alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
when its too late to regret
4.82 stars - based on 22 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54dc1de9becb17d3408b4571/when-its-too-late-to-regret

when its too late to regret

when its too late to regret
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:




when its too late to regret


when its too late to regret


Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh mikhaellafezy
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 17
Gelar tikar dl sambil nunggu lanjutannya

awalnya .......

Aku masih ingat waktu itu istirahat, sebagai mana biasanya aku ga pernah keluar buat jajan ke kantin. Aku cuma duduk di kelas sambil membaca novel yang tadi pagi dibawa temanku.

Suasana kelas sepi, semua riuh diluar, sementara aku juga tenggelam dalam cerita yang aku baca. Sampai ada suara mengalihkan pandanganku, berteriak sambil menengok kedalam lewat pintu, mencari temanku yang kebetulan tidak ada di kelas. Aku cuma menjawabnya dengan tatapan, aku yakin dengan melihat dia sudah tau kalau kelas itu kosong dan hanya ada aku, kami saling melihat sejenak kemudian dia pergi.

Masih aku ingat betul bagaimana saat pertama aku melihat dia, matanya yang sedikit sipit, kulitnya yang sawo matang sedikit gelap, dan rambutnya yang acak-acakan khas anak anak badung SMA. Iya, aku pertama melihat dia kelas 1 SMA, dan dari sinilah cerita ini berasal. Cerita yang selama ini cuma aku pendam tapi sangat ingin aku sampaikan. Cerita yang mungkin hanya kami berdua yang tau, cerita yang mungkin tak berakhir bahagia. Tapi, kisah ini jadi kenangan yang tak bisa aku lupa.

Setelah hari itu yang berlalu biasa saja, dan aku tidak terlalu memikirkan si cowok yang tadi celingukan di pintu, sampai suatu hari, kita ketemu lagi. Di siang yang super malas, aku dan seorang temanku beranjak keluar ke fotocopy-an di koperasi sekolah. Sambil bercanda kami jalan santai menelusuri lorong kelas satu, maklum kelasku berada di paling pojok diantara kelas yang lain. Hampir sampai di ujung deretan kelas, temanku lari balik ke kelas karena ada kertas yang lupa dibawa, tak disangka mucul si cowok kemarin tiba-tiba dari simpangan ujung lorong. Aku sih santai, tapi entah kenapa tiba tiba dia berhenti dan kami saling berpandangan lagi. Beberapa detik kami saling pandang aneh, dia melontakan senyumnya yang bikin aku sadar kalau ternyata dia punya muka yang manis saat tersenyum. aku heran dengan senyumannya, aku yakinkan diri kalau dia memang tersenyum ke arahku, aku menoleh ke belakang dan memang tidak ada siapapun disana, baru aku membalas senyumnya dan dia beranjak pergi. Rasanya aku membatu di tempat itu, aku juga tidak terlalu mengerti sebenarnya keadaan ini, tapi sejujurnya satu senyuman tadi benar benar membuatku jatuh hati.

mulai mencari

Setelah kejadian senyum senyuman itu, aku jadi penasaran ke dia, bahkan setelah itu, setiap istirahat dia selalu nampak di depan kelasku atau sekedar mondar mandir di samping kelas dan aku bisa melihatnya dari kaca. Semakin hari semakin sering dan intens, bahkan dia juga sering datang ke kelas seperti saat pertama kita ketemu, tapi bukan lagi saling pandang, tapi sekarang saling senyum. Lama sekali sejak kami sering melempar senyum, tapi namanya pun aku tidak tau, karena setiap lihat dia aku tidak bisa fokus untuk melihat namanya, cuma fokus ke senyumnya dia.

Aku tak pernah mencari tau siapa dia, karena jujur saja saat kelas 1SMA aku adalah cewek pemalu di kelas, atau mungkin lebih ke arah cupu. Aku minder jika ingin bertanya tentang dia ke temanku yang biasa kemana mana sama dia. Tau sendiri kan? Anak cupu itu rawan bully, makanya aku tahan rasa ingin tahuku sampai nanti aku tau sendiri siapa dia sebenarnya.

