alexa-tracking

[TAMAT] Kembalilah (Tak Terungkap) | Kisah Nyata Cinta Tiga Hati | R-17

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54e61bbf5a5163581b8b4567/tamat-kembalilah-tak-terungkap--kisah-nyata-cinta-tiga-hati--r-17
Poll: Siapa Karakter Perempuan Favorit Reader dalam Cerita Ini?
Aerish Rivier 3.13% (16 votes)
Nadine Helvelina 33.07% (169 votes)
Kiara Natasha 3.13% (16 votes)
Cauthelia Nandya 60.67% (310 votes)
Kembalilah (Tak Terungkap) | Kisah Nyata Cinta Tiga Hati | R-17

Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 874 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.


[TAMAT] Kembalilah (Tak Terungkap) | Kisah Nyata Cinta Tiga Hati | R-17


Pernahkah, kalian berada diantara dua bidadari yang saling mencintaimu?
Dua sosok bidadari terindah dalam hidupmu, yang tidak pernah kau bayangkan?
Aku cinta Kamu, Aku cinta Dia, dan Mereka mencintai Aku?
Dengan ketulusan dan cinta yang tidak pernah diragukan?

Aku pernah, sampai saat ini, sampai aku berumah tangga dengan salah satunya.
Ini ceritaku bersama Mereka.
Elya dan Nadine.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Kisah Nyata Cinta Tiga Hati

[TAMAT] Kembalilah (Tak Terungkap) | Kisah Nyata Cinta Tiga Hati | R-17



MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah RESTRICTED-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang menyerempet ke dalam hal yang berbau dewasa, sehingga hanya cocok untuk pembaca berusia 17 tahun ke atas, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa dalam cerita ini ada adegan yang mengandung unsur dewasa, sehingga tidak diperkenankan dicontoh atau ditiru, kecuali dilakukan dengan pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Penggalan reffrain lagu tersebut mewakili perasaanku kepadanya, ya lagu yang aku buat ketika aku merasa gundah karena aku kehilangan orang yang kucintai saat itu. Hanya lagu itu yang setia menemaniku sejak kepergiannya dahulu, dan semenjak saat itu kurasa harapanku kepadanya sudah sirna.


Entah apakah aku bodoh atau aku terlalu percaya kepadanya, hingga pada suatu ketika aku menemukan titik balik dari semua perjuanganku. Manis dan pahit yang kualami menjadikanku lebih dewasa dalam meniti jalan hidupku yang sudah berubah semenjak ada dirinya dan kepergiannya. Dan itu meninggalkan kenangan yang akan kubawa hingga aku mati nanti


Selamat malam teman-teman Story From The Heart, izinkan saya M60E38 untuk bercerita tentang sebuah kisah, yang ringan tetapi bermakna sangat dalam, khususnya bagi saya pribadi. Mungkin ada yang bertanya M60 E38, apakah saya seorang Bimmer yes I am a Bimmer, M60 adalah V-8 90' Engine untuk 1996 E38 730iL. Sudah cukup intermezzo-nya mengenai BMW, saya rasa tidak penting dibahas.

Ini adalah cerita mengenai seorang laki-laki yang merasa cintanya diabaikan dan berharap bahwa keajaiban akan membawanya kembali kepada gadis itu. Hingga saat ini, perasaan itu tidak akan pernah terlupa, meskipun sudah beberapa tahun berlalu, dia adalah cinta pertama yang tidak pernah bisa hilang begitu saja.

Tentang judul Kembalilah (Tak Terungkap) adalah sebuah lagu yang mewakili perasaan laki-laki itu, dan saya benar-benar menciptakan lagu tersebut karena kenangan tentang gadis itu tidak akan bisa dilupakan begitu saja, dan kini meskipun laki-laki itu sudah berkeluarga, ia tidak akan pernah lupa akan perasaan cinta itu kepada gadis tersebut.

Selamat membaca sebuah kisah ini, dan saya berharap masukan dari teman-teman Kaskus agar saya bisa terus update dan menceritakan kisah yang masih on progress ini. Terima Kasih sebelumnya semoga teman-teman Kaskuser bisa menikmatinya.

Quote:


Quote:


Quote:


Silakan Add BBM ID 59FB010B atau Line ID cauthelia untuk kabar terbaru dari thread ini, terima kasih.

INDEX PART 2

Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:

Help Center


Character Desciption


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Glosarium

Quote:

nungguin updetan
semoga lancar jangan sampe nyerah ditengah jalan gan
Quote:


Tenang gan, tidak akan menyerah di tengah jalan, ini saja masih saya susun lagi.
emoticon-Shakehand2

Tentang Rasa Itu | Bagian 1

TENTANG RASA ITU (BAGIAN 1)


     Sudah hampir dua tahun aku menyimpan perasaan kepadanya, namanya Aerish Rivier, ia dulu teman sekelasku saat masih kelas X SMA, sekarang aku sudah di penghujung semester pertama di kelas XII, dan jujur saja aku masih mengharapkan balasan dari pernyataanku saat kenaikan kelas XI waktu itu. Aku hampir lupa, aku Faristama Aldrich, aku bersekolah di suatu sekolah yang cukup favorit di kotaku dan berada di kelas unggulan, meskipun tidak ada yang bisa diunggulkan dariku.

      Sore ini, sepulang sekolah hujan deras mengguyur kotaku, sejak sebelum aku pulang sekolah hingga saat ini hujan masih saja membasahi kota ini. Beruntung rumahku tidak terlalu jauh dari sekolah, hanya saja ya aku hanya menggunakan sepeda motor menuju ke sekolah, sehingga tetap saja kehujanan. Setelah selesai mandi dan berbenah, seperti biasa aku mengoperasikan notebook-ku dan mulai bermain video game.

      Sekilas aku pandangi jalanan yang dibasahi air hujan sore itu, tidak ada yang menarik dari jalanan selebar 4 meter yang berada di depanku. Cukup lama aku memandang keluar rumah dari dalam jendela, dan kulihat ada perempuan berjalan di sana. Kupandangi dengan seksama, dan ya itu adalah seragam sekolahku. Sedikit tertegun, mengapa ia pulang dibawah guyuran hujan pada sore itu, aku langsung turun dan bergegas menuju keluar rumah dengan membawa payung.

      “Hei,” panggilku saat ia mulai berjalan menjauhi rumahku, gadis itu menengok perlahan, “mendingan loe neduh dulu di rumah gue,” ujarku sambil mengampirinya dan memberikannya payung.

      “Makasih ya,” ujarnya lalu mengambil payung dari tanganku, gadis yang rambut panjangnya sudah basah kuyub itu menoleh ke arahku, wajahnya terlihat sedikit sedih.

