alexa-tracking

Diskusi Pajak Final 1% PP 46 Tahun 2013

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5517faa91a99758a0b8b457d/diskusi-pajak-final-1-pp-46-tahun-2013
Nongkrong sejenak utk meramaikan susuana emoticon-siul
Final itu bukannya abis semifinal yah gan emoticon-Bingung
Quote:


wakakaka.. bisa aja nih agan emoticon-Ngakak
Quote:


Saya kan kasih penjelasan, Mas/Mbak @thiec, bukan masalah perhitungannya, tapi mekanisme pembayarannya. Saya juga jelaskan kalau nggak semua daerah Indonesia itu semaju ibukota kabupaten tempat KPP berada. Misal nih ya, Mas/Mbak ke daerah namanya Sukaraja di area perbatasan Kabupaten Garut dan Kabupaten Sumedang. Di sana, ATM nggak ada, Bank dan kantor pos adanya di kecamatan Limbangan minimal 2 jam bolak-balik perjalanan (sebagai catatan, kantor pos ini bahkan nggak bisa kirim surat kilat tercatat, cuma bisa pakai perangko). Pedagang kelontongan sana punya printer? Jangankan download SSP di situs pajak dan bisa ngotak-ngatik excel, komputer saja nggak punya. Pembukuan juga manual pakai buku, kalkulator juga kalkulator beras. Yang punya yang ngelayanin juga, dan kalaupun ada karyawan juga paling anak atau menantu sendiri yang pendidikannya nggak tinggi. Itu di Jawa lho, Mas/Mbak. Inequality pembangunan di Indonesia masih tinggi.

Tapi saya nggak bermaksud melarang. Seperti saya bilang di komentar sebelumnya, toh sudah jadi hak negara buat nagih pajak. Yang saya kritisi itu bagaimana pemerintah seringkali menyederhanakan prosesnya, memandang semua pelaksanaan di lapangan itu semudah di tempat pengambilan kebijakan. Buat pegawai di Jakarta atau kota besar, santai-santai 2-3 jam mungkin anggap aja jam makan siang lebih dikit kena macet, tapi kalau buat pedagang opportunity cost-nya tinggi (tutup toko, nggak dapat penghasilan padahal keluar ongkos transport ke "kota"). Setahun sekali boleh lah repot-repot ke bank dan KPP, tapi kalau tiap bulan ya kasian juga. Just my two cents. No offense to the tax officer emoticon-Smilie
KASKUS Ads
Quote:


Sekedar saran, kalau agan @fadilcihuy ini petinggi di Pajak, mungkin sosialisasi ke daerah itu bentuknya pamflet/poster seperti penyuluhan imunisasi. Itu masuk banget buat kelas menengah ke bawah. Ngasih buku kuning pengisian pajak itu cuma bikin mereka bingung. Ane aja yang S2 kadang bolak-balik bacanya buat ngerti, kalau mentok nanya temen yang kerja di Pajak malah. emoticon-Big Grin
image-url-apps
Quote:


hemm.. sebenarnya sosialisasi untuk leaflet, banner, sosialisasi ke WP langsung sudah dilakukan gan.. memang belum merata sosialisasinya. selain itu selalu muncul WP baru yg belum paham perpajakan sama sekali gan. makanya perlu pembimbingan minimal 1 tahun.

kalau WP lama cenderung sudah mengerti peraturan.

agan keren lah udah S2 emoticon-2 Jempol

ane aja baru lulusan d1, hehee.. tapi menurut ane yg paling penting keinginan selalu terus belajar..
Quote:


Wah.. sorry banget kalau saya terlalu meng-general-kan pulau jawa, dan ternyata ada daerah jawa yang seperti itu ya. Padahal saya pikir pulau jawa udah merata banget pembangunannya, saya sendiri tinggal dan besar di Pulau Sumatera bahkan kecilnya di daerah transmigrasi yang terpencil dan emang ada pelosok yg tidak tersentuh infrastruktur hingga saat ini, dan saya pikir wajar kalau mereka tidak membayar pajak, karena pajak itu sendiri tidak menyentuh kehidupan mereka. (Opss.. bukan maksud provokasi tapi begitu lah cara berpikir yang fair)

Secara khusus, saya salut dan bangga kepada para WP yang berasal dari pelosok terpencil dan terpanggil untuk menjadi warga negara yang baik. Dan saya yakin negara pun tidak bisa menuntut banyak atas mereka, karena di kota-kota besar saja potensi pajak jauh lebih besar dan belum dibenahi.

