alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/551cf95be05227211f8b456e/penakluk-pohon-bintaro-surabaya-lulut-sri-yuliani
”Penakluk” Pohon Bintaro Surabaya Lulut Sri Yuliani
Quote:”Penakluk” Pohon Bintaro Lulut Sri Yuliani
Terlalu Sering Eksperimen sampai Dikira Suami Hanya Bikin Sampah


”Penakluk” Pohon Bintaro Surabaya Lulut Sri Yuliani
MERAMU: Lulut sedang membuat sampo berbahan bunga bintaro.(WS Hendro/Jawa Pos)


Pohon bintaro sempat jadi polemik di Surabaya. Buahnya beracun. Namun, Lulut Sri Yuliani mampu menaklukkan dan mengubahnya menjadi produk yang bernilai ekonomis.

Lulut, 50, begitu penasaran dengan pohon bintaro. Bahkan, jauh sebelum pohon tersebut menjadi perbincangan. Pohon itu mempunyai buah dan getah yang bisa mengakibatkan kerusakan jantung hingga kematian jika dimakan. Namun, Lulut justru merasa tertantang. ”Tidak ada hal yang diciptakan Tuhan tanpa ada manfaatnya,” kata perempuan yang menyebut dirinya sebagai pemerhati lingkungan itu.

Yang dia coba terlebih dahulu adalah bunganya. Wanginya yang mirip melati membuat Lulut yakin bunga bintaro jauh lebih berguna ketimbang sekadar pohon dengan racun mematikan.

Bersama teman-temannya di Koperasi Griya Karya Tiara Kusuma, dia menggarapnya. Sebelumnya, koperasi itu melakukan riset-riset tentang aneka tumbuhan dan kegunaannya. Mereka menciptakan semacam olahan, mencampurkannya dengan bahan lain, hingga menjadi sampo. ’’Kulit kepala saya sensitif. Saya berusaha membuat sampo yang ramah kulit kepala sensitif,’’ terangnya saat ditemui di kediamannya, kawasan Kedung Asem, Kedung Baruk.

Pada 2003, dia memulai percobaannya. Sebelum membuat sampo, Lulut membikin pasta. Pasta tersebut terbuat dari bunga bintaro dan lidah buaya. Dua bahan itu di-steam hingga berbentuk seperti dodol. Pasta tersebut berfungsi sebagai biang. Setelah selesai dibuat, pasta itu dicampur dengan air rebusan kulit jeruk, garam, serta pewarna makanan biru. ”Saya tidak menggunakan bahan kimia apa pun. Maka, sampo ini tidak terlalu berbusa,” kata Lulut sambil menunjukkan produknya.

Laiknya percobaan lainnya, eksperimen itu mengalami kegagalan. Ketidaktelitian dalam proses ataupun pemilihan bahan dan alat membuatnya gagal. ”Bahkan, suami saya sering bilang mau bikin produk atau bikin sampah. Sebab, setiap percobaan, saya selalu membawa bahan baku berkarung-karung,” jelas ibu satu anak itu. Namun, dia tidak menyerah.

Setelah nyaris setahun melalui trial and error, Lulut kemudian bisa menaklukkan pohon tersebut. Dia bisa memanfaatkan bahan dari pohon itu untuk sesuatu yang berguna dan bernilai ekonomis. Awalnya, Lulut ragu-ragu untuk memakainya. Tapi, ketika beberapa orang mencoba sampo tersebut dan mengaku tidak ada efek samping, akhirnya Lulut berani memasarkan. ”Ternyata, selain untuk kulit kepala yang sensitif, sampo ini berguna untuk mencegah rambut rontok dan menghambat uban tumbuh,” ucap peraih Kalpataru Perintis Lingkungan Tahun 2011 itu.

Setelah itu, Lulut berupaya memanfaatkan buah bintaro. Kulit buah bintaro digunakan untuk pewarna batik. Terutama warna-warna gelap. Awalnya, Lulut mencoba dengan merebus seluruh bagian buah bintaro, namun tidak berhasil. Kemudian, dia mengupas buah tersebut. ”Getahnya luar biasa,” katanya.