Sampai waktu itu menjelang akhir kelas 1, aku tak pernah menyangka kalau akhinya aku bisa mengakhiri rasa ingin tauku. Saat aku berada di ruang guru, untuk mengambil LKS dari meja guruku. Saat aku mengangkat tumpukan 42 buku LKS tipis itu, dia berhenti di depanku, dan dengan suara ramahnya menawarkan bantuan, aku cuma terkesima tanpa menjawab, tapi dia segera mengambil setengah bagian tumpukan dari tanganku dan mendahuluiku berjalan keluar. Di belakangnya aku cuma bisa senyum senyum. Dia mengantar sampai depan kelas dan meletakkan tumpukkan itu di bangku depan kelasku. Dia tersenyum lagi sambil bilang “ disini aja yah,”, aku mengangguk sambil tersenyum dan kujawab kalimat itu dengan terbata bata “terimakasih,...” kalimatku terputus sambil melihat tag nama di bajunya, “yudha...” sambungku sambil tersenyum, dia hanya membalas senyum kemudian berlari menuju kelasnya, kutunggu sampai dia masuk, dan saat itulah aku baru tau kelasnya dan siapa dia.

Saat itu sedang boomingnya friendster, aku belain bikin friendster biar bisa stalking gitu ke dia. Sampai aku tau bangaimana dia dan siapa dia sebenarnya. Dia, panggil aja Yudha, dengan senyum manisnya dan gitar di tangannya, iya dia rhytm guitarist di salah satu band indie di kotaku. Di friendster dia menceritakan segalanya. Dunianya yang sepertinya asik, weekendnya yang diisi dengan manggung, dan celotehannya bersama temannya yang kacau banget semuanya ada di testi friendsternya.

Dari friendsternya aku ngambil foto dia manggung, foto dia yang biasa aja dan semua foto dia. Entah sejak kapan aku mulai tertarik buat memperdalam segala sesuatu tentang dia. Aku lihat di profil friendster dia, “walaupun bukan band terkenal, tapi inilah first love ku” begitu captions dia dibawah foto bersama bandnya. Dan seketika itu aku pengen nulis di testimonial page nya,,,,”You’ve got your first biggest fans even nobody knows you”. Tapi sekali lagi karena aku cupu, aku tidak punya keberanian cukup untuk menulisnya. Yasudah kusimpan dalam hati saja.

pukulan mundur

Masuk di kelas dua, aku mulai merubah diri,aku mulai menghilangkan kebiasaanku menyendiri, aku mulai belajar untuk berani membuka diri, dan mendapatkan beberapa teman baru,walaupun aku masih selalu minder kalau di depan Yudha. Padahal motivasi terbesarku untuk berubah adalah dia. Setelah kelas 2 ini, kelas kami semakin dekat, ditambah aku yang sudah tidak hobi menyendiri di kelas lagi, jadi aku bisa lihat dia dengan jelas setiap hari. Meskipun begitu, aku masih belum juga punya keberanian yang lebih buat sekedar menyapa dia. Hanya sama seperti dulu, sekedar senyuman, itupun hanya jika pandangan kita bertemu, lebih dari itu tidak. Kami seolah olah hanya berani saling melempar senyum, tapi tak berani lagi bertegur sapa, hanya mata dan senyuman yang berbicara.

Mungkin aku capek kaya gini terus, mungkin aku harus lebih agresif, karena waktu itu aku mikir uda cukup aku jadi secret admirer dia, ketika aku liat HPku yang penuh foto dia, diaryku yang penuh nama dia dan potongan kliping artikel koran lokal tentang band dia, aku jadi ngerasa semua sia sia kalau ini gak diungkapin, bukan untuk tau jawaban dia, tapi aku cuma ingin dia tau kalau disini dibalik senyumnya aku, ada rasa kagum yang teramat besar ke dia. Akhirnya aku beraniin pinjem katalog SMP dia dari temenkuyang satu sekolah sama dia dulu, lalu aku catat no. HP nya. Aku coba invite no. HPnya via Mxit, dan ga nyangka ternyata bisa. Setelah kita saling memiliki kontak, seminggu kemudian baru aku memulai interaksi, mungkin kta saling silent karena aku memakai username yang bukan namaku, begitu juga dia sih sebenarnya, dia memakai nama bandnya. Aku mulai iseng iseng chat ke dia, menanyakan apakah punya friendster, padahal aku sudah punya, hehe. Dan jawabannya sangat singkat, cuma alamat emailnya, yasudahlah, nyaliku kembali ciut, salahku juga tidak pernah mengatakan siapa aku sebenarnya.

Sejak peristiwa chat itu, aku tak pernah menghapus history chat nya walaupun cuma 2 line, aku liat, aku tulis terus aku hapus lagi tanpa berani mengirimnya. Setiap hari cuma aku tungguin dia online, lalu menunggu sampai dia offline lagi tanpa berani berkata apapun, iya, dia memang jarang online, paling lama online cuma dua jam di malam hari sebelum kemudian sleepy atau away. Tapi, beberapa hari belakangan dia selalu online, dan emotnya selalu in love, ya Tuhan, jangan jangan dia sudah punya pacar.

