alexa-tracking

Buku Harian Seorang Indigo

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/550f9e211a9975ff048b4583/buku-harian-seorang-indigo
icon-hot-thread
Buku Harian Seorang Indigo
Buku Harian Seorang Indigo

WELCOME TO MY THREAD

Haloo, sebelumnya ane buat thread di The Lounge.. tapi sehubungan dengan banyaknya cerita yang akan ane post, ane jadi pindahin semuanya ke sfth emoticon-Smilie
Tadinya mau pake ID klonengan tapi waktu mau bikin ga bisa-bisa. Woyes pake id yg sudah ada aja.
Ane mau cerita pengalaman ane sebagai seorang yang bisa melihat dan merasakan hal yang tidak semua orang bisa merasakan. Di thread ini ane tuangin semua pengalaman ane. Tidak ada cerita klimaks ataupun anti klimaks karena murni pengalaman ane. Jadi, tiap hari pasti ada aja ceritanya. Tapi ane tuangin yang bener-bener berkesan buat ane.
Well, awalnya ane ragu mau share ini. Karena suatu hari ane pernah minta saran sm kakek ane yang bisa punya hal yang kaya gini juga dan beliau juga bisa mengartikan mimpi.
Kakek ane bilang, jangan sampai orang lain tahu kelebihan kamu ini. Akan memungkinkan bahaya.
Bukannya ane mau melanggar pesan kakek ane, tapi... Ane kadang mau mengungkap semua apa yang ane rasain selama hidup 23 tahun ini.

Spoiler for "YOU DIDN'T SEE WHAT I SAW":


Terima kasih atas kesetiaannya pantengin thread ane hehe. Rate, cendol, share and bookmark please! emoticon-Malu (S)emoticon-Kiss (S)


RUMAH HANTU

Spoiler for Rumah Hantu:


IBU

Spoiler for Ibuku:


Buku Harian Seorang Indigo

Pertama Kali

Waktu itu, aku menginjak bangku sd. Saat itu aku ingat, kelas 3 sd. Aku sakit dan aku dirawat di rumah oleh keluargaku. Sakitku pun biasa, hanya terlalu cape dan panas. Yaaa istilahnya meriang.

Mamaku setia merawatku hingga, suatu hari aku kesurupan. Aku sadar kalau aku mengucapkan kata yang tidak ingin aku ucapkan. Dan melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan. Aku menggeram, mengamuk dan tertawa terbahak bahak. Mamaku pun berlalian mencari pertolongan. Untungnya saja aku mempunyai seorang keluarga yang salah satunya adalah ustad. Ustad itu adalah paman saya dari kakek yang berbeda. Ayah dari pamanku adalah adik dari kakekku.
Singkat cerita, pamanku sebut saja mang aji. Mang aji langsung melepaskan makhluk ini dari tubuhku.
Tubuhku yang tadinya di kamar, kini sudah berada di sofa ruang tamu.
For your info, di sebelah ruang tamu, ada meja kerja ayahku dari kayu jati yang kokoh dah lebar.
Setelah siuman, aku meminum air putih yang sudah dibacakan Mang aji. Dengan aroma yang seperti minyak wangi tapi tidak menyengat hidung.

Akupun membuka perlahan mataku. Saat ku lihat sekeliling, sudah banyak saudaraku yang mengelilingiku. Menanyakan apakah aku sudah baikan atau sudah enakan.
Aku masih merasa takut. Ada perasaan seakan" aku sangat sangat dan teramat takut. Tetapi aku tidak mengerti, apa yang aku takutkan.

Saat kakiku sudah menjungai kebawah sofa dan duduk menghadap meja kerja ayahku, sosok itu.......
Sosok itu yang tidak pernah aku lupa seumur hidupku.

Sosok dengan sekujur tubuh merah. Dengan 2 tanduk melingkar di kepala. Menyilangkan kakinya seperti putri putri raja. Tetapi seringai yang tajam dengan gigi rata tetapi 2 taring yang kecil. Duduk di pinggiran meja kayu jati itu. Akupun menangis sejadi"nya. Aku memberitahu pada mang aji apa yang aku lihat.
Tetapi, semua orang tidak melihatnya. Tak satupun. Bahkan mang aji.

Itu adalah pertama dan terakhirnya aku bertemu makhluk seperti itu. Hingga saat ini, aku masih bisa merasakan kehadiran makhluk sebangsanya dan terkadangpun merasakan dia menampakkan dirinya.

Akan aku ceritakan semua pengalaman hidupku. Dalam, buku harian seorang indigo.

Jin Hitam

Walaupun kehidupanku tidak biasa dari orang kebanyakan, tapi aku menjalani hidup layaknya manusia normal. Sekolah, belajar, main, gaming, dan yang lainnya.
Saat itu aku duduk di kelas 3 SMP. Kelasku berada disamping tangga. Penerangannyapun tertutup pohon disamping kelas. Notabenenya kelasku bersebelahan dengan parkiran dan banyak pohon rindang. Sekarang smp ku telah dirombak habis"an. Yang tadinya hanya ada 2 lantai. Sekarang sudah 3 lantai dan sangat megah. Maklum, smpku adalah smp favorite kedua dibilangan jakarta selatan.
Waktu ujianpun tiba. Aku sedang ujian semester, dengan sangat antusias aku mengerjakan soal-soal yang diberikan. Saat itu aku ingat, matematika.

