alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[cerpen] cerita kita - bagian 1
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5509d39a620881927b8b4567/cerpen-cerita-kita---bagian-1

[cerpen] cerita kita - bagian 1 & bagian 2 (dikomentar lanjutannya)

Malam gan/ sist... semoga gak salah forum. kalau salah tulung pindahin nah yang ngerti. ane masih newbie haha


Selamat dini hari ya! Ane lagi pusing sama skript ane soal tugas akhir eh ane malah kembali mengetik sebuah cerita. lama kagak main di kaskus pula, ini kisah fiksi terilham kisah teman ane dan tambahan bumbu lainnya. lalu kimia x (kira power puff girlskah?) semoga ada yang baca ya judulnya cerita kita. syukur-syukur ada yg jadiin novel wkwkwkwk *ngarep*
---
***

Cantik, menarik, ramah dan pintar merupakan cewek idamanku banget. Aku masih ingat dengan dirimu yang masih polosnya meminjamkan penghapus saat ujian masuk sekolah. Gadis yang sangat menarik sekali. Mulai saat itu aku sangat suka terhadapmu sejak pandangan pertama. Sekarang aku masih belum bisa melupakanmu. Mungkin aku harus mengakhiri ini semua agar aku tidak melihatmu lagi.

**

Kamu membuatku takut. Iya, kamu. Kamu adalah cowok teraneh yang pernah aku temui selama ini. Aku tidak menyangka kamu akan melakukan ini terhadapku. Aku bingung kepadamu yang membuatku seperti ini. Kini aku harus bertemu kamu setiap hari, tapi dengan dirimu yang lain yang harus aku temui. Mengapa aku yang harus begini?

***

Aku mengenalmu, menyukaimu dan selalu mencintaimu sehingga aku lupa betapa lama aku menyimpan rasanya mencintaimu. Aku bahagia sejak ujian masuk sekolah itu. Aku dan kamu lulus bersama dan masuk di kelas yang sama. Aku selalu memperhatikan senyumanmu itu. Senyuman yang membuatku melantukan melodi-melodi berirama di dalam pikiranku. Tapi, semuanya berubah saat kita menjalani hari. Mungkin kita sebenarnya tidak pernah melalui hari-hari itu.

tujuh tahun kemudian,

**
Sedikit demi sedikit aku menyeruput kopi, aku masih menunggu dia yang akan mengantarkan sarapan untukku. Aku yakin dia pria istimewa yang akan menikahiku. Keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. Orang tuanya begitu menyayangiku. Aku sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Dan langkanya sudah mulai terdengar menyusupi telingaku. Dia berada tepat di belakangku lalu aku menyapanya terlebih dahulu sebelum dia mengagetkanku.

“Hey…” Sapaku.
“Lama ya?” Tanyanya kepadaku.
“Enggak kok. Mana sarapanku?” Tanyaku balik dengan manja.
“Ini sayang sarapanmu. Telur mata sapi dan nasi goreng keju kesukaanmu.” Jawabnya seraya menunjukan makanan itu kepadaku.
“Horeee….” Kataku sambil menyicip makanan itu.
“Habisin ya! Setelah itu mari kita ke kantor.” Kata dia sambil menepuk rambutku.

Aku lalu mengangguk dan mulai menikmati makanan itu. Aku sudah mengenal dia hampir empat tahun. Ia kakak tingkat temanku, saat awal kuliah aku mengenalnya. Kami baru berpacaran selama 2 tahun tapi aku sangat mencintainya. Aku sangat ingin menjadi istrinya nanti. Kami juga berada di kantor yang sama. Dia adalah sosok yang sangat ku dambakan, sangat sempurna di mata wanita. Mata yang indah, bibir yang tipis, hidung yang mancung serta perawakannya yang sedang dengan kulit kuning langsat pastilah menggoda para wanita untuk mendambakan dia menjadi pasangan yang mesti ada di samping terlebih perhatiannya yang ia berikan sungguh selalu romantic setiap harinya. Kami bekerja di sebuah media local di kota kami. Dia menjabat sebagai general manager di kantorku. Kalau aku? Aku adalah seorang penulis konten dan editor seperti artikel berita. Siang ini aku akan bertemu seorang klien. Klien ini direkomendasikan oleh tempatku bekerja sebagai narasumber. Menurut bosku, klienku kali ini berbeda karena ia adalah seorang pengusaha muda yang usianya sebaya denganku. Ia meraih sukses di usia yang muda dalam bisnis penjualannya.