      “Udah gak usah sungkan, loe masuk aja gak masalah kok,” ujarku lalu mempersilakannya untuk masuk ke rumahku, perlahan tapi pasti gadis itu memasuki rumahku.

Dengan sigap aku mengambilkannya handuk dan satu potong sweater yang biasa aku gunakan ke sekolah, mungkin bisa berguna untuknya. Jelas ia berasal dari sekolahku, tetapi entah ada di kelas mana, dan aku juga tidak pernah tahu ada temanku yang berasal dari kelas XII. Tanpa banyak kata, aku membuatkannya cokelat panas dan mengantarkannya ke ruang tamu tempat ia duduk di sana.

      “Loe dari sekolah jalan kaki?” tanyaku sangat heran sambil kupandangi seksama wajah gadis itu.

      “Iya, aku jalan kak,” ujarnya.

      “Kak?” tanyaku heran.

      “Kamu kak Tama kan?” ujarnya lagi, aku hanya mengangguk dengan penuh keheranan, “aku Cauthelia Nandya, X-1, salam kenal ya kak,” ujarnya lalu menjabat tangaku.

      “Oke, salam kenal ya, gue Tama,” ujarku dan tersenyum kepadanya, “tapi satu hal, gue heran kenapa loe pulang jalan kaki dari sekolah?” tanyaku dengan heran sambil menunjuk ke arah sekolah.

      “Aku bingung kak, kalo mau cerita dimulai darimana,” ujarnya lalu tertunduk.

      “Oke anggap gue gak tahu dan gue gak mau tahu,” melihat perubahan sikapnya aku tidak melanjutkan pertanyaanku lagi.

      “Rumah loe dimana emang?” tanyaku lagi.

      “Aku gak jauh kok dari sini, cuma ya aku emang sedikit kedinginan,” ujarnya dan berusaha tersenyum kepadaku.

      “Gue anter loe pulang, sekarang loe abisin cokelatnya, keringin baju loe, terus gue anterin loe pulang,” ujarku ringan.

      “Emangnya kenapa Kak?” tanya dia dengan wajah yang heran.

      “Bisa berabe gue kalo orang tua gue pulang terus loe masih di sini,” ujarku, lalu mencari kunci mobil yang biasanya tergeletak di meja.

      “Makasih yah kak, kamu mau repot-repot buat aku,” ujarnya dengan lembut.

      “Santai aja, pas banget gue liat ke luar pas loe lewat, anggap aja ini kebetulan,” ujarku dan aku sudah siap dengan kunci mobilku.

      “Kak, aku boleh bawa sweaternya gak?” tanya dia dan memandangku dengan tersenyum.

      Aku mengangguk setuju, “boleh emangnya kenapa?” tanyaku heran.

      “Gak apa-apa sih, cuma pengen aja,” ujarnya lalu ia tertunduk, aku hanya memandangnya dengan heran saat itu.

      Aku lalu menuju garasi dan memanaskan BMW E38 milik orang tuaku, gadis itu mengikutiku hingga kesana. Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum yang sedikit kupaksakan, ia lalu menghampiriku dan berdiri tepat di sampingku. Apa-apaan dia, gumamku dalam hati, karena baru kali ini ada gadis yang dekat denganku lagi semenjak aku berpisah dengan Aerish, aku tidak pernah mendekatkan diriku kepada gadis lainnya.

      Tentang Aerish, satu hal yang selalu aku ingat dari dia adalah segalanya tentang dia. Aku juga bingung, entah bagaimana aku tidak dapat melupakan apa yang telah kami lakukan bersama. Saat sejak kelas X, aku memang sudah dekat dengannya, bermula dari pertama kali aku bertemu dengannya pada saat masa orientasi. Sebenarnya saat itu aku belum benar-benar tertarik dengan gadis itu, hanya saja kebersamaanku sejak hari pertama orientasi membawaku lebih dekat dengannya.

      “Kak?” panggil gadis itu.

      “Eh iya, sorry gue ngelamun,” ujarku sekenanya.

      “Aku pikir kamu kenapa ka,” ujarnya dan tertawa kecil

      “Okay gue anter loe sampe rumah ya,” ujarku lalu masuk ke kursi pengemudi, ia lalu berputar melewati bagian depan mobil dan masuk di kursi penumpang depan.

      “Makasih ya kak udah mau anterin aku,” ujarnya dan tersenyum.

      “Sama-sama, eh loe tadi siapa namanya?” ujarku tiba-tiba aku lupa siapa nama gadis ini.

      “Cauthelia, kakak bisa panggil aku Elya,” ujarnya dan tersenyum.

      “Sebentar, gue inget-inget nama loe Cauthelia, biasanya loe dipanggil Lia kan?” tanyaku mulai penasaran dengan gadis ini, dia mengangguk dan tersenyum kepadaku.

      “Loh itu kakak tahu,” ia lalu tertawa kecil.

      “Iya gue pernah denger nama loe dari temen-temen sekelas gue,” ujarku lalu mulai menjalankan 2000 E38 750iL milik orang tuaku itu.

      “Kalo kakak tahu nama aku, kenapa kakak gak pernah tahu aku?” tanyanya dengan pelan, aku lalu memandangnya sembari berkonsentrasi saat keluar dari pintu gerbang.

      “Karena gue gak mau tahu,” ujarku sambil melajukan mobil bertransmisi otomatis ini, “oh iya ke arah mana rumah loe Elya?” tanyaku, ia lalu memandang ke arah jalanan.

      “Nanti pas keluar perumahan ini, kakak belok ke kiri,” ujarnya singkat.

      “Hah, jalan raya?” tanyaku heran, ia hanya mengangguk.

      “Loe bilang rumah loe deket?” tanyaku semakin tidak percaya.

      “Iya kak deket,” ujarnya sambil menjulurkan lidahnya.

      “Lah loe ngapain sekarang pulang jalan kaki sejauh itu?” tanyaku semakin merasa ini ada yang tidak beres, ia terdiam dan menunduk perlahan, aku sedikit keheranan melihat itu, ia lalu memandangku dan berusaha tersenyum.

      “Biasa kak, masalah cinta,” ujarnya dan tampak sedih.

      “Cowok ya,” ujarku ternyata lama-lama ingin tahu juga masalahnya.

      “Iya kak, nanti deh aku email ke kakak, punya email kan?” tanyanya pelan, aku mengangguk pasti.

      “Loe catet aja nomor handphone gue, nanti malem gue SMS loe alamat email gue,” setelah itu aku menyebutkan sendiri nomor teleponku.

