alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54eb54a4dc06bd1a3c8b456e/love-my-hater

Love My Hater


WELCOME TO MY THREAD
Selamat malam Kaskuser, kali ini ane akan mem-posting sebuah cerita bersambung atau cerbung karya ane, judulnya...
Spoiler for Judulnya...:


Bagaimana jika kau mencintai seseorang yang justru sangat iri dan membenci dirimu? Apakah kau akan tetap berusaha memenangi hatinya atau kau akan menyerah dan mencari cinta yang lain?

Cerita ini hanya karangan fiktif belaka.

Quote:
Diubah oleh: gilbertagung
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 2

Part 1 - Mengapa Harus Dia?

Love My Hater(Inspired by My Past True Story)


Part 1 - Mengapa Harus Dia?

Sekolah itu hanyalah sebuah sekolah menengah biasa di tengah-tengah pemukiman. Di sekolah yang menempati gedung bergaya klasik dengan 5 lantai itu, populasi siswa dan siswi cukup seimbang. Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru di sekolah itu. Semua siswa, pengajar, dan kepala sekolah sedang berkumpul di aula utama dalam rangka acara pembukaan tahun ajaran baru.

"Selamat untuk Anda, Nona Müller. Keberhasilan Anda mempertahankan predikat juara umum sekolah tahun ini sungguh membuat saya dan kami semua bangga." Kepala sekolah menjabat tangan seorang cewek bertubuh tinggi besar, berambut hitam lurus, dan berkulit putih cerah yang berdiri di tengah-tengah dua anak lain. Di sebelah kiri, ada seorang cowok yang lebih pendek dan berambut agak urak-urakan. Di sebelah kanannya ada seorang cewek yang juga lebih pendek namun berkulit cerah dan berambut pendek.
"Terima kasih, pak kepala sekolah." Cewek itu menjabat tangan kepala sekolah. Tepuk tangan dari semua orang yang ada di dalam ruangan itu mengiringi pemberian piala kepada cewek itu. Semua terlihat bahagia, ya bahagia. Tapi tunggu dulu. Sepertinya, cowok yang berdiri di samping kirinya menatap cewek itu dengan sinis. Pupil matanya mengarah ke kanan dengan mata yang menekuk ke bawah. Ia seakan-akan hendak berkata, "Ah, aku jauh lebih pantas berada di situ daripada kamu!".

"Wah hebat kamu, Claudia! Jadi juara umum lagi tahun ini!" Kata Julia, sahabatnya yang berhasil meraih peringkat ketiga sambil menyikut cewek itu dengan halus.
"Biasa aja sih, Julia! Lagian kita 'kan baru kelas 2 SMA. Tahun depan bakal ngadepin Ujian Nasional. Di situ hasil sekolah kita selama 3 tahun bakal ditentuin," balas cewek yang disebut sebagai Claudia itu.
"Tapi serius, gimana caranya sih kamu bisa selalu dapat ranking 1?" tanya Julia dengan antusias.
"Huh! Biasa aja dong nanyanya! Kalau buat jadi ranking 1 doang sih aku juga bisa keles!" cowok yang tadi menatap Claudia dengan sinis menimpali Julia.
"Eh, kamu yang biasa aja keles! Bilang aja kamu sirik sama Claudia 'kan karena dia bisa dapat ranking 1 sementara kamu cuma ranking 2?" Julia balik menimpali sambil membusungkan tubuhnya seakan ingin menantang cowok itu.
"Udah! Udah! Biarin aja dia! Jangan cari masalah sama cowok, nanti urusannya jadi panjang loh!" Claudia berusaha menenangkan sahabatnya yang emosi.
"Biarin aja! Sekarang aku tahu kenapa dia gak pernah punya cewek! Cowok brengsek kayak begini sampai kapanpun gak bakal punya cewek!" kata Julia dengan emosinya.
"Oh, aku takut!" katanya dengan ekspresi ketakutan yang dibuat-buat.
"Iiiihhhhhh!!" Julia semakin kesal.
"Kayak kamu sendiri gak begitu aja! Kamu make-up aja ditebelin terus tapi cowok gak pernah punya! Najis banget aku punya cewek kayak kamu! Ngaca dulu dong kalau mau ngomong! Tampang pas-pasan begini aja sok kecakepan banget!" kata cowok itu untuk semakin memanaskan suasana.
"Grrrr! Dengar ini baik-baik, Friedrich Krause! aku harap telinga kamu sekarang baik-baik aja. Aku, Julia Fujimaki, sampai kapanpun gak bakal sudi jadi cewek kamu! aku juga gak bakal biarin kamu jadi cowok dari Claudia Amalia Müller, sahabat aku sejak kecil ini!" kata cewek itu.
"Siapa juga yang mau sama kalian berdua?! Sok kecakepan kalian berdua jadi cewek!" balas cowok yang diketahui sebagai Friedrich itu. Ia lalu pergi begitu saja tanpa sedikit pun menunjukkan perasaan bersalah atau menyesal. Sementara Julia yang masih merasakan perasaan dongkol yang begitu menyesakkan menghentakkan kakinya bergantian ke lantai sambil memasang ekspresi kesal.
"Ihhh, CLAUDIA! AKU KESEL BANGET SAMA SI FRIEDRICH! Dia itu cowok apa banci sih?! Kok kelakuannya kayak begitu! Sirik banget jadi orang!" Julia menumpahkan perasaan kesalnya kepada Claudia.
"Eh, kamu sadar gak?! Tadi selama sekitar 5 menit, ada banyak orang di sekeliling kita dan kamu tahu kenapa? Karena mereka sedang menyaksikan cewek dan cowok yang berseragam SMA sedang bertengkar dan mengeluarkan makian kasar seperti itu. Eh, kamu mikir dong! Kita ini anak SMA! Gak pantes banget ngomong kayak begitu!" timpal Claudia.
"Tapi 'kan...." Julia berusaha berkilah tetapi sudah dipotong.
"Udah, jangan banyak alasan! aku nggak mau lagi kamu maki-maki orang kayak begitu! Oke?" kata Claudia sambil menempelkan telunjuknya di mulut Julia lalu melepasnya.
"Oke, tapi ini karena diminta oleh sahabatku! Tapi aku juga minta kamu jangan sampai berhubungan sama cowok itu!" Julia membalas.
"Aku sih gak bisa berjanji tapi akan aku usahakan untuk menuhin janji itu." Jawab Claudia.