Karena penasaran, aku coba cari tau, sebenarnya dia sudah punya pacar atau belum. Aku buka friendsternya, belum ada tanda tanda kalau dia punya pacar. Featured friends juga masih acak, shout out masih sama, dan testi juga isinya masih testi kacau temen temennya. Setiap hari selama dia aktif terus, selalu aku pantengin tuh friendster dia, bodohnya aku yang tidak punya keberanian cukup untuk menanyakan hal ini padanya. Sampai di hari ke lima rasa penasaranku itu, terjawab sudah. Hari itu hari yang mendung, hujan deras sejak pagi, aku telat berangkat sekolah karena aku memutuskan naik angkutan umum, karena jika hujan sangat berbahaya jika naik motor.

Dari depan gerbang, aku berlari ke lorong deretan kelas 2, kulipat payung dan mengganti sandalku dengan sepatu, di belakangku ada dua orang yang terlambat juga, tidak disangka, itu adalah yudha, bersama seorang cewek satu kelasnya, dia merangkul erat cewe itu dibawah payung pink yang mungkin itu punya cewenya.aku cuma berdiri terdiam, sementara dia melihatku dan menatap kosong disamping si cewe yang berusaha merapikan baju dan sepatunya. Kali ini tidak ada senyum, hanya tatapan kosong, dan kemudian aku mendengar si cewe memanggilnya dengan panggilan sayang, aku menundukkan pandanganku kemudian pergi.

tentang Putra

sejak saat itu, aku mulai mengurungkan niatku kepadanya, aku pikir sudah tidak pantas aku menyukai atau berusaha ingin tau tentang pacar orang, karena aku tau pasti kalau aku jadi cewenya si yudha pasti aku ga suka kalau ada yang stalking ke dia. Saat itulah yang menjadi titik balik atas perasaanku ke dia, aku sudah tidak berminat lagi untuk mencari tau, friendster dan Mxit milik Yudha sudah tidak pernah lagi aku buka. Dan mulai saat itu, aku mencoba memulai hidupku yang baru lagi.

Aku mulai mengacuhkan perasaanku ke Yudha, meskipun setiap berpapasan, kami masih saling berpandangan kosong tanpa senyuman, meskipun aku juga tau, pandangan dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi aku coba jauhkan pikiran itu. Bahkan, malam itu saat aku sedang asyik chatting dengan teman sekelasku, namanya putra, ada satu pesan masuk, dari mxit milik Yudha. “Hai, ini Icha kan ?”, namun aku berusaha tidak menghiraukannya, aku lanjutkan chat dengan Putra, rasanya aku mulai cocok dengan dia, cocok dalam hal bercandaan aja sih, lumayan bisa membantuku lupa dari Yudha. Tapi ringtone message receive mengusikku lagi, Yudha lagi, “Ferischa, ini Yudha”, aku hampir mengetik jawaban namun aku batalkan niatku, aku menghargai wanita yang sekarang menjadi pacarnya, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menghapus kontak milik Yudha.

Life must go on, right. Selama ini memikirkan Yudha menutup pikiranku dari dunia luar. Aku mulai dekat dengan putra, teman sekelasku, sampai akhirnya kami jadian. Namun hubungan kami berdua serasa hambar, karena jujur saja, pikiranku terkadang masih melayang layang ke Yudha. Hubungan kami tak berjalan lama, karena memang sepertinya kami lebih cocok menjadi teman, berakhirnya masa kelas 2, menjadi akhir juga untu hubunganku dan putra.

Sebenarnya putra sangat baik, kita juga se hobi, sama sama suka seni rupa. Putra mahir di sket, dan aku mahir di finishing, kedekatan kita berawal dari proyek seni rupa waktu itu, kebetulan kita satu kelompok. Kita pergi beli kanvas dan cat air bersama, dia juga datang ke rumahku untuk membahas proyek itu. Sampai suatu saat, dia mengajakku pergi dengan alasan mencari ide baru untuk proyek seni kami. Dia mengajakku naik ke kota bagian atas, ke sebuah tempat dimana kita bisa melihat kerlip lampu kota dengan indahnya. Disanalah ia mengutarakan perasaannya, mungkin karena saat itu aku merasa nyaman dengan dia, terlebih lagi bersamanya aku bisa lupa dengan patah hatiku ke Yudha, jadi aku menerimanya.

