alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
34 Jam [survival fiction]
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54c8726660e24b9b038b456a/34-jam-survival-fiction

34 Jam [survival fiction]

34 Jam

*William*

Dan bahkan malam itu aku sedang asik bermalam mingguan bersama kekasihku ke sebuah mall di Surabaya, Tunjungan Plaza. Menikmati secangkir cappucino hangat di cafe dan membahas obrolan ringan tentang kesibukan masing-masing.

"Iya ko, masa si Kevin lho tadi mau ikut, ya aku ga mau. Ini kan malam minggunya kita ngapa juga dia ikut bawa-bawa pacarnya" gerutu Monica kepadaku,
"Ya ga apa-apa kan, biar mereka pacaran juga, dia lho udah gede, malah kamu jadi cece nya ya sekalian bisa kontrol kan pacarannya si Kevin kalo tadi barengan"
"Yang ada nanti malah minta dibayarin, kan kasian kamu"
"Hahaha, sekali kali ya ga apa-apa lah"

Obrolan malam itu terasa sangat hangat apalagi diluar sana sedang hujan, pemandangan luar jendela pun menambah susana makin berkesan. Cinema Cafe, Tunjungan Plaza 1, pukul 20:38 dihari Selasa 11 Februari 2014. Monica, Maret Tahun depan kita akan segera sah menjadi pasangan dalam nama Tuhan, aku pun sudah tak sabar.

"Ko, mama kemarin nanyain kamu"
"Oya?"
"Iya, tanya masalah kerjaan, itu pabrik yang di Semarang lancar kah? Trus mama takut kalo kita nantinya udah nikah masa iya aku ditinggal-tinggal ke Semarang, padahal yang di Gresik kan udah ada juga pabriknya, ga tau lah aneh-aneh itu mama tanyanya"
"Haha iya deh iya, nanti koko jelasin ke mama pas pulang, lah tadi aja pas jemput kamu, mama sama papa ya udah keburu keluar doa di rumahnya Pak Vian"
"Tapi emangnya gitu ya ko? Misal udah nikah, aku ya kamu tinggal-tinggal gitu?"
"Ya bisa jadi, hahahaha ga lah, kalo nginep ya ngajak kamu kesana , tapi kalo cuma sehari doank ya koko kesana sendiri, kasian kamu nya nanti kecapekan kalo terus-terusan ikut" jawabanku membuat raut wajah nya terlihat berfikir, sepertinya cari sela mau nyalahin tapi ga dapet juga tuh, haha.

Mendadak listrik turun daya dan beberapa saat sempat meredupkan cahaya lampu di semua petak mall, wah sepertinya PLN bermasalah karena hujan. Tak selang lama terdengar suara keramaian dari lantai dasar, Monica ku perintahkan untuk tetap di tempat sedangkan aku melongok ke bawah, ramai sungguh ramai, terlihat seperti ada kekacauan seorang pria paruh baya mengamuk dan ditahan beberapa petugas keamanan.

"Ada apa, ko?" Tanyanya saat aku kembali ke kursi semula,
"Ga tau, ada orang ngamuk tuh, biarin aja lah" jawabku ringan.

Obrolan kami pun berlanjut kesana kemari bahkan sesekali membahas tentang tema pernikahan yang tak jarang ucapannya membuatku tertawa.


Bell dari speaker informasi memutus sejenak obrolan kami yang mencoba mendengarkan dengan seksama. Orang-orang terlihat dengan laju kaki tergopoh berburuan keluar dari tempatnya masing-masing.

"Lho ko, kok orang-orang pada lari semua? Ada apa? Aku lho ga seberapa denger tadi"
"Mbak, itu tadi pengumumannya gimana ya? Saya ga seberapa denger?" Tanyaku pada pelayan cafe,
"Buruan aja ko, kita juga siap-siap ini. Tadi saya dengernya ada kebakaran dari lantai UG, pengunjung diharap segera evakuasi diri ke emergency point"
"Oh makasih ya mbak"

Setelah bill aku bayar dengan gesekan Credit Card, tangan Monica sama sekali tak kulepaskan menuju ke parkiran mobil di basement. Semua akses lift dan eskalator mati, orang-orang berdesakan pelan melewati jalur evakuasi yang ditetapkan, namun tidak untukku, aku alih-alih menarik Monica melewati jalur lain yang lebih sepi untuk seger menuju lahan parkir.

"Maaf Bapak, jalur evakuasinya lewat sini" salah satu security menegurku sambil memintaku kembali ke antrian yang padat,
"Sebentar Pak, saya mau ke toilet dulu" alasanku,

Langkah demi langkah ku ambil melalui jalur yang tidak orang lain lewati dan mendadak cahaya hitam pekat menggantikan semua warna terang yang sebelumnya memandu kami, ya benar listrik padam.

"Ko, aku takut... Mending kita balik aja ikutin orang-orang tadi"
"Udah ga apa-apa kok, koko bisa pake flashlight dari hape, dikit lagi udah sampai mobil"

Satu per satu anak tangga kami injaki menurun, dan penerangan pun hanya berbekal lampu flash kamera handphone samsung yang baterainya pun tersisa 23%. Herannya, pembangkit listrik darurat seperti genset atau lainnya tidak segera menyala memberikan penerangan. Ah, mungkin semua petugas sedang sibuk dengan proses evakuasi.

Terdengar suara teriakan keras kesakitan dari pria yang menggema dan memenuhi ruang kosong seluruh basement sampai lorong tangga, Monica menggenggamku erat dengan tanpa kami ketahui dari mana asal pasti sumber teriakan itu. Kami berdua hanya melanjutkan ketukan langkah kaki menuju tujuan utama. Suasana kembali sangat-sangat hening dan dingin angin merosok melalui lorong tangga yang kami lalui menambah pekatnya rasa takut yang dialami kekasihku tak terkecuali juga aku.

