alexa-tracking

Kosan Ngocoker (kisah yang mengocok emosi mulai dari ketawa, sedih sampai haru)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54e19cb8a1cb178d5c8b456b/kosan-ngocoker-kisah-yang-mengocok-emosi-mulai-dari-ketawa-sedih-sampai-haru
Kosan Ngocoker (kisah yang mengocok emosi mulai dari ketawa, sedih sampai haru)
SINOPSIS: Leo alias Leonita adalah cewek tomboy yang menyamar menjadi laki-laki dan menyusup kedalam kosan putra demi mendapatkan cinta monyetnya si Samuel hingga hidupnya menjadi konyol dan penuh warna dikelilingi lima cowok kece.

NP: setelah bingung ngasih judul dan sudah 3 kali ganti
nama judul akhir terpilihlah judul fenomenal dan maksiat ini
*senyum malaikat*
nilai negative dalam cerita ini mohon disikapi dengan bijak,
ini hanya hiburan.


-Leo POV-

Aku melempar kunci dan menangkapnya kembali dengan
tawa kemenangan. Gila ternyata kunci kamar kosan cowok
ini bisa aku dapatkan dengan cukup mudah! Yaa walau ibu
kosan sempat memperhatikanku dengan mata curiga sambil
berkata, “Kamu kemanisan dek kalau buat jadi cowok.”

Aku mulai memantabkan kaki memasuki bangsal kosan ini,
disambut oleh ruang tamu yang diisi oleh tiga cowok yang
asik berbaring di depan tv. Aku sedikit bergidik melihat
banyak sampah berserakan, lantai berpasir karena sepertinya
ada yang memakai sepatu ke dalam, beberapa puting rokok,
bahkan... kondom bekas? Gila... kacau luar biasa,
sebelumnya tidak terpikir olehku bagaimana bisa mereka
berbaring santai di atas tumpukan sampah.
Terlihat kamar pertama terbuka, mengeekspose
pemandangan baju yang bergantung brutal dimana-mana
(well, dinding penuh gantungan), bahkan ada kolor di dekat
pintu, ada gitar, catur, dan kasur yang tergeletak tak berdaya
dengan amburadulnya.
Bau apek? Pasti... aku langsung memasang mimik menderita
karena jalan ini yang harus aku lalui. Jauh dari ekspektasi,
aku kira akan indah-indah saja. Cowok kan menyenangkan,
yaah... kawan-kawanku kebanyakan cowok, mereka selalu
membuatku senang.


Tapi semua makin buruk ketika aku berjalan lebih jauh ke
dalam, tiga orang yang tadinya menonton langsung melirikku
tajam. “Hoi hoi hoi... Sikap macam apa itu?” panggil salah
satu dari mereka dengan nada yang terdengar judes.
Bahuku menegang, “A-anu... maaf, mau cari kamar empat.”
Jawabku dengan suara bergetar. Sepertinya mereka tidak
terlalu bersahabat.
Tapi cowok ke dua berlari dan merangkulku erat, dan aku
tersedak ketika aroma busuk yang semerbak masuk dalam
penciumanku, lebih shock lagi ketika menoleh harus
dihadapkan oleh bulu ketek hitam lebat dari cowok tengil
yang merangkulku, “Kenalan dulu dong, dek. Anak baru kan?
Gue Rendra..” ucap si cowok bulu ketek yang kurasa kutunya
sudah gemes minta dipenyetin.
“Leo...” ucapku lemas karena menghemat persediaan
oksigen. Bernafas lewat mulut!
“Lucu juga nih anak hehe... mainan baru bro..” balas si bulu
ketek sambil menariki hidungku. Tidaaaak!
“Hei... salam kenal Dek Leo. Aku Nicky.” Sapa cowok ke tiga.
Satu-satunya cowok yang memiliki aura bagus karena dia
mengenakan pakaian bersih, berkacamata dan tersenyum
teduh. Aku membalas dengan anggukan lemah.


“Dede duduk dulu sini! Ngapain coba buru-buru masuk
kamar, aah jangan bilang lu udah gak sabaran mau nyobain
ngocok di kamar baru ya? Bwahahah!” sapa cowok pertama
dengan nada yang memang tajam tapi sepertinya tidak
segalak nadanya. Dari logatnya aku merasakan hawa-hawa
Bugis. Nicky ikut terkekeh sambil menjitak cowok itu pelan,
“Oh ya... aku Hasanudin dek, panggil saja Hasan... Si tampan
dari Makassar de!” benar kan dugaanku.
“Panggil aja Udin..” bisik Rendra dengan bibir yang
menempel di kupingku, aku memerah. Tapi Hasan malah
memberikan tatapan seram kepada Rendra yang tertawa
santai. Dia mulai mendorongku untuk berkumpul di ruang
tamu. Aku terpaksa menurut dan harus diapit oleh tiga cowok
yang sebenarnya memiliki tampang lumayan.
“Hasan ini agak mesum, maklumin ya kalau omongannya
bikin risih..” ucap Nicky santai sambil menepuk bahuku.
“Eh... aku gak mesum ya.. aku hanya terlalu normal.” Ucap
Hasan sambil menggaruk-garuk selangkangannya.
“Kalau aku terlalu ganteng..” ucap Rendra sambil mengupil
nakal.


