alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[First Story] - Gerimis di Ujung Janji
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54dbdfbe9e7404381b8b4568/first-story---gerimis-di-ujung-janji

[First Story] - Gerimis di Ujung Janji

Sebelumnya salam kenal dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus
Aku mau share tulisan pertama aku disini. Ceritanya masih pendek aja, jujur masih newbie dalam tulis menulis cerita. Mungkin agan aganwati bisa ngasih tanggapan atau masukan. Selamat menikmati ..



Aku disini sekarang, sebuah kafe kecil dekat kampus. Kafe ini bernuansa pedesaan dengan batang-batang bambu sebagai pengokoh dindingnya. Ornamennya terlihat kuno namun tetap elegan. Ada jam kayu yang berdiri angkuh di salah satu pojok ruang kafe. Perabotannya tak kalah unik. Kursi dan mejanya terbuat dari kayu berlapiskan tikar dari anyaman bambu muda. Di atas meja tamu terlihat pot bulat dengan bunga berwarna kelabu. Lantainya dibuat dari tatanan ubin seperti rumah khas Belanda jaman dulu. Kerekan dengan motif daun ilalang menjadi pembatas antara ruangan dalam dan teras kafe. Tepat di depan kafe, ada sebuah taman minimalis lengkap dengan air mancur. Jika air yang jatuh mengenai bambu di bawahnya akan menimbulkan suara. Tuk, tuk, tuk. Mirip sekali dengan air pancuran di desa. Kafe ini selalu berhasil membuatku rindu rumah.
Hampir tiap hari seusai kuliah aku sempatkan mampir kesini. Sekedar menghilangkan penat dengan minum jus stroberi, minuman favoritku. Bagiku meneguk jus stroberi terasa nikmat sekali. Dan di tempat ini pula aku bisa menyalurkan hobiku, ya menggambar desain pakaian. Aku keluarkan buku sketch ukuran A5 dari dalam ransel vintage berwarna cokelat dengan aksen tali-tali pendek. Lalu mulailah aku menggoreskan garis demi garis sesuai imajinasiku sambil menikmati suasana kafe. Satu dua jam aku terhanyut dalam imajinasiku sendiri. Senyum mendadak mengembang ketika melihat hasil akhir gambarku. Inilah yang ku lakukan untuk menghibur diri. Terkadang beberapa sorot pasang mata merasa aneh melihatku tersenyum sendiri.

Saat ini musim hujan. Musim dimana banyak janji yang terabai. Musim yang dikutuk oleh sebagian orang karena penyebab mereka tak bisa berpergian. Tapi ini musim kesukaanku, musim dengan aroma tanah yang menyeruak ketika air hujan menyapu bumi. Musim yang menyebabkan kaca jendela menjadi lebih buram karena guratan aliran air. Dan musim ini tidak bisa menghalangiku datang ke kafe itu. Aku berlari kecil menuju kafe dengan tas ransel di atas kepala untuk melindungiku dari derasnya hujan, tapi nampaknya sia-sia. Sepatu ketsku memilih jalan yang tak begitu tergenang air. Maafkan aku, Sepatu. Kau harus patuh dengan majikanmu. Sepatu ini sudah beberapa kali mendarat manja di pangkuan abang sol gara-gara aku nekat menembus hujan. Beli sepatu baru? Oh tidak, ini sepatu yang berkesan karena sepatu pertama yang ku beli dari usahaku. Upah hasil menggambar untuk tugas akhir kesenian teman-teman sekolahku dulu. Mengagumkan bukan. Setidaknya bagiku.

