alexa-tracking

Cerita bersambung : Flamboyan berguguran

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54d05bcfde2cf2ca0a8b4567/cerita-bersambung--flamboyan-berguguran
Cerita bersambung : Flamboyan berguguran
Bagian 1

Hari menjelang tengah malam.
Ketika Hujan mulai perlahan turun.
Dan Petir memercikan cahaya di kegelapan.

Laras berjalan gontai, tubuhnya yang nyaris telanjang basah kuyup dan mengigil kedinginan. Pakaiannya compang-camping robek disana sini. Laras berusaha mendekapkan tangannya ke dadanya, berharap mendapatkan sedikit kehangatan untuk mengusir dingin yang menembus tubuhnya yang lemah. Hanya tekad kuatnya untuk hidup yang membuatnya masih bisa melangkahkan kakinya menyusuri hutan karet kelam itu.

Hujan turun semakin deras. Laras terpaksa duduk berteduh dibawah sebuah pohon besar. Meringkuk dan menggigil. Bibirnya pucat dan keriput terkena hawa dingin air hujan. Ingatannya mulai menerawang. Airmatanya pun kembali tergenang dipelupuk matanya. Malam ini telah menjadi malam yang jahanam baginya.

Dua hari sebelumnya.
Ketika Pagi menjelang siang.
Di Komplek perumahan mewah.
Di Rumah Laras.

Wajah Laras nampak berseri-seri. Hatinya senang, karena nanti malam dia akan berkencan dengan pacarnya. Laras mulai mengenal Roy dua bulan yang lalu dari sebuah sosial media. Wajah tampan Roy dan cara perhatiannya yang memberikan kehangatan dihati Laras telah membuat Laras jatuh cinta kepadanya. Dan malam ini Roy mengajaknya makan malam di sebuah restoran mewah dipinggir kota.

"Duh anak mama, ceria sekali pagi ini, mentang-mentang mau ketemuan sama pacar ya", goda Maya, mamanya Laras.

Maya berumur 37 tahun. Wajahnya berbentuk oval. Kulitnya putih bersih. Tinggi dan langsing. Bagai seorang model. Maya adalah Istri dari seorang pengusaha batubara yang sukses yang bernama Ronald. Maya melahirkan Laras saat dia berusia 19 tahun. Tak heran bila Maya berjalan berdua dengan anaknya, mereka seperti kakak beradik saja. Dari mamanyalah ternyata sumber kecantikan Laras.

"Ah mama nih, sukanya godain laras aja. sebel ah", jawab Laras dengan tawa berderai sambil pura-pura merajuk. Kemudian dipeluknya mamanya sambil mencium pipinya.

"Iya mah, hari ini Roy mau ajak aku makan malam di restoran mewah yang di pinggir kota itu. Mamah tahu kan tempatnya ?" Kata Laras selanjutnya.

"Oh ya, mama tahu. bagus kok tempatnya. Tapi itu jauh sekali Ras, kamu jangan jalan sendirian ya. Nanti minta diantar oleh pak didit saja" jawab Maya.

Karena sedikit khawatir, Maya minta agar Laras diantar sopir pak Didit saja. Didit adalah sopir keluarga Laras. Dia sudah puluhan tahun menjadi sopir keluarga Laras. Umurnyapun sudah sepuh. Dahulu didit adalah sopir dari orang tuanya Maya.

"Iya mah, nanti Laras minta pak Didit yang bawa mobilnya", sahut Laras kemudian.

"Harusnya tuh, Roy yang bawa mobil sendiri mah, tapi kemarin Roy bilang kalau mobilnya lagi dibengkel. Ada yang rusak gitu deh mah"

"Iya gapapa Ras, kalau memang rusak ya gak boleh dibawa, malah bahaya juga kalau dipaksakan jalan, iya kan", tukas Maya.

"Kelihatannya Roy anak yang baik ya Ras, beberapa kali dia main kesini, mama lihat orangnya sopan dan perhatian sama kamu"

"Mama senang dia bisa kembalikan kamu menjadi ceria lagi Ras"

"Sejak kamu putus dengan Jefri, kamu selalu sedih dan tidak bersemangat, membuat mama cemas jadinya", kata maya lagi.

Satu bulan sebelumnya.
Ketika Saat senja.
Di sebuah kafe ternama.

Jefri sedang duduk menunggu kedatangan Laras. Dia terlihat gelisah. Sudah dua jam Jefri menunggu disitu, namun Laras belum juga terlihat batang hidungnya. Jefri yang temperemental mulai panas hatinya. Dia Kesal karena merasa dipermainkan oleh Laras. Entah sudah berapa kali dia menghubungi handphone Laras, namun selalu terdengar nada telepon tidak dapat dihubungi. Hanya sebuah sms yang diterimanya dari Laras, kalau Laras sedang terjebak macet karena adanya penutupan jalan.

Sekitar satu jam kemudian, sampailah juga Laras disitu. Dengan senyum terkembang, Laras menghampiri Jefri yang terlihat sedang kesal dan sangat bete. Laras mulai merasa takut. Karena dia tahu bagaimana sifat Jefri apabila sedang kesal.

Apabila Jefri sedang kesal, maka emosi Jefri menjadi labil dan dia tidak sungkan untuk menyakiti Laras. Awalnya hanya kata-kata kasar, namun akhir-akhir ini kekasaran Jefri mulai meningkat. Jefri tak lagi segan untuk menampar Laras. Tapi kemudian setelah emosinya reda, Jefri akan meminta maaf dengan menangis dan memohon-mohon kepada Laras agar dimaafkan. Dan Laraspun selalu luluh melihat Jefri yang seperti itu.

"Hai Jef, maaf ya karena lama menunggu aku," sapa Laras dengan senyum manisnya namun ada sedikit ketakutan dibalik senyumnya itu.

