alexa-tracking

~ ~ CINTA UNTUKNYA ~ ~

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54e17d0ddc06bd794e8b456a/cinta-untuknya
CINTA UNTUKNYA
Wellcome To My Thread

emoticon-Kiss (S)emoticon-Kiss (S) emoticon-Kiss (S) emoticon-Kiss (S) emoticon-Kiss (S) emoticon-Kiss (S) emoticon-Kiss (S)emoticon-Kiss (S)



CINTA UNTUKNYA

Kisah Antara Aku dan Lelakiku



Quote:



Quote:



Keep Enjoy and Happy reading
image-url-apps
reserved emoticon-Cool
image-url-apps



I-N-D-E-X



KASKUS Ads

PROLOGUE

image-url-apps

Dulu, kita belajar tentang kehidupan. Bahwa itu hanya sekali dan tak akan pernah kembali. Dulu, kita belajar tentang tersakiti dan itusulit untuk dilewati. Kita selalu punya cerita, cerita yang mungkin sulit untuk oranglain pahami. Tentang mereka yang berlalu dalam kehidupan kita tetapi juga mungkin masih hidup dalam fikiran kita. Tentang seseorang yang tak akan pernah bisa kita pahami bagaimana dan mengapa kita harus memaafkan dan menolong mereka atas apa yang mereka lakukan untuk menghancurkan kita. Tentang cara menyesali apa dosa yang pernah kita lakukan secara sadar.
Setiap orang punya momen momen tak terlupakan dihidupnya. Kenangan yang akhirnya tersimpan rapi dalam kotak memori. Saat saat bermakna yang sesekali akan diputar kembali untuk dikenang.

Semua berawal ketika kau dan aku jatuh cinta.

“Pernahkah kau mencintai aku seperti aku mencintaimu??”


Awal yang manis, bahkan sangat manis
Aku mengenalnya satu tahun yang lalu. Meski banyak yang jauh lebih baik dari apa yang aku miliki sekarang, tak bisa ku pungkiri, Dia yang berhasil menyentuh hatiku, membuka kembali pintu hati yang sebelumnya tertutup untuk siapapun. Membuka celah celah yang sebelumnya telah terkubur, menghapus perlahan bayangan masalalu yang masih saja mengikutiku... atau mungkin aku yang terlalu berani menaruh hati padanya. Aku tak tau..
Entah, karena apa aku masih menaruh sedikit keraguan padanya. Aku mencintainya. Aku menyayanginya. Tapi semua tinggal harapan. Ada rasa yang lebihh besar yang mungkin sampai saat ini belum bisa ia berikan padaku.. rasa yang masih melekat disertai segenap tanggungjawab masih terus ada entah sampai kapan akan lelakiku berikan pada wanita yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Setiap aku ingin mengenalnya, rasa sesak makin menyempitkan hati, semakin perih semakin mengiris. Ingin tak mempermasalahkan namun tingkahnya selalu mengingatkanku pada sosok wanita itu. Entah, Masih banyak kebohongan kebohongan kecil dari sudut mata lelakiku.. aku belum berani menatapnya lebih lama. Semakin lama semakin perih,,

“Aku menyayangimu..”

hanya itu jawaban yang aku inginkan saat ini. Entah bagaimana perasaannya, aku hanya butuh itu. Ya, setidaknya hanya itu yang aku butuhkan sekarang.
Aku yang terlalu egois, mungkin. Tak mengerti bagaimana ia menitipkan rasa padaku, ada atau tidaknya, besar atau kecilnya atau mungkin hanya perasaan sebatas ingin menjaga layaknya seorang kakak pada adiknya.


image-url-apps
Numpang lewat emoticon-Ngacir
image-url-apps
yaaah bersambung ya ceritanya emoticon-Malu numpang ngramein ya sist emoticon-linux

slonjoran dulu emoticon-linux2
image-url-apps
Nitip sendal disini yak emoticon-Malu
image-url-apps
Nyimak dulu ya
image-url-apps
Ngampar dulu emoticon-linux2
image-url-apps
ijin gelar tiker emoticon-linux2

part I

image-url-apps
Sore itu, aku masih duduk termangun menatap keluar jendela dari ruangan 3x3 ini. Sudah hampir satu tahun aku berada disini. Meski terlalu banyak kisah yang memilukan tapi rasanya tak ingin secepat itu meninggalkan tempat ini, aku terlalu merasakan nyaman didalamnya. Rasanya baru kemarin saja aku menempati ruangan ini, masih dengan semangat yang begitu besar, sosoknya yang sudah lebih dari 5 tahun lamanya selalu menghiasi hari hari ku. Entah apa yang membuatnya pergi begitu saja. Membiarkan aku menikmati kota ini sendiri, ya sendiri. Alasan klasik yang terkadang masih belum bisa aku terima dengan akal sehat.


"aku bukan orang yang cocok buat kamu." Katanya

"kamu yang udah nggak cocok, atau aku yang udah nggak cocok buat kamu?"

"kalau nggak cocok kenapa baru sekarang kamu bilang? Kenapa nggak dari dulu Re? 5th ini kita baik baik aja dan sekarang kamu bilang kita nggak cocok?"

