alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/551e37eda2c06ec13f8b456a/jokowi-sudah-benar-ketika-semua-orang-menyerangnya
Jokowi Sudah Benar Ketika Semua Orang Menyerangnya
Jokowi Sudah Benar Ketika Semua Orang Menyerangnya


Pada awal 90-an berlangsung debat
cukup sengit di antara para
budayawan dan seniman. Di antara
mereka terdapat nama nama yang
sekarang kadaluwarsa dalam dunia
pop kita dengan tenang, Nirwan
Dewanto, Sutardjo C. Bahri,
Goenawan Mohamad, Seno Gumira
Adjidarma mendebatkan tentang apa
yang dinamakan budaya Indonesia.
Bersamaan dengan debat terbit pula
buku edisi revisi dari Benedict
Anderson (1993) ikut mengubah arah
debat.
Apa yang mereka debat
berkesimpulan bahwa bangsa ini
brengsek dan terkutuk oleh tumbuh
kembangnya mental saling memakan,
saling menjepit, saling injak, dan
saling korupsi satu sama lain demi
kualitas hidup semu.
Semu karena kualitasnya ditentukan
dalam standar versi pemerintahan
yang hilang ambisi. Dengan segala
sumber daya yang ada, dengan
kebangkitan pendidikan sejak Daud
Yusuf merevival pendidikan
Indonesia ke tingkat paling sekuleris
(yang artinya paling fokus bicara
manusia dibanding bicara tentang
jampi jampi dan doa doa) tidak
pernah dilihat sebagai sumber daya
potensial, melainkan musuh yang
mesti ditaklukan oleh pemerintah.
Benar pemerintah memusuhi
rakyatnya, mereka takut rakyatnya
suatu saat akan memberontak, ini
terbaca pada 1997 saat berlangsung
dialog antara Wimar Witoelar dengan
Jalaluddin Rahmat di Bandung
dengan tema revolusi komunikasi
abad 21. Big show saat itu, Wimar
tengah dipuncak performa, dan Kang
Jalal belum menjadi syiah
sepenuhnya. Kesimpulannya,
pemerintah Orde Baru begitu
insecure pada rakyatnya, tercermin
pada program program
"pembungkaman" melalui jalan
ekspresi seni, sosial, juga ekonomi.
Salah satu cara membungkam itu
adalah dengan subsidi.
Saat subsidi membanjiri masyarakat,
yang muncul adalah zona nyaman.
Masyarakat lalu jadi paranoid jadi
traumatis pada perubahan dan
adaptasi zaman. Orde Baru berhasil
menanamkan kebencian pada
rakyatnya untuk menjadi pemenang
dalam arti lepas dari bantuan.
Pemerintah mengabdi para rakyat
bukan dengan pelayanan pelayanan
yang bagus, tap dengan mengirim
cek demi cek subsidi bagai orang tua
memberi jajan pada anaknya.
Jargon mengabdi pada rakyat dalam
arti pelayanan sudah lenyap sejak
1959. Lalu para elite pun sibuk
perang antar faksi serta ideologi
demi memperebutkan hak
pengasuhan subsidi, hak menjadi
"raja" yang mengayomi rakyatnya
dengan kesenangan. Dan akhirnya
tidak penting rakyat memiliki
pemimpin politik modern yang
mampu membawa konsep besar,
konsep perubahan dan revolusi jiwa
sendiri.
Rakyat Indonesia tidak bisa lepas
mencari pemimpin yang kharismatik,
dan meninggalkan pemimpin modern
yang membimbing mereka ke jalan
pemberdayaan. Indonesia seolah
masih berada di zaman nabi nabi
sebagai raja.
Satu demi satu pemimpin politik
muncul dan di nabikan, di anggap
sebagai dewa penyelamat dari
masyarakat pemalas yang berharap
magis serta keajaiban turun
selamatkan gaya hidup mereka. Saat
Suharto hilang "wahyu" mereka
gusur dari posisinya, saat Gusdur
terlalu "wahyuis" mereka jatuhkan
pula, saat Susilo Bambang
