alexa-tracking

ALTERATION

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/550bc1fa32e2e6000f8b4571/alteration
ALTERATION
ALTERATION

Kata orang perubahan itu perlu, perubahan kearah yang lebih baik maksudnya. Gw memang setuju dengan semua itu. Kita tidak bisa terus-menerus stuck disuatu tempat yang sama. Atau lebih tepatnya keadaan yang akan memaksa kita untuk berubah. Tapi terkadang keadaan yang sangat sulit membuat kita berubah kearah yang salah.

Semua sikap-sikap buruk ala sampah masyarakat secara tidak sadar akan kita lakukan ketika kita sedang tertekan. Saat itu kita berada pada kontrol diri terendah. Dimana kita berada pada kondisi kekurangan iman, kekurangan cahaya hati, dan berada jauh dari jalan Allah. Lalu pada suatu saat akan ada hal besar yang datang dan mengubah semua perbuatan sampah ini. Hal yang sangat berharga dan sangat penting bagi kita.

Inilah yang disebut perubahan itu. Perubahan menuju kearah yang lebih baik dan lebih berharga dimata manusia dan Allah.


Quote:


Spoiler for INDEX:
prologx lumayan...... menggoda... kayak betis jekate 88...
keep apdet ya.... emoticon-Betty (S)
Part 1

.................................Sekarang...........................


“kringkring... kringkring... kringkring...”, suara alarm menggema ke segala penjuru kamar.
Gw yang sudah nggak tahan mendengar suara alarm yang menurut gw annoying ini, segera meraba-raba kearah suara itu berasal. Dengan mata masih belum mampu terbuka sepenuhnya, gw matiin itu alarm. Gw semalam memang mengatur alarm di hp gw tepat jam 3 pagi. Ada sebuah rutinitas yang harus gw lakukan pada jam tersebut.

Bunda sudah bangun dari tadi dan sudah sibuk dengan segala persiapannya untuk pergi ‘berperang’ ke pasar, iya bunda gw adalah seorang penjual sayur di pasar. Bunda memang menanami sedikit kebun belakang rumah dengan tanaman sayur-mayur, selain itu bunda juga sebagai pengepul sayur para tetangga. Rutinitas ini sudah bunda lakukan sejak ayah gw meninggal, pada saat gw kelas 2 SMP. Sampai sekarang yang notabene gw sudah kelas tiga SMA.

“Zaammm... sudah bangun belum ?”, bunda berteriak dari depan rumah buat bangunin gw yang sebernarnya sudah bangun.
“iya, Bun... Azam mau cuci muka dulu”, gw menjawab sekenanya aja.
“iya, buruan gih. Takut kesiangan ntar”, suara bunda mulai mengecil karena gw mulai berjalan ke kamar mandi.

Dengan kecepatan cahaya Gw mulai sikat gigi dan cuci muka menghilangkan bekas-bekas iler yang sudah mulai mengering dipipi.

“gila.. ternyata gw ganteng juga ya”, gw mulai membatin memuji kegantengan gw. Meskipun hanya bunda yang pernah mengatakan itu, gw tetep percaya diri bahwa gw memang ganteng.

Selanjutnya gw mengambil sepeda tua yang terparkir di pojok rumah. Mengecek ban dan segala tetekbengeknya tak lupa gw lakukan. Setelah gw rasa siap, gw mulai membawanya ke depan rumah. Dan 2 sepeda tua sekarang sudah terparkir rapi di depan rumah.

“sudah siap, Bun ?”

“sudah.. kamu naikkin semua sayurannya gih!”. Tanpa babibu lagi, gw segera naikkin semua sayur-sayuran dagangan bunda.

“sudah ini aja, Bun ?”, gw bertanya pada Bunda karena gw rasa sayurannya lebih sedikit dari biasanya.