Dia menyiasati dengan menjemurnya terlebih dahulu untuk menghilangkan getah. Setelah itu, buah tersebut direbus. Hasilnya warna hitam yang bagus. Berhasil dengan dua percobaan, Lulut makin tertantang. Tidak puas dengan cairan pembersih lantai yang dibelinya di supermarket, dia kembali mengutak-atik buah bintaro. Hasilnya, cairan pembersih lantai dari pohon bintaro diklaim lebih cespleng ketimbang produk yang dijual di pasaran. Lulut tidak hanya mencoba di rumahnya. Dia membagikan temuan itu kepada rekannya. Tujuannya uji coba. Hasilnya pun sama-sama memuaskan. ”Saya itu memang suka iseng. Tapi, isengnya berhadiah,” kata Lulut.

Dia juga sukses menemukan cara membersihkan baju-bajunya yang berjamur. ”Saya iseng saja mencuci baju saya itu dengan cairan yang awalnya digunakan untuk membersihkan lantai. Eh, kok hilang jamurnya,” ujar perempuan yang gemar belajar ilmu fisika dan kimia itu.

Lewat Griya Karya Tiara Kusuma, dia memasarkan produknya. Tidak sedikit yang berminat dengan produknya. Tamu dari Blitar hingga Jepang pun mengakui produk Lulut. ”Saya sering dikomplain. Komplainnya barang yang dibuat kurang banyak,” katanya, kemudian tertawa.

Tidak sedikit perusahaan yang menawarinya bermitra. Namun, hingga sekarang tidak ada yang sesuai. ”Saya mencari pemodal yang sesuai dengan prinsip budi daya besar untuk menghasilkan produk yang besar. Bukan menghasilkan produk besar-besaran tanpa usaha budi daya,” jelasnya.

Melihat kiprahnya saat ini, tidak terbayang bahwa background pendidikan Lulut adalah sarjana pendidikan sastra Jawa IKIP Surabaya (kini Unesa). Hobinya sejak kecil memang melakukan riset. ”Saya berpedoman ingin menyelesaikan masalah. Jadi, jika ada masalah, saya malah semakin bersemangat untuk melakukan percobaan,” terangnya.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sering studi banding di tempatnya. ”Terakhir adalah pembuatan biodiesel dari biji bintaro,” pamer Lulut.

Namun, Lulut tidak perhitungan dalam membagi ilmu. Dengan senang hati dia menularkan ilmunya kepada orang-orang yang mau belajar. Membuka buku tamu yang ditunjukkan Lulut, dia tampak sering mendapat kunjungan mahasiswa.

Produk olahannya tidak hanya dari bintaro. Tanaman bogem (Sonneratia caseolaris) dan mangrove juga menjadi salah satu bahan yang diolah menjadi produk karya Lulut. Hasilnya pun tidak melulu sampo atau cairan pembersih lantai. Ada juga es krim mangrove, batik, hingga sirup. Penakluk pohon beracun itu kini boleh berbangga. Dia bisa mewariskan pengetahuan yang membuat pohon beracun menjadi sesuatu yang berdaya guna. (*/c6/ayi)


Sumber

kalau begini maka gak perlu ada pemusnahan pohon bintaro di Surabaya karena bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat


koq jarang kedengeran ya,,padahal kalo ada manfaatnya bagus bgt tuh..
bintaro kan ga bisa dimakan gan
mendingan pohon mangga
Yg bener nih ..... Surabaya atau Blitar??? emoticon-Mad

ntar salah sebut lageee .....
Keren euy emoticon-Belo

Semoga tetap semangat berkarya emoticon-thumbsup
Wah salut untuk ibu. emoticon-thumbsup
Quote:Original Posted By agungnovia
bintaro kan ga bisa dimakan gan
mendingan pohon mangga


pohon mangga milik tetangga gan. emoticon-Recommended Seller
Salute to you maam emoticon-Matabelo
o.ada ya,baru tahu
di jakarta mah ditemin tuh pohon bintaronya, banyak di pinggir2 jalan.

Bisa jg buah pohon bintaro ini untuk pengusir Tikus di rumah.., (caranya taroh buah bntaro di tmpt yg biasa ada tikusnya)
Tikus2 parlemen jg bsa.., campurin aja getahnya ke air teh / kopi mereka, dijamin koit...
Yakin nih gag da efek sampingnya.??
Harus dites lbh lanjut nih.
Klo bener bisa dimanfaatin ya baguslah.
Baru tau ada nama pohon bintaro..
emoticon-Malu (S)