alexa-tracking

[Realita] Sesuatu yg abadi ialah perubahan.

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54f5a499bdcb17b34b8b456e/realita-sesuatu-yg-abadi-ialah-perubahan
[Realita] Sesuatu yg abadi ialah perubahan.
Sore itu adalah reuni yg mungkin takkan pernah saya lupakan, menjadi salah satu momen yg pantas untuk saya catat dalam Altar ingatan-ingatan saya. Ada riuh dalam hati, ada pula kepedihan mendalam, serta perasaan bangga diselimuti kecemasan. Perasaan yg sudah lama tidak pernah lagi hinggap dalam hidup saya belakangan. Aktifitas diluar rumah, Workshop mobil milik teman, serta kegiatan 'buang hajat' di Forum Kaskus membuat saya sedikit demi sedikit meninggalkan perihal rasa yg saya tujukan tadi. Namun sore itu semua beda, benar-benar berbeda.


3 Minggu yg lalu seorang sahabat lama saya datang berkunjung ke rumah. Erik 'Bolgem', begitu biasa kami panggil. Membawa beberapa Kaset-kaset lama yg dia dapat dari pergi keluar negeri dan ditambah dengan 1 bungkus nasi Kebuli kegemaran saya. Rasa kagetpun ada, aneh sekaligus takjub melihat kedatangannya dengan 'warna' yg baru, ia kini tidak lagi 'berwujud' sama seperti terakhir saya bertemu dengannya 5 tahun yg lalu. Kini ia tampil lebih mirip bagaikan 'Abu Nawas' asal kota kembang, Potongan rambut rapi, setelan baju yg nampak Bossly, serta tidak ada lagi sobekan yg berteman di celananya kini. "Rambut ngesbray setengah gundul lu kemana, Rik?" canda saya mengawali pembicaraan sembari mengajaknya naik keatas dan menawarkan duduk di balkon rumah. Ia hanya tertawa dan duduk lalu mematikan rokoknya. Nampaknya ia masih mengingat bahwa saya tidak merokok, setidaknya saya tahu bahwa itu sesuatu yg belum berubah darinya.


Sebagai pengenalan saja, Erik adalah sahabat saya dari kecil ketika saya masih tinggal di Bandung, hingga saya SMP akhirnya orang-tua memutuskan untuk pindah ke Tangerang karena beberapa alasan. Tidak lama setelah itu keluarga Erik pun memutuskan untuk mengikuti jejak keluarga kami, sama-sama pindah ke Tangerang dan Erik memilih sekolah SMP yg sama dengan saya. Erik salah satu teman saya yg 'awet' bertahan dengan kesompralan yg dahulu kala sering kami lakukan bersama kawan-kawan lainnya. Julukan Bolgem yg ia dapat bukan sebagai julukan remeh-temeh yg hinggap begitu saja. Sejarah yg agak 'Megalomania' mengenai julukan tersebut mungkin pantas ia dapatkan. Dahulu Erik dapat dikenal dimana saja, mudah rasanya untuk mencari informasi tentang dirinya. Erik lebih banyak dikenal sebagai 'Algojo', karena hobinya yg menyelesaikan masalah dengan Bolgem mentah itulah yg membuat itu mendapatkan 'Gelar kebangsaannya' tersebut.


Masa-masa transisi saya dengan Erik memang sulit untuk terlepaskan dari kata anti-mainstream, anti-peace, dan anti-rule. Mengingat tentang betapa Chaosnya masa-masa itu kami hadapi. Saling bertumpu dan melindungi punggung satu sama lain adalah kewajaran dan berhala mutlak yg harus kami 'sembah' kala itu. Tangerang itu keras adalah istilah yg biasa sering terucap, malah semacam wejangan kepada para pemuda di kota kami untuk mengabsahkan tentang apa yg sebenarnya terjadi mengenai tingkat kekerasan yg terjadi. Dulu, hampir 1 dekade yg lalu banyak ketololan yg nampaknya jika diingat hanya akan menjadi bahan lelucon yg sekarang layak untuk ditertawakan. Semua obrolan-obrolan Imajinatif, tentang kepribadian yg mendadak Amnesia dan tertancap pada hal asing. Mendadak hobi mengumpulkan film-film horror, Dokumentasi film karya Harun Yahya, Komik-komik Marvel dan DC, hingga mendadak pula mendengarkan band-band Japanese Rock, meniru gaya rambut duran-duran dan bertingkah sok asik ketika demam film 'Realita Cinta dan Rock n Roll' melanda yg jikala harus diingat lagi rasanya amit-amit jabang Koramil kami pernah seperti itu! intinya seolah-olah kami adalah pemuda yg tidak mengenal istilah Budaya-sentris. Tak ada timur, tak ada Barat. Ibaratnya manusia terjebak dalam goa , satu-satunya hal yg disebut produk budaya, ya apa saja yg kami temukan dalam goa tersebut, Bisa saja cerita Stensilan, Musik-musik, Graffity, Otak-atik mesin, Drifting bahkan Kanjou, meskipun yg lebih sering adalah Brazzer dan 3gp. Sebagai Survivor kami tak bisa menolak apa yg tersedia dalam goa tersebut untuk bertahan.


