alexa-tracking

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/551ce1ec14088d787d8b4576/aktivitas-pemuda-sedulur-sikep-kembali-bergairah
Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah
Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah
Apr 02, 2015 Admin Agama, Berita 0

Gumani (kiri) dan Faiz Riyandi. [Foto: Mustaqim]
Gumani (kiri) dan Faiz Riyandi. [Foto: Mustaqim]

[Kudus –elsaonline.com] Era pemerintahan Orde Baru telah menanamkan memori pahit bagi warga Sedulur Sikep. Aktivitas apapun bentuknya, selalu diawasi. Beberapa diantaranya bahkan memaksa mereka berhadap-hadapan dengan moncong senjata. Imbasnya, tidak cukup banyak pemuda Sedulur Sikep banyak yang beraktivitas memperjuangkan haknya.
Tapi, kondisi sekarang sudah jauh berbeda. Menurut Budi Santoso, salah satu warga Sedulur Sikep Kudus, situasi sekarang memberi peluang bagi semua warga Negara untuk memperjuangkan haknya. “Pemerintahan sekarang kan, sepertinya punya itikad baik, jadi kami sebagai warga minoritas ikut merasakan kebebasan bersuara ini. Kami dengan dibantu teman-teman yang lain mencoba menyampaikan keluhan yang selama ini dirasakan oleh warga Sedulur Sikep,” terang Santoso.

Budi Santoso menyadari bahwa perjuangan Sedulur Sikep tidaklah mudah. Prosesnya pun cukup panjang. Maka dari itu, ia meminta para pemuda Sedulur Sikep untuk giat memperjuangkan hak-hak warganya.

Sejak pertengahan Maret kemarin, pemuda Sedulur Sikep kembali menggiatkan aktivitasnya. Faiz Riyandi, koordinator pemuda Sedulur Sikep Kudus mengatakan bahwa mereka saat ini rutin menggelar pertemuan. “Dua minggu sekali kami bertemu bareng. Utamanya adalah untuk nguri-nguri ajaran leluhur dan bagaimana cara untuk melestarikan ajaran leluhur,” sapa pemuda yang akrab dipanggil Andi.

Andi menambahkan, selain belajar tentang ajaran mereka juga mulai membicarakan mengenai hak warga negara dan bagaimana stigma seringkali dilekatkan dengan penganut Sedulur Sikep.

Ardiyanto, pemuda Sedulur Sikep lainnya menambahkan bahwa pertemuan-pertemuan biasanya diikuti oleh 20 orang. “Kami tetap dibimbing oleh para sesepuh. Mereka yang mengarahkan bagaimana kita harus melangkah dan dengan siapa kita berjejaring,” tukas Ardi.

Saat ini, pemuda Sedulur Sikep juga turut aktif dalam kegiatan interfaith di Kudus. “Kami turut berpartisipasi dalam jejaring lintas iman di Kudus. Ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan kelompok lintas iman,” terang Gumani, juga pemuda Sedulur Sikep Kudus. Menurut Gumani, aktivitas pemuda Sedulur Sikep sebenarnya sudah ada cukup lama, namun relatif tertutup karena menghindari pengawasan pemerintah. Kembali bergiatnya aktivitas pemuda Sedulur Sikep cukup membuat Gumani optimis, kalau ajaran ini akan terus terjaga dan terpelihara. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin/001]

http://elsaonline.com/?p=4199

Ini patut ditiru sama penganut agama lokal lainnya
Kisah Penganut Sikep Berjuang 20 Tahun Memohon Akta Kelahiran Anaknya
Apr 03, 2015 Admin Agama, Berita 0

Tianah, warga Sedulur Sikep Kudus menunjukan akta kelahiran anaknya. [Foto: Nazar]
Tianah, warga Sedulur Sikep Kudus menunjukan akta kelahiran anaknya. [Foto: Nazar]

[Kudus –elsaonline.com] Diskriminasi layanan administrasi kependudukan di daerah ternyata masih menyisakan masalah. Di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, warga yang mengurus keperluan tersebut tidak diberikan produk administrasi yang sesuai ketentuan yang berlaku.
Budi Santoso (55), warga Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, mengaku saat mengajukan akta kelahiran anak ketiganya, tidak diberikan sesuai yang diminta. Permasalahan diperparah ketika akta kelahiran diterbitkan hanya mencantumkan nama pihak perempuan.