Samar" aku mencium bau busuk yang menyengat. Aku menanyakan hal ini pada teman sebangkuku, Sarah.
"Rah, cium bau bangke tikus ga ?"
"Ah ngga mon. Ngaco lu" Sarah menimpali.

Bau itu tak kunjung reda. Tapi..... sosok itu muncul. Berjalan didepan white board, dengan tangan kebelakang. Berkeliling kelas melihat lembar soal dan jawaban dari semua siswa. Layaknya seorang guru.
Anda penasaran bagaimana bentuk makhluk itu ?

Dia hitam. Legam. Seperti dia menyapukan semua spidol hitam yang ada didunia ini. Kepala botak plontos tanpa rambut sehelaipun. Botaknya tak bukan hanya kulit.
Dengan baju terusan hitam seperti daster. Panjang hingga mata kakinya. Tapi hanya sampai siku tangannya saja. Bisa dibilang gombrong.
Tidak fit dengan badannya.

Dia melihatku. Sepertinya dia menyadari bahwa aku memperhatikannya. Saat dia menghilang, aku heran. Yahh mungkin seperti biasa. Makhluk yang biasanya aku perhatikan, biasanya langsung hilang entah kemana.
Tapi dia berbeda. Saat dia menghilang, akupun melanjutkan mengisi lembar lembar jawaban matematikaku.
Saat aku menengok lembar soal untuk dikerjakan. Ada baju hitam dipandanganku. Baju itu sama seperti baju yang dipakai jin tersebut.
Aku tidak berani mendangak keatas. Keatas badan makhluk itu.
Dalam diam, aku memberanikan diri membaca surat An-Nas. Ibuku memberitahu bahwa jika aku takut akan hal-hal goib, aku disarankan membaca surat An-Nas. Saat aku membaca itu, Perlahan baju hitam pekat itu sirna perlahan. Dan akupun langsung mengerjakan ujian matematikaku.
KASKUS Ads
image-url-apps
mana nih cieritax?
image-url-apps
salken yah sist semoga ceritanya bisa cepat di lanjutkan emoticon-Big Grin soalnya penasaran nih hehe

Tengkorak dan Hantu Muka Hancur

Masih saat-saat SMP. Tapi ini adalah pengalamanku saat SMP kelas 2. Rencananya aku mau main ke rumah temanku di pondok cabe. Aku, Siti dan Diana mau main ke rumah Tri. Rumah tri di pondok cabe dan kita janjian pulang sekolah. Tri juga sama denganku, bisa melihat hal serupa. Kami kadang suka berdiskusi dengan hantu kamar mandi smpku. Wanita dengan muka rusak, lidah yang bercabang menjulur dan berliur. Dia menempati bilik kamar mandi no 3 atau bisa dibilang kedua dari pojok. Karena bilik kamar mandi smp kami ada 4 bilik.
Hantu wanita muka hancur dan lidah bercabang dua itu selalu berada dilangit-langit bilik no 3. Seperti punggungnya menempel diplafon dengan tangan yang mencengkram plafon layaknya manusia yang sedang menirukan cakar kucing. Aku tidak pernah menggunakan bilik no 3 itu. Biasanya aku menggunakan bilik no 2. Terkadang rambut wanita itu masih terlihat di plafon bilik 2.

Sepulang sekolah, aku dan ketiga temanku sepakat menempuh jalan kaki ke pondok cabe dari Jl. Bandung. Anda tahu, Jl Bandung terkenal dengan keangkeran jembatannya. Tapi bukan disini aku menemui dua makhluk tersebut.
Apabila kita tempuh dengan berjalan kaki ke pondok cabe, kita akan melewati kuburan pondok cabe yang sangat sangat tidak rekomen untuk dilewati malam hari.
Sebelum kuburan pondok cabe, dulunya orang bilang ilalang tinggi itu tempat jin buang anak atau sering kali terjadi pembunuhan dan mayat yang dibuang ke ilalang tinggi itu.
Entah setan mana yang mempengaruhi kami berempat untuk beruji nyali melewati kuburan tersebut. Kuburan pondok cabe punya 2 gerbang masuk ke makam (mungkin aku sebut itu makam, agar lebih sopan). Gerbang satu, berada dibelakang makam dimana gerbang pertama yang kami temui saat masuk ke gang samping makam. Gerbang kedua, saat kita keluar dari gang makam.

Saat baru memasuki gang, perasaanku sudah tidak karuan. Bisa dibilang itu bukan gang, hanya jalan setapak kecil di sebelah kanan tembok makam dan sebelah kiri jalan, adalah ilalang dan kebon kosong.
Digerbang pertama, aku tidak menemui apapun. Tapi saat kita berempat berjalan melalui tembok makam, aku merasakan ada yang mengikuti kami.
Walaupun aku tidak menoleh kebelakang tp mata batinku tau, apa yang mengikuti kami dibelakang. Aku mendeskripsikan makhluk itu ke Tri, dia bilang. Dia merasa ada yang mengikuti tapi dia tidak tahu makhluk seperti apa.
Makhluk itu jalan sekitar 2 meter dibelakang kami. Seperti tengkorang, tapi jalan dengan tak bertulang. Dia berjalan seperti molusca tanpa tulang dan engsel. Seperti yang ada di Lab Biologi, orthopedi dan kerangka-kerangka tulang manusia. Makhluk itu berjalan seperti tidak ada engsel-engsel yang menopang.

