alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/550b5bef1cbfaa19708b4567/dewi-fortuna

Dewi Fortuna

Setiap orang memiliki definisnya sendiri.


Quote:


Diubah oleh: iponglalu
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 2

Index

Entar ane taruh index dimari...

Part 1

“Rara bangun..Ayo bangun..cepeeeeet banguuuun..udah siang Rara..lu kan udah janji nemenin gua belanja kan?” Umay menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Rara kemudian menggoyangkan tubuh kecil itu dengan kesal. Mereka sudah membuat janji untuk jalan-jalan bareng hari ini. Tapi ketika Umay sampai di kos Rara, cewek malas itu ternyata masih jadi kebo di kasurnya.

“Gua baru tidur jam tiga May..bentaran deh..dua jam lagi aja ya” Rara kembali menarik selimutnya hingga ke ujung leher kemudian memiringkan tubuhnya.

“APA? dua jam lagi? Lu gila apa gimana? Emang lu pikir ini jam berapa Ra?” Umay dengan gusar kembali menarik selimut Rara “Gua siram lagi lo ya”.

“Ups..oke-oke-oke” Seketika Rara membuka matanya kemudian berbalik ke arah Umay yang tengah melotot kejam ke arahnya.
“Ampun, neng Umay, ya gua bangun” Rara bangkit dari tidurnya kemudian duduk di sisi ranjang. Seingat Rara terakhir kali Umay mengancamnya, ternyata dia tidak main-main, mengambil air segayung dari kamar mandinya kemudian mengguyurnya tanpa ampun. Tidak peduli kalau kasur, seprei dan selimutnya ikut basah. Jadi kali ini Rara tidak mau ambil resiko lagi.

“Nah gitu dong” Umay tersenyum puas penuh kemenangan.

“Gua cuci muka sama sikat gigi aja ya. Males mandi” Kata Rara polos sambil berdiri, masih mengusap-usap muka ngantuknya dengan malas. Sontak jawaban itu membuat Umay geram.

“Eh, denger baik-baik ya. Lu itu cewek Ra, dengerin… CE…WEK, wanita, perempuan, girl. Jadi bertingkahlah seperti yang sudah digariskan. Mandi sana yang lama”.

“Iya-iya..Gua mandi, tapi engga pake lama. Aneh bener, harusnyakan lu seneng, gua mandinya cepet. Lu jadinya engga nunggu lama-lama”
“Udah jangan cerewet mulu. Pokoknya kudu bersih. Ingat bersih. Jangan cuma kecipak-kecipuk kayak biasanya”.

“Ih..lu tu ya”.

“Cepeten..”

“iya-iya”.

Akhirnya Rara beranjak mengambil handuk kemudian menuju kamar mandi. Tidak ada gunanya berdebat dengan Umay. Rara melangkah dengan gontai ke kamar mandi.

Sumpah demi Tuhan, Rara sebenarnya sudah lupa dengan janjinya menemani Umay belanja. Itu janji seminggu yang lalu yang bahkan tidak pernah diungkit Umay. Kalau Rara ingat, mungkin Rara engga akan begadang sampai jam tiga pagi nonton bola. Bayangkan saja, malam minggu dan liga Itali lagi seru-serunya. Bagaimana mungkin Rara melewatkan tim favoritnya Juventus, yang sedang bertanding di kandang sendiri. Rara ini Juventini sejati.

Sebenarnya menemani belanja cuma modus Umay untuk melakukan rencana noraknya. Modus yang berbeda dengan motif yang sama. Umay sedang meniti karirnya menjadi mak coblang. Dan, Rara merasa menjadi tikus percobaan yang terlalu sering disuntik serum X. Hanya menunggu untuk berubah menjadi Hulk atau Kapten Amerika.

Krateria tikus percobaan yang dibutuhkan memang sangat cocok padanya. Kata Umay “Gen-X lu emang gen langka, kalau gua berhasil sama lu, gua juga pasti berhasil sama yang lain”. Bayangkan saja, seorang cewek jomblo, cuek, tomboy dan gila bola. Sulit sekali mencari laki-laki yang tidak sedang iseng, memacari cewek sebangsa Rara. Factor kepribadian memang menjadi kendala utama. Secara fisiologis Rara tidak mungkin dikategorikan cewek “Tuna Rupa”. Secara, dia memiliki wajah yang cantik, langsing alami, dan putih. Ya, langsing alami. Ehm..sebanyak apapun yang makanan yang masuk, badannya segitu-gitu saja. Padahal porsi makannya sedikit, sedikit diatas kuli.
Jika benar Umay akan mencomblangkan Rara lagi dengan cowok asing. Berarti ini adalah sample ke lima yang sedang diujikan oleh Umay. Uji sample yang pertama dengan cowok dari jurusan Teknik Elektro dari kampus yang sama, yang hobi nyorder. GAGAL! Karena sepertinya cowok itu lebih memilih wanita sejati ketimbang wanita semi laki-laki. Alasanya kuat, cowok itu sudah bosan bertemu dengan laki-laki di fakultasnya. Dia tidak butuh tambahan laki-laki lagi meskipun dalam balutan tubuh perempuan. Yang kedua, dengan cowok dari fakultas pertanian yang rajin berkebun. GAGAL! karena Rara adalah karnivora sejati. Dia benci sayuran. Dan sepertinya cowok itu sangat tepukul ketika melihat Rara membuang sawi dari nasi goreng yang dibelikannya. Selanjutnya yang ketiga, pengusaha muda cemerlang. Yang memiliki berlusin franchise martabak yang sangat hobi berdagang. GAGAL! karena dipalak terus oleh Rara untuk membawa martabak setiap kali ngapel. Ketimbang rugi bandar mending mundur, prinsip yang bijak menurut Rara. Last but not least, Mang Ujang tukang ojek penguasa Ciumbuleuit, yang dengan licik mengaku jomblo padahal sudah punya dua istri. Yang dengan sangat ironis, pengakuan itu dipercaya tanpa cek and ricek oleh Umay. Kemudian dengan polos Umay mencomblangkannya dengan Rara dengan alasan “Biar lu engga kesasar kalau kemana-mana”. Saat ini dalam pikiran Rara adalah rasa malas bercampur penasaran, prototype seperti apa yang akan disodorkan Umay kali ini padanya.

“Duk..duk..duk”. Pintu Kamar mandi di gedor keras.

“Ra..jangan molor di kakus lu” Suara cempreng Umay membuyarkan lamunan Rara.

“Iya-iya” Jawab Rara “Dasar Empok Nori” Kata Rara Pelan.

“Apa lu bilang?”.

“Engga..iya gua mandi”

“Gila, kupingnya tajem banget, padahal ngomongnya bisik-bisik” Kata Rara dalam hati.

Rara menyelesaikan proses mandinya tidak sampai 10 menit yang kemudian diprotes habis oleh Umay. Menurut Umay, Rara sama sekali tidak mandi, dugaannya, Rara cuma mengusap-usap badannya saja. Bagaimana mungkin seorang cewek bisa menyelesaikan ritual mandi yang sacral hanya dalam waktu 10 menit dan itu sudah termasuk buang air. Imposible.

Rara hanya menjawab santai “Gua engga punya alasan untuk berlama-lama disana. Gue bukan termasuk spesies yang suka memuaskan diri sendiri” Sambil matanya melihat ke bawah diantara kedua kakinya. Umay menanggapi jawaban itu dengan mulut menganga lebar dan mata terbelalak, tak menduga akan mendengar jawaban seekstrim itu.

Proses persiapan pergi “jalan-jalan” ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Rara benar-benar seperti tikus percobaan yang sedang melalui bermacam-macam prosedur standar sebelum tes. Kali ini tentang dandanan. Padu padan atas dan bawahan serta sepatu yang pantas untuk meyelaraskan. Masalahnya adalah, sebagian besar koleksi baju Rara di lemari itu adalah seragam bola, kaos oblong gambar bola dan kemeja buat ke kampus. Jelana jeans dan tidak ada rok sama sekali.

“Ya ampun Ra, kan gua udah bilang, beli baju cewek, jangan baju kuli semua dikoleksi” Kata Umay dengan mulut yang menganga ketika melihat isi lemari sahabatnya itu.

“Lu jangan lebay, kayak baru pertama lihat isi lemari gua aja” Sergah Rara.

“Lu kemarin katanya baru beli baju, coba mana?” Umay tidak memperdulikan kalimat Rara barusan.

“Lah yang di depan lu itu apaan?” Tanya Rara.

“Ini?” Kata Umay mengangkat sebuah kaos seragam timnas Italy.

“Yup” Jawab Rara enteng.

“Ya Tuhan, apa dosaku sehingga engkau mengirimkan cewek jadi-jadian jadi sohibku” Umay berlagak berdoa dengan wajah dan tangan menengadah ke atas.

“Ah..bawel, jadi engga ni. Kalau engga jadi gua tidur lagi neh. Mumpung ngantuknya masih ada” Kata Rara yang mulai kesal dengan kelakuan Umay yang suka lebay.

“Hehehe..untung gua udah prepare, kejadian begini udah dalam prediksi gua” Umay terkekeh kecil kemudian mengambil sebuah tas plastik tanggung yang diletakkan di atas meja belajar “Nih pake!”.

“Apaan?”.

“Lu liat trus pake, engga usah protes. Gua temen lu, engga bakal bikin lu celaka”

“Gua engga percaya”.

“Udah.. Pake!”

“Iya-iya”.

Rara kemudian membuka tas plastis yang diberikan Umay kepadanya. Sebuah baju terusan tanpa lengan bermotif bunga berwana krem yang cantik. Sebenarnya baju itu sangat cocok di kulit Rara yang cerah. Tapi bukan Rara namanya jika sudi memakai pakaian yang benar-benar menunjukkan gendernya dengan jelas.

“Lu nyuruh gua pakai baju ini? Serius lu?” Tanya Rara dengan ekspresi terkejut setelah melihat baju dari dalam tas plastik itu.

“Iya, emang kenapa, ada yang salah dengan bajunya?” Tanya Umay sok heran dengan reaksi Rara.

“Engga sekalian aja lu nyuruh gua pake bikini aja. Liat aja May, bagian dadanya rendah banget” Rara panik dengan model baju yang ditawarkan Umay.