Dikatakan Budi, setelah dirinya mempersunting istinya, Tianah (45), dirinya telah dikaruniai tiga orang putri, bernama Sarah Puji Rahayu, Dwi Winarti, dan Anik Safitri. Anak pertama dan kedua tidak bermasalah, namun saat mengajukan akta anak ketiga permasalahan tersebut muncul.

“Anak saya yang ketiga, Anik Safitri itu di akte ditulis binti Ibu. Saya minta ditulis bin bapak, tapi tidak dianggap catatan sipil. Anak saya dianggap lahir di luar nikah. Itu yang menyakitkan hati saya,” kata Budi yang juga mengikuti ajaran Sedulur Sikep di Kudus itu, Rabu (1/5/2015) kemarin.

Menurut dia, proses perkimpoian dirinya tidak terjadi masalah. Perkimpoian mereka juga disaksikan tokoh masyarakat setempat, dan dikimpoikan oleh pemuka Sedulur Sikep. Sehingga tidak ada alasan dari pemerintah untuk menolak permohonan penerbitan akta kelahiran.

Mantan ketua RT 002/001 Larikrejo itu hingga kini masih memperjuangkan agar akta anaknya bisa dirubah. Begitupun dengan penerbitan Kartu Keluarga bagi keluarganya dan komunitasnya, Sedulur Sikep yang rata-rata menjadi masalah administrasi.

“Itu yang Disdukcapil mengapa menuliskan hal itu (anak di luar kimpoi). Ajaran saya kalau begitu tak dianggap (dikucilkan),” serunya.

Budi sendiri bersama komunitas Sedulur Sikep mengaku terus memperjuang hak-haknya sejak tahun 1990an. Dari perjuangannya, mereka baru berhasil memperjuangkan untuk mengosongkan kolom agama dalam kartu tanda penduduk.

“Dulu KTP dibuat nama Islam. Saya hampir mogok tidak mau buat KTP. Akhirnya tahun 2004 baru bisa dikosongkan, hingga sekarang ini,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Sujana Royat, mantan Deputi di Menteri Kooordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mengunjungi kediaman Budi. Di tempat itu, dia lebih banyak mendengarkan keluhan dari Komunitas Sedulur Sikep yang didengar masih banyak terjadi diskriminasi.

Menurut Sujana, penting bagi masyarakat agar memperhatikan hak-hak dasarnya, apakah terpenuhi atau belum. Ihwal akta kelahiran yang tidak diterbitkan sesuai aslinya, hal demikian masuk dalam bentuk diskriminasi.

“Negara menjamin hak dasar masyarakat, siapapun itu. Entah anak PKI, atau siapapun itu terlindungi oleh negara. Kalau akte itu hak dasar, kalau tidak diterbitkan itu bentuk pengucilan, diskriminasi,” sebut konsultas program PNPM Peduli itu. [elsa-ol/Nazar Muhammad-@nazaristik/001]

http://elsaonline.com/?p=4203
Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah


Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah

Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah
KASKUS Ads
image-url-apps
Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah
image-url-apps
nyimak dulu emoticon-Malu
Negara Harus Hadir Dalam Persoalan Warga, Termasuk Penghayat
Apr 04, 2015 Admin Agama, Berita, Hukum 0

Sujana Rojat. [Foto: Nazar]
Sujana Rojat. [Foto: Nazar]

[Kudus –elsaonline.com] Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) kembali dimulai, namun dengan konsep berbeda. Jika dulu PNPM terfokus pada pembagunan infrastuktur pedesaan, kini pola PNPM difokuskan pada pembangunan mentalitas manusia. Program Peduli (tanpa PNPM) pun diluncurkan sebagai pengganti dari program pembangunan PNPM Mandiri.
Konsultan PNPM Peduli, Sujana Royat mengatakan, program PNPM Peduli sepenuhnya dibiayai oleh hibah dari Pemerintah Australia yang dikelola oleh Kementeriaan Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Program itu menjangkau yang tidak terjangkau oleh pemerintah.