“Yee kalau nih bocah, joroknya luar biasa. Tuh kamar
pertama, dia ownernya...” jawab Nicky lagi. Si Rendra bulu
ketek hanya menyengir tanpa dosa.
“Kalau Kak Nicky sendiri apa?” tanyaku antusias.
Nicky menunjuk hidungnya dengan wajah polos, aah dia ada
bakat uke kalau kulihat. Imut sekali! Rendra dan Hasan
menatap Nicky tajam, “Dia si lelet. Makhluk paling nyebelin di
kosan. Boker lama, masak lama, mandi lama pake acara
konser ala Afgan..” jawab Hasan ketus.
“Eh suaraku emang mirip Afgan kali.. coba dengar! Cintaku
bukanlah cintaa biasaaa~~~”
Rendra langsung menyumpal mulut Nicky dengan kaos kaki
busuknya, “Bosen bosen!” putus Rendra. Nicky yang
wajahnya menghijau langsung muntah-muntah dan
tergeletak tak berdaya.
Mendadak ada cowok pakai masker, sarung tangan dan helm
masuk ke dalam bangsal dengan menjinjit kakinya, “Nah
kalau ini si maniak bersih, Yayat... dia gak pernah mau
bergaul dengan kami disini. Dia selalu bersihkan bangsal dan
kamarnya, walau bakal kotor lagi dan dia paling anti
kamarnya kami masuki sehingga kamarnya serumit itu.”
Jelas Nicky. Aku melirik kamar No 3 yang sangat canggih
dimana sistem bukanya menggunakan sandi sidik jari, kornea
mata dan kode rahasia yang dia sembunyikan sekali.


Ternyata baru pintu lapis pertama, masih ada lapisan kedua
yang dipenuhi rantai dan gembok. Haaah... freak sekali.


DEG!


Mendadak jantungku berdetak kencang melihat seseorang
yang keluar dari kamar nomer dua. Cowok yang telanjang
dada, hanya mengenakan boxer hijau tua, memiliki sixpack
yang sexy dan berwajah cool luar biasa! Tatapan coolnya
benar-benar membuatku menggigil sekarang. Namanya
Samuel, cowok yang membuatku nekat menerobos kosan ini,
cowok yang aku gilai dari SMP sampai kuliah sekarang dan
cowok yang tidak pernah memperhatikanku sama sekali.


“Ini Samuel... si homo kece haha..” jawab Rendra centil.
JEDEEEER!
Bagai tersambar petir mendengar pernyataannya itu, di-dia
homo? Sial! Pantas saja dari dulu aku tidak dinotice. Aaakh...
kenapa kenyataan ini begitu kejam!
Samuel menepuk kepala Rendra dengan sebungkus kaset,
“Puter nih! barang baru.”
Nicky terlihat terburu-buru mengunci pintu dan menutup
semua gorden di jendela, Hasan yang terlihat antusias mulai
memasang posisi nyaman dengan bantal di atas pahanya
sedangkan Samuel duduk mendekatiku, menghembuskan
harum yang begitu maskulin dan segar dari tubuhnya. “Hei
anak baru, minjem paha lu.’’ Terlihat Samuel yang berwajah
datar menepuk-nepuk pahaku sebelum dia rebahi.
Aku mengigit jari karena gugup luar biasa. Sungguh moment
yang tidak terduga! Akhirnya aku dinotice Samuel!!!! Nicky
dan Rendra mulai bergabung dengan kami, senyuman aneh
menghiasi ujung bibir mereka. Entah film apa yang Samuel
berikan tadi, yang terlihat hanyalah wanita pirang sedang
mengobrol dengan dua lelaki kekar. Namun semenit
kemudian aku tau apa yang mereka putar... bokep. Shit!
Aku menepuk wajahku yang memerah maksimal, walau
ditepis Hasan, “Ngapain tutup mata? Gak ada sok-sokan
polos disini. Kita semua membuka kehinaan disini.
Bwahaha..”
Nicky mengibaskan tangannya, “Ini bentuk kebersamaan.
Ditutup dengan ritual ehem...” dia menggerakkan tangannya
di depan selangkangannya menjadi naik turun.
What! Onani bareng? Rendra menarik kupingku, “Ngocok
berjamaah adalah hobi kami semua di kosan ini. karena...”
Semuanya berteriak lantang, “WE ARE NGOCOKERS!”
Dafuq! Ma-mati gue...
TBC
NP: Pada suatu hari aku pernah masuk kosan cowok, buat
nyontek tugas temen sekelas, di dalam kosan yang situasi
maupun orang2 di dalam kosannya seperti cerita ini jadinya
aku gambarkan dalam cerita ini

Ditunggu komentarnya gan
image-url-apps
Ente ikut ngocok kaga gan :maho emoticon-Ngakak
image-url-apps
Lanjut hahaha konyol nih cerita
KASKUS Ads
image-url-apps
Haha kepo dah agan
image-url-apps
Quote:



Hehehe maaf gan baru ingat ada cerita ini. Ok seera dilanjut
image-url-apps

Kosan Ngocokers (part 2)

By: Lian48

Enjoy it~

-Leo POV-

Aku berkeringat dingin, mulai merasakan reaksi alami pada tubuhku bahwa aku horny. Yang lain juga mulai terlihat gelisah memainkan gundukan di celana mereka setelah kami menonton bokep berjamaan di ruang tamu kosan selama 15 menit pertama. Aku buru-buru melapisi selangkanganku dengan tas yang aku bawa. Jaga-jaga agar Samuel tidak merebahinya, dia hanya berbaring di salah satu pahaku sekarang.



“Ah... gue udah gak tahan..” desah Nicky si imut berkacamata yang mulai mengeluarkan batangan kemerahannya dari boxer, disusul yang lain, semuanya memamerkan keperkasaan mereka dengan bangga. Kenapa mereka santai sekali hah?! Kenapa tidak ada rasa malu? Kebersamaan sih kebersamaan... tapi ini terlalu extreme.