“iya, kemaren memang cuma sedikit yang nganterin sayurannya ke Bunda. Ayo.. berangkat, ntar kalau kesiangan malah nggak habis dagangannya”

“siap”

Beginilah rutinitas gw setiap jam 3 pagi, nganterin bunda ke pasar. Gak tega aja kalau melihat bunda pergi ke pasar sendirian malam-malam. Sengaja gw banyakin sayuran di sepeda gw trus sisanya gw pasang di sepeda bunda. Selain itu, gw juga bantu-bantu jualan sebentar sampe subuh. Setelah itu gw sholat subuh di masjid deket pasar dan segera mengayuh sepeda pulang untuk persiapan berangkat sekolah, iya menunaikan kewajiban gw sebagai seorang pelajar.
gila men.... umur segitu ane masih alaly2x di jaman fir'aun...
Siip gan....... Lanjutkan.... emoticon-Cool
Part 2

Perkenalkan, nama gw Achmad Azam Almaliki, biasa dipanggil Azam. Anak pertama dan satu-satunya dari pasangan luar biasa, Abdullah dan Tini.

Gw dibesarkan dalam kesederhanaan dan kemandirian. Kesederhanaan karena gw lahir dan tumbuh di keluarga yang mempunyai perekonomian sedang, menurut gw gitu. “Apapun yang diberikan oleh Tuhan, kita harus mensyukurinya”, “Rezeki sekecil apapun kalau kita mampu bersyukur, akan terasa besar dan cukup”. Kalimat-kalimat seperti ini sangat familiar banget di telinga gw. Kedua orang tua gw memang menanamkan tentang sikap bersyukur kepada gw. Mungkin agar gw nggak minta sesuatu yang lebih ke mereka. Dan hasilnya, gw menjadi sosok yang perhitungan, pun dengan uang 100 rupiah. Setiap koin uang yang gw punya atau boleh ‘nemu’ dijalan, gw tabung dalam celengan yang gw buat sendiri. Setelah terkumpul cukup banyak, gw akan membelikannya sesuatu yang sangat gw pengenin dan tentunya punya manfaat jangka panjang buat gw. Inilah yang gw sebut tentang mandiri. Gw jarang minta sesuatu ke orang tua. Lebih tepatnya karena nggak tega.

Ayah gw meninggal ketika gw kelas 2 SMP. Dulunya beliau adalah seorang tukang becak. Ia bekerja mengantarkan para pembeli yang ingin berbelanja di pasar besar yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Pekerjaan ini ayah lakukan dari sekitar jam 1 malam sampek tengah hari bolong. Jika becaknya sepi, ia juga beralih profesi menjadi kuli panggul. Kemudia sekitar jam 3 sore, ia jualan bakso keliling yang ia ambil dari juragan bakso kenalannya.

Gw memang salut dengan kerja keras ayah dalam menghidupi keluarga. Kerja keras ini ayah lakukan juga karena ingin sekelai menyekolahkan gw sampe sarjana. Iya.. ayah ingin anaknya, yaitu gw mendapatkan pendidikan setinggi mungkin agar hidupnya nggak sesusah beliau. Sifatnya yang ramah dan penuh ‘guyon’ juga membuat gw sangat dekat denganya. Bisa dibilang kami sangat akrab, baik dalam hubungan sebagai sahabat maupun hubungan antara ayah dan anak.

Lain halnya dengan malam minggu. Kesibukan ayah ketika malam minggu adalah sebagai pengajar pencak silat di halaman depan rumah. Gw sendiri bisa dibilang adalah murid terbaiknya. Mungkin karena keturunan kali ya. Memang sejak gw masih ‘bocah’, gw udah diajari pencak silat sama ayah. Jadi nggak heran jika gw bisa jadi murid terbaiknya.

Sedangkan bunda gw seorang ibu rumah tangga. Setelah ayah meninggal, bunda mencoba menanami tanah belakang rumah dengan tanaman sayur sehari-hari. Bunda menjualnya di pasar dan untuk menambah sayur-sayurnya, ia membeli sayuran tetangga dan menjualnya lagi di pasar besar.

Sebagai anak yang mencoba untuk berbakti kepada orang tuanya, gw setiap harinya membantu bunda dengan cara membawakan sebagian sayur di sepeda tua peninggalan ayah. Kegiatan ini setiap hari gw lakukan sebelum berangkat sekolah. Tidak banyak memang yang dapat gw lakukan untuk membantu perekonomian keluarga. Semenjak ayah meninggal dunia karena kecelakaan, bunda memang banting tulang sendirian untuk mencukupi kebutuhan gw.