Dalam kunjungannya di Komunitas Sedulur Sikep di Desa Larikrejo dan Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tengah pekan lalu (2/3/2015), dia meminta kepada warga Sikep untuk berani melaporkan perlakuan yang tidak adil kepada pihaknya.

Dicontohkannya, dalam hal pendidikan, Negara telah menjamin anak untuk mendapatkan pendidikannya. Ketika anak penghayat Sikep yang hendak sekolah dihalang-halangi oleh pihak sekolah, atau pihak lain, warga Sikep didorong untuk melaporkan sekolah. Pelaporan itu agar penyiapan terhadap warga Sikep menjadi lebih adil.

“Ibu-ibu yang dagang ketiga dagang di pasar itu dikucilkan atau tidak. Misalnya juga eks tahanan politik ketika berdagang itu mereka diusir atau tidak, dihalang—halangi atau tidak karena mereka eks tapol,” seru dia.

Mantan Deputi di Kemenko PMK itu menegaskan bahwa program PNPM Peduli pembangunan difokuskan pada mentalitas manusia sesuai implemenetasi visi misi Presiden Joko Widodo tentang konsep revolusi mental. “Pesan presiden, jangan sampai ada satu orang pun di Bumi Indonesia didiskriminasi,” tambahnya.

Diskriminasi terhadap masyarakat minoritas juga tidak boleh dilakukan dalam hak apapun. Penghayat yang hendak mengajukan akta tanah misalnya, tidak boleh ditolak hanya karena dia seorang penghayat. Negara harus menjamin hak-hak warga negaranya dalam hal apapun sesuai perlindungan yang diberikan konstitusi.

Kata Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Agraria dan Tata Ruang sekaligus Kepala Badan Pertanahan Nasional, negara harus selalu hadir dalam permasalahan-permasalahan di masyarakat. Kapanpun dan dimanapun. “Negara tidak boleh tidur, dan harus siap ketika masyarakat memanggil,” seru Ferry. [elsa-ol/Nazar-@nazaristik/001]

http://elsaonline.com/?p=4210
Sesepuh Sedulur Sikep Ternyata Pernah Jadi Tahanan Politik
Apr 06, 2015 Admin Agama, Berita, Hukum 0

[Kudus –elsaonline.com] Cerita kehidupan dari warga Sedulur Sikep di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah masih memunculkan kisah yang menarik untuk disimak. Yang terbaru, nenek moyang mereka ternyata pernah dianggap sebagai anggota PKI serta menjalani hukuman sebagai tahanan politik.

“Ajaran Sikep kami runtuh tahun 1965. Bapak saya, dianggap masuk PKI dan dihukum 7 bulan, jadi tahanan politik. Padahal dia gak aktif berpolitik atauapun berorganisasi,” kata pemuka Sedulur Sikep Kudus, Budi Santoso, pekan lalu.

Menurut Budi, saat masa-masa itu kehidupan warga Sedulur Sikep menjadi berat. Terlebih memasuki era orde baru, aktivitas mereka begitu diawasi hingga tidak bisa beraktivitas lebih jauh.

“Dulu itu kita dipressure. Nikah misalnya diberi izin, tapi harus dengan cara islam. Kemudian diadakan nikah massal,” tambahnya.

Saat dirinya menikahi istrinya, Tianah, dirinya didatangi sejumlah perangkat desa berturut-turut. Mereka khawatir pernikahan yang ada tidak sejalan dengan prinsip orde baru.

“sehingga mereka maksa saya nikah dengan cara islam. Tapi saya tidak mau, ngotot dan pemaksaan itu gagal lagi,” tambahnya.