Tangga terakhir dan ini arah ke lokasi mobilku berjejer dengan mobil-mobil pengunjung lainnya, lampu-lampu mulai menyala dengan berawal redup dan semakin terang, saat mata ku benar-benar bisa melihat kedepan dengan jelas tanpa selang sedetikpun gadis yang sedari tadi ku gandeng tangannya menjerit tak karuan hingga membuat telingaku sedikit sakit. 3 mayat berlumuran darah tertidur lemas tak bernafas dengan beberapa bagian tubuh yang tidak utuh telah menjadi santapan pemandangan pertama kami setelah kegelapan kosong tersentuh cahaya.

Sebelum semakin terlambat, aku yakin ini adalah tindak kriminal palng sadis di dunia yang bisa aku saksikan langsung bukan melalui layar tv. Aku segera menarik tangan lemasnya yang sekarang wajahnya pun terlihat pucat berpeluh dingin menahan tangis, didepan sana mobil Daihatsu Xenia berwarna silver masih dalam posisinya semula, kuambil kunci kendaraan roda 4 ku dan membukakan pintu untuk gadis ini. Aku segera memasuki mobil, memasangkan belt untuk Monica dan segera menghidupkan mesin. Injakan pada pedal gas ku pijak pelan menuju keluar basement.

Rute memutar turun kebawah menuntun mobilku pada satu titik dimana terlihat seorang pria berlumuran darah berjalan sempoyongan di depan sana. Aku bingung, kondisi yang membuat jantung terpompa memberiku dua pilihan, menolongnya ataukah aku harus tetap melaju. Bel kutekan berulang-ulang namun orang itu tak kunjung menepi, tetap berjalan pelan di depan mobilku dan akhirnya memutar badan ke arah kami.

Wajahnya berlumur darah termasuk bagian mulut, telinga kanan terlihat rusak penuh cairan merah kental seperti lendir, paha depannya berlubang seperti luka basah diabetes yang sudah menggerogoti fisik penderita, bahkan saat ku perhatikan aku baru sadar tenggorokan di leher depannya sudah berongga.

Monica tak bersuara, terpaku kaku melihat depan dengan air mata yang terus mengucur. Begitu pula aku, kakiku terasa sangat kaku untuk segera menginjak gas kembali. Sedikitpun aku masih belum percaya, ini adalah mayat hidup pertama yang kulihat. Langkahnya pelan, namun dengan pasti menghampiri mobilku, hingga aku benar-benar sadar ketika tangannya menyentuh kap mobil dan disusul jeritan histeris dari mulut Monica membuatku memijak gas dan menubruk monster itu. Tanpa tahan lagi aku mendaratkan mobilku ke jalan raya dengan selamat.

Selamat? Diluar sana terjadi kemacetan luar biasa yang diiringi suara sirine mobil polisi, ambulan dan runtutan klakson mobil lainnya. Sekarang mobilku hanya bisa terduduk diam tanpa gerakan sedikitpun terhalang mobil lain tepat didepan Xenia silver yang kukendarai.

Bersambung...

===


Index List :
34 Jam / Part 2
[url=http://www.kaskus.co.id/show_post/54d4bedda3cb1728608b4574/15/part-3 ]34 Jam / Part 3[/url]
Diubah oleh: UncloudedEyes
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 2
horaaay...!!
another zombie story...
surabaya pula, ga bayangin kalo kejadiannya di TP
Quote:


ente surabaya gan? hahaha yg ebook udah sampe part 4 noh, download aja.
Quote:


ya ga surabaya sih, tetanggan doank emoticon-Big Grin

dipost di sini lah..

modem ma laptop lagi pada demo soalnya emoticon-Nohope
Quote:


hahaha yg jelas di sini pasti sengaja ane telatin ketimbang yg ebook, emoticon-Ngakak (S):
walah, ternyata cerita yg ebook tentang beginian. dari kemaren coba donlot ebooknya tapi ga bisa2 emoticon-Cape d... (S)

mantep ni ceritanya. waktu n tempatnya serasa real emoticon-2 Jempol
ditunggu update selanjutnya
Yeaah zombie again, kemaren2 sempet deman sfth zombie tapi TSnya kebanyakan kabur, semoga ente engga, lanjut emoticon-shakehand
Quote:


masa ga bisa gan, itu filenya kecil2 bgt loh di dropbox. tempat emang ambil dr lokasi2 riil.

bahkan rencana mau lebih di riilkan pake foto2 lokasi, hahaha
Quote:


yang pasti ane duluin post ebook nya gan, kalo yg di tulis di thread pasti ane telatin.
updated post : teaser part 2-4

yg ga sabar download aja ebook nya dr dropbox
34 Jam

Kisah sebelumnya :
Selamat? Diluar sana terjadi kemacetan luar biasa yang diiringi suara sirine mobil polisi, ambulan dan runtutan klakson mobil lainnya. Sekarang mobilku hanya bisa terduduk diam tanpa gerakan sedikitpun terhalang mobil lain tepat didepan Xenia silver yang kukendarai.


*William Part 2*

Sesaat setelah kuperhatikan semua semakin kisruh, mobil-mobil yang sedang berbaris padat di jalan sana terlihat semakin tergesa-gesa tak beraturan. Seorang petugas berpakaian security melewati samping mobilku, ku buka kaca mobil dan kulontarkan sebuah pertanyaan.