tiga tahun lalu,

***
Aku melihatmu, iya aku melihat kamu bersama seorang pria. Aku tahu kita sudah lulus dan kamu tidak ingin berbicara lagi denganku karena surat yang ku selipkan di dalam tasmu. Aku sungguh patah hati, sangat patah hati jadinya karena dirimu itu. Mungkin seleramu sangat tinggi sehingga kamu tidak ingin melihatku di sini yang merupakan pengagum rahasiamu selama sekolah. Apa kamu tidak tahu? Saat kamu kehilangan salah satu anting-antingmu, aku bersikap biasa saja tidak ikut mencari seperti teman-teman lain di kelas. Sebenarnya aku panic dan khawatir terhadapmu.

“Liat anting-anting aku gak?” Tanyamu padaku.
“Gak liat tuh. Kamu sih teledor.” Jawabku agak sinis.

Saat itu kau pergi melangkah menjauhiku. Aku tidak ingin menyakitimu saat itu, tapi aku bingung harus berbuat seperti apa dan apa yang harus aku lakukan. Aku ikut mencari di luar ruangan kelas saat itu secara diam-diam. Hingga pulang sekolah, sekolah mulai sepi dan malam aku masih mencari milikmu itu. Aku tahu itu sangat berharga bagimu karena itu adalah hadiah kelulusanmu dari ayahmu. Aku masih mengingatnya, sekitar empat tahun yang lalu.

“Bagaimana ujianmu?” Tanya ayahmu.
“Ujian saya baik ayah. Besok pengumumannya.” Jawabmu kepada ayahmu.
“Bagus, semoga lulus ya anak ayah sayang.” Kata ayahmu memelukmu.

Keesokan harinya, kamu dinyatakan lulus dan aku ikut senang. Ayahmu memberikan hadiah special kepadamu yaitu sepasang anting-anting yang berkilauan yang membuatmu semakin menarik di pandang mata.

**
Aku senang sekali dinyatakan lulus saat itu, aku pulang lalu memeluk ayah.

“Ayah, saya lulus.” Teriakku dari teras rumah.
Ayah keluar masih mengenakan pakaian kerjanya. Ia memelukku dan mencium keningku. Ia bangga kepadaku.

“Anak ayah hebat.” Kata ayah.
“Siapa dulu ibunya?” Kata ibu meramaikatn suasana.

Semuanya tersenyum. Ayah memberiku sebuah kotak kecil berpita biru. Aku membukanya dan terkejut karena kejutan ayah itu. Ayah memberiku sepasang anting-anting lucu yang sangat indah. Begitu berkilauan hingga aku sangat menyukainya. Ayah memang ayah terbaik sedunia yang pernah aku miliki.

--

**
Klienku akan datang saat makan siang. Aku menunggu di salah satu resto yang ada di dekat kantor aku sangat menunggu saat ini. Jika aku berhasil menulis artikel orang ini maka aku akan mendapat promosi dari perusahan dan menjadi kepala divisi publish. Sayangnya aku harus berkerja sama dengan orang ini selama tiga bulan lamanya. Karena klienku meminta artikelnya harus ada setiap seminggu sekali dan mengupas lebih dalam mengenai dirinya secara personal. Aku masih menunggu, ya dalam menunggu klien sepertinya harus siap menunggu daripada di tunggu. Suara klakson mobil putih itu mengejutkanku. Aku tahu itu adalah temanku yang akan datang memperkenalkan narasumber pengusaha muda itu kepadaku. Usianya belum mencapai 25 tahun namun usahanya sangat menjual. Ia juga sosok yang misterius di kalangan pebisnis muda. Saat temanku menuju kearahku aku sedikit tertegun melihat yang bersamanya. Begitu familiar sekali dan aku seperti sangat tahu dengan sosok itu.

