alexa-tracking

Kertajaya

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5514032c92523388468b4576/kertajaya
Kertajaya
Anggota Baru 1
Bima adalah pria berumur 25 berambut rapi pendek dengan badan atletis yang cukup pintar untuk terus melakukan pekerjaannya tanpa pernah tertangkap. Bersama Paul, anak papua yang merantau ke Jakarta untuk sukses tetapi malah jadi seorang anak jalanan seperti Bima. Mereka dapat mencuri dengan sangat hebat dan tak pernah terlacak. Tetapi mereka bukan mencuri untuk diri mereka sendiri, mereka mencuri untuk membiayai anak-anak jalanan yang bernasib sama dengan mereka.
Minggu ini Bima dan Paul merencanakan mencuri di rumah seorang DPRD Hendra yang telah dijadikan tersangka kasus korupsi tetapi malah bebas. Begitulah mereka, mereka mencuri dari para pencuri. Rumah Pak Hendra sangat besar, yang mungkin jika hanya di jalankan oleh orang orang biasa saja tidak akan mungkin untuk mencuri semua barangnya. Tetapi tidak dengan Bima dan Paul, mereka telah terbiasa hanya berdua saja melakukan aksinya sejak setahun yang lalu ketika Bima menemukan Paul dan mengajaknya bergabung bersama dia. Tentu saja, dengan senang hati Paul mau untuk bergabung bersama Bima menjalanka aksinya, meskipun badan Paul yang besar tidak berarti bahwa hatinya kasar.
“Kamu sebelah sana.” kata Bima pelan. “Naik ke pagar lalu buka pintu samping agar barang barangnya bisa keluar.”
“Oke Bim” jawab Paul sambil pergi berlari ke pagar depan.
Ketika Paul telah sampai di pagar depan, ada segerombol orang berpakaian serba hitam tiba-tiba menghadangnya. Paul tak bisa kemana-mana, dia sudah terjebak oleh 6 orang berbadan atletis di sekelilingnya.
“Siapa kalian?” tanya Paul dengan rasa takut yang sudah memuncak.
“Kita? Kita adalah satu kesatuan, begitu pula dengan kamu. Kita adalah Kertajaya” jawab pria misterius bersuara besar dan terdengar dari suaranya bahwa dia sudah cukup tua.
Meskipun pertanyaan Paul telah terjawab, tetapi Paul tidak bisa mendengar dengan jelas karena kepala Paul terasa begitu sakit dan tiba tiba pandangan Paul gelap, ia tergeletak dikelilingi gerombolan itu. Tanpa menunggu waktu yang lama, salah seorang lelaki berjaket kulit hitam membawa Paul menuju sebuah mobil bercat hitam, yang ternyata didalamnya juga sudah ada Bima yang juga telah tak sadarkan diri.
“Jadi ini duo Mastermind dan Runner yang terkenal itu?” kata si supir yang menunggu sedari tadi di dalam mobil hitam tersebut dengan menggunakan pakaian hitam seperti yang lain.
“Aku kira dia bisa berlari lebih cepat dari pada sebutannya.” sahut wanita di samping supir dengan nada sedikit meremehkan.
“Kembar!. Jangan remehkan mereka. Kalian semua kan juga masih anggota baru.” kata Sang Pemimpin dengan tegas. “Cepat bawa mereka ke Ground, dan jangan sampai mereka terluka.”
Orang-orang itu pun mulai mengangkat Bima dan Paul ke mobil yang telah di modifikasi sehingga cukup besar untuk membawa menampung gerombolan itu dengan Bima dan Paul, kecuali satu orang yang memilih mengendarai motor sport di belakang mobil itu.
Dengan cepat mobil itu pergi dari depan Rumah Pak Hendra. Mobil dan sepeda motor itu melaju dengan cukup cepat dan menyusul semua kendaraan di depannya. Ketika mobil dan sepeda motor itu telah berjalan begitu jauh, benda tersebut memilih berhenti di sebuah bangunan tua yang begitu kumuh.