"Permisi Pak, ada apa ya? Tadi katanya kebakaran tapi saya kok ga lihat sedikitpun asap ataupun tanda-tanda kebakaran ya?"
"Oh ga apa-apa Pak, cuma ada kasus pembunuhan tapi agar evakuasi lancar kami arahkan dengan alasan kebakaran"

Pembunuhan? Tindak kriminal didepan mataku, tapi sepertinya ada yang salah. Ini bukan sekedar pembunuhan biasa. Bahkan Monica pun masih terlihat jelas ketraumaan yg diceritakan raut wajahnya.

"Mon, kamu ga nyoba telepon Kevin?" Tangannya langsung meraih hp di dalam tas jinjing warna hijau yang sedari duduk dalam pangkuan gadis itu.

Kulihat jam Rolex di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 21:42, dan keadaan diluar sana sama sekali tak berubah, hanya saja jika sekedar pembunuhan kenapa sampai orang-orang itu berhamburan sebegitu padatnya. Lamunan fikirku tersudahi saat kekasihku berbicara.

"Ko, Kevin ga angkat teleponnya, aku udah nyoba sampe 4 kali padahal"
"Ya udah, semoga dia baik-baik aja, kita jalan pulang aja sekarang semoga jalannya cepet senggang"

Anggukan sebagai ekspresi dari isyarat setuju dia lemparkan ke mukaku, pelan dan sangat merambat mobil kami bisa keluar menuju jalan raya dalam cuaca yang masih berisikan tetesan hujan.

Dalam padatnya jalanan ku ulang kembali perintahku ke Monica untuk menelepon adik nya, batang hand phone yang digenggam kemudian ditempelkan di telinga dan bercakap-cakap dengan suara dari sebrang sana hingga akhirnya pembicaraan itu disudahi.

"Gimana, Mon?"
"Kevin tadi dijalan lagi naik motor makanya ga diangkat-angkat, lihat miss call dariku beberapa kali akhirnya dia berhenti dipinggir jalan ngangkat teleponku ko, katanya disana baik-baik aja, sekarang lagi perjalanan pulang nganterin ceweknya"
"Puji Tuhan deh kalo baik-baik aja"

Rambatan mobil lumayan bisa sedikit demi sedikit melajukan mobilku perlahan, posisi kami sekarang berjalan lurus di jalan raya embong malang yang sebelumnya ku kira sudah lebih leluasa untuk mengemudi, namun kenyataannya disini lebih padat dari sebelumnya. Tak sedikitpun mobilku dapat bergerak maju hingga akhirnya terlihat puluhan orang berlari kembali ke belakang setelah turun dari masing-masing kendaraannya.

Kubuka jendela mobil dan menanyakan ke satu orang yang sedang berlari tepat melewati samping mobilku.

"Ga tau pasti ko, disana ada orang gila lebih dari tujuh orang ngegigitin orang yang pada naik motor sampe berdarah-darah"
"Ko... Ini gimana, puter balik juga ga mungkin dijalan searah gini" sahut Monica,
"Tenang Mon, kita coba tunggu dulu sebentar" usahaku menenangkan Monica.

Menit berganti menit hingga tak sadar jam digital di dashboardku menunjukkan angka 22:13, dan orang-orang masih terus berlarian tak habis-habisnya. Aku memutar kepala bagaimana cara keluar dari sini.

"Mon" tatapku sambil menggenggam tangannya,
"Kita keluar dari sini, lalu ke UFO aja, duduk disana sampr kondisi leboh kondusif, ok?"

Dia kembali mengangguk untuk kedua kalinya, masing-masing pintu di samping kami buka dan keluar menuju UFO di kiri jalan tak jauh dari mobil. Gerimis masih merata di seluruh langit Surabaya kota dan sedikit membasahi tubuh ku dan Monica. Sesekali angin juga masih merambat di kulit yang membuat air hujan terasa lebih dingin.

"Ko, aku khawatir kalau jalannya ga cepet lancar gimana pulangnya nanti"
"Nanti kalau masih macet terus koko telepon mama deh, bilang kita nginep di hotel aja deket-deket sini, di Tegalsari kan juga ada Hotel Zodiac, lumayan lah ga jelek-jelek bamget, ga apa-apa kan?"
"Iya deh, monmon ikutin koko aja"

Gerimis yang turun bukannya mereda malah semakin deras membentuk hujan yang lebih lebat, aku dan Monica terjebak diteras Supermarket ini. Menunggu hujan untuk reda dan memperhatikan banyaknya mobil yang terjebak macet. Bunyi-bunyian klakson masih sesekali terdengar hingga seseorang yang berteduh disini bersama kami tiba-tiba jatuh dan kejang-kejang membuat beberapa orang kebingungan. Penyakit ayan? Sekitar 3 orang mengangkatnya agak kedalam persis di depan pintu masuk lobby, keadaannya pun membaik dari sebelumnya yang kejang mengerikan dan mengeluarkan busa dari mulut.

"Ko,"
"Ya Mon"
"Perasaanku ga enak"
"Udah ga apa-apa kok, koko disini nemenin kamu"

Sepertinya kekacauan ini adalah hal yang serius, kulihat di langit sekitar 3 helikopter baru saja lewat ditengah derasnya hujan.

"Perhatian kepada seluruh warga diharapkan segera mencari tempat perlindungan yang aman, kami ulangi perhatian kepada seluruh warga diharap segera mencari tempat perlindungan yang aman" kalimat itu terdengar jelas dari speaker corong yang dipegang seorang polisi di jalan raya.

"Ko..." Monica kembali menatapku, kali ini sungguh aku bingung harus bagaimana, apa yang sesungguhnya terjadi di luar sana.

