alexa-tracking

Di Brebes, ada 190 Warga Sapta Darma

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/551fa856620881a8768b4568/di-brebes-ada-190-warga-sapta-darma
Di Brebes, ada 190 Warga Sapta Darma
Di Brebes, ada 190 Warga Sapta Darma
Apr 04, 2015 Admin Agama, Berita 0

Suharjo (hijau), sedang menyampaikan data dan perkembangan penghayat Sapta Darma di Brebes. [Foto: Salam]
Suharjo (hijau), sedang menyampaikan data dan perkembangan penghayat Sapta Darma di Brebes. [Foto: Salam]

[Brebes –elsaonline.com] Jumlah pemeluk Kerohanian Sapta Darma, berdasarkan data yang dikumpulkan Persada hingga tahun 2011 tercatat ada 190 orang. Data tersebut merupakan warga yang masih aktif sujudan dan masih banyak yang belum terdata.
Suharjo, Pelaksana tugas Ketua Perhimpunan Warga Sapta Darma (Persada) Brebes mengatakan hal tersebut dalam diskusi program pemberdayaan ekonomi dan inklusi sosial bagi penghayat kepercayaan di Jawa Tengah, di Hotel Anggraeni, Brebes, Jumat (3/4) kemarin. “Pendataan ini sangat penting untuk memastikan bahwa warga Sapta Darma terlayani haknya tanpa mendapatkan diskriminasi terutama dari pejabat pemerintahan,” lanjut Suharjo.

Untuk tempat sujudan atau biasa disebut Sanggar, di Kabupaten Brebes saat ini setidaknya ada 5 sanggar yang biasa digunakan untuk sujudan. Kelimanya adalah Sanggar Candi Busono Sigentong, Sengon, Losari, Sitanggal dan Kaliwlingi. Selain Sanggar Sitanggal, empat sanggar lainnya sudah permanen.

Peneliti dari Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), Khoirul Anwar mengatakan bahwa kasus penolakan almarhumah Ibu Jaodah, salah satu warga Sapta Darma akhir tahun 2014 lalu cukup memberikan dampak luas. “Pemerintah mulai berubah dalam pelayanan terhadap warga penghayat. Dulu, mereka sangat dibatasi aksesnya. Tetapi advokasi terhadap kasus Ibu Jaodah, membuat agak sedikit perubahan,” terang Awang, sapaan akrabnya

Meski begitu, ada juga imbas sosial dari kasus tersebut. Masyarakat mulai mengenali warga Sapta Darma. Bagi mereka yang kurang peka terhadap keragaman, maka stigma dan diskriminasi akan dengan mudah dialamatkan kepada mereka. “Namun, bagi masyarakat yang sensitif terhadap perbedaan, keragaman identitas keyakinan itu pasti akan dianggap sebagai kewajaran belaka. Disinilah tuntutan untuk menenggang perbedaan itu semakin diperlukan,” ujar pria kelahiran Brebes itu menegaskan. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin/001]

http://elsaonline.com/?p=4206

Harusnya agama lokal itu dilestarikan, bukan dihancurkan
Carlim Ingin Wilayah Kerjanya Diperluas
Apr 05, 2015 Admin Agama, Berita 0

Menyampaikan Persoalan: Pemuka Penghayat Kepercayaan Satpa Darma Kabupaten Brebes, Carlim, menyampaikan persoalan mengenai Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Direktorat Pembinaan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, yang hanya memberi wilayah kerja satu kecamatan. [Foto: Abdus Salam]
Menyampaikan Persoalan: Pemuka Penghayat Kepercayaan Satpa Darma Kabupaten Brebes, Carlim, menyampaikan persoalan mengenai Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Direktorat Pembinaan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, yang hanya memberi wilayah kerja satu kecamatan. [Foto: Abdus Salam]