Tiba di teras kafe, penampilanku seperti kucing tercebur. Air masih menetes dari tubuhku hingga membasahi ubin teras. Aku menarik tempat duduk dan segera mengeluarkan isi ransel. Semuanya basah termasuk buku sketch kesayanganku. Kalaupun nanti sudah kering bakal tercetak noda bekas air dan kertasnya akan bergelombang. Aku taruh barang-barang itu di atas meja. Akhirnya ku pesan segelas jus stroberi. Sambil menunggu pesananku datang, aku membolak-balik lembaran buku yang basah.
“ Cepat sekali, minumanku sudah datang” celetukku sambil menoleh kepada seorang laki-laki yang datang dari dalam kafe.
Dan bum. Ketika aku lihat dia tidak membawa nampan dan gelas, rasanya malu sekali. Dia bukan pelayan kafe. Memang sih aku tadi hanya melihat bayangan orang menuju arahku, ku kira pelayan. Ternyata dia adalah salah satu pengunjung yang hendak meninggalkan kafe.
“Eh, maaf. Aku kira . . . ” Andai saja bisa menyembunyikan wajahku di kolong meja untuk menutupi rasa maluku saat itu.
“Tidak ada apa-apa.” Cuek saja berdiri memegang sebuah buku di teras kafe, di dekat kursi yang aku tempati. Sepertinya dia terlihat bimbang menerjang hujan. Hujan malam ini memang sangat deras apalagi ditambah kilatan petir. Langit seperti begitu saja menumpahkan lautan airnya. Kota ini seperti anak kecil yang mandi dengan guyuran satu tallon air. Byur. Dengan kaos polo berkerah dalam jaket semi parasut, dan celana jeans hitam, terlihat sempurna membalut tubuhnya yang sedikit jangkung. Ku taksir umurnya dua sampai tiga tahun di atasku. Segelas jus stroberi di depanku kemudian membuyarkan lamunanku padanya.
“Boleh gabung duduk disini?” tanyanya yang tiba-tiba kepadaku.
“Oh, iya tentu saja”, jawabku sekenanya.
“Pesanannya sudah datang ya”, tawanya sambil duduk di depanku.
“Hahaha. Maaf loh yang tadi, beneran ku pikir pelayan kafe.”
“Iya uda dimaafkan kok. Kurang konsentrasi gara-gara kehujanan ya.”
“Ya seperti yang kau lihat, seperti kucing kecebur begini.” Mungkin lebih tepatnya aku mirip jemuran yang masih meneteskan air cucian.
“Lagian hujan deras gini nekat diterjang. Nih pakai aja!” Katanya sambil memberikan jaketnya kepadaku.
“Wah, ngrepotin banget ini namanya. Cara balikinnya nanti gimana?” Tanpa basa-basi langsung aku ambil jaketnya karena bibirku sudah membiru kedinginan. Aroma parfum yang menempel di jaketnya tercium samar-samar olehku. Sungguh berbanding terbalik denganku, jaket lusuh dengan bau yang sudah tidak karuan, masih menggantung malas dibalik pintu.
“Gampang, aku sering kesini, kamu juga kan.”
“Iya.” Sial ini orang tahu aja kalau aku sering kemari.
Karena hujan deras yang awet malam itu, kami larut dalam obrolan-obrolan ringan sampai kafe itu tutup. Dari percakapan malam itu, yang ku tahu namanya Jaka, mahasiswa hukum, hampir lulus, tinggal menyelesaikan skripsi. Dia keturunan campuran Jawa-Batak. Dia memang sering melihatku di kafe itu. Dia juga tahu aku suka menggambar dan melihat hasil gambarku di buku sketchku yang basah itu. Dan aku suka ekspresinya ketika dia tahu ternyata aku calon dokter, bukan mahasiswa seni. Dahinya jadi sedikit mengerut sehingga alisnya bergelombang seolah menyatu.