Tapi semakin lama kita bersama, aku sadar jika tak ada cinta yang tumbuh antara aku dan Putra. Kita hanya cocok sebagai lawan bercanda dan bicara tentang seni, bukan untuk bicara hati. Aku sama sekali tidak menemukan ketertarikan untuk mengetahui hidupnya, sebagaimana perasaanku kepada Yudha. Hubungan kami semakin lama bukan semakin menarik tapi aku merasa semakin aneh. Terlebih saat proyek seni kami telah usai, tidak ada lagi topik menarik untuk aku bahas dengannya. Walaupun dia selalu berusaha memunculkan topik baru, seperti mengajakku membuat graffiti di dinding, mengajariku banyak tentang photo editing, bahkan membawaku kerumahnya yang penuh dengan lukisan dan sket cantik hasil karyanya. Tapi ya ketertarikanku hanya berhenti disitu, sebatas kekaguman akan bakatnya.

Hari itu, hari terakhir ujian akhir semester 2, aku dan putra berbeda ruangan dan kebetulan aku menyelesaikan ujianku lebih cepat dari putra. Sebelum ujian ia berjanji akan membawaku ke pantai setelah selesai ujian nanti, dan hari itu sesuai perjanjian aku menunggunya di depan ruang ujiannya. Dia terlihat sangat senang dan menyelesaikan ujiannya lebih cepat, senyumnya mekar ketika menemuiku di depan ruangan, iya dia memang lebih tampan dari Yudha, kulitnya putih bersih, tinggi proporsional dengan mata ramahnya yang bisa mempuat nyaman siapa saja yang ada di dekatnya, tapi se sempurna apapun dia, aku sadar dia tidak bisa menggantikan Yudha. Setelah mengantarku pulang untuk ganti baju, kami ke pantai, mengambil satu kotak biru dari tasnya, warna kesukaanku, dengan pita biru tua, sebuah kado. Hari itu tepat 3 bulan kami berpacaran, Putra memberikanku kado untuk itu, dan aku pun memberikannya kado boneka bebek kuning, warna kesukaannya beserta sebuah surat yang aku minta buka saat dia tak bersamaku, dia mengiyakannya terlihat senang sekali, dia memelukku, “ Cha, seandainya kamu bukan jodohku, aku harap Tuhan mendesain ulang hidupku, dan meletakkan kamu sebagai jodohku di dalamnya, aku sayang kamu, Cha”. Lalu aku mengajaknya pulang, dan kalimat pamitnya menjadi kalimat terakhir yang kudengar darinya sebagai pacar. Bye Putra.

Spoiler for dear putra:



“putra, thanks for anything, we’re good in art, but im not good enough for you....”
izin nenda sist
salken yak emoticon-shakehand emoticon-Big Grin
Quote:


Quote:


terimakasih gan, jadi makin semangat nulisnya emoticon-Malu (S)

gagal move on :(

Tak terasa waktu berlalu sangat cepat, yaps, sudah kelas 3. Hari itu hari pertama masuk sekolah sebagai super senior, liburan merubahku lebih banyak lagi. Aku mikir aku harus berubah karena aku ga pengen masa mudaku habis cuma buat ,mikirin Yudha dan pacar barunya. Sejak kejadian itu aku belum bertemu Putra lagi, sepertinya dia sengaja menjauh dari kelas saat kelas meeting setelah ujian, dia tidak menghubungi atau menayakan masalah ini ke aku, dia seperti menghilang, tapi aku masih melihat motornya di sekolah. Mungkin dia terlalu sakit hati sampai gak ada niat buat ketemu lagi, yasudahlah, lebih baik begini dari pada nanti lebih menyakiti hati dia.

Pagi itu aku berangkat agak siang, mungkin efek sisa liburan masih menggelayut di pikiranku, saat datang aku langsung menuju deretan ruang kelas 3, dan pastinya sudah banyak yang datang di sana. Sejenak aku kepikiran soal Putra, tapi aku belum juga menemuinya pagi ini, aku berharap jangan sampai kami satu kelas lagi, yang ada malah aneh nantinya. Dari ujung lorong aku susuri kelas demi kelas, mencari namaku. Sampai di kelas kedua, aku bertemu teman sebangku ku kelas 2, yah ternyata kita terpisah kelas, tapi tak apa lah, bersama dia rasanya aku jadi kurang belajar karena terlalu banyak hang out.