[Brebes –elsaonline.com] Pemuka Penghayat Kepercayaan Satpa Darma Kabupaten Brebes, Carlim, ingin wilayah kerjanya diperluas se-Kabupaten. Sesuai dengan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Carlim hanya diberi wewenang untuk wilayah kerja se-Kecamatan.
“Saya ingin, wilayah kerja saya diperluas kembali menjadi se-Kabupaten. Sesuai dengan SKT periode yang lalu. SKT yang lalu, sebelum ada perubahan, wilayah kerja saja satu kabupaten, bukan se-Kecamatan,” kata, Carlim, saat mengikuti “Sosialisasi Program Pemberdayaan Ekonomi dan Inklusi Sosial, Jumat (3/4/15) di Hotel Anggraini, Ketanggungan Brebes.

Dalam SKT yang ditandatangani Drs. Gendro Nurhadi, M.Pd, selaku Direktur Pembinaan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Carlim, hanya diberi wewenang menikahkan se-Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes. Surat tertanggal 28 Mei 2013 itu, menetapkan Carlim sebagai Pemuka Penghayat Kepercayaan dengan bertugas salah satunya menikahkan warga penghayat kepercayaan.

Seperti diketahui, tata cara pencatatan pernikahan penghayat kepercayaan harus ada berita acara yang dibuat Pemuka Penghayat Kepercayaan. Pemuka Penghayat Kepercayaan tersebut harus terdaftar di Direktorat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi.

Belum Merata
Ketentuan ini sesuai dengan Undang-undang nomor 24 tahun 2013, perubahan atas Undang-undang nomor 26 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk). Untuk detail tata cara pencatatan pernikahan penghayat kepercayaan, diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 27 tahun 2007 pada bab X pasal 81, 82, dan 83.

Senada dengan itu, Ketua Perhimpunan Warga Sapta Darma (Persada) Kabupaten Brebes Suharjo menyatakan, warga Sapta Darma di Kabupaten Brebes belum merata. Sehingga, lanjutnya, jika wilayah kerja seorang Pemuka Penghayat Kepercayaan hanya satu kecamatan, dikhawatirkan di kecamatan lain tak ada yang bisa menikahkan.

“Jadi kalau wilayah kerja pemuka penghayat kepercayaan satu kecamatan, logikanya setiap kecamatan harus ada pemuka penghayatnya. Padahal, penganut Sapta Darma tidak ada di semua kecamatan. Meskipun ada, ya hanya satu dua orang. Nah, kalau satu orang itu menjadi pemuka penghayat, lalu siapa yang akan dinikahkanya,” paparnya.

Atas dasar itu, Carlim dan Suharjo yang juga pemuka penghayat kepercayaan Sapta Darma meminta supaya SKT yang ada dirubah. Perubahan itu, hanya dalam hal wilayah kerja yakni se-Kabupaten Brebes. Dia berharap, pemerintah bisa mewujudkan itu karena ia yakin penghayat kepercayaan pada umumnya tidak merata setiap kecamatan ada.

“Kami meminta wilayah kerja pemuka penghayat kepercayaan yang bertugas menikahkan, diperluas lagi menjadi satu kabupaten. Ini sesuai dengan SKT sebelum ada perubahan dulu. Karena jika satu kecamatan akan menimbulkan persoalan bagi penganut kepercayaan yang dalam satu kecamatan itu hanya ada satu dua orang saja,” pintanya. [elsa-ol/Ceprudin-@ceprudin/001]

http://elsaonline.com/?p=4214
gak tau deh.. emoticon-Malu
Ajaran Sapta Darma Hilangkan Klenik
May 20, 2015 Admin Agama, Berita 0

[Brebes –elsaonline.com] Ketua Yayasan Penghayat Kepercayaan Sapta Darma Kabupaten Brebes Carlim mengatakan, ajaranya turun untuk menghilangkan klenik. Ia mengungkapkan bahwa ajaran Sapta Darma selama ada untuk menjaga alam semesta supaya tetap utuh.