“Ya, gua tahu, ukuran lu emang engga terlau support pake baju kayak gitu. Tapi gua punya solusinya, gua bawa ganjelannya. Problem solve Rara” Kata Umay dengan riang sambil memberikan dua buah benda berbentuk lingkaran kepada Rara.

Rara mematung, memandang Umay dengan mulut menganga lebar. Rara seakan tidak percaya dengan apa yang tadi didengarnya “Ukurannya engga support”. Dan apa itu, benda yang sedang dipegang Umay. Benda itu mirip BH namun tanpa tali.

“No.no.no..” Kata Rara sambil menggoyang telunjuknya ke arah wajah Umay.

“Ra, santai. Banyak kok yang pakai beginian. Artis-artis juga pakai kok. Kadang gua juga pakai kalau lagi ngedate sama Bram. Lebih gede emang bikin lebih pede” Kata Umay sambil tersenyum malu karena sedikit membuka aibnya sendiri.

“Ini bukan masalah ukuran Umay. Pokoknya gua engga mau. Engga mau pake baju kayak gini dan benda kayak gitu, apa namanya itu?”.

“Ini?” Tanya Umay memastikan sambil mengangkat benda ditangannya itu.

“Iya itu”

“Ganjelan”

“Apa? ganjelan? Emang engga ada nama ilmiahnya itu barang? Masa ganjelan? Lu pikir dada gua meja miring dikasi ganjelan?”

“Bukan miring Ra, KE..CIL”

“Apa?”

“Engga..”

“Pokoknya! gua mau pake baju gua sendiri. Atau apapun yang sudah lu rencanain dalam otak busuk lu itu engga akan keajadian. Titik!” Rara mendengus kesal dengan kelakuan Umay. Kelakuan Umay memang harus diakhiri, kalau tidak Umay bisa makin ngelunjak. Bisa-bisa Umay menyuruh Rara memakai sesuatu yang lebih absurd lagi. Untuk urusan yang satu ini, Rara tidak mau mengalah.

“Tapi Ra…”

“Engga ada tapi-tapian”

“Ya udah deh” Akhirnya Umay mengalah.

Prosesi yang melelahkan itu berakhir dan kedua sahabat itu keluar dari kamar kos Rara. Mobil Umay sudah terparkir cantik di halaman kos Rara. Mobil jazz pink dengan gambar hello kitty besar di belakangnya. Kedua cewek tersebut berjalan menuju kendaraan roda empat itu. Rara pada akhirnya menggunakan celana jeans dan sebuah kaos bertema bola berwarna biru. Sedangkan Umay memang sudah biasa menggunakan sebuah blus tanpa lengan berwarna putih dan rok berumbai coklat sepaha yang menunjukkan sisi feminimnya.

Mobil itu mengarah pelan menuju Ciwalk. Berkendara di hari minggu menggunakan mobil di jalan Cihampelas sama menyebalkannya dengan mengisi air pakai ember bocor. Macet, padat merayap, engga nyampai-nyampai. Sejak jumat sore, kota yang pada dasarnya sudah padat semakin dipadati oleh pendatang yang sebagian besar dari Jakarta. Apakah orang Jakarta kurang hiburan sehingga main ke Bandung. Alasan yang paling rasional adalah orang Jakarta sudah kehabisan udara sejuk. Umay dan Rara juga pendatang dari Jakarta yang berkuliah di salah satu Universitas di Kota Kembang itu.

Perjalanan normal dari Ciumbuleuit ke Cihampelas sebenarnya hanya membutuhkan waktu 15 menit itu dan itu sudah termasuk nyangkut di lampu merah. Tapi dengan kondisi seperti sekarang, mereka baru sampai setelah jarum panjang berputar penuh 360 derajat. Walaupun akhirnya mereka bisa menempuh cobaan jalanan itu dengan baik. Akan tetapi, dosa karena mengomel, mengumpat, menggunjing, fitnah dan gibah kepada pejabat pemkot sudah bertumpuk di buku malaikat.

*****

Part 2

Mereka memutuskan untuk terdampar dahulu di sebuah café sekedar mendinginkan kepala. Expresso cofe dan jus advocado teronggok tak berimbang di meja tersebut. Salah satunya masih penuh dan belum tersentuh sama sekali. Umay masih tenggelam dalam dunianya sendiri dan membiarkan Rara seperti kambing congek karena celingak-celinguk tidak tahu harus melakukan apa. Yah, sebuah kebiasaan yang menjamur di seluruh bagian bumi manapun. Sebuah dunia baru yang disebut dunia maya.

“Brak”

“Amit-amit jabang bayi brojol setengah…Apa-apaan sih lu Ra? Umay kaget luar biasa gara-gara Rara menggebrak meja di depan mereka dengan cukup keras. Yah, cukup untuk mengundang perhatian seluruh tamu café tersebut.

“Lu tuh yang apa-apaan, kebiasaan emang. Lu tuh anggurin gua dari tadi” Kata Rara sambil melotot.

“Hehee..maaf Ra..ni lagi mention-mentionan ma Bram, ga sabaran banget si lu” Iphone yang sedari tak lepas dari genggaman Umay sekarang sudah masuk ke dalam tasnya. Kemudian Umay meletakkan kedua sikunya di atas meja yang kemudian digunakan untuk menopang wajahnya.

“Ya udah, Rara mau ngomong apa?” Tanya Umay diimut-imutin.

“Ih, norak lu” Rara masih kesal dengan kelakukan sahabatnya itu.

“Lu sih..” Kata Umay sambil tangannya menunjuk Rara dan badannya di hempaskan ringan ke sandaran kursi.

“Gua apa?” Tanya Rara heran.

“Lu sih, engga pernah tahu rasanya punya cowok..engga pernah merasakan cinta..engga pernah merasakan kasmaran” Umay mengucapkan kalimatnya sambil memegang dadanya dengan tangan kanan dengan ekspresi yang aneh sekali menurut Rara.

“Kenapa muka lu kayak gitu? Siapa bilang gua engga pernah merasakan cinta..emang lu pikir gua brojol dari pantat kebo gitu..my Papi and Mami udah ngasi gua full kasih sayang mereka. Gua engga butuh cinta-cintaan monyet kayak lu itu” Kata Rara sambil memonyongkan mulutnya lucu.

“Cinta monyet lu bilang, enak aja..ini true love..cinta sejati oon..gua ma Bram bener-bener saling mencintai sepenuh jiwa raga. Gua berani berkorban apa aja buat dia dan dia juga berani berkorban apa aja buat gua” Kata Umay sambil menyedot jusnya yang sedari tadi dibiarkan menganggur di depannya.

“Beneran?” Kata Rara memastikan.

“Iyalah..tau engga, Bram bilang dia berani menyeberangi api dan lautan buat gua..ehmmm..so sweet kan Ra” Dan, bayangan Bram dengan celana boxer bertelanjang dada, berdiri gagah, siap menerjunkan dirinya ke lautan dari atas sebuah bukit, langsung terbayang di benak Umay yang membuatnya senyum-senyum tidak jelas di depan Rara.

“Trus kalau gunung?” Kata Rara mengejar.

“Ya bakal dia daki lah Ra, masa dikeruk..ya kelamaan” Umay tersenyum geli.

“Kalau jurang?” Rara masih bertanya jahil pada temannya itu.

“Ih,..kok malah jadi kayak scenario kartun dora seh..sekalian aja, hutan, tebing, rumah lu” Umay kesal.

“Hahahaha..Trus kemaren lu minta gua nemenin lu beli bedak, padahal sebelumnya cerita kalau mau pergi sama Bram” Rara bertanya genit, ujung matanya melirik dengan nakal.

“Kalau yang itu kan, dia lagi ada hambatan Ra”

“Apaan?”

“Kan lagi gerimis Ra, lu sendiri kan tahu”

Dan langsung meledaklah tawa Rara saat itu juga. Baru saja Umay membanggakan pacar kesayangannya akan melewati api dan lautan demi dirinya yang pada kenyataannya kalah oleh gerimis kecil. Tidak ada hal paling menyenangkan selain melihat seseorang termakan kata-katanya sendiri. Jiwa kita seolah puas, menang, superior.

Ekspresi Umay langsung berubah, wajahnya di tekuk marah. Wajahnya cemberut seketika. Dia tidak terima kekasih tercintanya ditertawai seperti itu.

“Udah deh Ra!” Kata Umay sambil merengut kesal. Rara yang sadar sahabatnya mulai berubah mood, segera menghentikan tawanya. Meskipun perutnya masih menggelitik untuk kembali menyemburkan sejuta tawanya yang khas. Ia menahannya untuk sebuah persahabatan.

“Oke..Sory May, itu memang sesi terbaik..susah banget nahan ketawanya” Jawab Rara dengan kedua tangan masih memegang perutnya yang tadi terguncang-gucang. Kadang-kadang tawanya masih terdengar tertahan ketika melihat ekspresi kesal Umay.

“Emang menurut lu, Bram gimana si?” Kali ini wajah Umay berubah serius memberikan pertanyaan kepada Rara. Rara tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dengan cermat dia mengamati raut muka Umay untuk memastikan bahwa memang pertanyaan itu terucap darinya.

“Ih lama banget jawab gitu doang?” Kata Umay sambil mendengus kesal.

“Sabar nek..bukan karena pertanyaannya sulit..tapi gua masih engga yakin kalo lu nanya itu ke gua” Jawa Rara diplomatis.

“Ya gua yakin..buru jawab” Kata Umay lagi.

“Yakin lu nanya ma gua yang belum expert ini?” Kata Rara mengulang lagi kalimatnya, namun dengan nada menyindir. Ini bukan pertama kalinya mereka membahas hal tersebut, namun Umay selalu keukeuh kalau Rara tidak memiliki latar belakang akademis dan experiance untuk memberikan pendapat pada masalah ini.

“Kan gua udah bilang ya dari tadi” Kata Umay kembali.

“Oke..Bentar” Kata Rara menanggapi.

Suasana berubah menjadi hening. Rara masih menimbang-nimbang kalimat yang pantas untuk Umay sehingga tidak langsung menjawab. Dan Umay masih tertunduk lesu menunggu jawaban Rara yang mungkin tidak menyenangkan.