Jefri masih diam saja. Tangannya diketuk-ketukan kemeja. Nafasnya mulai memburu.

"Kamu sudah makan sayang ?" ucap Laras berusaha mencairkan suasana.

"Aku pasti sudah makanlah !, memangnya aku harus diam saja menunggumu tiga jam seperti orang bego ! dasar tolol", maki Jefri dengan ketus.

"Iya maaf ya sayang, kamu menunggu aku lama sekali, aku tahu kamu pasti kesal" Laras berusaha tetap lembut.

"Tadi itu ada penutupan jalan dan jalan lainnya menjadi macet, aku sudah berusaha secepatnya kok untuk datang kesini, maafkan aku yah sayang"

"Eh tolol ya kamu, nenek-nenek aja tahu kalau jalanan disini itu pasti macet, kenapa tidak jalan lebih awal ? memangnya aku siapanya kamu ? pembantu kamu ? yang bisa kamu permainkan, hah !, emosi jefri mulai meledak.

Orang-orang mulai terganggu dengan suara keras Jefri. Mereka mulai menonton. Laras malu sekali karenanya. Cepat-cepat dipeluknya Jefri agar lekas reda kemarahannya. Namun tindakan itu berakibat fatal buat Laras. Jefri malah menamparnya. Laras terhuyung jatuh duduk di kursi. Airmatanya membasahi wajah cantiknya.

Seorang pria pengunjung kafe, menegur Jefri agar tidak berlaku kasar kepada seorang perempuan. Jefri yang sedang dikuasai emosi, malah menantang berkelahi pria pengunjung itu. Terjadilah perkelahian. Sekali pukul, jatuhlah Jefri. Kemudian pria itu mengangkat kerah baju Jefri dan mengusirnya keluar kafe.

Laras berlari keluar kafe dan meninggalkan Jefri yang tertelungkup di jalanan. Sejak saat itu Laras sudah bulat hatinya untuk memutuskan cintanya kepada Jefri. Berkali-kali Jefri menelepon dan sms kepadanya untuk meminta maaf dan menyatakan penyesalannya. Tapi hati Laras sudah terluka. Kali ini ucapan mohon-mohon maafnya Jefri bagaikan lolongan anjing saja di telinga Laras.

Selama ini kekasaran Jefri hanya tersimpan di dalam hati Laras saja. Tak sekalipun Laras memberitahukan kekasaran Jefri kepada papa dan mamanya. Dia tak mau membuat orang tuanya khawatir. Dan Laras ingin menunjukan kepada orang tuanya bahwa Dia telah dewasa dan mampu menjaga dirinya sendiri.

"Kurang apa aku kepadamu Jef, sehingga kamu sampai hati menyakiti hatiku terus, melukai aku ? Kata Laras saat menerima telepon dari Jefri.

Sebelumnya Laras sudah berusaha mengabaikan telepon dan sms dari Jefri. Tetapi telepon dan sms dari Jefri bagaikan teror, tak ada henti-hentinya.

"Sekarang cukup bagi aku Jef, aku sudah tidak cinta lagi kepadamu".

"Kamu jangan pernah lagi menghubungiku, jangan lagi SMS, jangan lagi datang kerumahku" Tegas laras lagi.

Kemudian terdengar tangisan Jefri, memohon-mohon agar Laras memaafkannya kembali. Tetapi percuma saja. Laras sudah menutup handphonenya. Dia kemudian mengganti nomor handphonenya. Sejak itu Jefri tidak pernah lagi menghubunginya.

Walau begitu hati Laras tetap merasakan kesedihan. Bagaimanapun Jefri adalah orang yang sangat disayanginya. Sejak itu pula dia menjadi pendiam dan penyendiri.

"Eh..kok malah melamun sih Ras", tegur Maya, mamanya Laras, membuyarkan lamunannya.

"Kamu pakai gaun ini saja ya sayang, cantik loh" goda mamanya lagi.

Laras tersenyum manis dan memeluk mamanya. "Laras mandi dulu ya mah" kata Laras kemudian.


Rumah Roy, pacar baru Laras.
Jam yang sama dengan Laras saat mandi.

Roy baru saja terbangun dari tidur. Buru-buru Roy mandi dan kemudian sarapan makanan yang telah disediakan oleh pembantunya.

Roy tinggal bersama mama dan dua orang adiknya. Papanya sudah lama meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat Roy masih kecil. Sebagai anak sulung, Roy harus bersikap menjadi pemimpin keluarga menggantikan papanya. Roylah yang kini mengelola sepenuhnya bengkel warisan papanya sejak mamanya terkena stroke beberapa bulan yang lalu.

Reni adik perempuan Roy yang baru saja lulus SMP kadang membantunya di bengkel sebagai kasir. Sedangkan Rina adik bungsunya masih kelas 6 SD dan belum dapat berbuat banyak membantunya.

"Mah, aku jalan ke bengkel dulu ya" pamit Roy kepada mamanya. Dikecupnya kening mamanya yang sedang terbaring di tempat tidurnya.

"Hati-hati di jalan Roy" sahut mamanya Roy yang terkena stroke ringan itu, lirih.

Bagi Rasti, nama mamanya Roy, Roy adalah anak yang sangat berbakti kepada orang tua. Tidak dapat dibayangkan apa jadinya hidupnya tanpa anak sulungnya itu. Rasti adalah sosok wanita pekerja keras. Hidupnya dicurahkan hanya untuk membesarkan anak-anaknya yang masih kecil semenjak ditinggal mati suaminya.

Sebetulnya banyak para lelaki yang ingin meminangnya kembali menjadi istri. Namun cintanya kepada suami, membuat hatinya tidak sanggup untuk menikah lagi.

