alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54e6d8e4bdcb1752178b4571/tersesat-di-utopikus
Tersesat di Utopikus
Ane hanya berniat untuk berbagi, jika tidak percaya tidak masalah emoticon-Smilie

Nama ane Bob Tyson. Ayah ane berasal dari Inggris sedangkan Ibu berasal dari Indonesia, tepatnya DKI Jakarta. Kehidupan ane sering dicampakkan oleh teman-teman. Hal ini membuat ane merasa jengkel. Suasana di luar terpaksa membuat ane terkurung di dalam. Ane selalu bermain di dalam rumah. Orang tua sesekali menyuruh ane bermain ke luar. Tapi bermain untuk siapa? Tidak ada yang ingin bermain dengan ane. Hal ini lama-lama membuat ane merasa jengkel untuk sekolah di sini.

Akhirnya ane mencoba mengambil beasiswa ke Australia. Dengan bermodal otak dan mental yang kuat, ane berhasil mendapatkan beasiswa tersebut.

=====================================================================================================

Quote:
Prologue
Hari pertama di Universitas, ane seperti orang yang tersesat di sana. Sama sekali tidak ada orang yang ane kenal. Memang banyak orang Indonesia di sana tapi karena sudah terbiasa sendiri, ane belum mau bergaul dengan mereka. Ane berkeliling mencoba mencari objek yang tidak membosankan. Dari arah barat terdengar seseorang yang sepertinya memanggil ane dengan nada lembut.

"Hai nama lu siapa?"
"Nama gw Bob Tyson, kalau lu"
"Nama gw Jessica Novita, panggil aja Jessica. Ngomong-ngomong lu anak Science and Technology ya?"
"Iya, gw anak Science and Technology. Ngomong-ngomong ada apa ya?" ane penasaran
"Nggak kenapa-kenapa, cuman pengen kenalan aja. Lagipula ini hari pertama gw belajar di sini dan gw juga satu jurusan dengan lu. Jadi biar makin akrab aja "
"Owh gitu" ane agak malas
"Oh iya, ntar lanjut lagi ngomongnya di kelas" katanya perlahan-lahan meninggalkan ane

Ane kurang mengerti apa maksud sebenarnya dia tiba-tiba mengajak ane berbicara. Setelah berbicara dengannya, ane kembali mengelilingi lingkungan Universitas. Sama sekali membosankan, nggak ada objek yang benar-benar membuat ane terkesan.

Dari arah jauh, terdengar suara pengumuman di speaker. Ane pikir pengumuman apa, nyatanya itu hanya pengumuman masuk ke kelas. Ane masuk ke dalam kelas dengan tergesa-gesa.

Sesampai di kelas, ane kembali bertemu dengan Jessica.
"Eh lu, sini duduk di belakang" katanya sambil menunjuk ke arah belakang
"Oh iya, makasih"

Mr. Marley langsung memperkenalkan diri. Dengan pakaian berwarna biru dan dasi berwarna kuning, dia menyuruh kami untuk saling berkenalan satu sama lain. Banyak mahasiswa di sana yang memberikan senyuman ke arah ane. Ane membalasnya dengan senyuman palsu. Tampaknya Jessica sangat terhibur dengan senyuman ane.

20 menit berlalu, tampaknya ane mulai cocok dengan salah satu mahasiswa di sana. Namanya Carrick. Dari gaya bicaranya, dia tampaknya orang yang pemberani.
"Lu asli orang mana?" katanya penasaran
"Gw orang Indonesia tapi ada keturunan Inggris, kalau lu sendiri?"
"Gw asli orang Australia"
"Sejarah Universitas ini apa?" ane mencoba membuat topik
"Setau gw, Universitas ini sangat dikagumi oleh banyak orang. Yah bisa dibilang ini adalah Universitas paling favorit di Australia, beberapa kali mendapat penghargaan dari pemerintah"
"Besok kerumah gw mau ga?" Jessica memotong pembicaraan
"Mau ngapain?" tanya Carrick
"Yah, kita kan baru kenalan. Sekalian santai-santai aja biar makin deket"

Karena rasa nggak enak, ane dan Carrick akhirnya bersedia untuk pergi ke rumahnya. Pasti besok bakalan jadi hari membosankan bagi ane.

Jadi gini, ane diberi penginapan gratis tepatnya asrama oleh pihak Universitas. Selain itu ane juga diberi uang jajan selama satu tahun. Asrama tempat ane menginap lumayan besar. Bertingkat lima dan mempunyai halaman yang cukup luas. Sistem yang diterapkan pihak asrama pun cukup ketat. Jadi, di sana ada seorang wanita. Wanita tersebut selalu ditugaskan oleh pihak universitas untuk mengecek rapot para mahasiswanya. Jika rapotnya bagus atau memenuhi standard, mahasiswa tersebut diperbolehkan menempati kamar dengan fasilitas bagus. Sedangkan mahasiswa yang mendapat rapot dibawah standard. Terpaksa harus dipindah ke kamar yang tidak jelek, namun kualitasnya dibawah kamar dengan fasilitas bagus. Hal ini membuat ane terpaksa menempati kamar yang mempunyai kualitas standard, mengingat saingan di sana yang cukup banyak.


"Kalimat yang berbahasa Inggris sudah ane translate ke bahasa Indonesia, agar nyaman dalam membaca emoticon-Smilie

Bevezetés
Utopikus (1)
Utopikus (2)
Túlél
Farkas
Gyökér
Törpe (1)
terus ane harus komen apa neh?? emoticon-Bingung
Bersambung nih ya?
oh emoticon-Smilie
bersambung gan ? emoticon-Bingung (S)
bingung gan,,,gw harus bagaimana????
Ini cerpen atau novel??? emoticon-Hammer

Kayanya TS emoticon-Salah Kamar
saya gak bisa ngomong apa apa gan
bisanya coment emoticon-Big Grin

Bevezetés

Quote:Mr.Marley tampaknya tidak hanya menyuruh kami untuk saling berkenalan. Tapi ada satu tugas yang diberikan olehnya. Tugas tersebut sangat memberatkan ane, karena ane baru pertama kali berada di Australia dan tepatnya di Universitas tersebut. Ane belum bisa beradaptasi 100%.