Aku terus mengucap tasbih dan tak lupa surat An-Nas. Belum sampai situ, saat kami sudah sampai pada gerbang depan, aku melihatnya. Sangat sangat menyeramkan.
Dia memakai baju hitam seperti yang dipakai jin di kelasku itu. Mukanya, sangat mengerikan.
Lingkaran mata sebelah kiri utuh tapi, bagian lainnya rusak. Merah dan keluar nanah serta koreng yang menutupi sebagian. Tampak sangat sedih dan ingin keluar dari gerbang tersebut. Saat aku ketik ini, paha sebelah kiriku terasa panas.

Aku memberitahukan pada ibuku apa yang terjadi. Dan minggu depannya aku ditelpon saudara jauhku. Dia bilang, ibuku cerita kalau aku melihat makhluk dengan muka rusak. Dia meneruskan, bahwa saudara dari suaminya 2 minggu lalu jadi korban perampasan motor di taekan jalan ke pondok cabe lewat jalan bandung. Dan di makamkan di makam pondok cabe.
Mukanya di sekap dan dibubuhi saos sambal ke seluruh muka. Aku hanya bisa bergidik dan lemas mendengarnya. Wallahu alam. Aku kembalikan kepada yang maha kuasa karena manusia setelah meninggal ruhnya kembali kepada YME.

-----------------------------UPDATE-------------------------------

Jumat malam aku diajak ayahku menemui temannya dibilangan Pondok Cabe. Ini mengingatkanku akan muka hancur dan tengkorak. Malam itu gerimis sehabis isya. Aku sudah mewanti-wanti ayahku untuk tidak melewati Jl Bandung yang tembus ke Pondok Cabe. Akhirnya ayahku mengambil tembusan Jl Jakarta di samping Bioskop Dinasti yang terkenal di jamannya itu yang sekarang berubah menjadi Cinere Square/Living Plaza.
Tetap saja, jalanan tembus menuju Pondok Cabe masih sangat gelap tanpa penerangan dan juga melewati jembatan. Saat melewati jembatan aku hanya bisa memejamkan mata. Takut akan hal-hal mengerikan aku lihat kembali. Ayahku yang menyadari aku memegang ujung bajunya dengan kencang, hanya terkekeh melihat tingkahku. Sesampainya di rumah Kang Aris, teman ayahku. Ayahkupun memulai pembicaraan dengan topik, "Monik takut lewat kuburan Pondok Cabe".
Aku ditanya, apa yang dilihat ? Akupun menuturkan bahwa pada saat aku SMP, aku melihat makhluk muka hancur dan beberapa hari kemudian di telepon oleh saudaraku bahwa mahkluk tersebut adalah tukang ojek di sekitaran pondok cabe.
Kang Aris pun menuturkan bahwa itu adalah kenalan dari saudaranya. Dia menjelaskan bahwa tukang ojek itu dibunuh dan di rampas sepeda motornya, kepalanya di benturkan ke tiang listrik yang ada di samping pintu makam yang aku lihat. Mukanya yang hancur karena sambal yang dibeli di warteg. Warteg yang ada di dekat rumah Kang Aris. Pelaku membeli sambal yang begitu banyak dengan alibi untuk dimasak dirumah. Malam dimana tukang ojek itu di bentur-benturkan ke tiang listrik ternyata berteriak minta tolong. Warga sekitar mengira suara tersebut adalah suara makhluk halus karena suaranya terdengan jelas dari makam. Warga tidak mengira bahwa itu adalah orang yang berteriak minta tolong.

Pelaku akhirnya ditangka dengan cara yang tak lazim. Yaitu dengan melibatkan paranormal atau orang pintar sekitar. Memasukkan mediator seperti halnya dengan reality show pada tv swasta tengah malam. Mediator mengatakan untuk segera mengejar pelaku. Karena motor korban akan di larikan ke Lampung. Kang Arispun di tanya, jalur mana dari Pondok Cabe yang akan jadi tembusan ke daerah Lampung. Kang Aris menuturkan biasanya dibawa dari BSD melewati perkampungan warga.

Pelaku ditangkap persis saat sedang bernegosiasi dengan makelar motor yang akan membawa ke pelabuhan. Itulah mengapa Kang Aris tahu persis cerita tentang "Muka Hancur".

Jin Bercula

SMA. Dan SMAku jauh, melewati lampu merah fatmawati dan setelah lampu merah D'Best. Sebelum ITC Fatmawati. Perjalanan dari rumahku ke sekolah memakan waktu satu jam. Pada waktuku dulu, sekolah masuk pukul 06.30 dan pulang pukul 15.00. Sangat jenuh bukan disekolah ? Apalagi kalau kita harus menempuh les yang sangat padat. Bisa-bisa menyentuh kasur di rumah pukul delapan malam.

Singkat cerita, hari itu aku berangkat pukul setengah 6 pagi. Wajar saja, karena jika matahari sudah menampakkan dirinya, itu berarti tanda aku terlambat ke sekolah.
Pukul setengah 6 pagi masih terlihat ibu-ibu yang menjual sayur dekat rumah. Saat masih di dalam gang rumah, dibelokan itu aku melihatnya. Di dalam pekarangan tetanggaku, dia berjalan. Syukurlah dia tidak menengok ke arahku.

