alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5516d04fc0cb179d078b45a5/kupas-tuntas-tentang-trikora
KUPAS TUNTAS TENTANG OPERASI TRIKORA
Quote:Pembukaan
Tahun 1960-1965 adalah tahun-tahun keemasan bagi angkatan bersenjata Republik Indonesia. Kedekatan Indonesia dengan Uni Soviet dan Tiongkok pada zaman itu menyebabkan Indonesia bisa menghadirkan persenjataan yang mutakhir pada eranya dari kedua negara itu. Pada tahun 1960an, Indonesia mengalami beberapa konflik bersenjata dengan negara-negara tetangganya. Pada tahun 1961, Indonesia berkonflik dengan Kerajaan Belanda atas Irian Barat (Netherlands New Guinea), yang operasi pembebasannya disebut Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat).

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Ir. Soekarno, pencetus Operasi Trikora


Quote:Apa Itu Operasi Trikora?
Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) adalah operasi yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Ir. Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala, yang terdiri dari gabungan AD, AL, dan AU yang berkedudukan di Makassar. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Soeharto, sang panglima Mandala

Spoiler for "Isi Trikora":


Quote:Apa Penyebab Munculnya Operasi Trikora?
Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1945, Indonesia mengklaim seluruh bekas jajahan Kerajaan Belanda untuk menjadi bagian dari Indonesia. Namun, Kerajaan Belanda tetap menganggap Papua Barat sebagai wilayah kerajaan dan mempersiapkannya untuk menjadi negara terpisah dari Republik Indonesia. Pada tahun 1949, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dan menarik seluruh pasukannya dari wilayah Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar, pada 27 Desember 1949 di Den Haag. Nasib Papua Barat juga dibahas dalam konferensi tersebut.

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Peta Netherlands New Guinea (Papua Barat)

Spoiler for "Isi Konferensi Meja Bundar 1949":


Sejak bergabung dalam PBB hingga tahun 1961, Indonesia berupaya untuk mendapatkan Papua Barat lewat PBB, namun tidak berhasil. Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB. Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat sebagai daerahnya, Kerajaan Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan masalah ini, namun Indonesia menolak.

Setelah Indonesia beberapa kali menyerang Papua bagian barat, Belanda mempercepat program pendidikan di Papua bagian barat untuk persiapan kemerdekaan. Hasilnya antara lain adalah sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara Papua pada 1957. Sebagai kelanjutan, pada 17 Agustus 1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956.

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Suasana pelantikan Gubernur Papua pertama, Zainal Abidin Syah

Pada tahun 1957, Ir. Soekarno memerintahkan untuk seluruh warga negara dan keturunan Belanda untuk hengkang dari Indonesia, puncaknya pada Desember 1967. Semua pelayanan umum tertutup bagi warga Belanda. Hari Sinterklas yang jatuh pada 5 Desember 1957 pun disebut "Sinterklas Hitam". Pada tahun 1958, Ir. Soekarno memerintahkan untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia. Tahun 1960, Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Belanda. Hingga puncaknya, 19 Desember 1961, Ir. Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora, yang berarti perang melawan Belanda.


Quote:Bagaimana Persiapan Indonesia dalam Merebut Irian Barat?
Dalam Operasi Trikora, Indonesia melengkapi angkatan bersenjatanya dengan senjata buatan Uni Soviet dan Blok Timur (Pakta Warsawa). Karena kedekatan Ir. Soekarno dengan Nikita Kruschev, pemimpin Uni Soviet kala itu, Indonesia berhasil melengkapi angkatan bersenjatanya dengan persenjataan canggih Blok Timur masa itu.

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Ir. Soekarno dengan Nikita Kruschev

Spoiler for "Persenjataan yang didapat Indonesia dari Blok Timur":



Di sisi lain, Indonesia juga melengkapi angkatan bersenjatanya dengan alutsista buatan Barat, terutama buatan Eropa.

Spoiler for "Persenjataan yang didapat Indonesia dari Blok Barat":


Persiapan Indonesia selain dalam militer, juga dalam ekonomi. Pada tahun 1958, Ir. Soekarno mengeluarkan UU no. 86/1958 tentang nasionalisasi perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia.

Spoiler for "Perusahaan-Perusahaan yang dinasionalisasi":


Selain dalam bidang ekonomi dan militer, Indonesia juga mempersiapkan diri dalam bidang diplomasi. Indonesia meminta dukungan kepada India, Pakistan, Australia, Selandia Baru, Thailand, Britania Raya, Jerman, dan Perancis agar mereka tidak memberi dukungan kepada Belanda jika pecah perang antara Indonesia dan Belanda.

Dalam Sidang Umum PBB tahun 1961, Sekjen PBB U Thant meminta Ellsworth Bunker, diplomat dari Amerika Serikat, untuk mengajukan usul tentang penyelesaian masalah status Papua bagian barat. Bunker mengusulkan agar Belanda menyerahkan Papua bagian barat kepada Indonesia melalui PBB dalam jangka waktu 2 tahun.


Quote:Bagaimana Kerajaan Belanda Mempersiapkan Dirinya untuk Mempertahankan Papua Barat?

Sebagaimana yang diketahui, Kerajaan Belanda menganggap bahwa Papua Barat adalah salah satu provinsinya. Kerajaan Belanda merasa bertanggungjawab untuk melindungi Papua Barat. Ditengah ancaman invasi Indonesia, Kerajaan Belanda harus mempersiapkan diri untuk mempertahankan Papua Barat. Berikut adalah sebagian dari kekuatan Belanda di Papua Barat.

