alexa-tracking

One Fine Day..

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54e19bbfbecb17255e8b4573/one-fine-day
One Fine Day..
Halo Agan dan Aganwati,
Ini thread pertama dari seorang SR lama dikaskus.
Sebenernya nggak tau mau bikin di STFH atau forum Wedding.
Untuk diforum Wedding kayanya ane blm butuh konsultasi.
Di forum SFTH, cerita ini bentuknya narasi.

Cerita ini cuma untuk berbagi ya..
Semoga ga ada kisah-kisah seperti ane lagi.

Mohon Bimbingannya Suhu-suhu disini.


Don’t Hate, Don’t Judge.
You’ll Never Know What Someone Have Been Through
.


Spoiler for index:

Prolog

Maret, 2010

Ibu memacu cepat mobil yang dikendarainya dengan sangat panik.
Sedangkan aku tidur dibaris kedua dengan menahan erangan dan sakit sambil memegang perutku yang hendak kontraksi hebat.
Siang itu, dengan seragam sekolah yang masih lengkap, Ibu menjemputku dari sekolah seusai aku mengerjakan ujian Biologi dan Bahasa Indonesia. Tepatnya, Ujian Nasional.
Sambil mengerang, aku minta Ibu untuk tetap fokus dalam berkendara.
Walau ternyata erangan yang kutahan sebisaku, tak cukup untuk menggantikan kesakitan kontraksi ini.


Akhirnya waktu ini tiba juga,
setelah berbulan lamanya aku dirumah. Menahan amarah, kebimbangan, ketakutan, malu, dan semua rasa kebencian yang mendalam.
Akhirnya sampai juga kami disebuah rumah sakit Ibu dan Anak yang berada disalah satu kota kami.
Rumah sakit ini sangat tidak asing. Disinilah semua itu dimulai. Ditempat ini setiap bulannya aku rutin datang untuk memeriksakan keadaan dan tumbuh kembang janinku.

Rumah Sakit

Desember 2009

Ditempat ini pula pertama kalinya tangisan yang penuh amarah dan kehancuran pecah.
Aku mengingat dengan jelas ketika tepatnya 4 bulan yang lalu Ibu memaksaku untuk melakukan USG. Untuk mengetahui usia kandunganku yang sudah memasuki pertengahan trimester kedua.
Kaget, sedih, bingung dan kecewa yang tampak secara jelas dikedua wajah orang tuaku saat itu.
Tangisan pun pecah seketika, kulihat Ibuku dengan tangis yang sangat hebat berusaha menenangkan Ayah-ku. Ayah yang notabene adalah seorang yang tegas dan merupakan pegawai dilingkungan tentara, saat itu kulihat dadanya yang bidang bergetar. Saat itu kulihat pertama kalinya Ayah meneteskan air mata, menahan kekecewaan atas anak kesayangannya yang telah menduduki wajahnya.
Aku sangat mengutuk kejadian itu, bahkan sampai ketika aku mengingatnya saat ini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari-hari bulan Desember terasa seperti di neraka.
Setiap malam Ibuku menangis, saat siang Ibuku melamun.
Ayahku, selalu pulang cepat dari kantor dan mengurung diri dikamar.

Sejak kejadian yang mengejutkan itu, aku dirumah saja.
Sekolah baru saja memasuki semester terakhir menunggu waktu untuk Ujian Nasional.
Ayahku telah mendatangi wali kelas beserta kepala sekolah untuk membicarakan kasusku.
Mereka bersedia untuk memindahkanku (dan bukan men-DO ku), dan memberi Ayahku rujukan kesebuah sekolah swasta.
Kuakui, Ayakhku sangat concern terhadap pendidikan yang kujalani.
Aku berhasil membanggakan Ayah dengan masuk kesebuah sekolah negeri ternama yang berada di kota X.
Prestasiku juga tidak mengecewakan.
Itu sebabnya Ayah sangat memperjuangkan agar aku tetap dapat menjalani sisa akhir sekolahku, walau harus menyogok mahal sekolah swasta agar aku tetap dapat mengikuti Ujian Nasional. Ia tak mau aku mengulang walau hanya dalam setahun.