Sesampainya di bengkel, Roy seperti biasa mengumpulkan semua karyawannya untuk diberikan brifing singkat. Namun kali ini beberapa karyawannya dibrifing lebih lama. Roy terlihat serius memberikan petunjuk kepada beberapa karyawannya itu. Mungkin karena Roy siang ini akan pergi kencan dengan Laras keluar kota untuk beberapa hari. Setelah semuanya dipastikan beres, Roy kemudian mulai berkemas. Reni yang kebetulan sudah pulang dari sekolah hari pertamanya di sebuah SMA heran melihat Roy berkemas.

"Kak, mau kemana, kok repot sekali beres-beresnya ?" tanya Reni ceria.

"Gak repot kok Ren, cuma bawa baju ganti saja dan peralatan kunci-kunci roda. Kan kakak hari ini mau kencan sama kak Laras, pulangnya nanti kakak sekalian mau menukar kunci roda yang cacat yang kemarin baru datang dari toko itu" jelas Roy panjang lebar kepada adiknya.

"Eh Ren, kamu jangan pulang malam-malam ya, jaga mamah dirumah. Biarkan yang jadi kasir mbak dewi saja yang jaga ya" lanjut Roy memberi pesan.

Renipun kemudian manggut-manggut tanda mengerti pesan sang kakak. Kemudian dipeluknya Roy dengan manja. Reni memang sejak kecil sangat dekat dengan kakaknya. Tak jarang pula Reni sering curhat kepada Roy, bahkan Reni tidak malu untuk curhat mengenai hal-hal yang paling pribadinya. Kalau mereka sedang berjalan berdua, banyak orang yang mengira kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih karena kedekatan yang mereka perlihatkan itu. Dan Roy sangat memanjakan adiknya itu.

Setelah mencium rambut Reni, Roy pun bergegas berangkat. Diikatnya semua barang bawaanya dibelakang motor sportnya. Rencananya Roy akan mengendarai motornya ke rumah Laras, dan barulah dari sana berdua dengan Laras menggunakan mobil kekasihnya itu ke pinggir kota.

Di Markas Jefri.
Di Sebuah apartment mewah.
Siang hari, dihari yang sama.

Jefri sedang uring-uringan. Hatinya sedang sedih dan marah. Dia menderita ditinggal putus oleh pacarnya. Tabiatnya yang kasar semakin parah. Tak jarang, teman satu ganknya itu yang menjadi sasaran empuk pukulan dan tendangannya.

Jefri adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Lahir dari pasangan suami istri pengusaha sukses. Kedua orangtuanya lebih banyak tinggal di Singapura. Disini Jefri tinggal bersama kakeknya yang sudah tua. Karena sering ditinggal orang tuanya itulah, Jefri menjadi anak yang pembrontak.

"Sialan !!!, aku benci cewek sok cakep murahan itu !!!" pekiknya meledak-ledak.

Marahnya meledak karena dia baru saja tahu kalau mantan pacarnya ternyata sudah mempunyai pacar baru, dan hari ini mereka akan pergi berduaan ke pinggir kota. Rencana jahatnya timbul. Nampaknya suatu perbuatan keji terbayang dibenaknya karena wajahnya mulai mengeluarkan senyum sinis.

"Woi para bajingan kampret, kesini kalian semua", seru Jefri memanggil anak buahnya.

"hari ini ada tugas buat kalian semua".

"Tugas apa boss ?", sahut toler, salah satu anggota gank Jefri. Seorang mantan kuli bangunan, berbadan kekar dan berambut cepak seperti seorang tentara bayaran.

"Kalian harus membereskan si Laras dan si Roy sialan itu. Mereka berdua hari ini sedang menuju restoran mewah di pinggir kota. Kalian buntuti mereka. Culik mereka berdua dan bawa mereka ke villa gua yang di tengah hutan" teriak Jefri.

"Ingat, kerja kalian harus rapi, bawa anak-anak yang lain. Jangan sampai gagal, atau gua bunuh kalian semua" ancam Jefri emosi.

"Beres boss", sahut gank Jefri kompak.

Terlihat Toler lebih bersemangat dan antusias dengan tugas barunya itu. Toler memang dikenal suka berbuat onar. Namun dia sangat setia kepada Jefri. Toler merasa sangat berhutang budi sekali dengan bosnya itu. Saat dia dipenjara bertahun-tahun, bosnyalah yang mencukupkan kebutuhan anaknya yang semata wayang yang dititipkan kepada ibunya. Istri Toler sudah lama kabur dengan lelaki lain dan tidak lagi memperdulikan anaknya.

"Lalu, ngapain kalian masih disini ?" teriak Jefri lagi.

Bagai kerbau dicocok hidungnya, lima orang anggota gank Jefri kemudian bergegas masuk kedalam mobil yang dikendarai Jefri. Rencana lebih detail dijabarkan oleh Jefri selama dalam perjalanan. Nampaknya dendam kesumat sudah menguasai hatinya. Hanya Tuhan saja yang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh manusia-manusia ini.

Rumah Laras.
Ketika Siang menjelang sore.
Pada hari yang sama.
Dan cuaca mulai mendung.

Roy menghentikan motor sportnya tepat didepan pintu rumah Laras. Pak Didit sopir Laras dengan sigap membukakan pintu. Pak Didit memang sudah diberikan pesan oleh Laras agar menunggu kedatangan Roy didepan pintu rumah.

"Sore pak Didit, Larasnya ada dirumah pak ?", sapa Roy setelah memarkirkan motornya di sisi garasi rumah Laras.

"Ohh ada nak Roy, itu neng Laras sudah menunggu dari tadi. Ayo masuk saja kedalam nak", jawab pak Didit dengan sopan.

Roypun kemudian masuk kedalam rumah. Laras menyambutnya dengan pelukan dan ciuman di pipi.

"Wah sudah mendung loh, untung kamu sudah sampai ya sayang. Kalau telat sedikit bisa turun hujan deh", kata Laras berbasa basi.