“Oke gini may” Kata Rara seraya Umay mengangkat wajahnya yang tertunduk “Menurut gua, cowok yang baik itu bukan cowok yang harus nemenin lu kemana aja…”

“Tuh kan lu bilang sendiri_”

“Diem dulu dong, main serobot aja kayak bajay lu”

“Metromini Ra”

“Ya metromini”

“Diem dulu” Rara mengambil nafas dalam-dalam “Jadi menurut gua ni may, cowok baik itu bukan cowok yang harus nemenin lu kemana-mana. Tapi cowok jujur, cowok yang mengakui keterbatasannya dan tidak banyak membual”

“Maksud lu, Bram banyak membual?”

“Ehmmm gimana ya” Agak susah bagi Rara untuk langsung mengatakan “ya”

“Gini May. Cowok harus realistis, kodrat mereka begitu. Kalau mereka takut gerimis karena takut sakit, itu realistis. Jadi jangan gombal sok mau lewat laut, danau, kawah, samudra, got dan sebagainya demi si cewek yang kemudian engga bisa direalisasikan”

“Tapi kan itu gombalan aja Ra..pemanis”

“Ya kalau kadarnya normal. Kalau udah over kayak Bram. Lu cuma bakal dapat diabetesnya doang”

“Gitu ya Ra?”

“Yup” Rara melipat kedua tangan di dadanya kemudian menyandarkan punggungnya ke bahu kursi.

“Menurut lu gua udah diabetes belum?”

“Dalam tingkat akut, kadar gula gombal dalam darah lu udah lewat batas. Gua perlu kasi contoh?” Rara kembali memandang Umay menggunakan sudut matanya, begitulah kalau Rara sedang bermain kata dengan Umay.

“Emang apaan?”

“Apaan? Hahaha..oke, ni satu aja, Lu bela-belain beliin dia dan seluruh temannya nasi goreng, trus nganterin ke kosannya, gara-gara dia lagi asyik maen PS ma temennya disana. Lo masih engga nyadar?”

Umay terdiam, tidak menjawab pertanyaan terakhir kalimat barusan. Dia mencoba menyerap kata-kata Rara dalam pikirannya. Menimbang-nimbang dimana letak kesalahan dari apa yang dia lakukan itu.

“Emang salahnya dimana Ra?” Tanya Umay polos.

“Oh My God..Please deh May, lu kalau oon jangan kelewatan deh..yang dia lakukan sudah KE LE WA TAN. Dia udah manfaatin lu sebagai jalan keluar kemalasannya”.

Umay kembali bengong. Sudah berapa kali dia bengong seperti orang yang sedang memikirikan sesuatu. Rara berharap sahabatnya tersebut mendapat penceraham kali ini, kita lihat saja.

“Kok malah lu yang jadinya lebih tahu cowok ketimbang gua?” Ekspersi muka heran terlihat di wajah Umay.

“Ada rahasianya” Jawab Rara pendek.

“Apaan?”

“Ada deh”

“iisssshh_”

Sedikit-sedikit Rara tahu tabiat laki-laki. Sebagian besar kawannya kan cowok. Temen nongkrong nonton bola. Temen gosipin bola. Para fans Juventus Jakarta-Bandung tentu lebih banyak cowoknya.

“Jadi gua harus gimana dong Ra, gua kan dah cinta mati sama Bram?”

“Tanya sama diri lu sendiri. Toh, kalau gua ngomong lu kudu putusin dia, kalau lu-nya masih sayang. Percuma kan?”

Umay hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar kalimat Rara barusan. Umay terlihat makin lesu, moodnya sepertinya sudah makin hilang. Jus didepannya hanya menjadi pelarian kegalauannya ketimbang penyegar rasa hausnya. Sedotannya hanya diputar-putar saja dari tadi.

Dan seperti paham akan situasi yang menjadi kelabu. Rara memutuskan untuk melakukan sesuatu. Sebenarnya kalau boleh memilih, mending si Umay terus seperti ini, sehingga dia lupa dengan rencananya. Tapi Rara tidak tega melihat sahabatnya itu bermuram durja.

“Katanya lu mau belanja?” Kata Rara kemudian memecah keheningan diantara mereka.

“Eh..iya..bener, bentar ya” Umay bukannya beranjak malah mengambil HP-nya. Sibuk mengetik sesuatu.

“Dah ayok” Ajak Umay kemudian “Gua yang bayar”

“Emang seharusnya siapa yang bayar? Lu yang ngajak, lu yang traktir” Jawab Rara.

Umay bergegas menuju kasir, sedangkan Rara menunggu di pintu keluar café sambil sibuk mengamati sekitar.

“Yuk!” Ajak Umay yang sudah berdiri di samping Rara dengan wajah ceria. Rara sempat berfikir, “cepat sekali suasana hati Umay berubah. Barusan sedih, mewek, sekarang udah senang lagi”. Itulah kemampuan yang dimiliki oleh Umay yang membuat Rara iri. Mungkin seluruh cewek di muka bumi iri dengan kemampuan itu. Bahkan Rara memberikan julukan pada temannya itu “Mistique” salah satu tokoh dalam kartun X-Men yang bisa berubah menjadi siapa saja dalam waktu sekejap.



****

Part 3

Ah, memang benar dugaan Rara. Jalan-jalan cari baju hanya modus Umay saja. Buktinya sedari tadi dia hanya berputar-putar tanpa berusaha mencari baju yang ia inginkan. Tak ada satupun baju yang ditolehnya, malah Umay lebih seperti sedang mencari seseorang.

"Ra, kita nonton aja yuk?" Ajak Umay. Wajahnya tersenyum lebar membuat pipinya menekan matanya sehingga terlihat sipit.

"Kok malah nonton. Lu aja belum dapat bajunya?" Tanya Rara berpura-pura bloon.

"Engga da yang bagus. Tuh lu liat aja. Modelnya belum ada yang baru". Tangan Umay menunjuk deretan baju yang di pajang di departement store tersebut.

"Alesan!'

"Kok alesan? Apanya yang alesan?".

"Ah, udahlah. Ngaku aja. Kamu ngajakin gua kesini cuma buat modus kan?" Tanya Rara. Kedua bibirnya merengut. Lucu melihatnya.

"Mulut lu udah kayak patat ayam" Umay terkekeh.

"Sekate-kate lu ngomong".

"Ah, udah ah. Beneran bajunya engga ada yang bagus Ra. Kita nonton aja ya. Masa iya kita langsung balik. Engga seru banget". Umay mulai merajuk.

"Nonton apaan juga?".

"Kita lihat aja ke atas. Okeh...." Belum sempat Rara menjawab. Tangan Umay telah meraih lengannya dan menariknya. Ia diam bergeming.

"Ayoook!" Yang terjadi, Umay malah memegang lengan Rara denga kedua tangannya lalj menariknya. Mirip sekali seperti petani menarik kerbau yang malas jalan. Dan dengan wajah cemberut tak karuan, Rara patuh juga.

Rara sudah menebak yang akan terjadi. Dia malah sedang menghitung dalam hatinya. 1,2,3.

"Eh Ra, ada temen gua mau ikut nonton. Boleh ya?".

Tuh kan, kata Rara dalam hati. Pasti ceritanya bakal seperti itu.

"Cowok apa lekong?" Rara bertanya sinis.

"Ya cowok lah Ra. Najis gua gaul ma lekong mah. Amit-amit dah". Tuh kan. Memang semua dugaan Rara tak ada yang salah. Ini semuanya hanya permainan si mak comblang amatiran.

Mereka segera menuju lantai teratas, tempat bioskop 21 itu berada. Rara benar-benar bete', kelakuan sahabatnya yang satu ini memang ajaib. Bagaimana tidak, tak sekalipun pernah Rara meminta Umay mencarikan ia cowok. Tak pernah. Mengeluh menjadi jomblo saja tidak, apalagi ngebet punya cowok. Engga Rara banget. Bagi Rara ada banyak hal di dunia ini yang tetap bisa membahagiakannya selain cinta dari lak-laki. Cukuplah ayah dan abangnya saja yang untuk saat ini yang mencintainya. Ia tak butuh laki-laki asing sok baik, sok kenal, sok mau berkorban untuk, dirinya.

Eskalator yang mereka naiki telah hampir mencapai puncaknya.

"Ra, gua ke toilet dulu ya. Ehm. Cowok teman gua itu katanya duduk di bawah poster 300".

"Engga ah, gua tungguin lu dah". Rara merasa itu tidak benar, masa iya dia disuruh nyamperin cowok. Mau taruh dimana mukanya.

"Engga pa-pa kali Ra. Lagian dia kan teman gua. Pokoknya lu samperin. Orangnya pake seragam bola kayak yang lu suka tuh. Belang-belang"

"Juventus?" Rara sedikit antusias. Mungkin kali ini tak apa mengikuti kemauan comblang amatiran ini. Karena yang akan ditemuinya juga seorang Juventini.

"Ehhm..iya mungkin. Pokoknya dia bilang pakai baju belang-belang, baju bola"

"Kok mungkin?"

"Ah, udah cerewet. Ia Juventus"

"Ya udah deh. Awas kalo salah orang!" Ancam Rara. Mereka kemudian berpisah di pintu depan 21. Rara ke kanan sedangkan Umay ke kiri.

Rara melangkah pelan, sambil melihat sekeliling dan mencari sosok laki-laki yang ia yakin bakal dicomblangkan dengannya.

"Poster 300". Rara berbisik dalam hati.

"Oh itu". Rara menemukan poster yang dicarinya. Seorang laki-laki duduk di bangku di bawah poster itu berbaju belang hitam putih, seragam utama Juventus. Rara sedikit terkesiap. Matanya naik turun membandingkan wajah seorang laki-laki yang betelanjang dada membawa pedang yang terpampang dalam poster dengan laki-laki yang sedang duduk termangu di bawahnya. Cowok berseragam juventus itu memang tak bertelanjang dada namun Rara yakin dadanya sama bidangnya dengan gambar di poster. Rahangnya keras, menunjukkan ketegasan. Matanya tajam seperti mata elang. Ditambah dengan alis tebalnya, tambah tajam saja mata itu terlihat. Mata Rara tak berhenti berkedip-kedip. Lebih sering tiga kali lipat dibanding biasanya. Ia masih terpaku melihat dari jauh enggan mendekati.

"Masa iya tuh cowok yang mau dikenalin Umay. Engga biasanya. Masa yang kayak gini mau dikasi ke gua. Engga yakin. Bram mah lewat jauh nih".

