alexa-tracking

Perfect Love: a Love Story [diadaptasi dari pengalaman pribadi]

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54fda2fcd675d4a7158b456a/perfect-love-a-love-story-diadaptasi-dari-pengalaman-pribadi
Perfect Love: a Love Story [diadaptasi dari pengalaman pribadi]
Spoiler for sampul-sampulan:



Halo Agan dan Aganwati penghuni forum SFTH ini, di thread ini ane mau mencoba bercerita.

Spoiler for FAQ:


Rules:
  • Jangan OOT
  • sopan
  • mengacu ke rules forum H2H dan SFTH


ane usahakan update setiap hari kalau tidak ada kesibukan.

emoticon-Request ane berharap agan dan aganwati memberikan bintang lima untuk thread ini emoticon-Rate 5 Star

Spoiler for INDEX:

emoticon-Rate 5 Star

Prologue



Perkenalkan nama gue Adhitia Pratama, biasa dipanggil Adit. Gue termasuk orang antisosial. Entah mengapa gue lebih nyaman ketika sendirian dibandingkan ketika bersama orang-orang. Dengan begitu, kurang suka bersosial dengan lingkungan di sekitar. Gue tahu, bahwa sifat ini bisa membunuh gue suatu saat nanti.

Selain itu, gue termasuk orang yang cupu. Gue lebih suka membaca buku dibandingkan bermain dengan teman sebaya. Gue lebih suka nongkrong di toko buku daripada nongkrong di tempat anak-anak gaul. Gue lebih suka belajar dibandingkan bergaul. Dan, gue suka khawatir akan masa depan gue dengan sifat (buruk) yang dimiliki.

Walaupun gue lebih nyaman sendiri, tapi gue sadar, gue tidak mungkin seperti ini selamanya. Harus berubah.

Gue adalah anak tunggal. Jadi anak tunggal enak-enak-enggak.Enaknya kalo dikasih sesuatu, gak perlu dibagi sama sodara lainnya. Enggak enaknya, kalo mau minta bantuan (sama sodara) susah.

Gue berperawakan tinggi, kurus, berkulis sawo matang, berkacamata dengan frame tipis. Gue mulai pake kacamata sejak umur 7 tahun.Tidak jarang juga gue dipanggil 'si mata empat'.

Pengalaman hidup gue cuma itu-itu aja, jarang ada yang menarik. Tapi, yang paling dan sangat menarik adalah: pengalaman cinta.

First of All

Bandung, 1997
1.
First of All


Di SD, gue merupakan orang yang sulit bergaul, akibatnya gue tidak mempunyai banyak teman. Oleh karena itu, di moment ini, ketika masuk SMP, gue manfaatkan untuk menambah teman. Karena gue tahu di SMP setiap angkatan pasti ada banyak siswa. Di angkatan gue ada 10 kelas dengan masing-masing kelas mempunyai rata-rata 40 siswa. Dengan begitu, besar kemungkinannya gue akan mendapatkan banyak teman.
Namun, karena memang bawaan dari sananya dan salah satu masalah terbesar gue adalah kurang percaya diri, gue susah mendapatkan teman. Juga tidak ada orang setipe dengan gue.

Jarang sekali ada orang yang suka membaca. Beda dengan gue yang kerjaannya setiap hari membaca. Bahkan, ketika gue membaca di kelas, malah diledek ini itu. Misalnya, bahwa gue ini sok rajin, cari perhatian, atau apapun. Sebenarnya, gue membaca hanya untuk kebutuhan hidup. Gue yakin, suatu hari nanti, apa yang telah gue baca, pasti akan ada manfaatnya, secara langsung maupun tidak langsung, atau secara disadari atapun tidak disadari.

Di tahun pertama gue duduk di bangku SMP, tidak banyak perbedaannya dengan sewaktu SD, teman gue masih bisa dihitung dengan jari. Tapi di tahun pertama di SMP, gue mulai bisa merasakan rasanya jatuh cinta. Karin, orang yang gue taksir sewaktu SMP kelas 1. Tidak banyak yang bisa gue lakukan untuknya. Hanya memerhatikan dia dari kejauhan, tidak lebih dari itu. Bahkan menyapanya pun tidak pernah. Orang cemen kayak gue gak bisa ngapa-ngapain. Ditambah lagi, dia cantik dan gue… punya tampang kayak gini juga udah bersyukur. Dan saingannya pun membuat gue minder. Akhirnya gue kalah sebelum perang.

Teman gue, Dika, yang sering gue jadikan tempat curhat tentang Karin. Ya, walaupun curhatannya itu-itu aja, yang penting gue gak curhat tentang cara memilih celana dalam yang baik. Seperti:
“Dik, celana dalem gue udah sempit, nih. Gue harus gimana?”
“Gampang, tinggal beli yang baru, terus pastikan ukurannya pas dengan lekukan pantatmu, blablabla.”
Jadi geli kedengerannya juga.
Perlu diketahui juga, di tahun pertama di SMP, gue tidak masuk ekstrakurikuler atau organisasi apapun.