SEDOT WC
HILANGKAN MASALAH KAMAR MANDI ANDA DENGAN SEGERA

Begitulah tulisan di depan gedung tua itu. Sebuah gedung yang sudah tak terurus bahkan tertutup oleh lampu lampu indah pusat perkotaan.
“Tulisan itu lagi” kata seseorang yang sedari tadi mengendarai sepeda motor hitam itu sambil turun dari sepeda motor dan membuka pintu garasi yang merupakan jalan satu satunya untuk masuk ke gedung itu. “Jadi tidak terlihat keren, kenapa tidak di ganti dengan Bengkel Otomotif Gino?”
“Sudahlah tak usah banyak bermimpi, kita juga masih baru kan disini. Juga siapa yang ingin tau dalam sebuah gedung bertuliskan seperti itu?” jawab wanita cina sambil keluar dari mobil dan membawa tas dan banyak suntikan di dalamnya dengan di ikuti oleh beberapa orang berpakaian hitam yang lainnya sambil berusah membawa Bima dan Paul yang masih saja tak sadarkan diri keluar dari mobil.
“Gino dan Desta, taruh dua orang itu di ruang 01 lalu segera sadarkan mereka. Kita harus memperkenalkan diri dan meminta maaf tentang apa yang terjadi tadi.
“Siapa pak” kata seseorang berkaca mata yang sedang membawa Bima.
“Kenapa harus aku?, aku saja belum memakirkan sepeda motor ku?” sahut seseorang yang mengendarai sepeda motor tadi sambil membawa paul.
Seperti kata pimpinan mereka, Bima dan Paul pun dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang lebih terkesan seperti ruang rapat. Mereka pun didudukan di 2 buah kursi putar yang saling berdekatan. Bima dan Paul tak kunjung sadar, dan ketika mulai tersadarkan mereka melihat banyak orang dengan karakter yang berbeda menatap mereka.
“Si..si..siapa kalian?, kenapa beta ada disini?” tanya paul dengan banyak rasa sakit di kepalanya yang disebabkan obat bius yang di berikan gerombolan itu.
Seperti biasa Bima hanya tenang, tidak berkata sedikit pun meskipun banyak tanda tanya di kepalanya mengapa dia berada disini dan untuk apa gerombolan itu menculiknya.Tetapi dia lebih memilih untuk tetap diam, seperti dalam peraturan nomer 5 dari banyaknya peraturan dalam hidupnya. Peraturan nomer 5 adalah untuk bertindak tenang ketika semua masalah datang, jangan bertindak terlalu cepat atau terlalu lambat.
“Selamat datang Bimasena Dewa Prasetya, dan kamu Deborra Paul Serka. Anak ajaib yang berhasil lolos dari berbagai pencurian, sungguh susah untuk melacak kalian. Perkenalkan nama saya Handoko, Setya Handoko. Kalian mungkin tak mengira bahwa kalian bisa tertangkap semudah ini, tapi aku akui kalian cukup hebat bersembunyi di luar sana hanya dengan alat-alat sederhana kalian. Tapi bagaimanapun kalian dan sehebat apapun kalian, kalian tetap akan kami temukan.” jawab lembut Sang Pemimpin yang terlihat lebih tua dari yang lainnya karena dihiasi dengan keriput dan banyak nya rambut putih.
“Ka..ka..kalian polisi?” tanya Paul dengan rasa takut yang menghinggapinya setelah mendengar penjelasan dari Pak Handoko. “Kami tidak berbuat apa-apa, lepaskan kami”
“Tidak kami bukan polisi, kami hanya organisasi yang memiliki tujuan seperti kalin. Tanya saja kepada temanmu yang pintar itu, bukan begitu Bimasena? Kami tak pernah menangkap kalian, jika kalian ingin pergi silahkah pergi.” Jawab Pak Handoko dengan melirik ke Bima yang sedang berfikir dan mencari-cari sesuatu di otaknya.
seperti nama jalan dikota surabaya... eh...
Daerah dekat gubeng tuh....