Spoiler for "Kekuatan Belanda di Papua Barat":


Quote:Bagaimana Langkah Indonesia untuk Merebut Papua Barat?
Pada hari Jumat, 19 Desember 1961, di tengah hujan lebat menyiram Alun-Alun Utara Yogyakarta, Ir. Soekarno mengucapkan pidato bertajuk Tri Komando Rakyat. Keesokan harinya, keluar surat keputusan bersama Ir. Soekarno selaku Panglima Tertinggi. Isinya, pembentukan Komando Mandala dengan tugas khusus membebaskan Papua Barat. Sejumlah langkah yang harus secepatnya dilakukan adalah "melaksanakan Trikora melalui sebuah operasi militer untuk merebut Papua Barat yang masih diduduki Belanda. Selain itu, diperintahkan untuk memimpin berikut menggunakan pasukan bersenjata maupun barisan rakyat serta lainnya yang berada di Papua Barat, dipadukan sebagai sebuah kekuatan nasional."

Tanggal 11 Januari 1962 Presiden Soekarno menetapkan Brigjen Soeharto sebagai Panglima Mandala. Pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Jenderal. Kedudukan Panglima Mandala langsung dibawah Presiden selaku Panglima Besar KOTI Pemibar sekaligus Panglima Tertinggi. Perkembangan tersebut merupakan pelukisan semangat dan tekad rakyat Indonesia dalam membebaskan Papua Barat.

Sebenarnya usaha pembebasan sebenarnya sudah dimulai sejak 1952. Pada tahun itu dilakukan usaha infiltrasi ke Pulau Gag dalam operasi rahasia yang dipimpin Ali Kabar.

Setahun kemudian, Sersan (Inf.) Kalalo bersama pasukannya infiltrasi serupa ke Fakfak. Pada pertengahan 1954, dilakukan infiltrasi ke Teluk Etna dipimpin J.A. Dimara. Kali ini sifatnya lebih spesifik. Mengedarkan uang kertas RI di tanah Papua.

Spoiler for "Kisah Infiltrasi J.A. Dimara ke Teluk Etna":


Sejak kegagalan operasi infiltrasi sebagaimana disebut diatas, selama beberapa waktu kegaiatan tersebut dihentikan. Tetapi. sesudah perjuangan diplomasi dalam membebaskan Papua Barat tidak mencapai hasil yang bermakna, Pemerintah Indonesia sejak pertengahan 1957 mengakhiri kebijakan damai. Tahun 1958, Presiden Soekarno mengubah kebijakan. Indonesia memasuki konfrontasi di segala bidang. Langkah tersebut dilakukan menghadapi sikap kepala batu Belanda.

Setelah Indonesia memasuki masa konfrontasi, pimpinan militer mempersiapkan diri untuk melakukan operasi intelijen. Presiden Soekarno selaku Panglima Besar KOTI mendesak Mayjen Achmad Yani, Kepala Staf KOTI, agar operasi bisa dilakukan secepatnya. Menanggapi desakan tersebut, operasi dilakukan terburu-buru.

Sejak pertengahan 1960, Jenderal Nasution sebenarnya pernah mengeluaran instruksi melakukan operasi khusus dengan sebutan Operasi A, B, C. Operasi A adalah melakukan infiltrasi dan secara fisik masuk ke Papua, untuk mengumpulkan informasi mengenai kekuatan militer Belanda. Selain itu untuk membangkitkan semangat perlawanan rakyat setempat, membentuk kantong-kantong gerilya, dan menunggu datangnya perang terbuka.

Operasi A dilengkapi Operasi B dengan tugas mempersiapkan satuan-satuan militer untuk operasi merebut Papua Barat. Dalam waktu yang bersamaan, dilakukan Operasi C yakni aksi diplomasi di luar negeri untuk memperkuat klaim Indonesia atas Papua Barat.


Quote:Satuan Tugas Chusus-9 dan Pertempuran Laut Aru

Mayor (Pelaut) Samuel Johanes Muda, Komandan KRI Harimau, berdiri gagah di anjungan. Dengan nomor 607, kapal cepat pembawa torpedo tersebut keluar meninggalkan sarangnya, Pangkalan Komando Perawatan Kapal Tjepat (Kowatkat), Jakarta. Dia berusaha memastikan bahwa tiga kapal sejenis yang tergabung dalam Satuan Tugas Chusus 9 (STC-9) Djanuari telah mengikutinya.

Komandan Satuan Tugas, Kolonel Sudomo adalah pemimpin rombongan kapal perang tersebut. Kapal-kapal perang yang berada dibawah pimpinannya antara lain KRI Harimau, memiliki call sign HRM, dipimpin oleh Mayor (Pelaut) Samuel Johanes Muda, KRI Singa, memiliki panggilan SNG dengan nomor lambung 653, dipimpin Letnan (Pelaut) Soegardjito KRI Matjan Tutul, dengan call sign MTL dibawah kendali Kapten (Pelaut) Wiratno, dan KRI Matjan Kumbang, bernomor lambung 606 dengan panggilan MKG, dipimpin Letnan (Pelaut) Sidhoparomo.

Kapal yang mereka gunakan adalah motor torpedo boat (MTB) kelas Jaguar. Sejak pertengahan 1960 mulai memperkuat ALRI. Dibeli dari Jerman Barat, buatan galangan kapal Lursen & Kroger di Bremen. Delapan MTB yang dibeli Indonesia dari Jerman Barat terdiri dari dua varian, kayu mahogani dan besi baja ringan. Kapal ini dideskripsikan sebagai "senjata sangat ampuh jika digunakan secara mendadak karena dengan tiba-tiba sanggup melancarkan serangan. Untuk itu, hanya diperlukan bantuan berupa kegelapan malam. cuaca berkabut, serta kesempatan bersembunyi di belakang pulau kecil atau berlindung dalam sebuah teluk."

