alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
our journey to find love
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54db803b1cbfaa7e4f8b4567/our-journey-to-find-love

our journey to find love

hallo penggemar SFTH salam kenal semua, kami, ya kami TSnya emang terdiri dari 3 orang, hehe, mau sedikit menuangkan cerita yang semoga saja bisa menghibur teman-teman semua, sebelum kita mulai, ada baiknya di bubuhi beberapa pernyataan dari TS dulu ya.


Penyataan TS:

1. cerita ini real sebisa mungkin kami akan mencritakan sedetail2nya

2. TS bertiga lagi sibuk di RLnya, reki sibuk kerja dan nyelesein s1nya, keira sibuk namatin s2nya dan rangga sibuk kerja dan bikin bayi jadi kalau ada keterlambatan update moon maap

3. kalau mau tanya hal-hal yang bersifat private bisa melalui PM

4. tolong TS dikasi masukan dalam menata tulisan, karena TS masih newbie dan butuh bimbingan kawans semua


okeey happy reading yaahh


link


Diubah oleh rizkyanggoro
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Chapter 1. Reki


Nobody knowsJust why we're here
tidak ada yang tau kenapa kita disini

Could it be fate, Or random circumstance
bisa saja itu takdir atau suatu ketidak sengajaan

At the right place
At the right time
Di tempat yang tepat, di waktu yang tepat

Two roads intertwine
dua jalan bertemu

And if the universe conspired
Dan jika alam semesta bersekongkol

To meld our lives
To make us, Fuel and fire
Untuk membaurkan hidup kita, untuk menjadikan kita bensin dan api

Then know
Where ever you will be
So too shall I be
jadi sekarang dimanapun kamu, aku juga akan ada disana

When the light disappears
Saat cahaya menghilang

And when this world's insincere
Saat dunia tidak jujur

You'll be safe here
Kamu akan aman disini

When nobody hears you scream
I'll scream with you
You'll be safe here
Saat tidak ada yang mendengarmu berteriak,Aku akan berteriak bersamamu
Kamu akan aman disini. (rivermaya-you’ll be save here)


Bandara Soekarno Hatta. 31 desember 2012
Sebuah lagu dari rivermaya mengalun lemah dari headset yang terpasang di sebelah kupingku, sebuah lagu yang menceritakan tentang cinta yang menawarkan sebuah perlindungan serta bagaimana cinta itu dapat menjadi tempat yang terindah, tertenang, dan kehangatan, ya, memang itulah tugas cinta,

Di sebuah sudut ruang tunggu bandara soekarno hatta, aku duduk menanti panggilan untuk penerbangan yang telah aku beli beberapa saat yang lalu. Kulihat lagi tiket pesawatku, tertulis namaku disana, Mr. Reki, kulihat lagi jam penerbangannya.

“sebentar lagi”

“sebentar lagi kita bertemu”

Lamunanku segera terusik dengan suara dari handphoneku yang menandakan batrainya akan segera habis, aku memperhatikan baterai handphoneku yang mulai melemah.

“aku harus mengisi batrai ini, jika tidak aku tidak dapat menghubunginya”

Mataku mulai menyusur di sekitar ruang tunggu bandara itu mencari tempat untuk mengisi baterai handphoneku, tak kudapati adanya tempat untuk membantuku mengisi ulang baterai handphoneku di setiap sudut bandara internasional ini.

“bodoh, kok bisa” umpatku pada diri sendiri, menyesali kebiasaanku yang ceroboh.

Aku mulai kelimpungan,aku menyusuri ruang tunggu bandara, berharap dapat menemukan seseorang yang sedang mengisi ulang batrainya, sehingga setidaknya bisa kupinjam sebentar, sampai akhirnya aku berjalan menuju sebuah ruangan yang berisi beberapa petugas bandara, kulihat ada seorang petugas yang sedang mengisi batrai handphonenya, bergegas aku mengetuk pintu ruangan itu, beberapa orang di dalam ruangan tersebut tampak menoleh kearahku, sebagian memandangku heran, melihat penampilanku yang cukup kucel.
Ya, pagi itu dengan spontan begitu terbangun aku langsung mengambil jaket kulit lusuhku, menggunakan sepatu seadanya,dengan baju bekas tidurku, tanpa mandi, cuci muka ataupun gosok gigi, aku bergegas berangkat kebandara, membawa uang seadanya mencegat taksi dan begitu sampai di bandara aku langsung membeli tiket, yang aku tidak perhatikan adalah ternyata baterai handphoneku sudah mau habis.

“maaf pak, boleh saya pinjam chargernya” ujarku kepada seseorang yang kuanggap senior diantara orang-orang itu

“....”