      “Bentar ka, aku ambil hape dulu,” ujarnya lalu aku melihat ia mengeluarkan ponsel, lalu aku menyebutkan kembali nomor teleponku.

      “Makasih ya kak Tama,” ujarnya dan tersenyum.

      “Sama-sama,” lalu tidak terasa aku sudah tiba di jalan raya dan berbelok ke kiri.

      Setelah itu aku mengikuti instruksi dia, dan sampailah kami di sebuah perumahan yang terletak cukup jauh dari rumahku. Yang benar saja, mau tiba jam berapa dia di rumah apabila ia masih berjalan kaki? Masalah apa sebenarnya yang dia hadapi, mengapa sampai begitu beratnya sampai dia harus jalan kaki? Ah, mengapa aku jadi kepo begini ya, sudahlah tidak perlu dipikirkan lagi, yang pasti saat ini aku sudah tiba di depan rumahnya.

      Ia turun dari pintu kiri dan tidak lupa ia mengucapkan terima kasih, ia lalu tersenyum kepadaku dan menutup pintu mobil ini. Dan selesai, saat ia masuk ke dalam rumahnya, aku benar-benar menunggu sampai ia masuk baru aku memutar mobilku dan melaju pulang. Entah mengapa aku berusaha mengingat nama gadis itu, karena aku sedikit familiar dengan nama Cauthelia, karena sering disebut-sebut di sekolah, tapi ya sudahlah, aku melajukan mobil itu lebih cepat.



Quote:


Ini kan karya sastra sis, jadinya bagaimanapun harus dibuat sebaik mungkin menurut EYD, IMHO sih.

Tentang Rasa Itu | Bagian 2`

TENTANG RASA ITU (BAGIAN 2)


     Tidak butuh waktu lama, aku pun tiba di rumah dan kuparkirkan mobil itu di dalam garasi. Dan saat aku melihat Instrument Cluster di mobil tersebut, betapa terkejutnya aku dengan tampilan odometer trip hingga 8.4 Km, berarti jarak tempuh ke rumah gadis itu adalah 4.2 Km, kalau berjalan kaki mana mungkin ia tiba dalam kondisi sehat. Sudahlah, aku tidak mau mengingat itu lagi, kuambil plast chamois dari bagasi mobil dan mulai mengeringkan mobil tersebut.

      Sepuluh menit berlalu, aku naik ke kamarku di lantai dua, kulihat ponselku sebenarnya tidak ada yang kuharapkan dari sana, hanya saja ada satu pesan masuk, dan itu sepertinya dari Cauthelia. Perkenalan yang cukup aneh menurutku, karena aku tidak biasa berkenalan dengan seorang gadis.

Quote:


      Kubaca pesan itu dengan tidak percaya, sejak kapan ada gadis yang mau berkenalan dengan cowok cuek seperti aku ini. Kuletakkan ponsel itu terlebih dahulu, kupikir nanti saja aku baru balas, tetapi rasa ingin tahu aku membuatku mengambil ponselku dan mencoba membalas pesannya.

Quote:


      Setelah kukirim pesan itu, aku langsung menuju notebook-ku, bukan email darinya yang aku tunggu, tetapi aku sedang melanjutkan permainan yang tadi sempat terhenti. Hujan masih saja turun, aku pun tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan, seperti mimpi. Aku ingat gadis ini, ya aku pernah bertemu dengannya dulu saat orientasi, tetapi aku acuh dengan kondisi itu. Tidak lama kemudian ada email masuk darinya.

Quote:


      Reaksiku sungguh aneh, entah aku ingin tertawa, atau aku merasa kasihan kepadanya, tapi rasa ingin tahu aku yang begitu besar membuatku menekan tombol reply yang ada di GUI Website Google Mail tersebut. Jujur saja, setelah Aerish, ini adalah kali pertama aku berkomunikasi dengan gadis, terlebih aku baru mengenalnya beberapa saat yang lalu.

Quote:


      Kutekan tombol send dan tersenyum, entah mengapa aku sangat penasaran dengan email balasan darinya. Elya, mengapa harus Elya, itu yang kupertanyakan hingga saat ini. Padahal di sekolah ia tidak mau dipanggil selain Lia, hingga saat ini aku pun tidak mengerti. Dan aku sangat tertarik kepada pernyataannya tentang Dino, dia adalah temanku sejak di SMP dahulu, sangat akrab, tetapi permasalahanku dengannya bermula karena Aerish.

      Saat itu masih kelas XI, saat Aerish tiba-tiba pergi dari sekolah dan pindah ke kota lain. Bodohnya aku, sebelum ia pergi dahulu, aku tidak sempat bertanya nomor ponselnya, dan kemana dia akan pindah. Dino yang tahu semuanya, dan ia mencoba menyembunyikan semuanya dariku, karena ternyata saat aku tahu dari temanku yang lain, ia juga menyimpan rasa kepada Aerish.

      Aku menghela napas panjang saat aku berusaha mengingat apa yang telah terjadi kepadaku saat itu. Entah siapa yang bisa kupercaya saat itu, hingga aku berusaha untuk melupakan Aerish karena aku yakin ia bukanlah gadis yang aku cari. Dalam kegundahan hatiku saat itu, aku sempat menulis lagu untuknya.

Quote:


      Kutinggalkan kertas yang berisikan lirik lagu tersebut, dan aku mulai berusaha melupakan bayangan gadis itu yang akhir-akhir ini selalu ada di dalam pikiranku. Entahlah, meskipun kuakui Cauthelia lebih manis dari Aerish, aku tidak dapat melupakan gadis itu begitu saja. Kata orang-orang, cinta pertama tidak akan pernah bisa dilupakan, dan sepertinya itu yang sedang kualami sekarang, berbagai jenis cara kucoba untuk sekedar membuatku tidak memikirkannya, tetapi tidak pernah berhasil.

      Bahkan, setelah Cauthelia datang, menurutku apapun yang terjadi tidak akan pernah mengubah perasaanku kepada gadis itu, aku tetap menunggu kabar darinya hingga saat ini. Bagaimana aku menjelaskan Aerish, aku pun bingung bagaimana aku mendeskripsikan gadis ini. Sudahlah, tidak ada waktu membahas hal itu, mataku kembali tertuju ke lid notebook, dan email balasan dari Cauthelia sudah kudapatkan.

Quote:


<<<PREV 1.1 (EP1)

udah update ya ka??
Jdi sbenernya Tama itu sukanya sma Cauthelia ato Aerish??
Quote:


Saat ini masih sama Aerish sis, malam ini saya Update, masih di bagian Tentang Rasa Ini pastinya.
Quote:


Udeh ade lajutane bang?
Keep on your style bro.. nulis pake EYD enak juga kok dibacanya, kyk novel pro lah..

