alexa-tracking

Seven Stories of Love

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54cc6aa7620881d5298b4567/seven-stories-of-love
Seven Stories of Love
Peace be Upon Thee!


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Ehm
/Ganti Mode Bahasa, On

Well, without further ado! I present you
Seven Stories of Love
Quote:


I
Aprilia Orange



Seven Stories of Love


Konon katanya, hari itu hari Rabu.

Pagi. Surya baru saja bangun dari tidurnya.

Ada seorang bocah yang baru lahir dari pasangan kalangan menengah di salah satu kota di Jawa Barat. Banyak bocah yang lahir pada hari itu, tapi bocah yang satu ini menangisnya luar biasa keras, tangis bayi yang lain sampai tidak terdengar.

Ayahnya adalah anak dari pasangan seorang perantauan dari suatu negeri jauh di utara sana dengan seorang pribumi, sementara ibunya adalah anak seorang saudagar pemilik perusahaan perajin logam. Ayahnya dikenal sebagai berandal dan sangat terlambat lulus, sementara ibunya dikenal sebagai seorang baik-baik dan dikenal sebagai siswi yang pintar. Tapi bagaimana sepasang suami-istri yang seharusnya bagai air dan minyak ini bisa bertemu dan bersatu, itu cerita lain lagi.

Mengenai bocah ini, mari kita panggil saja dia Ilyas.

Saat itu ekonomi Indonesia sedang sangat maju, dan karena kencangnya ekonomi pada saat itu, pekerjaan menjadi sangat menuntut bagi para pekerja. Kedua orangtua Ilyas yang sangat sibuk terpaksa menitipkan si kecil pada kakek-neneknya, orangtua si ibu.

Tentu, pasangan tua itu tidak keberatan. Sang kakek sudah mewariskan perusahaannya dan sudah aman secara finansial dari usaha-usaha sampingannya, dan sang nenek memang sudah lama ingin menggendong cucu. Maka diputuskanlah si Ilyas kecil untuk menghabiskan masa kecilnya di rumah mereka.

Jika orang tua dan kerabat bocah tersebut membahas Ilyas, cukup bisa diketahui bahwa Ilyas adalah bocah yang enerjetik dan rajin berbuat onar. Hobi pertama Ilyas adalah, errr, memecahkan piring dan gelas. Jika ditanya, ia cukup menjawab bahwa ia menyukai bunyi gelas pecah. Ia juga selalu menganggu sepupu dan adiknya, bahkan pernah mendorong sepupunya yang satu tahun lebih muda jatuh dari tangga.

Tibalah waktu ketika Ilyas harus mulai mengenyam pendidikan. Si jahil yang satu ini, sayangnya, tidak cukup pandai berbicara bahasa Indonesia (hampir seperti kumur-kumur), dan posturnya yang krempeng serta letoy membuatnya sasaran empuk bagi anak pengganggu. Kedua orang tua Ilyas yang tidak mau anaknya tidak senang bersekolah berusaha untuk memindahkan Ilyas ke TK lain. Ilyas dapat berpindah TK satu kali dalam tiga bulan.

Sementara itu, pribadi Ilyas lebih banyak dibentuk di lingkungan tempat ia dibesarkan: rumah kakek dan neneknya. Rumah kakek Ilyas memang tidak seberapa luas, namun halamannya membentang luas. Pada halaman tersebut terdapat tiga kolam ikan, dimana diantara kolam kedua dan ketiga terdapat pondok kecil dari anyaman bambu.

Karena ia terus berpindah sekolah, Ilyas hanya hidup di dunia tersebut. Sesekali ia akan berbicara pada para pemancing yang datang ke kolam-kolam kakeknya. Sesekali waktu pula ada diantara pemancing yang kesal terhadap ulah si kecil, dimana jika si kecil tidak terima, ia akan lari mengadu pada kakeknya, dan kakeknya yang terlalu sayang pada si kecil akan datang menghampiri si pemancing dan mengusirnya dari kolam beliau.

Sore itu seharusnya sore yang biasa bagi Ilyas, ia biasa menerbangkan layangan buatan kakeknya sampai adzan Maghrib, ketika neneknya akan menghampiri Ilyas untuk mengajaknya makan malam.
Tapi, ada sesuatu yang berbeda sore itu.

Wangi jeruk.

Seorang anak, dengan tinggi yang hampir sama dengan Ilyas, berdiri di tepian kolam.

Ada sesuatu yang berbeda rasanya, anak itu terlihat sedikit rapuh, terlihat dari pancaran matanya yang agak sipit. Kedua bocah itu bertukar pandang beberapa saat, sampai Ilyas memecah hening dengan menanyakan nama anak tersebut. Karena wajah itu belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Aprilia”, jawabnya.

Tanpa memperkenalkan dirinya, Ilyas menyerahkan salah satu dari tiga layangan yang dibuat kakeknya. Aprilia bilang ia tidak tahu cara bermain layangan. Ya, kalau dia tidak tahu, kenapa tidak belajar?