Peristiwa yg terjadi menimpa ayahnya membuat semua berubah, membuat Erik tak lagi percaya pada istilah kenegaraan, agama, dan bahkan mungkin prinsip yg selama ini ia yakini. Pernah di suatu malam dimana kami harus menenangkan Erik, membisikinya bahwa dunia adalah taman bermain bagi kita semua sebagai mahkluk fana. Namun Erik tetap mengutuk langit malam pada hari itu, yang jika saja diingat lagi mungkin ia dapat membumi-ratakan satu Polsek dalam semalam. Ayahnya tewas dengan keadaan yg penuh misteri setelah Almarhum menuliskan suatu artikel dalam kolom koran kota mengenai adanya Indikasi bagi-bagi 'daging' dalam proyek perbaikan jalan kabupaten Tangerang. Hingga kini kasus tersebut tak pernah lagi terdengar kelanjutannya. Entah hari ini Erik sudah mencoba berdamai dengan itu semua atau tidak, hanya hati kecil dan dia sendirilah yg mengetahuinya.


"Yan, lu masih gitu-gitu aja?" Tanya Erik pada saya sembari membawa piring dan meletakan Nasi Kebuli yg ia belikan untuk saya. Saya paham sekali apa maksud dari Erik mengenai kata-katanya 'gitu-gitu aja'. Tak banyak membalas, saya hanya senyum dan menawari ia makan. Lalu ia menceritakan bagaimana ia bertransformasi dari seekor kambing hingga menjadi singa seperti hari ini. Entah apa yg harus saya utarakan, antara ironi atau bangga. Dulu saya sangat mengenal Erik, tak ada sedikitpun dalam benak saya jika ia harus 'singgah' dalam dunia yg ia jalani sekarang. Kini ia bekerja dengan perusahaan asing milik negara Gingseng dan mendapatkan jatah kursi tinggi di perusahaan tersebut.


Saya tetap asik menikmati Nasi Kebuli, maaf sobat tapi rasa Nasi Kebuli yg enak ini sulit membuat saya berhenti mengunyah. Akhirnya sampai pada titik utama yg mungkin menjadi alasan mengapa ia berkunjung dan ingin berbicara pada saya. "Lu masih deket sama orang-orang yg di daerah Tanjung Pasir itukan? bisa bantuin gua gak? karena gua rasa cuma lo doang yg bakal 'mulusin' semuanya!" Ungkap Erik sambil bertanya pada saya. Entah apalah arti dari kata 'mulusin' tersebut, namun saya merasa ada yg sedikit mengganjal dalam benak. Lantas saya menanyakan apa maksud dari semuanya, meski saya bisa menerka apa yg hendak ia utarakan dengan banyak hal yg terlihat berubah sekarang dari Erik saat ini. Binggo! Demi dewa Marmot dan para pengikutnya, semua sudah pada dugaan saya.


Sebagai catatan: Saya sampai hari ini masih ada kegiatan korlap pada aksi dan koordinasi solidaritas mengenai penolakan akan adanya pembangunan Pabrik tambang pasir dikawasan Tanjung Pasir karena dapat mengganggu ekosistem serta penduduk disekitar yg nantinya jika kegiatan pabrik tersebut terjadi, kami bersama membuat petisi sebagai bentuk perlawanan. Erik mengetahui hal ini dan ia berusaha untuk mencoba meminta bantuan saya untuk 'memuluskan' usaha para calon penanam modal agar warga Tanjung Pasir mengubah pikiran dan menerima pembangunan tersebut.


Ia mengeluarkan sebuah 'Surat Cinta' yg berisi benih-benih petisi untuk saya dari Boss serta Mitra-kerjanya sambil berkata bahwa itu adalah kado istimewa untuk saya. Jujur saja, saya merasa tersinggung dan agak menyesal mengenai diri Erik sekarang. Entah apapun yg merasuki Erik sekarang saya hanya berharap agar ia dapat terbangun dan sadar dari 'kesurupannya'. "Yan, lo gak bisa terus-terusan begini, toh ini semua juga pasti gak ada ruginya buat lo, udahlah hidup yg 'wajar' aja lagipula lo pasti gak akan bisa ngelawan arus zaman......" saya malas untuk melanjutkan dan mengetik ucapannya yg berisi ceramah tentang betapa Alamiahnya Kapitalisme, kooptasi, serta KKN, dan kawan-kawannya yg dimana saya sudah bisa tebak akhir dari ceramahnya tersebut. Saya memilih untuk diam dan mengembalikan 'kado' tersebut kepadanya.