"Gimana nih ada tugas?" ane cemas
"Makanya besok datang ke rumah gw" Jennifer makin semangat
"Oh iya, kakak gw juga dulu alumni Universitas sini" Carrick sambil membuka tutup botol minum
"Bagus deh, sepertinya gw tertolong hari ini"

Setelah selesai pembelajaran, ane langsung keluar dari Universitas dan menuju ke asrama. Di tengah perjalanan, ane melihat Jessica sedang berjalan sendiri.
"Eh lu, ketemu lagi" kata dia
"Iya, gw mau ke asrama"
"Ooh lu dapet beasiswa ya? Pantes tinggalnya di asrama"
"Iya hehehe"
"Oh yaudah gw pergi duluan" Jessica meninggalkan ane perlahan-lahan

Ane agak bosan melihat mukanya. Sama sekali ane tidak tertarik dengannya. Setelah masuk ke asrama, ane terus saja membayang-bayangkan apa yang akan terjadi besok bersama dengan Jessica. Satu malam ane lewati dengan hanya memikirkan apa yang terjadi besok.

Pada pagi harinya, ane langsung mandi dan menyiapkan alat-alat untuk keperluan belajar. Serta bergegas untuk menuju ke Universitas.

Plak! ane menabrak seorang pemuda di asrama ane.

"Maaf-maaf, gw nggak sengaja"
"Iya-iya gapapa"

Ane langsung membantu orang tersebut untuk merapikan buku-buku yang berserakan di lantai. Kayaknya pemuda tersebut suka sama sains.
"Kamu orang mana?"
"Orang Indonesia"
"Nama lu siapa?"
"Rendy Tohar"
"Hahahaha suka sains ya?"
"Iya kok tau?!"
"Jelas keliatan, orang mukanya ganteng kayak anak sains" ane mencoba bergurau untuk mencairkan suasana
"Hahahaha, bisa aja"
"Gw cabut dulu ya, mau ke universitas nih, banyak teman yang nunggu"
"Iya-iya gapapa, buruan gih"

Sepertinya dia tidak terlalu ingin tahu dengan nama ane. Ane yang sudah terburu-buru karena semangat ingin bertemu dengan Jessica. Ane ke universitas dengan jalan kaki. Jarak antara asrama dengan universitas cukup dekat. Setelah 20 menit, ane sampai di universitas dan langsung masuk ke dalam kelas. Tapi sepertinya tak tampak Jessica di sana. Ane juga lupa bahwa teman ane bukan cuman Jessica. Masih ada Carrick, tapi dari tadi ane belum mencium baunya di sana. Ane berputar-putar universitas. Tak ku sangka ternyata mereka berada di perpustakaan. Mereka sedang membaca buku tentang misteri-misteri dunia yang sampai sekarang tak terpecahkan. Mereka tampaknya sangat serius

"Jes, Car!" sapa ane sambil berjalan ke arah mereka
"Oh Bob, sini buruan" kata Carrick sambil menunjuk ke suatu buku
"Kenapa ya?"
"Ini Bob, kumpulan misteri yang belum terpecahkan"
"Oh lu berdua sukanya yang beginian ya?"
"Iya seru tau, siapa tau kita bisa jadi salah satu orang yang memecahkan misteri tersebut" tegas Carrick
"Kayaknya itu terlalu rumit buat kita"
"Nggak ada sesuatu yang nggak mungkin" Carrick berusaha merubah opini ane

Ane langsung mendekati mereka berdua dan membaca buku tersebut. Lumayan menarik, seketika ane jadi suka tentang misteri-misteri tersebut. Ane juga memiliki rasa penasaran yang tinggi akan misteri-misteri kuno tapi tidak pernah ada hasrat untuk memecahkan misteri tersebut.

"Oh iya jadi kan ke rumah lu Jes?"
"Iya jadi, u tau kan rumah gw?"
"Yah nggak lah hahaha"
"Ketinggalan, Carrick udah tau tuh"
"Hah kok bisa?"
"Kemarin Pas lu udah pulang duluan, Carrick ada waktu kosong, jadi dia ikut pulang bareng gw"
"Ooh gitu"
"Lagi pula jarak antara rumah Jessica sama Universitas nggak terlalu jauh" kata Carrick sambil memasang wajah songong
"Iya, tinggal jalan kaki aja, paling cuman 20 menit" lanjut Jessica
"Oke, habis pulang sekolah kita langsung jalan bertiga"

Tanpa ane sadari, Rendy ternyata sudah ada di perpustakan dan sedang membaca buku buku tentang sains di daerah pojok.

"Rendy!"
"Ssstt, jangan berisik" Carrick mengingatkan ane

Rendy langsung bergegas menghampiri ane dengan wajah yang cukup semangat.
"Oh iya, lu yang tadi ya, ngomong-ngomong nama lu siapa?"
"Nama gw Bob"
"Ooh gitu salam kenal ya, maaf tadi lupa tanya soalnya sibuk"
"Iya gapapa"
"Itu siapa Bob? tanya Jessica
"Itu temen gw, satu asrama. Baru ketemu tadi pagi sih hahaha"
"Ooh gitu, ajak aja ke rumah gw biar makin rame"
"Maksudnya gimana nih" tanya Rendy
"Jadi gini, ntar gw, Jessica, dan satu lagi kenalin Carrick. Kami semua nanti ingin ke rumah Jessica ngerjain tugas sambil santai-santai di sana"
"Ooh gitu, gw boleh ikut?"
"Boleh dong, tuan rumahnya aja udah ngundang hahaha"
"Oke setelah pulang ya" Rendy berusaha membujuk
"Iya Ren"

Utopikus (1)

Quote:Setelah selesai pembelajaran. Ane langsung bergegas ke halaman utama bersama Jessica dan Carrick. Rendy sudah menunggu juga di sana. Kami bergegas menuju rumah Jessica. Jalan kaki selama hampir 20 menit lebih.