Rara masih memperhatikan cowok itu. Celana jeans, sepatu kain. Baju laki-laki itu sempat tersingkap ketika mengganti posisi duduknya. Ada huruf H ditengah sabuk yang melingkar di pinggangnya.

"Asli apa engga itu Hermes?"

Setelah berfikir lama akhirnya Rara memberanikan diri. Ketimbang Umay tambah ribut begitu pikirnya. Lagian, ciri cowok yang Umay gambarkan dengan baju belang sepak bola duduk di bawah poster 300. Ada juga yang lain, yang menggunakan baju club barcelona. Sama-sama belang juga se, tapi laki-laki ceking itu kan duduknya engga dibawah poster 300. Begitu pikir Rara.

Rara melangkah, dibuatnya sebiasa mungkin. Meski kali ini jantungnya agak berdebar. Jelas laki-laki yang akan dikenalkan Umay ini berbeda kasta dengannya. Tak pernah ia bergaul dengan cowok metroseksual seperti itu. Teman-teman perkumpulannya lebih banyak anak kuliah dan staff kantor biasa. Dan menurut Rara, staff rendahan tidak akan mampu beli hermes. Kecuali gayus.

Rara melngakah menunju ke tempat laki-laki itu duduk. Mata cowok itu memandamg sekitar sehingga tak fokus pada Rara yang sedang melangkah mirip pencuri ayam.

"Hai!" Sapa Rara di depan cowok tersebut. Sang pria, dengan pelan menatap Rara tanpa menjawab. Urutannya adalah, agak kaget karena suara Rara yang cempreng, namun tak sampai gelagapan. Melihat ke wajah Rara turun ke perut turun ke kaki kemudian naik ke perut turun perlahan ke kaki, terakhir, naik langsung naik ke wajah dengan cepat tanpa rintangan dan hambatan. Wanita yang baik harusnya memberikan sedikit hambatan antara perut dan wajah namun tidak bagi kejadian yang dialami Rara waktu itu.

"Penggemar nyonya tua juga ya?" Tanya Rara dengan sumringah.

"Saya normal. Tak menderita odipus complex. Saya tertarik dengan wanita seumuran atau lebih muda. Bukan dengan yang lebih tua" Jawab laki-laki itu. Tak pelak jawaban itu membuat Rara mengernyitkan keningnya.

"Bukan..." seru Rara "itu julukan Juventus, seragam club bola yang lu pakai. Gimana se, masa engga tahu".

"Oh, maaf" laki-laki itu terkekeh menertawai dirinya sendiri. "Saya engga...ini..aah..saya engga tahu".

"Kalau di engga tahu kok dipakai" Tukas Rara sedikit cemberut. Ia agak kecewa, ternyata ada seseorang laki-laki yang cuma asal pakai seragam Juventus tanpa tahu seragam siapa yang ia pakai.

"Kalau mau pakai baju bola tertentu harus tahu semuanya, begitu?".

"Boleh aja. Asal janhan Juventus".

"Oh begitu? Apa yang harus saya lakukan sekarang? Membuka baju ini disini?" Tanya laki-laki itu. Tanganya telah meraih ujung bawah bajunya, ia tarik sedikit, bermaksud membukanya di depan Rara.

"Eh..eh..ngawur aja lu. Memang harusnya begitu. Tapi gua engga mau ngeliat semua orang muntah gara-gara bau ketek lu".

Cowok itu terkekeh kembali.

"Kamu nyadar engga se, kalau kamu itu terlalu jutek untuk seseorang yang engga saling kenal". Kata cowok itu lagi.

"Ya udah gue Rara" kata Rara kemudian menyodorkan tangannya. Laki-laki itu juga menyodorkan tangannnya bersalaman.

"Saya Kimi. Saya salut dengan mental kamu. Modus kenalan kamu inj termasuk baru buat aku. Kreatif"

Mata Rara melotot, wajahnya merah padam menahan marah dan malu. Bagaimana kalau orang lain mendengar kalimat cowok tadi. Mau ditaruh dimana muka mukanya. Ia langsung menarik tangannya dengan keras.

"Kalau bukan karena Umay, engga bakal gua nyapa lu" semprog Rara marah. Kimi malah terbengong.

"Umay? Siapa?" Tanya Kimi heran.

"Raaaaaaaaa" Suara Umay memecah keterkejutan Rara. Ia menoleh kearah suara yang berasal dari belakaangnya. Disana ia melihat Umay sedang berdiri dengan laki-laki berseragam clun barcelona. Belang-belang hitam merah. Yup, Rara salah orang. Saat Rara menoleh kembali, senyum Kimi menyeringai seperti sedang mengejeknya.

"Mau nomor telepon juga gadis muda?".

"Ishhh_" Rara menatap tajam. Kakinya menghentak kesal kemudian berbalik dan berlalu ke arah Umay.

****

cerita baru nih emoticon-Big Grin
nyimak dulu gan. moga moga bisa sampe tamat emoticon-I Love Kaskus (S)
mejeng dulu ah emoticon-I Love Kaskus (S)
Nganu gan,ini cerita asli apa cerita fiksi ya gan,sekalian ninggalin jejak dulu ah
ane usahakan ampe tamat gan
Quote:


hayooo asli apa engga? hehhehee...
anggap aja fiksi gan biar aman...hehehehehe...
Wah ada cerita baru, menarik kayaknya...
Quote:


Ya gan..pantengin gan kalau menarik, rate-lah wkwkwkwkwkw..
Wah gan ipong nulis cerota lg, mudah2an lbh seru dr mbah raung, yg itu jg udah seru bgt gan
Ampe kelar yak, kan udh lahir dede nya sambil bergadang mlm2 ganti popok trus update deh hehe..
Quote:


Tapi kali ini bukan horor gan, romance ini mah..kalau seru atau engga..agan2 yang menilai..ane hanya menyajikan aja..

Part 4

4Ahhh..Rara sebal luar biasa. INI SUDAH KETERLALUAN. Tidak ada, tidak akan pernah lagi ada acara comblang-mencomblang lagi. Rara sudah berkomitmen dalam dirinya, meskipun itu artinya menghancurkan karir Umay yang sama sekali belum berkembang apalagi mekar.

Hingga hari ini, meskipun sudah tiga hari berlalu, Rara masih saja merasa seperti Sergio Ramos dikolongin messi, istilah kerennya di Nutmeg. Tidak tanggung-tanggung tiga kali. Malu dan marah jadi satu, diaduk seperti tepung mau dibikin donat. Kalau ada pemain belakang di kolongin tiga kali dalam satu pertandingan, paling sudah pensiun jadi pemain bola. Pasti sudah banting stir jadi hansip. Perasaan itulah yang Rara rasakan saat ini. Bahkan membuat ia jadi males ketemu sama Umay.

Kejadian yang pertama membuat Rara hanya mendapat malu. Bagaimana tidak malu, Rara salah orang, trus pake nyolot. Tapi untuk masalah yang satu ini Rara tidak menganggapnya kesalahan fatal. Selain karena mahluk yang ditemui juga tidak bikin mata perih, ada faktor keteledoran dia juga. Seharusnya dia tanya dulu dari awal "lu temen Umay bukan?" Harusnya begitu. Jadi Kimi tidak bakal menuduhnya macam-macam. Apalagi sampai dikira 'modus'.

Masalah yang kedualah yang bikin Rara marah plus malu. Dan itu semua gara-gara Umay yang asal maen comot cowok dari jalan tanpa cek and ricek. Tidak ada yang namanya fit and propertest terlebih dahulu. Cowok yang dikenalkan Umay PK. Penjahat kelamin. Asli.

Dan beginilah reka ulang kejadian saat itu...

"Ra, itu siapa? Teman kamu?" Tanya Umay saat Rara telah berada di dekatnya. Rara menoleh kembali ke arah Kimi. Ternyata Kimi sedang melihatnya. Kimi kembali tersenyum padanya dengan cara yang bikin Rara kesal. Rara langsung membuang muka.

"Cowok itu? Cuma bagian dari kesalahan kecil. Kenapa? Naksir lu?" Sergah Rara.

"Engga lah.....Engga salah. Ya bodoh aja kalau ada cowok cakep kayak gitu dianggurin" Jawab Umay.

"Ya udah sana, kenalan sendiri. Mumpung orangnya masih ada" Kata Rara.

"Ehem-ehem" Cowok disamping Umay berdehem. Tersindir alami. Mengatakan cowok lain ganteng di depan cowok adalah sindiran keras. Itu sama saja mengatakan "lu engga cakep, yang cakep kayak cowok yang sono noh".

"Eh..iya... Ra, ini kenalin temen gue, Mahmud..." Umay berganti melihat ke mahmud "Mud, ini sohib gua Rara. Sok, kenalan".
Mahmud menyodorkan tangan dengan senyum maksimal, seluruh gigi depan pemuda itu bersaing muncul dari balik bibirnya. Rara juga tersenyum sopan menyodorkan tangannya bersalaman.

"Mahmud, panggil aja imud"

"Rara panggil aja Rara"

Mahmud cengan cepat meraih tangan Rara, menggenggam erat seolah takut tangan Rara disambar orang lain duluan. Namun tiba-tiba Rara menarik tangannya cepat, ada rasa geli di telapak tangannya. Ujung telunjuk Mahmud, sengaja menggelitik telapak tangan Rara. Mahmud malah nyengir senang. Aneh.

"Nah..Ra, si Mahmud ini bisnisman loh. Dia jualan jam tangan branded. Counternya di bawah yang dekat eskalator. Hebat ya. Masih muda dah mandiri". Tampaknya Umay mulai melancarkan aksinya. Memperkenalkan kelebihan profil bakal calon yang ia sodorkan untuk Rara dan begitu sebaliknya.

"Mud. Rara ini sahabat gua. Penggemar bola kayak lo juga. Jarang lo ada cewek gila bola. Cantik lagi". Umay memilih gila bola sebagai kelebihan profil Rara. Padahal menurut Rara itulah kekurangannya. Kekurangan yang tak ingin ia ubah.

Tak perlu menunggu lama Mahmud langsung nyerocos sendiri. "Iya May.. kayaknya si Rara penggemar Juventus. Bener Ra?"

"Iya. Gua senang Juve. Lu Barca?"

"Yup betul gue seneng barcelona.. oh ya kalau lu pada pengen beli jam, benerin, ganti batre, gua bisa bantu” Mahmud malah promosi “Ngomong-ngomong jadi nonton engga?"

