanya menjawab ala kadarnya. Gue ngerti perasaannya, pasti rasanya sakit banget.

Tettt..

Bel istirahat pun berbunyi, semua bersorak kegirangan seperti biasanya. Namun gue malah sebaliknya, gue merasa sangat terpukul liat Dona di perbudak terus menerus oleh Ahmad. Untuk meringankan bebannya, gue mencoba mendekati dia dan berniat menghiburnya sebisa gue.

"Lu engga apa-apa Na?" Tanya gue seraya mendaratkan tubuh tepat di kursi sebelah Dona. Berhubung Dina lagi jajan di kantin, kursi sebelah Dona jadi kosong.
"Eng.. Engga apa-apa kok Jar." Ucapnya sambil menyeka air mata yang mengalir di kedua pipinya yang merah merona tersebut.
"Jelas lu ada apa-apa Na."
"Emm.. Jar, aku boleh curhat engga?"
"Curhat aja Na, ngga perlu izin dulu kali."
"Tapi kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat, di sms aja ya?"
"Oke deh." Ujar gue singkat, "Nih nomor gue." Lanjut gue sambil menyerahkan Handphone gue, tertera di layarnya nomor handphone gue.

Setelah itu, Dona langsung menyambar Handphone dari tangan gue dan mulai mencatat nomornya. Selang beberapa detik, bel masuk pun berbunyi. Dengan cepat, gue pun langsung bangkit dari tempat duduk di sebelah Dona dan mulai berjalan ke arah kursi gue.

"Eh Jar, ini HP kamu ketinggalan."
"Oiya ya, lupa gue." Ujar gue berbalik, lalu mengambil Handphone dari tangan Dona.
"Iya Jar, sama-sama." Ujar Dona singkat sambil sedikit tersenyum. Fyuh! Lega rasanya, akhirnya gue bisa ngebuat dia senyum walau cuman sedikit.

Sesampainya di rumah, kali ini gue melepaskan sepatu terlebih dahulu lalu langsung bergegas ke kamar dan berbaring di atas kasur. Sambil memandang langit-langit kamar, gue mulai mengambil Handphone dari saku celana gue.

1 New Messege


Ternyata ada sebuah pesan masuk kedalam Handphone gue. Karena penasaran, akhirnya gue buka.

Quote:


Kampret! Ternyata dari operator! Ngenes banget hidup gue. Kayaknya gue emang bener-bener jones deh. Ekspetasinya sih sms dari Dona, tapi malah dapet ini, ah sudahlah. Selang beberapa saat, Handphone gue bergetar kembali, dengan cekatan gue langsung membuka Lockscreen-nya lalu membuka pesan tersebut.

1 New Messege


Quote:


What! Akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan gue selama ini. Setelah melihat sms dari Dona, sontak gua langsung bangkit, menyimpan nomor Handphonenya, lalu membalas sms dari Dona.

Quote:


Jreng, Jreng! Ternyata karena alasan itu toh dia nerima Ahmad, pantes aja dia selalu engga nyaman berada di samping Ahmad. Ini kesempatan gue! Kesempatan masih terbuka lebar untuk gue dapetin dia!

Quote:


Entah kenapa gue jadi 'sok bijak' begini. Obrolan pun berlanjut hingga larut malam. Tak terasa gue belum ganti seragam sekolah, apalagi mandi. Akhirnya gue pustukan untuk mandi terlebih dahulu sebelum melanjutkan obrolan dengan Dona lewat sms. Setelah selesai mandi, gue cek kembali handphone gue dan alangkah terkejutnya gue mendapati pesan yang masuk dari Dona.
Wihhh, ada cerita baru nih emoticon-Ngakak (S)
Ijin bukmark dulu bang fajar
Diubah oleh xalvom
Halaman 1 dari 10


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di