"Oh ini rumah lu" ane sambil menunjuk ke arah pagar
"Iya kenapa?"
"Rumah lu besar banget"
"Biasa aja kali hahaha" tambah Carrick
"Pasti lu punya banyak buku ya?" Rendy berniat membaca buku di rumahnya
"Di rumah gw bukunya banyak tapi itu semua bukan buku gw, tapi buku mama gw"
"Ooh boleh gw iseng-iseng baca bukunya nanti?"
"Boleh-boleh aja hahaha"
"Yaudah ayo masuk Jess" Carrick sudah tak sabar

Jessica langsung membuka gerbang depan dan kami segera di tuntun untuk masuk ke dalam rumah.
"Hah? Pintu lagi?" tanya ane
"Iya, memang di sini penjagaanya nggak sembarangan"
"Lalu itu kok kayak ada mesin sensor jari?"
"Ya, jadi yang bisa buka ini pintu cuman orang-orang dalam rumah aja"
"Oooh keren juga rumah lu, jadi betah di sini"

Jessica menempelkan sidik jarinya ke arah mesin tersebut. Perlahan-lahan pintunya terbuka seperti lift. Kami langsung masuk dan kaget betapa luas rumahnya.
"Eh gw ke dapur dulu ya, mau ambil minuman" kata Jessica sambil berjalan ke arah dapur
"Jadi ngerepotin" ane menggaruk kepala
"Hahahaha gapapa"

Selagi menunggu Jessica untuk kembali, ane langsung disodorkan kertas tentang tugas yang diberikan Mr. Marley.
"Eh lu udah selesai?" ane berharap di pinjamkan
"Kan udah gw bilang, kakak gw alumni di sana" tegas Carrick
"Ooh gitu, yaudah, gw ntar bawa pulang ya"
"Iya gapapa, gw udah bikin dua. Sengaja satunya buat lu"
"Ooh baik banget lu"

Sementara itu Jessica datang sambil membawa nampan yang di atasnya ada 3 minuman berwarna orange
"Oke, Lemon Tea sudah siap" Jessica memotong pembicaraan
"Wah seger nih hahaha" kata Rendy sambil berjalan mengambil lemon tea
"Udah buruan di minum hahaha" tambah Jessica
"Eh itu apa ya Jes? Kemarin gw nggak liat ruangan kayak gitu" Carrick kebingungan
"Ooh itu temboknya bisa di putar"
"Hah maksudnya?"
"Jadi gini, itu yang Carrick kemarin liat adalah tembok pertama dan yang kalian sekarang adalah tembok kedua. Tembok tersebut bisa di putar dan di dalam tembok tersebut ada perpustakaan mama gw"

Belum sempat menghabiskan minuman tersebut, ane langsung menyuruh Jessica untuk masuk ke dalam perpustakaan tersebut. Tapi Jessica sempat mengingatkan bahwa jangan ada yang merusak buku atau barang-barang yang berada di sana. Soalnya itu barang katanya sudah sangat jarang di temui.

"Gila gede banget, ngak jauh beda sama yang di universitas" kagum ane
"Iya banyak buku sains berarti ya" lanjut Rendy
"Baca aja tuh satu-satu" suruh Jessica
"Eits, tapi kok itu ada buku yang sampulnya kuno banget?" Rendy berjalan ke arah buku kuno tersebut
"Ooh, itu buku gw juga nggak ngerti bahasa apaan. Kayaknya udah lama banget"

Rendy dengan rasa penasaran yang tinggi langsung membuka buku kuno tersebut. Buku tersebut mempunyai sampul yang sudah sobek dan berwarna coklat. Serta debunya juga lumayan banyak. Ane diem-diem aja karena ane merasa buku tersebut tidak pantas untuk di pegang oleh kami. Ane juga kembali teringat apa pesan dari Jessica kalau perpustakaan tersebut bukan miliknya.

"Hah? Ini tulisan kok aneh banget" Rendy mencoba membaca bahasa tersebut
"Iya, gw juga pernah tanya mama gw, tapi sampai sekarang belum ada kepastian"
"Oh iya ngomong-ngomong mama lu di mana?"
"Gw lupa kasih tau, mama gw lagi ada kunjungan kerja di suatu tempat"

Jessica sempat menerangkan beberapa hal dan pekerjaan tentang mama nya. Bisa ane simpulkan bahwa mamanya banyak kerja di laboratorium dan Jessica sempat berkata dia juga salah satu anggota dari organisasi kesehatan dunia. Nggak heran kalau rumahnya besar banget.

Carrick dan Rendy sepertinya sangat penasaran dengan buku kuno tersebut. Di buka lembaran demi lembaran. Kata-kata yang terdapat dalam buku tersebut juga susah di baca dengan konsonan kata dalam Bahasa Indonesia. Tapi di antara kata-kata aneh tersebut. Terdapat kata Utopikus.

Utopikus (2)

Quote:Setelah 20 menit melihat buku tersebut. Ane mencoba mencari objek lain. Di sana juga ane melihat sebuah pintu lagi.
"Jes, itu pintu buat apa?" tanya ane sambil menunjuk ke arah pintu
"Pintu mana?" tanya balik dia
"Hah? Masa lu nggak tau?" ane semakin bingung

Ternyata dia sama sekali tidak mengetahui keberadaan pintu tersebut. Yang bikin ane tambah bingung, bagaimana mungkin seorang tuan rumah tidak tahu isi dari rumahnya tersebut. Ternyata banyak sekali misteri yang belum terpecahkan di rumahnya.
"Eh, gw coba buka ya" ane berjalan ke arah pintu tersebut
"Yaudah gapapa, tapi hati-hati. Gw sama sekali nggak tau isinya apaan" himbau Jessica
"Carrick... Rendy... buruan ke sini" ane berharap mereka membantu

Carrick dan Rendy segera datang. Namun tampaknya pintu tersebut terkunci. Ane sama sekali tak bisa membuka pintu tersebut. Sudah ane dobrak berkali-kali. Namun tampaknya perancangan pintu tersebut tidak di buat sembarangan. Bahan yang di gunakan juga jarang ane lihat. Namun di tengah-tengah pintu terdapat semacam kode putar yang tentunya harus di putar sesuai dengan huruf yang tepat.

Ane kembali teringat dengan kata Utopikus tadi. Ane memutar pelan-pelan dan menyocokkan ke arah huruf-huruf agar terbentuk huruf utopikus. PLEK!!!!
"Awas!" teriak ane melompat mundur

Kami langsung melompat ke arah belakang untuk menghindari situasi yang tidak diinginkan. Sekelubung asap keluar dari ruangan tersebut dan disertai cahaya yang menyilaukan mata kami. Ane memberanikan diri masuk ke dalam ruangan tersebut diikuti yang lain di belakang. Saat ane masuk, tampak banyak sekali alat pendingin di sana yang sedang dalam keadaan menyala. Di sana juga terdapat bola kristal yang berdiri megah di tengah-tengah. Bola kristal tersebut tampak bersinar terang dengan warna ungu yang mencolok. Ane mencoba memegang bola tersebut namun Jessica memegang tangan ane. Tampaknya Jessica tak yakin dengan tindakan ane tersebut.