Kulanjutkan lagi ke kelas ketiga, dari awal sampai akhir belum ada namaku juga, nsh tapi di dalam kelas itu ada Putra yang duduk bersama temannya, memang kebanyakan teman kelas 2 ku ada di kelas ini. Aku bingung harus bagaimana, disana tampak Putra sumringah seperti biasanya, rasanya aku ingin mina maaf secara langsung tapi aku belum mampu, entah kenapa. Salah satu dari mereka kemudian menyapaku,dan mengajak bergabung namun aku hanya mengelak dengan alasan belum menemukan dimana kelasku lalu pergi, tapi sekilas aku lihat Putra melambaikan tangannya dengan senyum saat aku melambaikan tanganku pada mereka. Apa iya dia bisa menerima ini ?

Kupercepat langkahku karena 10 menit lagi sudah bel, kulihat di depan kelas ke empat, Yudha duduk bersama teman temannya, mungkin dia masuk di kelas itu, aku melewatkan kelas ini, lalu beranjak ke kelas kelima. Di depan kelas kelima, teman sebangku ku waktu kelas satu menyambutku di depan pintu dan langsung menyeretku masuk untuk duduk di sampingnya, oke inilah kelasku, nyaman denga orang orang baru, senangnya. Aku tak mengecek kembali list murid di depan pintu, toh aku sudah nyaman di tempatku sekarang, sampai.... Bel berbunyi.

Aku sibuk bicara dengan teman bangku balakang yang juga temanku kelas satu, sampai aku tak sadar kalau guru sudah masuk kelas dan memberikan salam selamat pagi. Aku menghadap ke depan dan memperhatikan wali kelasku yang meperkenalkan diri di depan. Dasarnya aku cuek, aku pun tak memperhatikan sekitar dan siapa saja yang ada di kelas itu hingga dua orang yang ada di depanku berbalik arah dan mengenalkan diri.

Rasanya seperti tak percaya dan tak tau harus bagaimana, kulihat senyum itu kembali, masih sama manisnya, dan kali ini kami bukan cuma bertukar senyum, tapi dia menyapaku dengan riangnya.”hai Cha!”. Oh God, is it true ?

Lalu.........

Rasanya aku membatu seketika di bangku ku, bahkan membalas ucapan Yudha pun aku ga mampu, rasamya ,meleleh semuanya, semua rasa yang sempet terlupa rasanya kembali lagi. Ya Tuhan apa arti semua ini, iya kemarin aku berharap lepas dari Putra, tapi sekarang aku mendapati mukaku yang memerah karena senyuman manis itu lagi, should i back Yudha ?

Hari itu juga, Yudha kembali meminta kontaku, awalnya dia diam, tapi ketika dia melihat username Mxit ku, dia langsung menanyakan mengapa waktu itu aku tidak membalas pesannya, tapi aku sih ngeles, aku bilang ke dia mungkin dia salah orang. dia cuma mengangguk tapi dengan muka bingung, dari wajahnya bisa kubaca kalau dia tidak percaya, tapi biarlah aku juga tidak ingin terlalu peduli.

Sejak saat itu kita makin dekat satu sama lain, walaupun sebenarnya hanya lewat Mxit. Ketika di sekolah, dia lebih terkesan acuh, yah mungkin karena dia termasuk golongan para famous sedangkan aku tidak. Aku memang tidak se cupu dulu waktu kelas satu, tapi untuk berinteraksi seperti anak anak yang mereka bilang ‘gaul’ aku belum terlalu fasih, aku lebih memilih bergaul dengan teman teman dekatku, daripada harus sok kenal dengan banyak orang biar disangka ‘gaul’.

Sikap hangat Yudha cuma terlihat saat di kelas, saat kita berpapasan di luar kelas, seperti biasa cuma senyum saja yang makin lama makin tidak manis kalau aku lihatt, apa mungkin karena aku terlalu sering melihat senyumnya itu? Ah aku juga ga ngerti masalah ini, aku malah berharap semoga saja dengan seperti ini perasaanku ke Yudha menjadi luntur dan kita menjadi teman baik.

Hari ke hari makin sering kita lalui bersama, candaya yang dulu aku dambakan kini bisa dengan mudah aku dapat tiap hari. Walau mungkin hanya kami berdua yang tau, karena semua itu terjadi lewat Mxit atau saat di kelas saja. Kami sering ngobrol saat malam setelah belajar, dan dari obrolan inilah aku tahu kalau Yudha sudah lama mengakhiri hubungannya dengan pacarnya waktu tragedi hujan itu. Dan akupun juga sempat bercerita tentang putra.