Sosok itu tetap menggunakan baju hitam, seperti yang dipakai oleh jin botak dan hantu muka rusak di makam pondok cabe. Anehnya, selama hidupku saat itu aku baru melihat jin dengan wujud seperti itu.
Botak. Garang. Dan BERCULA! Ya, seperti tanduk tapi aku ingat, itu seperti cula dari badak. Kalau tanduk yang biasa aku lihat adalah di area kepala. Tetapi ini berada tepat di tengah jidatnya.
Cula itu berwarna hitam tapi di pangkalnya berwarna hijau kelam. Dia berjalan lurus tetapi aku melihatnya dari samping. Banyak guratan-guratan seperti urat di tanduknya.

Malamnya aku bertanya kepada ayahku, jin jenis apa itu. Ia menjawab bahwa itu jin jahat. Sampai saat ini aku tidak pernah lagi melihat sosok itu dipekarangan tetanggaku. Jujur, jin paling seram yang pernah aku lihat, adalah jin itu. Auranya sangat tidak menyenangkan. Tetapi tidak ada bau-bau busuk yang menyengat. Oh iya, tinggi jin itu seperti manusia normal. Dia berjalan dengan kaki tidak beralaskan apapun.

Semoga tidak pernah ada lagi jin bercula yang aku temui. Bila jin jin dengan tubuh menjulang ke langit, aku sudah terbiasa dengan itu (Genderuwo) dengan mata merah menyala seperti batu delima tetapi sangat besar. Hmm aku rasa aku sudah terbiasa melihat itu.

Kota Tua

Pertama kali aku ke wisata kota tua adalah saat aku kelas 1 sma.
Awal masuk sma, aku reuni dengan teman smp. Bus transjakarta saat itu masih menjadi primadona.
Saat weekend, semua koridor dipenuhi calon penumpang. Tak ayal, busway kala itu menjadi transportasi wisata.

Tak mau ketinggalan, aku, Susan, Haqi dan Rahel ingin mencicipi suasana busway yang digadang" akan menyerap ribuan penumpang untuk angkutan kota.

Berangkat dari terminal blok M, kami mengantri selama 1 stgh jam. Karena penuh kami bercanda riuh hingga tak terasa kita sudah mendapat antrian pertama.
Kita duduk paling belakang. Tak lupa kita berfoto menunjukan kenorakan kita betapa kita sudah menaiki busway, sang primadona ibu kota.
Kita tak tahu kemana arah busway ini. Karena saat itu kita masih awam antara turun seperti naik kereta api atau bisa turun layaknya naik angkot.

Kami tiba di penghujung halte. Yaitu kota tua.
Sekitar berjalan 10 menit kami sudah tiba di musium Fatahilah.
Aura negative sangat kental. Aku merasa pusing karena terserap aura negative. Perasaan pusing yang tak bisa digambarkan dan tak bisa diungkapkan. Seperti kita baru 5 menit tidur, dibangunkan dengan cara dikagetkan. Yah, kurang lebih seperti itu rasa pusing yang aku alami.

Kami berkeliling. Dan tiba di pelataran depan museum Fatahillah. Disana aku seperti tersedot ke waktu yang lampau.
Aku melihat seorang pria di tengah-tengah ubin abu-abu. Persis ditengah-tengah. Aku bergidik ngeri. Dia terpasung!! Dengan kepala masuk ke lubang kayu . Tangan yang juga terpasung. Kepala dan tangan dengan kayu yang sama, sejajar kepala dan tangan. Perawakan pria itu, seperti sudah 40 tahunan. Tanpa baju tetapi masih menggunakan celana selutut. Celana lusuh seperti karung terigu, tetapi itu pakaian yang dijahit dan dijadikan celana.
Dikelilingi oleh warga yang melingkar. Menyaksikan pria itu dipasung. Di kiri kanan pria itu terdapat orang pribumi tetapi menggunakan senjata dan berpakaian seperti prajurit dengan warna baju biru dongker. Seperti marching band. Topi yang mengerucut keatas.
Di depan prajurit dan pria itu ada seorang berkebangsaan eropa dengan pakaian berwarna putih, tetap seperti marching band. Tapi tali yang dikaitkan dibaju berwarna emas. Sepatu boots selutut. Celana 2 centi diatas lutut celananyapun terlihat ketat. Berjenggot tipis panjang dan menunjuk" lantai dan para prajurit diperintahkan untuk membuat sang pria tersebut berlutut. Akhirnya sang pria menaruh lutut sebelah kiri terlebihdahulu. Baru lutut sebelah kanannya.
Sang prajurit mendorong" bahu sang pria. Sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan. Aku sangat ingin berteriak. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya terasa badanku berputar putar di tempat itu.
Belum selesai aku menyaksikan pria itu, tubuhku berputar mengarah ke gedung museum Fatahillah. Tak aku sangka. Pintu besar itu tertutup rapat akan tetapi semua jendela terbuka. Banyak wanita eropa dan pria eropa menyaksikan keluar. Aku tahu apa yang mereka saksikan. Semua dalam keadaan duduk. Tapi ada satu yang dalam keadaan berdiri.
Seseorang dengan baju marching band. Beludru biru dongker tapi bajunya terlihat seperti warna hitam. Aku tak pasti. Di kedua pergelangan tangannya ada sesuatu melingkar. Seperti rumbai-rumbai bahan shiffon berbentuk terompet.
Dia berada dijendela tengah paling atas. Tangan kanannya menunjuk kearah pria itu.