“Sudah lama?” Tanya temanku.
“Nggak kok.” Jawabku.
“Ini narasumber kita. Namanya….”
Kata-kata temanku seolah-olah tidak ku dengar lagi. Aku sangat tahu dengan dia. Dia adalah orang yang mengaku sebagai pengagum rahasiaku. Ia adalah pemberi surat saat kelulusanku.

“Oh, Tuhan! Mengapa dia?” rintihku dalam hati.

Aku masih ingat, saat kelulusan ia menyelinapkan surat itu. Aku melihatnya tapi aku berpura-pura tidak tahu sama sekali. Dan isi surat yang tidak akan pernah ku lupakan seumur hidupku karena lewat surat itu aku mengenal dia. Isi surat itu membuatku sangat syok dan tidak ingin berbicara lagi dengannya. Isi suratnya adalah

“Hai, kamu yang selalu ku kagumi. Kamu apa kabar? Semoga baik-baik saja. Melalui surat ini aku akan menjelaskan isi hatiku. Surat ini membawa lantunan melodi langsung dari dalam hatiku. Aku sangat mencintaimu, aku menyukaimu sejak kita bertemu. Ingatkah kamu? Saat itu kita ujian masuk sekolah bersama. Kamu menyapaku dengan ramahnya. Aku terpikat karenanya. Dan kau meminjamkan alat tulismu itu. Saat itu aku tidak berhenti memperhatikanmu. Diam-diam aku mengikutimu saat pulang setelah ujian. Aku melihatmu bersama ayahmu. Ayahmu adalah orang yang baik. Aku juga mencari tahu mengenai ayahmu. Ayahmu adalah seorang pengusaha ekspedisi barang ke daerah terpencil. Kamu dan ayahmu sering tidak bertemu karenanya. Setelah itu keesokan harinya aku masih mengikutimu saat pulang. Ayahmu memberikan sebuah kado berpita biru. Isinya adalah anting-anting yang berkilauan.

Aku juga sebenarnya yang selalu memberimu bunga setiap minggu yang ku selipkan di bawah
mejamu setiap hari sabtu. Itu bukan dari mantan pacarmu yang tidak mengerti seleramu. Aku yang melakukannya. Banyak hal yang ku lakukan untukmu. Saat anting-antingmu hilang aku bersikap dingin kepadamu. Aku hanya bisa diam saat pacarmu menenangkan tangisanmu. Sebenarnya aku mencari antingmu di luar kelas hingga malam hari. Hingga aku menemukannya. Lalu aku taruh tidak jauh dari bangkumu. Keesokan harinya engkau menemukannya. Kamu tersenyum dan bahagia. Aku tahu, aku tahu, aku tahu, karena aku memperhatikanmu. Selama tiga tahun ini terimakasih telah menjadi temanku. Aku sangat menyukaimu. Aku mencintaimu.

Dari penggemar rahasiamu
Sampai kapan pun.”


Setelah lulus aku tidak mau lagi berurusan dengan penguntit sepertimu. Aku takut terhadap dirimu. Untung saja kita tidak satu universitas setelah lulus. Sejak itu kami tidak pernah bertemu dan kini harus bertemu untuk tiga bulan. Saat kita bersalaman dan dimulailah ketakutanku yang harus bertemu denganmu, lagi.

“Oke, gue tinggal dulu ya!” Kata temanku.
“Baiklah.” Kataku.

Kini hanya kami berdua di meja itu. Lalu aku membaca profilnya. Dengan sedikit mencuri pandangan aku sedikit khawatir.