Belum ada yang menjawab, sebagian masih memandangku heran, entah karena tampangku yang kucel atau pakaianku yang lusuh.

“maaf pak? Saya perlu sekali, untuk menghubungi kerabat saya” akupun terpaksa berbohong

“em, sori pak, kami tidak mengijinkan staff kami untuk melakukan pengisian batrai disini”

Aku melihat sebuah handphone yang sedang di isi batrainya disana, lalu ku alihkan lagi pandanganku ke bapak tersebut.

“um, oke pak, terima kasih”

“** SENSOR **” umpatku dalam hati.

Akupun kembali ke ruang tunggu, menuju ruang tempat merokok, mengambil sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam sambil tetap mengumpat. Di saat yang sama batrai handphoneku akhirnya habis, meninggalkan aku dalam sebuah keraguan.

“aku harus tetap berangkat”

“Aku harus menyelesaikan ini.”

Tak lama panggilan dari pesawat yang akan aku tumpangi berkumandang. Aku bergegas bangkit, ini kesempatan terakhir dan aku tak akan menyia-yiakannya.

Samarinda, tahun 2005.
Masa SMA kata sebagian orang adalah masa yang paling indah, ya bagi orang-orang merasakan keindahan, tidak bagi mereka yang dibully habis-habisan semasa SMA.
Bagiku, masa SMA menyenangkan, namun juga membawa luka.
Aku merupakan murid pindahan di sekolah ini, sebenarnya berat untuk meninggalkan sekolahku yang lama, terlebih aku harus berpisah dengan seseorang yang aku cinta disana.
Cinta zaman SMA bisa dikatakan cinta monyet, bukan, bukan karena pada saat pacaran lalu kedua pasangan bergelantungan di pohon sambil menyatakan cinta dengan saling memberi pisang dan memakan kutu satu sama lainnya. Tapi karena segala keputusan yang diambil saat masih SMA itu biasanya keputusan dari pikiran pendek, egois, dan labil, dan itulah kenapa disebut cinta monyet, sama seperti monyet yang tidak perlu berpikir panjang, hanya perlu makan, tidur dan buang air.
Di kelas yang baru ini aku menemukan beberapa teman baru, beberpa aku mengenal wajahnya karena dulu pernah satu SMP denganku. Saat itu adalah masa-masa orientasi siswa baru, sehingga pelajaran belum berjalan sepenuhnya, karena beberapa murid kelas 2 saat itu menjadi panitia orientasi.

“jo”

Aku memanggil salah satu temanku, dia bernama jousha, jousha merupakan temanku, teman dari SD, SMP, hingga sekarang bertemu lagi di SMA.
Jousha yang sedang berjalan di lorong kelas sambil menirukan gaya ayam menoleh kepadaku.

“pkok?”

“kamu serius niruin ayam? Sampai ngomongnya juga?”

“pkok!! Pkook!!” jousha berkokok sembari memaju mundurkan kepalanya, dan mengepak-kepakan tangannya.
Jousha makin menjadi, aku mulai mencari batu

Belum sempat aku menemukan batu yang cocok dengan bentuk kepala jousha tiba-tiba seseorang perempuan berkerudung menghampiri jousha.

“jo, kamu ga ikut orientasi?”

“pkok!! Nggak ki, emang aku juga jadi panitia?”

“lho kamu kan anggota osis juga” si perempuan berjilbab itu tampak sedikit marah, matanya .

“mampus si jousha, bakal di gorok nih” aku bicara dalam hati.

“oh iya deh, nanti aku temuin ketua osisnya” jousha mulai normal, roh ayam yang tadi merasuki dia sudah cabut kayaknya.

“oh iya ki, kenalin, ini Reki, temen SMPku dulu, Reki ini Kiki, temen satu kelasku dulu” jousha mengenalkanku pada kiki.

Aku menjabat tangannya, dan tersenyum sopan

“ya udah Jo, aku disini aja kamu ikut ngurusin ospek sana gih”