Dan saat itu pula aku ingin melihat apa yang terjadi terhadap pria itu. Tapi sayang, saat aku ingin berbalik badan. Semua kembali normal seperti sedia kala dimana aku pertama kali menginjak tempat itu.
Riuh muda mudi berfoto dan banyak pedagang menjajakan dagangan kopi dan asongannya.

Setelah itu aku membeli tiket untuk masuk kedalam museum.

Akan kubagikan cerita apa yang aku alami saat masuk ke dalam museum.

Kota Tua II

Saat aku membeli tiket dan masuk ke dalam, kita langsung menaiki tangga dan banyak orang berfoto-foto.
Karena mata batinku sudah beradaptasi dari pertama datang, aku memberanikan diri melihat ke beberapa waktu yang lalu.
Selain bisa melihat makhluk astral, aku juga bisa melihat kejadian beberapa tahun kebelakang dengan memegang salah satu benda atau tembok bangunan tersebut. Akupun bisa melihat kedalam rumah tanpa aku masuk ke rumah tersebut. Contoh, temanku ingin aku melihat rumahnya yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Aku bisa mendeskripsikan apa saja yang ada dirumah tersebut. Aktifitas apa yang sedang dilakukan di rumah tersebut. Dan flash back ke beberapa tahun kebelakang tempat apa itu sebelum rumah temanku. Melihat disini bukan dengan kasat mataku. Tapi aku seakan tersedot ke masa lalu dan mengalami kejadian seakan" aku berada disana.

Kuberanikan memegang tangga dipintu masuk museum Fatahillah. Alangkah terkejutnya saat ada noni belanda kurus dengan baju kuning rok menggembuh dan sarung tangan putih hingga ke siku. Dia menembusku. Membawa piring dengan isi kue kue kecil, terlihat lezat. Tapi disana riuh dengan orang" berpesta. Banyak orang bersenda gurau. Bahasa yang tidak aku mengerti. Alunan lagu klasik bergema dari atas tangga. Kebanyakan pria mengenakan pakaian dari bahan beludru. Biru dongker, hitam, dan merah maroon mendominasi pakaian pria-pria tersebut. Sedangkan para wanita memakai pakaian terusan dengan rok terkembung.

Aku melepas tangga kayu tersebut. Kepalaku dibuat berkunang-kunang. Memang, jika aku pergi terlalu jauh. Badan ini terasa sangat lelah. Kalau diibaratkan bermain dotA, mana ku sudah berkurang.
Berlanjut ke lantai atas tempat di mana jendela" terbuka. Aku kearah jendela yang paling tengah. Aku penasaran, ku arahkan pandanganku ke luar jendela. Dan aku terkejut. Semua pemandangan bisa dilihat sempurna dari jendela ini. Aku ingat akan pria dipasung tersebut. Kuberanikan diri memegang pinggiran jendela berwarna hijau itu.

Astagfirullah. Dibelakangku ada noni yang duduk dengan dagu terangkat. Dan disamping kiriku ada pria dengan baju beludru. Itu adalah biru dongker. Ya, kini aku jelas bisa melihat warna baju pria kolonial itu. Dia sedang bertolak pinggang dengan tangan kanan menunjuk kearah luar. Aku palingkan pandanganku keluar. Pria dengan pasung di kepala dan tangan, dua pengawal, satu pengawal berkulit putih dengan banu putihnya itu. Semua itu berhubungan.
Suasana yang mencekam. Berbeda sekali dengan situasi saat aku memegang tangga kayu itu.
Pria pasung dikelilingi oleh banyak orang. Membentuk lingkaran tetapi sangat jauh jaraknya dengan si pria pasung. Dibelakang pria pasung, di barisan lingkaran itu ada ibu paruh baya dan satu ibu muda menjerit dan menangis meraung. Ada anak kecil yang dipeluk si ibu muda membelakangi pria pasung. Anak kecil itu sepertinya menggenggam kuat kebaya lusuh. Seketika, aku mendengar pria disampingku berteriak. Aku tidak mengerti apa yang dia teriakan. Sedetik kemudian, terdengar suara letusan yang sangat kencang. Sontak aku melepaskan peganganku. Aku sempoyongan. Ku kuatkan diriku dengan menarik nafas panjang dan dengan basmalah. Terus hatiku berdzikir. Sungguh pengalaman ke kota tua yang sangat sangat menegangkan.

Tiga Hantu Belanda

Tak ubahnya pencarian jati diri remaja, remaja tahun 90an identik dengan dunia game online. Akupun begitu. Mencoba hal yang belum aku ketahui. Dari sini aku mempunyai teman dari seluruh kota di Indonesia. Salah satunya Buitenzorg. Kota hujan yang saat musim kemarau pun hujan.

Aku mengenal banyak teman di kota ini. Sebut saja dia Opor. Dia bertempat tinggal di tajur, setelah ekalokasari atau elos. Rumahnya berseberangan dengan toko tas dan sepatu oleh oleh Tajur.
Terkadang kalau aku main kesana dengan teman yang lain, berbelanja dengan jalan kaki. Sungguh kota yang sangat sejuh. Paru paruku seakan diganti dengan yang baru.