“Kamu apa kabar?” Tanyaku berusaha mencairkan suasana.
“Aku? Baik kok.” Jawabnya.
“Oke, dia hanya klien dan klien adalah raja.” Harapku dalam hati.
“Sudah jadi pengusaha muda ya?” Tanyaku.
“Iya begitulah. Melanjutkan usaha keluarga kok.” Jawabnya simple seolah biasa saja.
“Lama ya tidak bertemu?” Tanyaku lagi.
“Maaf, sebelumnya kita pernah bertemu?” Tanyamu balik padaku.

Aku hanya terdiam sejenak. Kamu segitu sombongnya tidak mau mengenalku lagi. Baiklah aku akan bersikap seperti biasa saja. Angin berhembus kencang, sepertinya hujan akan turun. Kamu menawariku pulang, sebenarnya aku ingin menolak. Tapi karena dia tidak bisa menjemputku dan aku menghargaimu sebagai klienku maka aku terpaksa pulang bersamamu. Hujan mulai turun, tanpa banyak bicara kita melewati jalanan yang sepi. Aku heran kepadamu yang seolah tidak mengenalku. Apakah mungkin kamu dendam kepadaku setelah beberapa tahun ini? Sebenarnya selama tujuh tahun semenjak pertemuanku pertama. Aku masih menganggap dirimu aneh. Kamu berhenti di depan rumahku, tanpa aku minta masuk kamu hanya tersenyum dan pergi.

***
Aku seperti mengenalnya, sangat mengenalnya dan aku menjadi berdebar saat di dekatnya. Siapa dia? Seperti anak SMP yang baru masuk ujian SMA. Aku penasaran dengan gadis itu. Gadis itu sangat menarik seperti sosok yang pernah aku kenal entah siapa. Kini di dalam pikiranku adalah abu-abu menengai gadis penulis konten itu. Sakit kepalaku memikirkannya. Aku harus kembali lagi ke dokter langgananku. Aku harus berkonsultasi kepadanya. Sebenarnya dia adalah seorang pskiater yang selalu setia menemaniku sejak lima tahun lalu.

“Halo, dok.”
“Halo juga. Lama tidak bertemu ya?”
“Bagaimana hari ini?”
“Hari ini baik. Tapi hari ini aku bertemu seorang gadis.”
“Wah, pacar?”
“Bukan dokter.”
“Lalu?”
“Seorang relasi baru. Tapi aku seakan mengenalnya. Seperti familiar sekali.”
“Mungkin ia memang orang yang pernah mengenalmu dan kalian saling mengenal.”
“Aku tidak tahu dok. Semuanya masih abu-abu.”
“Bisa jadi dia adalah gadis yang berada di masa lalumu.”
“Entahlah dokter.”
“Perawatanmu akan terus saya lanjutkan. Semoga kau mengingat gadis itu.”
“Semoga.”

--

**
Ibu membuatkan susu hangat kesukaanku. Hujan tadi sedikit membasahi badanku. Tidak terasa besok adalah peringatan dua tahun kepergian ayah dan minggu depan adalah momen tidak terlupakan bagiku. Orang tua dia mengajaku makan malam. Aku yakin akan ada hal special yang di berikannya. Aku harus istirahat, karena besok adalah hari pertamaku bekerja sama dengan seseorang yang ingin aku lupakan karena keanehannya dan sekarang ia menjadi taruhanku untuk mendapatkan promosi di usiaku yang masih muda di dua puluh empat tahun.

Hari pertama dan untuk minggu pertama juga,
Aku mengikuti kegiatanmu dengan meeting juga bersama klienmu. Aku mencatat setiap langkahmu dan merekamnya sebagian. Aku yakin aku akan mendapatkan hal yang menarik untuk artikelku serta aku akan mendapatkan jabatan divisi publish. Aku yakin dan yakin pasti bisa. Hari pertama ku lalui dengan biasa dan bisa. Keesokan harinya aku masih mengikuti kegiatanmu. Aku masih kuat bersama denganmu karena kamu adalah klienku.

