alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Somewhere Only We Know
4.92 stars - based on 155 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54ccd1aa925233e63e8b4567/somewhere-only-we-know

Somewhere Only We Know

Somewhere Only We Know
Cover dibuat oleh ganakat di post #752


MUQODDIMAH



Assalamualaikum wa rohmatullohi wa barokatuh, Dengan Menyebut Nama Allah Yang Jiwaku ada dalam genggaman-Nya.

Namaku Ava. Umurku 20 tahun. Aku anak ketiga dari 3 bersaudara. Kakakku Avan lahir 5 menit lebih awal daripada aku. Kami saudara kembar. Avan terlahir sebagai seorang laki-laki, sementara aku terlahir sebagai seorang wanita.

Keluargaku berlatar belakang agamis. Abah adalah seorang Kyai pemilik pondok pesantren salaf di daerah tepi kota Pasuruan. Sementara ibuku mendampingi Abah mengasuh ratusan santri putri, bersama kakakku kak Zara. Agar abah bisa lebih fokus mengasuh ratusan santri putra bersama ustad yang dulunya juga murid Abah saat awal-awal pesantren ini berdiri.

Dalam keluarga kami, mondok sudah menjadi tradisi. Avan, saudara kembarku sudah memulai pendidikan Ibtida' di pesantren Abah sejak usia 4 tahun. Begitu pula denganku. Bedanya aku dipondokkan di pesantren lain, yaitu di sebuah pesantren Salaf di daerah Kasembon, Malang. Hal ini tentunya memiliki alasan kuat kenapa aku dilepas di umur yang masih 4 tahun. Alasannya adalah karena aku dan Avan adalah saudara kembar laki-perempuan. Sesuai tradisi Jawa, maka sebaiknya kami dipisah.

Aku dekat sekali dengan Avan. Masih teringat dengan jelas kakakku itu berlari sambil meneriakkan namaku mengikuti mobil yang mengantarkanku menuju tempat lain. Tempat yang menjadi awal semua kisah ini.

Aku dan Avan adalah saudara kembar laki-perempuan. Kami sama seperti kalian, punya rasa kangen, ingin ini-itu, suka mencoba berbagai hal baru, dan masih banyak lagi. Hanya 1 yang membedakan kami dengan kalian. Kami memiliki kemampuan yang baru kami sadari saat kami bertemu lagi untuk yang pertama kalinya.

Kami mampu bertelepati dengan cara tak biasa. Melepas sukma.

Ada kisah cinta, persahabatan, dan tentang kehidupan dalam cerita ini. Aku harap kalian dapat menerima kisah ini dengan bijak. Apabila ada hal yang tak dapat diterima, anggap saja kisah ini fiksi. Tidak ada peraturan khusus dalam cerita ini, hanya saja Ava mohon untuk menjaga privasi Ava.

Terima kasih dan selamat membaca.


emoticon-Smilie
Ava




nb:
-Ebook resmi ada di post ke-3, postnya ada dibawah
-Tarik nafas nafas dalam2, baca dengan perlahan, cerna menggunakan hati.
-Mohon rating untuk nilai dan komentar teman-teman seputar cerita ya.
-Syukron.
emoticon-Smilie
Diubah oleh avamauza
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 70
I walked across an empty land~ *lah malah nyanyi emoticon-Hammer (S) Lanjut sis, seems interesting.

Ebook Resmi & Apps

Alhamdulillahi.... Assalamualaikum wr,

Ebook ini agak berbeda dengan yang ada di thread, tentu dengan isi yang lebih lengkap dan penataan bahasa yang lebih baik. Monggo bagi yang ingin dapat diunduh secara gratis di link-link yang telah tercantum di bawah ini. Syukron katsiron.


Quote:


Pembaca boleh mencetak dalam bentuk print file selama tidak mengurangi/menambah/merubah isi dalam naskah asli, atau dengan maksud mencari keuntungan dari ebook ini. Ebook ini gratis saya persembahkan untuk semua kalangan. Selamat menikmati secuil kisah dari salah satu sudut kehidupan anak pesantren. emoticon-Smilie

Akhirul kalam, selamat membaca dan mohon kesediaan waktunya memberi review ya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Link Goodreads: https://www.goodreads.com/book/show/...e-only-we-know

Versi Android Apps:
Quote:

Diubah oleh avamauza
Nenda sis, kayaknya seru nih emoticon-Ngakak (S)
Pasang Tenda yaaa
emoticon-Big Grin

INDEX


Quote:


Quote:


INDEX
Somewhere Only We Know

E-Book Resmi

Muqoddimah
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Delapan
Sembilan
Sepuluh
Sebelas
Dua Belas
Tiga Belas
Empat Belas
Lima Belas
Enam Belas
Tujuh Belas
Delapan Belas
Sembilan Belas
Dua Puluh
Dua Puluh Satu
Dua Puluh Dua
Dua Puluh Tiga
Dua Puluh Empat
Dua Puluh Lima
Dua Puluh Enam
Dua Puluh Tujuh
Dua Puluh Delapan
Dua Puluh Sembilan
Tiga Puluh
Hijabun