Tapi beberapa hari itu, Yudha terlihat lain, dia jarang keluar saat istirahat. Kami menghabiskan waktu istirahat bersama di kelas, dan menariknya lagi, dia membawa bekal seperti yang aku lakukan, jadi kita bisa menghabiskan 45 menit istirahat itu bersama sama. Dia banyak bercerita tentang hidupnya, tanpa aku memintanya, hal yang dulu harus aku cari susah payah sekarang bisa aku dapatkan tanpa usaha. Dia bercerita tentang band nya yang sudah ia rintis sejak SMP, tentang hobinya bermain musik, tentang kesukaannya pada kucing , tentang cita citanya sebagai pengusaha, bahkan tentang keluarganya yang broken home. Iya, dia korban broken home orang tuanya.

Waktu itu, kelas sangat sepi hanya tertinggal kami berdua saja, Yudha dengan cepat melahap sekotak nasi goreng sosis yang katanya buatan mamanya, dia bilang dia sangat suka nasi goreng buatan mamanya, kalau cari istri nanti dia bilang ingin mencari wanita yang bisa memasak nasi goreng seenak buatan mamanya. Sambil tertawa aku menjawab bahwa pasti papanya betah dirumah karena sang istri pintar memasak, namun kalimatku tadi memutus tawa Yudha. “papa nggak bahagia, Cha”

Dan semua menjadi hening
halo...salken sis...

I'll give you that rainbow

Papa Yudha adalah seorang kontraktor, dia jarang sekali pulang ke rumah. Mama Yudha sendiri adalah seorang Guru SD di dekat rumah mereka. Yudha anak ke dua dari Tiga bersaudara, sayangnya sang kakak yang bernama Endry telah berpulang ke pangkuan yang Maha Kuasa karena bunuh diri. Endry yang berjarak 3 tahun dari Yudha bunuh diri saat ulang tahunnya yang ke 17, dimana dia menjadi saksi kenyataan pahit atas perselingkuhan ayahnya. Hari itu, mamanya jatuh sakit dan Endry berniat menjemput papanya di kantor, namun yang ia dapati adalah ayahnya yang sedang bertengkar dengan sekrertarisnya di ruangan kantornya. Ia mendengar jika si sekertaris hamil dan menuntut pertanggung jawaban sang Papa. Endry yang mengetahui hal itu marah saat itu juga dan mengacau di kantor sang Papa, dia kemudian pulang dan menangis di kamarnya sementara mamanya masih di rumah sakit. Yudha yang mengetahui kakaknya menangis segera menghampiri kakaknya waktu itu.

Kakaknya menangis sambil menceritakan hal yang barusan ia lihat, Yudha yang saat itu masih kelas 2 SMP hanya bisa ikut menangis, ia tak mengerti apa yang harus ia lakukan, kecuali perintah sang kakak untuk merahasiakan ini sampai mama benar benar sehat. Namun sejak saat itu sang papa tak pernah kembali kerumah. Hingga sang Mama pulang dari rumah sakit dan kembali sehat, baru datanglah sang papa ke rumah, dan memberitahukan bahwa ia sudah tidak bisa kembali ke rumah itu lagi, dan memberitahu semua yang pernah dilihat Endry. Malam itu terjadi pertengkaran hebat dalam rumah mereka, sang mama Cuma bisa menangis sementara Endry dan Papanya mengalami pertengkaran hebat, diakhiri dengan sang Papa yang angkat kaki dari rumah. Malam itu Yudha hanya menangis memeluk adiknya, sementara mamanya juga menangis di sudut ruang tamu. Malam itulah Endry terlihat sangat hancur, dia membanting semua barang di sekitarnya, lalu mengunci diri di kamar sambil berteriak sepanjang malam.

Yudha hanya bisa memeluk adiknya di depan TV, sementara sang mama masih terlihat menangis sambil memegang kepalanya di sudut ruang tamu. Waktu menunjukkan jam 2 saat suara kakaknya sudah tak terdengar lagi, sang mama menghampiri Yudha dan memeluknya, mereka semua lupa bahwa hari itu ulang tahun Endry yang ke 17.

Pagi jam setengah 6, pacar Endry saat itu datang ke rumah, berniat memberi kejutan bagi Endry. Namun saat membuka kamar Endry, dia menjerit lalu pingsan, karena yang didapati adalah Endry yang sudah kaku tak bernyawa dengan mulutnya yang berbusa, iya Endry bubuh diri saat itu. Kejadian ini tak lantas membuat sang Papa kembali ke rumah, ia bahkan tidak datang di pemakaman Endry. Sejak itulah Yudha seakan tidak punya papa, karena mulai sejak itu mamanya lah yang mengurus dia dan adik perempuannya yang berjarak 3 tahun darinya.