“Nona, bagaimana kamu masih bisa ikut aku makan malam bersama klienku lusa?” Tanyamu.
“Bisa. Aku bisa. Aku kan di tugaskan untuk mengikuti kegiatanmu oleh bosku.” Jawabku.

Aku berpakaian rapi dan berusaha terlihat menarik. Entah mengapa aku ingin berpakaian yang dapat memikat pandangan orang-orang. Makan malam yang sangat membosankan menurutku karena bertemu para pemilik saham. Kamu mengantarkanku pulang, lagi.

“Terimakasih ya sudah menemaniku.”
“Ini tugasku.”
“Antingmu bagus. Berkilau.”
“Terimakasih. Ini sesuatu yang berharga.”
“Pasti dari orang yang sangat kamu cintai.”
“Iya, ini dari ayahku.”

Aku turun dari mobilmu. Kamu tersenyum kepadaku dan melambaikan tanganmu. Jantungku berdegup kencang dan mengapa terjadi aku juga tidak tahu. Sangat-sangat membuatku sesak dan sulit bernafas.

“Kamu bodoh atau apa sih? Ini kan anting-anting yang pernah kamu carikan untukku.” Teriakku dalam hati.

--
**
Orang tuanya sungguh baik kepadaku. Aku tidak kuasa menolak tawaran kedua orang tuanya dan dia. Apalagi ibu telah menyetujui hubungan kita. Kamu melamarku dan kita akan bertunangan minggu depan. Aku sangat bahagia sekali. Sangat senang sekali hatiku karenanya. Tidak terasa juga sudah sebulan berlalui aku jalani sama kamu dan mengikuti kegiatan kamu. Karena kamu masih berusaha tidak mengenalku dan mungkin karena profesionalitas sebagai klien maka aku akan mengundangmu dalam pesta pertunanganku.

“Datang ya?”
“Baiklah, Nona.”
“Terimakasih.”

***
Hatiku sesak sekali saat menerima undangan itu. Entah mengapa gadis yang ku panggil nona itu akan bertunangan dengan kekasihnya. Aku sampai harus bertemu bersama dokterku lagi. Ia adalah psikiater yang sudah menjadi temanku dan bahkan ku anggap sebagai saudaraku sendiri.

“Mungkin kamu berusaha menghapusnya dari kenangan masa lalumu.”
“Entahlah dok. Semuanya masih abu-abu.”
“Kamu kan belum pulih. Kejadian dua tahun lalu memang membuatmu membangun pembatas antara kenangan yang kamu inginkan dan lupakan.”
“Atau karena dari beberapa tahun yang lalu juga? Karena aku terlalu aktif atau malah hiper-aktif?”
“Bisa jadi.”
“Sebaiknya kamu membuka buku tahunanmu agar kamu tahu siapakah dia sebenarnya.”

Aku membuka buku tahunanku, saat sekolah aku mencari data-data siswa dan alangkah terkejutnya aku. Aku sekelas dengan gadis yang sering ku panggil nona itu. Kepalaku sangat sakit dan semua terasa gelap. Dadaku sesak sekali hingga aku tidak mengingat apa-apa lagi.

Pesta kecil pertunangan,

**
Semua tamu telah datang. Hingga acara berlangsung diam-diam aku mencarimu, aku tidak yakin mengapa aku berperilaku seperti itu. Saat dia menyematkan cincin pertunangan aku bahagia sekali. Kami berencana menikah tiga bulan lagi. Itu artinya sebulan setelah aku mengakhiri kontrak kerja bersama kamu dan aku akan membina rumah tangga bersamanya. Dia yang selalu mencintaiku. Malam ini ku lalui dengan bahagia walau kamu tidak ada.