Yudhoyono mampu menjadi pabrik
wahyu melalui proses citrawi dashyat
masyarakat tenang tenang saja
walau di akhir pemerintahannya ada
kenaikan harga minyak hingga 350
persen, dan kenaikan nilai rupiah
juga ratusan persen.
Lalu Muncul Jokowi
Lalu muncul Joko "Jokowi" Widodo,
sosok yang hendak menjadi kurban
masyarakat selanjutnya. Nabi
pemegang wahyu untuk era
selanjutnya. Berkat bantuan tengik
dari gerombolan rasis bersurban
yang menyerang Jokowi dalam
kampanye hitam massif, sosok Jokowi
yang modern akhirnya mesti
diamankan oleh pendukungnya
sebagai sosok nabi yang lain.
Sebagaimana para nabi akan selalu
dibela oleh ummatnya, maka Jokowi
kembali terselubung mitos dan
wahyu wahyu yang sama.
Ini bagus sebetulnya dalam proses
perebutan kekuasaan, namun
akhirnya para penggarap wahyu
harus kecewa.
Jokowi justru menjadi musuh mereka
yang berharap segala sesuatu akan
mudah. Jokowi adalah monster
sebenarnya yang sejatinya
memegang "wahyu" Tuhan dan
bukan "wahyu" rakyat. Sebagaimana
Anda tahu, bahwa Tuhan hanya
memberikan apa yang manusia
butuhkan, bukan memberikan apa
yang manusia inginkan.
Maka saat rakyat berharap pemimpin
yang akan membawa mereka dalam
"kesenangan dan hura hura" fiskal
next level. Jokowi menghentikan
kesenangan itu. Hura hura fiskal
yang membanjiri orang orang dengan
segala subsidi yang selama ini
mengikat mereka untuk tidak
tumbuh dihentikan dengan berani
dan cuek, khas "bukan urusan saya"
yang terkenalnya itu. Tapi bukan
berarti rakyat tidak boleh senang
senang dengan negaranya..
"Nanti dulu, bangun dulu fisik
negaranya.." tukas Jokowi suatu
ketika. Maka dari itulah segala
program programnya yang dituliskan
dalam Nawa Cita, adalah menjadikan
rakyat produktif dengan
menghentikan konsumtifnya,
memulai segalanya dari nol,
mencabut semua selang selang infus
yang membuat rakyat nyaman
dibuaian.
Jokowi menuntut rakyat Indonesia
menjadi Mac Gyver yang mampu
membuat satelit dari penggorengan,
karena ia yakin semua rakyat bisa.
Sebagaimana dirinya sendiri adalah
Mc Gyver dari bentuk lainnya, hidup
bukan sebagai elite yang menerima
kucuran duit bapak moyangnya,
terkenal karena jadi anak si fulan
yang tokoh itu, tapi sebagai rakyat
perkerja keras dari pinggiran sungai
kumuh menjadi eksportir yang
mengendalikan nasib orang asing.
Anda bisa bandingkan cara kerja
pembantunya Susi Pudjiastuti yang
sejarah hidupnya 11-12 dengan
Jokowi sendiri, dengan cara kerja
Menteri lainnya yang putri mahkota
seorang elite partai, yang kenal duit
dan kehormatan sejak dimomongan,
terasa bedanya bukan?
Jokowi yang pernah dituding
komunis, malah membawa agenda
kapitalis yang paling murni dan
paling dibenci para komunis dan
pernah dituliskan oleh Max Webber.
Jokowi membawa semangat protestan
pada rakyat Indonesia, hidup tidak
tergantung pada tokoh tokoh
wahyuis, melainkan harus berdiri
sendiri hilang patronnya.
Tinggalkan Infus Subsidi
Tidak ayal, saat kenyamanan
direnggut maka semua orang
berteriak. Baik mereka yang menjadi
lawan politik, atau mereka yang
selama ini asyik asyik hidup dengan
infus dari pemerintahan, dan lupa
mengembangkan diri sendiri menuju
kemajuan. Semua menyerang Jokowi,
"salam gigit jari" kata mereka.