Tiga hari kemudian aku kembali datang ke kafe. Senja dengan langit sendu seperti memendam rindu. Kulihat dia belum datang. Seperti biasa aku segera asyik dengan pensil dan buku sketch.
“Sudah lama? belum pesan minum ya? Aku pesankan ya, mau minum apa?” Dia akhirnya datang dan menyerudukku dengan pertanyaan. Dia mengambil posisi duduk strategis seperti biasa di depanku.
“Baru aja sih. Belumlah, kan baru datang juga. Jus stroberi satu ya!” Kemudian aku menghentikan menggambar dan menatapnya.
“Aku pesankan cokelat hangat ya. Akan terasa lebih nikmat waktu musim hujan seperti sekarang. Sudah mulai gerimis, bentar lagi hujan tuh. Cokelat hangat akan pas sekali untuk nona cantik yang satu ini. Percaya deh.” Persis sales yang menawarkan produknya. Tanpa menunggu persetujuanku, dia akhirnya memesan dua cokelat hangat. Baru pertama kali ini aku minum cokelat hangat, tidak kalah enak dengan jus stroberi. Manisnya pas banget, apalagi mencecap rasanya sambil memandang wajah laki-laki itu.
“Pilihan yang tepat, Jaka. Lain kali aku akan memesannya lagi.”
“Itu minuman yang biasa ku pesan. Minuman andalan kafe ini loh, kan namanya ada di list teratas menu minuman.”
“Itu buku apaan sih?” Aku menunjuk buku yang dia bawa.
“Buku ini salah satu misi yang sedang aku jalankan. Membaca seratus buku.” Sambil memperliatkan bukunya padaku. Buku yang berbeda dari yang kemarin aku lihat.
Tebalnya kira-kira 200 halaman dan covernya berwarna hijau lumut dengan tulisan bold “Titip rindu buat kekasihku!” Bacaan yang manis untuk seorang laki-laki sepertimu.
“Istimewa. Sudah berapa buku yang kamu baca? baru sepuluh ya?”
“Hahaha. sepuluh buku kurangnya.” Wow, begitu mengagumkan, benar-benar poin plus buatnya. Makanya aku melihatnya membawa buku. Jadi inilah alasannya.
Setelah setengah jam, dia pamit karena ada masih ada urusan penting. Tak lupa aku mengembalikan jaketnya dan mengucapkan terima kasih. Sudah ku semprotkan parfum di jaketnya biar terkesan wangi. Sekali lagi aku dapat melihat senyum di wajahnya dan mendengar tawanya yang renyah. Ada satu lagi yang ku ketahui tentangnya. Dia pergi ke kafe ini untuk membaca untuk misinya itu.
Semenjak pertemuan itu, kami jadi sering bertemu di kafe. Aku juga jadi lebih sering memesan cokelat hangat. Cokelat ini membuat moodku lebih baik. Entah mungkin karena sekarang ada kehadiranmu yang selalu menemani. Kadang kala kami pergi makan di pedagang kaki lima pinggir jalan. Aku suka kesederhaanmu. Bagaimana kamu bersikap dan memperlakukan aku sebagai wanita. Begitu santun. Begitulah selanjutnya pertemuan kami hingga hadirlah cinta. Ya cinta. .

Hari-hariku kini menjadi menyenangkan. Beban hidupku bisa kubagi berdua bersamanya. Dia selalu mendukung apa yang menjadi keinginanku, menjadi desainer. Dia mendaftarkanku pada kursus jahit. Katanya biar aku bisa mewujudkan gambar desainku dalam bentuk pakaian. Pertama kali membuat kemeja, hasil jahitanku tidak simetris. Tapi dengan senang hati dia mencoba kemeja hasil jahitanku. Kemudian tawa kami lepas karena kemeja itu terlihat sangat buluk di badannya. Dan pelukanku menghambur bersama tawa kami saat itu. Ah, aku benar-benar beruntung bisa memilikinya.
“Selalu minta maaf tapi tetap kamu ulangi kesalahanmu. Kalau tidak bisa menepati tidak perlu berjanji.” Terdengar suara lelaki yang ku cintai lima bulan lalu itu di ujung telepon. Sangat terlihat kekecewaannya padaku.
“Besok malam aku tunggu di kafe. Iya, kali ini aku pasti datang. Aku bawakan lumpia tuna untukmu” Tut. Tut. Tut. Tiba-tiba telepon terputus. Aku belum selesai bicara. Semarah itukah dia terhadapku?
Aku memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Mengejar impian, impianku menjadi desainer perlahan menujukkan kemajuan. Disamping itu aku juga semakin sibuk dengan kuliah kedokteranku. Aku yang memintanya datang ke kafe itu namun sudah beberapa kali aku malah tak datang tanpa memberinya kabar. Padahal aku tahu dia juga sibuk dengan pekerjaan barunya. Betapa aku ingin menemuinya tapi karena kesibukanku aku sering lupa waktu dan mengabaikan janjiku sendiri. Aku tidak menyangka ini membuatnya sangat kecewa. Aku seperti tertampar janji-janjiku yang telah terucap.