Semenjak perceraian orangtuanya dan kematian Endry, Yudha terdidik untuk membatu sang Mama, maka dari itu dia menyalurkan hobinya untuk bekerja lewat bandnya tersebut. Dia juga menyewakan alat band pemberian Papanya dulu, sehingga ketika dia butuh uang jajan, dia tidak harus meminta pada mamanya. Dia sadar dia tidak ingin menambah beban mamanya dengan permintaannya yang ini itu. Sejak itulah dia terdidik untuk menjadi anak yang mandiri, apalagi dia anak laki laki pertama, dia sadar suatu saat akan menjadi tulang punggung keluarga.

Mendengar cerita tentang Yudha, membuka pandanganku tentang dia. Ternyata dia lebih dari apa yang aku lihat, dibalik senyum manisnya itu terdapat masa lalu getir yang membentuk pribadinya menjadi sekuat ini, bukan risih yang tibul, tapi justru rasa kagum dan sayang kepadanya semakin tebal kurasakan. “aku juga pengen sesekali lihat pelangi Cha, bukan Cuma mendung yang tersimpan dibalik hari yang cerah”
Mungkin dia sudah terlalu banyak menyimpan semuanya sendiri, rasanya ingin kupeluk dia setelah dia bercerita dan mengatakan, “i’ll give you that rainbow Yud”.
Quote:


halo juga gan,,, terimakasih sudah mampir emoticon-Blue Guy Peace

intermission .... :heart:

gimana sih rasanya jadi penggemar rahasia yang seperti pungguk merindukan bulan, tapi akhirnya bisa sangat dekat dengan dia sang rembulan yang awalnya serasa tidak mungkin? Mungkin bukan menjadi kekasihnya, tapi bukankah berada di sisnya, mendengarkan keluh kesahnya saja sudah sangat bahagia untuk kita? Disinilah aku belajar ketulusan, belajar apa artinya kasih sayang yang sejati, belajar megagumi dengan hati bukan hanya dengan mata. Belajar untuk berani patah hati, karena saat kita memutuskan untuk jatuh cinta kita juga harus siap patah hati.

jujur aku punya perasaan lebih pada Yudha, aku punya pikiran lebih pada Yudha, aku sempat GR akan sikap Yudha, aku sempat berfikir untuk memilikinya, namun ya sudahlah, rasanya terlalu pamrih jika aku memberikan perhatianku kepada Yudha yang sedang membutuhkan dengan mengharap aku bisa memilikinya. biarlah aku tetap menjadi bayang bayang yang menaunginya dari sengat matahari saja, menjadi pelangi yang sekejap hilang agar ia bisa melupakan mendung yang menggelayuti hidupnya.

cinta ini cuma bisa berdoa, semoga dia bahagia, aku yakin Tuhan telah menyiapkan rencana yang lebih hebat untukku, aku tak takut cintaku tak terbalas, karena aku Yakin, jika bukan Yudha Tuhan pasti sudah menyiapkan penggantinya.

Pohon kesabaran buahnya manis, apa yang kita tanam akan kita petik, saat ini aku menanam ketulusan untuk membantu Yudha, suatu saat akupun akan menuai ketulusan, entah dari siapa.

biar saja jadi penggemar rahasia, suatu kebahagiaan bisa ada selalu untuk menghibur dia dan jadi orang yang dia pecaya untuk mendengarkannya.


when its too late to regret

emoticon-Kaskus Radio
emoticon-Kaskus Radio
Diubah oleh mikhaellafezy

finally, i do Yudha.........

Hari ke hari kami semakin dekat, tanpa seorangpun menyadari kami sudah sangat tahu satu sama lain. Namun entah kenapa belum ada pertanda Yudha merasakan hal yang sama denganku. Dia bisa menjadi pribadi yang menyenangkan saat kita bersama di kelas, penuh perhatian saat chatting ber jam jam, tapi dia bisa terlihat seperti tidak terjadi apapun di depan semua orang. Aku sempat berfikir mungkin saja dia malu jika teman temannya tau dia dekat dengan orang sepertiku, yang berbeda dengan mereka, bukan kumpulan anak gaul, pinter dandan dan jago meraih perhatian orang seperti mereka. Aku juga merasa kalah cantik dengan mantannya Yudha kemarin, yang putih, tinggi proporsional, rambut panjang, senyum menawan dan gaya yang up to date ala anak anak gaul. Sementara aku, Cuma perempuan apa adanya dengankulit sawo matang dan rambut ikal sebahu, tubuh kurus dan kurang pandai bergaul. Yang kuandalkan dariku hanyalah sikapku yang selalu ramah dan penuh senyum pada siapa saja yang butuh bantuanku, selebihnya aku Cuma bersedia lebih terbuka dengan teman teman dekatku. Jelas jauh dari mantan Yudha itu.