Dalam suasana cerah pada awal tahun 1962, empat kapal tersebut beriringan meninggalkan sarang mereka, sesudah singgah dahulu di Pelabuhan Samudera Pura. Semua MTB merapat untuk menerima perbekalan untuk bekal dalam operasi. Sebenarnya, komandan KRI Harimau, Mayor (Pelaut) Samuel Moeda tidak tahu tujuan berlayar. Dia hanya ditugaskan untuk berpatroli beberapa hari dan sasaran baru akan dijelaskan setelah kapal berangkat.

Di sisi lain, komandan KRI Harimau merasa operasi ini dilakukan tergesa-gesa. Skuadron Kowatkat baru pindah dari Surabaya ke Jakarta bulan November 1961. Dua bulan setelahnya, langsung menerima perintah operasi. Semua cuti tahun baru dibatalkan, Semua personil secepatnya kembali ke pangkalan.

Kolonel Sudomo, sebagai Komandan Satuan Tugas sebenarnya menginginkan misinya dijalankan menggunakan kapal selam. Namun karena waktu itu kapal selam Indonesia hanya dua, gagasan tersebut ditolak oleh Laksamana Martadinata. Dia terpaksa mencari kemungkinan lain, dengan kapal ALRI lainnya. Ternyata yang memenuhi persyaratan adalah MTB.

Syaratnya, sebuah kapal harus sanggup menembuh pelayaran tidak kurang dari 2000 mil laut dari pangkalan, harus lincah dan bermanuver, dan harus mampu cepat menghindar seandaikan terdeteksi lawan.


Quote:Sumber

Konspirasi di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul: Catatan Julius Pour, Julius Pour, 2011, Penerbit Buku Kompas:Jakarta
www.wikipedia.co.id
www.indomiliter.com
www.merdeka.com

Gambar: www.google.com


Katanya kupas tuntas, koq bersambung gan emoticon-Cape d... (S)
trikora itu permen ya gan?
Lanjutan dari "STC-9 dan Pertempuran Laut Aru"

Quote:Namun, disamping ada kelebihan juga ada kekurangan. Meskipun kapal perang canggih, tapi MTB kelas Jaguar baru berdinas di ALRI sejak 28 Juni 1960. Dengan demikian, ABK yang berpengalaman masih terbatas, bahkan komandannya saja hanya empat orang dari 8 kapal. Seorang komandan terpaksa harus mengendalikan dua kapal. Kemampuan dan karakter kapal pun belum dipahami secara baik. Namun, hal-hal tersebut terpaksa dikesampingkan karena urgensi operasi yang akan dilaksanakan.

"Saya didesak waktu, dengan demikian harus percaya sepenuhnya dengan buku petunjuk dari pabrik berikut unjuk kerja profesional dari semua ABK. Dan yang paling penting, meski namanya MTB, kapal-kapal tersebut kali ini memulai operasi tanpa membawa torpedo", kata Kolonel Sudomo.

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Kolonel Sudomo, saat telah menjadi Laksamana

Seperti yang sudah direncanakan, ALRI membeli MTB buatan Jerman Barat dan akan dilengkapi oleh torpedo buatan Inggris. Tetapi, krisis politik akibat sengketa Papua Barat berkembang cepat. Presiden Soekarno mendadak mengubah kebijakan dan memutuskan akan menyelesaikan persengketaan Papua Barat diluar PBB. Bung Karno bertekad akan menempuh segala macam jalur unruk membebaskan Papua Barat secepatnya. Seperti isyarat, diplomasi yang dilengkapi konfrontasi.

Inggris dan Belanda, adalah sama-sama negara NATO sehingga keduanya terikat perjanjian kerjasama saling membantu. Ketika ALRI membeli Gannet, pesawat pemburu kapal selam buatan Inggris, Belanda melancarkan protes keras dalam pertemuan NATO.Tetapi, yang membuat kaget, dinamika politik berubah sangat cepat. Rencana melengkapi MTB dengan torpedo Inggris berantakan akibat embargo Inggris.

Meskipun demikian, menurut Kolonel Sudomo waktu itu, tidak menjadi masalah karena tugas MTB tersebut bukan untuk bertempur, tapi untuk menyeludupkan pasukan. Justru tanpa torpedo, kapal tersebut bisa dijejali pasukan, diluar ABK.

Dari Samudera Pura ke Maluku
Menjelang matahari terbenam tanggal 9 Januari, 4 MTB bergerak dari Pelabuhan Samudera Pura, langsung ke daerah operasi, memakai formasi 18, dengan urutan KRI Harimau sebagai pemimpin, diikuti KRI Matjan Tutul, KRI Singa, dan KRI Matjan Kumbang. Semua kapal dilarang menyalakan lampu navigasi dan penerangan. Semua kapal juga harus melakukan radio silence. Operasi yang dijalankan adalah operasi rahasia. Tidak ada yang mengetahui arah tujuan, kecuali Komandan Skuadron Mayor (Pelaut) Samuel Moeda dan Komandan Satgas Kolonel (Pelaut) Sudomo.

Pelayaran yang dirancang Sudomo ini mengusahakan untuk tidak bertemu kapal dagang. Jalurnya, dari Pantai Utara Jawa dan Madura, kemudian ke Nusa Tenggara Timur, lalu menyebrangi perairan Maluku. Dalam pelayaran menuju daerah operasi, ditentukan 3 titik RV atau rendezvous. RV-I terletak di sekitar Pulau Giri Raja, dekat Madura. Di perairan setempat sudah disiapkan KRI Hasanuddin, untuk mengisi bahan bakar dan perbekalan. RV-II terletak di sekitar perairan Teluk Hading, dekat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di sana sudah disiapkan KRI Rakata. RV terakhir, RV-III lokasinya di perairan Pulau Ujir, Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Di sana sudah siap KRI Multatuli sebagai lokasi pengisian terakhir, sebelum nantinya konvoi MTB akan menuju sasaran, dengan menerobos perairan musuh.