Aku tertunduk dengan dengan wajah memerah maksimal. Aku tidak kuat! Aku tidak kuat!
Parahnya lagi Hasan mencolekku, “Buka celanamu, de. Biar bisa kita mulai lombanya.”

Mataku membulat, “Lo-lomba?”

“Iye lomba ngocok... Siapa yang paling tahan lama hehe...” Rendra mulai menaik turunkan tangannya di penisnya.

Nicky pengusap kepalaku, “Gak usah takut. Kami siap membantu...”

Aku menggelengkan kuat sambil memeluk tasku lebih erat. Suer aku panik sekarang! Masa iya hari pertama langsung terbongkar kedokku, “Gak! Tolong... aku gak siap! Lain kali ya... aku janji... jangan sekarang please please please!” lirihku memohon mati-matian.

Samuel mendongak menatap wajahku, “Wah bertingkah nih anak. Belum ngerasain gue ospek ya..” ucapnya mengancam. Sam mulai bangun dari pahaku, dia menatap lekat sehingga membuat aku yang terintimidasi hanya bisa tertunduk. Dia remas daguku dan membuatku mengangkat kepala, jari dari tangannya yang lain mengusap bibirku, “Manis juga bibir nih anak..” ucap Sam sambil menatap teman-temannya bergantian.

Nicky menepuk wajahnya, Rendra tergelak tawa sambil memegang perutnya, “Show time! Hasek!” seru Rendra.

“Kumat modus lu, Sam kalau liat yang manis-manis...” Hasan menjitak Sam pelan.

Sam hanya tersenyum dengan bibir memiring, “BJ-in gue!’’

Mataku membulat shock. Gila ya, masa baru ketemu disuruh ngemut. Nicky menatap tidak suka, “Sam! Cukup! Gue gak suka ngeliat pemandangan homo lagi.”

Rendra terkekeh, “Chieee korban pertama Sam ngamuk..” heh? Si imut Nicky juga pernah blowjob Samuel... astaga~~

“Apa lu Nick? Mau gue umpanin lagi hah mulut lu?” tantang Sam.

Nicky langsung melempar kamus tebal ke muka Sam, Saat Sam ingin bangkit menantang perang, Hasan menahan dadanya. “Jangan rusak horny gue! Gue hukum lagi otong kalian, mau hah?”

“Duh ampun bang, otongku gak sanggup menampung kemesumanmu.” Sam langsung menangkup kedua telapak tangannya menjadi satu.

Rendra membisikiku mesra lagi, “Hasan senior besar disini, kalau bandel siap-siap di-BDSM kaya si Sam dan Nicky dulu.” Hidungku terasa ingin mimisan membayangkan Sam yang di-BDSM.

“Udah! penis gue nyut-nyutan minta jatah. Buruan...” Sam mulai menekan kepalaku membungkuk.

Aku menggeleng kuat, “Aku gak bisa!”

“Bisa! Lu bisa!”

“Jorok! Suer aku gak pernah...”

“Cobain dulu, nih gue pasangin kondom buat pemula.”

Hasan menepis tangan Sam dengan tegas, “Udah lah dek... jangan terlalu keras di hari pertama, ntar kabur lagi anak orang. Dede Leo masuk aja ke kamar kalau gak nyaman.” Ucap Hasan sedikit menenangkan batinku.

Tubuhku yang masih gemetaran mulai bangkit sambil memeluk tas, Sam terlihat sedikit kecewa dengan melipat tangannya di depan dada. Tapi mendadak ada suara dobrakan dari arah pintu belakang menatap mereka berempat dengan penis mengacung. “Astagfirullah... bener-bener kosan maksiat. Kalian memang perlu diruqiah ya!” lelaki yang baru muncul dengan hebohnya itu menepuk jidat Rendra, dengan mulut komat-kamit dan mata terpejam dengan gaya seolah ustad ahli ruqiah.

Nicky tertawa, Rendra yang emosi langsung mengibaskan bulu keteknya membuat cowok baru itu berlari-larian. Kosan langsung heboh seketika hingga akhirnya Hasan berteriak, “AAAAAAAAKHH GUE KELUAR!”

Semua mata teralihkan pada Hasan, “Kapan lu ngocok? Gak ajak-ajak nih...” jawab Nicky.

“Kalian kebanyakan bacot, takut horny gue hilang jadi aku buru-buru aja hehe..” jawab Hasan dengan wajah tanpa dosa.

Sam bangkit, tersenyum lembut mendatangi pemuda baru itu. Tatapan yang tidak biasa, itu terlalu romantis, “Aris, ada apa?” tanya Sam lembut sambil mengecup bibir Aris singkat.
Hatiku langsung retak seketika.

“Gila ya! Tolong Sam, lu homonya jangan frontal depan umum!” teriak Nicky frustasi.

Hasan mengangguk-angguk, “Iya Sam, jangan terlalu publikasikan ke-homo-an lu. Ntar Nicky ketularan.” Nicky ternganga lebar mendengar pernyataan Hasan, dia tendang Hasan dan Hasan hukum dia dengan ‘kocokan’ maut yang membuat Nicky kejang-kejang seketika.

Rendra menatap ketus ke arah Aris, “Bawa ke kamar sudah temen sekampus lu yang rese ini, Sam.” Pernyataan Rendra menjawab pertanyaan di benakku, ternyata Aris bukan anak kosan ini melainkan hanyalah teman Samuel yang berkunjung atau bahkan pacar!!!

Aris mendorong dada Sam pelan dan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri, “Gue datang gak Cuma buat Sam. Gue datang buat kalian semua teman-teman terchintaaah~~” dengan lebaynya Aris menebar kiss jauh. Mereka semua memasang wajah eneg. Hingga akhirnya Aris menebar kertas-kertas yang ada di dalam kresek besarnya itu. “Gue di suruh sebar selebaran ini sama pak ustad di komplek gue.”