"Dorrr" terdengar letusan senapan yang telah ditarik pelatuknya, puluhan orang makin terlihat lari terbirit-birit ketakutan. Penembakan? Seserius itu kah? Dari polisi kah atau dari seorang kriminal? Ah, kepalaku dipenuhi rasa penasaran.

Monica memelukku ketakutan dalam tangisan yang sedari tadi tak bisa ditahannya.

"Diharap segera berkumpul di halaman UFO, evakuasi titik aman diarahkan ke halaman parkir UFO, kami ulangi diharap segera berkumpul di halaman UFO, evakuasi titik aman diarahkan ke halaman parkir UFO" speaker polisi itu kembali melontarkan suara keras. Tanpa tunggu lama puluhan orang berkumpul disini diiringi 4 orang polisi.

Keadaan semakin rancu dengan puluhan tanda tanya di masing-masing kepala warga yang berkumpul dengan tanpa jawaban sedikitpun. Alasan para aparat keamanan selalu menjawab terjadi aksi pembunuhan. Tapi, pembunuhan apa? Dan kenapa? Semuanya masih sangat abstrak.

Arahan demi arahan di berikan pada sekumpulan orang tidak terkecuali kami berdua. Mereka berkata keadaan di luar makin tidak kondusif, banyak orang yang mendadak gila dan saling membunuh dengan cara yang sadis, disini keamanan dijanjikan asalkan kami semua menuruti semua arahan.

"Kalian yakin bisa jamin nyawa saya?" Bentak seorang pria berusia antara kepala 3 dengan kasar kepada polisi yang memberikan arahan.
Makiannya terus berlanjut, bahkan membuat keadaan memanas di pukul 22:57 yang seharusnya dingin hujan membuat kami tertidur pulas dikamar masing-masing. Saat beberapa warga sedang beradu mulut dengan aparat tiba-tiba teriakan keras seorang wanita menghentikan semuanya dan membuat semua orang menengok ke arah sumber suara dimana terlihat pemandangan baru lagi yabg tidak seharusnya aku dan Monica melihatnya, pergelangan kakinya berlumuran darah hingga melantai di nikmati puas oleh orang yang tadi sempat kejang-kejang. Manusia memakan manusia?

Bersambung...
Diubah oleh UncloudedEyes
wow cerita baruuu emoticon-Belo

yang The File ga diterusin bro? sayang euy udah jauhh..
Quote:



Ga gan, ane fokus di ebook ini aja. Hahaha
Quote:


Wah sayaanngg.. tapi ini juga keren sih basic ceritanya, Akan Survive kah dalam 34 jam kedepan? Patut dinantiiii hehehe

Keep update ya gaann emoticon-Angkat Beer

dan seperti biasa ane numpang ngiklan cerita ane ah emoticon-Hammer
Spoiler for :

Part 3

Cerita sebelumnya : Makiannya terus berlanjut, bahkan membuat keadaan memanas di pukul 22:57 yang seharusnya dingin hujan membuat kami tertidur pulas dikamar masing-masing. Saat beberapa warga sedang beradu mulut dengan aparat tiba-tiba teriakan keras seorang wanita menghentikan semuanya dan membuat semua orang menengok ke arah sumber suara dimana terlihat pemandangan baru lagi yang tidak seharusnya aku dan Monica melihatnya, pergelangan kakinya berlumuran darah hingga melantai di nikmati puas oleh orang yang tadi sempat kejang-kejang. Manusia memakan manusia?

34 Jam

*William Part 3*

Iblis mengirim pasukannya ke dunia, oh Tuhan bencana macam apa ini, dalam namaMu selamatkan kami.

Barisan mobil masih saja mematung disana, bahkan predator lain yang sedari tadi disebut orang-orang tak sedikitpun menampakkan diri. Hanya terdengar seretan kaki orang-orang yang berkumpul disekitarku melangkah mundur perlahan sambil memperhatikan orang gila yang menggigit wanita berbaju merah hati itu hingga warna cairan yang sama dengan bajunya merata ke lantai. 3 orang polisi masih berusaha menyelamatkannya yang mulai melemas kehabisan darah dan satu orang lainnya masih berusaha menenangkan kami semua.

Lelaki gila itu kini meronta dalam posisi terikat baik di bagian kaki dan tangannya, sedangkan korban masih merintih menahan rasa sakit yang amat sangat, semua itu jelas terbaca dari air wajahnya. Bukannya aku takut namun lebih jatuh iba ku kepada Monica, dia terlihat gemetaran memperhatikan semua kejadian yang tengah berlangsung disekelilingnya sejak tadi.

Malam makin larut dan berusaha memaksa menjemput pagi, sedangkan masih banyak orang yang tetap terjebak disini, bahkan sempat kudengar pembicaraan polisi melalui hand talkie nya beberapa point pun dijadikan tempat evakuasi, kufikir musibah ini telah merata di berbagai wilayah di Surabaya, wabah penyakit gila yang terjadi hampir serentak.

Sekarang yang kufikirkan hanyalah sesegera mungkin membawa tunanganku ke tempat yang lebih aman, tempat untuk berlindung sekaligus tempat menenangkan diri.

"Kalian lihat? Mereka aja ga bisa nyelamatin satu orang, apalagi kita semua" makian bapak tua itu berlanjut, telingaku memanas. Kuarahkan sebuah tonjokan ringan di pipi orang tua itu, bukannya aku emosi, aku juga butuh sedikit ketenangan. Beberapa orang mulai melerai kami, termasuk Monica sambil menangis memohonku untuk berhenti melakukan semua kebodohan ini. Keadaan makin kalut, para polisi pun terlihat mulai kebingungan langkah apa yang seharusnya mereka ambil.