"Jadi dong" Sahut Umay. "Gua beli popcorn ma minum. Lu bedua beli tiket"

"Gua temenin lu beli minum" Kata Rara. Menghindari modus Umay mendua-duakannya dengan Mahmud.

"Ah engga usah. Gua bisa sendiri" Jawab Umay.

"Umay bisa sendiri Ra". Mahmud malah mendukung Umay. Rara merengut tak senang. Menurut Rara, berdasarkan pengakuan teman-teman cowoknya. Harusnya tindakan Mahmud yang benar yaitu, dengan menawarkan diri membelikan minuman. Karena bawanya bakal berat. Satu minus untuk Mahmud. Sebenarnya bukan satu sudah tiga minus si Mahmud yang dimiliki Mahmd di mata Rara. Yang pertama, tentu fisik. Nah untuk yang satu ini memang sialnya Mahmud. Sebuah teori mengatakan bahwa, pengalaman sebelumnya mempengaruhi persepsi seseorang. Sebelum bertemu Mahmud, Rara bertemu Kimi. Jadi ya jelaslah kalau tubuh ceking dan muka tirus Mahmud terasa agak menyakitkan di mata Rara setelah sebelumnya melihat pemandangan indah dari Kimi. Minus kedua, gara-gara salaman tadi, Mahmud seperti om-om genit, main gelitik tangan orang sembarangan. Dan yang ketiga kejadian barusan.

Kelakuan Mahmud rupanya makin menjadi. Saat mengantri tiket, Mahmud yang berada di belakang Rara dengan tanpa dosa mencoba memeluk Rara dari belakang seperti pasangan di depan mereka. Tentu Rara langsung blingsatan. Namun Rara masih menahan diri untuk tidak marah-marah saat itu. Ia menyuruh Mahmud yang berdiri di depannya dengan sopan. Kemudian Mahmud meminta uang tiket padanya, ia hanya membayar untuk dirinya sendiri. Oke, Rara tak mempermasalahkan hal itu, karena perilaku seperti ini masih diperdebatkan. Ada yang bilang, harusnya cowok bawarin ada yang bilang belum pacaran ngapain bayarin.

Pilihan film Mahmud berjudul Setan Kesurupan. Ya ampun. Laki-laki itu betul-betul tak punya selera. Dengan sederet film Hollywood mentereng dengan berbagai pilihan, kemudian mememilih film horor Indonesia yang dari judul saja sudah gagal, sudah menunjukkan jati diri seorang Mahmud. Film horor Indonesia bahkan tidak bisa dijadikan bentuk nasionalisme seseorang. Bahkan ia tak menggubris protes Rara yang bilang dia engga suka film horor. Bukan Rara tak suka sebenarnya, ia hanya anti film Horor Indonesia yang lebih mirip film bokep dari pada film hantu.

"Wah film horor..asyik bisa bikin deg degan" Kata Umay senang.

"Ya ampun, anak ini malah senang, sialan-sialan-sialan" Umpat Rara dalam hati. Rara mencium bau-bau konspirasi terselubung.

Puncaknya adalah apa yang terjadi di dalam theater.

Theater itu tak terlalu ramai. Sepertinya film tersebut hanyalah kedok seperti halnya kelakuan Mahmud. Mereka duduk berjejer bertiga, urutan nomor dua dari belakang. Dan kursi deretan belakang tidak ada orang. Apa yang terjadi selanjutnya? Bisa ditebak. Rara tidak seperti Umay yang memang dasarnya penakut. Ia santai saja menonton, tak tersirat rasa takutnya sama sekali. Harapan Mahmud kalau Rara bakal ketakutan lalu memeluknya sudah pupus dari tadi.

Mahmud tak putus akal. Tanganya dengan santai mencoba menggenggam tangan Rara yang berada di lengan kursi. Rara langsung menarik tangannya. Masih saja tak putus akal. Rara mencoba menyenderkan kepalanya di bahu Rara. Tentu Rara langsung menoyor kepala Mahmud tanpa menengok. Yang terakhir betul-betuk memalukan. Mahmud mencoba memasukkan tangannya diantara lengan Rara yang bersedekap. Tujuan tangan itu jelas, area terlarang. Saat itu juga amarah Rara tak bisa lagi dibendung. Ia berdiri.

"Plaaaak" Tangan Rara langsung dengan keras menampar pipi cowok ceking itu. Umay kaget bukan kepalang.

"Lu kira gua cewek murahan. Bajingan lu". Rara langsung menumpahkan minumannya di kepala Mahmud kemudian berlalu pergi ke pintu keluar. Umya yang sedari diam langsung ikut berdiri. Meluhat Mahmud sebentar, lalu.

"Plak" Iya ikut menampar Mahmud dan segera berlari menyusul Rara.

Peristiwa ketiga yang membuat Rara marah dan kecewa.

"Raaaaa" panggil Umay "Tungguuuuu".

Rara terus saja berjalan cepat menunju eskalator. Umaya yang berlari akhirnya bisa menyusul Rara dengan cepat.

"Lu kenapa Ra?" Tanya Umay. Rara diam tak menjawab.

"Lu diapain ama si Mahmud?".

"Engga kenapa-kenapa"

"Kalau engga kenapa-kenapa. Ngapain lu tabokin. Ntar kalau dia lapor polisi gimana?"

Langkah Rara berhenti. Ia kemudian menghadap ke arah Umay, dan memandang Umay dengan lekat.

"Kalau tu biawak berani. Gua juga berani. Biawak buntung yang baru aja lu comblangin ke gua udah ngelakuin pelecehan sexsual berulang ma gua". Kata Rara sengit.

"Kok bisa?" Umay bingung.

"Kok bisa..gua mau tanya sekarang. Ide lu kan ngajak nonton?". Umay mengangguk. Wajahnya sudah mulai pucat.

"Kalau nonton film horor sama beli tiket ide lu juga?" Tanya Rara masih dengan nada emosi.
Umay kembali mengangguk. "Kan biar kalian cepat akrab Ra".

"Lu bener-bener engga mikir. Lu itu udah ngumpanin temen lu ke buaya darat. Mulai sekarang engga ada namanya comblang-comblangan lagi".

"Tapi emang tadi si Mahmud ngapain"

"Udah, lu engga usah nanya-nanya. Jangan cari gua dulu". Rara kemudian berlari menuju eskalator. Dan Umay hanya terpaku. Umay tak pernah melihat Rara semarah itu selama 4 tahun persahabatan mereka. Ia tak tahu harus berbuat apa.

*****

Sudah tiga hari Rara tak mau menanggapi telepon maupun SMS dari Umay. Umay juga tak punya keberanian untuk datang langsung ke kos Rara. Di kampus juga ia tak berani menyapa. Ia hanya bisa memandang sahabatnya itu dari jauh. Hal itu menyebabkan dua sahabat itu hampir jarang berkomunikasi. Rara sebenarnya sangat sedih, selama empat tahun, mereka tak pernah sama sekali bertengkar sampai berhari-hari seperti sekarang. Tapi, Umay memang sekali-kali perlu dikasi pelajaran.

Sore menjelang magrib, Rara sedang membeli makan malamnya. Ini hal rutin yang sering dilakukannya. Kosnya tidak menyediakan dapur untuk memasak, sehingga terpaksalah ia tiap hari harus makan di warung. Ringtone ponselnya bersenandung seraya bergetar di celananya.
Nomor asing. Tak tercatat dalam phone booknya. Biasanya Rara akan mengabaikannya, tapi kali ini ia mengangkat panggilan itu.

"Hallo?"

"Ra..maafin gua doang Ra". Suara Umay terdengar sangat memelas diujung sana. Rara hapal suara Umay.

"Ehm..gimana ya..gua pikir-pikir dulu deh. Lagian ngapain lu nelpon gua pake nomor asing begini?"

"Kalau pakai nomor gua ntar lu reject lagi".

"Ya juga seh" Seru Rara.

"Tuh, kan. Ayolah Ra. Kita dah empat tahun loh temenan, masa iya kayak gini"

"Lu si kelewatan"

"Gua minta maaf deeh" Rara tak menjawab. Namu ia tahu kalau ini adakah akhir dari petengkaran mereka. Ia juga tak bisa jauh lama-lama dari sahabatnya itu.

"Lu dimana?" Tanya Rara. Bersamaan dengan itu Rara telah sampai di depan kosnya.

"Gua disini Ra". Umay yang sudah dari tadi berdiri di depan kos Rara berlari menghampiri sahabatnya itu. Ia langsung memeluknya erat. Tangis Umay langsung pecah seketika.

"Ra..gua minta maaf. Gua ngaku salah. Gua janji berhenti jadi juru comblang. Gua bener-bener engga tahu kalau ternyata tuh cowok PK".

"Gua udah maafin lu kok May. Lu kan sahabat gua" Seru Rara.

"Bener ya Ra?"

"Iya bener"

"Ra" Kata Umay masih sambil memeluk Rara.

"Apa?"

"Kayaknya lu emang butuh ganjelan Ra". Kata Umay yang langsung berlari masuk ke dalam kos Rara. Rara mengejarnya dari belakang.

"Dasar. Tarik omongan lu"..

*****

Diubah oleh iponglalu
Quote:


Hahaa gapapa gan ane terimain genre apa aja dah yg penting gan ipong yg nulis, demen ama penulisan ente

itu rara salah tebak, belangnya bukan putih item tp merah biru aturan haha
wah ada cerita baru nih emoticon-Big Grin
ane izin banget tenda gan emoticon-I Love Kaskus (S)
Quote:


oke silahkan gan...

Part 5

Kalau sedikit mencontek istilah syahrini, kantin kampus jam lima sore itu sesuatu. Sepi, tak berisik dengan anak-anak kampus. Bisa nongkrong dengan tenang. Meskipun selalu bikin Teh Oneng kesal karena terpaksa harus membuat minuman saat ia sudah siap-siap pulang. Disitulah Rara dan tiga kawan prianya tengah duduk di singgasana masing-masing dengan minuman hasil tindak pemaksaan. Bara, Ruli, dan Husein, tiga laki-laki yang selama ini menjadi kawan setia Rara nonton bareng pertandingan club kesayangannya Juventus. Tiga pria ini juga termasuk dalam club suporter Juventus Bandung. Mereka juga empat mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi. Umay tak pernah sekalipun mau diajak ikut-ikutan nongkrong bareng tiga cowok itu, karena salah satu sosok laki-laki hitam besar dengan hidung yang panjang tak pernah absen ikut nongkrong.