Rendra membaca judul selebaran itu, “Bergabunglah dengan remastoket?”

Aris tersenyum baik, “Ho’oh, REmaja MASjid TOlak KemaksiaTan.”

“Bedebah! Namanya aja udah maksiat...” teriak Hasan dengan nada pemain kolosal.

“Itu namanya kreatif!” tepis Aris.

Rendra sok mengusap air matanya, “Berarti gue selama ini salah gabung remaja masjid. Harusnya gue gabung ini supaya bisa remas toket eh tolak kemaksiatan maksudnya. Tapi apalah daya aku hanyalah duda beranak tujuh sekarang.” Rendra langsung mendapatkan geplakan dari Sam.

Sam menyatukan kedua tangannya, “Ya Tuhan, berikanlah orang-orang ini jalan yang benar. Berikan GPS, google maps, kompas atau apa lah agar mereka tidak tersesat. Amin.”

Hasan memegang dagunya, “Barusan aku hubungi nomer yang ada di selebaran katanya ‘Maaf nomer yang anda tuju sedang remas toket.’ Loh ada apa ini Ris!!!”

“Ah udah ah makin ngaco... Mending gue ikutan ngocok bwahaha..” Aris mulai duduk membaur dengan yang lain. Tapi mendadak matanya seolah shock menatap aku yang berdiri di pojokan, “Siapa nih? Kok gue baru liat...”

“Aku Leo, anak baru disini..” desisku yang masih memeluk tas.

Aris memberikan senyuman yang berbeda, ada raut keseriusan dari garis wajahnya sekarang, tapi Sam langsung memeluk Aris erat dari belakang dan menatapku tidak suka. Ini benar-benar menusuk, “Ngapain lu masih disini?! Masuk sana!” usir Sam. Aku mengangguk cepat dan berlari kecil menuju kamarku.

Saat masuk ke kamar, tersedia sebuah kasur, lemari kecil dan meja kecil dan syukurlah lumayan bersih jadi bisa sedikit nyaman. Aku langsung menghempaskan tubuhku ke kasur yang ternyata ada per menyembul yang menyakitkan pinggangku. Suck... kasur butut! Terlihat HP-ku lampu led-nya berwarna hijau. Tanda ada bbm.

-Leonita gimana misimu?- tanya sahabatku di kampus.

-Kacau... Sam homo ternyata. Nyaris saja aku disuruh ngemut punya dia karna dia beneran ngira aku cowok.- balasku penuh emosi.

-WHAT! Gila ya.. pantesan dari dulu dia cuek sama cewek. Eh tapi jangan putus asa, kamu kan ganteng jadi ada peluang kan dapatin dia? Kamu aja hari pertama sudah nyaris dapatkan batangannya.- aku mendengus kesal membaca bbm Desi itu. Dasar gila. Gak ada ya orang di dekatku yang bisa sedikit waras.

KREAK...

Suara decitan pintu terbuka membuatku bangkit dari pembaringan. Aris masuk ke dalam kamarku kemudian menutup pintunya, “Lucu ya... mereka tidak ada yang menyadari siapa kamu.” Keringat dingin bergulir di keningku. “Angin apa yang bikin cewek manis kaya kamu menyelinap di kosan cowok?”

Aku menelan air liurku dan merasakan ketegangan di tiap syarafku

TBC

Part 3

image-url-apps
Kosan Ngocokers (PART 3)

BY: Lian48


Hope u like it~~

“Lucu ya... mereka tidak ada yang menyadari siapa kamu.” Keringat dingin bergulir di keningku. “Angin apa yang bikin cewek manis kaya kamu menyelinap di kosan cowok?”

Aku menelan air liurku dan merasakan ketegangan di tiap syarafku, “Aku bukan cewek! Aku cowok.. yaa kalau mukaku manis kan juga banyak cowok yang berparas feminim karena bawaan genetik.” Aku bersikeras akan kebohonganku.



Aris memutar bola matanya, “Sudahlah mengaku saja, sebelum aku buktikan sendiri bahwa kamu cewek.” Aku merangkak mundur ketika dia mulai duduk di atas kasurku.

Aku benar-benar tegang, bagaimana bisa dia tau jati diriku? “Apa yang harus diakuin coba! Sudahlah kamu kurang kerjaan, buat apa urusi aku?”

Aris menangkap betisku, “Yaah aku kan kepo. Lagian kau menarik, kalau beneran cewek kan bisa aku taksir. Hehe... sayangnya aku cowok yang terlalu peka akan kehadiran cewek manis, jadi kamu gak bisa bohongi instingku.”

Aku menggerak-gerakkan kakiku, berusaha terlepas, “Apaan sih! Kamu kan sudah punya Sam.”

Aris mengerutkan dahinya, “Yaelah aku gak homo kali. Aku masih doyan cewek, Yaa walaupun dia homo dan sering bilang cinta ke aku, aku gak jauhin dia karena aku sayang dia sebagai sahabat.”

“Normal apanya! Tadi pasrah dicium.” Aku terus menyerangnya.

“Ya gitu lah Sam, semua cowok disosor. Udah gak heran ah.. lagian itu ciuman singkat yang gak ada artinya buatku, gak ada getaran apapun dan gak akan merusak kenormalanku.” Aris tersenyum manis membuat lesung pipi itu memperindah wajahnya yang teduh. Aku terdiam merenungkan ucapan Aris tapi dalam sekejab pemuda itu sudah menindihku saja.