Adapula mahasiswa, yang selama ini
hidup di ketiak politisi keluar
membawa segala bau ketiak yang
ada, membakari benda benda,
"berjoget-joget" menuntut perhatian
media massa, bagai para alay yang
kurang selfie.
Mahasiswa yang selama ini menjadi
dongkrak perubah elite dari satu
elite kepada elite lain, kembali
"being used" alias digunakan
sebagai kartu selanjutnya, tapi
pertaruhan ini akan gagal, karena
rakyat semakin kritis. Dan tidak akan
mengandalkan kecerdasan mereka
yang tidak paham kemandirian dan
masih bergantung uang jajan tuisi.
Camkan ini. Apa yang sebenarnya
rakyat ini cari dari kisah indah masa
lalu, tidak akan pernah ada
disediakan oleh Joko Widodo.
Tanggung jawab fiskal Jokowi sudah
mencapai posisi yang benar. Dia
alihkan subsidi konsumsi pada
subsidi produksi.
Kemana uang uang pembangunan
rakyat? Dilempar tuh ke arah
pembangunan fisik, ke arah
pembangunan jembatan, jalan,
pelabuhan, gudang, industri, serta
mengundang semua investor serta
orang asing ke Indonesia dengan
pembebasan visa yang akan
mengundang adanya kerjasama
antara "pendukung sejati" nawa cita,
antara UMKM dengan investor asing.
Pertumbuhan 7 persen adalah target
Jokowi, dan pertumbuhan itu walau
data makro merupakan pertumbuhan
yang berkualitas, dan bukan
pertumbuhan dari sisi finansial saja
sebagaimana di era SBY, melainkan
riilnya. Pertumbuhan yang nyata
dirasakan orang banyak dalam
bentuk fisik. Sekali lagi jika Anda
berharap perbedaan dari Jokowi
seperti harga murah, semua itu
sudah di tangan Anda.
Segala harga bisa Anda kendalikan
sendiri melalui jalan kemandirian
dan berupaya menjadi lebih
berdaya. Lebih bangkit dibanding
merasa bangkrut, berangkat dari
tantangan lebih besar untuk
melewatinya.
Indonesia sendiri masih kolam susu,
kemarin penulis berhasil menuai
ratusan cabe dalam pot, dan
Alhamdulilah pohon tomat sudah
berbuah sejak menanamnya tiga
bulan lalu, lalu penulis menamam
apa yang bisa ditanam semuanya
dalam pot. Dan alhamdulilah lambat
laun keberdayaan dan irihati pada
Jokowi serta Susi mengantarkan
penulis untuk surplus bumbu dapur.
Tidak peduli berapapun harga
mereka di pasaran. Penulis pun
memulai surplus protein dengan
memelihara ayam, perkembangannya
cepat kini hendak protein hewani
kapanpun bisa tidak harus
menunggu harga pasar naik turun.
Inspirasi penulis adalah sang
presiden baru itu sendiri, yang
berhasil mandiri dari kampung
kumuh menjadi presiden. Penulis
tidak akan bisa mendapatkan
inspirasi dari mereka yang jadi
pemimpin karena seorang Jenderal,
seorang tokoh nasional, atau seorang
anak orang berpengaruh.***Red
emoticon-Traveller emoticon-Traveller
sumber [url]www.fiskal.co.id/berita/fiskal-4/5160/jokowi-sudah-benar-ketika-semua-orang-menyerangnya[/url]
perhatian!!!
selama berada di thread penangkaran panastak, harap tenang. sumber wajib : metrotv, detik, islamtoleran dll.
...
sekian terimakasih.
DI DUNIA INI ADA 2 PENYAKIT YG SUSAH DISEMBUHKAN
1. JATUH CINTA SAMA PACAR emoticon-Big Grin
2. JATUH CINTA SAMA KOWI emoticon-Big Grin
waduh bawa2 wahyu & nabi..emoticon-Cape d...
Opo maneeeh iki.....level ngawurnya sudah overrated ini emoticon-Ngakak
Quote:Opo maneeeh iki.....level ngawurnya sudah overrated ini emoticon-Ngakak