"Lu beneran sama sekali nggak tau tempat ini?" ane penasaran
"Serius, setau gw di sini cuman ada perpustakaan doang"

Kayaknya ada sesuatu yang di rahasiakan oleh mamanya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Ane segera menyuruh yang lain untuk keluar dari tempat tersebut sekarang. Ane keluar duluan di susul Jessica dan Carrick serta Rendy di belakang. Carrick yang sepertinya sudah agak takut, agak tergesa-gesa keluar dari tempat tersebut.

"Pelan-pelan, banyak air di lantai" himbau ane
"Iya-iya" balas mereka serentak

BRAK!!! Rendy terpeleset dan bola kristal yang berada di belakang Rendy seketika terjatuh dan pecah. Sekelubung asap berwarna ungu tiba-tiba keluar dari bola kristal tersebut dan Rendy sepertinya mengalami luka dibagian pinggang dan tangan akibat pecahan bola kristal tersebut. Kami bertiga mencoba menyelamatkan Rendy dengan masuk kembali ke dalam tempat tersebut. Namun ntah mengapa saat kami ingin menopang badan Rendy. Pintu tiba-tiba tertutup dan terdengar suara alarm yang cukup kencang di dalam. Banyak cahaya berwarna merah yang tiba-tiba nampak di tembok dan lantai. Sepertinya karena sinar laser tersebut menyentuh salah satu dari kami, pintu tersebut otomatis tertutup.

"Sialan! Ada Laser" ane berusaha menghindari laser tersebut
"Waduh gimana nih, asapnya tebal banget" Jessica menutup hidungnya
"Uhuk Uhuk" batuk Carrick

Asap-asap ini membuat pandangan ane seketika buyar. Ane mencoba untuk tetap kuat dan melihat ke arah belakang. Astaga! Ternyata Jessica, Rendy, dan Carrick menghilang. Tidak ada tanda-tanda mereka bertiga. Tiba-tiba ane seperti terkena tabrakan yang cukup dashyat. Membuat ane tidak sadarkan diri.
saat org berusaha membuat trit tp saya gagal paham, di situ kadang saya merasa sedih emoticon-Mewek
Di reserved dong gan page-nya kalo mau bersambung2 ceritanya emoticon-Hammer (S)

Túlél

Quote:Ane perlahan-lahan membuka mata. Tampak suasananya begitu segar. Ane menghirup udara yang cukup segar.
"Bob... bangun.. " Jessica mendorong bahu ane
"Iya gw udah bangun nih"
"Kayaknya Carrick sama Rendy masih belum sadar nih"
"Sebenarnya sekarang kita ada dimana?"
"Saat kalian bertiga masih pingsan, gw coba mencari tanda-tanda kehidupan di sini, tapi kayaknya nggak ada sama sekali"

Sementara itu, ane mencoba membangunkan Carrick dan Rendy. Ane punya firasat buruk jika harus menunggu lama sampai mereka berdua bangun. Ane mendorong-dorong tubuh mereka berdua, tapi sepertinya masih belum ada respon. Memang benturan tersebut cukup kencang. Sementara itu, ane sama sekali tidak melihat tanda-tanda kehidupan di sana. Cukup sunyi, tapi di sekitar ane terdapat benda seperti pohon namun bentuk dan warnanya agak berbeda. Ane belum bisa memastikan benda tersebut makhluk hidup atau bukan. Tapi yang pasti ane melihat benda tersebut menghasilkan gelembung-gelembung seperti balon tiup.

"Lu liat kan Jess?"
"Iya, kayaknya gelembungnya berbahaya tuh"
"Kita belum tau bahaya kalau belum menyentuhnya"
"Lu gila apa? kita sama sekali nggak tahu apa-apa tentang tempat ini"

Ane berharap ada benda panjang seperti tongkat. Ane membalikkan badan dan melIhat ke arah sekeliling.

"Jess, coba lu bantu ambilin benda warna ungu" ane sambil menunjuk ke arah benda yang di maksud
"Oke bentar" Jessica sambil berjalan mengambil benda yang ane maksud

Jessica melemparkan benda tersebut ke ane. Dari bentuknya benda tersebut mirip ranting yang jatuh dari benda yang menghasilkan gelembung tersebut. Ane yakin ini salah satu bagian dari benda tersebut dilihat dari warnanya.

Sebuah gelembung datang ke arah ane. Ane langsung menjaga jarak dengan gelembung tersebut. Dengan hati-hati ane mendekatkan ranting ungu tersebut ke arah gelembung. TLAK!! Gelembung tersebut pecah dan berubah menjadi cairan berwarna bening seperti susu.

"Kayaknya ini nggak bahaya deh" ane meraba benda tersebut
"Jangan terlalu gegabah"

Ane menginjak-nginjak cairan tersebut, tampaknya tidak ada respon apa-apa dengan kulit ane. Tidak ada yang aneh. Cairannya pun tidak lengket, dan bahkan menyerupai air di bumi. Ane mendapat ide untuk membangunkan Carrick dan Rendy.

"Jess, kalau ada gelembung pancing aja ke arah Carrick dan Rendy" ane bersiap menembak gelembung tersebut
"Beneran nih gapapa?"
"Iya tenang aja"

Gelembung-gelembung tersebut mempunyai ciri menanggapi rangsangan dan akan mengikuti rangsangan tersebut sampai pecah sendiri. Saat Jessica memancing gelembung tersebut ke arah Carrick dan Rendy. Ane langsung melempar ranting tersebut dan memecahkan balon yang ada di sana. PLAK!!! Tetesan air tersebut jatuh di wajah Carrick dan Rendy. Seketika Carrick dan Rendy menunjukan respon. Mata mereka berdua mulai bergerak dan akhirnya terbangun.

"Ini dimana?" tanya Carrick dan Rendy
"Gw juga nggak tau, tapi yang penting kita harus cari tempat berlindung" ane melihat ke arah sekeliling
"Iya bener kata Bob" tambah Jessica

Untungnya Carrick dan Rendy mempunyai watak yang tegar dan berani. Mereka berdua nggak gampang panik.