Malam ini aku menunggunya. Di tempat pertama kami bertemu. Kafe kecil dekat kampus. Masih tetap sama seperti dulu. Tetap bisa ku lihat rintik hujan yang turun. Menyejukkan. Tetapi itu pun tetap tidak membantu mengurangi kegelisahan hatiku. Ku lihat jam di pergelangan tangan. Berharap dia segera datang. Detik pun terasa berjalan lambat saat menunggunya. Gelas sisa jus stroberi masih berada di atas meja. Sambil menopang wajah dengan tangan kecilku, aku memutar gelas itu. Memainkan nada dengan mengetuk-ngetuknya. Menghabiskan waktu. Bosan terlalu lama duduk, akhirnya aku beranjak ke halaman kafe, di bawah rintik hujan. Mencari tempat yang nyaman untukku sendiri. Menghirup dalam-dalam udara malam yang tengah gerimis. Namun udara dingin itu terasa menusuk tulang. Ku rapatkan jaketku. Sesekali ku palingkan wajah ke teras kafe. Namun tak ku lihat tanda kehadirannya. Aku kembali ke dalam kafe memesan cokelat hangat kesukaannya. Ku dekatkan telapak tangan ke dinding cangkirnya untuk sekedar menghangatku. Ku teguk cokelat hangat itu, rasanya tak manis saat aku mencecapnya pertama kali di sampingnya. Syaraf perasa manis di lidahku mungkin telah putus. Ku biarkan cokelat itu mendingin di cangkirnya. Tak kusentuh lagi. Hingga pengunjung kafe mulai meninggalkan tempat itu. Hingga aku menjadi yang terakhir melangkah pergi. Dia, lelakiku tak datang. Tak pernah akan datang lagi untukku.
Di sisi lain dia yang ku tunggu..

Pada malam itu aku datang untukmu. Di kafe kecil kita. Namun aku lebih suka memandangmu dari jauh. Memperhatikan bagaimana kegelisahanmu. Aku tahu berapa lama kau menunggu. Aku tahu berapa kali kau melihat jam di pergelangan tanganmu. Aku tahu berapa kali kau palingkan wajahmu. Aku tahu berapa kali kau mengerutkan dahimu. Aku tahu mata indahmu sudah tak mampu membendungnya. Aku tahu tubuh mungilmu menggigil karena gerimis dalam dinginnya malam. Aku tahu semua yang kau lakukan pada malam itu. Ingin sekali aku menghampirimu, menanyakan keadaanmu. Namun sekali lagi aku katakan saat ini aku hanya ingin memandangmu dari jauh. Melihat keadaanmu baik-baik saja, sudah cukup bagiku. Lebih dari sekedar cukup. Maaf, bukan aku ingin menjauhimu. Biarlah waktu yang membuatmu sadar dengan sikapmu. Andai kau tahu, aku sangat merindukanmu. Bukan kamu yang terakhir meninggalkan kafe itu, tapi aku.
Diubah oleh embun.malam
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
update lagi gan.. ane juga salah satu penikmat coklat panas sambil liatin ujan.. emoticon-Big Grin
Ijin Nenda Gan emoticon-Ngakak (S)
Wahh Ada Cerita Baru Ijin Nenda Gan emoticon-Jempol


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di