I'm envy on you bro... smp udah naik e60.. emoticon-Belo
Jaman gw smp ajah mash maenan sepeda BMX.. emoticon-Malu (S)
ditunggu kisah lanjutannya emoticon-Matabelo
cerita baru emoticon-Smilie salken gan hehe terus di laniut yoo emoticon-Big Grin
ijin gelar tiker gan, mumpun masi lapang.
namanya cakep amat yak cauthelia emoticon-Belo
ijin nimbrung gan
salam kenal yak emoticon-Smilie

Tentang Rasa Itu | Bagian 3

TENTANG RASA ITU (BAGIAN 3)


     Aku tidak percaya dengan apa yang ditulis gadis itu, sebegitukah Dino? Apa yang sebenarnya ada di pikirannya sampai sebegitunya ia kepada Cauthelia. Sebenarnya aku sempat sedih saat membacanya, aku terdiam sejenak sambil menatap lid notebook-ku, entah pikiranku kosong saat ini. Ada perasaan empati kepada gadis ini, ya gadis yang baru kutemui beberapa jam yang lalu tersebut. Kuraih ponselku dan aku pun menghubunginya, setelah dial tone berbunyi beberapa kali, terdengarlah suara gadis itu dari seberang sana.

      “Kak Tama, kok telepon aku?” tanyanya dengan nada yang bersemangat.

      “Gak apa,” ujarku singkat, “gue cuma merasa gimana gitu baca email loe,” ujarku lalu sedikit menghela nafas.

      “Ada yang salah ya dari email aku, haduh, maafin aku ya ka,” ujarnya seakan ia yang bersalah saat itu.

      “Loh, kenapa juga loe yang minta maaf?” tanyaku heran, “loe gak salah, Dino yang salah,” ujarku menenangkan, ia terdiam cukup lama di seberang sana, “Elya? Loe masih disana kan?” aku memanggilnya karena tidak ada suara darinya.

      “Aku pikir email aku ada yang salah kak,” ujarnya, “kak, boleh tanya sesuatu gak?” tanyanya dari seberang sana.

      “Yoi, mau tanya apaan?” tanyaku balik.

      “Bener gak kalo dulu kakak pernah jadiin aku cewek taruhan sama Dino?” ujarnya setelah ia menghela nafas.

      “Siapa yang bilang begitu?” tanyaku tetap tenang.

      “Dino kak,” ujarnya pelan.

      “Satu hal yang loe harus tahu, gue ga pernah jadiin cewek bahan taruhan,” ujarku.

      “Berarti Dino bohong yah, katanya kakak itu suka jadiin cewek bahan taruhan terus ditinggal,” ujarnya penasaran.

      “Gue bukan orang kayak begitu, wanita adalah ciptaan Tuhan yang harus dilindungi, bukan untuk dimanfaatkan,” ujarku dengan segala filosofi yang kumiliki.

      “Eh, kok beda ya?” tanya dia keheranan.

      “Beda apanya?” tanyaku balik.

      “Gak seperti yang Dino selalu ceritain.

      “Gue tahu pasti dia bilang macem-macem tentang gue?” tanyaku lagi, aku berusaha mengingat beberapa peristiwa yang terjadi karena fitnah Dino kepadaku.

      “Banyak kak, katanya kamu pernah hamilin cewek lah sampe keluar dari sekolah,” ujarnya di seberang sana sementara aku terdiam, ya itu adalah fitnah yang dibuat oleh Dino untuk membuatku malu atas kepindahan Aerish.

      “Kak?” ujarnya singkat, aku sedikit terkejut

      “Eh maaf, gue malah ngelamun,” setelah itu aku tertawa kecil.

      Kami berbicara banyak hal, ya banyak hal, dan sejak saat itu pun aku mengetahui bahwa Elya bukanlah milik Dino lagi. Tunggu, biarpun mereka saling mencintaipun, tanpa pernikahan Dino dan Cauthelia tidaklah saling memiliki. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi, lebih baik aku fokus kepada pelajaran untuk menghadapi Ujian Nasional nanti.

      Kuletakkan ponselku di meja yang terletak di meja sebelah ranjangku. Aku mulai membuka notebook lagi dan melihat-lihat beberapa dokumen pelajaran yang kurangkum dalam beberapa folder. Sejenak aku melihat beberapa kenanganku bersama Aerish, ada beberapa fotonya di notebook ini. Aku seringkali mengingat senyumannya dan juga semua tingkah lakunya bersamaku dahulu saat aku masih kelas X.

      Sudahlah, aku tidak ingin mengingatnya lagi, kualihkan tab ke jendela dokumen yang sudah kubuka sejak tadi. Kucoba untuk mempelajari beberapa hal yang mungkin berguna untuk Ujian Akhir nanti. Sudah sekian lama aku belajar, aku pun memutuskan untuk tidur, dan harapanku semoga hari esok tidak hujan lagi.

Quote:


      Ini masih jam 0445, tetapi sudah ada SMS dari gadis itu, hebat sampai seniat itu dia mengirimkanku pesan sebegini pagi. Aku sedikit tersenyum dan jantungku sedikit berdetak lebih cepat mengetahui ada SMS dari gadis itu. Sembari menggenggam ponselku, aku duduk di pinggiran ranjang lalu sedikit mendengar suara hujan sudah turun pagi ini. Sedikit ragu aku membalas pesan tersebut, karena tidak mungkin aku membawa E38 ke sekolah.

Quote:


      Tidak butuh waktu lama, aku menuju kamar mandi dan bersiap-siap menuju sekolah. Sekedar informasi, aku termasuk murid yang paling rajin tiba di sekolah, dan hanya satu temanku yang biasanya menungguku di sekolah, Nadine Helvelina, ketua OSIS yang sangat populer di sekolah, sangat cuek kepadaku dan aku juga acuh kepadanya. Sudahlah, fokus dengan hari ini, ada seorang gadis yang memintaku untuk berangkat bersama, dan itu sangat jarang.

      Jam 0550 aku bertolak dari rumah dengan sepeda motor pinjaman dari Ayahku, aku menjemput gadis itu terlebih dahulu. Tidak selama kemarin, hanya butuh waktu 10 menit aku tiba di depan rumahnya, ya ini sudah jam 0600 tepat. Sesuai dengan ajaran orang tuaku, aku turun dari motor dan dengan sopan aku mengetuk pintu rumahnya yang cukup besar.

      “Selamat pagi,” ujarku sopan saat seseorang datang dari balik pintu rumah tersebut.

      “Pagi, ayo masuk,” ujar gadis dengan seragam SMP tersebut, mungkin ini adalah adiknya Elya.