Selain ranting ane juga melihat benda tapi menyerupai sehelai daun. Dugaan ane sepertinya ini daun pohon namun bentuknya saja yang berbeda. Ukuran daun tersebut sangat besar seperti selimut kasur. Daun tersebut juga tampaknya kokoh untuk membuat tenda mini. Ane langsung menginstruksikan yang lain untuk membuat tenda mini. Namun dalam skala kecil dan letaknya di balik pohon aneh tersebut. Ane takut ada serangan dari makhluk lain yang nggak di kenal.

Tampaknya Jessica bukan cewe sembarangan, dia mengetahui banyak teknik dalam merangkai sesuatu. Terbukti di lihat dari gerakannya yang cukup gesit dalam membuat tenda. Bahkan melebihi ane.

Dilihat dari suasana di sana. Sepertinya sudah mau malam. Ane juga nggak tau pasti berapa waktu dalam 1 hari di sana. Arloji yang ane bawa ternyata rusak karena hantaman tadi. Tapi yang ane tau jika mau malam pasti daun-daun di pohon tersebut akan menguncup ke arah bawah. Ane menyuruh yang lain untuk bergegas menyelesaikan tenda mini tersebut dan menginap di sana untuk satu malam.

"Kayaknya kita terpaksa untuk menginap di sini" ane memasang raut kesal
"Jadi gimana? Kita harus susun strategi" balas Carrick
"Strategi gimana?" tanya Rendy
"Iya, kita pasti nggak mungkin tinggal di sini dengan hanya bermodal tenda. Kita juga harus bisa balik cepat-cepat ke tempat kita berasal. Tapi yang paling penting bagaimana kita bisa beradaptasi di lingkungan seperti ini" Carrick mencoba memikirkan rencana lain
"Iya, yang kita butuhkan adalah makanan dan senjata" usul ane
"Oh iya, dulu gw pernah di ajarin cara bikin pisau dari batu" Jessica memotong
"Nah, bahan-bahannya itu kita dapat dari mana?" tanya Rendy
"Pakai ranting yang gw pake aja, itu lumayan tajam, tinggal di asah lagi aja" jelas ane
"Ide bagus, gw juga tadi liat ada kumpulan batu-batu kecil di dekat pohon tersebut" lanjut Jessica
"Lah itu baru senjata, kalau makanan?" tanya Rendy
"Kalau makanan urusan belakang aja, yang penting senjata, siapa tau ada getah pohon yang bisa di makan sama seperti di bumi." ane berusaha mengingatkan mereka

Setelah pembicaraan yang cukup panjang. Satu per satu dari kami tampaknya sudah mulai kelelahan dan tertidur. Ane dari tadi merenung bagaimana nasib keluarga ane yang kehilangan anaknya. Pasti bakal panik mencari ane serta bagaimana kelangsungan belajar ane di Australia.

Farkas

Quote:"Bob, bangun.. cepetan" Rendy mendorong bahu ane
"Hoamm.. iya bentar"
Betapa terkejutnya ane. Melihat Carrick yang sedang memainkan senjata buatannya. Lalu ane juga liat api unggun yang ternyata di buat oleh Rendy.

"Lu kenapa nggak ngajak gw?"
"Lu kayaknya kecapean deh"
"Iya tadi gw udah coba bangunin tapi nggak kebangun-bangun" tambah Carrick

Iya bener juga, ane kemarin malam tidurnya agak larut karena kebanyakan pikiran dan berniat untuk menjaga mereka bertiga. Udara siang dan malam ternyata nggak jauh beda. Sama-sama dingin. Sepertinya suhu di lingkungan ini nggak stabil.

"Lu gimana buat api unggun?" ane sambil menunjuk ke arah api unggun
"Pake batu krikil yang di samping pohon" Rendy menunjuk ke batu krikil
"Emang bisa? Setau gw nggak bisa deh" ane semakin bingung
"Jangan pernah ngeremehin anak sains"
"Hahahaha bener tuh" Carrick tertawa

Tingkah-tingkah mereka membuat suasana hati ane cair. Tapi ane tetap aja khawatir. Sebenarnya kita di sini bukan liburan. Kita seperti orang tersesat dan nggak tau arah jalan pulang. Ane juga takut nyawa kita menjadi taruhan di sini.

"Bob, hey!" Jessica berjalan ke arah ane
"Aah, eh iya kenapa?"
"Lu kenapa akhir-akhir ini jadi suka melamun?"
"Nggak papa, lagi cape aja"
"Oh iya, nih pedang bambunya" Carrick memotong pembicaraan sambil menyerahkan salah satu senjata dari tangannya ke ane
"Buat gw? agak berat juga"
"Iya hati-hati, jangan asal gerak. Ntar ketusuk sendiri" Carrick memperagakan cara memegang pedang

Ane tampaknya sekarang beruntung tersesat dengan orang-orang yang jenius. Carrick ahli dalam bela diri serta pembuatan senjata. Sedangkan Rendy ahli dalam sains. Tapi lama kelamaan ane merasa perut ini sangat lapar. Sudah seharian kemarin ane nggak makan. Terakhir kali hanya minum lemon tea.

"Eh, gimana nih gw lapar" ane memegang perut
"Bener juga, dari tadi gw cari hewan yang hidup tapi nggak kelihatan juga" Rendy menyetujui
"Yaudah kita tunggu aja sampai ada makhluk lain nongol" kata Carrick sambil memainkan pisaunya
"Tapi jangan asal bunuh, kita belum tau situasi di sini" Jessica berusaha mengingatkan

Ane yang sudah di beri senjata mencoba untuk berlatih dan beradaptasi dengan pedang baru ini. Lumayan berat bagi ane, tapi sepertinya lama-kelamaan ane mulai terbiasa. Ane mulai menganyun-ngayunkan pedang tersebut seolah-olah sedang bertarung dengan musuh. Ane menimpuk batang pohon sampai tenaga ane abis.

Tlek! Bunyi air terjatuh.
"Eh air apaan tuh?" Jessica penasaran
"Hah? Air" ane semakin bingung
"Eh iya, tuh kayaknya getah pohon deh" Rendy meraba-raba batang pohon tersebut
"Hati-hati jangan asal dekat" Carrick sempat menahan tangan Rendy
"Bentar gw cek" Rendy tetap pada pendirian

Rendy dengan pisau bambunya merobek-robek batang pohon tersebut. Makin lama getah dari pohon tersebut keluar dengan cepat. Sesuai dengan warna pohonnya. Getah yang dihasilkan pun juga berwarna ungu. Cairannya agak kental seperti susu manis dan lengket di tangan. Tanpa di perintah tiba-tiba Rendy meminum cairan tersebut.
"Rasanya manis juga ya" Rendy menyicipi getah tersebut
"Manis??!!" tanya ane
"Nih cobain"

Setelah melihat reaksi Rendy meminum getah tersebut. Sepertinya memang getah tersebut aman-aman saja. Ane mengambil piring bambu yang sebelumnya sudah dibuat Carrick. Dan menaruh dibawah tetesan getah tersebut. Lalu meminumnya. Memang benar-benar manis. Getah tersebut cukup untuk membuat perut ini merasa kenyang. Tapi tetap aja, ane tidak mau meminum terlalu banyak.