Di tahun kedua, gue mulai mendapatkan teman lebih banyak. Mungkin karena faktor di kelas 2 SMP gue masuk kelas favorit. Teman-temannya pun banyak setipe dengan gue. Misalnya suka membaca buku dan pada rajin-rajin. Oleh karena itu gue lebih mudah bergaul dengan teman sekelas. Hampir dengan satu kelas gue akrab satu sama lain. Kalau mengobrol, gue dan yang lainnya nyambung. Sampai akhirnya gue jatuh cinta pada seseorang. Kali ini, gue berhasil menyatakannya dan berhasil mendapatkannya. Tapi, pada akhirnya hubungan kami kandas juga.
KASKUS Ads
image-url-apps
Wah cerita baru, sepertinya bakalan seru nih..
Smangat updatenya gan yo..
image-url-apps
izin nangkring ya bangg emoticon-Betty
image-url-apps
waaah cerita baru niih, ijin bangun tenda ye gan

2. Berusaha Berubah

Pemilihan ekstarkurikuler adalah salah satu cara untuk mengubah nasib. Ya, di tahun kedua di SMP, akhirnya gue memutuskan untuk masuk salah satu ekskul, yakni Palang Merah Remaja, disingkat PMR.
Motivasinya karena ingin menghilangkan rasa ketidakpercayaan diri. Selain itu, gue juga termasuk orang yang cuma mikirin diri sendiri. Kata orang, jika kita masuk organisasi, sifat keegoisan kita akan hilang, diganti dengan sifat kesolidaritasan.

Risa dan Riska sedang menunggu gue keluar dari toilet sekolah untuk berganti pakaian. Mereka bukan saudara kembar, juga bukan saudara kandung, hanya kebetulan saja nama mereka hampir sama. Sengaja, gue tidak langsung keluar toilet untuk menemui mereka, tujuannya untuk menyiapkan diri lebih matang lagi karena hari ini adalah hari pertama kali gue berkumpul bersama anggota PMR lainnya, belum menjadi anggota resmi tentunya.

“ADIITT!!” teriak Risa. Namun, gue acuhkan.

Teriakan itu terdengar kembali, sekarang Riska yang berteriak.

Gue menghela napas panjang, lalu membuka pintu toilet.

“Lama banget, ngapain aja kamu di toilet?” tanya Risa, sedikit sewot.

“Ganti baju, lah, mau ngapain lagi coba.”

“Lho, kok lama banget? Kan, cowok ganti bajunya—“

“Udah, udah,” potong Riska. “Yuk, ah.”

Kami bertiga berjalan menuju kelas di mana PMR sedang berkumpul.


“Salim dulu ke alumni.” bisik Riska.

Kemudian gue menyalimi salah satu alumni yang belum gue ketahui namanya.

“5S-nya jangan lupa.” bisik Riska, lagi.

“5S? SeSeSeSeSetan?” gurau gue.

“Aku lagi gak becanda.” jawab Rina, sedikit emosi.

“Sorry…”

Gue masuk ke kelas lalu memperkenalkan diri di depan anak PMR, “Nama saya Adhitia Pratama.” ucap gue dengan sangat cepat.

“Ulangi coba, gak jelas.” sambung Rina, Komandan PMR di sekolah angkatan 13, angkatan gue lebih tepatnya, “Santai aja.”

Gue mengangguk dan mengulanginya kembali, “Nama saya Adhitia Pratama.”

“Alasannya masuk PMR apa?” tanya Rina.

“Alasan utamanya saya ingin belajar berorganisasi. Supaya, dengan saya masuk organisasi, sifat individualisme saya bisa hilang, atau setidaknya meluntur, walaupun sedikit.” jelas gue.

Kemudian terdengar ada seseorang yang bertanya, “Pacarnya siapa?”

Gue tidak menjawab.

Setelah perkenalan singkat, gue mencari bangku kosong dan duduk di bangku tersebut. Hanya celingak-celinguk yang dilakukan, mengingat gue adalah orang baru di sini. Beberapa pembicaraan terdengar, seperti membicarakan tentang uang khas, kehadiran, atau materi-materi. Jelas, gue tidak tahu apa-apa, hanya bisa mendengarkan tanpa tahu maksudnya. Ini merupakan pilihan terbaik dibandingkan ikut berbicara mengandalkan jurus sok tahu.

Pembicaraan demi pembicaraan telah dilewati, setelah itu kami latihan membuat tandu.

***

Hari demi hari gue lalui, bertemu dengan teman satu organisasi hampir setiap hari. Gue merasakan ada perubahan, namun entah apa yang berubah. Yang pasti ketika gue dekat dengan Rina, hati gue seperti genderang mau perang. Orang bilang yang seperti ini dinamakan jatuh cinta. Memang benar, cinta itu bisa tumbuh ketika sering bertemu juga sering bertegur sapa. Tidak bisa gue pungkiri bahwa gue telah jatuh hati padanya.

But I can’t do anything.

Entah kenapa gue tidak bisa bilang bahwa gue cinta padanya. Mungkin salah satu faktornya karena gue sadar belum bisa menjadi yang terbaik untuknya atau mungkin gue memang bukan yang terbaik untuk dirinya.
Jatuh cinta diam-diam adalah pilihan terbaik, setelah gue tidak bisa berbuat apa-apa untuknya.
image-url-apps
TS nya Introvert, seru nih emoticon-Belo
image-url-apps
Update dong.

The Choice

Maaf gan baru bisa update lagi sekarang, ada kesibukan di dunia nyata emoticon-Malu (S)

Quote:

4. Melamun

Quote:

5. Akibat Galau

Quote:

6. Curhat

Quote:
image-url-apps
bakal happy ending nih dr judulx..... keep apdet broooo...
image-url-apps
cerita baru ijin bangun hotel ya gan emoticon-Big Grin
Quote:

Siap gan! emoticon-Ngakak (S)

Quote:


Quote:


Monggo gan :d


Quote:

semoga ya gan emoticon-Hammer (S)

Quote:

bisa iya bisa tidak gan emoticon-Hammer2 pantengin aja emoticon-Big Grin

Quote:

monggo gan

7. Curhat 2

Quote:
Lanjutkan gan ceritanya,seru tuh.. emoticon-Big Grin

8 - Short Update

Quote:

9. Salam Perpisahan

Quote:
×