Hampir dua minggu kita tidak bertemu, ternyata kamu sedang di rawat di rumah sakit. Aku terpaksa menjengukmu karena perintah bosku dan artikelmu harus tetap terbit. Pihak perusahaanmu meminta agar hal ini dimuat sebagai artikel kelelahan bekerja di usia muda. Aku menurut saja mengikuti scenario yang ada. Aku membawakan buah-buahan dan susu untukmu.

“Selamat siang.”
“Siang. Wah, nona datang. Repot-repot sekali membawa buah tangan.”
“Tidak juga, kok. Kamu sakit apa?”
“Kelelahan saja. Wah, sudah ada yang melingkar di jari manis kirimu ya. Selamat atas pertunanganmu. Maaf aku tidak bisa hadir.”
“Iya tidak apa kok. Terimakasih ya?”
“Iya. Karena aku sakit terpaksa artikelmu tertunda ya?”
“Tidak juga.”
“Tidak terasa lima minggu lagi berakhir kontrak kita.”
“Iya.”
“kamu sebenarnya teman sekelasku kan lagi sekolah?”
“Memangkan?”
“Mengapa kamu tidak memberi tahuku?”
“Aku… aku pikir kamu sengaja pura-pura lupa padaku.”
“Oh, maaf! Aku mengalami gangguan ingatan.”
“Gangguan?”
“Iya. Aku mengingatmu setelah membuka buku tahunan. Aku mengalami gangguan ingatan setelah dua tahun lalu mengalami kecelakaan. Tepatnya tanggal tiga Juni.”
“Tiga juni?”
“Kenapa?”
“Itu hari di mana ayahku meninggal, sama tepat dua tahun lalu.”
“Kebetulan sekali ya?”
“Mungkin.”

***
Maafkan aku yang melupakanmu. Tapi kamu membuatku mengingat sedikit demi sedikit ingatanku yang pernah ku lupakan. Ada sesuatu yang membuatku masih sesak saat memikirkanmu. Sesuatu yang tidak bisa ku ucapkan dan hal ini begitu terasa mendalam sekali. Sangat membuatku tersiksa seperti saat melihat jari manismu di lingkari cincin dari dia. Apakah kamu adalah seseorang yang pernah berarti dalam hidupku?

--

**
Beberapa hari setelah dari rumah sakit aku mencari informasi mengenai kecelakaan dua tahun lalu pada tanggal tiga juni. Ternyata bukan kebetulan ayah meninggal di hari yang sama kamu kecelakaan. Kamu dan ayah terlibat dalam kecelakaan beruntun yang sama. Kalian adalah korban dari tabrakan saat hujan itu. Kini aku mengerti akan kondisimu. Dari sekian keanehanmu kini aku merasa kasihan kepadaku, tapi mengapa pertemuan singkat yang akan berakhir ini memberikan hatiku debaran yang berbeda? Mungkinkah?

***
Sudah dua bulan kita bekerja sama, dan ini adalah bulan terakhir kita bersama. Sedikit demi sedikit aku mengingatmu. Tapi aku belum yakin apakah aku pernah mencintaimu apa tidak. Mengapa semuanya begitu rumit?

**
Pagi masih berselimut embun. Di pagi buta ini aku harus menemani klienku lagi ke sebuah pembukaan restoran baru miliknya. Dingin sekali cuacanya hari ini. Kali ini aku yang menjemput klienku karena kondisi yang baru keluar rumah sakit beberapa minggu lalu.

“Aku dulu gimana?”
“Kamu aneh.”
“Masa?”
“Iya, aku aja heran kok kamu sekarang malah sukses gini.”
Laju mobil ku hentikan di depan restorannya.
“Sudah sampai. Masih sepi sih.”
“Iya.”
Sambil menunggu kami diam-diaman saja. Hening terasa di pagi yang mulai menampakan sinarnya itu. Hujan yang membasahi telah berhenti. Kemudian, ia mendekat kearahku.

“Aku ingin memastikan sesuatu.”
“Apa?”