Terkadang gw berpikir kalau gw ini hanyalah anak tidak berguna dan hanya menambah beban bunda. Seperti mengetahui pikiran gw, bunda selalu bisa membuat gw menjadi ‘utuh’, menjadikan gw lebih sadar bahwa ini lah hidup dan kita harus menjalaninya.
Belajar adalah salah satu cara gw untuk mencoba membahagiakan hati bunda. Meskipun gw nggak pandai-pandai amat, tetapi ketika bunda melihat gw belajar, matanya seperti menyorotkan kebahagiaan. Dan itulah yang gw coba lakukan, membahagiakan hati bunda.
Part 3

Quote:


“klik.. klikk..”, suara kunci yang gw putar 2x menandakan bahwa hanya sang empunya kunci ini saja yang bisa membuka pintu ini.

Gw mulai melangkahkan kaki menuju sekolah. Gang demi gang gw lewati dan sesekali menyapa ramah para tetangga yang gw jumpai. Senyum mereka yang tulus menambah semangat gw untuk berangkat sekolah di pagi itu.

“Mang, ini kue yang kayak biasanya”

“iya, taruh aja di meja. Bekal lu udah mamang siapin di samping nampan noh”

“iya, Mang. Makasih”

Gw segera meletakkan kue buatan bunda yang dari tadi gw bawa ini. Sekaligus gw ambil bekal untuk makan siang di sekolah.
Mang Asep adalah tetangga gw yang buka warung kelontong di tepi jalan. Setiap harinya sambil berangkat sekolah, gw bawa kue buatan bunda untuk dititipkan ke Mang Asep. Selain uang yang bisa gw ambil di sore hari, di pagi harinya gw juga dikasih bekal untuk makan siang gw di sekolah.

Sambil membawa bekal ditangan kiri, gw melambaikan tangan kanan mencoba untuk men-stop bus warna hijau langganan gw. Ternyata pagi itu bus sudah penuh sesak oleh orang-orang yang hendak pergi ke kantor dan tak lupa puluhan siswa juga menambah sesak bus ini.

Aroma parfum yang menyengat dari seorang wanita karir didepan gw membuat gw ingin segera menyudahi perjalanan ini. Setelah 20 menit gw bergelantungan di tiang pegangan bus, gw mencoba keluar dari sesaknya bus.

Perjalanan ke sekolah gw lanjutkan dengan jalan kaki sekitar 5 menit. Gw lihat beberapa orang yang memakai seragam sekolah gw mulai berdatangan diantar sopir pribadi atau mereka malah menyetir mobil sendiri.

“zam.. ayok bareng”, Putra memelankan mobilnya dan menawarkan tumpangan.

“duluan aja, lagian kan udah deket”, gw menolak.

“halah.. bilang aja kalau lo takut muntah naik mobil gw”

“kampret lo ye.. itu karena mobil lo jelek aja”

“yaudah.. gw duluan kalau gitu. Ati-ati.. kalau ada semut minggir”

“brisik lo ya. Dah sono duluan”

Putra adalah salah satu dari sahabat gw. Dulu gw pernah diajakin jalan naik mobil Putra. Dan hasilnya gw jackpot parah. Padahal gw biasa naik bus kalau berangkat sekolah. Mungkin waktu itu karena badan gw nggak enak dan jalannya muter-muter kali ya. Gw sejenak mengingat tentang jackpot gw naik mobil Putra .

Dan akhirnya tibalah gw di sekolahan orang-orang tajir bin kaya, yaitu Duta International High School.
kencang juga t4 sekolah lo men....
keep apdet... tokoh perempuanx blm muncul...
sepertinya cerita bagus nih emoticon-Big Grin
Lanjutken gan emoticon-army
Quote:


Manteb banget baca ini gan emoticon-Jempol

Bagus nih ceritanya.. Keep apdet, gan
Part 4

..............................Beberapa Tahun yang Lalu.....................................