Usai reformasi, kondisi Sikep menjadi lebih hidup. Kaum Sikep agak diberi kekebasan untuk hidup berdampingan dengan masyarakat, dan bisa mengembangkan ajaran yang diyakininya. [elsa-ol/Nazar Muhammad-@nazaristik/001]

http://elsaonline.com/?p=4217
Bermaksud Meminta Surat Kehilangan, Ngatirah Ditanya Agama
Apr 13, 2015 Admin Agama, Berita 0

Warga Sedulur Sikep sedang mendengarkan cerita pengalaman dari sesama anggotanya. [Foto: Salam]
Warga Sedulur Sikep sedang mendengarkan cerita pengalaman dari sesama anggotanya. [Foto: Salam]

[Kudus –elsaonline.com] Ngatirah tak pernah melupakan beberapa tahun lalu itu. Sungguh menyakitkan. Ia kehilangan dompet. Tapi, bukan soal dompet hilang yang membuatnya sulit melupakan peristiwa tersebut.
Begini kisah Ngatirah. Merasa perlu untuk membuat kehilangan, ibu warga Sedulur Sikep Karangrowo Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus itu mendatangi kantor kepolisian setempat. Setibanya di kantor kepolisian, Ngatirah menyampaikan maksudnya, membuat surat kehilangan dompetnya. Sang petugas kemudian meminta kartu identitas Ngatirah. “Lho kok kamu kok KTPnya gak ada agamanya,” tanya petugas seperti ditirukan Ngatirah. Ia kemudian menjawab singkat, “Agama saya, Agama Adam pak.” “Agama Adam iku agama opo?” petugas kembali menyergah Ngatirah.

Ngatirah berhenti sejenak. Ia tak langsung menjawab. Terlalu panjang kalau ia menjelaskan tentang Agama Adam dan ajaran-ajarannya. “Ya saya agamanya memang Agama Adam. Dari dulu saya menganut ajaran ini. Sekarang saya kesini mau buat surat kehilangan, karena kemarin dompet saya hilang. Bisa atau tidak? ” tanya Ngatirah. “Agomo kok ngono, iku agomo opo (agama kok begitu, itu agama apa)?,” ucap petugas menggerutu.

Pengalaman tidak mengenakan itu ia curahkan dalam sebuah diskusi kecil bersama 26 Sedulur Sikep di Kudus, Minggu (12/4). Tak hanya soal perlakuan yang kurang ramah di kepolisian, Ngatirah juga kerap kesulitan dalam mengurus akta kelahiran. “Saya pernah mau bikin akta kelahiran tapi tidak boleh karena tidak ada surat nikah,” imbuh Ngatirah.

Pengalaman serupa juga menimpa perempuan Sikep lainnya, Masinah. “Kalau boleh meminta kepada pemerintah, sebenarnya saya ingin ditulis Agama Adam di KTP, bukan strip. Lalu saat membuat kartu keluarga dan akta kelahiran, BINnya itu bapak, bukan bin ibu,” terang Masinah. Tentang hal ini, lanjut Masinah, pernah ia sampaikan kepada pihak terkait, tapi tidak ada tanggapan. “Jadi sekarang, tetap ditulis BIN ibu,” keluhnya.

Meski begitu, secara umum kehidupan sosial warga Sedulur Sikep sekarang relatif lebih baik. Penerimaan dari lingkungan terdekatnya, relatif lebih maju. Masalah yang dialami warga Sedulur Sikep lebih banyak pada persoalan yang bersifat sistemik, yakni peraturan-peraturan yang hulunya ada pemerintahan pusat. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin/001]

http://elsaonline.com/?p=4226
image-url-apps
sedulur sikep apaan sih?
image-url-apps
panjang amat cerpen lu bray emoticon-Big Grin








anu numpang lewat aja kalo gt emoticon-Traveller
Warga Sedulur Sikep Terus Perjuangkan Haknya
Apr 15, 2015 Admin Agama, Berita, Hukum 0

Warga Sedulur Sikep Kudus berfoto bersama. [Foto: Salam]
Warga Sedulur Sikep Kudus berfoto bersama. [Foto: Salam]

[Kudus –elsaonline.com] Ardiyanto Pemuda Sedulur Sikep mengenang masa lalunya yang pernah tidak mendapat restu dari orang tua perempuan yang ia sukai. Bukan karena faktor personal dari pemuda tersebut, melainkan karena alasan administratif. Ajaran Sedulur sikep tidak boleh mencatatkan pernikahan.
“Saya pernah berpacaran dengan orang Islam, tapi karena persoalan kita tidak punya buku nikah sehingga dari pihak keluarga perempuan tidak merestui,” kenangnya pada acara Sosialisasi Program Pemberdayaan Ekonomi dan Inklusi Sosial Kepada Penerima Manfaat di Kabupaten Kudus, Minggu (12/4) di Hotel Griptha Kudus.