Efek jamu kobokan plus air kobokan
Gua ga ngarti isi beritanya
Quote:Original Posted By azfargilang
waduh bawa2 wahyu & nabi..emoticon-Cape d...


emoticon-Ngakak beginilah cara pandang jokower emoticon-Ngakak .
tapi kita sebagai masyarakat cerdas mesti melihat sesuatu dari berbagai sisi emoticon-Cool . klo dibilang buang2 waktu, yg bilang gitu gk bisa baca kali. atau bacanya lamban emoticon-Cool.
...
setiap publik figur, pasti ada yg terkena fitnah. kita nggak tau mana yg bener. jalan satu2nya amati dari 2 sumber yg bersebrangan emoticon-Cool
emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
anggap aja hiburan ditengah kejenuhan
Quote:Original Posted By rinovni
Pada awal 90-an berlangsung debat
cukup sengit di antara para
budayawan dan seniman. Di antara
mereka terdapat nama nama yang
sekarang kadaluwarsa dalam dunia
pop kita dengan tenang, Nirwan
Dewanto, Sutardjo C. Bahri,
Goenawan Mohamad, Seno Gumira
Adjidarma mendebatkan tentang apa
yang dinamakan budaya Indonesia.
Bersamaan dengan debat terbit pula
buku edisi revisi dari Benedict
Anderson (1993) ikut mengubah arah
debat.
Apa yang mereka debat
berkesimpulan bahwa bangsa ini
brengsek dan terkutuk oleh tumbuh
kembangnya mental saling memakan,
saling menjepit, saling injak, dan
saling korupsi satu sama lain demi
kualitas hidup semu.
Semu karena kualitasnya ditentukan
dalam standar versi pemerintahan
yang hilang ambisi. Dengan segala
sumber daya yang ada, dengan
kebangkitan pendidikan sejak Daud
Yusuf merevival pendidikan
Indonesia ke tingkat paling sekuleris
(yang artinya paling fokus bicara
manusia dibanding bicara tentang
jampi jampi dan doa doa) tidak
pernah dilihat sebagai sumber daya
potensial, melainkan musuh yang
mesti ditaklukan oleh pemerintah.
Benar pemerintah memusuhi
rakyatnya, mereka takut rakyatnya
suatu saat akan memberontak, ini
terbaca pada 1997 saat berlangsung
dialog antara Wimar Witoelar dengan
Jalaluddin Rahmat di Bandung
dengan tema revolusi komunikasi
abad 21. Big show saat itu, Wimar
tengah dipuncak performa, dan Kang
Jalal belum menjadi syiah
sepenuhnya. Kesimpulannya,
pemerintah Orde Baru begitu
insecure pada rakyatnya, tercermin
pada program program
"pembungkaman" melalui jalan
ekspresi seni, sosial, juga ekonomi.
Salah satu cara membungkam itu
adalah dengan subsidi.
Saat subsidi membanjiri masyarakat,
yang muncul adalah zona nyaman.
Masyarakat lalu jadi paranoid jadi
traumatis pada perubahan dan
adaptasi zaman. Orde Baru berhasil
menanamkan kebencian pada
rakyatnya untuk menjadi pemenang
dalam arti lepas dari bantuan.
Pemerintah mengabdi para rakyat
bukan dengan pelayanan pelayanan
yang bagus, tap dengan mengirim
cek demi cek subsidi bagai orang tua
memberi jajan pada anaknya.
Jargon mengabdi pada rakyat dalam
arti pelayanan sudah lenyap sejak
1959. Lalu para elite pun sibuk
perang antar faksi serta ideologi
demi memperebutkan hak
pengasuhan subsidi, hak menjadi
"raja" yang mengayomi rakyatnya
dengan kesenangan. Dan akhirnya
tidak penting rakyat memiliki
pemimpin politik modern yang
mampu membawa konsep besar,
konsep perubahan dan revolusi jiwa
sendiri.
Rakyat Indonesia tidak bisa lepas