Keesokkan harinya di saat waktu istirahat, Claudia berkumpul dengan Julia. Mereka berdua juga ditemani oleh Sofie Janssens, sahabatnya yang lain yang hobi travelling ke luar negeri, dan Bella Anindira, sahabatnya yang lain.
"Aku dengar kamu kemarin habis bertengkar sama Friedrich dari kelas 2 IPS 1 ya?" tanya Sofie sambil membuka kotak bekalnya.
"Iya! Tuh cowok ngeselin banget sih! Kalau bukan lagi di sekolah, pingin aku siram wajahnya pake minyak panas!” kata Julia penuh emosi sambil mengaduk-aduk semangkuk mi ayam.
"Eh, kamu udah lupa ya kemarin aku bilang apa sama kamu? Stop maki-maki orang kayak gitu!" Claudia mengingatkan.
"Habis dia itu ngeselin banget!" timpal Julia.
"Ya ampun Julia, kalau kamu begini terus gimana...." Belum selesai Claudia membalas, tiba-tiba saja air mengucur dari atas kepalanya dan membuatnya basah seketika. Ketika mereka melihat sumber air itu…
Diubah oleh gilbertagung

Part 2 - Sentuhan Pertama

Part 2 - Sentuhan Pertama...

”Friedrich! Kamu jadi cowok iseng banget sih! Kamu kira Claudia apa?! Tanaman kering?!" bentak Julia.
"Biarin aja! Lagian harusnya kamu tuh berterima kasih sama aku! Kalau gak aku siram Claudia, entar yang ada dia layu terus pingsan dong!" kata Friedrich tanpa penyesalan.
"Makin lama kamu makin ngeselin aja!" Julia kembali terbawa emosi.
"Ayo! kamu mau sekalian aku siram juga?! Aku cuma takut kalau yang lain pada muntah dan gak jadi makan gara-gara ngeliat make-up kamu yang tebalnya bisa ngalahin Tembok Cina itu!" balas Friedrich sambil bersiap-siap menyiramkan air ke Julia.
Julia yang kesal menyirami Friedrich dengan jus jeruk dan membuatnya kini juga basah kuyup...
"Oh jadi kamu mau ngajak aku ribut! Oke! Siapa takut?" Friedrich balas menyirami Julia dengan air mineral hingga make-up Julia yang dikatakannya setebal Tembok Cina itu luntur. Kini, Julia terlihat sangat menyeramkan dengan make-up yang luntur, ditambah ekspresi wajahnya yang penuh amarah. Julia kemudian mendekati Friedrich dan mendaratlah satu pukulan ke wajah cowok brengsek itu. Friedrich tersungkur dan meringis kesakitan. Julia kembali menghujani Friedrich dengan beberapa pukulan.
"Udah! Udah, Julia! kamu ‘kan cewek, masa main pukul-pukulan gitu?!" Claudia mendekat untuk menenangkan sahabatnya itu.
Friedrich yang tidak mau dipermalukan oleh seorang cewek mencoba melawan. Namun, pukulannya tidak mengenai Julia dan malah justru mengenai Claudia yang berdiri di belakang Julia. Claudia pun tersungkur pula ke lantai dan pingsan. Julia panik dan membalikkan tubuhnya.
"CLAUDIA! Ya Tuhan! Bangun! Bangun! Bangun!" Julia yang panik mencoba menyadarkan Claudia. Sofie dan Bella dengan sigap menggotong Claudia ke UKS.

Siang itu, ruangan bercat hijau muda dengan satu tempat tidur di mana Claudia yang belum sadarkan diri berbaring di atasnya itu sangat sepi. Selain Claudia, ada Julia yang harap-harap cemas menjaganya dan Friedrich yang dipaksa ikut oleh Julia.

"Aduh, Claudia! Gara-gara si setan ini, kamu jadi begini!” kata Julia dengan sedihnya.
"Ahhh, tadi aku mukulnya juga gak kencang-kencang amat! Bentar lagi juga sadar dia!" kilah Friedrich.
"Kamu udah salah masih bisa ngeles juga ya! " bentak Julia.
Mata Claudia mulai terbuka sedikit...
"Claudia! Syukurlah kamu udah sadar! kamu gak apa-apa 'kan?!" tanya Julia cemas.
"Iya, aku gak apa-apa kok," jawab Claudia dengan suara lemah.
"Tuh 'kan bener dia gak apa-apa! Sekarang aku boleh pergi, 'kan?!" tanya Friedrich.
"Ya udah pergi sana! Lama-lama aku bisa muntah liat wajah kamu!" balas Julia dengan kesalnya.
Baru saja Friedrich hendak melangkah, tiba-tiba tangan Claudia menggengam tangan Friedrich.
"Friedrich...." Dengan lirih Claudia memanggil nama cowok itu.
"Eh, apa-apaan sih Claudia?! Gak usah nahan dia terus di sini! Biarin aja kalau dia mau pergi! Kamu juga genit banget jadi cowok!" Julia memutuskan tangan Claudia dari tangan Friedrich sambil marah-marah.
"Ih, siapa juga yang mau nyentuh tangannya? Dia yang megang tangan aku duluan," kata Friedrich kemudian melangkah keluar. Claudia dengan wajah memelas menatap Friedrich yang melangkah keluar. Dari tatapannya, sepertinya itu bukan tatapan biasa. Itu sebuah tatapan penuh harapan. Harapan bahwa Friedrich menyadari alasan mengapa ia tidak pernah marah atas segala perilakunya kepadanya.
"Kamu ngapain sih tadi pake nahan dia! Megang-megang tangannya lagi! Ih, jijik banget aku! Jangan-jangan kamu suka ya sama dia?!" tuduh Julia.
"Enggak kok!" Claudia berkilah dengan wajah malu.
"Bagus dan sebaiknya jangan pernah! Aku yakin kamu bakal menderita abis kalau jadi cewek dia! Lihat aja kelakuan dia ke kita berdua! Dia gak ngehargain kita sama sekali sebagai cewek!" balas Julia sambil menyalakan sebatang rokok dan mulai mengisapnya.
"Menurut aku dia seperti itu karena dia gak mau diremehin sama cewek dan bisa gak kamu gak ngerokok di sini?! Kalau sampai ketahuan, kamu bakal dapat masalah!" balas Claudia.
"Kalau aku gak ngerokok sehari aja, tubuh aku bisa lemas banget! Apalagi ngadepin si brengsek itu! LAMA-LAMA KEPALA AKU BISA PECAH!” teriakan Julia memecah keheningan ruang itu.
"Ssstttt! Jangan teriak begitu! Nanti dikiranya ada sesuatu lagi!" Claudia mengingatkan.
"Maaf! aku gak bisa ngendaliin emosi aku kalau udah berurusan sama tuh cowok!" Julia meminta maaf sambil mengelus-elus dadanya untuk menenangkan diri.