Permasalahan yang dialami sedulur sikep kebanyakan adalah soal akses terhadap pelayanan publik. Mereka banyak tidak mendapatkan haknya layaknya warga Negara yang lain. Pengakuan tersebut diuangkapkan dalam acara tersebut. Sebagai contoh, dengan tidak adanya surat nikah mereka kemudian dalam Akta Kelahiran anaknya tertulis “anak di luar nikah dari ibu”.

“Kata tersebut sangat menyakiti Sedulur Sikep, karena kita dianggap mempunyai anak di luar nikah,” tambah Ardi. Imbas dari surat nikah tersebut warga Sedulur sikep secara administratif dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) tertulis belum kimpoi, dan dalam Kartu Keluarga (KK) yang menjadi kepala keluarga ada Ibu.

Punya Harapan
Budi Santoso, salah satu warga Sedulur Sikep Kudus masih meyakini bahwa pemerintah akan memenuhi harapan-harapan dari sedulur sikep. Ia menyampaikan meski selama ini kita masih terdiskriminasi tapi ia yakin dengan perjuangan bersama mereka akan dapat diakui oleh Negara.

“Kita tidak melanggar aturan negara tapi negara yang justru melanggar hak-hak kita sebagai warga negara” tegas Budi dengan suara lantang.

“Harapan dan angan-angannya, yang perlu diperjuangkan daripada hak-hak kita ya diakui oleh negara. Karena sampai saat ini kita masih terdiskriminasi. Kita sebagai agama adam belum diakui oleh negara, mau ngikuti aturan negara bagaimana sedangkan di sini kita tidak masuk dalam pengakuan negara sebagai agama resmi,” lanjutnya

Lebih lanjut Budi berharap Program Peduli ini menjadi bagian usaha untuk sedulur sikep mendapatkan haknya sebagai warga Negara. Selain itu juga sebagai kaderisasi untuk pemuda sebagai penerus ajaran leluhur yang harus dilestarikan. [elsa-ol/Ubed-@UbbadulAdzkiya/001

http://elsaonline.com/?p=4229
Generasi Muda Sedulur Sikep Belajar HAM
Apr 26, 2015 Admin Agama, Berita 0

Warga Sedulur Sikep Kudus sedang mengikuti pelatihan mengenai hak warga negara. [Foto: Salam]
Warga Sedulur Sikep Kudus sedang mengikuti pelatihan mengenai hak warga negara. [Foto: Salam]

[Kudus –elsaonline.com] 23 warga Sedulur Sikep di Kabupaten Kudus mengikuti Pelatihan Hak Dasar Bagi Warga Negara di Hotel Griphta Kudus. Sedulur Sikep dari Desa Larikrejo dan Karangrowo Kecamatan Undaan itu berdiskusi tentang materi-materi dasar mengenai Hak Asasi Manusia (HAM), instrumen internasional dan juga nasional.
Gumani, salah seorang warga Sedulur Sikep mengatakan bahwa memang selama ini pengetahuan tentang peraturan perundang-undangan masih dirasakan sangat kurang. “Kami memang perlu belajar banyak soal HAM dan aturan-aturan lain, terutama yang berhubungan dengan penghayat kepercayaan. Karena salah satu persoalan yang dihadapi oleh Sedulur Sikep adalah masalah regulasi atau aturan. Sehingga kami merasa penting untuk belajar tentang hal ini,” terang Gum, panggilan akrabnya.

