alexa-tracking

Diskusi Pajak Final 1% PP 46 Tahun 2013

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5517faa91a99758a0b8b457d/diskusi-pajak-final-1-pp-46-tahun-2013
Quote:


sebelumnya usaha agan dalam bentuk Badan (CV, PT) atau Orang Pribadi? mulai usaha kapan?

PP 46 memang tidak bisa di kreditkan, karena sifat PP 46 merupakan pajak final gan..

jadi kalau semisal penghasilan agan murni dikenakan pajak PP46 maka pada tahun pajak tsb pasti NIHIL.

pin BBM ane 743cc120 kalau sharing lebih lanjut.
Quote:


Ane dah nanya ke kantor pajak Gan. Selama omzet di bawah 4.8 M setahun hrs bayar 1% dg minta legalisir SKB (surat keterangan bebas pajak) per project.

Bila tidak, akan kena 3%, pph final jasa 2%, omzet pp 46 1%.

Ribet dehh

Quote:


Ane coba bantu jawab Gan. Ane habis konsultasi ke KPP minggu kemarin soal ini.

PP 46 adalah Pph final yang tidak bisa dikreditkan. Bila NPWP Agan terdaftar bulan ini, juni 2015, Agan akan dikenai pajak secara normal (bukan PP 46) sampai bln mei 2016. Tapi krn laporan tahunan pajak 2016 adalah pada tahun 2017, Agan baru mengetahui kena PP 46 pada tahun 2017.

Caranya ? Dengan hitung omzet Agan sendiri selama 1th, dari juni 2015 - mei 2016 apakah melebihi 4.8 M. Bila tidak, Agan hrs bayar PP 46 1%.

Bagaimana cara agar dapat byr PP 46 1% ?
Pertama, Agan harus ke KPP dimana NPWP diterbitkan, minta pengajuan SKB (surat keterangan bebas pajak). Setiap Pph yg dikenakan ke Agan, minta SKBnya satu2.
Saat bulan berikutnya, Agan bayar PP 46 lwt SSP seperti biasa. SSP dan SKB asli serta copy, dibawa ke kantor pajak tempat NPWP diterbitkan. Di kantor pajak, akan dilegalisir dgn ditulis untuk omzet Agan yang mana.

Dgn PP 46, Agan tidak lg byr Pph 23, 21, 25, 26 (yg mana yg berlaku buat Agan)

Begitu penjelasan dari petugas pajak di KPP.

Kalo Agan ragu, bisa ke help desk di KPP terdekat minta penjelasan. Ane spt itu kemarin
Quote:


hemmm gitu ya gan.. oke makasih emoticon-2 Jempol
pajak final adalah alibi pemerintah yg males ngitung pajak sebenarnya
Quote:


wahhh kok bisa gan? Bukannya memudahkan masyarakat untuk menghitung pajak?
Quote:


karena bisa aja rugi kalo dihitung sebenarnya pendapatan dikurangi pengeluaran yg diakui pajak.

selain itu juga dapat menyembunyikan transaksi ilegal.
Quote:


hemmm.. tapi masa iya.. orang mau usaha utk dapat penghasilan hasilnya rugi terus gan.. ehehehe...
Quote:


pajak kan ngitungnya tahunan.. satu tahun bisa rugi besar... tahun lain bisa untung besar.....

dgn pajak final pas rugi pun tetap kena pajak penghasilan.

coba kembali ke definisi penghasilan itu sendiri
penghasilan: setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak (WP), baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun
Quote:


lah.. ini kan bahas PP 46 gan, ngitungnya pajaknya per BULAN..

tapi disisi lain emang sih, peraturan ini punya dua sisi buat usahawan..