Hari itu, cuaca cerah tanpa hujan di kota hujan. Aku dan teman-teman duduk dibalkon rumah Opor menghadap ke pemandangan indah. Lekungan tol jagorawi mengindahkan pandangan kita. Kamipun bisa melihat rumah rumah masyarakat dari atas sini. Tapi didepan balkon ini, ada pohon mangga besar yang sudah lama menghiasi tempat itu.
Balkon rumah Opor bukan ada di depan rumah, tapi di samping. Rumah Opor bisa dibilang rumah tusuk sate. Jalanan lurus, rumah Opor sebagai sumbu dari jalanan tersebut.

Remaja saat itu sangat menyenangi kisah" misteri. Pukul 9 malam, anak-anak mulai membuka percakapan. Apa saja kejadian yang ada di sekitaran rumah ini. Tapi aku tidak fokus mendengarkan. Karena aku terfokus pada sosok yang sangat ramah di batang pohon mangga tersebut. Pria bule dengan hidung mancung, rambut kuning keemasan, mata biru dan perawakan atletis tersenyum ramah tanpa kengerian. Duduk di batang mangga tanpa memainkan kaki. Dengan tangan memegang batang mangga tempat ia duduk.
Sadar dengan apa yang aku lihat, temanku Echa menanyakan langsung kepadaku. "Disitu ada ya mon ?"
Aku kaget. Dan ku deskripsikan apa yang aku lihat. Entah mengapa aku melihat makhluk itu terasa sejuk walaupun ada secuil rasa ngeri. Mengingat dia adalah makhluk lain.
Saat aku selesai berbicara pada Echa bagaimana rupanya, aku kembali melihat batang pohon mangga tersebut. Terlihat ada 2 makhluk lagi bertengger disana.
Ada pria bule persis seperti dia, dua kali lipat umurnya dan satu wanita bule dengan rambut ikal keriting berwarna coklat gelap. Anehnya mereka hanya diam saja, aku merasa ngeri dan masuk kedalam.
Semenjak saat itu apabila aku main kerumah Opor, aku selalu menyempatkan melirik kearah pohon mangga itu. Siapa tahu, si tampan muncul kembali.

Menutup Mata Batin

Sepertinya ayahku mulai khawatir dengan keadaanku saat ini. Aku jadi sering tidur malam dan apabila ada yang mengikutiku, aku langsung sakit panas. Aku sembuh bila aku sudah minum air doa dari mang aji.
Ayahku sungguh sosok ayah yang sangat memperhatikan anaknya.
Ayahku mempunyai ide untuk menutup mata batinku agar aku dapat hidup tenang. Tersebutlah Mbah Karwo (Nama disamarkan) dia tinggal di meruya ilir.
Setelah ayahku memberitau maksudnya untuk mengajakku ke Purworejo bersama dengan Mbah Karwo. Aku tidak mau karena tidak pernah datang ke tempat itu. Akupun menentang kalau kalau hal ini berbau mistis. Berdoa hanya kepada Allah yang satu.

Singkat cerita aku pergi ke Purworejo dengan menggunakan mobil pribadi. Mbah Karwo menempuh perjalanan dengan kereta. Karena rumah Mbah Karwo berada di meruya ilir. Nalarku tak sampai. Mengapa tidak kita pergi saja ke tempat Mbah Karwo di meruya ilir ? Kenapa harus jauh ke Purworejo ? Pandanganku kosong nanar jauh ke luar jendela mobil.
Mungkin ada jawaban sesampainya aku di sana.

Kami tiba disana malam hari. Aku, ayah dan adikku tidur di rumah Mbah Karwo di Purworejo.
Aku ingat, waktu itu malam satu suro. Di depan rumah Mbah Karwo ada pertunjukkan wayang semalam suntuk. Aku tak mempedulikan. Mata ini teramat kantuk. Ayah bilang, besok malam kita akan ke petilasan Pangeran. Aku lupa, nama pangeran itu. Mungkin jika ada yang tinggal di Purworejo, paham. Ada petilasan siapa.

Malam itupun tiba. Aku pergi ke petilasan bersama Mbah Karwo. Kami semua diperintahkan berdoa memohon kepada YME walaupun yang ada didepan kami adalah bangunan kecil berbentuk setengah lingkaran. Lagi lagi aku tersedot ke dunia beberapa waktu silam. Aku melihat orang sedang membangun sesuatu tetapi sebuah tempat yang kecil. Aku sadar, sepertinya 7 orang ini akan membangun bangunan kecil berbentuk setengah lingkaran ini. Mereka terlihat seperti mengawasi sekitar. Tak ada yang berbicara, hanya bekerja. Ada 1 orang yang berbisik kepada satu orang lainnya. Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan pria itu. Sekelilingnya adalah banyak pohon pohon dan gelap. Mungkin waktu itu adalah malam.
Saat aku tersadar, aku melihat adik dan ayahku memejamkan mata seraya berdoa. Aku yang tidak suka akan hal ini mencoba safari mata.
Aku melihat dikiriku. Seorang pria berdiri menggunakan pakaian seperti orang yang akan menghadiri kontes Ibu Kartini 21 April.
Aku perjelas penglihatanku. Rupa yang sangat kalem, adem seperti artis Dude Herlino tapi dengan bentuk wajah yang oval. Tirus.
Bajunya hitam mirip dengan pagar bagus dipernikahan adat jawa. Tetapi kharismanya terlihat mengagumkan. Dengan tangan diperut seperti paduan suara kampus yang mengiringi wisudawan saat prosesi wisuda. Dia tidak memakai celana melainkan sarung rapat berwarna coklat dengan corak keemasan. Kepala dihiasi blangkon kaku. Badan yang tegap dan perawakan tinggi. Aku tak bisa memalingkan pandanganku terhadapnya. Aku terus memandanginya tapi dia tidak jua pergi. Aku kembali melihat adik dan ayahku. Sesaat kemudian aku melihat tempat makhluk itu berdiri. Ternyata dia masih berdiri disana. Tidak merubah pose yang sebelumnya. Tangannya masih seperti kelompok paduan suara. Pergelangan tangan kirinya digenggam menggunakan tangan kanan. Diletakkan persis dibawah pusar.
Tak terasa Mbah Karwopun selesai. Seiring dengan itu, pria itu juga hilang.