"Jangankan hujan air Ras, hujan batupun aku akan tetap datang kok. Demi cewek cantik kesayanganku ini", jawab Roy penuh rayuan.

"Hi hi, senang deh, bisa aja kamu sayang", sahut Laras dengan manja.

Tak lama setelah mereka mengobrol diruang tamu, Maya, mamanya Laras muncul dari dalam ruangan belakang. Roy berdiri dari duduknya, kemudian menyalami bakal calon mertuanya itu. Setelah berbasa basi sejenak, Roy pun pamit kepada mamanya Laras.

"Tante, saya pamit dulu ya. Takut nanti kemalaman dijalan" ucap roy dengan sopan.

"Iya nak Roy, tante juga berpikir seperti itu. Takut kalian nanti kemalaman dijalan. Sebentar ya, nanti tante panggilkan pak Didit untuk yang menyetir mobilnya ya", jawab mama Laras.

"Oh tidak usah tante, tadi saya bilang sama Laras, biar saya saja yang menyetir, kasihan pak Didit sudah tua, dan sepertinya pak Didit sedang kurang sehat. Tadi saya lihat didepan, kelihatan sedikit pucat dan batuk-batuk," sahut roy mencoba memberitahu bahwa dia yang akan menyetir mobilnya sendiri.

Maya berpikir sejenak, merasa karena alasanya Roy cukup masuk diakal, terlebih Maya sudah bisa mempercayai Roy, maka disetujuilah usul Roy itu.

"Baiklah nak Roy, tante ijinkan. Tapi hati-hati ya, jangan ngebut. dan pulangnya jangan terlalu malam ya", jawab Maya lagi sambil memberi nasehat.

Dalam hati kecilnya, Maya sedikit khawatir. Namun dia takut mengecewakan anaknya. Maya merasa pernah juga jadi anak muda, ingin berduaan dengan pacarnya. Apalagi Laras sudah kembali ceria berkat Roy. Jadi direlakannyalah anak gadisnya itu dengan hati yang sedikit khawatir. Semoga saja, semuanya aman dan lancar, gumam Maya dalam hati sambil berdoa.

"mmmuuahhhh, mama memang mama terbaik satu dunia deh", puji Laras sambil mencium pipi mamanya kemudian saat berpamitan dengan mamanya.

"Iya sayang, hati-hati ya, jangan pulang larut malam ya. Papah mu kan hari ini pulang dari Tokyo, dia pasti tanyain kamu deh nanti", pesan Maya.

Pak Didit menurunkan barang bawaan di sepeda motor sport Roy. Kelihatannya pak Didit kesulitan mengangkat barang bawaan Roy kedalam mobil, maklum usia pak Didit kan sudah sepuh, tenaganya tidak sekuat seperti dulu lagi.

"Biar saya saja pak yang angkat" kata Roy buru-buru berlari saat pak Didit berusaha mengangkat tas bawaannya.

"Berat sekali nak Roy tasnya, maaf saya tidak kuat angkat", lanjut pak Didit.

"Iya pak Didit, tidak apa-apa, biar saya saja"

"Ihh kamu mau ngapain sih sayang, kok kencan bawa barang berat-berat gitu sih", tanya Laras sambil cekikikan.

"Haha..gak beratlah, akukan sudah biasa Ras, ini kunci-kunci roda bengkelku. Aku mau retur, karena besinya banyak yang cacat, sekalian aku pulang nanti, kan sekalian lewat, jadi tidak bolak balik sayang”, jawab Roy menjelaskan kepada Laras, kenapa dia harus membawa barang yang demikian berat itu.

Kemudian, dua insan yang sedang dimabuk asmara itu masuk kedalam mobil. Sepanjang perjalanan, mereka asik bercerita. Sesekali Laras memberikan cubitan manja ketika Roy menggoda atau merayunya. Laras terlihat bahagia sekali. Hatinya kini bebas dari rasa takut, bebas untuk dicintai dengan penuh kasih sayang. Tuhan memang sayang kepadanya, pikir Laras dalam hati. Ah, Seandainya Laras tahu apa yang akan dihadapinya sebentar lagi. Masihkah dia akan mengatakan Tuhan memang sayang kepadanya ?

DI Restoran mewah.
Di Pinggir kota.
Ketika hari Menjelang malam.
Dan Cuaca mendung, sedikit gerimis.

Roy melajukan mobilnya kearah tempat parkir restoran dan berhenti disana. Dengan sigap dibukakannya pintu mobil Untuk Laras. Dipegangnya tangan Laras dan mereka berdua berlarian kecil karena menghindari tetesan air hujan yang kadang menetes. Laras tertawa cekikikan. Gaunnya berkibaran tertiup angin. Nampak kakinya yang jenjang dan putih mulus sesekali terlihat dari balik gaunnya yang tersibak.

Dibelakang parkiran mobil, Jefri sudah lama menunggu didalam mobilnya. Jefri menatap penuh nafsu tubuh Laras yang sedang berlarian. Ingatannya menerawang saat Laras masih menjadi pacarnya. Tubuh yang pernah diciuminya, dipeluknya dan dibelainya. Diingatnya pula saat dia mencumbu Laras dan Laras balas mencumbunya dengan mesra. Dan Laras mencium bibirnya seraya memegang tangan Jefri, ketika tangan Jefri ingin lebih jauh menjamah tubuh Laras. Dengan lembut, Laras berkata, bahwa mereka harus menunda untuk hal yang satu itu. Laras ingin mereka melakukannya nanti setelah mereka terikat perkimpoian.

"Bos, itu mereka" Toler berbisik, membuyarkan lamunan Jefri.

"Iya, aku tahu. Kalian tunggu di mobil. Aku ingin masuk kedalam sebentar" sahut Jefri.