mencari pemimpin yang kharismatik,
dan meninggalkan pemimpin modern
yang membimbing mereka ke jalan
pemberdayaan. Indonesia seolah
masih berada di zaman nabi nabi
sebagai raja.
Satu demi satu pemimpin politik
muncul dan di nabikan, di anggap
sebagai dewa penyelamat dari
masyarakat pemalas yang berharap
magis serta keajaiban turun
selamatkan gaya hidup mereka. Saat
Suharto hilang "wahyu" mereka
gusur dari posisinya, saat Gusdur
terlalu "wahyuis" mereka jatuhkan
pula, saat Susilo Bambang
Yudhoyono mampu menjadi pabrik
wahyu melalui proses citrawi dashyat
masyarakat tenang tenang saja
walau di akhir pemerintahannya ada
kenaikan harga minyak hingga 350
persen, dan kenaikan nilai rupiah
juga ratusan persen.
Lalu Muncul Jokowi
Lalu muncul Joko "Jokowi" Widodo,
sosok yang hendak menjadi kurban
masyarakat selanjutnya. Nabi
pemegang wahyu untuk era
selanjutnya. Berkat bantuan tengik
dari gerombolan rasis bersurban
yang menyerang Jokowi dalam
kampanye hitam massif, sosok Jokowi
yang modern akhirnya mesti
diamankan oleh pendukungnya
sebagai sosok nabi yang lain.
Sebagaimana para nabi akan selalu
dibela oleh ummatnya, maka Jokowi
kembali terselubung mitos dan
wahyu wahyu yang sama.
Ini bagus sebetulnya dalam proses
perebutan kekuasaan, namun
akhirnya para penggarap wahyu
harus kecewa.
Jokowi justru menjadi musuh mereka
yang berharap segala sesuatu akan
mudah. Jokowi adalah monster
sebenarnya yang sejatinya
memegang "wahyu" Tuhan dan
bukan "wahyu" rakyat. Sebagaimana
Anda tahu, bahwa Tuhan hanya
memberikan apa yang manusia
butuhkan, bukan memberikan apa
yang manusia inginkan.
Maka saat rakyat berharap pemimpin
yang akan membawa mereka dalam
"kesenangan dan hura hura" fiskal
next level. Jokowi menghentikan
kesenangan itu. Hura hura fiskal
yang membanjiri orang orang dengan
segala subsidi yang selama ini
mengikat mereka untuk tidak
tumbuh dihentikan dengan berani
dan cuek, khas "bukan urusan saya"
yang terkenalnya itu. Tapi bukan
berarti rakyat tidak boleh senang
senang dengan negaranya..
"Nanti dulu, bangun dulu fisik
negaranya.." tukas Jokowi suatu
ketika. Maka dari itulah segala
program programnya yang dituliskan
dalam Nawa Cita, adalah menjadikan
rakyat produktif dengan
menghentikan konsumtifnya,
memulai segalanya dari nol,
mencabut semua selang selang infus
yang membuat rakyat nyaman
dibuaian.
Jokowi menuntut rakyat Indonesia
menjadi Mac Gyver yang mampu
membuat satelit dari penggorengan,
karena ia yakin semua rakyat bisa.
Sebagaimana dirinya sendiri adalah
Mc Gyver dari bentuk lainnya, hidup
bukan sebagai elite yang menerima
kucuran duit bapak moyangnya,
terkenal karena jadi anak si fulan
yang tokoh itu, tapi sebagai rakyat
perkerja keras dari pinggiran sungai
kumuh menjadi eksportir yang
mengendalikan nasib orang asing.
Anda bisa bandingkan cara kerja
pembantunya Susi Pudjiastuti yang
sejarah hidupnya 11-12 dengan
Jokowi sendiri, dengan cara kerja
Menteri lainnya yang putri mahkota
seorang elite partai, yang kenal duit
dan kehormatan sejak dimomongan,
terasa bedanya bukan?
Jokowi yang pernah dituding
komunis, malah membawa agenda
kapitalis yang paling murni dan
