alexa-tracking

Timun dan Jeruk Nipis

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54e5ad37c0cb17650c8b456a/timun-dan-jeruk-nipis
Timun dan Jeruk Nipis
"Mau minum apa, Mas?"

"Tiramisu panas satu. Kalo lo jeruk nipis panas tanpa gula, kan? Udah itu dulu aja, Mbak"

"Oh, iya, Harap tunggu sebentar pesenannya, ya, Mas, Mbak?"

Si Mbak berlalu. Gue buka tas selempang gue. Tujuh tahun ngga ketemu, gue baru ngerasain kali ini, sih, pasti punya banyak sela untuk kita cerita. Cerita-cerita tentang kebodohan yang pernah kita lakuin bareng. Cerita-cerita yang bikin kita, rasanya pengen balik ke masa itu--walaupun kita tau, itu ngga mungkin. Tujuh tahun, punya banyak kejutan tentang apa yang kita lewatkan selama itu: berubahnya muka, tapi ngga berubah watak. Ah, itu begitu menyenangkan. Sore ini, gue sama dia berkumpul lagi, sama-sama pengen ngencerin kangen yang terlampau lama udah beku. Ada syahdu ngintip diantara hujan yang turun di luar kafe ini. Udara dingin dan remang, pas banget buat kita, sob.

"Masih aja lo inget, Har"

"Iya, dong, Wid"

Sampe mana gue tadi? Ah, ya, sampe gue buka tas selempang gue.

"Gue pikir lo mau ngeluarin cincin kimpoi atau apa gitu, Har"

"Dih, males banget. Pengen banget, Wid?"

Kita ngakak berdua. Mulut gue yang penuh bikin Widya nepuk gemes punggung gue, seperti terakhir, tujuh tahun yang lalu.

"Telen dulu baru ngakak. Jorok banget, sih, lo, Har"

"Lo mau tinggal bilang, sih, Wid"

"Gue ngga doyan, ah"

"Ih, enak tau. Apalagi ada pecel lele, wuih, sedap"

"Emang lo ngga berubah, ya, Har"

Gue senyum-senyum aja sambil ngunyah.

"Timun tuh emang enak dimakan bareng pecel lele, bukan tiramisu, gila!"

"Lo juga sama aja. Jeruk nipis segitu asemnya lo bilang biasa aja. Gue masih inget pas lo ngajakin gue lomba Muka-Ngga-Berubah padahal minum yang asem seasem jeruk nipis ga pake gula, Wid"

"Apaan, ngga asem, kali"

"Nah, itu dia tuh. Lo juga ngga berubah, Wid"

Dan kita berdua mulai mengenang dari mula perkenalan kita. Gadget sudah kita berdua letakkan di tengah meja. Ngga ada check-in atau segalanya. Fasilitas WiFi kita cuekin disini. Kita dan hujan, ditambah timun yang baru gue keluarin dari tas lantas langsung gue lahap, dan air jeruk nipis tanpa gula yang super asem yang akan segera dateng, bersegera menyelami waktu-waktu yang ngga akan kita balik lagi kesana. Eh, siapa bilang?

Spoiler for kata perkenalan:


Spoiler for indeks:

pertama, pada pandangan pertama

Hari minggu di sore itu, hujan. Gue lagi ongkang-ongkang kaki sambil nonton tivi ketika gue dipanggil mamake.

"Haaar, ada yang ngetok pintu rumah, tuh. Bukain"

Bah, nanggungnya acara tivi beda sama nanggung di kamar mandi emang. Gue males-malesan beranjak menuju pintu ruang tamu. Tangan gue ngga ngelepasin timun yang udah gue makan sepertiga. Dalam hati, gue ngedumel, apaan, sih, nih. Apaan, sih.

"Wa'alaikum salam" kata gue sambil ngebukain pintu. Dan nampaklah dia yang ganggu jadwal kudapan sore gue. Ibu-ibu. Namanya Bu Narni. Temen curhat mamake gue. Dan temen ngutang gue emoticon-Hammer (S) Gue kira Ibu ini tergolong ibu yang kuat di tengah deresnya ujian nasib. Ketika gue kecil, Bu Narni ditinggal pergi suami sama anaknya ke Pandeglang... untuk selamanya emoticon-Berduka (S) Mobil yang dikendarai Pak Narni sama Anak Narni (udeh, sebut aja begitu) diterjang sama kontainer yang kehilangan rem. Dan.. Pak Narni dan Anak Narni (masih bayi) hanya sebatas foto di ruang tamu diantara kesibukan Bu Narni.