"Juve gua yakin scudeto lagi musim ini" Kata Rara membuka topik pembicaraan.

"Ya, iyalah. Kalau di Italia, Juve dah engga ada lawan. Roma ya gitu-gitu doang" Sambung Ruli.

Husein tak mau kalah, ia ikut menimpali "Udah saatnya unjuk gigi di eropa lagi ni. Tapi kalau Allegri ane agak sangsi, jujur aja ane lebih suka Conte".

"Kita nonton champion dimana ne? Anak-anak ngadain acara engga?" Tanya Rara "Ada info engga Bar?".

Bara yang sedari tadi diam, karena memang lebih pendiam dibandingkan kawannya yang lain akhirnya ikut bicara "Belum ada info Ra. Kalau ada ntar gua kasi tahu lu". Rara mengangguk, lalu berkata "Oke sip".

"Ra... sekali-sekali ente ajakin Umay dong, nongkrong bareng kita" Kata Husein yang berada disebelah kanan Umay. Husein ini laki-laki keturunan arab, satu ras dengan Umay. Menjadi rahasia umum diantara mereka berempat, kalau si Husein tergila-gila pada Umay. Sayang Umay tak pernah memberi respon. Umay sudah punya pacar, yaitu Mas Bram. Yah, Husein adalah pungguk yang merindukan bulan jatuh.

"Umay-kagak-suka-bola!" Jawab Rara tegas, ia seolah mengeja tiap kata. Tujuannya jelas, biar Husein tak terus menerus merengek. Sebenarnya Rara kasihan pada nasib kawannya itu, Si Husein onta. Andaikata ia bisa memilih, tentu Rara lebih senang jika Umay berpasangan dengan Husein ketimbang Bram. Menurutnya Bram hanya memanfaatkan Umay saja. Tapi apa daya, hati tak mungkin bisa dipaksakan. Lagi pula, Rara tak mau menjadi mak comblang seperti Umay.

"Ye elah Ra.. bukan pas nongkrong nobarnya..." Husein merengut " nongkrong yang kayak ginilah".

"Lu kan tahu nama sama orangnya, lu ajakin aja sendiri" Jawab Rara masih dengan nada bicara yang sama.

"Tul tuh Ra.. Onta-onta, cemen banget lu jadi cowok " Timpal Ruli "Emang lu takut apaan coba. Takut si Bram? Selama janur kuning belum melengkung, bendera kuning belum berkibar. Semua orang masih memiliki hak yang sama". Cowok berkacamata satu itu memang paling doyan meledek Husein. Mereka berdua seperti Tom and Jerry, kadang bertengkar kadang saling merangkul.

"Ah, kayak ente berani aje. Si Anes ampe sekarang cuma berani ente pelototin dari radius 100 kilo. Sok-sokan ente nasihatin ane, ngaca dulu!," mirip pertandingan tinju, lonceng telah di pukul. Dua laki-laki ini tak akan berhenti sampai salah satunya mati kata kena skak.

"Eh, onta. Siapa bilang? Malam minggu kemaren, dah gua samperin ke kosannya" Kata Ruli sambil membusungkan dadanya.

"Tapi nyampe depan kos trus balik lagi" Tahu-tahu Bara ikut nimbrung dalam kancah pertarungan gengsi itu. Ia mengucapkan kalimatnya sambil mengaduk jus alpukat miliknya.

"Hahahaha..." Husein tergelak, badannya sampai terguncang-guncang, Rarapun sama, "Muke gile ente Rul... gaya aja selangit. Cemen ya cemen aja".

"Ah, sialan lu Bar" Kata Ruli. Bara tetap cuek, masih pura-pura sibuk dengan jusnya.

Wajah Ruli merengut kesal, ia tak terima, rahasianya terbongkar begitu saja. Malam itu dia memang minta ditemani Bara ke kos Anes, cewek yang ditaksirnya sejak tiga bulan lalu. Namun, gara-gara melihat sebuah BMW parkir di depan kos Anes, langsung saja skuter matik miliknya berbalik pulang. Wanti-wantinya malam itu pada Bara jangan sampai ada seorang yang tahu kejadian itu apalagi Husein. Tapi ternyata, mulut Bara tetap lancar tak terjaga menceritakan aibnya.

"Kalian berdua emang sama-sama cemen. Ya kan Bar?" Kata Rara, seraya menyesap pelan kopi susunya. Bara mengangguk kemudian tersenyum menghina dua sahabatnya.

"Eee.. gua kasi tahu lu pada.. lu-lu pada nyadar kagak, kalau yang aneh itu sebenarnya bukan gua atau si onta. Yah aneh itu Bara". Kata Ruli kemudian. Ia ingin membalik angin yang mengarah padanya.

"Anehnya kenapa?" Tanya Rara heran.

"Karena Bara itu..." Malah Husein yang menyambung.

"Diem onta. Gua yang ngomong duluan. Main serobot aja lu" Potong Ruli kejam.

"Kan ane mau nolongin ente ngomong" Bela Husein. Ia tak mau disalahkan begitu saja.

"Udeh... lu diem aja. Biar gua yang ngomong. Lu kayak tahu aja yang gua pikirin" Ruli tetap tak mau kalah, meskipun Husein tampak membelanya, namun sependapat dengan Husein adalah haram hukumnya.

Ruli melanjutkan "Ini gua kasi tahu lu pada. Masih mending gua sama Husein, masih keliatan doyan sama cewek. Lah Bara? Pernah lu denger dia ngomongin cewek? Kagak kan? Gua takut dia ternyata suka sama.." Ruli menggantung kalimatnya, lalu berpura-pura berpikir.

"Sama Rara?" Celetuk Husein.

"Ngawur aja lu" Sergah Rara, lalu menoyor kepala Husein yang duduk di samping kanannya.

"Bukan onta..Gua takutnya dia suka sama gua" Kata Ruli dengan antusias, seolah hal itu adalah sebuah kebanggan. Kalimat itu disambut Bara dengan ekspresi eneg kemudian pura-pura muntah. "Gua kalau mau jadi homo juga pilih-pilih" Kata Bara kemudian yang disambut gelak tawa keempat orang tersebut.

Obrolan itu terus berlanjut. Membicarakan sepak bola, diskusi mata kuliah, dan tentu saja menggosipkan dosen. Kalau ada mahasiswa di dunia ini yang tidak pernah menggosipkan dosennya, mungkin mahasiswa itu masuk surga tanpa dihisab. Sore makin mendekati ujungnya, biru lanngit di ufuk barat mulai dihiasi warna jingga. Burung-burung kecil ramai berterbangan pulang ke sarang. Kampus mulai sepi dan geliat kehidupan lain dari para mahasiswa malah baru akan dimulai. Keempat orang itu masih bertahan disana.

"Lagian kalau dipikir-pikir kenapa kalian berdua kagak pacaran aja" Tahu-tahu Husein mengeluarkan celetukan diantara keheningan gara-gara habis bahan obrolan.

"Kan gua sudah bilang. Homo juga gua milih" Sahut Bara.

"Maksud si onta, lu sama Rara" Sambung Ruli meluruskan maksud Husein tadi.

"Yep" Husein mengangguk mengiyakan.

Rara memandang Ruli dan Husein bergantian. Bingung dengan statment yang menurutnya sangat ganjil. Namun, pelan-pelan ia mencuri pandang ke arah Bara yang ternyata juga melakukan hal yang sama. Saat mata mereka tak sengaja bertemu pandang, ada rasa hangat dipipinya yang tiba-tiba terasa, padahal udara sore ciumbeluit sedang dingin-dinginnya.

"Kalian kok jadi bengong. Mati gaya mereka Rul" Seru Husein melihat tingkah laku Rara dan Bara.

"Bener lu nta..menurut gua si, mereka cocoklah. Lu gitaris, Lu-nya singer. Lu bedua jomblo, sama-sama seneng bola" Kata Ruli merespon kata-kata Husein barusan. Telunjuknya menunjuk-nunjuk Bara dan Rara bergantian "Semakin banyak persamaan yang dimiliki dua individu, semakin mudah mereka berkomunikasi. Hubungan, apapun bentuknya intinya adalah komunikasi" Ruli mengeluarkan teorinya.

"Itung-itung amal ente Bar..."

"Amal apan nta?" Tik tak tom and Jerry saling sambut menanggapi.

"Lah ketimbang ente di bilang gay. Biar tampang ganteng, badan tinggi ente kagak mubazir, mending ente sedekahin buat Rara. Biar faedah. Ya engga Rul?"

"Tul" Ruli mengiyakan, jari telunjuknya berayun-ayun turun naik di depan dadanya.

"Anjir onta..lu pikir gua fakir cinta gitu?!" Kata Rara setengah berteriak, wajah Rara benar-benar geram. Namun dilain sisi, tiga cowok itu malah terbahak geli. Ya, termasuk juga Bara. Itu adalah cara terbaik, menganggap semua itu hanyalah gurauan. Ia ingat Rara pernah mengatakan, cinta itu merusak persahabatan.

Kertas fotokopi dari dosen Psikologi Sosial yang sedari tadi diatas meja, kini telah berubah fungsi menjadi senjata pemukul. Husein tentu tak tinggal diam, ia berlari menghindari kepalanya jadi sasaran empuk. Ia berlari keluar kantin. Kejadian itu sekaligus sebagai pertanda berakhirnya sesi nongkrong mereka.

Rara berdiri terengah-engah, capek mengejar Husein yang terus berlari ke parkiran. Dadanya turun naik, keringatnya turun deras. Di belakangnya Bara datang sambil membawa tas Rara yang tertinggal.

"Awas lu onta gosong, kalau besok ketemu gua bejek-bejek lu!" Teriak Rara pada Husein yang jauh di depannya. Husein menjulurkan lidahnya mengejek Rara.

"Udah-udah. Onta lu ladenin, lu dapat capek doang" kata Bara sambil menyerahkan slayer yang biasanya ia ikat di pergelangan tangannya "lap keringat lu!".

"Makasi Bar..." Rara mengelap keringat di muka dan lehernya "Ruli kemana?"