"Sekarang kita mau kemana?" Carrick merasa jengkel
"Kita lurus aja, ikutin insting aja" balas ane
"Apa boleh buat, kita sama sekali nggak tau daerah-daerah di sini" lanjut Jessica
"Eh liat-liat, KUPU-KUPU!" teriak ane sambil menunjuk ke arah hewan tersebut

Seketika kami terkejut dengan kehadiran kupu-kupu tersebut. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan kupu-kupu di bumi. Sama. Namun warna dari sayapnya agak terang dan berkilau. Hal ini memperkuat opini ane bahwa ada makhluk lain selain kita yang berada di sini. Jika memang ada, pasti bentuknya lebih aneh dari pohon ini.

"Awas!!" Rendy berusaha melindungi Carrick
"Gila, itu makhluk apaan? Serigala?" Carrick semakin bingung

Kawanan serigala muncul dari arah barat. Tidak hanya satu tapi tiga. Jessica yang keliatan udah panik langsung berlari memeluk badan ane dari belakang. Ane hanya bisa menganyun-nganyunkan pedang untuk menakut-nakuti srigala tersebut. Tapi sepertinya srigala ini berbeda dengan srigala di bumi. Bulu srigala tersebut persis seperti srigala hutan tapi srigala tersebut agak meraung dan bertaring panjang.

"Gimana nih? " Rendy kehabisan akal
"Udah lawan aja" Carrick semakin emosi
"Jangan gegabah, kalau kita yang kalah gimana!" himbau ane
"Kabur aja kita" usul Rendy
"Jangan! kita nggak tahu ada makhluk apa lagi selain srigala. Kalau kita kabur mungkin kita bisa nemuin makhluk yang lebih kuat dari srigala ini" lanjut ane

Perlahan-lahan srigala tersebut mendekati ane. Sepertinya srigala tersebut merasa terancam karena tingkah ane yang memainkan pedang tersebut. Serigala tersebut tiba-tiba berlari dan menerkam Rendy. Carrick pun langsung melempar pisau tersebut ke arah srigala . PLAK! pisau tersebut mengenai ekornya. Srigala meraung kesakitan. Rendy berlari ke arah api unggun. Sekarang giliran ane dan Carrick yang diincar dua serigala berikutnya.

"Awas!" teriak Carrick sambil mendorong badan ane ke arah samping. Carrick yang mempunyai pertahanan diri bagus langsung menendang kepala salah satu srigala. Srigala terlempar 5 meter dari arah kami. Ane dengan sigap bangun dan bergerak maju untuk menusuk salah satu srigala yang ekornya terjepit oleh pisau Carrick. PLAK! Ane berhasil menusuk bagian badan dari srigala tersebut. Tampaknya hal tersebut membuat dua srigala lain semakin marah.

Suasana semakin mencekam. Carrick sepertinya sudah memberi kode bahwa sudah tidak kuat lagi. Ane melihat ke arah sekeliling untuk mencari senjata lain. Tapi ada satu hal yang ane bingung. Mengapa serigala-serigala tersebut tidak menyerang Rendy dan Jessica yang sedang berlindung di belakang api unggun.

"Carrick! Gw tau, mereka takut sama api!" teriak ane sambil berlari ke arah api unggun
Carrick langsung berlari dan melompat juga ke arah samping api unggun. Sepertinya dugaan ane tepat. Srigala-srigala sama sekali tidak mengikuti kita berdua. Mereka hanya diam dan tampaknya berpikir dua kali untuk memakan kami. Mereka akhirnya meraung sepertinya memberi kode kepada kawanan lain dalam jumlah banyak.

Srigala yang mati di makan begitu saja oleh dua temannya. Ane melemparkan pisau yang sudah ane beri api ke arah serigala tersebut. Akhirnya serigala tersebut lari ke arah timur. Ane bergegas melihat mayat dari salah satu srigala. Ane sempat terkejut melihat bagian organnya. Ada bagian-bagian yang sama sekali ane belum pernah lihat. Salah satu bagian organ yang lain juga ternyata belum mati. Organ-organ tersebut bukannya mengendur, malah semakin keras kerjanya.

"Kayaknya kita harus cepet-cepet pergi dari sini deh" Carrick berjalan tanpa arah
"Iya, gw juga udah mulai takut" Rendy mengikuti Carrick

Kami akhirnya pergi dan membawa perlengkapan senjata serta getah-getah pohon tersebut dengan kain baju yang sudah ane robek sendiri. Tidak membutuhkan waktu lama, ane bisa menyimpulkan bahwa makhluk tersebut mencium bau getah yang kami minum. Kupu-kupu tersebut sepertinya juga menyukai bau getah tersebut.

Gyökér

Quote:Sepertinya kami sudah 20 menit berjalan. Kami berjalan tanpa arah. Ane dari tadi udah punya firasat buruk akan keberhasilan perjalanan ini. Ane jadi rada parno akan kemungkinan kemunculan kawanan srigala tersebut.

"Eh, itu ada hutan?" tanya Rendy
"Iya bener, kayaknya kita bisa ngambil banyak cadangan makanan di sana" balas Carrick
"Tapi harus hati-hati ya" ane berusaha mengingatkan

Ane saat itu juga sedang dalam keadaan lapar. Jadi tidak terlalu mementingkan hutan tersebut bahaya atau tidak. Dari depan terdapat banyak pohon-pohon berwarna ungu sama seperti pohon yang pertama kali ane lihat. Namun daunnya agak menyerupai duri.

"Hati-hati banyak duri" himbau Rendy
"Iya tenang" balas Carrick

Kami perlahan lahan berjalan masuk ke dalam hutan dengan rasa agak khawatir. Bunyi semak-semak yang tertiup angin terdengar jelas.