      “Pasti nyariin ka Elya ya?” tanyanya lagi, ia sambil tertawa kecil, dengan senyum ringan aku menggangguk, “oh iya, aku Mikayla Ariesta, adiknya ka Elya,” ujarnya dan menjulurkan tangannya.

      “Faristama,” ujarku dan menjabat tangannya.

      “Tungguin ka Elya ya,” ujarnya lalu pergi jauh ke bagian dalam rumahnya.

      Aku duduk di kursi di ruang tamunya, dan aku menunggu gadis itu untuk keluar dari kamarnya. Sekilas terdengar suara dari bagian dalam rumahnya, sepertinya orang tuanya cukup sibuk karena sudah tidak ada di rumah pada waktu yang sepagi itu. Dan tidak lama kemudian aku mencium wangi perfume yang cukup otentik dari gadis itu, sama seperti yang kucium kemarin. Ia muncul dengan rambut bergelombangnya yang digerai indah dan tersenyum kepadaku.

      “Udah lama Kak?” tanyanya ringan.

      Aku menggeleng pelan, “belom sih, cuma mendingan buruan berangkat deh keburu ujan,” ujarku lalu berdiri dari kursi.

      Ia menghampiriku, “Adek, kakak pergi dulu ya,” ujarnya agak keras tetapi suaranya tetap lembut.

      “Iya kak, nanti aku minta Pak Tamin aja ya buat anterin aku,” ujar adiknya dari kejauhan.

      Ia pun keluar dari pintu rumahnya terlebih dahulu, dan aku melihat ada seorang pria paruh baya, mungkin itu yang namanya Pak Tamin. Beliau sedang membersihkan mobil Mercedes W211 berwarna perak tersebut. Terlihat jelas badge E280 dengan 7G-TRONIC di sebelahnya. Aku melambaikan tangan kepada Pak Tamin dan tersenyum, ia hanya mengangguk dengan sopan. Baru sehari aku di sini, tetapi rasanya sudah seperti lama tinggal di sini.

      Mega tampak sangat berat pada pagi itu, saat aku sudah duduk di atas jok sepeda motorku gerimis ringan mulai turun. Aku memandang gadis itu, ia hanya tersenyum seakan mengatakan tidak masalah. Aku mulai melaju dengan kecepatan normal, tidak aku percepat apalagi kuperlambat.

      “Kak, makasih yah buat sweaternya,” ujarnya memulai pembicaraan.

      “Okay sama-sama,” ujarku ringan, dan aku baru menyadari bahwa ia menggunakan sweater yang aku pinjamkan kemarin.

      “Boleh ya aku pinjem dulu?” tanyanya dan itu membuatku sedikit berpikir. Sweater itu adalah sweater khas milikku, karena dengan adanya sweater itu orang menyadari presensi aku di sekitar mereka. Aku sudah memilikinya sejak kelas X, bahkan seluruh kabid di OSIS mengetahui bahwa itu adalah keotentikan milikku. Apabila jatuh ketangan gadis ini, apa pikiran mereka, tetapi sudahlah aku tidak peduli.

      “Loe pake aja, ga masalah kok, gue masih ada banyak,” ujarku santai.

      “Makasih ya kak,” ujarnya, “tapi ini kan penanda khas kak Tama di sekolah?”

      “Loe tahu juga ya?” tanyaku dengan tetap berkonsentrasi dengan jalanan.

      “Siapa gak kenal pemilik sweater cokelat ini,” ujarnya tertawa kecil.

      “Ternyata, gue cukup terkenal juga ya,” ujarku setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari gadis itu.

      “Kak Tama dulu cukup populer gara-gara suatu peristiwa, mungkin kakak inget?” tanyanya ringan.

      Sudahlah, ujarku dalam hati, aku tetap berkonsentrasi untuk tiba secepat mungkin di sekolah sebelum hujan turun. Tidak lama berselang, aku tiba di sekolah, dan gerimis masih turun dengan intensitas yang cukup ringan. Sekolah sangat sepi pagi ini, terlebih karena hujan lebat kemarin banyak daerah tergenang banjir, sehingga mungkin sedikit mengganggu aktivitas sekolah hari ini, tetapi sekali lagi, sudahlah.

      Kami berpisah di persimpangan jalan ke kelasnya, gadis itu banyak sekali bercerita tentang dirinya sepanjang perjalanan. Cauthelia, gadis idaman laki-laki satu sekolahku, wajahnya cantik dengan rambutnya yang panjang bergelombang. Terlihat kesempurnaan gadis tersebut dari belakang dengan tubuh sintalnya, bahkan dia punya julukan Lia Chubby karena memang memiliki pipi yang sedikit tembem tetapi menurutku justru itulah yang membuatnya semakin cantik. Dia pintar dan juga sangat ramah kepada semua orang, hanya saja, dia sudah bersama Dino, tetapi lagi-lagi, sudahlah.

      “Gimana bisa loe deket sama Lia?” suara itu datang mengagetkan aku.

      “Loe kebiasaan sih Nad suka ngagetin?” ujarku ketus.

      “Cuma heran aja, seorang Faristama Aldrich bisa deket sama adek kelas yang katanya kayak hama padi,” ujarnya dengan nada sangat mengejek.

      “Mungkin itu dulu,” ujarku lalu berjalan menuju kelas.

      “Eh maksud loe?” tanyanya tidak percaya.

      “Ya bisa aja Elya bikin keyakinan gue berubah mengenai Aerish,” ujarku dan aku tiba di depan pintu kelas.

      “Loe itu aneh ya Tam,” ujarnya sedikit kesal.

      “Loh kenape loe yang sewot sih, woles aja Nad,” ujarku tidak kalah mengejek, lalu aku duduk di kursiku, dan ia pun duduk di sebelahku.

      “Heran gue perasaan kalo ada loe bawaan gue emosi mulu deh,” ujarnya lalu memandangku dengan tatapan tajam.

      “Hellow ketua OSIS yang populer,” ujarku mengejeknya, “kenapa tiba-tiba loe care hubungan gue sama Elya?” tanyaku tajam, “loe sakit Nad?” tanyaku dan memegang keningnya.

      “Apaan sih!” ujarnya ketus, ia menyingkirkan tanganku dari keningnya, “sekali lagi loe pegang gue, gue tampar loe!” bentaknya, dan aku tidak heran dengan sikapnya yang seperti itu.

      “Okay, hands up, fine,” ujarku lalu mengangkat kedua tanganku.