Laras sedang duduk dan menatap daftar menu, ketika dilihatnya Jefri dengan sembunyi-sembunyi masuk kedalam restoran. Hatinya bedegup kencang. keringat mulai keluar dari badannya. Muncul rasa takut di hati Laras. Roy mulai melihat keanehan yang terjadi pada diri Laras.

"Sayang, ada apa ? kok kamu seperti sedang melihat setan saja", tanya Roy sambil berkelakar.

"A..a.aku tidak apa-apa sayang, cuma tiba-tiba seperti tidak enak badan, maafkan aku ya Roy, kita pulang saja ya" jawab Laras sambil memohon pengertian Roy.

Roy seperti tersadar kalau Laras sepertinya telah melihat sesuatu dan mulai berlaku aneh, dipandanginya sekeliling ruangan restoran itu. Kemudian matanya menatap sesuatu yang mencurigakan. Ada seorang pemuda yang mencuri-curi pandang. Otak Roy mulai berpikir keras. Rencana indahnya dengan Laras tak mungkin sirna karena alasan yang tidak jelas begini.

Tapi apalah daya Roy, Laras makin terlihat gemetar. Keringat bergulir dari keningnya.

"Oke sayang, kita pulang saja yuk", Roy berkata menenangkan pacarnya.

Roy kemudian memapah Laras menuju mobil. Disekanya keringat yang membasahi wajah Laras.

"Kamu tidak apa-apa sayang ?", tanya Roy khawatir.

"Aku tidak apa-apa sayang" jawab Laras sambil tersenyum.

Bersambung ke bagian 2

Bagian 2

Hujan mulai turun dengan deras, perlahan-lahan Roy mulai mengendarai mobilnya keluar dari area restoran mewah itu. Digenggamnya tangan Laras, sambil tersenyum, Roy mengatakan bahwa segala sesuatunya aman dan agar Laras tenang saja. Laraspun lega hatinya, disenderkan kepalanya ke bahu Roy.

Ditengah perjalanan dan jalanan yang sepi. Kiri dan kanan mata memandang, hanya sawah. Gelap. Hanya lampu-lampu jalanan yang tidak seberapa terang yang menerangi sisi-sisi jalanan. Tiba-tiba saja mobil Jefri menyalip mobil Roy. Roy sekuat tenaga menginjak rem menghindari tabrakan. Suara ban mobil yang melintir berdecit nyaris tak terdengar, kalah dengan suara derasnya hujan dan petir yang bergelegar.

Toler dan kawan-kawan turun membuka pintu mobil Roy, ditariknya Roy keluar, dan dihajar beramai-ramai oleh mereka. Roy hanya sanggup melawan sebentar saja. Tak lama kemudian ia jatuh tergeletak dengan bersimbah darah. Kemudian Jefri menarik keluar Laras yang menjerit-jerit meminta tolong melihat Roy dianiaya. Jeritan Laras menjadi percuma saja karena tidak ada yang mendengar. Dengar kasar Jefri mendorong Laras masuk kedalam mobilnya.

"Habisi si kunyuk ini, dan lemparkan ke jurang sana", perintah Jefri kepada anak buahnya.

Jefri pun kemudian meninggalkan anak buahnya. Laras hanya bisa memaki Jefri, yang melarikan mobilnya dengan sangat kencang.

"Sialan kau Jef, kenapa kau lakukan ini ?", tanya laras setengah berteriak.Habis sudah suaranya tadi saat berteriak meminta tolong.

"Pulangkan aku Jef, kamu jangan gila begini"

"Diam kamu Ras, aku tampar kamu kalau tidak bisa diam", ancam Jefri.

Jefri kemudian membawa Laras ke sebuah villanya yang terpencil. Diseretnya Laras kedalam sebuah kamar, dan dikuncinya dari luar. Teriakan Laras tak digubrisnya. Laras hanya bisa menangis pasrah.

Jefri sibuk menghubungi anakbuahnya. Semua telepon anakbuahnya tidak ada yang diangkat. Telepon Toler malah tidak aktif sama sekali. Kurang ajar mereka semua, gumam Jefri dalam hati.

"Dasar preman kampung, kerja begitu saja lama sekali", kali ini Jefri setengah berteriak karena kesal.

Belum habis makiannya, tiba-tiba enam orang berpakaian ala ninja merangsek masuk kedalam villa Jefri. Belum siap Jefri menyadari apa yang terjadi, para ninja itu telah memukulinya. Jefri melawan sekuat tenaga, namun apa daya, Jefri kalah jumlah. Jefri berlari kedalam ruangan villanya dan bersembunyi disebuah ruangan rahasia. Para ninja kemudian mengobrak-abrik seisi villa untuk mencari keberadaanya.

"Siapa mereka ini ? apakah mereka anak buah Toler ? sialan, bedebah kau Toler, anjing penghianat. Lihat saja nanti kau akan kuhabisi", pikiran-pikiran liar Jefri mulai menduga-duga dibalik tempat persembunyiannya.

Rumah Laras.
Di Malam hari.

Keluarga Laras sedang panik. Roy memberi kabar dari rumah sakit, bahwa Laras diculik oleh Jefri dan komplotannya. Setelah diobati, Roy bergegas pulang diantar petugas keamanan ke rumah Laras. Maya mamanya Laras mulai menangis karena panik. Dipeluknya Roy yang penuh dengan luka-luka. Ronald, papanya Laras, suaminya Maya yang baru saja tiba dari Tokyo, terlihat cemas.

Kemudian Ronald menghubunginya semua teman-temannya yang dari kepolisian dan dari angkatan. Sebentar saja mereka semua sudah berkumpul dirumah Ronald.

Mereka semua mendengarkan kronologi kejadian yang diceritakan oleh Roy. Kapten Heru, teman baik pak Ronald, mulai memberikan perintah dan koordinasi. Semua berjalan cepat. Ada yang mendatangi rumah Jefri dan orang tuanya, ada yang mendatangi tempat kumpul teman-temannya dan ada yang mendatangi lokasi kejadian penculikan itu.