(sesuatu yang mengubah hidup gw)


“tok.. tok..”, suara pintu rumah gw diketok

“iya, sebentar”, bunda menjawab dan segera berjalan untuk membukaan pintu.
“nyari siapa ya, Pak ? silakan masuk”

“langsung saja, Bu. Kami dari kepolisian. Apa benar ini rumahnya Bapak Abdullah yang kesehariannya jadi tukang becak di pasar besar ?”, kata seorang pria tua berkumis yang mengaku sebagai polisi.

“iya. Ada apa ya Pak ?”

“begini Bu.. Pak Abdullah mengalami kecelakaan. Beliau ditabrak oleh seorang anak SMP dan sekarang beliau dalam kondisi kritis. Kepalanya mengalami pendarahan hebat”

Dalam hitungan detik, bunda langsung pingsan. Gw yang sedari tadi mengintip dari dapur langsung berlari menolong bunda. Setelah sekitar satu menit pingsan, bunda langsung bangun dengan tangis yang pecah.

Kemudian gw dan bunda diantar bapak polisi tadi ke rumah sakit terkait. Tangis bunda tak bisa dibendung. Dalam perjalanan ia selalu meneteskan air mata. Gw hanya bisa menenangkan bunda dan menghiburnya.

“tenang Bun.. Ayah kan orangnya kuat. Pasti ayah bisa selamat”, hanya kata-kata seperti itu yang dapat gw ucapkan untuk menenangkan bunda. Padahal gw sendiri belum tahu seberapa parah kondisi ayah. Dan satu yang sangat pasti, gw belum siap untuk kehilangan ayah.
Di rumah sakit suasananya sangat riuh. Para teman ayah sesama pebecak berkumpul disana. Mereka terlihat sedang memaki cewek yang sebaya dengan gw. Cewek itu terlihat sedang menyilangkan kedua tangannya di dada dan memasang tampang tidak bersalah. Ia terlihat seperti dilindungi oleh seseorang yang berseragam, seperti ia adalah supir dari cewek tersebut.

Tanpa memperhatikan keributan itu, bunda langsung menuju kamar tempat ayah dirawat. Bunda hanya bisa melihat ayah dibalik pintu dan tangisnya pun semakin menjadi.

“yang sabar ya, Bu”, Pak Rahmat menghampiri bunda dan mencoba menghiburnya.

“iya, Pak”, bunda menjawab tanpa melihat wajah Pak Rahmat.

“kejadiannya tadi begitu cepat. Saat Pak Dullah kembali setelah mengantarkan penumpang, ia ditabrak oleh mobil dan ternyata yang mengendarai mobil tersebut adalah seorang anak SMP. Kami langsung menangkapnya dan juga seseorang yang bersamanya”, Pak Rahmat menjelaskan kronologi terjadinya kecelakaan tersebut.

Setelah mendengar penjelasan dari Pak Rahmat, gw berasumsi bahwa cewek yang gw lihat tadi adalah anak SMP yang dimaksud Pak Rahmat sebagai orang yang menabrak ayah. Meskipun dia cewek, gw pengen buat perhitungan dengan itu anak. Emosi gw pun mulai naik ketika mengingat wajah tanpa rasa bersalah cewek tadi.

Gw kemudia ikutan mengintip ayah melalui kaca pintu kamar, tanpa gw sadari air mata ini mulai jatuh tak kuat lagi menahan beratnya sesuatu yang harus gw lihat. Gw melihat perban disekujur tubuh ayah. Anak mana yang kuat melihat peristiwa seperti itu.

Gw segera berlari menuju toilet rumah sakit. Semua tangis gw tumpahin disitu. Gw bener-bener belum siap untuk kehilangan ayah. Dan dititik inilah gw seperti menanam benih benci, dendam, atau apalah namanya kepada orang yang nabrak ayah gw.

Sekitar 5 menit gw menumpahkan segala kesedihan melalui air mata ini. Nggak biasanya gw nangis. Entah kapan terakhir gw nangis tapi yang pasti tangisan kali ini sangat menguras hati dan tenaga gw. Azdan subuh terdengar dari toilet tempat gw menumpahkan segala kesedihan. Gw langsung cuci muka untuk segera ke masjid menunaikan sholat subuh sekaligus untuk mendo’akan kesembuhan ayah.
Dipersimpangan toilet laki-laki dan perempuan, gw berjumpa dengan cewek yang menabrak ayah. Gw langsung meraih kerah dari baju yang dipakainya dan mendorongnya ke tembok.