Quote:


      Ada SMS masuk dari Cauthelia dan langsung terbaca begitu saja di layar ponselku. Tanpa banyak kata, aku tinggalkan gadis itu sendiri di dalam kelas dan aku keluar menuju kelas Cauthelia. Aku sekilas memandang Nadine, ia tampak sedikit kesal memandangku entah dengan alasan apa, dan lagi-lagi hatiku mengatakan, sudahlah.

<<<PREV 1.2 (EP2)

Tentang Rasa Itu | Bagian 4 | Selesai

TENTANG RASA ITU (BAGIAN 4)


     Gadis itu duduk di kursi depan, wajahnya tampak sedikit ketakutan, tanpa banyak berpikir aku menghampirinya. Ia melihatku, sedikit berusaha tersenyum, lalu ia menghela nafas, nampak sesuatu yang tidak beres terjadi kepadanya. Aku pun duduk di sebelahnya dan mencoba menyapanya.

      “Kenape loe?” tanyaku seakan tahu ada yang tidak beres.

      “Itu ka, tadi ada Dino kesini,” ujarnya lesu.

      “Lah terus kenape?” tanyaku keheranan.

      “Dia cuma bilang jangan ganjen sama Kak Tama,” ujarnya, dan aku pun menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal karena bingung dengan pernyataan gadis ini.

      “Lah loh, kok bisa gue?” tanyaku sambil melongok ke wajahnya yang tertutupi poni panjang tersebut.

      “Katanya aku bisa kena masalah kalo deket sama Kak Tama,” ujarnya sambil menunduk.

      “Siapa dia emangnya?” tanyaku sedikit kesal, mengapa jadi rumit begini masalahnya, padahal sebenarnya aku tidak ada hubungannya.

      “Dia tadinya mau jemput aku, cuma Kak Tama udah jemput aku duluan,” ujar gadis itu lalu mencoba tersenyum kepadaku, “dia juga ga suka aku pake sweater punya kakak,” ujarnya lagi.

      “Emangnya udah berapa lama sih loe jadian sama dia?” tanyaku keheranan.

      Gadis itu mengisyaratkan 3 jari, “3 bulan ka,” ujarnya dengan senyum agak terpaksa.

      “What the?” ujarku terbelalak, “baru jadian 3 bulan aja udah macem apaan tahu, jadi suami juga kagak gitu-gitu aman kali,” ujarku sedikit kesal.

      “Menurut dia begitu ka, dia selalu bilang, gimana aku mau jadi istri yang baik buat dia, pas pacaran aja engga mau nurut, apalagi jadi istri,” ujarnya tertunduk.

      “Loe salah,” ujarku lalu menepuk pelan pundaknya, “seorang suami yang baik sebelum menuntut apapun dari istrinya, dia harus mencintai dan menyayangi istrinya dan memenuhi kebahagiaan istrinya,” ujarku dan tersenyum.

      “Naru boleh menuntut, itu pun gak boleh berlebihan,” ujarku dengan sedikit mengusap pundak gadis itu.

      “Kak Tama,” ujarnya dengan memandangku, wajahnya sangat merah saat itu.

      “Kenapa, loe sakit?” tanyaku lalu mengalihkan tanganku yang tadi ada di pundaknya ke keningnya.

      “Berarti selama ini Dino bohong soal kakak,” ujarnya dan memandangku lebih dalam.

      “Maksudnya?”

      “Ternyata ka Tama jauh lebih baik,” ujarnya dengan senyuman yang tidak dipaksakan.

      Aku tersenyum baik, “berbuat baik kepada semua orang, sehingga loe bisa dapet kebaikan,” ujarku dan mengalihkan tanganku, “well gue balik kelas dulu ya,” ujarku lalu beranjak dari kursi.

      “Kak, boleh minta sesuatu gak?” tanya gadis itu

      “Apaan tuh?” sahutku yang sudah berdiri di samping mejanya.

      “Boleh enggak aku dipanggil Adek ato Dede sama Kakak?” tanyanya dengan wajah yang merah.

      Aku terdiam sejenak mendengar kata-kata gadis itu, seakan aku lupa bahwa aku mencintai Aerish saat ini. Idealismeku langsung hilang ketika gadis itu memintaku memanggil panggilan yang terkesan spesial. Aku menatapnya cukup lama pipiku terasa panas, mungkin saja pipiku memerah, untunglah kulitku sedikit gelap jadi mungkin Elya tidak menyadarinya. Belum genap sehari aku mengenal gadis ini, tetapi progress-nya sudah sejauh ini.

      “Mana yang paling enak menurut loe,” ujarku lalu sedikit terhentak, “maksud aku mana yang paling nyaman aja buat kamu,” ujarku.

      “Kakak Dede?” tanyanya dengan wajah yang sangat merah.

      “Sama kayak panggilan kamu ke Dino?” tanyaku balik.

      Ia menggeleng pasti, “aku cuma panggil dia kamu, dan kadang kalo lagi marah dia panggil aku pake loe,” ujarnya.

      “Iya Dek,” ujarku dan tersenyum, “kakak mau balik kelas dulu ya,” ujarku dan tersenyum.

      Aku beranjak dari kelasnya perlahan, ia melambaikan tangannya kepadaku dengan senyuman pula. Agak canggung menggunakan panggilan seperti itu, karena ini adalah kali pertama aku dekat dengan perempuan setelah Aerish. Dan seketika pula bayangan aku tentang Aerish hilang, ya seakan diisi oleh hadirnya gadis bernama Cauthelia Nandya.

      Di kelasku rupanya sudah banyak siswa berdatangan, dan ya, gosip tentang sweater yang digunakan Elya sudah menyebar luas di sekolahan. Entah siapa yang mulai dan yang mereka tahu, Elya adalah kekasih Dino, lelaki yang terkenal sejak kelas XI suka berganti-ganti pasangan. Aku duduk di sebelah Nadine, tempatku duduk seperti biasa sejak kelas X, dia adalah temanku atau sahabatku atau apalah aku pun kurang mengerti dengan hubunganku dengan gadis ini.

      Nadine Helvelina adalah temanku sejak SMP, meskipun aku baru mengenalnya saat kelas X dulu. Tentang perasaanku kepada gadis ini, jawabannya membingungkan. Awalnya aku sangat dekat dengan gadis ini, kemana-mana selalu bersama hingga pada suatu saat aku menyatakan bahwa aku sangat nyaman bersamanya, dan saat itu aku semakin dekat dengannya.

      Sedikit pertikaian terjadi pada saat itu aku bercerita tentang gadis yang aku suka, yaitu Aerish. Semenjak saat ini Nadine pun berubah dari gadis yang menyenangkan menjadi gadis yang sangat antipati terhadapku dengan alasan yang tidak pernah kuketahui hingga saat ini. Banyak yang mengatakan sebenarnya sejak awal Nadine menyukaiku, tetapi menurutku itu hanya perkataan dari teman-teman terdekatnya agar aku berdamai dengan Nadine.