Side Story: Mata Batin atau Ilmu Hati dalam Kacamata Sufi Tasawuf
[Side Story] Awal Dari Alkisah
[Side Story] Kisah Para Malaikat - 1
[Side Story] Kisah Para Malaikat - 2
[Side Story] Cahaya Tasawwuf, Munajat Cinta - Bab 1
[Side Story] Cahaya Tasawwuf, Munajat Cinta - Bab 2
[Side Story] Cahaya Tasawwuf, Munajat Cinta - Bab 3
Quiz
[Side Story] The Hidden Script - 1
[Side Story] The Hidden Script - 2
Pesan Terakhir [*END]

Diubah oleh yogiek.indra
ahh judulnya *bring back the memories* *halah*
ijin gelar tenda sis
eh tapi jadi nya ava umurnya berapa tuh? emoticon-Bingung
Quote:


Mending indexnya dibikin setelah post 2 atau 3 part dulu sis emoticon-Smilie
Quote:


nanti biasanya pasti ada yang bantuin bikin index nya kok neng.
tenang aja. yang penting neng update aja dulu ceritanya.. emoticon-Embarrassment
Cerita dulu min 5-10 cerita baru tar ada yang bantu, sis.. Salken, sis. emoticon-shakehand Numpang nenda

Satu.

"Kalau Ava dicana, nanti Avan tidul cama ciapa?"

"Huhuhuhu ... Ava nggak mau kalau nggak ada kakak." tangisku makin menjadi mendengarnya berkata seperti itu.

Itu sepotong percakapan yang kuingat sehari sebelum aku meninggalkan Ndalem (sebutan untuk rumah). Sepanjang hari kami mengunci diri di kamar. Avan memelukku seakan tak rela jika kutinggal pergi esok hari. Tapi kami hanya anak kecil yang masih polos. Suka tidak suka, mau tidak mau kenyataannya kami memang harus berpisah.

Esok paginya, sekitar jam 5.00 WIB aku sudah berada dalam mobil bersama Abah dan Umi. Avan, waktu itu masih sorogan subuh di masjid. Aku sudah hampir putus asa karena celingak-celinguk di pondok putra tak mendapati sosok Avan. Namun, saat mobil sudah berjalan melewati pintu gerbang pondok, aku mendengar teriakan Avan.

"Avaaaaaaaaa.......!" kudongakkan kepalaku keluar melalui kaca mobil.

"Van, Ava pelgi duluuu yaaaa...!"
kulihat Avan berlari mengejar mobil yang kutumpangi.

Aku tahu, tak akan ada gunanya merengek kepada orang tuaku. Maka saat itu pula segera kutarik kepalaku duduk bersandar di kursi mobil. Dalam hati aku berkata,"Nanti kita pasti ketemu lagi Van."


***



Entah sudah berapa lama aku tertidur. Saat dibangunkan Umi, kami sudah sampai di tempat tujuan. Umi menggandengku mengikuti Abah yang sedang berjalan menuju sebuah rumah yang telah berdiri seorang bapak-bapak berpeci putih. Beliau bersalaman dan memeluk Abah. Kupikir mungkin beliau adalah teman lama Abah, dan mungkin juga Kyai-nya pondok ini.

Aku sendiri hanya malu-malu takut dan sedari tadi mencengkeram tangan Umi.

Aku tak tahu apa yang mereka perbincangkan. Yang aku tahu Abah dan Umi akan memondokkanku diluar pondok Ndalem. Aku hanya bisa pasrah saja. Meski sebenarnya aku sangat sedih sekali berpisah dengan keluargaku.

"Nduk, yang nurut ya sama mbak Rifa!" Umi menasehatiku sebelum meninggalkan kamar asramaku.

"Iya, Umi. Ava pulang kapan Umi? Ava kan kangen cama Avan."

"Ndak lama kok, makanya Ava yang rajin belajarnya biar cepat pulang,ya!"

"Iya Umi"

"Yasudah, Umi dan Abah pulang dulu ya. Ava jangan nakal!"

"Iya Umi, Ava nggak nakal kok, bial cepet pulang." jawabku polos.

Abah dan Umi pun meninggalkanku. Aku diasuh oleh mbak Rifa karena umurku masih kecil. Mbak Rifa ini adalah orang yang dipercayakan romo kyai untuk merawatku. Orangnya cantik, wajahnya tak pernah lepas dari senyuman, dan itu membuatku nyaman. Wajahnya menyenangkan, setiap berbicara selalu sambil tersenyum.

Dan kini aku harus menjalani hari-hari selanjutnya. Kehidupan baru yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya.