Dengan wajah yg agak musam, nampaknya Erik tahu apa maksud saya tersebut. Ia masih tetap melanjutkan ucapan keringnya mengenai saya, namun kali ini agak sedikit menceramahi hidup saya yg ia anggap tidak bisa bertahan terus-menerus seperti saat ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas dan menjawabnya, mungkin karena adanya tenggat dan interval antara saya dan Erik sebagai sahabat lama yg membuat saya tak punya nyali besar untuk menghadiahi 'kado keras' untuknya seperti yg pernah saya kasih kepada orang-orang sebelumnya ketika hal sama terjadi. Jujur saja saya masih sangat menghargainya. Sejenak ia terdiam dan saya masih dengan sompralnya tetap memakan Nasi Kebuli, jujur rasanya memang enak.


Akhirnya adzan Maghrib tiba, seolah penyelamat kami dari kekakuan yg terjadi beberapa menit berlangsung. Entah ia merasa linglung atau habis bahan pembicaraan, Erik memutuskan untuk pamit dan pulang. Namun ia memberikan saya alamat baru sambil berucap untuk menghubunginya jika ada yg ingin dibicarakan kembali. Dari hal tersebut nampaknya ia masih berharap saya untuk merubah pikiran. Ia pun berpamitan dan saya terdiam sejenak di teras rumah.


Berpikir bahwa nampaknya dunia sudah banyak berubah tanpa saya banyak sadari, entah ia berubah begitu cepat atau saya yg menolak pada kenyataan bahwa semua bisa berubah. Masih begitu terngiang dalam otak saya mengenai kata-kata Erik tadi mengenai 'wajar' yg ia ucapkan. Ada rasa penyesalan dan berteman dalam kebingungan tentunya setelah baru saja yg terjadi. Adapula rasa rindu dimana kami pernah bersama dengan kawan-kawan yg lain untuk bersikap menjadi murid pada malam, malam yg mengajarkan kami untuk memberi ruang dan mengikhlaskan banyak hal, menuturkan pengalaman bahwa terkadang rasa penasaran berakhir menjadi duka. Mungkin saat ini saat dimana saya harus mengikhlaskan apa yg berubah dari Erik.


Nampaknya saya dan Erik telah memperlihatkan kenyataan bahwa poros langit yg kami pilih telah membelah jalur pada apa yg dahulu pernah kami kerjakan bersama. Meskipun saya tak menyangka bahwa ini menjadi titik nadir segalanya takkan lagi sama. Mungkin satu dan lain hal kami bersebrangan, namun itu semua takkan mengubah fakta bahwa Erik tetaplah sahabat saya. Siapapun boleh dan bisa mengecap saya dengan ungkapan munafik atau satir-sarkas apapun mengenai apa yg saya yakini, namun inilah yg saya pilih dan akan saya pertahankan pada titik dan hari jadi dimana saya tidak tahu dimana dan kapan akan terhenti. Namun tidaklah semua itu terjadi pada hari ini, bukan harapan untuk terlihat 'sok-sok an' terlihat Idealis, apalagi Heroik. Hanya saja adalah satu kecil kewajaran kala saya masih ingin hidup wajar. Wajar yang tanpa embel-embel apapun tanpa menggunakan tanpa kutip.
buat cerita gak bilang2 emoticon-Mad

aku baca dulu ah

--------

oh jadi ini ya yang kamu blg kamu berjuang utk diri sendiri.
ya.. aku paham sekarang.

berjalan sendiri ke utara saat seluruh orang2 berbondong-bondong tersesat ke selatan pasti sulit.
apalagi kamu cm seorang diri.
bisa tertabrak, terjatuh, bahkan terinjak.

pun hal yg kamu kejar di ujung sana juga fana. kamu tetap mempertahankah "keakuan".
ya bagus. pria harus punya prinsip.

tapi aku cuma mengingatkan, kalau kamu pergi taruh hatimu disini (tempat kamu memulai)
sekali kamu pergi, kamu gak akan kembali lagi dan mati setidaknya hatimu masih ada disini.

emoticon-flower
Ayahnya erik ini wartawan ya ga emoticon-Bingung (S):
Anwy kasus apa sih gan.. ada di berita.. ?? Kisahnyata kan??
Kalo gw sih paham aja sihh dendam nya erik..
cuma sayang aja.. dia ibarat kata gk bisa move on..