Bu Narni tetep bertahan sendiri di sini sambil buka warung sayur kalo pagi dan warung kopi kalo malem di teras rumahnya. Nah, yang sering gue utangin ya timunnya. Dari kecil, gue suka nemenin mamake gosip sama tetangga beda RW ini. Rumah Bu Narni di pinggir jalan, sedangkan gue agak masuk gitu. Sembari nunggu gosip kelar, gue nyomot timun. Sebiji, dua biji, empat biji, enam belas biji, eh jadi keterusan sampe sekarang. Gue suka banget timun. Sampe sekarang. Bahkan, sampe panggilan gue jadi Timun.

Nah, begitu, deh, sekilas tentang Bu Narni. Sob ada yang berminat? PM ane aja gan emoticon-shakehand

"Oh, nyari mamake, ya, Bu? Bentar, ya, Bu. Aku panggilin"

"Eh, ngga usah, saya nyari kamu, Mun"

"Eh, jeng, toh. Silakan, jeng, masuk, masuk"

Mamake dateng dari belakang dan mereka duduk. Karena gue yang dicari sama Jeng Narni, jadilah gue ikutan duduk. Gue cemilin timun gue. Nah, ketika mau beranjak duduk itulah....

"Eh, iya, kenalin ini..."

Syaaaattt!!!! Gue seperti jadi panci kotor di iklan salah satu sabun cuci piring. Gue melihat ada sinar-sinar gitu. Silau dan menyilaukan. Timun gue jatuh sangking gue terpananya. Kilau memesona apakah itu? Aurora? Aurora di tengah kampung padat penduduk gini? Ngga mungkin.

"...keponakan saya. Ayo, kenalin sendiri"

Hidup dan kehidupan jadi bergerak perlahan. Gue doang yang bergerak normal. Gue bisa lihat jarum detik pada jam bergerak seperseratus lebih lambat daripada bukan di kondisi seperti ini. Gue lihat, dia yang Jeng Narni suruh untuk ngenalin dirinya mengangkat telapak salamnya menuju gue dengan sangaaaaat lambaaaat.... Gue lihat kilauan itu dari arahnya. Memang dia. Ya, memang dia. Memang dari dia kilauan itu. Dan semua itu kembali jadi wajar ketika dia sebutkan namanya,

"Kenalin. Widya"

Dia senyum. Aih, kilauan itu muncul lagi dan hidup-kehidupan kembali melambat sob. Dia berkilau tapi kini bisa gue lihat. Ia, yang mengaku bernama Widya, seperti kelebat aurora yang jatuh diantara kebun tulip dengan warna diatur sedemikian rupa sedang bermekaran. Indah. Dia tersenyum dan perang di Suriah damai. Bahkan, tidak ada bayi menangis karena lapar di muka bumi ini. Lesung pipitnya menusuk seperti kelebat sinar mentari jam setengah tujuh pagi di antara embun dedaunan yang sedang jatuh. Kulit mulus dapat poin enam, dari skala maksimal lima. Rambutnya berkelebatan merah ketika ditimpa pandangan. Alis dan mata diantara poninya yang lembut jatuh membikin gue seperti berlari-larian diantara kebun timun masak yang siap dipetik kapan saja. Bahagia.

"Oi, kenapa bengong"

"eh, ya. Eh, Harsya"

'Biasa dipanggil timun sama temen-temennya"

Mamake kadang suka kelewat gaolz. Widya cekikikan.

"Eh, hihihi. Kenapa dipanggil timun?"

"Dia, tuh, Wid. Tiga minggu ditinggal di hutan timun, masih idup, ngga makan ngga minum juga"

Widya cekikikan lagi denger becandaan mamake yang gaul buat anak SMP kelas 2 kayak kita-kita. Eh, iya, sob. Widya keliatannya seumur nih emoticon-Malu (S)

Di sofa ruang tamu itulah kami duduk, sob. Letter L. Gue duduk di sebelah mamake, mamake duduk berletter L sama Bu Narni, dan Widya duduk di sebelah Bu Narni. Kita semacam seperti lamaran gitu ngga sih sooob emoticon-Hammer (S) emoticon-Cendol (S)

"Jadi, jeng repot-repot hujan-hujanan nyari Timun ini, ada apa? Kok ngga nyari saya?" mamake membuka obrolan.

"Iya, jadi gini jeng. Ini keponakan saya dari Pandeglang. Yang, ituloh, jeng..."

