alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54e2af6abdcb17fa748b4569/nestapa-hidup-di-desa-jalanan-rusak-sampai-tak-ada-listrik
Nestapa hidup di desa, jalanan rusak sampai tak ada listrik
Nestapa hidup di desa, jalanan rusak sampai tak ada listrik
Belum lepas dari ingatan kita saat Joko Widodo dan Jusuf Kalla berjanji membangun pedesaan. Bukan hal mudah mengimplementasikan janji tersebut. Sebab, ada 82.190 wilayah administrasi pemerintahan setingkat desa yang harus mendapat perhatian.

Belum lagi persoalan-persoalan yang dihadapi masing-masing desa beragam dan tidak sama. Hal itu pernah dikeluhkan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes-PDTT) Marwan Jafar. "Bagaimana desa mau berkembang, pelayanan sosialnya berjalan, kegiatan ekonominya maju, masyarakatnya sejahtera, jika kebutuhan energi listriknya saja tidak terpenuhi dengan baik?" ujar Marwan di Jakarta, Minggu (15/2).

Data yang dipaparkannya menunjukkan, hampir semua desa di perbatasan masuk kategori tertinggal. Ada 40 persen desa tertinggal atau kurang lebih ada 32.000 desa. Desa-desa tertinggal ini mempunyai keluhan. Pertama soal infrastruktur. Kedua soal jaringan telekomunikasi. Ketiga soal sumber daya manusia. Keempat, terisolasinya mereka itu harus dibuat konektivitas antar daerah.

Tidak heran arus urbanisasi dari desa ke kota tak terbendung. Sebab, kehidupan di desa jauh dari kata nyaman. Merdeka.com mencatat nestapa hidup di desa dan daerah terpencil. Berikut paparannya.

1.Tiap hari makan singkong
Nestapa hidup di desa, jalanan rusak sampai tak ada listrik
Warga Kecamatan Lumbis Ogong Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mengaku makanan sehari-hari masyarakat setempat hanya dengan singkong rebus karena kesulitan mendapatkan beras.

Butuk (40), warga Desa Samunti, Kecamatan Lumbis Ogong, ketika ditemui di Ibu Kota Kabupaten Nunukan, menceritakan kesengsaraan hidup yang dialami di kampung halamannya kepada sejumlah wartawan.

Dia mengaku mata pencaharian warga di kampung halamannya hanya dengan menanam singkong untuk dimakan dan dijual karena tidak ada lahan persawahan maupun tanaman lain yang dapat tumbuh di daerah itu.

"Warga di Desa Samunti hanya makan ubi kayu (singkong) setiap hari karena tidak ada lahan persawahan," ujar Butuk seperti dikutip dari Antara, Kamis (13/11).

2.Tak ada listrik
Nestapa hidup di desa, jalanan rusak sampai tak ada listrik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 82.190 wilayah administrasi pemerintahan setingkat desa. Selain itu, BPS juga mencatat ada 7.074 kecamatan dan 511 kabupaten kota di 33 provinsi se-Indonesia.

Kepala BPS Suryamin mengatakan dari jumlah tersebut banyak kekurangan yang ditemukan. Salah satunya, banyak desa yang belum tersalurkan listrik milik PT PLN (Persero).

"Ada sebanyak 12.659 desa yang tidak tersalurkan listrik PLN. Jumlah tersebut 15,40 persen dari total desa yang ada saat ini yaitu 82.190 desa," ujar dia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (16/2).

Masalah lain, seringnya mati lampu di daerah-daerah terpencil. Termasuk di Sorong. Kondisi ini disampaikan Manager Sub Logistik Packing Plan Sorong PT Semen Indonesia, Choiru Zaki. Dia mengakui, perusahaannya dihadapkan seringnya mati listrik setiap hari.

"Di sni setiap hari malah bisa mati listrik sampai 10 kali per harinya, kalau begini terus ini yang membuat biaya operasional kita membengkak," ujarnya kepada wartawan, Sorong, Kamis (4/9).

Hal serupa dirasakan di Nusa Tenggara Barat (NTB). "Di NTB saja listrik mati bukan tiap hari mati, tapi sehari 5 kali. Tambahan listrik 2015 juga masih kurang mengejar elektrifikasi selevel pulau Jawa," kata anggota Komisi VII DPR Kurtubi di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (21/1).


3.Infrastruktur pendidikan minim
Nestapa hidup di desa, jalanan rusak sampai tak ada listrik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 82.190 wilayah administrasi pemerintahan setingkat desa. Selain itu, BPS juga mencatat ada 7.074 kecamatan dan 511 kabupaten kota di 33 provinsi se-Indonesia.

"Terdapat 10.985 desa yang tidak memiliki Sekolah Dasar (SD/MI) dan 275 kecamatan tidak memiliki SLTP," jelas Suryamin.

4.Harga bensin mahal

Nestapa hidup di desa, jalanan rusak sampai tak ada listrik

5.Infrastruktur jalan rusak
Nestapa hidup di desa, jalanan rusak sampai tak ada listrik
Menjelajahi daerah-daerah di Tanah Air, khususnya pedalaman sungguh memberikan pengalaman luar biasa. Jangankan antar-kabupaten, antar-kecamatan saja bisa menghabiskan waktu 5-6 jam lewat jalur darat.

Kalimantan Barat. Provinsi ini memiliki luas 146.807 km persegi. Provinsi ini merupakan terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Saking luasnya, masih banyak daerah yang luput dari perhatian pemerintah daerah maupun pusat.