Dalam pelayaran tersebut, KRI Matjan Kumbang menemui hambatan ketika sedang mendekati Pulau Rakit, utara Indramayu. Kapal tersebut mengalami gangguan kemudi. Kapal-kapal yang memutuskan untuk meninggalkan KRI Matjan Kumbang dan akan menunggu di RV-I. Matjan Kumbang menemui hambatan lagi ketika melewati utara Pulau Sumbawa, menimpa keempat mesin. Tapi karena sudah merasa hopless, setelah dilakukan pemindahan, akhirnya Matjan Kumbang ditinggalkan sendirian oleh kawan-kawannya dan menunggu di RV-II.

Matjan Kumbang berhasil mencapai RV-II dan segera melanjutkan pelayaran ke RV-III. Karena rute RV-II ke RV-III paling panjang dibanding rute yang lain, Matjan Kumbang melakukan peran tempur untuk menjaga kesamaptaan ABK dan mengecek kesiapan senjata. Selama berlayar di rute ini, Letnan (Pelaut) Sidhoparomo, komandan KRI Matjan Kumbang melakukan langkah strategis.Sadar tertinggal 10 jam, dia memutuskan untuk memotong jalur melewati selat sempit.

Tanggal 15 Januari, Matjan Kumbang berhasil mencapai RV-III dan segera melakukan pengisian bekal dan bahan bakar. Setelah selesai, komandan KRI Matjan Kumbang melihat hanya ada Harimau dan Matjan Tutul. Dimana Singa? Dari 4 kapal yang berangkat dari Jakarta hanya 3 yang sampai ke RV-III. KRI Singa kehabisan bahan bakar di tengah laut, sebelum sampai ke RV-III. Singa terpaksa ditinggalkan di perairan Maluku.

Moersjid dan Jos Soedarso di Multatuli
Senin pagi, 15 Januari 1962. Ruang komando KRI Multatuli yang lego jangkar di perairan kepulauan Kei, Maluku Tenggara, tempat briefing Kolonel Sudomo berlangsung, terasa sesak. Bukan saja karena penuhnya ruangan saat itu, tetapi memang selalu muncul suasana seperti itu, setiap prajurit menerima perintah maju perang. Perasaan berubah tegang, resah, ketakutan.

Di hari itu memang banyak yang memenuhi ruang komando KRI Multatuli. Ada Kolonel (Inf.) Moersjid, Asisten II/Operasi KSAD, Komodor Josaphat Soedarso, Deputi I/KSAL, Mayor (Inf.) Roedjito, Komandan Operasi A didampingi stafnya, Kapten (Inf.) Tondomuljo. Ada pula tiga nahkoda MTB-Mayor (Pelaut) Samuel Moeda, Kapten (Pelaut) Wiratno, Letnan (Pelaut) Sidhoparomo-juga hadir Kapten (Pelaut) Memet Sastrawiria, perwira intelijen dari MBAL, dan tentu saja Kolonel (Pelaut) Sudomo, selaku Komandan Satgas. Tidak ada anggota AURI.

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Komodor Jos Soedarso, pahlawan Pertempuran Laut Aru

Mengapa ada Moersjid dan Jos Soedarso, orang-orang penting dalam AD dan AL? Moersjid menjelaskan, "Pasukan yang akan didaratkan adalah sukarelawan binaan AD. Masak, mereka saya biarkan begitu saja? Saya harus mendampingi, semasa mereka saya perintahkan maju perang." Selain tiga nahkoda MTB dan komandan Satgas, perwira-perwira yang lain datang menumpang Hercules bersama sukarelawan dari Jakarta.

Jos Soedarso memiliki misi pribadi sehingga bertekad mengikuti infiltrasi secara langsung bahkan berusaha mendarat di Papua. Tekadnya bergabung bersama infiltran didorong Presiden Soekarno dalam pidato Trikora di Yogyakarta. Oleh karena itu, secara khusus dia membawa bendera Merah Putih dari Jakarta, yang dia ingin tancapkan sendiri di Papua. Bahkan dia juga sudah merancang agar lebih dramatis dalam menjawab tantangan Bung Karno dengan kalimat berikut ..... permintaanku cuma satu, izinkan aku ikut mendarat. Aku harus mengambil sengenggam tanah Irian. Akan aku sampaikan kepada Bung Karno sebagai bukti, Jos Soedarso bukan pengecut seperti yang dituduhkan.

Menuju Pertempuran Laut
Ketiga kapal tersebut dijadwalkan akan meninggalkan Multatuli 18.00, 15 Januari, perkiraan sampai sasaran pukul 24.00. Kecepatan ditentukan 20 knot, dan ketiga kapal berlayar dalam formasi 18. Harimau menjadi kapal komando ditempatkan paling depan, diikuti Matjan Tutul dan Matjan Kumbang. Sebelum berangkat, kapal-kapal dijelali infiltran. Mereka adalah putra-putra Irian yang dilatih di Cikotok, Jawa Barat. Mereka bersenjata lengkap, berpakaian loreng mirip Angkatan Darat, namun tanpa lambang kesatuan. Mereka berkekuatan 1 kompi.

Moersjid menaiki KRI Harimau dan Jos Soedarso menaiki KRI Matjan Tutul. Kolonel Sudomo mengubah call sign MTB dari HRM, MTL, MKG, menjadi Singa, Singa I, dan Singa II. Untuk mengenang KRI SInga yang gagal ikut operasi sekaligus mengacau lawan seandainya disadap. Sudomo melukiskan suasana ketika berangkat meninggalkan Multatuli, "Saya menengok ke belakang, tampak bola matahari tenggelam persis pada batas cakrawala sehingga pemandangan sekeliling semakin lama justru bertambah suram."