“anj*ng.. lo kan yang nabrak ayah gw ???”, tanpa basa-basi gw langsung melontarkan pertanyaan sekaligus makian kepadanya dengan nada yang lumayan keras.

“iya. Orang gw juga nggak sengaja juga. Lagian bapak lu tu, ngapain jam segitu ada di jalanan, kan ngganggu orang yang pake mobil kek gw”, asli pengen gw tampol ini anak.

“bangs*t lo... udah salah, nggak ada rasa bersalahnya juga lo ya”, kemarahan gw semakin memuncak dan cengkeraman gw ke kerahnya semakin keras.

“biasa aja dong.. kan semua biaya pengobatan gw yang nanggung”

“anj*ng.. T*i lo...” gw sudah siap untuk menampar pipinya....

“udah mas. Biar kami yang akan memproses kejadian ini”, seorang polisi datang dan menahan tangan gw yang sudah siap dengan tamparan penuh amarah ini.

“iya Pak. Kalo perlu dihukum seumur hidup aja Pak”

Polisi itu langsung membawa anak itu pergi. Entah kemana gw juga nggak tahu, mungkin ke kantor polisi kali. Gw langsung meneruskan niat gw untuk sholat subuh yang sempat tertunda gara-gara cewek brengs*k nggak tahu diri.

Di dalam masjid rumah sakit gw melihat bunda telah selesai dari sholat subuh dan sedang menengadahkan kedua tangannya. Gw dengar suaranya yang sedang berdo’a. Suara yang parau karena terlalu banyak menangis.

Gw dan bunda keluar masjid bersamaan dan segera menuju kamar tempat ayah dirawat. Setiap kami melangkah, setiap kali itu juga kami mendoakan kesembuhan ayah. Air mata bunda pun tak dapat dibendung sepanjang lorong-lorong rumah sakit. Kami tadi memang sempat mengobrol mengenai harapan hidup ayah. Kata dokter-dokter, butuh keajaiban untuk kesembuhan ayah.

Kami dapati dokter yang menangani proses penyembuhan ayah baru saja keluar dari ruangan ayah. Dia lalu menghampiri kami dan menepuk bahu bunda.

“bapak sudah tidak ada Bu. Maaf.. kami hanya bisa berusaha dan Allah yang menentukan”, dokter berkata sambil mencoba menenangkan bunda.

Bunda langsung berlari ke dalam ruangan dan memeluk jasad ayah. Tak terkecuali gw, menangis dan meminta maaf tentang semua kesalahan, gw lakukan meskipun gw tahu ayah tak dapat lagi berucap, tak dapat lagi mengusap lembut rambut gw, dan tak dapat menyeka air mata yang mengalir seakan tak mau berhenti ini.

Selamat jalan ayah. Gw yakin ayah telah berada di tempat yang lebih baik dari dunia ini. Tempat yang penuh dengan keindahan, kenyamanan, dan tentunya tempat yang abadi. Tempat yang dihuni oleh orang –orang hebat. Sekali lagi selamat jalan.... Azam akan mencoba meneruskan perjuangan ayah untuk membahagiakan bunda.
Ceritanya bagus Gan,part 4 part yg menguras air mata
Waah............ ternyata ceritanya udah di update........... mantaap...... emoticon-Cool
Part 5

“atas pertimbangan tersangka masih dibawah umur dan adanya niat baik dari keluarga tersangka untuk membantu keluarga korban, yakni dengan menyekolahkan anak korban sampai lulus sarjana, maka dengan ini tersangka saya nyatakan bebas bersyarat”, kira-kira seperti itulah hasil dari sidang atas kecelakaan yang menimpa ayah. Cewek yang menabrak ayah dinyatakan bebas karena masih dibawah umur dan keluarganya mencoba ‘menyogok’ dengan membiayai sekolah gw sampai sarjan. Gw hanya bisa menerima semua hasil dari persidangan.