Jadi, Bu Narni ini cerita. Widya ini anak tunggal dari saudara kandung Bu Narni di Pandeglang. Iya, yang jadi tujuan dari almarhum Pak Narni sama Anak Narni itu. Lagi-lagi, ini soal ujian hidup sob. Saudara kandung Bu Narni itu duda setelah istrinya gugur karena ngelahirin Widya. Walaupun jarang ketemu, Bu Narni seperti Ibu kandung Widya. Ketika Ayah Widya meninggal karena TBC dua bulan yang lalu, Widya memutuskan untuk tinggal bareng Bu Narni. Bu Narni langsung seneng banget denger berita itu.

Nah, terus kenapa Bu Narni nyari gue?

"Iya, jeng. Widya, kan, sekolahnya pindah ke sekolahnya Harsya ini. Nah, saya pengen minta sama Harsya supaya jadi temennya, loh, jeng. Sekalian jadi temen belajarnya juga"

Kemudian, Jeng Narni ngedipin mata ke Jeng Mamake. Kayaknya bilang, Widya ini anaknya barangkali akan susah bergaul setelah ditinggal ayahnya. Gue paham, mata Widya begitu lelah di sore itu.

"Gimana, Mun? Mau, kan?"

"Ya, maulah. Kok temenan milih-milih..."

Mata Widya tetep lelah walaupun menyambut kalimat gue dengan senyuman. Kasihan dia.

Dan habis itu, kedua jeng itu gosip seperti biasa. Gue yang udah sadar diri dari kilauan kembali ngemilin timun. Gue sama sekali ngga ada minat balik nonton tivi. Mending nontonin Widya yang kesayuannya justru jadi semacam daya tarik tersendiri. Widya ngikik sedikit ngeliat gue nyemilin timun, gue pura-pura cuek emoticon-Wowcantik emoticon-Cool sampai jeng Mamake sadar..

"eh, iya, sampe lupa, lho. Mau minum apa?"

Jeng Narni milih apa aja yang disediain, Widya aja, nih, yang rikues

"Air panas, Bu"

Ooooh, barangkali karena dia belum lama di kota yang dinginnya ngegigit banget ini kali, ya. Dan ngga lama, mamake dateng bawain teh manis sama air, dua-duanya ada asap yang mengepul.

"Diminum, jeng"

Dan ketika itulah. Widya ngeluarin dari tasnya. Tiga butir jeruk nipis dan gunting. Dua dipotong sama besar, terus dipijet supaya keluar sari-sarinya. Gue sama mamake terkesiap (tsah) liat itu semua. Dia tumpahin sari-sarinya di atas asap yang mengepul, jatuh ke air yang panas itu. Tanpa ditambah gula, dia seruput pelan-pelan. Muka gue langsung keaseman gitu, liur gue jadi deres, gue sampe neguk berkali-kali.

"Nah, si Jeruk Nipis sama si Timun bakal awet, nih temennya"

Kata mamake gue yang kelewat gaolz iseng nyeletuk. Kita berempat ngakak bareng.

"Ngga asem, Wid?" gue iseng bertanya.

Widya ngegeleng. Di matanya, gue menerka, kira-kira, Widya berkata....

"aseman juga hidup gue...."

mereka juga, pada yang pertama...

Hari senin pagi, jam 6 pagi, gue melipir ke warung Jeng Narni bareng mamake yang mau belanja. Rencananya, sekalian gue berangkat bareng Widya begitu. Kemarin pas mereka pulang dari rumah, Bu Narni titip pesen ke gue, bahwa kalau bisa, besok Widya bareng gue berangkatnya, karena belum tau jalannya, juga, kan. Gue, sih, oke-oke aja. Makanya, gue ada di mari.

Kemarin, Widya udah cantik dan berapa kali kagum pada hati ini harus di dera. Widya sangat manis dengan paduan seragam, cardigan turkis, dan sepatu converse. Tas gendong warna item-kuningnya juga serasa sama rambutnya yang berkesan merah. Nah, parfumnya ngga alay kayak temen gue lainnya. Mungkin sama, tapi apa atuh yah kalo orang jatuh cinta mau (maaf) t"i kucing juga berasa coklat emoticon-Ngakak (S) emoticon-Malu (S)

Gue yang belum ngemilin timun pagi itu, langsung grogi aja.