Roy bercerita bahwa setelah ia dipukuli habis-habisan, ia pun dibuang kejurang dalam keadaan pingsan oleh kelompok Jefri. Untunglah dia tersangkut di akar-akar pohon yang tidak terlalu dalam. Kemudian setelah sadar, Roy memanjat jurang dan menyetop kendaraan yang kebetulan lewat. Dan dia pun dibawa ke rumah sakit. Dan segera menghubungi keluarga Laras untuk mengabarkan kejadian ini.

Telepon dirumah Laras berdering. Seorang bersuara berat menebar ancaman.

"Kalau mau anakmu hidup, serahkan tebusan uang besok siang sebesar satu milyar rupiah. Jangan pakai uang yang masih baru yang ditandai oleh bank. Masukan kedalam sebuah tas, dan tunggu instruksi selanjutnya. Dan jangan sekali-kali melibatkan polisi"

"Si..sia..siapa kamu ? kamu Jefri ya, jangan kurang ajar kamu, cepat kembalikan anakku", jawab Maya berteriak.

Telepon Maya diambil oleh Ronald, papanya Laras.

"Saya papanya Laras, saya akan bayar tebusan kamu. Tapi saya ingin bicara dengan anak saya dulu", tegas Ronald untuk mengetahui apakah anaknya masih hidup atau tidak.

"Pah..ini Laras, tolong Laras pahh..aduh arrhhgg", suara Laras terdengar dibalik telepon. Suara tamparan keras pun kedengaran oleh Ronald. Kemudian teleponpun ditutup oleh penculik.

Hati Ronald mendidih, dia tak sampai hati mendengar buah hatinya disakiti seperti itu. Dibantingnya gagang telepon kelantai. Muka Ronald merah karena emosi. Teman-temannya berusaha menenangkan.

"Pak Ronald, kalau nanti mereka telepon lagi, tolong diulur-ulur waktunya pak, agar kami bisa melacak keberadaannya", kata kapten Heru memberi harapan.

Malam itu Ronald, meminta bantuan teman-temannya sesama pengusaha, untuk mengumpulkan uang cash yang bukan uang baru dari bank. Teman-temannya menyanggupi permintaan Ronald. Malam itu menjadi malam yang sangat panjang bagi keluarga Laras.

Di villa Jefri.
Ketika Tengah malam.
Dan Hujan sudah mulai reda.

Laras diikat diatas ranjang. Kaki dan tangannya diikat kesisi-sisi ranjang sehingga membentuk huruf X.
Bajunya di cabik-cabik oleh para ninja itu. Sehingga terlihatlah pakaian dalam Laras. Seorang ninja tak kuasa menahan nafsu melihat kemulusan tubuh Laras. Dijamahnya semua tubuh Laras. Laras bergelinjang berusaha mempertahankan kehormatan tubuhnya sambil berteriak, tapi yang terdengar hanyalah gumamnya saja, karena mulutnya telah disumpal. Sang ninja makin beringas, dan ingin merobek pakaian dalam Laras. Untunglah kemudian salah seorang ninja lainnya, memberi isyarat untuk berhenti. Dipukulnya ninja mesum tersebut sehingga jatuh ke lantai.

"Jangan kau nodai gadis ini, keparat !" kata ninja pemukul itu lagi kepada ninja mesum itu.

"Ingat pesan boss, cuma dia yang boleh duluan menikmati tubuh gadis ini", lanjut ninja itu lagi.

Ninja mesum terdiam, topeng kain ninja mesum itu basah dibagian mulutnya akibat darah mengucur dari mulutnya yang terkena pukulan ninja pemukul tadi. Sang ninja pemukul kemudian menutupi tubuh Laras dengan selimut. Laras hanya bisa menangis, air mata tak henti-hentinya mengalir dari matanya yang indah. Ingin rasanya Laras segera bangun dari mimpi buruknya ini. Namun sayang, ini bukanlah mimpi.

Bersambung ke bagian 3
Bagian 3

Di Villa Jefri.
Di Ruang rahasia.
Tengah malam.

Ruangan rahasia didalam villa Jefri ternyata mempunyai sebuah pintu rahasia yang bisa menembus ke kamar tempat Laras ditahan. Ada sebuah lemari yang berfungsi sebagai pintu. Dari balik pintu itu Jefri berusaha mendengarkan dengan seksama dan berusaha merunut peristiwa ini.

“Apa yang sesungguhnya telah terjadi. Siapa mereka, bila mereka adalah sipenghianat Toler, mengapa mereka bilang ada pesan bos. Bos mereka kan aku”, Jefri mulai merangkai kejadian ini.

“Mustahil mereka menyerang aku kalau aku adalah bos mereka. Kalau begitu, berarti mereka bukanlah Toler dan temannya. Lalu siapa mereka ? bagaimana mereka bisa tahu letak villaku ? dan dimana sekarang Toler dan lainnya ?”, pikir Jefri lagi.

Sampai detik itu Jefri masih tidak dapat menghubungi satupun anak buahnya. Semua handphone mereka dalam keadaan tidak aktif.

Jefri kini merasa kasihan dengan Laras, dia tak tega Laras dilecehkan seperti itu. Bagaimanapun Laras pernah menjadi pacarnya. Diapun bertekad untuk menolong Laras. Namun hal ini tidaklah mudah. Laras mengira kalau dirinyalah dalang dari semua ini. Jefri menjadi dilema dan serba salah. Dia harus menemukan cara untuk menolong Laras dan membongkar siapa pelaku kejahatan ini sebenarnya.

Malam itu menjadi malam yang sangat panjang bagi Jefri dan Laras.