“Sapta Darma diturunkan arahe mriku (arahnya kesana), ya untuk menghilangkan klenik. Turunya ajaran kami itu untuk ngerumati jagat. Menjaga alam dunia dan seisinya, supaya aman damai serta sejahtera,” katanya, saat ditemui di kediamannya, Minggu (17/5/2015).

Pada kesempatan itu ia menyinggung soal khasiat batu akik. Ia mengkritik orang-orang yang mengagungkan adanya khadam yang terkandung dalam batu akik. Dalan ajaran Sapta Darma, kata Carlim, boleh meyakini sesuatu mempunyai kekuatan, namun tidak boleh mengagung-agungkan melebihi sang pencipta.

“Manusia itu mahluk paling sempurna di dunia ini. Kalau kita mengagungkan batu, kayu, pohon, ya tentu tidak boleh. Manusia hanya boleh mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa. Misal dalam batu akik ada khasiatnya, ya boleh saja kita percaya namun tidak boleh mengagungkan,” sambungnya.

Senada dengan itu, Wardoyo yang juga penganut Sapta Darma sepakat bahwa tidak ada kekuatan hebat selain kekuatan Yang Maha Kuasa. Ajaran Sapta Darma, katanya, ada untuk menjernihkan paham yang ada. Ia mengakui, bahwa dalam setiap ajaran agama ada kepercayaan bahwa agamanya sebagai penyelamat.

“Ya kita meyakini ada (ada khasiat atau kekuatan dalam benda-benda), tapi ajaran Sapta Darma tidak mengagungkan benda-benda itu. Karena memang hal-hal ghaib itu memang ada. Ya kalau keris misalnya, kita undang, ya hadir, memang ada isinya, namun kami mempercayai itu biasa saja,” katanya. [elsa-ol/Ceprudin-@ceprudin/001]

http://elsaonline.com/?p=4334
INKLUSI SOSIAL Penghayat Kepercayaan

 Feb 27, 2016  Admin  Publikasi  0

Di Brebes, ada 190 Warga Sapta Darma

Sejak bulan Maret 2015, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), ikut terlibat dalam Program Peduli yang dalam pelaksanaannya ada di bawah koordinasi Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Fokusnya adalah kelompok minoritas atau masyarakat yang pernah terdiskriminasi atas nama keyakinan di Jawa Tengah. Dari data serta peta awal yang kami miliki, maka dipilihlah dua komunitas; Sapta Darma di Brebes dan Sedulur Sikep di Kudus.
Pendekatan yang digunakan dalam program ini, agak sedikit beda dengan yang dikerjakan oleh eLSA selama ini. Jika monitoring serta advokasi yang dilakukan oleh eLSA biasanya menggunakan perspektif Hak Asasi Manusia dan instrumen kebebasan beragama, maka program ini menjadikan inklusi
Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang

sosial sebagai perspektifnya. Sederhananya, dilakukan pendekatan integratif untuk dua komunitas ini, yakni dengan menyambungkan perspektif hak sipil dan politik serta ekonomi, sosial dan budaya. Ada tiga pilar dalam program inklusi sosial ini; penerimaan, akses dan kebijakan.
Buku ini merupakan laporan yang kami buat untuk memberikan gambaran tentang perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan, termasuk problem dan tantangannya serta evaluasi atas apa yang selama ini sudah dikerjakan.
Atas berjalannya program ini, kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah memungkinkan kegiatan ini bisa berjalan. Kepada Kementerian PMK, Yayasan Satunama, Warga Sapta Darma Brebes dan Sedulur Sikep di Kudus. Juga kepada instansi terkait yang ikut bahu membahu memuluskan jalan untuk harapan bersama, “Menuju Jateng Inklusi.”

Download Laporan

http://elsaonline.com/?p=4973
Sebenarnya sapta darma itu apaan sih? emoticon-Bingung