"Huh, galak amat tuh cewek! Mending juga cakep! Wajah pas-pasan, pecicilan, kerjaannya bikin make-up tebel melulu! Mau muntah aja kalau lama-lama liat wajah tuh cewek! Claudia juga! Pake megang tangan aku, manggil nama aku segala lagi! Udah gitu nada bicaranya sok manja banget! Maksudnya apa sih?!" Friedrich berbicara sendiri. (Claudia, kayaknya Friedrich belum sadar makna sentuhan tangan itu ...)

Friedrich memandangi tangannya yang tadi digenggam Claudia dan entah bagaimana ia mulai merasakan sesuatu yang aneh. Mungkinkah...mungkinkah...

"Ah, enggak mungkin! Enggak mungkin aku suka sama cewek itu!" Friedrich berusaha menyangkal dirinya. Tetapi entah mengapa perasaan itu terus saja membayanginya. Perasaan hangat ketika sepasang tangan dari dua orang berlawanan jenis saling mendekap untuk sesaat.
Diubah oleh gilbertagung

Part 3 - Aku Benci Mengakuinya Tapi Aku Suka Kamu!

Part 3 - Aku Benci Mengakuinya Tapi Aku Suka Kamu!

Jam di dinding menunjukkan pukul 12.45. Semua anak di dalam kelas 2 IPA telah membereskan semua barang milik masing-masing ke tas. Begitu pula Claudia - yang sudah pulih setelah 2 jam beristirahat di UKS - dan Julia yang duduk sebangku.

"Oke! Pelajaran hari ini kita sudahi! Selamat siang!" ucapan sang guru diiringi teriakan kegembiraan dari seisi kelas.
"Claudia! Julia!" Bella yang sudah memanggul ranselnya menyapa mereka.
"Ada apa?" tanya Claudia.
"Ke mal yuk! Boring di rumah melulu!" ajak cewek berambut hitam sebahu itu.
"Boleh. Tapi aku ke rumah ganti baju dulu. Masa aku ke mal pake seragam SMA sih?!” balas Claudia.
"Iya, apalagi aku! Udah keringatan banget! Gara-gara tadi berantem sama si Friedrich pas jam istirahat," jawab Julia sambil menarik-narik seragamnya sendiri karena kegerahan.
"Oke, kita ketemu di rumahnya Claudia ya! Jam 2! Aku bilang sama Sofie dulu ya," lanjut Bella.

Claudia dan Julia mengiyakan dan cewek itu meninggalkan mereka. Julia melihat jam di smartphone miliknya...

"Baru jam 1 kurang 15. Aku ke rumah dulu ah buat ganti baju! Claudia, nanti aku mau cari jaket! Kalau kamu mau cari apa?" tanya Julia. Claudia tidak menjawab dan malah melamun.
"Claudia?! Claudia?!" Julia memanggilnya.
"Friedrich...." Claudia berbicara sendiri. Julia menepuk pundak Claudia dan ia tersadar.
"Hayo! Lagi ngelamunin siapa? Lagi ngelamunin si brengsek itu ya?!" tuduh Julia.
"Enggak kok! Enggak!" Claudia berkilah.
"Terus ngapain kamu tadi ngelamun sambil manggil nama dia! Ihhh, najis banget!" timpal Julia sambil memasukkan kotak pensil ke dalam tasnya.
"Tadi aku cuma mikirin kenapa Friedrich gak senang sama kita," kilah Claudia kembali.
"Ah, biarin aja sih dia! Ayo, buruan pulang! Kita 'kan udah harus kumpul di rumah kamu sebelum jam 2," balas Julia lalu berdiri dan menggeser masuk kursi.
"Oke!" Claudia mengikuti.

Pukul 13.55. Claudia yang sudah rapi dan siap dengan mengenakan T-shirt biru yang dipadu celana jeans dan sepatu datar menunggu ketiga temannya datang. 4 menit kemudian, ketiga temannya datang dan mereka pun berangkat dengan menaiki bus.

Di mal, Claudia mencari novel remaja untuk inspirasi cerita yang akan ia publish di blog sementara teman-temannya pergi ke tempat berbeda-beda. Keadaan yang bagi Claudia mula-mula tenang berubah menjadi tegang saat ia melihat Friedrich ada di toko buku itu juga. Keadaan menjadi semakin tegang saat Friedrich memperhatikannya dan mendekatinya. Takut akan terjadi sesuatu yang buruk lagi, Claudia berusaha lari dari tempat itu dan mencari teman-temannya. Celaka! Friedrich mengejarnya dari belakang! Claudia yang lari tak tentu arah pun tersudut.

“Ampun, Friedrich! Jangan apa-apain aku lagi! Aku gak pernah dendam kok sama kamu walau kamu udah berkali-kali ngusilin aku!” Claudia memohon belas kasihan dari lelaki itu.
“Tenang! Aku bukan mau ngusilin kamu! Tapi aku pingin ngomong sesuatu sama kamu,” kata Friedrich sambil mendekatinya. Friedrich tiba-tiba menggenggam kedua tangan Claudia.
“Setelah kamu genggam tangan aku di sekolah tadi pagi, entah kenapa ada perasaan aneh yang nyelimutin aku! Aku pada mulanya berusaha menyangkalnya. Tapi aku gak bisa! Dan setelah aku merenung dan meresapinya, akhirnya aku sadar satu hal! kamu tahu apa itu?” Claudia menggelengkan kepalanya.
“Aku sadar bahwa aku suka sama kamu walaupun aku benci mengakuinya!” kata-kata Friedrich membuat Claudia terkejut dan mematung...
“Gimana? Apa kamu mau memberi aku kesempatan dan menerima aku sebagai cowok kamu?” pinta Friedrich. Claudia masih terdiam...
“Claudia? Claudia?!” Friedrich mengguncang-guncangkan tubuh Claudia hingga Claudia kembali tersadar. Claudia pun berpikir sejenak. Sebenarnya, ini adalah momen yang sudah ia nantikan sejak lama. Namun, ia memikirkan pula konsekuensinya jika menerima Friedrich sebagai cowoknya. Itu akan merusak persahabatannya dengan Julia. Setelah beberapa saat, Claudia akhirnya memutuskan...
Diubah oleh gilbertagung
izin bangun rumah disini yak. ceritanya baru awal2 nih moga aja updateannya cpt
Quote:


Silakan di-subscribe gan. Ceritanya sedang ane susun dan kembangkan. Jadi harap bersabar ya! Ane akan berusaha agar ceritanya menarik dan gak mudah ditebak.