Dipantau Neptune
Konvoi MTB yang melesat cepat ke pantai Papua tidak merasa kurang dari satu jam kemudian jejaknya sudah diketahui lawan. Letnan Moekardanoe, Pilot Belanda keturunan Jawa, yang saat itu sedang patroli malam dengan P2V-7B Neptune Koninklijke Marine mendapati jejak konvoi tersebut dalam layar radarnya. Kemudian dia mengirimkan sinyal tanda bahaya kepada armada kepal perang Belanda, yang sedang patroli, HNLMS Eversten, HNLMS Kortenaer, dan HNLMS Utrecht.

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
P2V Neptune Koninklijke Luchtmacht

Pukul 21.00, radar Matjan Kumbang menangkap echo di layar radarnya. Kemudian melaporkan temuan echo kepada Harimau. Tak lama, muncul echo kedua dan langsung dilaporkan kepada Harimau. Mencermati informasi yang masuk, Kolonel Sudomo memerintahkan untuk menghidupkan radar.

Letnan Moekardanoe kemudian melepaskan flare agar suasana terang dan sasaran mudah dibidik. Ternyata, flare pertama tidak menyala. Terpaksa, serangan roket harus ditunda dahulu. Serangan kedua dilakukan Neptune sekitar pukul 22.03. Hujan flare segera menerangi seluruh kaki langit, dilanjutkan serangan roket-roket, namun tidak ada yang mengenai konvoi. Dua meriam penangkis serangan udara Matjan Kumbang menyalak hampir bersamaan ketika ada bayangan pesawat mendekati formasi.

Kami Dikepung!
Belum tuntas menganalisa echo kedua, mendadak muncul echo ketiga, gerakannya sangat cepat dan datangnya dari haluan. Semua yang hadir di kamar peta Matjan Kumbang berteriak kaget. Mereka melihat di layar, echo etiga mendadak sampai di tengah layar dan langsung menghilang. Semua orang langsung lari ke geladak. Mereka kira sebuah kapal yang menabrak mereka, namun tidak terjadi apa-apa. Tetapi, kami melihat pesawat sedang berputar-putar diatas Matjan Kumbang. Disimpulkan itulah echo ketiga.

Langsung pesawat tersebut menghujani kami dengan flare, sehingga keadaan menjadi terang benderang. Keadaan kami makin kritis karena dari jauh tampak siluet kapal, yang berhenti diam menghadang, tepat di arah haluan, satunya lagi menggunting dari arah lambung kiri.

Tembakan Matjan Kumbang tidak mengenai sasaran. Mendadak, suasana tengah laut yang senyap setelah meriam kami meletus, berubah menjadi riuh rendah. Kapal-kapal musuh dari jauh telah menembaki kami. Kemudian, Harimau memberi perintah, "Cikar kemudi, kembali haluan 239 derajat. Hindari musuh, kembali ke pangkalan secepatnya." Perintah yang menyelamatkan Matjan Kumbang dan Harimau.

Persenjataan kedua belah pihak tidak seimbang. Pihak Belanda berkekuatan fregat dan destroyer memiliki meriam 4,7 inci, sedangkan MTB hanya dipersenjatai meriam penangkis udara 40mm. Pihak Belanda juga memiliki payung udara, yaitu Neptune dan Firefly, sedangkan Indonesia tidak ada.

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Peta Pulau Papua setelah menjadi bagian dari Indonesia

Kobarkan Semangat Pertempuran
Tembakan yang dimuntahkan meriam kapal Belanda bagaikan hujan lebat menyiram Harimau, Matjan Tutul, dan Matjan Kumbang. Tiba-tiba, Komodor Jos Soedarso mengambil alih Matjan Tutul dan mengarahkan kapalnya ke salah satu kapal musuh. Matjan Tutul secara agresif dan cepat mengarah ke lambung HNLMS Kortenaer. Langkah yang mungkin disengaja Jos untuk menyelamatkan Matjan Kumbang dan Harimau.

Langkah nekat Jos membuahkan hasil. Tembakan kapal-kapal Belanda dipusatkan ke Matjan Tutul. Namun, Komodor tidak gentar kapalnya dihujani peluru meriam musuh. Bahkan, Komodor mengeluarkan perintah, "Terjang kapal lawan, kita akan tenggelam bersama mereka." Seketika awak kapal memacu Matjan Tutul, mengarah HNLMS Kortenaer. Gerakan yang dibaca Kortenaer sebagai gerakan yang berbahaya. Karena itu Matjan Tutul terus dihujani tembakan.

Komodor Jos Soedarso membalut lukanya sendiri luka kepalanya saat pertempuran. Kemudian, tembakan dari jarak dekat meletus. Komodor menderita luka parah, Meski demikian, Komodor tetap memaksakan diri turun ke ruangan peta, dan mengucapkan kata-katanya yang terkenal lewat walkie talkie, "Kobarkan semangat pertempuran." Matjan Tutul tenggelam dalam pertempuran laut secara brave dan gentlemen.

Kolonel Sudomo mengaku, pesan terakhir Jos Soedarso dia terima pukul 22.08 lewat radio. Serentak dengan keluarnya perintah Jos, kedua meriam Bofors Matjan Tutul menembak Eversten. Catatan Sudomo menyebutkan bahwa sebuah kapal Belanda menghadang Harimau dari arah haluan pukul 21.15. Sudomo memerintah, "Cikar kanan, full speed!". Akhirnya, Harimau selamat dari kapal Belanda.