-bersambung-
lanjutannya nanti di [cerpen] cerita kita - bagian 2
di komentar bawah ini lanjutannya ya!

Keterangan: sebenarnya di sini si Aku adalah si Cowok aneh, Kamu adalah si cewek, dan Dia adalah pacar dari si cewek
agar mudah setelah saran dari agan mochalovers saya kasih tanda biar gak bingung berpindah karakter.
** = si cewek
*** = si cowok
selamat membaca!
Diubah oleh: RahmiLatifah
Thread Sudah Digembok
Urutan Terlama

[cerpen] cerita kita - bagian 2

lanjutannya nih gan/sist
----

**
Dia menatap mataku dan kemudian mencoba mendekat, aku hanya terdiam dan perlahan tatapan matanya melemahkanku. Ia berusaha mendekat, nafasnya terasa mendekat ke wajahku. Perlahan ia semakin dekat, terasa lembut dan hangat saat bibirnya mendekat kearahku. Aku tidak mengerti mengapa aku terdiam saat itu. Kecupan itu membuat bibirku mulai basah, masih hangat terasa. Selepas itu ia memelukku dengan hangat dan erat. Ia mendekat ketelingaku dan mulai berbisik.

“Kamu, yang aku cinta. Akulah pengagum rahasiamu.” Bisiknya di telingaku.
Aku yakin ingatannya tentang kami yang dulu telah kembali. Aku berusaha melepaskan pelukkannya. Ia belum juga melepaskanku hingga ponselku berbunyi.
“Halo? Iya.. iya .. iya pak. Kami sudah di depan restoran. Silahkan datang kameramennya. Saya sudah siap menulis artikelnya.

Aku lalu menampar wajahnya namun tidak bisa saat menatapnya.

“Aku akan menikah dua bulan lagi.”
“Selamat.”

Ia hanya tersenyum kepadaku dan turun dari mobil. Hari ini berjalan seperti biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Malam tiba, dia menelpoku dan menanyakan kabarku. Aku sangat senang dia menelponku. Siapa sih yang tidak senang ditelpon calon suaminya. Aku merasa bersalah atas perbuatan kamu tadi pagi kepadaku. Aku takut dia tahu soal itu dan aku tetap merahasiakan soal kamu ke dia. Udara dingin sangat terasa. Pukul sebelas malam, jalanan mulai sepi akan lalu lalang. Wajahku mulai memerah.

***
Setelah kejadian tadi pagi aku yakin dialah cinta sejatiku sejak dari dulu. Tapi kabar pernikahannya menyakitkanku. Sakit sekali terasa di dalam hatiku. Saat pulang dan sudah larut malam aku melihatnya mengemudi dengan wajah yang memerah. Aku menyuruhnya berhenti di pinggir jalan.

“Stop dulu.”
“Iya.”

Kami makan di pinggir jalan di warung sate ayam. Ia terlihat lesu, apa karena perbuatanku tadi pagi? Selesai makan ia berjalan lunglai dan pingsan. Ia terserang demam, terpaksa aku ambil alih untuk meyetir pulang. Ia wanita yang sangat special. Aku membawanya ke klinik, ia masih belum sadar.

“Aku di mana?”
“Kamu di klinik.”
“Antar aku pulang.”
“Baiklah.”

Aku mengantarkannya pulang. Wajahnya saat tertidur bagaikan malaikat, aku yang menyetir saja tidak bisa konsentrasi karenanya. Betapa beruntungnya dia yang akan memiliki kamu.

--

**
Kontrak kita telah berakhir, aku akhirnya naik jabatan setelah promosi. Divisi publish, akhirnya!
Kamu kini menjadi pengusaha yang masih maju dan berkembang. Ada sedikit yang masih menyesakan dada. Aku berusaha ingin bertemu denganmu. Ada yang ingin ku sampaikan kepadamu. Kamu beberapa kali menolak karena kesibukanmu dan aku masih berusaha merendahkan diriku di hadapanmu hingga akhirnya kamu mau berjumpa denganku.