Part 4 - Aku Mau, Asal...

Part 4 - Aku Mau, Asal...

“Aku mau asal....” Claudia melanjutkan.
“Asal apa?” tanya Friedrich penuh dengan rasa penasaran.
“Asal kamu bisa membuktikan....” Lanjut Claudia.
“Membuktikan apa?” tanya Friedrich.
“Membuktikan kalau dalam sebulan, kamu bisa berubah menjadi orang yang baik dan gak bikin orang lain sebel! Bahkan Julia, sahabatku, gak lagi membenci kamu!” Claudia memberi syarat untuk menerima Friedrich sebagai cowoknya. Friedrich terdiam. Claudia menduga Friedrich tidak akan mau menerimanya dan akan memaksanya untuk menerimanya tanpa syarat.
“Aku bersedia. Malah aku akan berusaha untuk memenuhinya dalam 2 minggu,” ucap Friedrich dengan mantap.
Claudia tak percaya dan kagum dengan keberanian Friedrich.
“Oke, aku pegang janji kamu!” kata Claudia sambil menggenggam kedua tangan Friedrich dan pergi dari tempat itu.

Keesokan harinya, sekolah gempar. Friedrich Krause yang dikenal sebagai anak cerdas namun bandel, sering berulah, dan mencari masalah dengan orang lain mendadak berubah menjadi orang yang baik dan lemah lembut. Ia yang biasanya selalu berbuat iseng seperti menyirami cewek dengan minuman di kantin kali ini tidak melakukannya sama sekali. Kita dan Claudia sih sudah tahu kenapa tetapi teman-temannya belum.

“Aku heran! Kepalanya Friedrich habis kebentur dinding atau dia salah minum obat?! Kok dia jadi aneh banget hari ini?” tanya Sofie keheranan.
“Paling dia mau cari wajah atau dia ngerencanain sesuatu!” hardik Julia.
“Aku rasa enggak!” timpal Claudia.
“Dari mana kamu tahu kalau enggak?” tanya Julia curiga.
Feeling aku aja!” jawab Claudia dengan santai.
“Tapi apa salahnya si kalau Friedrich mau berubah jadi orang yang baik?!” Bella ikut menimpali.
“Hah, aku tetap gak yakin kalau dia emang benar-benar udah berubah!” Julia tiba-tiba berdiri dan hendak pergi.
“Mau ke mana, Julia?!” cegat Claudia.
“Kamu pasti udah tahu!” jawab Julia lalu melangkah keluar kelas.

Dengan langkah kaki yang begitu cepat, cewek bertubuh chubby itu mengarahkan dirinya ke satu arah yang jelas...

"Friedrich itu sebenarnya pintar dan lumayan cakep, tapi kelakuannya buruk sekali. Kira-kira kenapa ya?!" Sofie melanjutkan pembicaraan.
"Yang aku denger sih gara-gara orang tuanya bercerai lima tahun lalu, makanya dia jadi cuma serius belajar buat ngelupain masalah keluarganya dan biar bisa dapat kerja bagus nantinya. Karena kurang kasih sayang dari ibu, kelakuannya jadi buruk. Makanya aneh banget kalau hari ini dia jadi kayak begitu," balas Bella.
"Stop akting kamu sekarang juga, dasar munafik!" teriakan Julia dari luar kelas menarik perhatian mereka bertiga yang segera keluar dari kelas.
"Julia, aku lagi gak akting dan aku ngelakuin semua ini dengan sadar! Aku udah capek jadi orang yang menyebalkan dan aku ingin jadi orang yang menyenangkan," ucap Friedrich yang berusaha meyakinkan Julia bahwa ia tidak sedang berpura-pura.
“Pembohong!” ucap Julia dengan lantang disertai gestur meledek.
“Ah, sudahlah! Yang jelas aku gak lagi berpura-pura!” Friedrich yang tidak ingin memperpanjang masalah dengan Julia melangkah pergi namun dicegat Julia.
“Jangan pergi dulu, pengecut! Dengarin aku dulu! Aku akan awasi semua gerak-gerik kamu dan kalau sampai kamu jadian sama Claudia, gak ada ampun buat kamu!” ancam Julia lalu melepaskan tangan Friedrich dan kembali ke kelas.

Hari demi hari, minggu demi minggu, Friedrich terus saja bersikap baik dan ramah kepada semua orang. Sebulan berlalu, Friedrich yang menyebalkan dan suka mencari masalah itu dalam sekejap lenyap. Berganti dengan Friedrich yang ramah dan disukai banyak orang. Claudia merasa begitu senang dengan perubahan yang dialami Friedrich, namun masih menyimpan keraguan sebab Julia, sahabatnya, terlihat masih tidak suka dengan Friedrich. Sebulan kemudian. Jam pulang sekolah...

“Friedrich!” Claudia memanggil Friedrich yang bersiap-siap pulang dengan sepedanya.
“Ada apa?” tanya Friedrich sambil membuka rantai sepedanya.
“Aku udah melihat perubahan kamu dalam sebulan ini. Kamu udah berhasil menjadi orang yang baik dan disenangi orang. Tapi sayangnya, Julia kelihatannya masih tetap gak suka sama kamu. Jadi....”
“Siapa bilang aku gak suka?! Aku udah setuju kok kalau kalian jadian!” mendadak Julia muncul dan menyela perkataan Claudia.
“Kamu serius, Julia?!” tanya Claudia keheranan.
“Iya dong! Ingat Claudia, kita ini sahabat sehidup semati! Kalau kamu senang, aku juga senang. Kalau kamu sedih, aku juga sedih. Kalau kamu mati, aku juga mati,” ucap Julia sambil mendekapkan tangan Claudia ke tubuhnya.
Claudia terharu dan memeluk Julia sementara Friedrich merasa lega. Julia pun berlalu dari tempat itu.
“Jadi artinya kita sudah resmi jadian ‘kan?” tanya Friedrich.
“Iya!” ucap Claudia.