paling dibenci para komunis dan
pernah dituliskan oleh Max Webber.
Jokowi membawa semangat protestan
pada rakyat Indonesia, hidup tidak
tergantung pada tokoh tokoh
wahyuis, melainkan harus berdiri
sendiri hilang patronnya.
Tinggalkan Infus Subsidi
Tidak ayal, saat kenyamanan
direnggut maka semua orang
berteriak. Baik mereka yang menjadi
lawan politik, atau mereka yang
selama ini asyik asyik hidup dengan
infus dari pemerintahan, dan lupa
mengembangkan diri sendiri menuju
kemajuan. Semua menyerang Jokowi,
"salam gigit jari" kata mereka.
Adapula mahasiswa, yang selama ini
hidup di ketiak politisi keluar
membawa segala bau ketiak yang
ada, membakari benda benda,
"berjoget-joget" menuntut perhatian
media massa, bagai para alay yang
kurang selfie.
Mahasiswa yang selama ini menjadi
dongkrak perubah elite dari satu
elite kepada elite lain, kembali
"being used" alias digunakan
sebagai kartu selanjutnya, tapi
pertaruhan ini akan gagal, karena
rakyat semakin kritis. Dan tidak akan
mengandalkan kecerdasan mereka
yang tidak paham kemandirian dan
masih bergantung uang jajan tuisi.
Camkan ini. Apa yang sebenarnya
rakyat ini cari dari kisah indah masa
lalu, tidak akan pernah ada
disediakan oleh Joko Widodo.
Tanggung jawab fiskal Jokowi sudah
mencapai posisi yang benar. Dia
alihkan subsidi konsumsi pada
subsidi produksi.
Kemana uang uang pembangunan
rakyat? Dilempar tuh ke arah
pembangunan fisik, ke arah
pembangunan jembatan, jalan,
pelabuhan, gudang, industri, serta
mengundang semua investor serta
orang asing ke Indonesia dengan
pembebasan visa yang akan
mengundang adanya kerjasama
antara "pendukung sejati" nawa cita,
antara UMKM dengan investor asing.
Pertumbuhan 7 persen adalah target
Jokowi, dan pertumbuhan itu walau
data makro merupakan pertumbuhan
yang berkualitas, dan bukan
pertumbuhan dari sisi finansial saja
sebagaimana di era SBY, melainkan
riilnya. Pertumbuhan yang nyata
dirasakan orang banyak dalam
bentuk fisik. Sekali lagi jika Anda
berharap perbedaan dari Jokowi
seperti harga murah, semua itu
sudah di tangan Anda.
Segala harga bisa Anda kendalikan
sendiri melalui jalan kemandirian
dan berupaya menjadi lebih
berdaya. Lebih bangkit dibanding
merasa bangkrut, berangkat dari
tantangan lebih besar untuk
melewatinya.
Indonesia sendiri masih kolam susu,
kemarin penulis berhasil menuai
ratusan cabe dalam pot, dan
Alhamdulilah pohon tomat sudah
berbuah sejak menanamnya tiga
bulan lalu, lalu penulis menamam
apa yang bisa ditanam semuanya
dalam pot. Dan alhamdulilah lambat
laun keberdayaan dan irihati pada
Jokowi serta Susi mengantarkan
penulis untuk surplus bumbu dapur.
Tidak peduli berapapun harga
mereka di pasaran. Penulis pun
memulai surplus protein dengan
memelihara ayam, perkembangannya
cepat kini hendak protein hewani
kapanpun bisa tidak harus
menunggu harga pasar naik turun.
Inspirasi penulis adalah sang
presiden baru itu sendiri, yang
berhasil mandiri dari kampung
kumuh menjadi presiden. Penulis
tidak akan bisa mendapatkan
inspirasi dari mereka yang jadi
pemimpin karena seorang Jenderal,
seorang tokoh nasional, atau seorang
anak orang berpengaruh.***Red