"Bu Narni, aku ambil timun satu. Bayarnya sekalian sama mamake, yaa"

Kedengeran Bu Narni teriak di sela ngelayanin pelanggan yang dateng. Widya jadi mutiara diantara lumpur (ibu-ibu) yang belanja pagi itu emoticon-Malu (S)

"Ayo, Har, berangkat"

"Eh, eh, ayo" --gue gelagapan emoticon-Malu (S)

Angkot yang lewat dalem komplek ini emang jarang lewat, sekalinya lewat, pasti penuh. Apalagi jam berangkat kantor dan sekolah begini. Widya mencoba basa-basi sama gue, tentulah gue seneng emoticon-Malu (S)

"Semalem kok ngga mampir ke warung?"

"Hehe. Ngantuk, Wid" kata gue sambil ngunyah timun. Widya liatin gue, terus ngikik.

"Ada, ya, orang ngemiilnya timun?"

"Ada, ya, orang yang minumnya air jeruk nipis ga pake gula?"

Kita ngakak bareng. Disitu, Widya udah mulai berani nepuk punggung gue emoticon-Malu (S)

Dari seberang warung Bu Narni, akhirnya kita dapet angkot dan sesimpel itulah pagi itu. Tapi, bahagia, sob emoticon-I Love Indonesia (S)

***

"Lo kelas mana, Wid?"

"Emm, 2 C"

"Wah, kita sekelas ternyata?"

"Eh, iyaa? Alhamdulillah. Gue udah ngeri aja kalo ngga kenal siapa-siapa"

"Iya, sih, pindahan tengah semestes gini..."

"Lo duduk bareng siapa, Har?"

"Ada.. dipanggilnya Boi"

"Tukeran sama gue ngga mau kali, ya?"

"Eh? Wah? Ngga tau, deh, Wid. Ngga enak juga, udah dari kelas 1 soalnya duduk bareng"

"emoticon-Berduka (S) Wuaduh, gimana, ya, Har. Gue takut..."

"Tenang-tenang, anak kelas ngga ngegigit, kok emoticon-Smilie"

Dan kita masuk ke sekolah itu. Sekolah tipe bangunan belanda yang atapnya tinggi-tinggi, terus lantainya masih dari ubin 20x20 tebel warna abu-abu tua begitu. Kusen setinggi 2 meter setengah. Dan kesan suram emoticon-Ngakak (S) Widya beneran takut gitu mukanya, gue jadi ngga tega sendiri. Gue sempet kepikiran, apa gue pites aja ya kepalanya si Boi biar gue bisa duduk sama kecengan gue ini emoticon-Wowcantik

"CIYEEEEEE SAPAA TUH MUUUN?"

"Nah, kalo yang norak itu namanya Fajar. Tenang aja, dia emang begitu, Wid"

Itulah panduan singkat gue soal kelas ini ke Widya ketika Fajar teriak-teriak norak abis ngeliat Widya. Widya ngangguk dan berusaha tegar. Pilihan tepat, karena itu baru cobaan pertama dari sekian rangkaian cobaan anak baru emoticon-Ngakak (S)

Untungnya, kelas udah rame, artinya sebentar lagi kelas akan dimulai. Pagi ini, kita kebagian guru yang rajin. Dua menit setelah kita berdua dateng, Ibu itu sudah dateng, dan demi melihat ada anak baru, kelas dimulai sementara lima menit lagi bel baru berbunyi. Kita duduk rapi dan tinggal beberapa anak lagi yang dateng. Widya ditanya-tanya begitu di meja guru. Gue yang udah duduk sama Boi, ngeliatin aja sesekali dari jauh.

"Mun, namanya siapa, tuh, anak baru? Kok cakep bener?"

"Ya, kan, Boi. Tetangga gue" dan gue nyeritain sedikit soal ujian Widya. Boi ngangguk dengan respek "bingung, tuh, dia duduk dimana. Lo pindah aja, Boi. Biar duduk sama gue"

"Hahaha, gue, sih, juga mau, Mun, kalo begitu"

Gue ngunyah gigitan terakhir timun gue. Udah dua batang pagi ini, kalo lama-lama, bisa asem nih mulut emoticon-Ngakak (S)

***

"Har, kamu langsung pulang, kan?"

Demi melihat Widya yang stres dan demi panggilan "Lo" jadi "kamu", gue ngangguk ketika Widya pas bel pulang langsung ngajakin balik. Dia duduk sendirian di pojok belakang. Kasian banget. Ya, gue mau gimana. Mau nempel dia terus, nanti anak-anak, khususnya Fajar, pasti norak, ledek-ledek gitu. Maka, hampir hari ini, gue menjalani kehidupan dengan normal, seperti tanpa anak baru. Tanpa Widya. Gue ke kantin dan pipis (di kamar mandi) seperti biasa. Widya lebih sering nunduk di pojokan belakang. Tentu, ada anak-anak cewek berhati malaikat nyamperin dia terus ngajak kenalan. Tapi, tetep aja Widya stres ngeliat tingkah bocah laki yang ngga beradab disini emoticon-Ngakak (S)

"Yah, Mun, ngga jadi cabut, nih kita?"