Pertanyaanku membuat Reza tersentak kaget. Hubungan kami memang terpisah oleh jarak, meski setahun pertama satu kota tapi karena study ku dan pekerjaannya yang mengharuskan kita masing masing untuk berpindah dari kota asal kami ke kota lain yang berbeda. Dia di pusat ibukota yang katanya keras kehidupan disana sementara aku lebih memilih kota gudeg yang lebih nyaman dimata kebanyakan orang. Meski kita berdua long distance, tapi kita tetap bertemu ketika satu sama lain memiliki waktu luang, kalaupun tidak, kami lebih memilih mengalah demi untuk berjumpa. Selama 5th hubungan kami memang terkadang diselingi dengan secuil pertengkaran, tapi Reza bilang itu lebih membuat kita semakin menghargai sebuah hubungan. Dan kami selalu baik lagi setelahnya. Aku bertanya serius dan seolah tepat sasaran. Sebelumnya, sudah banyak pertanyaan sejenis yang ia alihkan dengan berbohong. Sudah terlalu sering dia menutupi yang sebenarnya dengan bualan manis demi membesarkan hati aku. Namun, kali ini dia berbeda. Mungkin, dia lagi nggak pengen menutupi, mengalihkan pembicaraan, dan lari dari masalah yang dia buat sendiri.

"kita berdua udah nggak seperti dulu."

Hatiku mencelos, seakan tidak bisa trima dengan apa yang Reza ucapkan barusan.

"kamu sayang aku, Re?"

Ketika diujung telfon sana dia tidak menjawab, aku masih bertanya kembali.

"kamu masih sayang aku?’"

"nggak tau, aku nggak tau Jane."

Aku tau, dia ingin dengan jujur bilang tidak. Tapi mungkin itu akan lebih menyakitkan lagi buat aku, jadi dia jawab 'gak tau'.
Diam. Spontan aku menutup telfon nya. Berkali kali ponselku berdering, kupandangi sayup layarnya. Masih tertera nama Reza disana.

PART II

Hujan diluar sana semakin lebat saja. Aku masih menatap keluar jendela, segalanya berwarna abu-abu. Rintik hujan menutupi pandangan dan sakit kepalaku masih mendera. Lebih parah lagi aku nggak bisa berhenti menangis.

Setelah mendapat telfon dari Reza tadi, hatiku semakin mencelos. Aku mengunci pintu kamar rapat rapat dan berdiri disamping jendela, menatap keluar dengan pandangan hampa. Air mata masih mengalir dari tadi, tetapi aku terlalu kacau untuk peduli. Rasa sakit didada juga masih terasa walau sudah setengah tahun lamanya kita berpisah, aku berharap sakit itu cepat hilang dan nggak kembali lagi.

Reza. Aku butuh Reza supaya sakit ini hilang.

Bukan hanya aku yang berubah, tapi seluruh komponen dalam duniaku. Bahkan Reza, yang kukira nggak akan pernah berubah. Ternyata, dia bukan hanya cinta monyetku dibangku SMA. Ternyata aku benar benar menyayanginya, sebagai seorang wanita. Namun, akhir akhir ini kami tak sama. Reza lebih pendiam dari pada dulu. Lebih suka marah marah dan emosinya semakin labil. Sering termenung. Lebih suka mendekam dalam diam yang sulit kusentuh.
Seharusnya aku sudah tau, bahwa dia memang sudah berubah. Hanya saja, aku sulit merelakan. Sulit memberi tahu diri sendiri bahwa semua orang bisa berubah, dan aku harus menerimanya. Namun, yang menyakitkan ternyata bukan kenyataan bahwa aku harus melepaskan dia, tapi mendengar dari mulutnya sendiri bahwa sebenarnya kami berdua bukan apa apa. Dia sudah lama berhenti mencintai aku, sedangkan aku menyayanginya seperti tidak akan berakhir.

"Mungkin kita udah nggak cocok lagi. Apa maksudnya?"

Selama ini kami baik baik saja. Setelah nggak cocok lagi, apa berarti kami lalu nggak mencoba dan berhenti begitu saja?

Ah sial. Lagi lagi aku memikirkannya.
Tak dapat kupungkiri sosok Reza kian menghantui setiap langkahku. Entah aku yang terlalu sayang padanya atau aku masih belum bisa membiasakan diri tanpanya. Tanpa terasa adzan maghrib membuyarkan lamunanku. Baru disadar, sudah dua jam sudah aku duduk disamping jendela, entah menatap hujan atau menatap masa laluku dengan Reza. Bergegas aku mengambil air wudhu dan lekas melaksanakan ibadah shalat maghrib.
Jam menunjukkan pukul 19’20 saat itu. Aku membuka layar hp ku. Disitu tertera 24 panggilan dan 9 pesan singkat. Bergegas aku membukanya. Tapi, harapan ku sirna seketika. Semuanya panggilan dari Reza.

Apa sih mau dia?

Aku tak begitu menghiraukannya. Lalu ku buka kembali pesan singkatnya. Sial ! lagi lagi 7 pesan dari Reza.

"Jan, kenapa telfonku kamu matikan sepihak?"

"Jan, kamu masih marah sama aku? Aku minta maaf jan. Aku nggak bermaksud bikin kamu marahh kesel atau apapun. Lagi pula itu kejadian udah lama Jane."

"Jane, aku kangen....."

"Jane, angkat telfon aku sekali aja Jane... kumohon.."

"Jane, kasih aku kesempatan buat ngomong. Ayolah Jan, mau sampai kapan kamu menghindar terus dari aku kaya gini?"

"Jan.. aku minta maaf Jane, aku nggak pengen kita diposisikan dalam keadaan seperti ini. Aku pengen kita sama sama lagi, kaya dulu lagi Jane.. please...."

"Jane............. pleaseee........"

Kubuka kembali dua pesan yang lainnya. Ternyata dari Gia dan Ave. Keduanya sama mengajakku menikmati malam di sekitaran Tugu.

“Oke.. jemput aku dikosan ya Gi, Ve ....” langsung ku send untuk keduanya.
izin nenda gan emoticon-Jempol
keep update aja emoticon-Blue Guy Peace
×