Pagi hari.
keesokan hari.
Di Villa Jefri.
Di Kamar Laras disekap.

"emmm...emmmm...emmmm..!" suara Laras membangunkan seorang ninja yang menjaga Laras dan tertidur dilantai. Si ninja kemudian membuka sekapan mulut Laras.

"Ada apa hei pelacur !" makinya kesal karena harus terbangun dari tidurnya.

"Saya perlu pipis, tolong saya ingin ke wc, lepaskan ikatanku sebentar saja" mohon Laras sambil merintih menahan pipisnya.

"Sudahhh kencing saja disitu, ganggu aja", kata ninja sambil menyumpal kembali mulut Laras.

Laras kembali berusaha berbicara, mulutnya mengeluarkan suara gumaman. Si ninja tadi menjadi lebih kesal. Dibukanya sumpalan mulut Laras.

"Sudah kubilang kencing disini saja !", hardiknya lagi.

"Tolongg pak, jangan disini, saya malu..tolong pak kasihani saya..", rintih Laras memilukan.

"apa yang kau malukan pelacur ?, pelacur mana ada rasa malu ?"

"Cepat kau kencing disini atau aku yang akan membuka celana dalammu dan kupaksa kau kencing disini, hah ?", ancam si ninja kurang ajar ini.

"Papahku sangat kaya, dia akan memberikan bapak uang banyak, kalau bapak mau menolong dan membebaskan saya", Laras berusaha membujuk ninja kurang ajar itu.

"saya tidak akan bohong pak, saya janji akan memberikan bapak uang banyak, tolong saya ya pak", lanjut Laras lagi.

"saya bukan pelacur pak, saya gadis baik-baik, saya korban penculikan, saya tidak tahu salah saya pak", kata Laras lagi dan mulai menangis.

Ninja kurang ajar ini kelihatan sedang berpikir. Tergoda akan bujukan Laras yang akan memberikannya uang banyak. Namun secara tiba-tiba si ninja kemudian berteriak.

"Dasar perempuan sialan, pelacur busuk, kamu jangan berani menipuku ya !", maki ninja itu lagi. Dan sebuah tamparan keras mendarat di wajah Laras. Laras tersedak kesakitan.

"Ayo cepat kencing disini saja", kata ninja kurang ajar itu. Kali ini dipelorotkannya celana dalam Laras. Kemudian diremas-remasnya kemaluan Laras. Kontan saja, pipis Laras menyemprot keluar membasahi ranjang dengan deras tanpa dapat ditahan lagi..

"Tuh bisa kan kalau mau pipis, merepotkan saja", si ninja berkata sambil menyumpal kembali mulut Laras, dan dengan lebih kurang ajar lagi, tangannya yang terkena pipis, juga dilapkan ke wajah dan mulut Laras.

Sungguh penghinaaan luar biasa bagi Laras. Batinnya terguncang. Kini tubuh bagian bawahnya tidak lagi ditutupi dengan selimut. Kemaluannya terbuka lebar digenangi oleh air kencingnya sendiri. Si ninja kurang ajar ini malah asik menonton tubuh Laras yang telanjang itu sambil menyentuh dirinya sendiri. Laras hanya bisa menutup matanya karena jijik. Airmatanya kembali bergulir.

“Jefriiiiii..!!! kamu binatang, sungguh tega sekali kamu padaku jef, aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu lagi selamanya”, guman Laras dalam hati. Dia benci sekali dengan Jefri yang telah melakukan semua ini.

Setelah selesai memuaskan dirinya sendiri, si ninja kurang ajar memakaikan kembali celana dalam Laras dan menyelimutinya. Rupanya si ninja kurang ajar ini takut kalau kelakuannya diketahui oleh ninja lainnya. Tak lama kemudian ninja yang memukul ninja mesum masuk kedalam kamar Laras. Dia berbisik kepada ninja kurang ajar, dan kemudian keluar lagi.

Ninja pemukul kemudian berkumpul dengan empat temannya yang lain.

"Tadi bos sms, kita harus telepon orang tua gadis itu lagi, dan memberikan instruksi untuk membawa uang tebusan. kamu dan kamu, pergi ketempat ini", kata ninja pemukul kepada dua temannya sambil menunjukan peta tempat yang dimaksud.

"Kamu dan aku, pergi ketempat ini", si ninja pemukul melanjutkan, berkata kepada ninja mesum untuk pergi bersamanya. Sedangkan yang berjaga di villa adalah ninja kurang ajar dan ninja temannya.

"Ingat, jangan ada yang berani menjamah gadis itu", pesan ninja pemukul kepada ninja yang yang akan bertugas berjaga.

"Aku sendiri yang akan menghajar siapapun yang berani memperkosa gadis itu", kembali ninja pemukul menyebar ancamannya.

“Kalian harus waspada dan tetap berjaga-jaga, jangan sampai orang yang bernama Jefri itu membuat masalah. Habisi dia bila kalian melihatnya !”, sambung ninja pemukul lagi.

Ninja kurang ajar dan temannya kemudian memberi kode, tanda mereka siap melaksanakan perintah ninja pemukul itu.

Di rumah Laras.
Ketika Pagi hari.
Dan cuaca cerah.

Telepon berdering. Ronald dan Maya yang tidak tidur semalaman karena sedang menunggu telepon dari para penculik, terkaget dan gugup. Kapten Heru sigap berdiri. Memberi kode kepada anak buahnya agar mulai menyadap dan melacak lokasi mereka. Setelah mengikuti kode dari kapten Heru, Ronald segera mengangkat gagang telepon.

"Dasar orang tua keparat kalian, sudah kubilang jangan libatkan polisi, namun kalian masih anggap remeh. Mau kubuat mampus anakmu hah ? akan kuperkosa dia secara bergiliran biar kau rasa, orang tua sialan", plek nut.. nut.., tiba tiba telepon diputuskan.