"Kaga, Boi. Besok aja, gue duluan, ya"

"Eh, gue bareng, dong"

Si kampret ini emang punya maksud. Boi dari tadi pagi sampe siang ini selalu aja nanyain Widya. Widya emang produk pubertas yang berhasil. emoticon-Kiss (S) Ya, tentu aja, gue meng-ayo aja.

Boi si sohib gue ini emang baik anaknya. Supel gitulah, cuma dia jarang punya keberanian. Pipis di kamar mandi aja suka minta anterin emoticon-Najis (S) Nah, seperti pipis, Boi susah ngajak kenalan Widya tanpa sebab. Nah, sebab kali ini adalah pulang bareng. Nah, barangkali kebawa stres, Widya semacam antipati begitu sama Boi. Tapi, gue ngerasa sebenernya Widya nyambut juga. Nah, loh, bingung. Iya, jadi Widya kerasa bolot kalo diajak bercanda tapi matanya teduh nyaman gimana gitu. Gue banyak diemnya setelah ngenalin Boi emoticon-Berduka (S) Tapi, gue buru-buru ngusir perasaan cemburu itu. Cemburu? Ah, ya, itulah pertama kali gue ngerasain cemburu. Cemburu bentuknya aneh. Takut kehilangan sesuatu yang tidak kita genggam. Jadi, kalau bukan cemburu, apa namanya?

***


Boi melipir pulang setelah kita turun dari angkot, persis di depan warung Bu Narni. Rumah Boi emang masih nyambung setelah ujung trayek angkot ini. Boi ngga mampir karena dia pikir Widya ngga nyambut kesupelannya. Gue yang mau ngajak jadi agak gimana gitu juga. Kita nyeberang dan sebelum pulang, gue ongkang-ongkang kaki dulu sambil nyemilin timun di semacam tempat duduk di warung itu. Widya langsung masuk ke dalem rumah.

"Bu Narnii, saya ambil timun satu, ya"

tanpa nunggu "iya" gue langsung lahap. Soalnya gue udah nulis di Buku Utang Timun punya Bu Narni emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S) Timun ini seperti rokok kayaknya. Gue ngga ngerokok tapi gue ngerasain aditif dari sini. Ah, nikmat banget siang-siang panas gini nyemilin timun.

"Har, Har"

Widya dari dalam dan bujug! Sinar kilau kemilau itu dateng lagi. Ah, waktu untuk timun setengah batang sama dengan Widya buka seragam atasnya aja. Di atas tangktop putih ada cardigan turkis itu. Widya emang sampel dari puber yang berhasil emoticon-Kiss (S) emoticon-Malu (S) Ah.. gue semakin yakin.. gue jatuh cinta.. untuk yang pertama... kepada Widya.. sejak pandangan pertama.

"Apa? Apa?"

"Lo temen gue pertama disini, jaga rahasia, ya"

Wah, Widya bisa cerewet juga. Barangkali, dia tipe nyaman di kandang kali, ya. Gue ngangguk dengan muka antusias. Apa dia bakal ngasih tau ukuran-ukurannya? emoticon-Wowcantik ngga mungkinlah! emoticon-Hammer (S)

"Temen kamu, Boi, ya, namanya. Lucu, ya. Gue suka... Sst, jangan bilang siapa-siapa, ya"

di tengah siang terik, ada petir menggelegar membahana. Ets, tentu aja gue ngga akan bilang siapa-siapa.. termasuk pada bagian diri gue yang naksir sama lo, Wid...
Hayo hayo di closed dulu yg ini sampe yg itu kelar.. emoticon-Wink
Gak boleh punya 2 trit aktf disini harsya. emoticon-Wink
Request closed dulu ya. emoticon-Big Grin
Lanjut gan, bagus awal ceritanya. Bikin ane tertarik bua lanjutin.



Ijin bookmark gan....
Quote:


sudah sis emoticon-Blue Guy Peace

Quote:


sementara harus ditutup sampe nyang sebelah kelar gan emoticon-Hammer (S) maaf euy emoticon-Blue Guy Peace
lo buat cerita lagi har ???
Quote:

hahhaha
sippo lah har.emoticon-Big Grin