sumber fiskal.co.id


Yang bikin thread .. gak niat banget sih tulisannya ..rapiin napa ...

kampret lah buat TS.
Gini ini penyakit jaman sekarang.
Salah benar dibalikkan.
Katanya relawan tapi jatahnya jgn lupa bang.
Pemerintahnya juga lupa.
Lupa kalo mereka dipilih supaya semua sejahtera.
Disuruh sabar adalah nasehat mereka.
Tapi nasehat itu tak berlaku buat mereka.
Panasbung nyinyir itu kata pasukan mereka.
Rusak rusak moral manusia.
Telinga dan mata batin sudah buta.
Baik dan buruk apa artinya buat mereka.
Yg penting keruk keruk semuanya.
Hanya perut yg jadi urusan mereka.
Hanya menunggu jaman untuk berubah.

Quote:Original Posted By alexander hagal
Opo maneeeh iki.....level ngawurnya sudah overrated ini emoticon-Ngakak


ane dapet dari temen nasrani yg share beginian. ane cuma bisa geleng emoticon-Ngakak . sebenernya apa yg mereka (panastak) pikirkan emoticon-Ngakak.
untuk menutup malu paling cuma bilang: "yg penting presiden gw jokowek, presiden lu siapa?" , "lu sendiri bisa jadi presiden?" , "ini karena 'blablabla' " emoticon-Ngakak (S)
intinya : jokowi nabi sebenarnya... dari tuhan bukan buatan nastak.. emoticon-Belo
Quote:Original Posted By m.ramdhani1981


Yang bikin thread .. gak niat banget sih tulisannya ..rapiin napa ...

kampret lah buat TS.


ampun gan, bikin dari hp emoticon-Peace
Oooooaku percoyoooo....
Quote:Original Posted By m.ramdhani1981


Yang bikin thread .. gak niat banget sih tulisannya ..rapiin napa ...

kampret lah buat TS.


ga pake quote trit ts kalee.. udah tau tulisanya sekereta tanpa spasi emoticon-Mad (S)
Quote:Original Posted By rinovni
perhatian!!!
selama berada di thread penangkaran panastak, harap tenang. sumber wajib : metrotv, detik, islamtoleran dll.
...
sekian terimakasih.


Quote:Original Posted By jemesbono
DI DUNIA INI ADA 2 PENYAKIT YG SUSAH DISEMBUHKAN
1. JATUH CINTA SAMA PACAR emoticon-Big Grin
2. JATUH CINTA SAMA KOWI emoticon-Big Grin


itu katanya sumur nya dari fiskal koid, afiliasinya kemana tuh media yg satu ini?
Versi singkat nya gini:
Pada periode pemerintahan yg sebelum-sebelum nya, pemerintah dpt pinjeman sapi dari tetangga dua ekor. Rakyat minta sapi nya disembelih terus daging nya buat pesta.
Pada pemerintahan berikutnya (periode saat ini), sapi udah gak punya terus ngutang dulu ke tetangga. Rakyat minta sapi disembelih kyk sebelum-sebelum nya. Pemerintah gak mau. Pemerintah mau nya supaya rakyat prihatin dulu, cukup ambil susu nya saja, daging nya jangan. Rakyat nganggep pemerintah tidak pro wong cilik.
Quote:Original Posted By skinyguy




itu katanya sumur nya dari fiskal koid, afiliasinya kemana tuh media yg satu ini?