"Van, aku punya teman balu, namanya mbak Lifa." bisikku dalam hati.
Diubah oleh avamauza
Quote:


oo begitu. agan bantuin ya.
baru update 1 gan. susahnya nulis di andro...
huft

#all maaf ya nggak bisa reply satu persatu. thx bgt udah sempet2 in buat baca thread Ava emoticon-Kiss (S)
mumpung pejwan.
jarang2 nih gw reply klo blm tamat.
melepas sukma itu.....? emoticon-Takut (S)
Quote:


nanti akan tiba di bagian itu gan.
thx udah reply emoticon-Smilie
Numpang gelar tiker dulu

Salken sist
Rajin rajin apdet ya sist
Jangan sering tebar kentang macam si cungkring yogiek
Quote:

Diubah oleh wongremexsejati
Judulnya..... emoticon-Matabelo ijin gelar lapak sis emoticon-Malu
Quote:


siap gan, nggak pernah nebar kentang kok gan.
sayang kan kalau dibuang. kayak orang gila aja buang kentang
Quote:


judulnya diambil dari lagu Lilly Allen,
bisa masukin lagu gak ya di cerita, dan gimana caranya ? ,,,
wah bakal keren nih ceritanya..

kalau masalah index nanti pasti ada yang bantu kalau trit ini udah jalan.. apalagi ada bang yogiek si paha-filia pasti di bantu sist sama dia.. emoticon-Ngakak
cerita baru emoticon-Belo

keknya seru nih emoticon-Big Grin

Dua

Aku cepat sekali menyesuaikan diri.
Namanya juga anak kecil, mudah sekali hatinya terhibur. Maka tidak butuh waktu lama bagiku untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Mbak Rifa mendidik dan merawatku dengan sabar. Entahlah butuh waktu berapa lama menyesuaikan diri jika tidak ada beliau. Begitu perhatiannya mbak Rifa ini. Jika ada masalah kecil saja, misal aku pura-pura tersandung batu dan jatuh, atau aku batuk-batuk kecil saja maka mbak Rifa dengan sigap segera menghampiriku. Menurutku mengasyikkan sekali megerjainya sesekali.

Tapi ada beberapa hal juga dari sikapnya yang menurutku agak berlebihan.

Mbak Rifa memang memanggilku dengan sebutan Ning (panggilan untuk putri kyai) meski berkali-kali kubilang kalau aku lebih suka dipanggil dengan nama asliku. Tetap saja beliau kekeh memanggilku "Ning" Ava jika disebutkan secara lengkapnya. Buatku tak menjadi masalah juga, tapi ada hal lain yang tak biasa.

Tentu aku masih ingat dengan jelas, Mbak Rifa selalu mencium tanganku setiap kali kami bersalaman. Tak hanya beliau saja, kawan-kawan se-asrama sering mencium tanganku jika sedang bersalaman. Aneh! Aku kan anak kecil, harusnya aku yang mencium tangan mereka. Teman-teman sekelasku di asrama tak pernah diperlakukan seperti itu.

Pernah suatu ketika saat sedang usai sorogan subuh aku ingin mencium tangan kakak-kakak pengasuh, namun beliau juga segera menarik tangannya. Tak membiarkanku mencium tangan mereka. Astaga, aneh sekali mereka ini.

Aku mendapatkan perlakuan berbeda dari para pengasuh, guru, maupun teman-temanku. Suka-suka saja sih dengan situasi seperti ini, meski sebenarnya aku sangat risih dan merasa tak enak hati.

Untung saja romo kyai tak ikut-ikutan mencium tanganku.


***



Waktu terus berjalan. Tak terasa sudah 6 tahun lebih aku berada di pondok ini. Itu artinya aku sudah menginjak bangku MTs.

Umurku sudah 11 tahun

Aku tumbuh dengan pemikiran yang baik sebagai seorang santri putri. Nilai-nilai raporku bagus, hafalan nahwu dan shorof sudah kukuasai sejak umurku 9 tahun. Masih sebatas hafalan, belum sampai ke metode penggunaannya. Tapi, paling tidak aku seringkali "nyeletuk" membenarkan hafalan kakak-kakak tingkatku yang salah ketika melafalkan nadzom Alfiyah.

Kesibukanku di pondok padat sekali. Pagi jam 4.00 subuh aku harus bangun, mandi, dan segera menuju masjid untuk sholat subuh berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan sorogan di kelas sampai jam 6.00, sarapan, lalu siap-siap berangkat sekolah Ibtida' (=SD) hingga pukul 2 siang. Sore harinya istirahat sebentar untuk kemudian jam 15.00 sekolah sore sampai jam 17.00. Malam harinya biasa diisi dengan pengajian kilat ba'da isya sampai jam 22.00. Dan hal ini rutin kulakukan selama 6 tahun terakhir.

Menyenangkan sekali bagiku. Karena dengan kesibukan seperti ini dapat mengurangi perasaan rinduku pada kakakku, Avan.

Sesak sekali jika kuingat perpisahan 6 tahun yang lalu. Dan jika sudah begini, maka segera kulampiaskan dengan cara menghafal hafalan Nahwu. Lumayan untuk menghibur hati.

Aku terluka bukan karena dijauhkan dengan Avan.
Aku terluka karena kerinduan yang tak pernah terobati selama 6 tahun lebih.
Semenjak hari itu, aku belum pernah bertemu dengan Avan, saudara kembarku.
Diubah oleh avamauza
Halaman 1 dari 70
×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di