Puluhan orang sibuk tertuju pada kami berdua yang sedang asik beradu pukul, tanpa ku sadari Monica yang sedari tadi mencoba meleraiku tiba-tiba berteriak keras dan lari. Lari? Monica lari? Kenapa? Wanitu tua yang terduduk itu mencoba meraihnya juga.

"Monnn..." Teriakku.

Dia terus berlari ke sebuah gang yang menuju kembali kedalam Tunjungan Plaza. Aku mengejarnya sambil terus memanggilnya berulang-ulang namun sedikitpun tak diindahkannya kekhawatiranku, dia terus berlari dan semakin menjauh, aku yang seharusnya bisa mengejarnya mulai kehabisan tenaga karena perkelahianku tadi. Pandanganku terhadap Monica menghilang pelan ditelan gelapnya basement belakang mall besar di Surabaya ini.

Air mataku menetes, semua salahku, andai saja aku tak memulai perkelahian itu tak mungkin aku lengah seperti ini, tak mungkin Monica lari seperti ini, aaaahhh... Aku harus menemukannya.

Langkahku kupercepat menuju tempat pacarku berlari, sambil berkali-kali aku teriak menyebut namanya, tak ada sedikitpun balasan. Di tempat gelap seluas ini sesulit apapun harus segera kutemukan Monica. Semoga Tuhan memberikan tempat aman untuk dia.

Jam di pergelangan tanganku sudah menggerakkan jarumnya ke angka selanjutnya, dengan jarum pendek menunjuk di pertengahan angka 11 dan 12. Aku mulai kelelahan, kemana lagi harus ku cari Monica, tak satupun orang yang kutemui disini, andaikan ada satu orang saja setidaknya aku bisa menanyakan apakah melihat seorang gadis berlari masuk kedalam.

Langkahku menggema pelan menambah kegelapan remang ini terasa makin mencekam, handphone ku pun sudah draining, aku hanya ingin memastikannya bahwa dia dalam kradaan baik. Tak lama langkahku terhenti melihat jejak sepatu wanita dalam warna yang bisa kuterka adalah warna darah, mungkinkah ini jejak langkah Monica? Pelan dan pasti kaki ku merangkak pelan mengikuti arah jejak ini, sekitar beberapa meter didepanku dalam remang kulihat seorang lelaki berseragam lengkap scurity berjongkok di samping pagar lantai 3 persis didepan Matahari Department Store yang sudah tutup. Dia membelakangiku semoga ini jawaban Tuhan untuk bisa menanyakan keberadaan Monica, semoga dia melihatnya.

Kusentuh pelan pundak pria didepanku untuk mulai melontarkan pertanyaan dan mendadak kakiku terasa sangat amat kaku, tas jinjing yang nyaris mirip milik kekasihku tergeletak di lantai berlumuran darah, seonggok tubuh wanita yang mulai tak sempurna tergeletak di depan pria ini sebagai santapan makan malam, bau anyir darah yang sebelumnya tak terlalu ku cium mendadak membuatku mual dan pusing, mengangkat naik semua minuman dan makan malamku yang tadi sempat ku nikmati. Dengan lahap bak orang belum makan seharian, pria berseragam ini begitu menikmati setiap potong daging yang berlumuran saus beraroma amis. Dia melihatku, menatapku dengan begitu seksama layaknya harimau lapar melihat calon mangsa. Monica, mayat itu kah Monica? Air mataku dalam beberapa detik menetes dan pandanganku mendadak kabur menggelap, sedetik sebelum semuanya gelap aku sempat melihat orang gila ini mulai meraihku.

*Diah Part 1*

Mataku mulai terkantuk dan sirine mobil polisi masih saja terdengar kencang tepat didepan rumah, mengganggu. Aku membuka pintu memastikan keadaan diluar sana aman. Setelah melongok keluar pintu dan melihat macetnya mobil di malam hari, adalah sungguh tidak biasa. Persetan, yang penting malam ini aku mau tidur.

Pintu depan kembali kututup dan kupastikan benar-benar terkunci dengan baik. Mas Santo, suamiku juga selalu bawa kunci duplikat kalau keluar nongkrong malam-malam begini, jadi sedikitpun aku tidak khawatir andai saja dia pulang sedangkan pintu dalam keadaan terkunci.

Kembali aku masuk ke kamar menekan remote AC dan merebahkan diri senyaman mungkin di ranjang. Kuketik pesan singkat untuk Mas Santo melalui BBm,

"Mas, kalo pulang masih kerasa laper tinggal buka kulkas, tadi masih ada sisa sayur lodeh, panasin aja trus ayam goreng di meja makan, juga masih bisa dimakan, sisa sepotong nyisain kamu, aku tidur duluan, jangan dibangunin, hahaha"

Istri macam apa aku ini, hahaha. Dan mobil polisi tetap saja berisik di jalanan depan rumah membuatku tetap saja tidak bisa memejamkan mata untuk pergi ke alam mimpi. Headset kupasang di telinga dan memutar beberapa lagu dari galeri musik di handphone, cukup meredam suara-suara tidak penting diluar sana.

Aku menjerit bukan kepalang saat sesosok tangan menyentuh kulit pundakku yang terbuka karena hanya kaos singlet yang aku kenakan.