"Katanya mau ke gedung ekonomi, ngekorin Anes paling" Jawab Bara.

"....." Entah kenapa, Rara merasa bingung untuk melanjutkan obrolan. Ia sadari, baru kali ini ia benar-benar berdua dengan Bara. Mereka berdiri sangat sangat dekat. Rara bisa mencium bau parfum Bara yang maskulin. Tinggi Bara yang menjulang menenggelamkan Rara hanya hingga sebahu Bara. Rambut Bara yang panjang tergerai hampir sepanjang rambut Rara.

"Ra... malam jumat minggu depan, gua diundang teman gua buat ngisi di cafenya dia di Dago..." Kata Bara memecah kesunyian yang menyergap diantara mereka.

"Wah, selamat ya Bar, band marawis lu akhirnya naik tingkat" Kata Rara tulus sambil menjulurkan tangan kanannya, meminta bersalaman.

Bara meraih tangan itu namun dengan wajah bingung "Kok marawis Ra?"

"Kan mainnya malam jum'at ?" Jawab Rara polos.

"Sialan lu. Ini gua sendiri. Anak-anak Tas Kresek yang lain engga bisa main" Kata Bara menjelaskan. Tas Kresek adalah nama Band yang dibentuk Bara dan kawan-kawannya.

"Trus" Rara malah menjadi bingung.

"lu mau jadi vokalis engga?" Tanya Bara. Kalimat itu keluar dengan hati-hati. Tak ingin memasukkan kesan lain.

"Gua mana bisa nyanyi?" Rara berkelit.

"Gua tahu lu bisa. Gua pernah denger..Ruli aja bilang lu singer"

"Dimana?"

"Ultah Umay tahun kemaren"

"Ah, karokean kayal gitu sih, semua orang bisa Bar" Rara, terdiam sejenak "Besok gua kasi kabar deh" Jawab Rara kemudian.

"Oke.. tanks ya..gua antar ke kos ya?"

"Jangan terima kasih dulu. Gua kan belum bilang iya. Trus tangan gua lepasin dong"

Bara hanya terkekeh kecil, kemudian melepas tangan Rara yang ternyata terus ia jabat sedari tadi. Mereka kemudian berjalan bersama menunju parkiran kampus.

***

Malam harinya....

Celoteh Umay yang sedari tadi terus berkicau seperti burung kenari hampir tak digubris Rara. Meskipun Umay bukan sekadar berkicau juga menari, berputar-putar di depan Rara karena sedang mencoba beberapa baju, tetap saja Rara tak bereaksi seperti biasanya.

"Ra.. kalau yang ini bagus engga?" Tanya Umay. Ia sedang mencoba sebuah dres berwarna kuning.

"Bagus" jawab Rara pendek.

"Kok, warnanya kayak kurang cocok sama kulit gua ya, menurut lu gimana Ra?"Umay membanding-bandingkan warna baju dan kulitnya.

"Cocok"

"Cocok ya, tapi kok gua kelitan gemuk pake ini. Apa gua emang gemuk ya. Gua gemukan engga Ra?" Kali ini Umay memutar-mutar badannya sambil berkacak pinggang.

"Gemuk"

"Haaaah. Gemuk Ra. Sumpah lu Ra?"

"Sumpah"

"Aduuuuh Umi... gimana ini. Gara-gara makan engga kontrol ne. Aduh, Bram pasti ngomel-ngomel. Kok gua engga nyadar pipi gua jadi tembem gini. Aduuuuh gimana ni..." Umay berkacak pinggang di depan Rara yang tengah duduk di meja belajarnya "Ra, lu kudu tolongin gua"

"Ehmm"

"Raaaaaa!" Umay berteriak kemudian memegang bahu Rara dan mengguncang-guncangkannya.

"Kenapa se lu?" Tanya Rara setengah membentak.

"Kenapa-kenapa. Lu kudu tolongin gua Rara" Jawab Umay. Ia masih memegang bahu Rara dan menatap tajam mata sahabatnya itu.

"Ih..lebay banget lu. Tolongin apaan si?" Rara menepis tangan Umay di bahunya kemudian berdiri. Ia menuju ke ketempat tidur mengambil hape yang tergeletak disana Umay mengikuti dari belakangnya.

"Lu kudu jadi satgas diet gua. Lu kudu ngelarang gua kalau gua mau makan makanan yang bisa bikin gua gemuk" Kata Umay menjelaskan.

"Istilah lu selalu norak. Apaan coba satgas diet" Jawab Rara.

"Kan udah gua jelasin tadi. Gua udah gemuk ni, mau diet" Seru Umay.

"Masa badan kayak pentol korek gitu lu bilang gemuk. Ngasal aja lu. Lu sakit ya?" Ujar Rara.

"Kan lu sendiri tadi bilang gua gemuk. Gimana se" Balas Umay sengit.

"Kapan?" Tanya Rara heran. Ia merasa tak pernah mengatakan kata itu. Ia memilih merebahkan badannya di ranjangnya. Mencari sebuah nomor.

"Tadi"

"Ah, masa se?" Bersaman dengan pertenyaan retoris itu, hape Rara berdendang, menyanyikan ringtone "goyang dumang".

"Rringtone lu norak" cela Umay.

"Stttt" Rara beranjak dari ranjang, berdiri, kemudian berjalan menuju pintu kamar yang tertutup. Rara kemudian menjawab panggilan itu.

"Kok lu engga tunggu sms gua? Baru mau gua sms" Rara langsung menyerbu dengan pertanyaan.

"Kelamaan lu sms-nya. Jadi gimana? Gua udah kadung nyanggupin loh Ra. Tolongin ya?".

"Ye.. Gua suka grogi kalau di tempat umum"

"Masa se. Kalau nobar lu teriak-teriak kenceng banget biasanya"

"Itukan nobar. Gua yang nonton. Bukan yang ditonton"

"Gua yakin lu bakal dapat standing applause".

"Lu kata idol?"

"Jadi gimana Ra?"

"Ya udah deh".

"Makasi ya Ra. Besok gua kasi tahu kapan kita mulai latihannya. Sekali lagi makasi ya Ra. Bye"

Telepon itu kemudian ditutup.

"Siapa Ra?" Tanya Umay yang sedari tadi memperhatikan Rara yang sedang menelpon.

"Bara" Jawab Rara singkat dan wajar. Ia tak mau Umay salah mempersepsikan Bara yang tiba-tiba menelpon malam-malam.

"Harusnya lu ma dia itu pacaran. Lu bisa jadi nyanyi sambil digitarin sama Bara. So Sweet loh. Lagian lu ma dia sama-sama jomblo. Sama-sama gila bola" Kata Umay. Rara tak menanggapi, pikirannya malah teringat apa yang dikatakan Husein dan Ruli. Umay dan Husein memiliki pikiran yang sama. Harusnya mereka jodoh.

*****

Part 6

"Rul" Sapa Bara sambil menepuk pundak Ruli yang tengah berdiri di belakang tiang beton besar lantai 3 fakultas ekonomi. Gelagatnya aneh, kadang menyembulkan kepalanya lalu kemudian bersembuyi lagi.

"Eh copot copot copot" Ruli terkaget-kaget, memegang dadanya yang berdegub kencang karena efek terkejut. Ia menengok ke belakang dan menemukan Bara tengah tersenyum sumringah, "Sialan lu Bar, bikin gua kaget aja".

Bara terkekeh geli, "Bener kata Onta, lu emang cemen".

“Ah, lu diam aja” Ruli berbalik lagi kemudian melakukan kembali apa yang tadi dilakukannya, tak memperdulikan celaan Bara. Di depan mereka berdua, berjarak dua puluh meter, segerombolan cewek tengah bediri di depan pintu kelas sedang menunggu jam kuliah. Salah satu diantaranya ialah Anes, cewek idaman Ruli. Mengintip Anes dari balik beton seperti ini hampir menjadi santapan sehari-hari Ruli. Ia tak peduli dengan orang-orang yang meihat kelakukannya, seperti saat ini, yang ia pedulikan hanyanya Anes.

"Anes emang cantik kan Bar?" Tanya Ruli dengan masih membelakangi Bara.

"Ah, menurut gua sih biasa aja" Jawab Bara santai.

Ruli seketika membalikkan badannya, "Eh, apa lu bilang? Mata lu soak kali Bar. Masa yang begitu lu bilang biasa aja?".

"Mungkin karena jauh, ehm..coba kalau lebih dekat" Seru Bara, kemudian berjalan sedikit ke samping. Keluar dari persembunyian Ruli, Bara kemudian melambaikan tangannya.

"Ngapain lu?" Ruli panik ia menyadari akan ada kejadian buruk setelah ini.

"Gua cuma pengen lihat si Anes dari dekat" Jawab Bara.

"Apa maksud lu?"

"Liat sendiri aja"

Ruli menyembulkan kembali kepalanya, matanya langsung melotot. Ia melihat Anes berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Rupa-rupanya Bara memanggil Anes. Bara memang agak jengkel dengan kelakuan Ruli yang lebih mirip orang gila dari pada orang yang sedang jatuh cinta. Ruli tahu Anes pertama kali saat Band Bara manggung di sebuah cafe. Saat habis manggung Bara mengajaknya untuk berkenalan, Ruli menolak dengan alasan bukan tipe dia. Eh, malah keesokan harinya mengintrogasi Bara dengan sejuta pertanyaan tentang Anes yang merupakan teman dari salah satu personil Tas Kresek. Kemudian, pernah mengajak Bara ke Ciwalk malam minggu untuk mencari tahu Anes pergi nonton dengan siapa, berdasarkan gosip yang ia dengan dari orang yang tak bisa dipercaya. Terus mengajak Bara ke kos Anes kemudian balik lagi gara-gara ada BMW di depan kos Anes yang belum jelas punya siapa dan kalaupun punya tamu yang lagi main, belum jelas tamunya siapa.

"Sttt..Bar, ngapain lu manggil si Anes?" Bisik Ruli. Bara hanya tersenyum, ia geli melihat kelakukan sahabatnya itu.
Anes berjalan menghampiri Bara yang melambai memanggilnya. Bunyi langkah kaki Anes yang makin mendekat membuat jantung Ruli berdebar makin kencang. Ia tak berani menengok lagi. Ada bau wangi di udara, wangi parfum perempuan, bau Anes yang berjalan makin mendekat.