I can’t thank more enough for everything that you’ve done for me, Mom and Dad..emoticon-Berduka (S)

KASKUS Ads

Anak Kesayangan Ayah.

Dalam percakapan malam yang sangat menguras emosi itu, Ayah dan Ibu memberikanku banyak opsi.
Menikah dengan Bapak dari janin yang kukandung, meneruskan sekolahku dan tetap menutupi kehamilanku, sampai opsi untuk diungsikan kerumah saudara yang berada daerah. Namun kami sangat tidak menginginkan adanya aborsi maupun pembuangan bayi sama sekali.


Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku juga seorang wanita.
Dilahirkan dengan didikan yang keras dari Ayah yang kerap kulihat dengan mata kepalaku yang tidak segan main tangan dengan kakakku yang sering melakukan kesalahan. Aku sangat takut dengan Ayah.
Tapi Ayah sangat menyayangiku, dan dari situlah kerap keluar stigma bahwa aku adalah anak kesayangan Ayah.
Kakakku-pun selalu berusaha menjahiliku untuk membuat jengkel.
Perbedaan umur terpaut 5 tahun membuatku selalu kalah dalam setiap pertikaian yang dimulai kakakku.
Kami selalu bertemu untuk bertengkar.
Aku-pun menyadari bahwa aku sangat ingin mempunyai seorang kakak yang benar-benar menjadi sosok kakak untukku, bukan musuh.

Latar Belakang

Pernah satu ketika ketika aku duduk disekolah menengah pertama aku mendapati kakakku melakukan hubungan seksual tepat diruang tamu dengan pacarnya. Dia berusaha merayu dan sedikit mengancam agar hal itu tidak bocor kepada Ayah dan Ibu.
Dan ya, aku menurutinya.
Sejak saat itu pandanganku sangat terbuka mengenai pergaulan jaman sekarang.
Aku mulai membenarkan seks bebas dan meluaskan pergaulanku menjadi lebih luas.

Kami sekeluarga adalah orang-orang yang supel dan memiliki banyak teman.
Aku dan kakakku cukup dikatakan agak sedikit populer dilingkungan kami, sekolah maupun rumah.
Orang tuaku juga termasuk open-minded, sehingga memperbolehkan kami memiliki tattoo.
Ah, wanita dan tattoo…

Jangan bertanya masalah agama dikeluarga kami.
Lahir dengan background ber-agama Islam, namun hidup dengan keterbebasan. (Mohon maaf, tidak bermaksud SARA)
Orang tuaku percaya bahwa dengan berbuat baik dengan sesama manusia dan lingkungannya sudah melebihi cukup untuk hidup didunia ini.
(Hal ini sangat sensitive untuk dibicarakan, mungkin ada baiknya akan saya ceritakan nanti di topic terpisah).

And It’s Begin

Aku mulai berpacaran semenjak masuk Sekolah Menengah Atas.
Merokok, membolos, dugem, sampai memakai uang sekolah adalah hal yang aku lakukan saat itu.
Populer, supel dan mudah bergaul membuatku mengenal seorang laki-laki seumuranku dari sekolah swasta yang cukup bonafit.
Kami berpacaran.
Kami melakukan seks bebas dan sampailah ketika aku mencurigai bahwa aku hamil.
Aku tidak cukup yakin, karena aku selalu terlambat haid setiap bulan. Aku tidak pernah menyangka aku hamil.



Note:
Males banget untuk nyeritain bagian ini, masih nyesel kadang.
Kenapa harus bertemu orang ini, dan ane sebodoh ini saat itu gan emoticon-Berduka (S)

Nanas

Pernah ketika aku sudah mengetahui aku hamil aku mendatangi rumah pacarku.
Rumahnya selalu sepi. Kedua orang tuanya bekerja.
Namun ketika aku bicarakan mengenai hal ini, dia hanya menyarankanku untuk membeli nanas. Dan berharap janin yang berada dikandunganku akan gugur.