“Huaaaa!!! Ngapain sih!!” teriakku panik yang kuharap bisa terdengar sampai keluar.

Aris tersenyum licik, “Aku ingin membuktikan ucapanku kalau kamu cewek.. kamu sih nakal pake acara ngotot, aku buktiin sendiri ya. Awas kamu.” dia mulai memasukkan tangannya ke dalam kaosku, aku menepis sebisa mungkin walau tangannya yang lain mulai membelengguku. Aku terpejam dan rasanya suaraku tercekat ketika untuk kali pertama ada cowok yang mendaratkan tangannya di dadaku meskipun masih terbungkus erat oleh korset dada.

BRAK!

Pintu terdobrak rupanya ada yang mendengar teriakanku tadi, tapi Sam menatapku ketus dan menjambak rambut Aris, “Katanya ada perlu sama gue, kenapa malah sama anak baru hah?” ucapnya tajam.

Aris tersenyum salting, “Ehehehe... Cuma nyapa anak baru bentar.”

Aku buru-buru bangkit dari ranjang dan berlari ke pojokan sambil memeluk dadaku sendiri, jantungku masih berdegup kencang dan sangat memburu. Cowok asing itu sukses membuatku kacau sehebat ini. Dengan sadis Sam menyeret rambut ikal Aris keluar menjauhi kamarku.

Aku tertunduk menyembunyikan wajahku di balik lutut, aku merasa trauma dan langsung memberikan kesan buruk terhadap cowok. Aaaaakh!! Sial! Pikiran rumit macam apa itu! Aris mungkin salah satu cowok yang brengsek tapi yang lain belum tentu begitu.


**

Dengan handuk di bahu, baju ganti dan peralatan mandi yang aku letakkan dalam gayung, aku berdiri di depan kamar mandi. Mengantri untuk mandi karena hanya ada dua kamar mandi dan dua WC dalam kosan ini dan semuanya penuh, yaa memang sudah jam-nya mandi sore. Mungkin lain kali aku harus lebih cepat agar enakan.

Aku mulai girang saat ada salah satu kamar mandi terbuka, terlihat Sam keluar dengan perut sexynya yang mengkilat oleh air, bicepnya terekspose indah saat dia mengangkat lengannya untuk mengeringkan rambut. Aku harus gesit jika mau mendapatkannya! Kukumpulkan keberanian penuh, “Sam, shampo lu baunya enak... bagi dong..”

Tapi dia hanya menatapku sekilas dan berjalan lurus mengabaikanku begitu saja. HAH! Begitu saja? Astaga jangan-jangan Sam masih marah dan menganggap aku sekarang saingannya? Gak! Sam gak! Aku bukan sainganmu, aku justru orang yang menginginkanmu selama bertahun-tahun! Aaarghh Aris sialan memang, awas saja!

Usahaku yang berusaha mengejar Sam membuat kamar mandi kembali diserobot, kali ini sama Nicky, “E Eh!” teriakku dengan tangan memanjang ke arah pintu seolah tidak ikhlas harus menunggu lagi.

Nicky yang belum menutup pintu sepenuhnya melirikku, “Eh Leo mau mandi juga? Boleh nih kalau mau mandi bareng...”

Aku menggeleng lemah, ya walau pemuda itu semakin manis jika tidak mengenakan kacamata seperti sekarang, tetap saja dia cowok. Aku ternganga shock saat kamar mandi ke dua dibuka, ada Hasan yang keluar bersama seorang cewek. Hah mereka memakai kamar mandi untuk mesum? Aku benar-benar bergidik. Nicky mengibaskan tangannya, “Namanya juga kosan bebas. Udah makhlumi aja, Hasan gitu haha.” Aku hanya mengangguk lemah tanda memaklumi keadaan.

Saat mencoba masuk ke kamar mandi, perutku justru mules. Lagi-lagi ritual mandi tertunda karena aku harus ke WC yang terpisah dengan kamar mandi. Aku menurunkan celana dengan terburu-buru, baru berjongkok beberapa detik malah ada yang menggedor-gedor pintu, “Eh siapa di dalam? Bisa ambilin pisau cukur gue gak? Barusan gue cukuran jembut trus ketinggalan.” Terdengar suara Rendra dari luar.

“Entar aja deh! Ini lagi darurat!” teriakku dari dalam.

Tapi sialnya Rendra malah melompat ke atas dinding dan menghintipku karena WC-nya tidak beratap, “Eh si manis Leo lagi di wc hehe..”

Aku shock hebat, kurapatkan pahaku dan menyiramnya brutal, “GILAAAA!”
Ini baru hari pertama tapi aku sudah disuguhi terlalu banyak shock jantung dari kosan ini. mandi juga harus aku laksanakan dengan cepat karena hatiku was-was kalau ada yang hintip lagi. Dalam kamar mandi itu juga aku mengganti pakaian, takutnya nanti mereka pasti heran jika aku memakai handuk hingga menutupi dadaku tidak seperti kebanyakan lelaki yang hanya handukan di pinggang.

Masuk ke dalam kamar lagi-lagi aku harus shock karena Nicky yang ada di kamar sedang mengubek-ubek tasku, “KAK NICKY NGAPAIN!’’ teriakku panik.

“Santai dek, aku nyari minyak kayu putih nih, yang lain gak punya jadi aku cari disini.”

“Aku gak punya aku gak punya!!” sialan mereka ini benar-benar tidak menghargai privasyku.

Nicky terdiam saat menemukan sesuatu dalam tasku, nah kan. “Pembalut?” tanyanya heran.