Rusaknya infrastruktur jalan merupakan 'penyakit' kronis yang sudah cukup lama menjangkit provinsi yang dikenal dengan julukan 'Seribu Sungai' ini. Hampir setiap kabupaten yang dilintasi, selalu ada jalan rusak.

Kepala BPS Suryamin menyebutkan, desa yang infrastruktur jalannya buruk mencapai 12.636 atau 15,73 persen dari total desa

6.Kebutuhan hidup bergantung negara tetangga
Nestapa hidup di desa, jalanan rusak sampai tak ada listrik
Warga di Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalbar memilih untuk menggunakan bahan bakar minyak dari Malaysia karena sulit dan tingginya harga eceran dalam negeri. Salah satu warga Bengkayang, Hery mengatakan, warga Seluas dan Jagoi beralih ke bensin Malaysia lantaran bahan bakar negeri Jiran itu lebih mudah diperoleh.

"Warga di sana lebih memilih bensin Malaysia. Kalau bensin Indonesia mudah diperoleh, kemungkinan besar warga tetap menggunakan bensin Indonesia," ujarnya.
Sama halnya dilakukan oleh salah seorang warga Seluas, Simon. Dia mengaku dirinya membeli bensin Malaysia dengan harga Rp 13 ribu per liter. Bensin Indonesia ditinggalkan karena langkanya bensin tersebut.
Menurutnya, bensin Indonesia sulit ditemukan di Seluas dan Jagoi Babang. Kalaupun ada, di tingkat eceran dan harganya Rp 12 ribu per liter.
"Walau mahal tapi bensinnya nyaman kita peroleh. Harga eceran itu tinggi karena pengecer mendapatkan bensin secara berantai," jelasnya.


Semoga jokowi lekas memperhatikan kehidupan mereka

Sumur
Coba aja tukang blusukan mampir
untuk refreshing otak dan pikiran cocok tuh
Pembangunan gak merata sibuk ngurusin jakarta emoticon-Cape d...
Etdaaah...
Kalo singkong-nya segede itu, Ane mauuu...
emoticon-Shakehand2
untung aku tinggal dijawa....
BTW ternyata aku emang orang yg nggak berguna
pernah ke pedalaman, yg paling menyiksa adalah ga ada internet! hape sebagus apapun cuma bisa buat nelpon dan sms doang, itupun putus2 emoticon-Ngakak
siapa suruh hidup di desa emoticon-fuck
yang ngeluh itu biasanya orang kota belagak hidup di desa emoticon-Tai
kalo orang yg asli dari kecil besar di desa biasa aja tuh emoticon-Big Grin
dan kami juga uda biasa punya presiden gak berguna (kecuali Bung Karno) emoticon-Recommended Seller
semoga bisa di dengar dan di lihat yaa gan oleh para pemimpin kita ini
miris emang kalo liat kondisi kaya gini, mana nih pemerintah pusat ama daerah nya


emoticon-Cape d...
singkong lebih sehat daripada nasi gan , emoticon-Malu (S)
pemdanya pada kemana itu?

masa cuma mengandalkan pemerintah pusat emoticon-Gila

makanya dana APBD jangan ditilep emoticon-fuck

di kota pada hamburin duit,di desa ga di peduliin emoticon-Cape d...
ane malah pengen gan idup di tempat terpencil emoticon-Traveller emoticon-Traveller
Quote:Original Posted By kutang.terbang
ane malah pengen gan idup di tempat terpencil emoticon-Traveller emoticon-Traveller


sumpek di kota ya gan
Quote:"Warga di sana lebih memilih bensin Malaysia. Kalau bensin Indonesia mudah diperoleh, kemungkinan besar warga tetap menggunakan bensin Indonesia," ujarnya.Sama halnya dilakukan oleh salah seorang warga Seluas, Simon. Dia mengaku dirinya membeli bensin Malaysia dengan harga Rp 13 ribu per liter. Bensin Indonesia ditinggalkan karena langkanya bensin tersebut. Menurutnya, bensin Indonesia sulit ditemukan di Seluas dan Jagoi Babang. Kalaupun ada, di tingkat eceran dan harganya Rp 12 ribu per liter. "Walau mahal tapi bensinnya nyaman kita peroleh. Harga eceran itu tinggi karena pengecer mendapatkan bensin secara berantai," jelasnya.

Dan kualitasnya jauh lebih baik, murni RON 92-95. Ane sempat kok menyaksikan waktu main ke Pontianak trus naik mobil Innova loka (nomor polisi KB) nyebrang ke Kuching via Entikong, supirnya bilang enakan beli bensin Shell/Petronas, harga kompetitif kualitas nya mankyusssss...

Pemerintah harus mikirin. Kalo ngga pake listrik, bikinin aja PLT-Angin, pake kincir angin. Low maintenance. Kenapa segala sesuatu mesti ke PLN....hadoh...
Ane sih kurang setuju dgn poin satu (singkong)...
Kalo emang di daerah itu gak bisa/sulit dapetin beras, ya makan yg lain lah...
Toh beras itu bukan makanan suci yg kalo gak dimakan bisa mati, buktinya orang2 di daerah lain makanan pokoknya bukan beras juga masih hidup...
Misalnya di Indonesia timur mereka makanan pokoknya sagu, kalo di luar negeri rata2 kentang atau gandum...

Maksud ane, sesuaikanlah makanan pokok dgn daerah...
Di situ bisanya nanem singkong, ya makanlah singkong...
udah hijrah aja ke jakarta... hak2 kalian berhenti tuh di tangan para anggota dpr pejabat negara serta pejabat pemerintah daerah... duit2nya ada di kantong pribadi mereka...
Quote:Original Posted By leacynta


sumpek di kota ya gan


iya gan sumpek emoticon-Hammer2
×