Ronald tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya getir dan ngeri membayangkan anak kesayangannya terbunuh dan digilir beramai-ramai. Ronald yang awalnya tegar, mulai menangis. Maya ikut menangis. Mereka semua telah mendengarkan ancaman itu lewat telepon yang lainnya yang telah dipararel kabelnya.

Kapten Heru menggelengkan kepalanya kepada Ronald, tanda bahwa waktunya terlalu singkat untuk melacak keberadaan penelepon tadi.


Para ninja dengan cerdik, melakukan telepon ancaman dari empat lokasi yang berbeda. Merekapun menggunakan HP murah sekali pakai dengan nomor yang berbeda-beda pula.

“Pak Ronald dan bu Maya, saya ingin berbicara tertutup dengan kalian berdua, apakah ada ruangan yang bisa kita gunakan ?”, tiba-tiba kapten Heru berkata kepada Ronald dan Maya.

Ronald kemudian berjalan menuju ke ruangan kerjanya diikuti oleh Maya dibelakangnya. Kemudian kapten Heru menyusul mereka berdua. Kapten Heru memberikan laporan perkembangan dari hasil penyelidikan anak buahnya. Anak buahnya sudah menginterogasi keluarga Jefri, yaitu kakeknya. Hanya ada kakeknya di sini. Kedua orang tuanya belum kembali dari luar negeri. Dan kakek Jefri mengatakan bahwa Jefri jarang pulang kerumah, dia sering menginap dirumah teman-temannya.

“Satu yang menjadi kecurigaan saya, pak Ronald. Sepertinya rumah bapak sudah disadap oleh para penculik tersebut. Buktinya mereka mengetahui bahwa disini ada polisi yang terlibat”, kata kapten Heru memberikan analisanya.

“Pak Ronald dan ibu, mohon berlaku seperti biasa saja. Team saya yang akan secara diam-diam melakukan scaning untuk mencari alat penyadap mereka diseluruh rumah ini”

“Tolong bapak dan ibu jangan memberitahukan kepada siapapun, termasuk kepada Roy pacar Laras dan juga para pembantu yang ada disini”

“Baik pak Heru, saya serahkan semuanya kepada pak Heru saja”, jawab Ronald dengan lesu.

Roy masih terlihat lemah duduk diruang tamu. Wajahnya nampak cemas. Dihampirinya Maya yang sudah keluar dari ruang kerja Ronald.

“Tante, bagaimana perkembangannya ?, apakah Laras sudah berhasil ditemukan ?”, Roy menyerocos ingin tahu tentang perkembangan pacarnya.

Maya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dipeluknya lagi Roy, seolah ingin mendapatkan kekuatan agar dapat lebih ringan menanggung beban kesedihan ini.

“Mereka masih belum tahu keadaan Laras, nak”, jawab Maya kemudian.

Roy sengaja tidak memberitahukan masalah ini kepada keluarganya. Bahkan tidak kepada Reni, adiknya, yang biasanya menjadi tempatnya bercerita. Roy takut ibunya yang terkena stroke akan panik dan bisa berakibat fatal bila mengetahu kejadian ini.

Maya pun maklum akan tindakan Roy itu. Roy sebelumnya telah meminta ijin kepada Maya untuk tidak memberitahukan orang tuanya sehubungan dengan peristiwa ini. Dan Mayapun tidak mempermasalahkannya.

Di Rumah Roy.
Saat Pagi hari
Pada Jam yang sama.

Rasti, mamanya Roy sudah bagun sejak tadi. Dia heran karena Roy tidak pamit kepadanya. Kemudian dipanggilnya Reni untuk menanyakan tentang keberadaan kakaknya.

“Ren, apakah tadi kamu bertemu kakakmu ?, sudah jam segini kenapa belum jalan ke bengkel ?”,

“Reni tidak melihat kak Roy pagi ini mah. Mungkin dia menginap dirumahnya kak Laras. Semalam kan hujan lebat mah”, sahut Reni menenangkan mamanya.

Rasti kemudian menganggukkan kepalanya mengiyakan jawaban Reni. Dan kemudian dia tertidur lagi disebelah Rina, anaknya yang bungsu.

Tapi sesungguhnya Reni yang lebih cemas. Dia berusaha menutupi kecemasannya sendiri didepan mamanya. Reni adalah anak yang cerdas dan mempunyai intuisi yang tajam seperti umumnya anak indigo. Sejak kecil dia sudah bisa mengetahui beberapa kejadian yang akan datang. Sakit stroke mamanyapun dia sudah mengetahui sebelum penyakit itu datang. Bahkan Reni bisa berkomunikasi dengan jiwa papanya yang telah meninggal walaupun sejak kecil Reni tidak terlalu mengenal papanya. Karena saat papanya meninggal, Reni masih kecil sekali.

Walau masih muda usianya, tetapi jiwa Reni sudah dewasa. Dialah yang selama ini lewat caranya sendiri memberikan bimbingan jiwa kepada kakaknya Roy. Dahulu Roy pernah terpuruk kedalam minuman beralkohol. Bebannya menjadi penanggung keluarga dirasakannya sangat berat dipundaknya. Curhatan Reni kepada kakaknyalah selama ini yang menjadi terapi kebangkitan kakaknya dari alkohol.

Pagi ini intuisinya kembali bekerja, dia merasakan ada sesuatu yang terjadi. Kejadian besar yang melibatkan kakaknya. Dan dia harus bertindak sebelum semuanya terlambat.

“Reni, kamu harus melakukan sesuatu, ini menyangkut keluarga kita. Kamu harus memutuskannya Ren,” suara jiwa papanya Reni menerawang masuk kedalam pikiran Reni.

Bersambung ke bagian 4
bagus nih gan
Mantab gan emoticon-Jempol
ditunggu lanjutannya....