      Pelajaran dimulai, gadis itu hanya terdiam saja di sebelah kiriku, biasanya dalam jam pelajaran dia selalu menuliskan sesuatu dalam bentuk kertas untuk memulai obrolan denganku. Ya itulah kami, terkadang akur, terkadang berselisih, tapi yang jelas hari ini aku tidak mengerti mengapa ia begitu aneh saat mengetahui aku mendekati Elya.

      Jam pelajaran selesai, dan masuk ke jam istirahat, aku masih terdiam di kursiku, begitu juga dengan Nadine. Kukeluarkan ponsel dari sakuku, dan tidak ada SMS ataupun email yang masuk di sana. Saat kuletakkan lagi ponsel tersebut di saku, seseorang dengan sweater cokelat melambaikan tangan kearahku dari bibir pintu kelas, dia Elya.

      Aku memandang Nadine yang tampak sangat jutek hari ini, entah apa yang ada dalam pikirannya. Aku dengan ringan berkata bahwa aku ingin keluar sejenak, ia tidak menunjukkan ekspresi apapun, hanya memandangku dengan agak sinis, dan sudahlah aku tidak ingin memikirkan hal ini lagi.

      “Itu tadi Kak Nadine ketua OSIS ya?” tanya Cauthelia agak bersemangat, aku mengangguk pasti.

      “Iya dia temen sekelas Kakak dari kelas X,” ujarku lalu memimpin jalan menuju kantin.

      “Huuuum, Dede pernah sih ngobrol sama ka Nadine, tapi kok barusan beda yah ka?” tanyanya dengan nada yang sangat lembut, dan saat itu jantungku makin berdetak kencang.

      “Kakak gak tahu Dek, mungkin lagi gak enak hati,” ujarku ringan.

      “Oh iya Dede biasa makan apa nih?” tanyaku ringan.

      “Dede ikut kakak ajah,” ujarnya dengan intonasi yang sedikit mengganggu telinga.

      Dan ini adalah makan siang pertamaku dengan Cauthelia, gadis yang sangat diidolakan di sekolah. Banyak mata memandang ke arahku, tidak sedikit yang memandang sinis pula ke arahku, tetapi seperti kataku sebelumnya, sudahlah. Kami makan di tempat biasa gadis itu makan siang, dan kali ini aku yang traktir tentu saja.

      Tentang perasaanku hari ini, sangat variatif, Aerish dengan segala idealismeku mengenai gadis itu yang sudah mulai memudar, lalu Nadine dengan sikap ketus dan jutek-nya hari ini, serta Cauthelia, adik kelas idola sekolah yang tiba-tiba datang dalam hidupku dengan membawa secercah harapan yang semoga saja bukan harapan semu.

<<<PREV 1.3 (EP3)

Quote:


Affirmative, sudah saya lanjutkan bagian 3 dan 4.

Quote:


E38 gan, bukan E90, waktu itu masih sangat baru mobil E90 sih.
emoticon-Ngakak

Quote:


Affirmative gan, sudah saya lanjutkan, mohon diperiksa.

Quote:


Salam kenal juga gan, semoga menjadi teman yang saling menguntungkan.
emoticon-Shakehand2

Quote:


Namanya memang cantik gan, secantik orangnya, hanya saja itu hanya nama samaran.
emoticon-Shakehand2

Quote:


Salam kenal juga gan, semoga menjadi teman yang saling menguntungkan.
emoticon-Shakehand2

Disaat Dia Sudah Hilang Mengapa Dia Ada Lagi? | Bagian 1

DISAAT DIA SUDAH HILANG MENGAPA DIA ADA LAGI? (BAGIAN 1)


     Hari ini selesai dengan sangat cepat, entah karena adanya Cauthelia dalam hidupku atau memang aku menikmati hari ini, dan yang pasti hari ini aku selalu menghindari tempat-tempat dimana Dino biasanya berada. Berbicara tentang Dino, gadis mana yang tidak tertarik dengan laki-laki rupawan tersebut, ke sekolah datang dengan mobil Honda Civic full modifikasi dengan knalpot berisiknya.

      Aku menunggu Cauthelia di lahan parkir, disana aku berdiri cukup lama sambil memandang ke arah langit. Mega mulai berat lagi, dan sepertinya sore ini akan diguyur hujan, apabila sampai hujan lagi, kemungkinan besar separuh bahkan lebih warga sekolah pasti tidak masuk besok, dan pastinya sekolah akan sepi.

      “Tam, loe belom pulang,” suara itu sedikit mengagetkanku

      “Eh Nadine, kirain masih ngambek sama gue,” ujarku lalu tertawa kecil.

      “Mau pulang anterin gue gak?” tanya dia singkat, dan wajahnya seketika berubah,.

      “Gue udah janji sama,” ujarku belum menyelesaikan pembicaraanku.

      “Lia Chubby yah?” tanyanya, wajahnya menampakkan senyum yang agak dipaksakan, aku mengangguk pasti.

      “Kakak,” sapa suara itu dari kejauhan, gadis itu sudah tiba, dan berdiri di samping Nadine, “hei ka Nadine,” sapa gadis itu dengan ramah, dan dibalas dengan tatapan dan senyum hangat dari Nadine.

      “Mau pulang sama Tama?” tanya Nadine sambil menepuk pundak gadis itu, Cauthelia hanya mengangguk pelan dengan wajah yang agak memerah.

      “Berarti kamu hebat bisa bikin Tama move on,” ujar Nadine ia lalu sedikit mengusap pundak gadis itu.

      “Maksud Kak Nadine?” tanya gadis itu heran.

      “Ehm, jadi begini,” ujar Nadine yang sepertinya ingin menceritakan tentang Aerish, “Tama itu suka sama cewek yang namanya Aerish, tapi gak kesampean,” ujar Nadine lalu tertawa lepas, dan diikuti pecah tawa oleh Cauthelia saat itu.

      Ternyata hanya candaan, aku pun tertawa, saat itu Nadine akhirnya meninggalkan kami dengan senyuman yang agak sedih. Entah apa yang terjadi dengannya, tetapi aku memilih untuk acuh. Kupanaskan mesin motor pinjaman dari Ayahku ini lalu saat Cauthelia duduk di belakang, terdengar suara knalpot mobil milik Dino. Kusegerakan untuk bertolak dari sekolah sebelum aku berurusan dengan Dino.