Kamipun pulang ke rumah Mbah Karwo. Aku ditanya, "lihat apa saja ndo?". Aku ceritakan apa yang aku lihat.
Dia terkekeh tertawa kecil. "Ganteng yaa cowoknya ? Lhaa iku sing jeneng e Pangeran."
Terjawab sudah semua itu.

Mbah Karwo mendekat padaku. Dia berbisik, "bismillah ndo".
Dia mengusapkan tangannya ke mataku. Dimulai dari ubun-ubun kepalaku. Berakhir dihidungku.

"Wis, saiki sampean wis ra iso ndelok sing aneh-aneh."

Manjur ternyata! Aku sudah tidak bisa melihat dan merasakan itu semua. Hidupku juga tidak ada rasa kecemasan. Tapi itu semua hanya berlangsung satu bulan. Aku melihat lagi wanita menembus tembok kelas kampus. Aku hanya bisa bilang, "Yaaahh. Gini lagi."

Mencari Maling

Aku teringat. Saat itu aku sd. Sedang berlarian mengejar layangan. Ya, waktu kecil aku dikenal tomboy. Sepeda bmx, layangan, gundu, itu semua pernah kumainkan. Tapi sekarang aku sudah tampil feminim. Rambut panjang, wajah yang yaaa lumayan sedap dipandang, lulur, masker, tak jarang aku suka ke salon merapikan rambutku.

Saat aku asik mengejar layangan dikebun belakang rumah, Mama Ndah. Panggilan akrab kakak dari mamaku. Memanggilku setengah berteriak.

"Nik, ikut mamah yukk. Ntar mama ndah beliin gambaran". Dengan tawaran yang sangat menggiurkan. Mengingat gambaranku sudah habis, aku selalu kalah jika bermain dengan Yoan sepupuku. Akupun antusias mengikuti mama ndah. Aku disuruhnya mandi, ibuku memandikanku dan memakaikanku baju pergi.
"Emang mau kemana mah ?" Aku bertanya kepada ibuku.
"Udah ikut mama ndah aja. Mau ketemu orang." Jawab ibuku, seakan sudah mengetahui bahwasannya aku terheran dibuat mereka.

Aku mengantuk. Dalam perjalanan aku hanya tidur. Aku terlalu capai bermain seharian.
Sesampainya kami di rumah gaya betawi. Yang halaman depannya luas. Seorang bapak-bapak dengan kaos putih polos merk swan sepertinya. Dengan peci hitam dan sabuk hijau mirip dengan kakek dari ibuku. Ibuku adalah keturunan betawi tulen. Ayahku jawa tulen. Dan aku adalah perpaduan jawa betawi alias jabet.
Mama ndah berbincang kepada bapak itu. Dengan aku mendengarkan, aku jadi tahu apa maksud kedatangan kami. Dan maksud aku turut serta bersama mama ndah.
Aku dimintai tolong melihat orang yang mencuri uang mama ndah hasil menjual rumah. Apabila aku yang melihat, aku bisa kenal siapa yang mengambil uang itu.
Bapak itu mengeluarkan cincin dari sakunya. Dengan batu lumayan besar.
"Neng, bilang gini yaa. Ya Allah, izinkan saya melihat dengan caramu."
Terlihat guratan dari batu dari cincin itu berputar-putar. Batu yang tadinya berwarna dan bercorak kini berubah menjadi hitam legam sepenglihatanku.
Kembali bapak itu meneruskan berbicara.
"Ikuin bapak lagi. Ya Allah, berilah penerangan kepadaku."
Lama sudah aku tidak bisa melihat apa-apa. Hanya batu hitam legam. Aku lihat mama ndah menghela nafas panjang dan menopang dahinya dengan tangan kanan.
Aku selalu berseru dalam hati, yaa Allah berikanlah penerangan. Aku mau bantuin mama ndah.

Blassssss.
Bias cincin kini berubah. Seperti aku melihat ada orang membuka lemari. Lemari itu persis kepunyaan mama ndah. Tapi yang aku lihat, aku tidak mengenalnya. Aku tanyakan pada bapak itu. Dan aku ceritakan kepada mama ndah.

"Mah, monik ga tau ini siapa. Monik ngha kenal. Pake topi kaya jin dan jun yg jadi om jinnya. Pake baju merah. Celananya kaya punya jini oh jini. Sepatunya juga kaya om jin di tivi. Dia lagi ngambil duit mamah tuh tuh dipegang duitnya."

"Ohh itu jin mpo, kayaknya itu suruhan orang."

Akhirnya kami pamitan pulang. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi dengan uang mama ndah. Tapi, aku mendapatkan apa yang dijanjikan mama ndah. Gambaran.