1. Kalau usahawan itu mengambil margin keuntungan yang besar, dengan tarif 1% dia malah di untungkan.. karena biasanya tarif progresif (sebelum adanya PP 46) minimal dia kena 5%
2. Kalau dia rugi dia tetep bayar pajak atas omzetnya dia Per Bulan, dan tidak ada kompensasi kerugian.
gan, ane pengin tau asal mula angka 1 persen dapetnya darimana? pasti djp ngga ngasal. ada yg bisa jelasin detail?
Diskusi Pajak Final 1% PP 46 Tahun 2013

Saya pedagang kecil, korban dari PP 46. Selama ini saya bayar PPH 25, 5% dari laba bersih. Negara ini memang sungguh keterlaluan. Tidak ada negara beradab yang narik pajak dari omzet. Berkat menteri keuangan dan dirjen pajak era sebelumnya PP ini lahir dan diteken oleh presiden tanpa baca (mungkin sedang sibuk buat lagu/baca juga ngak paham).
ninggalke jejak ahemoticon-Sundul
Ok menurut ane pemajakan yang adil adalah bahwa semakin besar penghasilan maka semakin besar pula pajak yang harus dibayar.

Masalah yg timbul karena pp 46 ini:

*Besar kecilnya penghasilan netto seseorang tdk akan memengaruhi besarnya pajak yang akan dibayar karena pajak dihitung brdasarkan peredaran bruto. Jadi bs sj pedagang yg penghasilan bersih X juta bayar pajak lebih tinggi drpd pedagang yg berpenghasilan bersih XX juta

*Dalam berbagai kasus pengusaha bisa saja merugi meskipun omzetnya besar karena brbagai faktor. Dalam kasus ini mau untung atau buntung pengusaha tetap harus bayar pajak.

* pedagang warung tenda yg omsetnya besar malah tdk kena pp ini. Mengapa? Bahkan omzet mereka bnyak yg jauh lebih besar drpada kios2/counter hp kecil ...


Akhir kata..
RIP "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia"

Masih newbie banget.....
Dlm pengajuan kredit di bank ane disuruh bikin npwp ..gimana acaranya? Apkah stlh ada npwp nanti ane harus bayar pajak tiap bulan dg asumsi omzet penjualannya 5 jt/ hari..
Ane punya tanggungan 1 istri dan 4 orang anak...
Sementara ane selawa kios dan rumah25 jt /tahun ..dg 2 orang pegawai ...masing masing 2.5 jt per bulan...
dan apa yg dimaksud spt/skp?,
Kalo begitu. Siapa yg ikhlas melaporkan omset realnya berapa. Kayak pedagang voucher yg omsetnya setahun 1M dgn laba 2% (20jt), dia harus bayar pajak 10jt.
Mending dia laporin omsetnya cuma 300jt setahun, supaya byr pajaknya 3jt doank
Quote:



iya gan, setelah agan mendaftar npwp, agan akan menjadi wajib pajak (orang yang memiliki hak dan kewajiban perpajakan disebut wajib pajak). Dalam hal penjualan (Omzet) agan dalam setahun tidak lebih dari 4,8 M maka kewajiban perpajakan dikenakan pajak 1% dari OMZET tiap bulan.

kalau penjualan agan 5jt/hari x 30hari = 150jt/bulan, maka pajak yg harus agan bayar adalah 1,5jt perbulan.
Trus yg dimaksud spt /sop apa gan..
Berarti kalau ngurus mpwp bikin penghasilan mending dikecilin aja dong biar bayar pajaknya lebih kecil...umpama per hari 500 sampai satu juta gitu...he.he.
bagaima dengan pajak toko online, misal ane jualan baju di kaskus / toped / buklap / olx / dll
Miisi gan ijin tanya....
mungkin udah ditanya di depan tapi tak tanya kan lagi saja...
perusahaan tempat saya kerja omset 2012 kurang dari 4,8 milyar
tahun 2015 ada anjuran pembetulan kurang bayar di SPT badan tahun 2013...
setelah saya cek ternyata baru sadar ada perubahan aturan di juli 2013 sd desember 2013 yang memakai pp 46 (1% dari omset)...
yang jadi permasalahan SPT Tahunan 2013 (januari sd desember) saya buat pake yang LABA x 50% x 25%..
dan selama Januari 2013 sd Desember 2013 saya bayar PPH 25 Rp.3.000.000,- an
dan omset bulan juli sd desember RATA RATA kurang dari Rp.300.000.000...
dengan kata lain kalo PPH 25 saya pindah bukukan ke PP 46 terjadi lebih bayar ....

apa boleh andai kata pembetulan itu tetap menggunakan perhitungan yang LABA x 50 % x 25 % (sorry tidak tau peraturan nomer berapa)
biar tidak terjadi lebih bayar?