Aku bersikeras akan meneruskan keberadaan janin yang sudah menyatu dalam tubuhku.
Aku marah saat itu. Aku membencinya.
Lalu saat itu dia berusaha menenangkan aku, dan malah lagi-lagi meniduriku.
Ah, terlalu mudanya kami saat itu….

Seketika aku lupa (atau bahkan pura-pura lupa) bahwa aku tengah berbadan dua.
Aku tetap bersekolah dan melakukan aktifitasku seperti biasa.
Aku tetap latihan dengan tim ekstrakulikuler dance-ku, dan bahkan menaiki wahana extreme didufan saat liburan.
Aku tahu bayi ini sangat kuat, bayi ini sangat menginginkan kehidupannya bersamaku.
Walau saat itu aku sangat berusaha tidak menghiraukannya dan menganggapnya ada.

I can handle it.

Hubungan dengan pacarku semakin menjauh.
Nampaknya dia tidak perduli, atau mungkin ingin lari dari tanggung jawab? Entahlah.
Yang pasti, apapun akan kuhadapi sendiri. Aku bisa sendiri, pikirku saat itu.
Dan bahkan dia tidak pernah menyempatkan dirinya untuk menghubungiku.
Kebencian mulai tertanam sehingga aku menghilangkan komunikasi dengan pacarku itu.
Jauh darinya membuatku tenang.


Badanku yang sangat kurus semakin menampakan kebuncitannya.
Perutku menyembul dibalik seragam yang aku kenakan.
Di saat seperti itulah aku mulai panik.
Dan serapat-rapatnya aku menyimpan bangkai, pada akhirnya bau busuknya akan tercium juga..

Terkuak

Liburan semester genap.

Saat kedua orang tuaku mulai curiga dengan perubahan bentuk tubuhku, Ibu mendesakku untuk bicara. Namun aku tetap diam dan bertahan.
Lama-kelamaan aku tak tahan, aku inget jelas hari itu hari Sabtu.
Aku beranikan diri untuk jujur dengan Ibu. Ibu yang sangat kaget mendengarnya lalu berusaha memberitahukan ke Ayah.
Ayah sangat marah dan masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Sore itu juga Ayah memaksaku untuk menemui lelaki yang menanam benih nikmat birahi dalam tubuhku.

Sampailah kita kerumahnya.
Pacarku tampak kaget karena tidak menerima pemberitaan apapun dari-ku.
Dia ketakutan, sangat terlihat jelas diraut mukanya.
Namun dia berusaha tenang, sementara saat itu aku mati-matian menahan tangis.

Pacarku pergi kedalam untuk memberitahukan kedatangan kami ke Papahnya.
Cukup lama kami menunggu.
Papahnya terlihat santai menanggapi.
Entah apa yang ada dipikirannya, mengetahui anaknya menghamili pacarnya.
Orang tuaku meminta pertanggungjawaban dan hal itu adalah hal yang paling aku berusaha coba lupakan, seumur hidupku.
Lalu kami pergi memastikan ke rumah sakit.

Dan seketika itu aku baru menyadari hidupku akan hancur.
Betapa bodohnya aku…………..


Notes:
Terakhir ane tahu, tanggapan sang Papah sangat tenang disebabkan karena pacar ane ga ngaku menghamili ane tapi temannya yang ngelakuin.
Dia meminta sang papah untuk membantunya dengan berpura-pura bertanggung jawab hanya utk membantu temennya.
Oh, pecundang…………
emoticon-Betty (S)

Decision.

Aku dihadapkan dalam beberapa pilihan sulit.
Orang tuaku sibuk mencari jalan keluar, ketika aku hanya bisa menyesali dan mengurung diri dikamar.
Aku hanya ingin bunuh diri.