“I-itu... itu punya adek! Dia ngekost di sekitar sini juga, tadi dia nitip di jalan...” untung aku berpikir cepat walau terdengar panik.

Nicky terlihat percaya saja, “Ohh gitu ya rupanya... haisssh aku lagi masuk angin nih, gak enak banget kalau gak ada minyak kayu putih dek. Kerokin dong..” cowok berkacamata itu melepas pakaiannya dengan santai dan berbaring di kasurku, memamerkan punggungnya yang mulus dan boxernya yang sedikit melorot membuatku bisa menghintip sedikit bongkahan di balik kain itu.

Aaaarrghh cowok kenapa hidup kalian begitu extreme hah! Tapi aku dulu pernah dengar dari temanku bahwa cowok memang memiliki solidaritas yang lebih kuat dibanding cewek, jadi mungkin saja hal seperti ini bentuk wellcome mereka terhadap aku. Aku perlu membiasakan diri, walau tomboy sejak SMA, teman-teman cowokku selalu memperlakukan aku dengan sopan bahkan melindungi aku.

Beda halnya dengan sekarang, aku bukan membawa diri sebagai tomboy tapi membawa diri sebagai cowok dan terima resikonya jika diperlakukan seperti cowok. Be brave dan jangan feminim!

Gak ada ruginya kan kerokin cowok uke. Kecuali kalau dia bisa nyerang dan menghilangkan kesucianku.

TBC
image-url-apps
Kaya'nya part 1 dapet dr Copas, bukan asli tulisan TS.
Keliatannya copasnya jg pake HP, soalnya pengalaman ane jd admin di fp bola copas'annya jg berantakan kaya' gitu klo gak di edit.
.
sorry jg kalo tebakan gw salah. emoticon-Big Grin
.
But, lanjutkan. emoticon-Smilie
image-url-apps
emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin sakit perut ane gara2 ngakak
image-url-apps
hanjerr seruu emoticon-Big Grin
image-url-apps
Quote:


Gue emang copas tapi dr blog gue. Tetap asli tulisan gue kok

image-url-apps
Quote:


Hoho makasih

image-url-apps
Quote:




Untung cuma sakit perut gak yang lain
image-url-apps
Kosan Ngocokers (PART 4)

By: Lian48

Enjoy it~

“Pizza datang!” teriak Aris ketika masuk ke ruang tamu kosan sambil membawa enam kotak pizza dengan berbagai rasa. Semuanya heboh bersorak. Aku hanya menggeleng dan melanjutkan menyapu. Aku bersihkan bangsal ini semanusiawi mungkin karena mereka terus memaksaku untuk membaur maka aku harus nyaman disini.



Setelah memasukkan sampah dari sekop kedalam kresek besar, aku ikut berkerumun duduk di sekitar mereka, aku mencoba tidak tau malu layaknya cowok, berusaha berperan sebaik mungkin. Kuambil pizzanya duluan sebelum yang lain mengambil, sukses dapat jeweran dari Hasan, “Yang tua duluan de!”

“Yang lapar duluan wkwkwk..” aku memasang wajah tanpa dosa.

Aris tersenyum teduh ketika menyeka ujung bibirku yang belepotan, “Kamu lucu ya..” ucapnya sambil tertawa pelan. Aku mundur beberapa langkah karena merasakan efek dahsyat itu lagi. Sialan aku kesetrum! >.<

“Makan!” ucap Sam ketus sambil menyuapi Aris dengan bringas, dia melampiaskan kekesalannya. Aku benar-benar tidak nyaman, orang yang ingin aku dapatkan hatinya justru membenciku.

Aku mengambil potongan pizza yang ada jagungnya dan menyemprotkan banyak saos pedas, “Sam, kamu suka jagung dan rasa pedas kan? Ini special dariku.” Ucapku ceria sambil duduk mendekatinya.

Dia menaikkan salah satu alisnya, “Tau dari mana?” aku hanya terdiam, bingung mau jawab apa. “Hm... waktu smp memang suka. Tapi sekarang gak, jadi lu habisin aja sendiri.”

WHAT! Gile, aku tidak tahan pedas, yang benar saja. Tapi Sam menatap diktator, menggerakkan dagunya sebagai kode perintah. Dengan wajah suram aku menggigit pizza pedas itu dan menelannya berat. Bibir dan mulutku rasanya terbakar, aku mengibas-kibaskan mulutku, “A-air eeekh...”

Dengan mulut penuhnya Rendra mengarahkan, “Di dapur, tong...”

Dengan cepat aku berlari ke dapur, mana pula gelas bersih! Semua gelas bertumpuk di pencucian piring dengan kondisi menggenaskan. Terpaksa aku membungkuk memposisikan mulut di bawah corong air. Selesai minum aku mengusap bibirku dengan bahu, shit masih berasa terbakar. Tega banget Sam, aku merasa down kehabisan harapan.

“Sam sedikit keterlaluan ya..” suara Aris membuatku menoleh ke belakang. Dia mendekat dengan menyeka wajahku yang berkeringat menggunakan tissue. “Bibirmu tambah menggoda kalau kepedasan begini..” dia menekan jempolnya pada bibirku. Aku membeku karena jantungku berdetak brutal. Aris mengusap poniku dengan lembut, mengacak-acak rambutku kemudian menggesekkan hidung kami, “Kamu bener-bener ngegemesin.” Ucapnya seolah ingin menggigitku. Aku memejamkan mata sambil meremas meja yang ada di belakangku.

Perlahan aku merasakan benda hangat dan lembab menyapu bibirku, tubuhku sedikit terambung karena shock tapi dia meremas bahuku cukup kuat. Kecupan lembut yang Aris berikan berubah menjadi lumatan, “Eeengh.. Ris...” aku menggerang pelan membuatnya justru memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.