Kemudian aku berfikir, bahwa terkadang cinta itu tak harus memiliki. Kalau aku sayang sama Yudha tulus, aku ga akan perlu timbal balik dari dia. Sejak itu aku memutuskan sebisa mungkin aku buat Yudha ketawa, bahagia dibalik bebannya yang selama ini tidak pernah ia bagi dengan siapapun.Meskipun kami hanya akan menjadi teman, aku sudah meyakinkan diriku untuk ikhlas, yang penting dia bisa melihat pelangi untuk mengisi hidupnya yang sebenarnya penuh beban. Saat inilah aku merasakan, betapa tulusnya rasa ini, karena dengan senyumannya saja, sudah cukup membuatku bahagia, dulu aku tidak bisa setiap hari mendengar suaranya, namun sekarang aku menjadi orang yang paling dia percaya untuk bercerita, itu sudah lebih dari cukup.

Malam itu hujan deras saat pintuku diketuk, aku hanya dirumah bersama adikku sementara ayah dan ibu sedang berada di rumah nenek. Saat ku buka pintu, kulihat senyum manis yang biasa kulihat itu, dengan muka yang basah, celana yang basah dan jaket kulit yang masih terlihat tetesan airnya, aku segera mempersilahkannya masuk, namun dia menggeleng dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas plastik hitam yang ia bawa.
10 mawar merah yang diikat oleh pita dan kertas biru, menjuntai amplop biru dibawahnya.

Quote:


Sepulang Yudha, aku langsung lari ke kamar, rasanya gak bisa di tuliskan dengan kata kata, orang yang sejak kelas satu secara diam diam aku sukai, malam ini mengirimkan bunga ke rumahku di tengah hujan, padahal aku sendiri tidak pernah mengatakan dimana rumahku pada Yudha, entah dari mana ia tau.

Ku buka amplop biru itu, selembar kertas kecil, terlipat dan kemudian ku buka.

Quote:


Iya, hanya kalimat itu, tapi berhasil membuat hatiku jumpalitan ga karuan, rasanya seneng campur aduk sampai aku ga ngerti mesti gimana. Aku Cuma senyum senyum sendiri sambil menunggu pesan dari Mxit Yudha yang saat itu sudah in love. Satu jam belum ada kabar aku mulai khawatir, aku ingin menghubunginya dulu tapi aku biingung dengan apa yang harus aku katakan. Sampai akhirnya saat hujan telah reda, hampir dua jam setelah dia pulang tadi, masuklah pesan darinya,

Quote:

Dan kemudian aku offline, dengan perasaan super bahagia, karena yang selama ini aku impikan jadi kenyataan. Sesaat kemudian datang pesan dari Yudha

Good night and sleep tight my rainbow, take me to your dream,....

Aku hanya tersenyum membacanya sambil memeluk gulingku, entah betapa bahagianya aku malam itu. Sampai saat ini pun aku masih dapat merasakan bagaimana bahagianya aku saat itu, yah sampai membuatku tidak bisa tidur nyenyak sakin senangnya.
Sebenarnya gw paling malas baca cerita dri sudut padang cewe
Kalaupun ada ya pasti yg ceritanya bagus
But this one is my second story from girl side
And its really interesting .
Jadwal updatnya kapan sis ?
Semoga ceritanya bakalan ampe tamat gk seperti cerita yg kandas ditengah jalan
Rate 5 send ya
hallo..
salken sist emoticon-Shakehand2
Quote:


terimakasih ganemoticon-Malu (S) , jadi makin semangat nih..
bakalan apdet everyday gan, karena sebenernya cerita ini uda selese, pasti bakal aku share smpe finalnya
salken yah emoticon-Blue Guy Peace

Quote:


salken juga gan, , , terimakasih sudah mampir, stay tune yahh emoticon-Blue Guy Peace

hai sis, numpang baca ya emoticon-Malu
semoga ceritanya sampai ya ke yg dituju emoticon-Big Grin
========
sekedar emoticon-Cendol (S) biar id nya ada warnanya emoticon-Big Grin
Quote:


Iya salken juga sis
Btw cerita masa SMA nya emang dipersingkat krna mau dilanjut ke masa kuliah ?
Halaman 1 dari 17


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di