"Kamu teh ngapain kesini. Hayoo nyari siapa?" Suara merdu perempuan yang saat ini berada di depan Bara langsung membuat Ruli bertransformasi menjadi arca. Ia berdiri tegap diam mematung, pandangannya di buang entah kemana. Mirip hansip kena strap pak lurah karena kampung habis kemalingan.

"Gua nyariin kamu..hahhahaha.." Canda Bara.

"Eh, asal aja kamu" Anes terlihat tersipu-sipu, pipinya memerah.

"Gua lagi jalan-jalan aja, nyasarnya malah kesini” Kata Bara kembali.

“Masa se, aku kok engga percaya ya, jangan-jangan kamu lagi ngegebet anak sini ya. Mana orangnya Bar, siapa tahu aku bisa bantu” Anes memainkan telunjuknya di depan wajah Bara, raut mukanya menyelidiki.
“Lupakan aja. Ngomong-ngomong, gua kesini ada barengnya, ma teman gua. Ni orangnya. Kenalin gih?!" Bara meraih lengan Ruli yang masih dalam posisi siap. Menariknya paksa.

"Oh, ini teman kamu ya Bar. Untung deh" Kata Anes.

"Emang kenapa?"

"Hampir dimassa loh sama teman-teman aku disana. Soalnya mencurigakan sekali. Celingak-celinguk ngintip orang. Kita mah parno tahu, kita pikir exibisionis" Kata Anes yang kini telunjuknya berpindah, bermain-main di depan wajah Ruli. Sesekali Ruli memperbaiki kaca matanya yang melorot dan sudah dua kali ia menelan ludahnya sendiri.
Bara tertawa terbahak "Ah, lebay lu Nes. Dah kenalin gih"

"Ih, siapa yang lebay, beneran Bar. Tapi berhubung dia teman kamu, yah, jadi selamat dia sekarang. Ya udah deh, aku juga mau kenalan kalau kamu teman Bara. Aku Anes" Kata Anes sambil meminta berjabat tangan, tak lupa senyum manisnya terpampang di wajahnya yang cantik.Yang terjadi di kubu lain malah kebalikan, Ruli masih terpaku seperti manekin, menatap wajah Anes dengan tatapan yang aneh lalu menatap tangan Anes yang menjulur meminta bersalaman dengan tak kalah aneh.

“Kok malah diam Rul. Ini Anes mau kenalan” Kata Bara kemudian.
Ruli tak menjawab, kalimat Bara seperti informasi satu arah yang masuk ke dalam otaknya. Dengan tangan bergetar meraih tangan Anes.

"Ru..Ru..Ruli"

"Kuli?" Tanya Anes serius.

"Ru-Li Anes" Timpal Bara.

"Oh Ruli..Aku pikir kuli. Kamu sakit ya, kayak orang tremor gitu” Kata Anes sambil cekikikan geli. Bara ikut-ikutan tertawa. Sedang Ruli hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Udah ya Ruli. Tangan aku lepasin dong” Seru Anes lembut.

"Eh..iya" Jawab Ruli kagok.

"Oke Bar, aku cabut dulu ya. Salam ma anak-anak tas kresek ya. Jaga temen kamu baik-baik. Kalau perlu kasi tali biar engga gigit orang..." Kata Anes" Bye Bara ganteng". Anes kemudian berlalu, kembali menuju kerumunan teman-teman ceweknya yang masih berkumpul.

Bara kemudian berbalik, melangkah menuju tangga untuk turun kelantai bawah. Ruli mengikuti dari belakang. Arah langkah kaki Bara menuju sebuah warung makan yang berada di samping kampus, tepat di depan jalan keluar parkiran mobil kampusnya tersebut.

“Bar!” panggil Ruli sambil menepuk pundak Bara dari belakang.

“Ajib, buju buneng” Bara kaget sampai melompat ke samping, “Rul, kapan lu kesini, bikin kaget tahu”

“Gua udah di belakang lu dari tadi, masa lu kagak nyadar” Jawab Ruli.

“Gua pikir lu masih di gedung ekonomi. Lagian ngapain lu jalan di belakang gua, kayak kuntilanak lu. Kalau jalan di samping gua. Hampir aja jantung gua copot” Semprot Bara sengit.

“Ah..gua yang masuki lagi kalau jantung lu copot. Lu mau kemana se?” Ruli tak peduli dengan omelan Bara barusan.

“Makan,..” Jawab Bara pendek

“Ya udah yuk. Gua traktir lu” Kata Ruli kemudian berjalan di depan Bara dengan dada membusung tak memperdulikan Bara yang menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

****

Warung itu sepi kalau siang begini, paling hanya beberapa orang yang memesan makanan tapi dibungkus. Itulah alasan kenapa Bara memilih untuk makan di warung tersebut.

“Bar, meskipun gua kagak suka dengan cara lu tadi, tapi gua berfikir positif jadi gua berterima kasih” Kata Ruli kemudian menepuk-nepuk pundak Bara.

“Oke, bisa diterima” Jawab Bara santai.
Bara merogoh hapenya di kantong celananya. Mencari sebuah nomor, hendak menelpon tapi diurungkannya. Ia ragu. Rencananya ia akan mengabari Rara jadwal latihan mereka yang Bara rencanakan mulai nanti malam.

“Lu kenapa? Kayak orang bingung” Tanya Ruli meihat gelagat Bara yang memainkan telpon genggamnya.

“Gua mau telepon Rara, tapi gua takut dia lagi sibuk” Jawab Bara.
Ruli tergelak mendengar jawaban Bara tersebut, “Sejak kapan lu jadi kuatir gangguin Rara. Aneh bener”
Bara tersenyum, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menyadari bahwa sikapnya memang tidak biasa. Menjadi janggal ketika ia bersikap sungkan pada Rara. Mereka berempat terbiasa saling mengganggu satu sama lain.Seperti menelpon tengah malam hanya untuk bertanya jam berapa, membesarkan ringtone hape lalu kemudian di miscall saat lagi jam kuliah. Hal-hal konyol yang membuat mereka memangkas jarak.

“Emang lu mau nelpon Rara buat apaan?” Tanya Ruli.

“Mau gua ajak latihan” Jawab Bara.

“Oh...Lu jadi ngajakin si Rara. Baguslah biar kalian cepat jadian” kata Ruli kembali dengan santai.

“Ngomong apaan sih lu. Jangan asal kalau ngomong” Seru Bara.

“Neeeng. Es tehnya satu neng!” Seru Ruli memesan pada anak pemilik warung. Ruli kemudian menatap wajah Bara dengan serius. “Bar, kita ini bukan anak kemari sore. Itu yang pertama. Yang kedua, kita berempat bukan perkempulan penyembah setan yang melarang anggotanya saling jatuh cinta satu sama lain. Gua ma Onta malah senang kalau Lu sama Rara pacaran”.

“Pacaran itu merusak persahabatan” Jawab Bara.

“Itukan kata Rara. Bukan kata lu” Kata Ruli menimpali.

Bara tak menjawab. Ia diam termangu. Itu memang kata-kata Rara. Menurut Rara, pacaran itu merusak persahabatan. Mereka telah bersabat selama tiga tahun,kebersamaan yang indah dengan segala kekonyolan di dalamnya. Memang akan sangat mengenaskan jika persahabatan itu hancur, dengan alasan apapun, bahkan jika karena cinta sekalipun.

“Gua sekarang tanya sama lu Bar. Lu juga mikir kayak Rara? Kalau pacaran itu merusak persahabatan?” Tanya Ruli.

“Gua engga tahu Rul. Tapi gua yakin cinta itu membangun, bukan menghancurkan” Jawab Bara. Ia menghembuskan nafasnya dengan agak keras.

Jawaban Bara membuat Ruli tersenyum. Mesikipun jawaban itu bukan jawaban langsung namun semua orang pasti dapat menyimpulkan arti jawaban tersebut. Ruli bukan tidak menyangka, tentu ia sudah menyangka, begitu pula Husein. Mereka berdua pernah mendiskusikannya. Mereka tahu dari cara Bara berbicara, menatap Rara, perhatiannya pada Rara. Bara itu hanya sekedar suka bola, ia hanya penonton bola, dan sesekali mengikuti berita bola. Selebihnya karena begitulah cara agar ia tetap dekat dengan Rara. Bara itu suka musik, dunianya adalah musik bukan bola.

“Sudah berapa lama?” Tanya Ruli kembali.

“Dua tahun”

“Dua tahun? Ternyata lu lebih cemen dari gua sama Onta”

Bara menunduk. Kembali menghela nafasnya dengan berat. Pengakuan itu ternyata membuat dadanya sesak. Pengakuan itu malah membuat ia makin takut, jika hanya dengan mengaku pada Ruli saja seperti ini rasanya, apalagi mengakui perasaan itu pada Rara.
Selama ini ia suka mencela tingkah polah Husein dan Ruli yang takut mendekati gadis mereka. Sekarang Bara sudah tahu jika dirinya juga tak jauh berbeda. Tapi itu bukan masalah besar. Selama Rara tidak tahu, bagi Bara bukan masalah besar.

“Gua udah bergerak sekarang” Kata Bara dengan nada agak ragu.

“Ya..belum terlambat karena Rara bukan milik siapa-siapa kan. Gua tahu, apa yang bakal gua omongin ini mungkin lucu menurut lu. Karena gua Cuma bisa ngomong doang” Ruli memegang pundak sahabatnya dengan lembut “Bro, jangan pernah ragu kayak gua. Gua yakin Rara juga punya perasaan yang sama ke lu. Jangan takut kehilangan persahabatan, mereka yang menjaga persahabatan takkan pernah ditinggalkan olehnya”.

Bara mengangguk-anggukan kepalanya, berusaha menyesapi ucapan Ruli tadi. “Thanks Rul. Lu emang yang paling ngerti gua” Kata Bara kemudian.

Es teh Ruli datang dan Bara kemudian ikut-ikutan memesan minuman yang sama yang membuat si Neng nyeletuk.

“Ih, si aa, kok engga sekalian si tadi”.

Bara menjawab hanya dengan mengangkat kedua bahunya.

****



Diubah oleh iponglalu
Mbah raung nya dah tamat ya? Belum sempet baca smpe tamat..tritnya di apus emoticon-Frown
Quote:


udah gan, baca di wattpad aja..ane post lagi disana. versi revisi malah..
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di