Saat otakku mulai aktif, aku mendorongnya kasar, “Sial ciuman pertamaku!”

Aris tertawa gelak sambil memegangi perutnya, “Wahahaha... baru pertama kali ciuman? Pantas saja bibirmu kaku. Sini aku ajari agar lebih rileks.”

Aku menggeleng, “A-aku lapar!” dengan cepat aku melangkah meninggalkan dapur.

Aris menangkap lenganku dan menghentakku ke dalam pelukannya, aku bisa menyimak bagaimana dia menghirup aromaku seolah menikmati tengkukku yang menempel dengan wajahnya. Aku memerah tapi tangannya yang ada di pinggangku membuatku kesulitan bergerak. Aku tidak bisa... dengan bringas kuinjak kakinya kemudian berlari cepat keluar.

“YAAAAH KOK DIHABISIN! Kan aku masih lapar...” aku meringis sedih melihat kotak-kotak pizza yang sudah kosong, mereka menjilati jari mereka dengan rakusnya.

“Telat sih...” ejek Rendra yang sedang mencabuti bulu hidungnya.

Aku menggigit jari kesal tapi ada yang merangkulku dari belakang, “Hahaha.. udah jangan sedih, ayo kita cari makan di luar.” Bujuk Aris.

“Gue ikut..” jawab Sam dingin.

Aris memasang wajah kecewa, “Ayolah bro, kasih gue kesempatan berdua aja dengan Leo ya?” Aris mencolek daguku. Aku hanya tertunduk.

“Awas ye kalau Leo pulang dengan kondisi gak lengkap, gue gorok lu, Ris. Semua adek disini tanggung jawab gue.” Tegas Hasan.

“Ah gak asik...”

Nicky mengangkat sendal untuk dia lemparkan, “Oh jadi lu mau bikin Leo pulang dengan kehilangan sesuatu hah? Siap-siap kami gangbang!”

Rendra merangkul Nicky dan mencubiti pipinya gemas, “Chiee yang udah belok doyannya main gangbang..” dan justru sekarang mereka berdua yang bergulat di lantai.

Aris mengangkat jempolnya, “Temen gak makan temen kok, kita teman kan Leo?” tanya Aris menatapku dengan senyuman menggodanya. Aku hanya mengangguk.

“Jangan kecewain gue Ris..” desis Sam sedih. Aku jadi merasa tidak enak.

“Jangan lewat dari jam 11 malam, gue tungguin nih ya. Kalau telat gue kunci bangsalannya.” Ancam Hasan.

Aris hanya mengedipkan mata, sebelumnya aku ingin meminta maaf pada Sam Tapi Aris keburu menyeretku keluar dari kosan ini, membawaku ke dalam mobil putihnya yang elegan. Ternyata Aris dari keluarga berada tapi kelihatannya dia bukan orang yang sombong dalam memilih lingkungan pergaulan. Mau saja berkumpul dengan kami anak kosan dekil dan kumuh. Saat ada pengamen di lampu merah, aku cukup shock dia memberikan uang lima puluh ribuan dan mengusap kepala anak pengamen itu. Dia terlihat penyayang.

“Mau makan pizza lagi, Leonita atau Leona?”

Aku terbatuk mendengar pernyataannya, “A-aku mau makan sate saja di pinggir jalan.”

“Umm kalau begitu aku cari parkiran dulu. Kita jalan kaki menuju lapak satenya gak papa kan? Takut mobilku diderek kalau parkir pinggir jalan hehe...”

Aku tersenyum canggung, “Hehe gapapa Ris, biar lebih leluasa juga menikmati pemandangan.”

Aris mencari sebuah taman yang memang disediakan tempat parkirnya, semua kondisi sejauh ini aman saja, Aris juga mampu membuat perasaanku lebih tenang dengan obrolannya yang ringan dan bersahabat, tidak ada lagi serangan mendadak meskipun dalam mobil tadi sangat was-was. Kami mulai berjalan kaki melintasi puluhan lapak-lapak jajanan pinggir jalan, didominasi bakso dan nasi goreng, ada seafood juga. “Nah tuh ada asap, kayanya sate tuh..” ucap Aris sambil menunjuk lapak di depan.

Aku berjingkak girang sambil menepuk tangan, “Asik! Sudah laper nih..”

Tapi mendadak ada orang misterius yang menabrak Aris, “Sialan, copet!!!” teriak Aris yang merasakan dompet di celananya ditarik orang itu. Pencopet itu berlari cepat ke dalam gang kecil, kami juga berlari kencang untuk mengejarnya, pencopet itu menjatuhkan drum, kotak-kotak maupun sampah di pinggir jalan untuk menghambat lari kami, tapi aku melompat lincah ala pemain parkour, yaa aku memang berlatih parkour sudah tiga tahun. Tapi Aris cukup terhambat oleh gangguan itu, terpaksa aku membantunya berdiri dulu.

Kami sudah kehilangan jejak karena gang ini seperti labirin yang memiliki banyak cabang. Aku pun memanjat dinding gang dan melihat kemana arah larinya copet itu. Kutarik tangan Aris untuk melanjutkan lari kami. Saat pencopet sudah terlihat, Aris mengambil balok di tanah dan melemparnya kuat, yes tepat mengenai bahu si copet.

Dia yang tersungkur kami hajar sekuat mungkin, sayangnya dia cukup pandai bela diri hingga kami cukup kewalahan meladeninya, aku memberikan tendangan tinggi hingga sepatuku terpelanting liar, disusul lutut Aris yang menyerang kemaluan si copet. Dan... KO!