Tak lama kiki dan joushapun menghilang dari pandangan, aku kembali sendiri lagi bingung harus menyapa siapa, kulihat di bangku panjang di depan kelasku, beberapa murid perempuan sedang tampak asik bergosip ria, tertawa-tawa. Aku memperhatikan mereka dan terbawa lamunan, bukan, aku tidak melamun sedang asik berada di tengah-tengah mereka dan ikut bergosip ria dan tertawa-tawa, aku hanya merindukan kekasihku yang saat ini berada di sekolah berbeda denganku.
Aku memutar ingatanku kembali, saat itu sebenarnya aku tidak mau pindah sekolah, orang tuaku sudah bersikeras memintaku pindah sejak smester pertama selesai, namun aku bersikeras tidak mau pindah, hingga pada akhirnya aku mengalah bahwa aku mau pindah saat kenaikan kelas saja, alasannya simple, karena pada saat itu aku baru saja berpacaran dan pada saat akhirnya aku harus pindah ke sekolah lain akhirnya aku harus berpisah sementara dengan kekasihku saat itu, saat itu aku begitu naif, dan percaya bahwa jarak bukanlah halangan sama sekali bagi hubungan ku dengannya.
---
Sudah sekitar sebulan aku di sekolah baruku, beberapa adaptasi harus kulakukan, beberapa teman baru sudah kudapatkan, salah satunya bernama Keira seorang gadis berperawakan tinggi, manis dan seorang cowok kucel bernama (nyeng. . as you wish), dua orang ini pada akhirnya menjadi sahabat terdekatku.
Jam sekolah sudah selesai siang itu, pada saat hendak pulang tiba-tiba aku dihampiri oleh kiki

“Reki!”

“ya?”

“kamu mau ikut les tambahan?”

“tambahan apa ya?”

“matematika, kata jousha guru kelas dia, kamu dan aku sama”

“oh, si pak iya to?

“hihihihi, hussh! Namanya pak kaseri tau”

Ya guru matematika yang satu ini tergolong unik, karena di setiap kalimatnya dia selalu mengakhirinya dengan kata-kata ya tho, sehingga anak-anak satu kelas lebih konsen menghitung jumlah kata-kata ya tho yang di ucapkan dia di bandingkan memperhatikan rumus-rumus yang di ajarkan, pernah suatu ketika guruku ini menjadi pembina upacara, pada saat membawakan pidato ia berusaha menahan untuk tidak mengucapkan kata ya tho, yang pada akhirnya setelah beberapa menit keceplosan juga, dan itu membuat banyak murid yang tertawa lepas pada sat upacara.
“oh boleh ki, tiap hari apa ya?”

“senin, rabu, jum’at ya?”

“oke”

“punya nomer handphone?”

“mm, ada nih” aku pun memberikan nomer handphoneku pada kiki

“oke, sudah aku catat, nanti aku sms” kiki pun pergi berlalu.

Malam itu sesampainya aku dirumah, aku menghubungi kekasihku, kamu berbincang panjang lebar, berbagi rindu, saling bertanya kabar dan melepas kangen. saat itu kami masih mentertawakan jarak, kami masih mentertawakan arti bertemu, aku masih percaya tidak ada yang bisa memisahkan aku darinya.
Akupun mengerti dirimu menanti
Sentuhan belaiku, dahaga cintamu
Akupun berharap, rindu ini
Bukan sebatas kata kata
Untuk menggantikan, diriku disaat
Ku jauh....

Ku pastikan... hati ini terjaga
Setiaku untukmu
Dan kau jua... tetap satu cinta
Jangan terusik khilaf
(kotak-saat ku jauh)
Diubah oleh rizkyanggoro
wah tsnya kok bisa 3 nih ?? emoticon-Bingung
Quote:

iya gan, ceritanya dari kita bertiga, hehe soalnya dulu satu sekolah, ,
Chapter 2. Keira.
Samarinda, 2005.

“mampus telat lagi.. gara-gara nungguin adek sematang wayang ni.. udah tau sekolah pagi malah lebih milih tidur daripada mandi pagi jadi telat berangkat. Duh semoga Ibu Dewi belum masuk kelas. Males banget pagi-pagi kena hukuman….”

Hari pertama kegiatan belajar mengajar kelas SMA Negeri 1 Samarinda di mulai. Sebelumnya masa orientasi sekolah selama tiga hari telah berjalan dengan sukses. Wajah-wajah baru, muda dan belia siswa baru mulai bertebaran di gerbang sekolah. Dengan baju berwarna putih cemerlang dan beberapa kebesaran.
Pagi itu rasanya dunia berjalan lebih cepat. Kenapa ? karena hari ini adalah hari pertama peraturan kelas mulai diberlakukan. Ya, tahun ajaran ini aku masuk kelas 2-4. Bukan kelas unggulan namun cukup istimewa. Istimewa? Jelas. Karena wali kelas ku yang baru adalah Ibu Dewi, guru biologi yang terkenal amat sangat killer. Kemarin ibu Dewi masuk ke kelas kami dan memperkenalkan diri. Sungguh perkenalan yang tidak akan bisa dilupakan. Ibu Dewi sangatlah ceplas-ceplos. Beliau menyampaikan peraturan utama di kelas kami bahwa tidak boleh ada murid terlambat setiap paginya. Apabila ada yang terlambat, maka akan mendapatkan hukuman membersihkan kaca di depan kelas. Kami juga harus hadir lebih pagi, karena ibu meminta 15 menit waktu ekstra lebih awal sebelum kegiatan belajar dimulai untuk “renungan kelas pagi hari”. Bukan, bukan untuk ngopi pagi dan membahas gossip artis seperti acara tv pagi hari. Renungan kelas pagi hari sebagai ajang ibu Dewi menyampaikan beberapa pengumuman maupun sekedar menyapa murid-murid. Tapi buat aku kegiatan itu sepertinya sebagai ajang untuk menangkap murid-murid yang malas bangun pagi dan terlambat seperti aku pagi ini.