HNLMS Eversten menyerang Matjan Tutul pada pukul 22.07, menggunakan meriam 4,7 inci. Serangan tersebut dilakukan sesudah melihat Matjan Tutul berubah haluan dan dikira ingin melepaskan torpedo. Pukul 22.10, sebuah tembakan Eversten mengenai buritan Matjan Tutul. Terjadi kebakaran kecil dan bisa dipadamkan. Matjan Tutul berubah haluan ke kiri, mengarah ke 239 derajat. Eversten mengubah haluan ke kanan, sejajar dengan 239 derajat, dan menghujani Matjan Tutul dengan tembakan meriam 4,7 inci. Pukul 22.30, tembakan Eversten tepat mengenai lambung Matjan Tutul. Kapal tersebut meledak, penumpangnya berhamburan di antara kobaran api.

Pukul 22.35, sekali lagi tembakan Eversten menghantam Matjan Tutul. Kapal berhenti bergerak dan 15 menit kemudian dalam kobaran api Matjan Tutul tenggelam ke dasar Laut Arafuru.
Quote:Original Posted By popo.guardiola
Katanya kupas tuntas, koq bersambung gan emoticon-Cape d... (S)

kan udah ada sambungannya ganemoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S)
Quote:Original Posted By insaneid.kaskus
trikora itu permen ya gan?

emang ada ya gan? baru tau ane
*ava ente cantik pisan gan
dan kini setelah puluhan taun kita merdeka
Indonesia dihiasi dengan korupsi disegala bidang emoticon-Berduka (S)

pantaskah para pahlawan yg berjuang hingga darah penghabisan
kita balas dengan korupsi lembaran merah triliunan ?
emoticon-Berduka (S) sayang bgt gan sekarang papua malah jadi maenan amerika

Padahal ngerebutnya aja susah payah
Quote:Original Posted By b3beg4gall
*ava ente cantik pisan gan

memang gan, harta, tahta, raisa
Quote:Original Posted By electricalisto
dan kini setelah puluhan taun kita merdeka
Indonesia dihiasi dengan korupsi disegala bidang emoticon-Berduka (S)

pantaskah para pahlawan yg berjuang hingga darah penghabisan
kita balas dengan korupsi lembaran merah triliunan ?


memang ganemoticon-Berduka (S)
emoticon-Berduka (S)
Quote:Original Posted By BobobVanBasten
emoticon-Berduka (S) sayang bgt gan sekarang papua malah jadi maenan amerika

Padahal ngerebutnya aja susah payah


dan tugas kita semua untuk merebut kembaliemoticon-I Love Indonesia (S)

emoticon-I Love Indonesia (S)
kalo saja Bung Karno dan kawan2 bisa bangkit kembali pasti mereka berkata...
"anjenkk kau jokowi,cita2 kami memerdekakan bangsa ini bukan lah seperti ini emoticon-fuck "
Quote:Original Posted By istongin.aku
kalo saja Bung Karno dan kawan2 bisa bangkit kembali pasti mereka berkata...
"anjenkk kau jokowi,cita2 kami memerdekakan bangsa ini bukan lah seperti ini emoticon-fuck "


memang penuh perjuangan untuk memerdekakan bangsa ini, dan sudah sepantasnya kita membangun bangsa sesuai cita-cita pendiri bangsa
Quote:Original Posted By istongin.aku
kalo saja Bung Karno dan kawan2 bisa bangkit kembali pasti mereka berkata...
"anjenkk kau jokowi,cita2 kami memerdekakan bangsa ini bukan lah seperti ini emoticon-fuck "


memang penuh perjuangan untuk memerdekakan bangsa ini, dan sudah sepantasnya kita membangun bangsa ini sesuai cita-cita pendiri bangsa
Quote:Original Posted By bocahjendela
kan udah ada sambungannya ganemoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S)



klo yg operasi ampibi terbesar dunia itu pas trikora bukan sih??tp akhirnya ga jadi,,hehehe

cmiiw
Quote:Original Posted By istongin.aku
kalo saja Bung Karno dan kawan2 bisa bangkit kembali pasti mereka berkata...
"anjenkk kau jokowi,cita2 kami memerdekakan bangsa ini bukan lah seperti ini emoticon-fuck "

Ingat mas gan, anaknya bung karno sendiri si megatron ada di balik layarnya
Sepertinya freeport tercantum dalam konferensi meja bulat itu.

Lanjutan....

Quote:Genderang Perang Mulai Ditabuh

Quote:Perang Pernyataan
"Kesatuan ALRI yang sedang melakukan patroli di perairan Indonesia sekitar Kepulauan Aru diserang secara tiba-tiba di lautan bebas oleh kapal perang dan pesawat terbang Angkatan Laut Belanda. Kesatuan ALRI terdiri dari beberapa kapal cepat torpedo ALRI memberikan perlawanan serta pertahanan diri dengan gigih. Pertempuran berlangsung sekitar satu jam, terjadi pada tanggal 15 Januari 1962 sejak pukul 20.00 waktu setempat"

"Hasil pasti dari pertempuran belum diketahui. Hingga kini sering menjadi kebiasaan dari kedua belah pihak, baik oleh kesatuan Angkatan Laut maupun Angkatan Udara, untuk mengadakan patroli. Kadang-kadang satu sama lain bertemu di lautan atau udara bebas. Biasanya masing-masing hanya saling mengintai. Sekarang dengan sengaja Belanda telah menyerang secara tiba-tiba. Pemerintah Republik Indonesia akan mengambil segala tindakan untuk membalas seragan tersebut."

Demikian pernyataan resmi Markas Besar Angkatan Laut (MBAL) di Jakarta, Selasa, 16 Januari 1962. Pernyataan singkat tersebut kemudian dikutip oleh koran-koran di Jakarta dengan judul "Sudah Mulai Bertempur".

Meskipun detail kejadian sama sekali belum ada, semisal berapa motor torpedo boat yang terlibat dan jumlah korban, bagaimanapun berita ini sangat menyentak. Masyarakat disadarkan bahwa peluru pertama sudah ditembakkan, dan hal ini memberi isyarat bahwa tak lama lagi perang terbuka antara Indonesia dan Belanda akan segera meletus.