Mereka pun akhirnya berpelukan sementara Julia terus melangkah jauh meninggalkan mereka.
Diubah oleh gilbertagung
ada cerita baru
bangun tenda

jangan lupa index ya gan

keep apdate
Quote:


Udah ane daftarin gan, tapi momodnya lama nge-updatenya
emoticon-Sorry
emoticon-Sundul Gan (S)

Part 5 - It's Time to Travel

Part 5 - It's Time to Travel

4 tahun kemudian, Claudia, Friedrich, Julia, Sofie, dan Bella yang telah lulus SMA masuk ke sebuah universitas swasta yang sama namun di jurusan yang berbeda. Claudia, Friedrich, dan Julia mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual. Sofie mengambil jurusan Hubungan Internasional. Sementara itu, Bella mengambil jurusan Sastra Prancis.

Claudia dan Friedrich yang masih melanjutkan hubungan mereka yang terbentuk sejak kelas 2 SMA selalu duduk bersebelahan, di mana pun posisi mereka di kelas. Sementara Julia selalu mengambil tempat dengan posisi strategis yang memungkinkannya mengamati kedua sejoli itu.

“Istilah frame per second merujuk kepada jumlah frame atau gambar yang diperlukan untuk membuat animasi berdurasi 1 sekon. Misalkan 24 frame per second, berarti ada 24 frame atau gambar dalam satu sekon....” Dosen mata kuliah Animasi menjelaskan materi pelajaran melalui slide powerpoint.
“Bosen banget sama kuliah hari ini,” keluh Friedrich.
“Jangan kayak gitu dong, sayang! Kamu mau IPK kamu jelek semester ini?” Claudia mengingatkan.
Friedrich mengambil earphone dan handphone miliknya dan mendengarkan...
“Oke, kelas kita hari ini selesai. Sampai jumpa.” Perkataan dosen tersebut diikuti oleh riuh gembira seisi kelas. Claudia dan Friedrich mengemas barang-barang mereka dan beranjak pergi.
“Sayang, liburan semester nanti kita ke mana ya?” tanya Claudia. Friedrich yang sedang asyik mendengarkan musik tak mendengar Claudia. Claudia menepuk-nepuk Friedrich hingga akhirnya Friedrich menyadarinya dan memperhatikannya.
“Kenapa, sayang?” tanya Friedrich.
“Liburan semester ini kita ke mana?” tanya Claudia.
“Bagaimana kalau kita ke Jogja?” tawar Friedrich.
“Boleh juga,” balas Claudia.
“Kenapa nih?! Kayaknya mau ngerencanain sesuatu! Ihhh jahat, gak ajak aku!” Julia menyusup di antara mereka dari belakang.
“Kita rencananya mau liburan ke Jogja semester ini. Mau ikut?” tawar Claudia.
“Kalau yang ngajakin bestfriend aku, pasti mau dong!” timpal Julia.
“Lho sayang, gak salah nih kita ajak Julia juga?!” timpal Friedrich.
“Kenapa? Kamu ngerasa kehadiran aku ngeganggu?! Iya, aku ngerti kok! Kalian berdua emang perlu waktu buat berdua!”
Claudia membalikkan tubuhnya menghadap Friedrich.
“Kalau Julia gak ikut, aku juga gak ikut!”
“Jangan, Claudia! Iya udah deh, Julia boleh ikut!” Friedrich menyerah.
Yes! Makasih, Friedrich!” kata Julia sambil lompat kegirangan.
“Tapi ongkos tanggung masing-masing.” Sambung Claudia.
“Gak masalah!” sambung Julia.

Liburan semester tiba. Claudia, Friedrich, dan Julia telah bersiap-siap untuk pergi liburan. Mereka sudah mengemas barang mereka masing-masing seperlunya.

“Cie, yang mau pergi liburan ke Jogja sama pacarnya!” ibu mengusilinya.
“Ah, ibu. Kayak gak pernah muda aja!” balas Claudia malu.
“Oh ya, berapa lama perginya terus cuma berdua, ‘kan?” kepo wanita 46 tahun tersebut.
“Aku kira-kira 3-4 hari perginya. Aku perginya bertiga sama Julia,” balas Claudia.
“Kalau pulang bawa oleh-oleh ya!” balas ibu.
“Oke,” Claudia berjanji.

Mereka bertiga bertemu di Stasiun Jakarta Kota.

“Eh, Claudia! Kok kamu bawanya sedikit banget? Kita ‘kan mau pergi 3 hari?” tanya Julia karena Claudia hanya membawa sedikit barang bawaan.
“Aku cuma bawa pakaian sama charger tablet! Ngapain juga bawa banyak-banyak? Kita ‘kan bakal nginap di hotel, bukan mau camping di tengah hutan!” balas Claudia.
"Iya juga ya! Kok aku goblok banget ya?! Hahahaha!" balas Julia sambil tertawa renyah.
"Oh ya, jam berapa kita berangkat?" tanya Friedrich yang memanggul ransel.
"Kira-kira...15 menit lagi," jawab Claudia sambil menengok jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kanannya.

Pukul 10.15, mereka menaiki kereta dari Jakarta menuju Yogyakarta. Sepanjang perjalanan, mereka bertiga terus menerus dilihat oleh penumpang lain di sekitar mereka.

"Kok kita bertiga dari tadi dilihatin terus sama orang-orang. Emangnya kita bertiga kelihatan aneh ya?!" tanya Claudia risih.
"Mungkin mereka gak pernah lihat orang asing naik kereta argo," jawab Julia.

Pukul 18.15, mereka sampai di Yogyakarta. Mereka mengemasi barang dan turun dari kereta. Diantar oleh minibus dari agen travel, mereka sampai di hotel tempat mereka akan menginap.