Dan saya juga yakin pembuat kebijakan tidak akan mampu men-survey seluruh penduduk Indonesia hanya untuk mendapatkan suatu model aturan yang "menyenangkan" bagi semua, karena selalu ada pihak yang "tidak senang". Its human nature.
Quote:


Mantap sekali agan thiec emoticon-2 Jempol

image-url-apps
kalau menurut ane.. PP 46 itu tidak sepenuhnya memenuhi azas keadilan gan.. karena dengan dasar omzet, margin keuntungan setiap WP berbeda, belum lagi kalau WP nya itu rugi..

padhal dasar dari pengenaan dan manfaat pajak sendiri adalah azas keadilan..

gimana masta2 sekalian?
Quote:


Saya juga sependapat, Gan, kalau baiknya mereka nggak perlu bayar pajak karena toh fasilitas infrastruktur juga nggak masuk banyak ke daerah mereka. Kebetulan AR-nya masuk ke daerah walaupun cuma sekali dan orang daerah lebih naif. Diperingatkan "Ibu, Bapak, harus bayar pajak, kalau nggak nanti diperiksa" itu saja sudah merasa terancam dan dengan jujur bayar pajak. Coba bandingkan dengan Wajib Pajak Besar di ibukota yang bisa hire konsultan bahkan dapat restitusi plus bunga 2% per bulan emoticon-Smilie

Oleh karena itulah saya beragumen kalau pembayaran perbulan untuk usaha kecil itu merepotkan. Kalau agan @thiec kelak jadi pengambil kebijakan, mungkin baiknya usaha kecil nggak dihantam satu aturan. Bisa saja PP 46 ini tetap menghitung 1% perbulan tapi mendiversifikasikan untuk usaha dengan omset dibawah (misal) Rp30 juta/bulan tidak perlu bayar bulanan tapi cukup direkap 1 tahun, baru yang omset 1-4.8 miliar per tahun perlu bayar per bulan untuk menunjang kas negara. Ane pikir nggak bikin repot ya.

Buat ane sih sebenernya kalau ngikut Bapak Presiden ya ini "bukan urusan saya". Cuma ane kerja dibayar sebagian dari duit pajak, jadi kok rasanya nggak enak aja ya nerimanya kalau dari hasil ngerepotin orang kecil. Just my two cents emoticon-Smilie
saya jujur merasa sangat dirugikan dengan kebijakan 1% x omset ini

soalnya saya buka toko hape... satu unit hape yang harga nya 8 juta aja cuman untung 50rb.... sedangkan klo 8jt omset x1% aja uda 80rb mesti stor ke pemerintah.... gimana bisa hidup ? bayar pajak aja uda mahal... sedangkan masih butuh biaya hidup, bayar listrik, karyawan, dan biaya lain2 emoticon-Frown
image-url-apps
Quote:


wah menarik ini gan..

agan punya karyawan? berapa? biaya hidup punya istri? anak brapa gan?

rasanya kok tidak wajar ya kalau agan punya karyawan dan menanggung biaya hidup anak istri memiliki margin keuntungan 0.625% atau 50ribu dri 8jt. apakah semua item demikian?

katakanlah agan sehari bisa jual 10 HP dg margin sama = keuntungan 500ribu.
sebulan x30 = 15.000.000, apa wajar dg untung segitu bisa gaji karyawan dan biaya lain2? padahal dg omzet sehari 80juta itu termasuk gede loh gan.

jawabannya pasti setiap item yg agan jual memiliki MARGIN keuntungan yg berbeda. atau agan memiliki SUMBER penghasilan lain. itu poinnya gan.
Quote:


toko nya jaga berdua aja ama kakak saya, jadi klo pake karyawan gak mampu nutup.....

gak semua 50rb, malah ada yang untung 10rb aja per unit...bole d cek deh skrg orang buka toko hape pada untung segitu doank skrg.....

saya ada penghasilan lain dari bisnis online sama penghasilan lain2 lagi... yah buat lewat hari aja gan....

klo 1% dari omset pajak nya jujur ga mampu bayar tuh pajak....
Quote:


hemm.. emang gimana lagi gan, sistem perpajakan di Indonesia sendiri adalah self assestment yang berarti pajak yang akan di setor wajib pajak adalah dari pengakuan atau perhitungan wajib pajak itu sendiri. jadi sah2 aja kalau perhitungan agan begitu.

kalau perhitungan sebelumnya (sebelum 1 Juli 2013) perhitungan memang dari penghasilan NETTO gan, tapi dengan tarif pajak 5%-30%.
Tetapi dari sisi WP sendiri cenderung merasa di repotkan dengan adanya perhitungan penghasilan NETTOnya, yang berarti harus membuat LAPORAN KEUANGAN yang tidak semua wajib pajak dapat membuatnya. Maka dari itu, dibuatlah PP 46 ini untuk menyederhanakan penghitungan pajak dengan tarif hanya 1%, tentu bukan dari penghasilan NETTO lagi.. tapi dari penghasilan BRUTO (Omzet).