"Awas!" ane menarik tangan Jessica
Seketika Jessica jatuh di pangkuan badan ane. Sialan! Tempat apa ini sebenarnya. Kawanan burung tersebut seperti sengaja memuntahkan cairan aneh. Cairan tersebut berwarna kuning dan berbau amis. Ane melihat di sekitar daun-daun yang terkena cairan tersebut. Tampaknya cairan tersebut sangat berbahaya, daun-daun tersebut seketika langsung layu dalam hitungan kurang dari 3 detik. Tampaknya kedatangan kami tidak di sambut gembira oleh penghuni hutan tersebut.

"Makasih Bob"
"Sepertinya cairan yang di keluarkan sejenis asam sulfat" ucap Rendy
"Kayaknya kita nggak boleh lama-lama di sini deh" himbau ane
"Tapi kita udah setengah jalan, nggak boleh berhenti" paksa Carrick
"Baiklah"

Ane tidak ingin nyawa teman-teman menjadi taruhan. Tapi apa boleh buat, ini lah satu-satunya jalan yang ane liat. Selebihnya hanya padang rumput yang luas dan terlihat tidak ada siapa-siapa yang bisa di minta bantuan. Perjalanan kembali di lanjutkan. Ane memotong ranting-ranting pohon yang menggangu jalan kami. Tak butuh waktu lama, ane mendengar suara jatuhnya air dari arah depan. Ane mulai memotong ranting-ranting tersebut dengan cepat. Yang lain sepertinya sudah tampak gembira.

"Astaga!" teriak ane
"Kayaknya bener deh, kita harus cepet keluar dari sini" Rendy perlahan-lahan berjalan keluar hutan

Ane terkejut dengan apa yang ane lihat. Cairan yang ane dengar tersebut ternyata berwarna merah seperti darah. Alirannya tampak seperti sungai dan baru pertama kali ane melihat air terjun berwarna merah. Hal ini membuat ane panik dan segera keluar dari hutan tersebut.

"Cepat keluar!" teriak ane sambil berlari ke arah belakang

Semua sepertinya sudah tampak panik. Carrick yang awalnya berani, seketika menjadi pengecut. Dia duluan yang berlari ke arah belakang. PLAK! Akar-akar dari pohon tersebut bergerak dan melilit badan Carrick. Rendy melemparkan pisaunya ke arah akar tersebut dan Blas! Pisau tersebut berhasil memotong akar dari pohon dan ane langsung berlari menyelamatkan Carrick. Carrick tampaknya tidak mengalami luka yang serius.

"Sialan, musuh lagi" ucap Carrick
"Kayaknya kita terpaksa harus berlawanan dengan mereka" balas ane
"Rendy, Jaga Jessica" tambah ane

Tiba-tiba akar dari salah satu pohon tersebut bergerak, akar tersebut menghantam tanah dan menimbulkan goncangan yang cukup kuat. Ane terjatuh dan berusaha untuk menjaga keseimbangan. Ane berlari ke arah belakang batu besar untuk menghindari serangan-serangan pohon tersebut. Sepertinya kali ini kami terpisah menjadi dua kelompok. Carrick, Rendy, dan Jessica melawan pohon 1 sedangkan ane sendirian melawan pohon 2.

Ane melempar batu ke arah depan berusaha memancing perhatian pohon 2. Segera ane melompat dari arah bebatuan dan menghantam akar pohon dari bagian belakang. BLAS! Akar bagian belakang berhasil di robohkan. Ane mengira awalnya pohon tersebut sudah mati. Tapi tiba-tiba muncul akar baru dari salah satu retakan tanah akibat goncangan tersebut. Akar tersebut sekarang lumayan besar. Beberapa kali mengeluarkan cairan dan sepertinya cairan tersebut sama dengan cairan yang dihasilkan sekawanan burung tadi. Ane beberapa kali sempat menengok ke arah samping melihat Carrick yang sedang menangkis beberapa serangan dari akar tersebut.

Akar tersebut tiba-tiba membelah menjadi 3 dan mulai melancarkan serangan. Kali ini ane nggak bisa berbuat apa-apa selain menghindar. Plek! Baju ane sobek akibat duri dari akar tersebut. Ane melompat ke arah kiri sambil mencari tempat persembunyian yang bagus. Akar yang satu terus saja menyerang ane dari arah kanan. Dengan sigap ane menghindari serangan-serangan tersebut. Ane berlari dan memutari akar yang ke 3 dan PLAK!!. Akar 3 mati akibat serangan akar ke satu. Sepertinya rencana ane berhasil. Sekarang tinggal akar 1 dan 2. Ane berlari sekuat tenaga melompat ke belakang akar 2 dan seperti dugaan ane. Akar 1 hanya menyerang tanpa memerhatikan teman-temannya. Akar 2 pun mati dalam hitungan detik. Akar 1 sepertinya asal serang saja dan tidak terlalu mempunyai cukup otak untuk meyerang ane.

Argh!! apa ini? dan ternyata dikaki ane terdapat sari-sari akar yang menempel dan menjadi akar-akar kecil yang baru. Akar-akar kecil tersebut mengikat kaki ane, seketika ane terjatuh. Sialan! sepertinya ane sudah terkena perangkap dari akar-akar tersebut. Ternyata akar 1 sengaja menghantam akar 2 dan akar 3 agar sari-sari akar tersebut menempel dikaki ane. Sepertinya sekarang ane yang kurang punya otak. Ane sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Pedang yang ane bawa juga diambil oleh akar tersebut dan langsung dihantam ke arah sungai merah. Ane melihat ke arah samping dan ternyata Carrick serta Rendy dililit kuat oleh akar pohon yang lain. Jessica tampaknya juga pingsan akibat hentakkan akar ke tanah. Ane nggak bisa berbuat apa-apa selain berdoa keajaiban akan muncul.

Törpe (1)

Quote:Blas! akar yang melilit Carrick dan Rendy tiba-tiba putus. Ada makhluk lain yang menyerupai kurcaci datang dan menolong kami. Perhatian akar 1 pun terfokus ke arah kurcaci tersebut. Ane memanfaatkan situasi dengan mengeluarkan pisau kecil dari kantong ane dan langsung menebas akar-akar kecil di kaki.

"Carrick kayaknya kita dapat bantuan" ane berteriak sambil berlari ke arahnya.
Kurcaci terlihat sedang satu lawan satu dengan akar yang menyerang ane tadi. Ane berusaha membantu dengan sesekali melemparkan batu kecil ke arah akar. Tapi kurcaci tersebut memberikan respon dan sepertinya menyuruh ane untuk berhenti membantunya.