Bel berbunyi pukul 7.30 tepat. Dan 7.15 aku harus sudah duduk manis di kursi sebelum hukuman datang. Kulihat jam di mobil menunjukkan pukul 7. 12, dan saat ini mobilku masih ngantri di area drop zone murid yang diantar. Hmmm. Tunggu jangan di bayangkan drop zone adalah lobi seperti di mol-mol kota besar. Drop zone disini ya jalan raya yang mendadak jadi penuh kendaraan-kendaraan yang mengantar siswa sekolah. Sekolahku termasuk sekolah ternama di kotaku yang kecil ini. Terletak di pusat kota dan bersebelahan dengan sebuah SMP ternama (yang juga SMP ku). Sebagai sekolah ternama (ceilah..) yang sekolah disini juga beragam, mulai dari anak pegawai negeri golongan bawah sampai anak konglomerat. Gak heran kalau pagi hari seperti ini jalanan ini penuh dengan antrian mobil-mobil yang berebut menurunkan anaknya yang akan sekolah di SMA maupun SMP. Gak Cuma itu. Kalau jam antar-jemput sudah berakhir, tengoklah halaman parkir sekolahku. Udah kayak showroom motor. Buanyaaaaaaaak banget barisan parkiran motor berjejer. Lalu coba tengok sebrang jalan sekolahku. Mobil-mobilparker berjejer sepanjang jalan.
Masih ada sekitar 7 mobil sebelum akhirnya mobilku yang mengantarku bias sampai di dpean gerbang sekolah. Waktu menunjukkan pukul 7.14. hati ketar-ketir dan gak tenang akhirnya aku memutuskan keluar dari mobil dan berlari menuju sekolah. Daripada hari pertama telat, kan memalukan lebih baik aku lari-lari demi menjaga nama baik. Duh, kelasku di lantai 2 pula. Sial. Gak peduli sekitarku yang masih asik jalan dengan santai menikmati udara pagi, aku berlari seceat mungkin melewati lapangan basket yang berada di tengah sekolahanku dan menaiki tangga. Dan akhirnya sampai di kelas, pelan-pelan aku tengok isi kelas dari pintu, aaaah… belum ada ibu Dewi. Selamat hidupku hari ini.

Dengan nafas yang masih terengah aku duduk dikursi. Sampingku masih kosong. Wah, celaka ni Mitha. Teman sebangku yang baru aku kenal. Belum banyak yang aku kenal di kelas ini. namun sepertinya teman-teman sekelasku bukan terdiri dari siswa cupu dan rajin belajar. Sepertinya mereka adalah kaum setengah-setengah. Setengah bandel, setengah rajin. Kayak aku.
“Assalamualaikuuuummmm…..” dengan lantang ibu Dewi masuk dan menyapa kelas. Ibu Dewi Nampak terengah-engah dan mengibaskan rambut pendeknya agar lebih banyak oksigen masuk ke paru-parunya..
“walaikumsalaaam warohmatullahi wabarokatu….” Serentak kami menjawab. “Hahahahahaa… masih banyak yang belum datang yaaaa..?” mata ibu Dewi mengitari sekeliling kelas. “dapaat mangsa aku…” celoteh ibu Dewi dengan gayanya yang kocak, cuek, dan blak-blakan.
“misii bu…” suara laki-laki mengetuk kelas. Rangga senyum-senyum mengetuk pintu.
“dari mana ikam?” ibu Dewi bertanya dengan logat Banjar. “dari kantin bu..” jawab Rangga polos. “ikam niiii…. Tau lok kada boleh terlambat? Baris di depan sana..”
“permisi bu..” suara kedua, perempuan. Mitha masuk kelas dengan perlahan. “nah ikam ni dari mana?” Tanya bu Dewi. “dari rumah bu, tadi macet di jalan bu banjir..” jawab Mitha. “banjir kah rumah ikam? Hujan tadi malam kok masih banjir sampai sekarang..” omel bu Dewi. “ikam berdua, bersihkan kaca depan kelas” perintah bu Dewi sembari memberikan lap kering kepada mereka berdua. Tak bisa berkutik mereka menuruti perintah ibu Dewi.