"Duh mas, kamu ini ngagetin aja, untung aku ga bawa barang tajam. Itu lho berisik diluar, eh kok tumben pulang cepet? masih jam setengah sepuluh, belum ada malah"
"Hahaha, sorry deh. Makanya kuping tuh jangan disumpel pake headset, orang buka pintu aja ga denger kan? Jadi budek mendadak" ejeknya dan kusambut dengan cubitan di tangan.
"Ini lho, tadi Mas beliin makan, buat makan malem bareng"
"Kumat kan boros, makanya BBm dibaca donk, kan udah aku bilang masih ada makanan"
"Eh kirim BBm ya? Belum aku buka" tangannya langsung meraih telepon genggam di saku celana dan menekan-nekan layar yang sensitive terhadap sentuhan,
"Nah lagian tinggal sepotong doang kan ayamnya, makan sendiri donk namanya, kan maunya makan bareng"
"Eh Mas, ini udah jam berapa? Lihat donk, susah kali ngecilin badan kaya gini tiap hari aerobik demi kamu biar seksi, malah diajak makan jam malem. Ogah ah, makan sendiri sana, gemuk lagi aku nanti, sana... sana..." Aku mendorongnya keluar kamar dan kembali tidur diatas kasur.
"Ya udah, Mas masukin kulkas besok pagi bisa kamu angetin buat sarapan, apa Mas makan semuanya ya? Hahaha" godanya yang tak ku gubris dan kembali menyumbat kedua lubang telingaku dengan headset.

"Praaaanggg" sekitar beberapa menit setelah Mas Santo keluar kamar suara benda jatuh dari arah dapur, terdengar walau agak samar,
"Maaaass... Kamu pecahin apa lagi itu? Kebiasaan ah ga ngenakin orang mau tidur" langkahku ku halau menuju dapur, dan apa yang kulihat sedikit tak masuk akal Mas Santo sedang berkelahi di dekat pintu belakang dengan seseorang tak dikenal.

"Lho Mas, apa-apaan ini?"
"Ga tau Ma, ini lho Mas kan buka pintu dapur biar ada angin soalnya gerah gara-gara diluar lagi hujan, lah tiba-tiba orang ini masuk, nih pas Mas suruh keluar baik-baik tangan Mas malah digigit, sinting orang itu, ya sorry aja udah Mas tendang keluar terus tutup pintu lagi, duh berdarah deh"
"Kamu ini ada aja ulahnya, sini aku bersihin lukanya"

Suamiku duduk di kursi makan sedangkan aku mengambil anti septic dan kapas di kotak obat, setelah luka gigitannya beres kubersihkan dan kuobati, dengan lahap dia makan makanan yang tadi dibawanya, terlihat sangat kelaparan seperti malam-malam biasanya.

"Kamu itu ya makan malem nya dikurangin lah, Mas. Tiap jam segini pasti kelaperan, gimana perut buncit itu bisa kempes" perut buncitnya kutepuk-tepuk ringan dengan tanganku sembari dia masih mengunyah nasi di dalam mulutnya,
"Eh, ma. Dimana-mana, perut buncit gini tanda hidupnya makmur, udah ga apa-apalah jangan diprotes, lagian kamu dulu juga mau aku nikahin" candanya yang selalu membuatku jengkel adalah khas dari dia dibanding pria lain yang pernah kutemui bahkan dari mantan-mantanku sebelum menikah dengan Mas Santo sekalipun.
"Apanya, kalo dulu kamu ga mohon-mohon aku juga ogah kali, hahaha, udah buruan makannya trus ayo tidur, aku udah ngantuk banget"

Selepas piring kotor bekas makan malamnya kucuci bersih, kami berdua kembali masuk ke kamar dan memulai untuk melelapkan diri hingga akhirnya kami sudah benar-benar terlelap malam ini.

Sekitar pukul 2:00 dini hari aku terbangun dan kaget melihat Mas Santo menggigil kedinginan, padahal AC kamar sudah mati dan cuacapun hanya gerimis kecil.

"Mas, kamu kenapa? Loh kok demam? Tadi pulang hujan-hujanan? Apa makanan tadi ga bersih?" Dia terus menggigil dan menggelengkan kepalanya sebagai isyarat tidak tahu penyebab tubuhnya merasakan dingin. Saklar lampu kutekan, lampu kamarpun menyala terang menghapus pelan warna kabur dari pandangan mataku. Kakiku untuk kedua kalinya beranjak melangkah ke luar kamar untuk mengambil obat demam dikotak obat. Kuambilkan obat demam yang sudah kukupas dari kulit kemasannya dan juga tidak lupa kubawakan segelas air minum.

Sesampainya dikamar aku merasa sangat jengkel sekali, lagi-lagi dia mengerjaiku,
"Kamu tu bener-bener kelewatan ya, Mas! Iseng boleh iseng tapi ga gini caranya!" Bentakku sambil melihat dia yang duduk diranjang dengan kaki melantai dan wajah menunduk, tak sedikitpun respon yang kudapati darinya.
"Masih mau ngerjain lagi? Aku udah capek lah, beneran kali ini ga lucu, aku marah!" Tetap tak ada respon, kali ini aku serius menganggapnya bukan sekedar bercanda, dengan tangan kanan menggenggam butiran obat demam dan tangan kiri memegangi gelas ku dekati suamiku perlahan.

Gelasku terjatuh pecah dilantai dan aku jatuh terduduk begitu saja saat dia hampir menyerangku dengan kedua tangan kosongnya, apakah aku berbuat salah? Apa ada perkataanku yang tidak mengenakkan hatinya? Mas, kamu kenapa? Air mataku menetes mengimbangi rasa takut yang memaksa tubuhku untuk segera mundur perlahan.

Bersambung...
updated part 3
Quote:


Wow pindah sudut pandang emoticon-Belo Emang paling seru klo cerita zombie dari berbagai pov deh.. Lebih dapet feelnyaa!