Maka setiap sore, bahkan tanpa pertukaran kata, Ilyas dan Aprilia kecil bertemu di tepian kolam, pada tangan mereka, benang gelasan, dan dua layangan, siap untuk menguasai langit sore melawan belasan layangan lain.

Ada suatu sore, dimana mereka terlalu bersemangat bermain. Mereka berdua tersandung dan tercebur ke dalam kolam. Kolam tersebut dangkal, namun cukup untuk membuat kedua bocah itu panik. Pemancing yang ada bergegas mengangkat mereka berdua, yang sepertinya ada di ambang tangis.

Maka kedua bocah tersebut digiring ke rumah si kakek yang hanya tertawa melihat cucunya menangis. Setelah kedua bocah puas menangis, si nenek menyuruh kedua bocah untuk segera mandi, khawatir penyakit dari air kolam tersebut.

Ketika Ilyas meraih tangan Aprilia dan menuju kamar mandi, sang nenek langsung berteriak,

“EEEEEEHHHH!”

Ilyas terkaget, lalu menoleh,

“Kenapa nek?”
“Kamu gak boleh masuk sama dia.”
“Kenapa?”
“Dia perempuan.”

Ah, perempuan ya.

Untuk Ilyas kecil, beda perempuan adalah, mereka memakai rok. Memang kenapa? Tapi karena Ilyas cukup patuh dengan neneknya, ia mempersilahkan Aprilia untuk masuk duluan.

… Maka, pelajaran bagi Ilyas hari itu, jangan masuk kamar mandi dengan perempuan.

Er, salah.


Pelajaran bagi Ilyas hari itu, ada hubungan antarmanusia yang dinamakan pertemanan. Dan ketika kedua orang terlibat dalam hubungan itu, jika mereka jatuh dalam kesakitan, maka mereka jatuh bersama.

Ah, dan ada yang namanya perempuan juga, tangan mereka lebih halus daripada laki-laki, dan pada mereka, aroma jeruk…

---

“Om ada kabar bagus buat kamu.”

“Apa om?”

“Si April udah janda lagi, hahahahaha!”

Ruang tengah. Di rumah tersebut seorang pemuda bersama pamannya sedang duduk-duduk, bersenda gurau. Gurauan pamannya yang tadi bukan sekedar gurauan, Aprilia kecil yang telah tumbuh dewasa baru saja berpisah dari suami keduanya.

Kedua bocah tersebut berpisah jalan, ketika krisis moneter menghantam Indonesia pada tahun 1998. Orang tua Ilyas yang kehilangan pekerjaannya kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, tidak ada alasan bagi Ilyas untuk menetap bersama kakek dan neneknya. Maka Ilyas kembali ke rumah orang tuanya.

Perlahan, Aprilia hanya bersisa nama, dan wajah yang seharusnya ada menemani nama itu mulai kabur.

Tahun berlalu, Ilyas dan Aprilia kembali akrab ketika Ilyas memasuki sekolah menengah, hanya untuk kembali dipisahkan dengan kata-kata keras dari kakeknya, “sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan dia.”

“Kenapa?”

“Tidak baik rasanya kalau anak pegawai dijodohkan dengan anak atasannya.”

Maka mereka berpisah. Ilyas menjauh, Aprilia tidak lagi datang ke tepian kolam.

Mereka kembali bertukar sapa ketika Ilyas, kini mahasiswa salah satu perguruan negeri di kota tersebut, tidak sengaja menjumpai Aprilia di salah satu toko elektronik besar disana. Aprilia tidak melanjutkan sekolahnya setelah lulus SMK, dan kini berkerja sebagai sales promotion girl toko tersebut.

Mereka bertukar beberapa kata, mengenang sedikit masa lalu, saling tertawa, lalu mengucapkan kata selamat tinggal.

Pertemuan itu merupakan pertemuan terakhir kedua bocah yang kini beranjak dewasa itu.

Beberapa bulan kemudian, Aprilia menikah. Ilyas tidak pernah menghadiri pernikahannya.

Ada sedikit rasa marah, tapi untuk kedua bocah yang telah lama berpisah, Ilyas tahu suatu saat hari seperti ini pasti tiba. Tidak peduli mereka masih berusia sembilan belas tahun atau tidak. Aprilia akan pergi.

Maka dengan setengah ikhlas, dia relakan teman pertamanya.

Kadang Ilyas berpikir, dengan kondisinya yang kembali gagal dalam pernikahannya, sedang apa Aprilia sekarang?

Apakah dia sedang sedih?
Marah?
Kecewa?

Tapi mengingat anak yang bermain layangan bersamanya dulu, rasanya ia terlalu kuat walau fisiknya rapuh. Bahkan ketika pernikahan keduanya gagal, ketiga anaknya pastilah menjadi pelita untuknya. Tentu, ia terus menghadap ke depan.

Entah seperti apa teman pertama anak anaknya nanti…

Ah.



… Wangi jeruk.

Dua belas jeruk terhidang diatas meja kopi antara Ilyas dan pamannya.

Sambil tersenyum, ia mengambil sebuah dan mulai mengupasnya…
-------------

Sumber gambar: http://adidaswvu19.deviantart.com/ar...hing-339355124
×