“Terimakasih telah datang.”
“Iya. Langsung saja.”
“Terimakasih waktu itu saat aku sakit..”
“Sudah kewajiban sesame teman.”
“satu hal ada yang ingin aku tanyakan.”
“Apa itu?”
“Apakah kamu masih mencintaiku?”

Hening sejenak terasa di ruangan itu. Seakan hanya kami berdua dan membekukan waktu.

“Aku tidak bisa menjawabnya. Karena kamu akan menikah dan itu tidak akan merubah segalanya…”
“Aku perlu tahu.”
“Cukup kita berteman kan? Seperti dulu seperti yang kau inginkan.”

Sebenarnya aku ingin mendengar jawabanmu. Karena dalam hatiku juga ingin ku sampaikan sesuatu yang membuat dada ini sesak karenamu.

“Terimakasih selalu ada untukku dari dulu hingga sekarang dan sepertinya aku mulai menyukaimu dan jatuh cinta padamu.” Ucapku dalam hati.

Kamu pergi melewati diriku dan melanjutkan pekerjaanmu dan hidupmu.

***
Saat kamu sudah kembali dan membangkitkan ingatanku aku yakin kamu cintaku. Saat kita bertemu, setelah urusan pekerjaan kita selesai dan kamu mengucapkan hal itu aku hanya bisa terdiam.

“satu hal ada yang ingin aku tanyakan.” katamu
“Apa itu?” Tanyaku.
“Apakah kamu masih mencintaiku?” Tanyamu balik yang merupakan pertanyaanmu.

Hening sejenak terasa di ruangan itu. Seakan hanya kami berdua dan membekukan waktu. Aku terkejut kamu menanyakan itu. Tentu aku masih mencintaimu dan aku sangat berterimakasih kamu mengembalikan ingatanku yang pernah hilang.

“Aku tidak bisa menjawabnya. Karena kamu akan menikah dan itu tidak akan merubah segalanya…” Jawabku dengan terpaksa.
“Aku perlu tahu.” Pinta mu lagi.
“Cukup kita berteman kan? Seperti dulu seperti yang kau inginkan.”. Kataku.

Setelah itu aku pergi meninggalkanmu, berlalu melewatimu walau sebenarnya aku ingin berbalik dan berteriak bahwa aku mencintaimu.

“Aku mencintaimu, dulu, kini dan nanti karena aku pengagum rahasiamu.” Ucapku dalam hati.

Dua minggu kemudian,

***
Aku menerima sesuatu berpita biru yang sangat indah dan sedikit berkilau. Aku tahu itu seleramu, semoga dia bisa membahagiakanmu. Undangan pernikahanmu begitu indah saat ku buka dan tak kuasa air mataku mengalir.

**
Saat mengirimkan semua undangan itu hatiku sedang tak menentu. Apakah ini cinta setelah tujuh tahun berlalu? Mungkinkah semuanya berubah seandainya dia menyatakan cintanya lagi kepadaku seperti perkenalan kami saat masih remaja? Pernikahan ini akan berlangsung dengan undangan yang sudah tersebar dan salah satunya pasti sudah di tanganmu.

::kalau ditanya udah tamat apa belom ane juga bingung. mau ditamatin atau mau dilanjutin. ane capek malam ini ngetik segini banyak. mau lanjutin skirpt TA juga ngantuk. segini dulu dah ya!::

makasih sudah baca! ^^
Semoga terhibur,

Samarinda, 19 Maret 2015
Diubah oleh RahmiLatifah
ah nyesek...
tapi agak bingung pas perpindahan karakter pertamanya
mungkin karena ga ada penandanya...
Quote:

Terimakasih gan sudah komentar. Masih coba-coba, bingung mau buat karakter tanpa nama saja. nyeseknya di mana ya? mohon masukannya :3


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di