Agan sudah punya NPWP?

image-url-apps
Quote:


Baca aturan yg bener dulu gan,
dulu itu ada keringanan buat WP tertentu buat melakukan pencatatan, TIDAK HARUS BUAT LAPORAN KEUANGAN.
dan penghasilan neto dihitung DENGAN NORMA PENGHASILAN NETO, bukan LAPORAN KEUANGAN.

buat teman2 disini mohon setiap info yg tidak didapat secara lgsg dr Ditjen Pajak untuk ditelaah lebih lanjut mengenai kebenarannya.
Dan buat teman2 yg ingin memberi info mohon ditelaah dulu mengenai kebenarannya jg aga rtidak menimbulkan keresahan di masyarakat.

Untuk info lebih jelas dan akurat silakan datang ke Kantor Pelayanan Pajak terdekat untuk konsultasi.
image-url-apps
Quote:


sebelumnya terima kasih lo gan atas koreksinya. btw ane udah tau kok mengenai perhitungan pajak termasuk menggunakan pencatatan, dan norma nya.. tapi pada pos sebelumnya yg ane tekan kan adalah PENYERDEHANAAN PENGHITUNGAN PP46 DIBANDING ATURAN SEBLUMNYA, agar WP tau mengapa MEREKA DIKENAKAN ATAS OMZET. BUKAN menekankan LAPORAN KEUANGANNYA.

ya emang ini bukan forum resmi DJP gan, kalau mau infomasi yg lebih jelas dan detail tentu saja silahkan datang ke kantor pajak.

Tapi apa agan tidak mau memanfaatkan fasilitas forum non resmi ini utk mengedukasi perpajakan kepada masyarakat? Jelas apa yg ane tulis sudah ane telaah kebenarannya dan diskusikan dg temen2 pajak lain.

no offense demi PAJAK yang lebih baik!
image-url-apps
Quote:


ini kita diskusi kok... yah namanya diskusi pasti share yg kita tw... yg diskusi jg pasti tw lah memilah.
Konsultasi ke Kantor Pajak? Becanda agan ini,,, Help Desk nya Kantor Pajak bukan tempat diskusi.
Tapi tempat anak PKL sama magang ngerumpi

edit:
sorry mw multi quote pendapat agan yg diatas malah nyasar ...
maklum pakai HP Jadul..gk kuat buat beli smartphone
Quote:


yupppsss ane setuju ama agan, ya namanya forum.. tempat diskusi, ada yg pro dan kontra, kalau salah ya monggo di lurusin, disini kan sama2 belajar emoticon-Malu (S)
Ane ada masalah nih gan.
Ane butuh masukan tentang pajak tahunan badan (PP 46) 1%

yang ane baca itu:
1% x Jumlah peredaran bruto

Quote:


nah,ini yang mau ane tanyakan, yang dikatan jumlah peredaran bruto itu yang mana gan?
Contoh:

A. Penjualan Barang (dalam setahun 2014) = .......................... Rp. 150.000.000
B. Modal Pembelian Barang (dalam setahun 2014) = ............. Rp. 130.000.000
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
C. Penghasilan Bruto (dalam setahun 2014) A-B = .................. Rp. 20.000.000
D. Biaya usaha (dalam setahun 2014) = .................................... Rp. 12.000.000
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
E. Penghasilan Netto (setelah dipotong biaya usaha) C-D = ... Rp. 8.000.000

dari lap. laba rugi sederhana diatas. yang mana sih gan yang dimaksud Peredaran Bruto????
A atau B atau C atau D atau E atau semuanya ane salah...

Saat ini ane beranggapan peredaran bruto itu yang C, bagi yang mengerti mohon masukannya gan...

Terima kasih
image-url-apps
Quote:


peredaran bruto dan penghasilan bruto beda gan. PP 46 ini yg digunakan adalah PEREDARAN BRUTO.

PEREDARAN Bruto = Total penjualan
PENGHASILAN Bruto = Total Penjualan - Pembelian.

Dasar Hukum PP 46 Tahun 2013 Tahun 2013 Pasal 2 (Baca penjelasan pasal biar jelas)
Tolong di bantu gan,

Saya bingung gimana perlakuan pembayaran dari PP46 tersebut. Apakah kita harus setor setiap bulan PP 46 tersebut atau tunggu akhir tahun yang mana lebih jelas akumulasi dari omzet yang melebihi atau tidak lebih dari 4,8M.

Misalnya saya sudah bayar PP46 tersebut selama sebulan dari omzet yang masih berjalan dan pada akhir tahun ternyata Omzet yang dicapai lebih dari 4,8M Gimana pencatatan pembukuan dan Laporan pajaknya ? Karena PP 46 yang saya dengar tidak bisa dikreditkan.

Mohon bantuannya Agan.

Thanks