"Di hotel ini, cewek sama cowok kamarnya dipisah. Aku sekamar sama Julia. Kamu tidur sendiri," Claudia menjelaskan.
"Ya, enggak seru dong!" timpal Friedrich.
"Bagus itu." kata Julia.
"Maksud kamu?" Claudia bertanya. Julia tidak menjawabnya.
Diubah oleh gilbertagung

Part 6 - Confession

Part 6 - Confession

Claudia dan Julia meletakkan tas mereka di lemari hotel dan bersiap-siap untuk mandi.

“Claudia, mau nonton drama Korea di laptop aku gak? Kalau gak suka, gimana kalau drama Jepang? Atau mau anime? Aku bawa harddisk eksternal 1 terabyte. Banyak pilihannya!” tawar Julia.
“Makasih banget Julia, tapi kita ‘kan baru aja nyampe. Tubuh aku udah lengket banget abis perjalanan jauh tadi. Kalau mau, nanti malam aja! Sekarang mandi dulu!” Claudia menolak dengan halus.
“Ya udah deh, tapi nanti malam temenin aku nonton ya! Aku gak bisa tidur kalau belum nonton drama Korea,” pinta Julia.
“Iya,” balas Claudia.
"Ya udah! Aku duluan!" Julia akhirnya mengambil peralatan mandinya dan masuk ke kamar mandi. Setelah Julia keluar dari kamar mandi, giliran Claudia masuk. Claudia mengambil peralatan mandinya. Selesai mandi dan berganti pakaian, Claudia dan Julia keluar kamar untuk makan malam di luar dengan Friedrich. Sebenarnya, mereka bisa saja makan di restoran di dalam hotel. Namun, Friedrich dan Claudia ingin mendapatkan suasana romantis dengan makan di luar.

“Mas, saya pesan gudeg satu sama air mineral botol satu! Kalau kalian?” kata Claudia.
“Aku sama kayak kamu aja, sayang!” Friedrich merespon.
“Aku juga! Aku pingin tahu apa yang namanya gudeg,” kata Julia.
“Oke, jadi gudeg 3 porsi dan air mineral 3 botol. Tunggu sebentar ya, mas, mbak!” kata pelayan restoran sembari berlalu.
“Claudia, soal rencana pernikahan kita, apa semua berkasnya sudah lengkap?” tanya Friedrich.
“Belum.” jawab Claudia singkat.
“Hah, kalian mau menikah? Kapan?” kepo Julia.
“Rencananya sih bulan depan,” jawab Claudia.
“Oh, begitu! Selamat ya, Nyonya Claudia Krause,” balas Julia usil.
“Ih, Claudia Krause apaan?! Aku masih Claudia Müller!” protes Claudia.
“Ya maaf, ‘kan cuma becanda! Oh ya, Claudia! Follow Instagram aku dong! Nanti aku folbek!” pinta Julia.
Username-nya?” tanya Claudia.
“@missjulia,” kata Julia.
“Oke, aku cari dulu!” Claudia mengetikkan “@missjulia” di kolom pencarian dan dalam sekejap terpampang akun bernama tersebut.
“Ah, yang avanya kamu lagi selfie di kelas ya?! Hebat juga kamu! Follower-nya sampai 2.000 lebih,” kata Claudia.
“Ih, Claudia! Jangan dibilangin dong! Malu tahu!” Julia ngambek.
“Kenapa mesti malu? Semua orang berhak untuk bernarsis ria,” kata Claudia.
“Tapi tetap aja, ‘kan malu kalau orang-orang tau aku kayak gimana orangnya!” balas Julia.
"Maksud kamu?" Claudia bertanya. Julia tidak menjawabnya.
“Coba aku lihat. @missjulia. Nama asli Julia Fujimaki. Lahir 18 Juli 1989. Follower 2.077, following 1.195, posting 1.081. Foto yang di-posting....”
“Udah, simpan dulu gadget-nya. Pesanan kita udah datang tuh!” Friedrich meyela kegiatan stalking Claudia karena pesanan mereka sudah datang.

Claudia menyimpan gadget-nya ke dalam tasnya. Ia berdoa dan kemudian mulai menyantap pesanannya. Julia duduk di antara Claudia dan Friedrich karena berhasil mengamankan posisi itu terlebih dahulu. Tiba-tiba, Julia menggengam tangan Friedrich. Ketika Claudia menyadarinya dan menengok, Julia buru-buru melepaskannya. Claudia mulai melihat gelagat aneh sang sahabat namun berusaha untuk berpikiran positif.

Selesai makan, mereka tidak langsung pulang ke hotel. Mereka memutuskan berjalan-jalan sebentar untuk menikmati pemandangan kota Yogyakarta di malam hari. Sepanjang perjalanan, Claudia dan Friedrich terus bergandengan tangan. Julia yang berjalan di samping mereka asyik sendiri dengan gadget miliknya. Maksudnya agar ia tidak harus melihat kemesraan Claudia dan Friedrich yang membuatnya terpukul.

“Claudia,” Friedrich tiba-tiba menghentikan langkahnya. Claudia ikut berhenti. Julia yang tidak memperhatikan mereka berdua baru sadar setelah beberapa langkah di depan.

Friedrich langsung mencium Claudia. Karena Claudia lebih tinggi daripada Friedrich, Friedrich harus menjinjitkan kakinya agar bisa meraih bibir sang pacar. Dalam sekejap, Claudia dikelilingi perasaan hangat dan penuh kelembutan.

“Ehh...ehem!” Julia berdehem dan mereka berdua langsung menghentikan ciuman mereka.
“Maaf, Julia! Kita terlalu terbawa suasana,” ucap Friedrich tertunduk malu.
“Iya,” sambung Claudia juga tertunduk malu.
“Jangan melakukan itu di tempat umum kayak begini!” ucap Julia memperingatkan.

Sesampainya kembali ke hotel, Claudia memenuhi janjinya kepada Julia untuk menemaninya menonton di laptopnya.

“Nah, kamu mau yang mana? Kalau drama Korea, aku saranin Waiting atau Silent Marriage. Kalau drama Jepang, ada....”
“Aku mah terserah kamu aja. aku ikut!”
“Ya udah, Waiting aja. Lumayan kocak filmnya!”

Sambil menyalakan sebatang rokok, Julia mencari-cari folder berisi kumpulan episode Waiting. Setelah berhasil menemukannya, ia membukanya dan mengklik episode pertamanya. Selesai episode ketiga diputar...