Aku grepe-grepe badan si copet untuk mencari dompet Aris, “Nih! Coba cek utuh gak?”

Aris mengacak-acak rambutku gemas, “Kamu brutal juga ya haha..” sepertinya dia gagal mengendalikan diri kali ini, dia menarik bahuku merapat hingga pipiku menyentuh bibir lembabnya.

“Astaga... sepatuku tadi terpelanting kesana..” aku mencoba melarikan diri. Aku berdiri untuk mengambil sepatu tapi aku Cumiik ketika merasa ada benda tajam yang menancap kakiku, “Aaaakh... keinjak kaca pecah nih..”

“Yaampun, Leo. Lain kali hati-hati.” Dia terlihat khawatir, dicabutnya sekeping kaca yang masih menancap di kakiku. Darah segar langsung berceceran deras, Aris terpaksa merobek kemejanya untuk dibalutkan pada kakiku. Dia mengusap kaki hingga betisku dan menatapku sayu, aku yang salah tingkah hanya menunduk. Lagi-lagi dia menyihirku.

“Bisa jalan gak?’’

Aku mencoba memakai sepatuku dan merintih kesakitan, saat bangun jalanku pincang itu pun sakit. Aris hanya geleng-geleng kepala kemudian berjongkok membelakangiku, “Apa?” tanyaku bloon.

Dia menepuk bahunya, “Naik, biar aku gendong...”

Aku tersenyum simpul. Saat dadaku menempel dengan pundaknya, tanganku melingkar pada lehernya dan indra penciumanku hanya membauinya rasanya di dalam dadaku terasa ada ribuan bunga yang merekah indah dan akan meledak. “Maaf ngerepotin Ris...”

“Gak lah, justru aku sangat berterimakasih kamu sudah membantuku menangkap copet. You’re my hero... uh.. ternyata kamu berat juga ya.. haha...” ejeknya

Aku memukul kepalanya pelan, “Nyebelin!”

“Huuu... kecil-kecil kok berat, makannya batu ya...”

“Lagi-lagi ngejek, yaudah kalau berat aku jalan kaki saja.”

Aris menggelitiki betisku yang dia pegang, aku sampai menggelinjang, “Yaelah gitu aja ngambek. Aku Cuma bercanda sayang..”

Shit! Aku lagi-lagi memerah. Aku Cuma bisa terdiam dengan menyembunyikan wajahku di tengkuknya, Aris benar-benar hangat, aroma maskulinnya juga membuatku meleleh hingga akhirnya aku merasakan kantuk yang luar biasa dan semuanya gelap.

-Aris POV-

Tidurnya nyenyak sekali sampai aku tidak tega membangunkannya. Sate bukan lagi kebutuhannya tapi aku rasa dia butuh rumah sakit. Saat aku sendarkan dia di mobil, aku bisa melihat wajah polosnya tertidur, dimana bibir mungilnya yang segar ternganga, bulu matanya yang tebal terekspose dan pipi putih kemerahannya membuatku sangat gemas. Kulumat pipinya dengan lembut, rasanya ingin aku gigit bakpau segar ini.

Tidurnya sangat nyenyak ternyata, gigitan pelanku tidak membangunkannya. Aku usap kepalanya dengan lembut, aku juga menarik bahunya untuk aku peluk. Jika orang bilang ganja adalah candu yang memberikan keindahan, maka bagiku dia adalah keindahan yang menjadi candu. Dadaku selalu berdebar, aku selalu antusias dan tidak pernah suka berjauhan dengannya.

Sesampainya di rumah sakit, aku juga mengambil kamar rawat inap untuk diriku sendiri. Kakiku melepuh berjalan sangat jauh dari gang labirin hingga parkiran mobil, badanku juga terasa remuk. Kurasa besok badanku bisa saja drop.

Meskipun sudah jam 2 pagi, aku coba menelepon Hasan untuk memberitahukan kabar kami agar dia tidak menunggu, “Assalamualaikum San.”

Terdengar Hasan menyahut dari seberang, “Waalaikumsallam pak ustad, udah jam berapa nih? Kok belum pulang! Wah minta disunat emang.”

“Sorry banget San, gue gak bisa antar Leo malam ini. kami di rumah sakit.”

“RUMAH SAKIT? Kenapa bisa?” setelah teriakan heboh Hasan aku bisa dengar langkah kaki dan suara-suara lain di ruangan itu. Pasti mereka semua berkumpul.

“Tadi ada insiden kecil... Tapi udah gapapa kok.”

Terdengar suara Nicky menyerobot, “Tunggu ya kami kirim pasukan kesana segera!”

“Gak usah guys... Leo sudah tidur nih. Besok aja ya, aku juga mau istirahat.”

Sekarang yang muncul suara Rendra, “Salam ya sama malaikat maut kalau ntar lu dijemput, bilang Rendra dijemputnya entar aja, terlalu ganteng soalnya.”

“Sarap lu! Haha...”

Sam juga ikutan rupanya, “Lu gapapa kan? Dimana yang luka? Atau ada yang patah?” tanya Sam panik.

Aku tersenyum, “Gak separah itu, aku Cuma kecapean dan sedikit cidera aja Sam. Gak ada yang berbahaya.. oh ya gue mau tidur duluan ya guys...” aku tau Hasan menyalakan speaker.

“I love you, Ris...” desis Sam yang disambut sorakan oleh teman-teman.

Aku terkekeh pelan, “Thanks Sam. Sweet dream..”

TBC
Julian di 05.07
image-url-apps
Wahh Ada Cerita Baru Ijin Nenda Gan emoticon-Jempol
image-url-apps
Thred yg terlupakan emoticon-DP