Ayah dan Ibu berusaha bangkit.
Mereka mengangkatku bangkit.
Kami berusaha bangkit, kami semakin kuat.

Percayalah, keluargamu adalah satu-satunya sumber kekuatanmu.

Mereka menyodorkan opsi-opsi untuk dipilih.
Aku menjawab aku masih tetap ingin bersekolah.
Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang sudah kubenci itu, lagipula orang tuaku tidak rela melepaskanku hidup bersamanya.
Keputusan besar-pun kami ambil.

Ayah mencarikanku sekolah swasta yang dapat mengizinkanku mengikuti ujian nasional.
Sementara aku tetap mengandung dan menunggu datangnya kelahiran sang bayi dirumah.
Aku dinikahkan secara siri dengan pacarku, hanya untuk formalitas belaka didepan tetanggaku.
Keluarga besar dari pihak Ibu dan Ayah tidak mengetahuinya.
Kami menutup rapat-rapat dari dunia luar.
Dalam kesedihannya dan kekecewaan yang mendalam, Ayah dan Ibu berusaha menguatkanku.
Kami saling menguatkan.

Sementara aku dirumah menjaga bayi dan belajar untuk Ujian Nasional, aku tidak tau kejutan apa yang telah menunggu didepanku….
image-url-apps
Kaya na menarik nih.. ud ane rate sis..
Quote:


makasih banyak gan, dimaklumin ya kalau ada yg kurang. Masih nubiemoticon-Blue Guy Peace
lanjutkan sis, ijin gelar tiker dimari, asik nih ceritanya. Btw ane lahir thn 86 dan besar di era 90 - 2000an, cowok rumahan, anak kuliahan juga serta udah merid, SAH, dan punya 1 putra setelah merid tentunya.
Ane jarang2 denger yg beginian di dunia nyata, apakah memang separah itu kehidupan anak gaul di era 2010 keatas ini ya. Karena ane dulu bergaul jg.
image-url-apps
ijin subscribe mbak emoticon-Jempol
image-url-apps
izin nenda sist emoticon-Peace
image-url-apps
Quote:


Yah kebanyakan sih begitu gan
Terutama di kota lingkungan pergaulan nya you know lah,
Apalagi zaman sekarang udah menjalar ke daerah2 Pergaulan kek begitu !!


Di lanjut sist
Salam kenal emoticon-Smilie
image-url-apps
Quote:


Dizaman saya, SMA udh umum bgt free sex gan. Malah banyak temen yg udh mulai dari SMP.
Gatau sekarang seperti apa....

Sekolah Baru.

image-url-apps
Penjelasan sedikit mengenai sekolah yang aku masuki;
Sekolah itu nampaknya menampung anak-anak dengan kenakalan remaja yang beragam.
Mayoritas muridnya adalah murid pindahan, entah karena kasus apa.
Selama masa kehamilan dan masa menunggu Ujian Nasional tiba, tentunya aku tidak mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Aku dirumah, berusaha belajar sendiri (yang nyatanya malah kuhabiskan dengan makan dan nonton tv).

Para pengawas nampaknya sudah mengetahui keadaanku. Dan murid-murid lain memakluminya.
Uang sangat berpengaruh besar disekolah itu.
Pernah satu ketika ada seorang guru laki-laki memintaku dibelikan pulsa senilai Rp. 200.000, dan menjanjikan nilai ujian praktek-ku (penjaskes) bagus. Namun tidak ku gubris permintaannya saat itu.
Yah, bisa ditebak, akhirnya nilaiku pada pelajaran itu adalah nilai terendah dari nilai lainnya.
image-url-apps
Quote:



Yup, bener bgt gan. Bukan hal yg umum dan tabu lg jaman skrg ya, hehe..
image-url-apps
Quote:


Silakan gan emoticon-Smilie
×