“Gimana Claudia, seru ‘kan? Kita buka episode 4 ya?!” bujuk Julia.
“Udah ah, Julia! Aku udah ngantuk banget dari tadi! Hoam....” Claudia yang sudah sangat mengantuk menolak untuk melanjutkan tontonannya.
“Eh, Clau....”

Claudia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur dan segera tertidur pulas.

“Oke, aku nonton sendiri aja.” Julia akhirnya lanjut menontonnya sampai episode keenam...pukul setengah dua pagi.
“Aduh, ngantuk banget aku! Stop dulu ah! Besok lanjutin lagi.” Julia mematikan laptopnya dan bersiap-siap untuk tidur. Julia mencuci wajahnya dari make-up dan kemudian merebahkan diri ke tempat tidur.

Paginya, pukul 9.20.

“Claudia, aku ingin mengatakan sesuatu ke kamu!” Julia berkata kepada Claudia. Claudia yang sedang bersiap-siap untuk berjalan-jalan ke Candi Prambanan memperhatikan Julia.
“Claudia, kita sudah bersahabat semenjak kita masih di taman kanak-kanak. Sejak itu, kita tidak pernah terpisahkan,” ucap Julia dengan kepala tertunduk ke samping karena agak malu.
“Lalu?” tanya Claudia kebingungan.
“Sekarang, aku harus mengatakan yang sebenarnya walaupun ini mungkin akan membuatmu sakit,” Julia melanjutkan dengan kepala ditegakkan.
“Apa yang mau kau katakan?!” tanya Claudia kebingungan.
“Claudia, maafkan aku karena..."
“Claudia, sudah siap....” Friedrich membuka pintu kamar sang pacar.
“Hei, kamu ngapain masuk kamar cewek?! Kamar buat cewek dan cowok ‘kan dipisah! Jangan sembarangan masuk, ketuk pintunya dulu!” bentak Julia atas kelancangan Friedrich.
“Oh, maaf! Claudia, sudah siap belum? Kita sudah mau berangkat,” lanjut Friedrich.
“Oh, OK!” balas sang pacar.
“Aku tunggu ya di lobi hotel.” Friedrich menutup pintu dan bergegas menuju ke lobi hotel.

Julia dan Claudia lalu mengambil tasnya dan keluar dari kamar hotel.
Diubah oleh gilbertagung
ijin nenda gan..
Quote:


Silakan gan.emoticon-Angel
Ijin mantau gan
ditunggu update-annya

emoticon-2 Jempol
Ijin nenda gan..
Di tunggu apdetanya emoticon-Big Grin

Part 7 - Firasat

Part 7 - Firasat

Pukul 10.50, mereka bertiga tiba di Candi Prambanan. Sampai di sana coba tebak apa yang pertama mereka lakukan? Selfie! Dengan gadget milik Claudia, mereka bertiga mengambil foto selfie sampai puluhan kali. Benar-benar narsis!

“Wah, banyak banget fotonya! Perasaan kita baru 15 menit di sini,” ucap Claudia terkejut karena baru 15 menit saja, sudah hampir 100 foto yang mereka ambil.
“Boleh dong narsis sekali-kali! Kamu sendiri ‘kan yang kemarin bilang?” timpal Julia.
“Oh ya, apa kalian tahu mitos yang ada di tempat ini?” Friedrich melontarkan pertanyaan kepada kedua cewek itu. Claudia menggelengkan kepalanya.
“Mitos apa?” tanya Julia penasaran.
“Mitos jika pasangan yang datang ke Candi Prambanan akan putus,” ucap Friedrich lantang.
“Ih, Friedrich! Kok kamu gak bilang sih kalau ada mitos itu?! Kalau kita nanti beneran putus gimana?” balas Claudia yang panik sambil memukul-mukul Friedrich.
“Hahahahaha! Kamu ini jadi orang parno banget!” Julia menertawakan sikap kekanak-kanakan Claudia.
“Iya, jangan percaya dengan mitos seperti itu! Percaya, apa yang dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat diceraiberaikan oleh apapun,” Friedrich menimpali.
“Terus, buat apa kamu ngasih tahu aku yang kayak begituan?! Bikin orang parno aja!” kesal Claudia.
“Aku cuma mau kasih tahu aja, bukan mau nakut-nakutin kamu, sayang!” balas Friedrich sambil sedikit tertawa. Claudia memang mudah terpengaruh perkataan orang lain.

Mereka akhirnya menikmati waktu berkunjung mereka dengan ber-selfie ria bahkan mengajak seorang turis bule yang kebetulan juga berkunjung ke situ untuk ikut selfie.

"Oh ya, habis ini kita mau ke mana lagi?" tanya Julia sambil mengambil sebatang rokok dari saku celananya.
"Kita ke Taman Pintar aja! Tempatnya bagus," usul Claudia.
"Oke kalau begitu!" balas Julia setuju sambil mengambil geretan dan menyalakan rokoknya.
"Ya ampun, Julia! Kebiasaan merokok kamu dari dulu gak hilang-hilang ya!" protes Claudia.
"Maklumlah. Udah kebiasaan dari kelas 3 SD sih! Kalau gak isap 10 batang rokok sehari, gue bisa langsung lemes!" kilah Julia mengenai kebiasaan merokoknya.
"Gila! Cewek ngerokok sampai 10 batang sehari! Gue aja cuma 5 batang sehari! Itu juga rokok mild." Timpal Friedrich.
"Aku sih udah berhenti merokok dari kelas 1 SMA semester 2. Takut kena kanker paru-paru. Kasihan ibuku juga. Soalnya di rumahku, cuma dia yang gak ngerokok. Ayahku juga perokok soalnya.” Sahut Claudia.
“Ngobrol melulu. Kapan jalannya nih!” potong Julia sambil terus mengisap rokoknya.
“Oh ya udah, ayo berangkat! Keburu siang loh!” ucap Friedrich.

Mereka bertiga pun berangkat menuju Taman Pintar. Sesampainya di sana, mereka kembali ber-selfie ria! Saking senangnya, selama 3 jam mereka hanya selfie terus menerus. Setelah sadar bahwa hari sudah sore, mereka langsung bergegas masuk ke dalam gedung.