“jadi kalian tau kan, saya tidak main-main dengan peraturan kelas kita.” Ibu Dewi menegaskan. “setiap pagi akan seperti ini, yang terlambat akan dihukum membersihkan kaca di depan kelas. dan hari ini belajar mengajar sudah mulai. Kalian jangan bikin malu saya di depan guru-guru yang lain. Jangan kebanyakan gaya, jangan rebut. Jangan macam-macam. Awa aja ada yang macam-macam, habiiis ku sikat. Hahahahahha..” jelas bu Dewi sambil tertawa.

Kami mendengarnya antara ingin tertawa tapi juga lumayan cukup takut dengan ancaman ibu. Jarang sekali aku temui guru seperti beliau yang sangat ceplas ceplos. Kubayangkan tahun ajaran baru ini bakalan seru punya wali kelas seperti beliau.
Mitha dan rangga memasuki kelas. ibu Dewi pun telah pamit karena mau mengajar di kelas 2-1. Mitha duduk di sebelahku dengan wajah kesal. Sedangkan Rangga duduk di kursi belakangku dengan seorang anak laki-laki gendut yang belum aku kenal.
“sadis banget bu Dewi. Diketawain anak-anak lewat aku tadi pagi-pagi udah ngelap kaca..” omel Mitha. Aku hanya tersenyum sembari mengucap syukur dalam hati, karena hampir saja aku merasakan hal serupa seperti Mitha. Ku siapkan buku-buku baruku siap mengawali mata pelajaran pertama hari ini. Matematika.
…………
Teeeeet… Teettt….
“jadi selama saya mengajar kalian perlu didampingi LKS ini. beberapa tugas dari saya akan ada di buku ini. harganya Cuma 7.500 murah. Ya toh. Kalian kumpulkan ke bendahara nanti dia biarr koordinasi sama saya. Ya toh..?” jelas guru matematika kami pak Kaseri.
“16 kali…” gumam Rangga dari kursi belakang. “16 kali ya toh selama lebih dari 2 jam..” tambahnya. Aku menoleh ke kursi belakang. Ku lihat Rangga sedang mencoret-coret buku catatan bagian belakang. Rupanya dia sedang menghitung berapa kali guru matematika ini mengucapkan ya toh di depan kelas. aku Cuma geleng-geleng melihat kelakuannya. Anak laki-laki disebelahnya hanya tertawa, ku lihat buku catatanya penuh dengan gambar-gambar wajah orang. Bagus juga, pikirku.
“Teeeett… Teeet…..”
10.15. waktu istrihat pertama dimulai. Aku membereskan buku-buku dan alat tulisku. Ku ambil handphone yang sedari tadi ku selipkan di dalam laci lalu ku masukkan ke dalam saku baju. “kantin gak?” Tanya Mitha. “yuk..!” jawabku cepat. Pelajaran matematika meskipun hanya sebatas perkenalan dan lari-lari di pagi hari membuatku ingin segera meneguh es teh dan tempe panas pak Min.
“Reki.. kantin gak?” suara Rangga di belakang berbicara pada teman sebangkunya. Oh, Reki namanya. Aku selalu susah menghapal nama kenalan baru. “Ayok. Bosan banget tadi..” jawab Reki. Sejak tadi kuperhatikan dia sangat tidak berselera mendengarkan pak Kaseri.
“kalian mau ke kantin juga?” Mitha bertanya pada mereka berdua. “bareng aja..” dia melanjutkan tanpa menunggu jawaban. Mereka berdua hanya menganggu sembari berjalan kedepan. Aku berjalan mengikuti mereka di belakang.
“Kiki…..” Rangga memanggil seorang cewek berjilbab yang berpapasan dengan kami di depan kelas. “haii…” balas gadis itu. “mau ke kantin yaaa.?” Tanya Rangga sambil senyum-senyum. “iya..” balas gadis itu lagi sembari senyum dan berjalan lebih dulu. Kulihat Rangga masih senyum-senyum melihat Kiki, sang gadis manis berjilbab itu. “kenal Ga?” Tanya Reki. “Iye.. cakep ye..” Rangga masih senyum-senyum mengawang. “lumayan lah..” jawab Reki singkat.
………………..
Diubah oleh rizkyanggoro


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di