alexa-tracking

Cowok Manja Merantau

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54c53cf8a1cb178d4f8b4579/cowok-manja-merantau
Poll: Naufal sekarang sama siapa?

This poll is closed - 830 Voters

View Poll
Aya 41.20% (342 votes)
Amel 2.53% (21 votes)
Hanif 8.80% (73 votes)
Someone yang belum ada di cerita 8.19% (68 votes)
Ojan :bettys 39.28% (326 votes)
Cowok Manja Merantau
Cowok Manja Merantau


Cowok Manja Merantau


Quote:


Quote:


Quote:


Dimohon dengan sangat, anggap ini sebagai cerita fiksidemi kenyamanan kita semua.
Cheers!
emoticon-Smilie


Cowok Manja Merantau


Prolog


Hari ini, gue resmi menjadi seorang siswa SMA di sebuah kota yang terletak di provinsi Jawa Barat. Oh ya, perkenalkan gue Naufal. Gue sebenarnya berasal dari timur pulau jawa, karena sebuah keinginan dan keadaan yang mendesak, gue memutuskan untuk menjadi anak rantau.

Gue merupakan anak tunggal. Apa yang identik dengan anak tunggal? Ya, gue selalu dimanja. Apa-apa yang gue inginkan pasti dituruti. Masa kecil gue bisa dibilang cukup bahagia, bahagia karena dibahagiakan oleh materi. Pada masa SD, gue terkenal sebagai anak kecil yang suka mengadu kepada guru karena hal-hal sepele. Misalkan jika gue dijahili oleh teman sekelas gue, gue pasti lapor kepada guru dan guru tersebut memarahi anak yang menjahili gue. Karena itu juga, hampir ga ada anak yang mau berteman dengan gue karena mereka semua takut gue melapor kepada guru jika mereka melakukan sebuah kesalahan kepada gue. Dan karena ini juga, gue menjadi anak rumahan yang hampir jauh dengan sosialisasi bersama dunia luar dan ditambah lagi karena semua kebutuhan gue sudah tercukupi di dalam rumah. Laper? Tinggal teriak minta diambilin ke bibi. Mainan? Tinggal minta dibeliin ke supir keluarga dan kemudian sore harinya mainan tersebut sudah ada di kamar gue.

Hingga gue lulus dari SMP, gue hampir ga pernah yang namanya main keluar rumah. Namun sekarang gue punya 2 orang teman yang mampu bertahan dengan kelakuan manja gue sewaktu di SMP. Sebut saja Suryo dan Dimas. Gue kenal dengan mereka berdua di bangku kelas 1 SMP karena dulu gue pernah satu kelompok dengan mereka berdua. Oh dan sampai detik ini pula, gue belom pernah ngerasain namanya pacaran. Boro-boro pacaran, deket sama cewek aja enggak!

Sebelum gue masuk ke SMA, gue bertekad untuk berubah. Ga lagi manja, harus bisa mandiri dan bebas dari fasilitas orang tua. Kemudian terbersit pikiran gue untuk menjadi seorang perantauan.

Gue mengutarakan keinginan gue kepada orang tua gue. Dan bisa ditebak kalo mereka menolak mentah-mentah keinginan gue. Terutama bokap gue, alasannya karena gue bakal jauh dari rumah. Setelah gue beradu argumen dengan kedua orang tua, akhirnya gue diperbolehkan untuk menjadi seorang anak rantau bersyarat.

Singkat cerita, gue sedang mengepak barang bawaan yang akan gue bawa pergi sebentar lagi. Memang pilihan gue ekstrim, ga punya saudara disana, ga tau lika-liku kota yang akan gue tinggali, dan gue juga ga kenal siapa-siapa disana. Semoga gue bisa bertahan menjalani lembaran baru hidup di kota orang lain.