      Suasana cukup mendung, baik aku dan Cauthelia tidak banyak berbicara, dan perjalanan aku percepat setidaknya sampai di dekat rumahku terlebih dahulu. Sesekali gadis itu memegang erat pundakku karena memang aku sedikit lebay mengendarai sepeda motor ini, tidak ingin aku kehujanan di jalan.

      “Kakak, pernah ada hubungan kah sama ka Nadine?” tanya Cauthelia tiba-tiba.

      “Dulu sih sempet deket, cuma sebatas sahabat,” ujarku ringan.

      “Terus Aerish yang pindah sekolah itu kan yah?” tanya Cauthelia lagi.

      “Iya, yang katanya dibilang kakak hamilin dia,” ujarku lalu tertawa kecil, dan Cauthelia pun tertawa juga.

      Hujan deras tiba-tiba turun, untunglah hanya beberapa ratus meter lagi tiba di rumahku. Dengan segera kuparkirkan motorku dan Cauthelia sudah berada di depan pintu rumahku. Ini masih jam 1523, belum ada siapapun di rumahku, sehingga aku mengeluarkan kunci cadangan dan membuka kunci rumahku.

      Cauthelia langsung masuk ke dalam rumahku seakan ia sudah sering berada di rumahku, dengan cepat ia membuka sweaterku dan menggantungnya, seakan ia tidak ingin sweaterku sampai basah. Ia duduk di kursi depan, menghempaskan tubuhnya dan menghela nafas cukup panjang.

      “Cape Dek?” tanyaku ringan.

      Ia menggeleng, “seru aja ujan-ujanan sama kakak,” ia lalu tertawa kecil.

      “Kakak bikinin minum yah,” ujarku lalu meletakkan ponselku di meja tamu di depan.

      “Udah Kak, gak usah Dede aja yang bikin,” ia lalu berdiri dan berjalan menuju ke dapur, aku tersenyum simpul melihat gadis itu melewatiku.

      Giliranku yang merebahkan tubuhku di kursi tersebut. Begitu cepat, bahkan terlalu cepat untukku mengenal gadis ini. Apakah yang sebenarnya terjadi di dirinya, mungkin aku hanya menjadi pelariannya atas Dino tetapi tidak apa, setidaknya aku bisa berbuat baik kepada orang lain. Aku sedikit memejamkan mataku, tetapi tidak lama harum perfume gadis itu sudah tercium, pasti dia sudah datang.

      “Kak, ini cokelat panas buat Kakak,” ujarnya dan menyuguhkan cangkir kepadaku.

      “Makasih yah Dek,” ujarku ringan, ia lalu duduk di sebelahku.

      “Makasih juga yah kak, buat semuanya,” ujar Cauthelia.

      “Makasih buat apaan?” tanyaku sedikit heran.

      “Karena Dede tahu kakak orang baik,” ujarnya dan tersenyum kepadaku, “terus kalo kakak baik kenapa kakak belom punya pacar?” tanyanya, pertanyaan strike to the head, tetapi aku tersenyum.

      “Kakak gak mau punya pacar Dek,” ujarku dan tersenyum, gadis itu memandangku dengan heran, aku memandangnya dan berusaha berbicara dengan matanya yang cokelat, “yang kakak cari itu buat Istri, bukan pacar,” ujarku dan malah dibalas dengan ekspresi wajah yang merah olehnya.

      “Udah dapet?” tanya dia dengan bersemangat.

      Aku menggeleng pasti, “tadinya kakak punya calon, tapi kayaknya gak mungkin, udah lah gak perlu dibahas,” ujarku berusaha menutupi.

      “Dede juga sama kak, gak mau nyari pacar,” ujarnya lalu menunduk, “Dede juga mau cari orang yang bisa bimbing Dede,” ujarnya lalu memandangku dengan wajah yang memerah.

      Deg, kenapa jantungku benar-benar berdetak sangat kencang saat gadis itu memandangku dengan wajah polosnya yang merah. Ia tersenyum kepadaku, dan aku balas tersenyum kepadanya, aku pun mengalihkan pandangan ke jendela dan hujan sangat deras masih turun di luar. Aku harus mengantarkannya sebelum kondisi makin tidak memungkinkan untukku mengantarkannya pulang. Saat aku ingin mengambil kunci mobil, ada pesan singkat masuk ke ponselku.

Quote:


      Aerish? Apa yang membuat dia mengirimkan SMS kepadaku sore ini. Aku memandang tidak percaya layar ponselku, sementara Cauthelia memandangku dengan sedikit heran. Wajahnya sedikit berubah, tetapi ia tetap berusaha untuk tersenyum kepadaku.

      “Kenapa gak dibales Ka?” tanya Cauthelia.

      Aku menggeleng pasti, “kakak udah gak mampu bales,” ujarku lalu meletakkan ponselku lagi.

      “Bukan karena kakak masih ada rasa sama dia, cuma buat kakak it’s not fair,” ujarku sambil memandang gadis itu.

      “Tapi kata Kak Nadine?” tanya gadis itu sedikit heran.

      “Udah terganti sama cewek kelas X-1 yang punya rambut panjang bergelombang, yang matanya cokelat, terus pipinya chubby gitu,” ujarku tanpa sadar lalu tertawa kecil.

      “Eh, aku dong Kak,” ujarnya dengan wajah yang merah, saat itu aku tersadar.

      “Loh loh, maksud kakak itu,” ujarku tergagap, apa yang kukatakan tadi membuatku sangat malu.

      “Kakak tahu gak, apa yang bikin Dede begitu respect sama kakak?” tanyanya tiba-tiba, aku menggeleng perlahan tapi pasti, “kakak pasti masih inget kejadian pas orientasi,” ujarnya lalu aku memandang wajahnya dan mencoba mengingat sesuatu.

      “Yang mana yah?” tanyaku dan menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.

      “Coba inget-inget, pas waktu itu ada adik kelas yang pingsan gara-gara kecapean disuruh lari pas ujan-ujan karena ga bawa papan nama?” tanyanya lagi.

Quote:


      “Jadi kejadian itu yah Dek,” ujarku lalu memandangnya, ia mengangguk dan tersenyum dengan wajah yang merah.

      “Dede sebenernya udah tahu kalo kakak perhatiin Dede dari jauh, dan sebenernya Dede juga masih sedikit sadar dan ngeliat kakak berusaha bangunin Dede,” ujarnya dan kali ini aku yang tertegun.

      “Kenapa Dede ga langsung bangun?” tanyaku.

      “Karena Dede belom sarapan waktu itu kak,” ujarnya, ia lalu mendekatkan diri ke arahku dan memandang wajahku, “dan untuk kedua kalinya kakak nyelametin Dede dari ujan,” ujarnya dengan wajah yang sangat merah.

<<<PREV 1.4 (EP4)