Aaa itu monica apa siapa yaa yang dimakan? Cepet update gaaann!
Quote:


sabar gannn emoticon-Cool
Diubah oleh UncloudedEyes

Part 4

Cerita sebelumnya : Gelasku terjatuh pecah dilantai dan aku jatuh terduduk begitu saja saat dia hampir menyerangku dengan kedua tangan kosongnya, apakah aku berbuat salah? Apa ada perkataanku yang tidak mengenakkan hatinya? Mas, kamu kenapa? Air mataku menetes mengimbangi rasa takut yang memaksa tubuhku untuk segera mundur perlahan.

34 Jam

*Diah Part 2*

Beberapa kali teriakanku terasa kosong ditelinganya, barang-barang didalam kamarpun rusak kulempar ke tubuhnya yang mulai berdiri untuk mencoba meraihku. Aku berdiri, barlari keluar kamar dan bersembunyi di dapur, erangannya sangat terik serak terdengar menyakitkan di telinga. Pecahan-pecahan gelas dilantai yang terinjak bahkan tak membuatnya berhenti mengejarku perlahan. Aku jongkok dibawah meja makan dengan mata yang mulai sembab ketakutan.

Ini tak selayaknya terjadi, apa salahku hingga membuat suamiku seperti ini. Sejak pertama perkimpoian kita pun, aku sungguh berharap tak akan ada kekerasan dalam kami membangun rumah tangga. Mas... Aku Diah, Diah Kumalasari, istri yang selama ini kau cintai, tolong ingatlah.

Langkah kakinya terseret masuk melalui pintu dapur, dia menemukanku. Air mata tak dapat sedikitpun kutahan, walau tak bersuara namun terus mengucur deras, aku takut. Ya Allah... Bantu aku.

Aku keluar dari kolong meja saat dia mencoba meraihku, ku tarik gagang teflon yang menggantung di tempatnya. Beberapa kali kuingatkan dia untuk tidak mendekat, namun langkahnya yang pelan tetap berusaha untuk segera menangkapku. Langkahku mundur perlahan mengimbangi derap kakinya yang bergerak maju.

"Mas, cukup Mas, aku benar-benar takut, ini semua tak lucu sama sekali!" Bentakku sambil terus menangis.

Dia bukan Mas Santo yang kukenal, dia orang lain. Sepersekian detik sebelum dia benar-benar meletakkan tangannya di leherku teflon kupukulkan keras tepat dipipi kirinya, kepalanya terbentur pintu kulkas lalu terjatuh telentang di lantai. Hatiku berucap maaf, tapi kepada siapa. Alat penggorengan yang kupegang terlepas bebas kelantai, terjatuh bersuara keras saat aku menutup kedua mulutku. Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan.

Aku berlari keluar rumah berusaha membuka pintu rumah dengan tubuh gemetaran, dijalanan masih banyak berjejer mobil namun terlihat amat sangat sepi, tak kulihat sedikitpun titik kehidupan disekitarnya. Aku berteriak-teriak minta tolong, mencoba mengetuk beberapa kaca mobil yang gelap satu-persatu dan hasilnya tetap saja nihil. Baru saja aku mengetuk dua kali di kaca mobil Ertiga berplat nopol L 1921 JQ yang sempat terlihat seperti ada orang didalamnya, dia mengagetkanku, digebraknya kaca dari dalam kendaraan berwarna putih itu sambil bertindak tidak sewajarnya.

Andaikan saja handphone ku tidak tertinggal di dalam kamar, mungkin saja aku bisa meminta pertolongan dari teman-teman, bahkan untuk kembali kedalam rumah akupun tak punya nyali. Suamiku sudah berubah, menjadi orang gila yang hendak menghajarku. Aku masih terus berusaha mencari pertolongan hingga akhirnya aku mendengar suara anak kecil sedang menangis, namun samar sangat samar nyaris tipis sekali untukku menemukan sumber suaranya.

Kaos dan celana kolor ku mulai basah disiram gerimis tipis, aku masih berusaha mencari sumber suara hingga akhirnya kutemukan sebuah mobil Fortuner warna hitam sedikit terbuka dibagian kaca belakangnya, kuintip pelan dan mulai memanggil.

"Dek.. Dek..." Suara tangisan itu melirih, sebuah kepala anak kecil terlohat melongok mengintipku dari dalam.
"Adek kenapa? Udah cup ya jangan nangis, bisa buka pintunya, mbak bukan orang jahat kok" beberapa detik awalnya dia terlihat takut bahkan tak mau meresponku, hingga akhirnya dia teriak ke arahku yang masih berdiri diluar pintu.

"Mbaaaakkk..." Dia buru-buru membukakan pintu menarikku masuk, tangan seorang pria nyaris saja menangkapku, dengan nafas tersengal-sengal, kini kami berdua berada didalam, dengan sigap kututup pintu mobil sekaligus kunaikkan kacanya. Pria itu masih berdiri disana memukul-mukul pintu berharap bisa masuk.

Sekitar beberapa menit setelah bosan pria itu mulai menjauh, menjauh pergi dari pandanganku secara perlahan-lahan. Aku mulai menanyakan beberapa hal ke anak ini. Namanya Angie, seorang anak wanita keturunan tionghoa antara umur 7 tahunan, dia bercerita banyak sambil memelukku erat. Ungkapnya berceloteh bahwa sebelumnya dia tertidur pulas didalam mobil saat perjalanan pulang, dia terbangun saat mendengar suara sirine mobil polisi, pesan papa dan mamanya untuk tidak keluar dari mobil di patuhinya, bahkan saat orang-orang yang terlihat berbondong-bondong berjalan entah kemana dia pun tetap menunggu di dalam, namun sampai detik ini orang tuanya tak kunjung kembali.