kalo fiskal ane gk tau itu situs apa(ane dapet dari temen yg share). kalo metrotv, detik,or islamtoleran itu kan biasanya sumber andalan nastak. misalnya mau kasih bantahan, wajib dari situs rekomendasi nastak emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By rinovni


kalo fiskal ane gk tau itu situs apa(ane dapet dari temen yg share). kalo metrotv, detik,or islamtoleran itu kan biasanya sumber andalan nastak. misalnya mau kasih bantahan, wajib dari situs rekomendasi nastak emoticon-Big Grin


ini ane ambil dari salah satu artikel nya fiskal koid, lucu juga emoticon-Ngakak
Sampel Artikel
note: ini buka sumur 1 page doang lama beud emoticon-Cape d... (S)

Quote:Tedjo Edhy Purdjiatno, Menkopolkam Di Era Orba Menyeramkan, Kini Kok Jadi Lucu Lucuan?

Turut prihatin kita haturkan kepada Menkopolkam Laksamana (Pur) Tedjo Edhy Purdijatno. Yang digambarkan sebagai perwira hebat di laut, namun dibully di darat.

Saat ini, pejabat Menteri yang mengurusi politik dan keamanan, memberi bantalan empuk bagi Presiden Jokowi dalam berkomunikasi dengan rakyat, malah dianggap sebagai pesakitan yang melakukan hal sebaliknya.

Jokowi Sudah Benar Ketika Semua Orang Menyerangnya

Sebagai buah dari wawancaranya kepada pelbagai media yang menyebutkan mereka yang mendukung KPK adalah rakyat tidak jelas. Tedjo pun menuai kreatifitas anak bangsa di lapangan, apalagi kalau bukan kreativitas dalam membully di abad Internet.

Pria yang lahir di Magelang, Jawa Tengah, 20 September 1952, barangkali tidak menyangka bahwa rakyat Indonesia ganas ganas dalam urusan membully. Padahal, sebagaimana yang umum dipahami, setiap generasi Menkopolkam sejak terakhir sipil yang menjabatnya pada era Soekarno, merupakan kementerian angker, membuat begidik rakyat, bahkan menjadikan para gembong kriminalitas ciut mendengarnya.

Jokowi Sudah Benar Ketika Semua Orang Menyerangnya

Menkopolkam di eranya adalah jabatan yang disegani, ditakuti, dihormati, karena reputasi mengendalikan Kopkamtimb (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), bahkan segala jenis pengukuran keamanan negara melewati portofolio ini, termasuk di era Orde Baru dalam kasus penembakan misterius dan dihabisinya kaum gali, penjahat, serta preman.

Era berubah, web 2.0 menjadikan kebiasaan lama birokrasi mesti mengimbanginya. Saat kemanusiaan menjadi begitu berharga, dan HAM berkaitan dengan ekonomi dan pasar, serta iklim investasi, pejabat negara tidak bisa seenaknya melakukan intimidasi baik fisik maupun kata kata. Atau akan berakhir pada tangan tangan keras demokrasi yang membully siapapun yang "gagal paham".

Jokowi Sudah Benar Ketika Semua Orang Menyerangnya

Meme meme kocak terhadap Menkopolkam menyiratkan hal tersebut, sehingga birokrasi mestinya belajar banyak untuk memperhatikan ruang batin rakyat, utamanya kelas menengah terdidik, serta dukungan mereka pada segala jenis perbaikan termasuk pemberantasan korupsi.

Karena begitu pentingnya memahami solidaritas pada kekuatan kelas menengah, bahkan barangkali kelas menengah lebih komando dibanding militer, karena mereka mampu bertindak berdasarkan tujuan yang jelas namun bertujuan sama sama tanpa perintah, dan itu dilakukan serentak bagai dalam partisi suatu komando.

Jokowi Sudah Benar Ketika Semua Orang Menyerangnya

Dan dengan demikian pada akhirnya kita berharap banyak akan perubahan visi dan misi di Menkopolkam berkaitan dalam sudut pandang birokrasi tersebut terhadap era demokratisasi, dan kita berharap ini bisa dilakukan di eranya Tedjo Edhy Purdijatno.***Red