Tanggal 16 Januari 1962, Presiden/Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengadakan sidang luar biasa dengan Gabungan Kepala Staf, yang juga dihadiri oleh Staf Operasi Pembebasan Irian Barat, membicarakan peristiwa serangan mendadak Angkatan Laut Belanda, yang dalam pers diberi istilah Insiden Aru.

Setelah bersidang, Mayjen Achmad Yani selaku juru bicara Staf Operasi Irian Barat menerangkan kepada pers bahwa tidak benar Indonesia bermaksud melakukan pendaratan ke pantai Irian Barat. Meskipun membantah isu yang beredar, Mayjen Achmad Yani mengakui bahwa sebuah kapal cepat torpedo (MTB) ALRI telah ditenggelamkan oleh tembakan Belanda.

Versi yang dikemukakan Belanda bertolak belakang dari yang disampaikan Indonesia. Komando Angkatan Laut Belanda di Irian Barat mengeluarkan sebuah pengumuman resmi tentang pertempuran di Aru yang disiarkan di Den Haag, Selasa malam tanggal 16 Januari. "Kapal-kapal perang Indonesia dengan kecepatan tinggi sedang menuju ke Pantai Irian Barat, telah lebih dulu melepaskan tembakan ke kapal-kapal Belanda. Dalam sebuah pertempuran yang kemudian terjadi, sebuah kapal cepat torpedo (MTB) Indonesia terbakar dan kapal-kapal Belanda berhasil menangkap awak kapalnya, yang mencoba melarikan diri dengan sekoci pendarat karet".

"Jumlah orang Indonesia yang tertangkap dua kali lebih besar daripada jumlah awak kapal normal yang diperlukan bagi sebuah kapal cepat torpedo. Jumlah awak kapal untuk kapal-kapal tipe tersebut hanya 20 sampai 30 orang. tetapi agaknya MTB Indonesia telah mengangkut 70 sampai 90 orang. Hal ini menunjukkan pihak Indonesia sedang berusaha melakukan pendaratan di pantai Irian Barat."

Radio Australia hari Selasa malam menyiarkan berita, Belanda telah menawan 50 prajurit Indonesia dalam pertempuran Laut Aru.

Siapa yang Menembak Pertama Kali?
Satu pertanyaan yang penting mengenai insiden ini, siapakah yang menembak pertama kali? Indonesia atau Belanda? Kantor berita Perancis, Agence France-Presse (AFP) memberitakan dari Hollandia (Jayapura sekarang) bahwa kapal-kapal perang Belanda mulai menembak pada suatu formasi kapal-kapal perusak Indonesia di perairan teritorial Belanda ketika mereka sedang bergerak ke pantai selatan Irian Barat.

Kantor berita dari Inggris dan Jerman, Reuters dan Deutsche Presse-Agentur (DPA) mengabarkan dari Den Haag, kapal-kapal perang Indonesialah yang mula-mula ditembaki oleh kapal-kapal perang Belanda. Menurut DPA, reaksi pertama di Den Haag adalah perasaan khawatir dengan kenyataan, kapal-kapal perang Belandalah yang melepaskan tembakan pertama kali.

Mengejutkan Dunia Internasional
Berita meletusnya pertempuran antara kapal perang Belanda dan Indonesia di Laut Arafuru juga mengguncang perhatian internasional. Pemerintah Belanda dengan sigap memanfaatkan momentum itu untuk memetik keuntungan politis.

Schuurman, selaku pemimpin delegasi tetap Belanda di PBB memberikan keterangan pers. "Kapal-kapal perang Belanda terpaksa melakukan penembakan karena kapal Indonesia melakukan provokasi dengan menembak lebih dulu sebuah pesawat terbang Belanda. "The Dutch retailed after the Indonesian ignored a warning shot...".

Selain itu, dia menegaskan bahwa, "... an Indonesian force of more than 100 men had been ordered to land near Kaimana, Dutch New Guinea and to try to liquidate the Netherland administration." (Sebuah pasukan Indonesia berkekuatan lebih dari 100 orang telah diperintahkan untuk mendarat di dekat Kaimana dan berusaha untuk menghapus pemerintahan Belanda.)

Kepada U Thant, pejabat Sekjen PBB, Schuurman menyampaikan laporan: "The Indonesian's MTB then opened the fire of an aeroplane where upon HRMS Eversten answered the fire at 10.15 local time, HRMS Kortenaer joined the firing..." (MTB Indonesia kemudian melepaskan tembakan ke sebuah pesawat terbang, kemudian HRMS Eversten menjawab tembakan itu pada 10.15 waktu setempat. HRMS Kortenaer bergabung dalam penembakan tersebut.)

Laporan Schuurman dilengkapi tuduhan bahwa ketiga MTB tersebut melanggar teritori mereka, ".... at 10.08 PM, a visual observation from aeroplane indicate three MTB's at a distance of 12 miles from the coast close to Vlakke Hoek." (pada pukul 10.08 petang, sebuah pengamatan visual dari pesawat terbang mengindikasikan ketiga MTB berjarak 12 mil dari pantai dekat Vlakke Hoek.)

Banjir pernyataan dari pihak Belanda sudah jelas telah memojokkan posisi Indonesia dalam pandangan dunia internasional. Posisi Indonesia semakin terpuruk karena Indonesia tidak bisa memberikan pernyataan yang mampu mematahkan argumen lawan akibat terbatasnya informasi dari Jakarta.

Bantuan dari Seorang Teman
Begitu insiden di Laut Arafuru meletus, Belanda melancarkan protes sekaligus menuduh kapal perang Indonesia menembaki kapal-kapal perang Belanda yang sedang berpatroli di wilayah Irian Barat. Belanda menuntut Dewan Keamanan segera bersidang karena jelas insiden tersebut membuktikan bahwa Indonesia sudah berusaha mendaratkan pasukannya.