"Angie takut mbak, mama kemana?"
"Sabar ya, Angie, nanti mbak bantuin cari mama kamu"

Aku melihat sekitar dari dalam mobil, sepertinya keadaan sudah cukup aman, Angie masih kusuruh berdiam diri di dalam mobil sedangkan aku mendekati sebuah motor parkir di pinggir jalan. Bagus, beat hijau masih dengan kunci yang tertancap, walau gerimis ringan setidaknya aku harus segera mencari pertolongan. Aku kembali menuju mobil, Angie ku gendong turun lalu kuajak berjalan kaki menuju ke arah motor. Tanpa banyak buang waktu aku segera menghidupkan mesin dan menjalankannya yang entah kemana, jalanan sangat amat sepi sekali dengan mobil-mobil yang berjejer lepas dijalanan.

Aku tak tahu hendak kemana dengan membawa Angie, yang aku tahu hanya untuk mencari pertolongan. Dari arah ketintang kutancap gas melalui gang-gang kecil yang kuanggap aman, sesampainya dijalan raya sangat kurasakan aneh, memang ini sudah sangat larut tapi setidaknya Surabaya tak pernah sesepi ini. Kutarik kembali gasku dijalanan tanpa mengenakan helm dan sama sekali tak kutakutkan untuk ditilang, mungkin seandainya ditilang pun aku malah bersyukur karena bisa menemukan orang waras yang tidak gila dan berusaha mencelakai sesamanya.

Jalan Raya Ahmad Yani, Surabaya, pukul 3:56 dini hari. Kutanyakan angka yang menunjukkan di jam tangan digital milik Angie. Aku tak bisa melaju terlalu jauh, gerimis masih menyelimuti daerah sini, aku khawatir jika saja Angie jadi sakit. Beberapa meter dari Jatim Expo atau biasa orang Surabaya mengenal dengan sebutan JX aku melihat banyak sekali gerombolan orang dengan suara-suara ramai, aku tujukan arahku untuk kesana.

Motor kuparkir dan segera menggendong Angie masuk ke padatnya gerombolan,

"Mohon untuk tetap tenang, evakuasi sementara diarahkan ke JX, evakuasi lanjutan akan segera dikabarkan, harap bersabar, kami sedang memastikan tempat yang benar-benar aman untuk berlindung" ucap seorang Pria berseragam polisi dengan speakernya.

Evakuasi? Sebenarnya apa yang sedang terjadi di Surabaya? Aku masih belum mengerti, bahkan untuk apa dievakuasi, lalu kenapa banyak sekali orang berkumpul disini.

"Permisi Pak, saya numpang nanya, sebenarnya ada apa ya?"
"Loh, mbaknya ga tau? Banyak orang gila mendadak mencoba melukai orang disekitarnya, makanya di beberapa daerah dibikin pos sementara yang dianggap aman, kita semua nunggu"
"Orang gila mendadak?" Pria itu kembali asik dengan kumpulan warga, aku teringat Mas Santo, mungkinkah dia juga gila mendadak? Air mataku yang sempat kering kembali menetes, Angie mengusapnya pelan,

"Mbak kenapa?"
"Ga apa-apa Ngie" kulontarkan senyum lembut kearahnya.

Sekarang aku sedikit tenang, ditempat sekumpulan orang waras dan beberapa perlindungan dari aparat.


*Wlliam Part 4*

Aku terbangun di sebuah keramaian, seingatku aku tadi diterkam orang gila di Tunjungan Plaza. Monica? Aku kembali teringat tentangnya, dimana dia? Aku harus kembali kesana, tapi ini dimana?

"Kau sudah siuman?" Tanya seorang ibu-ibu kepadaku ditengah sekumpulan orang,
"Makasih bu, tapi ini dimana?"
"Orang itu tadi membawamu kemari, ini di Jatim Expo, sementara kita semua mengamankan diri disini" terangnya sambil meunjuk seorang pria berkaos garis dan bercelana pendek yang berdiri beberapa ratus meter dari tempatku terbaring.

Kepalaku masih sedikit pusing dan pandanganku belum sepenuhnya pulih, aku berdiri menghampirinya dan berniat mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.

"Ko, koko yang selamatin saya? Kamsia ya ko"
"Lain kali jangan sendirian nyo, udah kelewat banyak orang gila yang keliaran, ga aman"
"Iya ko" jawabku.

Aku melangkahkan kaki dan mencoba melihat situasi diluar, sangat sesak dipenuhi orang-orang, beberapa kendaraan terparkir acak sembarangan di halaman JX, sedangkan orang-orang tengah asik berkumpul, aku perlahan turun kebawah dan mencari-cari kendaraan yang memungkinkan bisa kuajak kembali ke Tunjungan Plaza.

Dapat, sebuah motor mio yang kuncinya masih melekat di lubang jok. Aku segera menyalakan mesin dan menancap gas kencang kembali ke arah hilangnya Monica.

*Bridge*
"Ce, tenangin diri ya. Pacarnya pasti baik-baik aja kok" ucapku ke Monica, wanita yang baru saja kuajak berkenalan dan duduk disebelahku di halaman depan sebelah selatan bangunan,
"Tapi mbak Diah, aku khawatirin koko, dia pasti nyariin aku. Semua salahku kenapa harus kabur kaya gitu"

Bersambung...
Updated part 4
Aahh.. ternyata begitu toh yang terjadi sama Monica.. Nice nice..

sekedar saran, mungkin bisa dijelaskan lebih rinci soal lokasinya, maklum ane bukan orang Surabaya.. Jadi ga bisa ngebayangin sejauh apa dari UFO ke Tunjungan Plaza trus ke Jatim Expo. Anyway, great story bro emoticon-Angkat Beer ditunggu updatenyaa

dan kayanya ane walik nih emoticon-Cool
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di