Sementara bunda sekarang sudah ikhlas melepas kepergian ayah. Meskipun terkadang sesekali gw jumpai bunda duduk termenung sendirian dan air mata yang ketinggalan mengiringi kesedihan bunda. Gw hanya bisa membiarkan karena gw sendiri masih belum bisa menerima kepergian ayah.

Kalau saja cewek brengs*k itu nggak menabrak ayah, pasti keluarga gw masih baik-baik aja. Bahagia dengan semua kesederhanaannya dan tersenyum ditengah semua kekurangannya. Kadang gw berpikir kalo hidup ini tak adil. Tuhan mengambil seseorang yang sangat berharga buat gw dan membiarkan keluarga gw semakin terpuruk diambang derita.

Kalau disuruh memilih, gw mending nggak sekolah tetapi ayah masih berada disisi gw. Selalu memberikan candanya, senyumnya, dan terkadang kalimat-kalimat bijaknya membuat gw selalu bangkit ketika gw sedang terpuruk. Gw hanya bisa tersenyum dan menitikkan air mata mengingat semua kenangan-kenangan indah yang telah diberikan ayah ke gw.

Awalnya gw berpikir bisa ikhlas menerima kepergian ayah dan bisa menjadi penggantinya untuk selalu menjaga bunda. Minimal gw berpikir kalau gw bisa meringankan beban bunda dengan membantu ini itu, mengingat gw sebagai laki-laki yang diberi kekuatan lebih dari seorang wanita. Tapi semua itu salah, Gw rasa ada sesuatu yang berubah dalam diri gw. Sesuatu yang entah mungkin itu apa, tetapi satu yang pasti, bahwa gw rasa itu akan membuat hidup gw semakin sengsara.

Gw menjadi pribadi yang tempramental, mudah marah. Ketika gw sedang ‘kumat’, gw langsung menghajar sesorang yang ada didekat gw. Hari-hari gw isi dengan adu jotos dengan teman satu sekolah ataupun orang yang menurut gw pantas mendapatkan bogeman gw. Pencak silat yang ayah ajarkan bukan menjadi ilmu bela diri, melainkan gw pake buat menghakimi orang-orang yang gw rasa memandang rendah diri gw. Gw hanya ingin memberi pelajaran kepada mereka agar lebih menghormati gw.

Gw menjadi pribadi yang suka menyendiri. Gw rasa semua teman gw tak berguna. Mereka tak pernah hadir di segala sedih gw. Dan setelah adanya perubahan dalam diri gw ini, mereka seperti jijik dengan gw. Mungkin mereka tak sudi menjadi seorang teman dari pemberontak seperti gw.

Mereka memang nggak salah sih. Mana ada orang yang mau berteman dengan orang yang suka berantem kayak gw. Yaa.. wajarlah kalau mereka menjauh dari gw. Tapi ya ini lah gw yang sekarang. Pribadi yang tempramen dan suka berantem.

Gw menikmati mata-mata picik yang menelanjangi gw dengan semua keburukan baru ini. Yaa.. ada rasa puas setelah melakukan segala aktivitas yang dianggap negatif oleh mereka.Gw haus akan perhatian, haus akan segala sorotan mata yang tajam, dan haus akan kasih sayang.
Quote:

haha.. tunggu aja Gan

Quote:

wokeemoticon-Hammer (S)

Quote:

diusahakan Gan. kalo nggak ada tugas dari dosen dah

Quote:

masa sih Gan ? byasa aja perasaan emoticon-Hammer (S)

Quote:

tetep pantengin Gan
hmmmmm.... gw rasa lo bakal ketemu lagi sama tuh cewe yg nabrak bokap lo... sabar dan ikhlas...
Ehmm gw akui cerita lo saat awal" ngeboenin, boring.
Tp pas ke sini" udah enak cerita lo. Di lanjut gan cerita lo gw tunggu kelanjutannya,gw pasti bakal jadi reader setia lo emoticon-Belo emoticon-Big Grin
Quote:


Ok ok
Tambah seru cerita ente gan......... I like it emoticon-Cool