Tak hanya masalah regulasi yang menjadi sorotannya, namun juga bagaimana masalah pewarisan ajaran Sikep serta tantangan dalam menghadapi era modernisasi. “Keprihatinan kami sebenarnya cukup dalam pada persoalan pelestarian ajaran leluhur ini. Sebagai generasi muda kami menghadapi banyak tantangan. Sehingga kami kerap berpikir, akan dibawa kemana ajaran Sikep di era modernisasi ini,” tambah ayah satu anak ini.

Faiz Riyandi, pemuda Sedulur Sikep lainnya mengatakan kalau tantangan bagi generasi muda Sedulur Sikep adalah soal kebutuhan ekonomi. “Banyak pemuda yang akhirnya bekerja di luar kota. Akhirnya tidak ada pemuda Sikep yang tinggal di kampung dan mau nguri-nguri ajaran leluhur,” terang Andi, sapaan karib Faiz Riyandi.

Pelatihan hak dasar bagi warga Sedulur Sikep difasilitasi oleh beberapa staf eLSA, seperti Ubbadul Adzkiya’, Irfan Mustofa, Munif Ibnu, Abdus Salam, Khoirul Anwar serta menghadirkan peneliti Sedulur Sikep Kudus, Moh. Rosyid. [elsa-ol/T-Kh-@tedikholiludin/001]

http://elsaonline.com/?p=4265
15 Siswa Sedulur Sikep Sedang Bersekolah
Apr 27, 2015 Admin Berita, Sosial 0

Heru Lukwantoro (memegang mik), salah satu warga Sedulur Sikep yang sedang bersekolah di SMA/SMK. [Foto: Salam]
Heru Lukwantoro (memegang mik), salah satu warga Sedulur Sikep yang sedang bersekolah di SMA/SMK. [Foto: Salam]

[Kudus –elsaonline.com] Di Kabupaten Kudus, ada tiga desa dimana warga Sedulur Sikep tinggal. Masing-masing adalah Desa Larekrejo, Karangrowo dan Kutuk. Semuanya berada di wilayah Kecamatan Undaan. Paling banyak berada di Karangrowo (Dusun Kaliyoso) dengan jumlah 65 kepala keluarga (KK), 16 KK di Larekrejo dan yang tinggal di Desa Kutuk sebanyak 4 KK.
Warga Sedulur Sikep terus berupaya mengikuti derap dan laju perkembangan zaman. Sembari memegang erat tradisi dan ajaran nenek moyangnya, penganut Agama Adam ini mencoba berdialektika dengan kehidupan kekinian. Mereka tak lagi “emoh” negara seperti era kolonial. Salah satu yang sangat kentara adalah soal pendidikan. Sedulur Sikep di Kudus mulai mengikuti pendidikan formal di sekolah sejak tahun 1980an.

Hingga bulan April tahun 2015, tercatat ada 6 siswa Sekolah Dasar (3 laki-laki dan 3 perempuan), 8 siswa Sekolah Menengah Pertama (1 laki-laki dan 7 perempuan) dan 1 orang laki-laki yang bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. Sehingga jumlah siswa yang aktif dari SD hingga SMA/SMK berjumlah 15 siswa/i.

Mereka yang bersekolah hampir semuanya menamatkan pendidikannya. Ini bisa dilihat dari angka kelulusan sekolah warga Sedulur Sikep yang lahir pada tahun 1985 ke bawah (1986, 1987, 1988, dan seterusnya). Ada 18 lulusan SD, 10 lulusan SMP dan 2 orang lulusan SMA. Tercatat hanya 2 orang yang tidak menamatkan SD dan 1 orang yang tidak lulus SMK. Bahkan ada seorang warga Sedulur Sikep yang pernah duduk di bangku kuliah, meski kemudian tidak melanjutkannya.

Dari sisi kesadaran warga Sedulur Sikep tentang pendidikan formal kita bisa mencermati beberapa fenomena disini. Di Larekrejo misalnya, anak yang berusia 6-18 tahun semuanya pernah mencecap bangku sekolah. Sementara di Karangrowo, ada 18 anak di rentang usia di atas yang sama sekali tidak mengikuti pendidikan formal. Serta ada 1 anak di Kutuk yang tidak bersekolah.