Di dalam gedung, Claudia dan Friedrich berjalan sambil bergandengan tangan. Julia mengikuti dari belakang. Claudia dengan mesranya dirangkul oleh Friedrich. Firasat buruk akan hubungan mereka mulai menghantui benak Claudia.

Mereka melihat berbagai keajaiban ilmu pengetahuan di sana, seperti terjadinya gerhana matahari, kasur paku yang tidak membuat sakit jika ditiduri, dan bagaimana menghasilkan bahan bakar alternatif. Mereka bertiga sangat antusias karena hal-hal itu sangat menarik dan dapat membuat mereka lupa dengan penatnya aktivitas perkuliahan. Julia yang mengikuti dari belakang melihat bagaimana Claudia berjalan. Begitu anggun. Claudia memenuhi syarat untuk menjadi seorang model. Claudia juga tinggi besar. Bahkan untuk ukuran perempuan Jerman, Claudia termasuk tinggi. Selisih tingginya dengan Julia mencapai 15 cm.

“Claudia,” Julia menghampiri Claudia.
“Ada apa?” tanya Claudia.
“Aku gak nyangka kalau kamu itu berbakat jadi model.” Kata Julia.
“Masa sih?” tanya Claudia tidak percaya.
“Iya. Kamu itu udah punya modal untuk jadi model. Tinggi kamu 180 cm...”
“Bukan 180 cm. 185 cm.” Claudia mengoreksi.
“Oh maaf! 185 cm. Kamu itu juga cantik lho!” puji Julia.
“Ah, bisa aja!” Claudia malu mendengarnya.
“Iya. Lalu kalau aku perhatikan dari belakang, cara berjalanmu seperti model profesional. Liak-liuk gimana gitu.” Ungkap Julia.
“Yang benar, Julia?” tanya Claudia ragu.
"Iya. Serius. Oh ya, aku ingin tanya sesuatu yang agak private. Kamu gak keberatan, 'kan?" tiba-tiba Julia ingin menanyakan sesuatu.
"Kenapa harus keberatan. Kamu 'kan sahabatku. Orang yang bisa kupercaya untuk menjaga rahasia." jawab Claudia.
"Aku punya sedikit kekhawatiran sama pacar kamu, Friedrich." Julia memasang ekspresi cemas.
"Maksud kamu?" Claudia kebingungan.
"Aku rasa dia itu ada perasaan sama aku." ucap Julia, pelan.
"Kamu jangan bercanda. Mana mungkin dia ada perasaan sama kamu." Claudia menyanggah.
"Kamu gak ingat, kemarin pas makan malam, dia sempat megang tangan aku. Tapi dia sengaja taruh tanganku di atas, biar kelihatannya, aku yang megang tangan dia. Kamu harus tahu, rasa benci di masa lalu bisa menjadi rasa cinta di masa mendatang."

Perkataan Julia membuat Claudia semakin khawatir dan dipenuhi rasa takut. Rasa takut bahwa Friedrich telah membagi ruang di hatinya untuknya dengan Julia.

Pada sore hari, mereka kembali ke hotel. Claudia dan Julia yang kelelahan membaringkan diri ke tempat tidur.

"Fuh, capek banget ya?" sahut Julia.
"Iya. Padahal kayaknya selama jalan-jalan tadi kita cuma selfie doang!" balas Claudia sambil membuka kontak chat dengan Sofie.
"Oh ya, power bank aku masih sama si Friedrich. Claudia, aku ke kamar sebelah sebentar ya!" Julia bangkit berdiri dan keluar dari kamar. Claudia memulai chat dengan Sofie.

Claudia : Sofie, aku lagi galau!
Sofie : Kenapa?
Claudia : Aku mulai takut kalau Friedrich ada affair dengan cewek lain!
Sofie : Affair? Sama siapa?
Claudia : Sama Julia. Julia sendiri yang ngingetin. Dia ngerasa kalau Friedrich ada perasaan suka dengannya.
Sofie : Aku kok ragu kalau soal itu.
Claudia : Maksud kamu?
Sofie : Iya, soalnya waktu SMP, aku pernah jadian sama Friedrich. Seingatku, dia bukan tipe cowok yang gampang terpikat dengan seorang cewek. Dia tipe yang setia. Kami putus karena jarang bertemu dan hubungan kami seakan-akan ngegantung. Aku sebenarnya juga bisa melihat kalau Friedrich sudah menyukai kamu saat pertama kali kita masuk SMA. Tapi karena gengsi dan rasa irinya terhadap kamu, dia tidak mengungkapkannya dan malah membenci kamu. Tapi, aku pikir dia selama ini mengusili kamu hanya untuk menarik perhatianmu. Saat kamu menunjukkan perasaanmu, dia merasa mendapat lampu hijau dan menyatakan perasaannya juga.
Claudia : Tapi, sejak kemarin aku sudah mendapat firasat buruk kalau hubunganku akan berakhir tragis.
Sofie : Kamu jangan negative thinking dulu. Mungkin itu cuma kekhawatiran kamu yang berlebihan. Oke?
Claudia : Iya. Makasih ya udah mau aku ganggu.
Sofie : Iya. Sama-sama.

Claudia menutup kontak chat dengan Sofie. Kata-kata Sofie sempat membuatnya tenang sejenak.

10 menit berlalu dan Julia belum juga kembali dari kamar Friedrich.

“Ke mana sih tuh anak? Sampai 10 menit belum balik juga.” Claudia yang tidak sabaran bangkit berdiri dari tempat tidur dan keluar kamar. Claudia hendak mengetuk pintu kamar hingga suara-suara samar terdengar dari dalam.
Diubah oleh gilbertagung
bagus nih ceritanya.. lanjutkan gan emoticon-thumbsup
Quote:


Terima kasih atas dukungannya gan.emoticon-Malu (S)
Sejujurnya, ane sempat mau tinggalin atau gak ngelanjutin ceritanya. Tapi, karena ane udah berhasil nemuin formula pengembangan cerita yang tepat dan sudah ada beberapa kaskuser yang ingin ada lanjutannya, ane lanjutkan ceritanya.
Quote:


intinya jangan suka ngentang aja gan emoticon-Big Grin hehe dan semoga bisa cerita sampe selesai
Quote:


Iya gan soalnya ane gampang bosan orangnya.emoticon-Ngakak (S)
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di