Beberapa serangan dari akar tersebut berhasil di tangkis dengan mudah oleh kurcaci.
"Gila jago juga tuh anak" kata Carrick sambil membersihkan bajunya dari sisa-sisa akar. Kurcaci tersebut mengeluarkan semacam cairan dari saku celananya dan di lempar ke arah tanah retakkan. Seketika akar tersebut langsung tumbang dan jatuh ke tanah. Ane nggak ngerti cairan apa yang sebenarnya di gunakan oleh kurcaci tersebut.

Kurcaci menggerakkan tangannya seperti memberi simbol ke arah ane. Ane yang nggak paham hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia melemparkan botol yang berisi cairan tersebut ke arah ane.
"Kayaknya kita dapat bantuan" kata Rendy sambil menggendong Jessica

Guncangan hebat kembali terjadi, sungai merah yang tadi ane liat sekejap menghilang di serap oleh akar-akar yang mati tersebut. Dari arah belakang muncul akar-akar baru dan membesar begitu cepat. Ane yakin cairan dari sungai merah mengandung zat-zat yang membuat akar tersebut tumbuh subur. Perlahan-lahan akar tersebut bergerak ke arah kami.

Kurcaci melompat-lompat sambil memasang raut wajah yang ketakutan.
"Lari Bro!" Carrick menarik tangan ane dan lari mengikuti kurcaci.
Kami berlari dan ane membuang semua senjata yang ane bawa untuk mempercepat gerakkan lari. Ane nggak tahu ke arah mana kurcaci tersebut ingin tuju. Kami terus saja mengikuti arah larinya dan lama-kelamaan gerakkan akar-akar tersebut semakin cepat.

Kurcaci melempar kembali cairan aneh ke arah belakang kami dan seketika bunyi gemuruh dari akar hilang.
"Sepertinya akar tersebut sudah mati" kata ane sambil melihat ke arah kurcaci. Tapi raut yang di berikan kurcaci belum sepenuhnya tenang. Dia menunjuk ke arah belakang pohon tapi ane nggak ngerti maksudnya apa. Dia lalu menarik tangan ane dan di bawa ke arah belakang pohon yang di maksud.
"Apaan nih?" kata ane sambil meraba-raba batu yang ada di depan.

Kurcaci memberikan 4 botol cairan ke ane dan sepertinya dia menyuruh ane untuk membuat gerak akar tersebut semakin lambat. Sementara itu dia duduk di depan batu tersebut dan seperti membaca mantra yang ane nggak ngerti bahasanya. Tapi ane sempat mendengar kata utopikus terselip di antara kalimat-kalimat yang diucapkannya.
"Carrick lu jaga di arah kanan, gw di arah kiri" kata ane sambil memberikan 2 botol cairan tersebut ke tangan Carrick

Sudah 1 menit tapi sama sekali tidak terlihat tanda-tanda akar akan kembali menyerang.
"UTOPIKUS!" kurcaci tersebut berteriak dan seketika batu yang ada di arah depan ane bergeser. Geseran batu tersebut sangat kuat dan membuat keseimbangan ane agak kacau.
"Di situ!" Carrick berteriak dan melempar botol tersebut sampai pecah ke arah kanan. Sialan! Gak kena. Tampaknya Carrick sudah terbawa situasi. Kurcaci tersebut berteriak dengan bahasa aneh dan sambil menunjuk ke arah dalam goa.
"Lu duluan, buruan!" ane berteriak sambil melempar beberapa batu ke arah semak-semak.

Suarah gemuruh dari tanah kembali terdengar dari arah kanan. Ane langsung sigap melempar botol ke arah kanan dan tiba-tiba suara tersebut berubah arah dari arah kanan menjadi arah kiri. Ane melempar botol terakhir ke arah kiri dan tanah mulai bergoncang kuat. Hulu Holo Hulu Holo! Kurcaci tersebut sepertinya memberi kode untuk segera masuk ke dalam goa. Tanpa pikir panjang ane langsung berlari ke arah goa.

Trek! akar-akar kecil tiba-tiba mengikat kaki ane. Sepertinya ane lupa untuk membersihkan sari-sari akar dari kaki ane. Kurcaci langsung memotong akar tersebut dengan pisau kecil dan melempar ane masuk ke dalam goa. Kurcaci kembali berhadapan dengan akar-akar tersebut, serangan-serangan terus di lancarkan akar dari arah kiri, kanan, dan depan. Brak! Brak! Brak! Batu yang menghalangi gua tiba-tiba bergeser kembali dan sepertinya akan menutup goa. Kurcaci tersebut terus saja bertarung dan sepertinya ingin melindungi ane dengan cara mempertaruhkan nyawanya.

"Sialan!" ane berteriak sambil mencoba menahan batu yang bergeser. Carrick yang melihat ane langsung ikut membantu. Kurcaci memberikan ekspresi marah ke arah ane. Dia sepertinya tidak suka melihat ane membantunya. Ane terus menahan batu tersebut sampai kurcaci selesai menghabisi akar-akar yang meyerangnya dari tadi.
"Argh! Gw udah nggak kuat" kata Carrick sambil menahan rasa sakit akibat kuku jarinya yang patah. Perlahan-lahan ane terdorong oleh geseran batu tersebut. Carrick terpental ke arah dalam goa. Ane yang sudah tidak kuat langsung melompat ke arah dalam.

Pang! Bunyi batu yang berhasil bergeser menutup goa.
"Gw bodoh! Ini salah gw!" ane meneteskan air mata. Ane sangat menyesal, 1 nyawa terbuang sia-sia untuk menyelamatkan kami.

Trek! Trek! Trek! terdengar suara gesekan batu dan lama-kelamaan cahaya api mulai terlihat.
"Hala holo wolo" kurcaci melompat kegirangan sambil memberikkan ekspresi tertawa di depan ane. Ane kira kurcaci tersebut sudah mati. Dia berhasil masuk ke dalam goa tepat waktu.
mantap..ditunggu lanjutannya gan
Gan kayaknya ente emoticon-Salah Kamar emoticon-Cape deeehh
Quote:Original Posted By wolfzmus
Ini cerpen atau novel??? emoticon-Hammer

Kayanya TS emoticon-Salah Kamar


rituit yes emoticon-thumbsup