Melayang

Hari yang aku tunggu selama dua tahun ini tiba. Aku menunggu sepupuku kembali ke Indo. Jodoh dia adalah keturunan penjajah Indonesia paling lama. Belanda.
Aku dan dia sangat dekat, saat belum menikah, kita sering menghabiskan waktu bersama. Menonton drama korea di rumahku atau dirumahnya di bilangan taman mini jakarta timur. Aku sangat sedih saat dia harus menikah dengan orang londo dan menetap disana. Pulang ke Indopun harus melewati rangkaian birokrasi yang lama dan hanya bisa tinggal di Indonesia paling tidak 100 hari paling lama. Aku sangat senang saat dia kembali lagi kesini.

Dia menyewa apartemen untuk 1 bulan. Karena kali ini dia hanya tinggal selama 1 bulan. Kali ini aku sangat bersorak gembira. Dia telah melahirkan anak perpaduan eropa dan asia. Aku sangat penasaran bagaimana rupa Alex, keponakan blasteranku.

Mba Novi, ingin aku menemaninya saat dia ada di Indo. Tapi waktu berkata lain. Aku hanya bisa menemaninya dikala aku tidak ada jadwal kuliah.
Apartemen mba Novi berada di kawasan jakarta timur. Dekat dengan banjir kanal timur. Atau juga dekat dengan rawa mangun. Sepuluh menit dapat di tempuh ke Mall Arion.

Waktu itu hari kamis, aku menginap di apartemen mba novi. Tak lupa aku ikutan rombongan menjemputnya di bandara. Saat melihat alex, aku kecewa. Aku sudah membayangkan bahwa perawakan dengan rambut pirang, mata biru bulat. Tapi sangat lucu, alex berambut hitam, mata coklat tapi kulit yang kemerahan seperti bapaknya.

Alex sedang pulas tertidur. Setelah seharian pergi ke ambasador. Mall favorit kami berdua. Oh ya, kali ini hanya mba novi seorang yang pulang tidak beserta suaminya karena dia terlalu rindu kampung halaman.
Tiba tiba alex bangun. Dan menangis sangat keras. Untuk usia 5 bulan, alex terlihat sangat bongsor. Mba novi pun mengangkatnya dan menimang alex. Tapi tangis alex tak kunjung berhenti.

Seketika itupun juga aku merasakan kesunyian. Sangat teramat sunyi. Tak ada suara mobil, ataupun suara mobil di jalan. Walaupun kami menyewa apartemen lantai 9, suara angin ataupun mobil masih terdengar dari sini.
Lagi lagi aku merasakan hal yang sudah biasa aku rasakan. Ya, perasaan adanya makhluk lain selain kami. Tapi aku tidak merasakan diruangan itu melainkan di luar ruangan. Bukan, tapi di luar gedung.
Aku membaca bismillah, dan benar. Aku melihat dengan mata batinku bahwasannya ada wanita dengan berpakaian putih, rambut panjang. Melayang di samping balkon apartemen kami. Dan itu tepat dimana jendela kamar alex berada.
Aku mendengarnya terkekeh dan berkata : "Adeeee, adeeeee. Hihihihihihihi"
Sadar kalau aku mendengar dia berkata, aku yang berada di meja makan jauh dari balkon berusaha berkomunikasi dengannya.

"Mau apa kamu?"
"Dedenya luucuuuuuuuu hihihihihihihihi akuu maaaaauuuuuu hahahahaahahaha" diakhiri dengan tertawa layaknya kemenangan.
"Dari mana kamu ikutin kami ?" Aku mengutarakan rasa penasaranku.
"Terowongan. Terowongan. Terowongan."

Aku sadar, bahwa saat aku pulang dari Ambasador. Kami melewati terowongan kasablanka. Tapi aku tahu dia bukan penghuni terowongan kasablanka. Aku yakin bahwa dia berasal dari kuburan kasablanka.

Puas dengan jawaban sang makhluk, aku mengambil air wudhu dan membaca surah Yassin. Saat aku membacakan surat yassin, perlahan lahan tangisan alex terhenti. Setelah selesai membaca, aku lihat kembali ke samping balkon. Tetapi ragaku masih berada di atas sajadah tempat aku membaca Yassin. Dan makhluk itupun sudah tidak melayang lagi dari ketinggian lantai 9.
Quote:


sudah update gan.. selamat membaca emoticon-Smilie
image-url-apps
Quote:

Mungkin kaya yang di film hellboy kali yak
emoticon-Matabelo

sis, numpang merapat di cerita teman senasib yah emoticon-Malu
image-url-apps
emoticon-Paw ninggal jejak di page one
Quote:


Iya gan, tapi ini makhluknya kecil gan.. bisa dibilang cungkring deh terus kerdil.. udah gtu ada tanduknya.. kalo hellboy kan tanduknya dipotong tuhh.
hiihh serem dah pokoknya emoticon-Mewek

Quote:


Silahkan gaann panggil nyang laen, cendolin lagi hahaha aus gan ><
image-url-apps
Membaca tulisan ini membuatku rindu pada seseorang emoticon-norose
Cepet pulih sayang agar kau juga bisa melanjutkan ceritamu emoticon-Kiss (S)

Buat TS maaf jadi curhat btw keep update yah emoticon-I Love Kaskus (S)
image-url-apps
pernah ketemu hantu yg ramah gitu ga sist? trus komunikasi sama mreka ga?
×