Dari sisi gender, kesadaran untuk menyekolahkan anak-anak perempuan tentu hal yang patut diapresiasi. Stereotype tentang perempuan yang tidak harus bersekolah atau bekerja, terbantahkan melalui fakta tersebut. Budi Santoso, yang memiliki 3 orang anak perempuan, semuanya bersekolah hingga SMP, dua orang lulus dan satu masih bersekolah.

Meski demikian, 15 orang yang bersekolah itu tentu sangat rentan mengalami pembedaan karena agama dan keyakinan yang dianutnya. Ini tugas besar yang diemban oleh sekolah, pemerintah dan pihak-pihak yang terkait. Karena diskriminasi terhadap 15 orang, tetaplah diskriminasi. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin/001]

http://elsaonline.com/?p=4268
Ajaran Samin Perlu Dibukukan
Apr 27, 2015 Admin Agama, Berita 0

Moh. Rosyid, peneliti Samin menyampaikan kritik serta saran terhadap komunitas tersebut. [Foto: Salam]
Moh. Rosyid, peneliti Samin menyampaikan kritik serta saran terhadap komunitas tersebut. [Foto: Salam]

[Kudus –elsaonline.com] Agar ajaran Samin yang di wariskan secara lisan (oral tradition) tidak berkembang meloncat, perlu dibukukan dan didokumentasikan ajarannya baik oleh tokoh Samin sendiri maupun pengikutnya. Hal ini untuk mengantisipasi pemahaman ‘liar’ yang secara sempit mengakibatkan terjadi perbedaan hasil tafsiran. Dan juga, terkait menyusutnya pewarisan ajaran leluhur dalam zaman modern.
Demikian ditegaskan Ketua Komunitas Lintas Agama dan Keyakinan Pantura (Tali Akrap), Moh Rosyid, dalam acara ‘Pelatihan Hak Dasar Warga Negara Bagi Penghayat Kepercayaan’ di Hotel Griptha Jalan AKBP R. Agil Kusumadya No 100 Kudus, Minggu (26/4). Acara tersebut diikuti sebanyak 25 orang baik tokoh, pemuda dan perempuan yang berasal dari Desa Larekrejo, Desa Kutuk dan Desa Karangrowo Kabupaten Kudus.

Dosen STAIN Kudus ini, menjelaskan, bahwa upaya warga Samin tidak terpenuhinya hak-hak dasarnya dilaksanakan oleh Negara karena jumlah warga Samin minoritas. Belum lagi, menurut dia, antarkelompok Samin di Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati dan Kabupaten Blora tak memiliki jaringan kekompakan. “Imbasnya, ya bila menyuarakan aspirasi tidak diperhitungkan oleh penguasa karena belum memiliki visi bersama,” ujarnya.

Selain itu, dia menyatakan, karakter gerakan Samin sekarang terpolarisasi. Ada yang reaktif terhadap isu alam lalu ada juga yang hanya memikirkan karakter diri dan komunitasnya serta yang hanya menyuarakan pesan leluhur dalam pengakuan agama Adam. “Makanya, antar warga Samin ini perlu menyatu dalam paguyuban agar suaranya terdengar atau diperhitungkan,” bebernya.

Meskipun demikian, Rosyid menyarankan agar pengikut Sedulur Sikep ini untuk tidak jenuh-jenuhnya menginformasikan pada pemerintah terkait jatidiri agamanya. Hal ini, tambah dia, beragama dan melaksanakan ajarannya merupakan hak absolut warga negara. “Karena kebebasan beragama merupakan hak yang inalienable, inviolable dan non-derogable human rights,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams/001]

http://elsaonline.com/?p=4271


image-url-apps
Sesat kaga noh
image-url-apps
Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah Aktivitas Pemuda Sedulur Sikep Kembali Bergairah
trit monolog
image-url-apps
Baru tau ane kalo di kudus ada sedulur sikep, yg banyak di pati ama blora emoticon-Big Grin
image-url-apps
Mereka bukan pemberontaak bukan teroris mereka bangsa indonesia perlakukanlah dengan baik
×