Protes delegasi Belanda diterima Husegose Rolzverment, wakil sekjen PBB khusus menangani persoalan Irian Barat. Husegose adalah diplomat Bolivia yang bersimpati kepada perjuangan Indoensia dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Meski tidak ada keharusan, Husegose langsung menelepon Jusuf Ronodipoero, anggota delegasi Indonesia sambil menyebutkan rincian protes Belanda. Dengan demikian, delegasi Indonesia bisa mempunyai cukup waktu untuk persiapan menyusun bantahan.

Berkat kerja keras delegasi Indonesia dan bantuan Husegose, keinginan Belanda memanggil sidang Dewan Keamanan dapat digagalkan. Dengan demikian, pada tahap pertama perjuangan diplomasi mengenai sengketa Irian Barat seusai insiden di Laut Aru, Indonesia berhasil meraih kemenangan politis, menggagalkan tuduhan Belanda bahwa Indonesia agresor.

Seruan Sekretaris Jenderal PBB
Selaku Sekjen PBB, U Thant menyerukan agar kedua pihak yang bersengketa menahan diri. Dia tetap mengharapkan Belanda dan Indonesia, bersedia menggunakan jalan damai dalam upaya penyelesaian sengketa Irian Barat. Secara terbuka, U Thant pernah menyatakan perasaan cemasnya atas terjadinya "insiden berupa pertempuran antara kapal-kapal Angkatan Laut Belanda dan Indonesia di sekitar perairan Irian Barat.

Sebelum insiden Laut Aru, U Thant secara pribadi telah beberapa kali mendesak Belanda dan Indonesia untuk menyelesaikan sengketa dengan melakuakn perundingan, Usul tersebut tidak pernah ditanggapi secara positif dari kedua belah pihak. Tanggapan Indonesia adalah Irian Barat harga mati tercermin dalam pernyataan Menlu Soebandrio, "Indonesia hanya bersedia berunding atas dasar penyerahan Irian Barat kepada Pemerintah Republik Indonesia."

Pilih Nasution atau Aidit?
Tanggal 15 Januari 1962, terjadi insiden Laut Aru yang menenggelamkan KRI Matjan Tutul serta Komodor Laut Jos Soedarso, Deputi I KSAL dan sejumlah ABK. Setelah pertempuran meletus, usaha untuk membebaskan wilayah Irian Barat dari kekuasaan kolonial langsung bergerak cepat menuju konfrontasi terbuka sebagai penyelesaian akhir,

Masyarakat marah, terkejut, dan merasa terhina. Mereka mendesak agar Indonesia secepatnya membalas penghinaan tersebut dengan menyerbu ke Irian. Massa komunis, dipimpin oleh Ketua Umum PKI Dipa Nusantara Aidit, berteriak paling vokal sewaktu mendesak sambil menyampaikan tuntutan.

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
D.N. Aidit, Ketua Umum PKI bersama Presiden Soekarno

Presiden ternyata menolak desakan tersebut. Sebaliknya, dia mengirim Menlu Soebandrio terbang ke Washington D.C., Amerika Serikat, menemui Presiden John F Kennedy dengan membawa satu pesan, "Go and meet Kennedy. Don't argue with him. Just give him the benefit of answering my single question, Which one does Kennedy prefer, Nasution or Aidit?" (Pergi dan temui Kennedy. Jangan berdebat dengannya. Hanya berikan keuntungan dari menjawab pertanyaanku. Yang mana yang Kennedy lebih suka, Nasution atau Aidit?)

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Jenderal Besar A.H. Nasution

Menlu Soebandrio menemui Presiden Kennedy akhir Januari 1962 di Gedung Putih. Kennedy tidak bersedia menjawab atau menjatuhkan pilihan yang diberikan Soekarno. Namun, pada hari itu juga, Kennedy langsung memerintahkan Ellworth Bunker, seorang diplomat senior sekaligus pakar penyelesaian konflik, untuk turun tangan memimpin perundingan rahasia antara Indonesia dan Belanda. Bahkan, sebagai usaha melunakkan kemarahan Bung Karno, Presiden Kennedy, pada tanggal 12 Februari 1962, mengirim seorang utusan pribadi ke Jakarta. Namanya Robert Kennedy, Jaksa Agung AS, adiknya sendiri.

KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Ellsworth Bunker, Diplomat Amerika Serikat

Perlu Kambing Hitam
Meski belum jelas apa latar belakangnya, insiden yang meletus di Laut Aru secara politis perlu seseorang untuk dijadikan sebagai kambing hitam. Jenderal Nasution menyebutkan, "Jenderal Achmad Yani masuk ke kamar saya, melaporkan terjadinya pertempuran di Laur Arafuru berikut gugurnya Komodor Jos Soedarso. Saya mendukung pendapat Yani, saat itu jabatannya sebagai Kepala Staf KOTI, agar AURI segera membalas dengan mengebom kapal-kapal Belanda, tetapi AURI ternyata tidak dalat melakukan..."

"Esoknya kami dipanggil Presiden untuk mengadakan rapat mendadak di istana, Pak Djuanda menuntut agar Laksamana Udara Surjadharma, menteri yang juga menjabat KSAU, dicopot."

Presiden semula masih mempertahankan Pak Surjadharma sebagai menteri sehingga hanya diganti posisinya sebagai Kepala Staf AURI. Tetapi Pak Djuanda tegas, tidka ingin memisahkan kedua jabatan tersebut. Sesuai tekad kita sewaktu menyusun kabinet, kepala staf otomatis berkedudukan menteri. Presiden terpaksa menyerah."

Longe males baca gan