Semoga...
Daftar Isi
Cowok Manja Merantau

#1

Spoiler for #1:



#2

Spoiler for #2:



#3

Spoiler for #3:




Cowok Manja Merantau

Selesai


emoticon-Matahari


***


Get your latest PDF version:


1. HERE

'One day, the dwarfs will be much more taller than you guys...' ― Thanks!
Copyright © kurcacitinggi | 2015




Side Story:

Happy B'day and Happy Ied - Updated on: Jul 18th, 2015





Copyright © karnaufal | 2015
All rights reserved
image-url-apps
Pertamax? Dilanjut kang, bau baunya bagus nih critanya, jangan stop di tengah jalan ye
KASKUS Ads

SATU: Di Atas Kereta

Malam ini gue diantarkan oleh kedua orang tua menuju stasiun menggunakan mobil. Dari balik kaca mobil, gue hanya bisa terdiam sambil melihat hiruk pikuk kota ini yang sebentar lagi akan gue tinggalkan. Gue menghela nafas, uap air yang keluar dari mulut menempel dan sedikit membuat kaca menjadi buram. Gue mengelap kaca dengan menggunakan ujung jaket.


Apa gue bakal kangen sama kota ini?

Atau lebih tepatnya,

Siapa yang bakal gue kangenin di kota ini?


Mungkin, cuma kedua orang tua gue doang yang bakal gue kangenin. I don't have someone special here except my parents.


Lamunan gue terpecah saat bokap gue berbicara.

Quote:


Dan masih banyak lagi wejangan lainnya dari nyokap gue.

Jalanan hari ini tampaknya sangat mendukung gue untuk segera meninggalkan kota ini. Jalanan yang biasanya macet, kini entah kenapa sangat sepi sehingga gue datang terlalu awal di stasiun.

Petugas mengumumkan bahwa kereta yang akan gue tumpangi sudah tersedia di jalurnya. Gue berpamitan kepada bokap, nyokap dan meminta doa restu untuk kelancaran di luar sana.

Quote:


Mata nyokap gue berkaca-kaca, sedetik kemudian nyokap memeluk gue sangat erat. Bokap hanya mengusap-usap punggung nyokap sambil tersenyum ke arah gue. Nyokap melepaskan pelukannya dan digantikan dengan sebuah senyuman yang diiringi dengan bulir air mata. Lalu gue beralih dan berpamitan kepada bokap.

Quote:


Gue tersenyum kepada mereka berdua. Orang yang telah berjasa untuk hidup gue. Gue mengambil koper yang tergeletak di samping dan bersiap masuk ke stasiun.

Quote:


Bokap merogoh saku belakangnya lalu memberikan sebuah kartu ATM kepada gue.

Quote:


Sambil tersenyum, gue mengambil kartu ATM tersebut. Sebenernya gue enggan menerimanya karena gue udah punya tabungan sendiri yang mungkin cukup untuk satu semester pertama.

Koper sudah di tangan, kini gue berjalan meninggalkan mereka berdua yang melihat kepergian anak semata wayangnya.

Terima kasih pap, mam...

***


Gue duduk diatas kereta yang sedang melaju dengan cepat. Getaran-getaran yang ditimbulkan oleh gesekan antara roda dan rel membuat gue mengantuk. Gue mencoba memejamkan mata namun gue tak kunjung terlelap.

Gue memutuskan untuk bangun dari kursi dan berjalan menuju toilet. Di dalam toilet, gue membasuh muka gue lalu menatap ke kaca.


Apa gue bisa tinggal sendiri tanpa fasilitas lengkap dari orang tua?

Apa gue sanggup buat menuhin kebutuhan gue sehari-hari?

Apa gue bisa mandiri?

Apa gue........

Ck, argh!



Gue kembali menuju kursi yang sebelumnya gue tempati. Merubah-rubah posisi agar bisa mendapatkan posisi yang nyaman.

Kini, goyangan kereta sukses menina bobokan gue. Ga lama kemudian, gue sudah terlelap di atas kereta dengan berjuta pikiran...



Apa gue bisa mandiri?

Semoga...
image-url-apps
Masih anget nih emoticon-Big Grin
Salken gan
Maap nih yee gak komeng soal cerita nya dulu emoticon-Hammer (S)
image-url-apps
ada cerita baru nih

ijin bangun tenda gan
image-url-apps
Cerita baru nih emoticon-Big Grin
***
Itu mah manja nya manja banget.
Gw bontot tapi gaterlalu manja banget emoticon-Big Grin

Bagus sih, tapi...

image-url-apps
Generally ceritanya sepertinya ok, laah... Cm sayang, maksain bangeet 'gue'-nya. Lagian, mana ada anak 'Jawa' (emg Jabar bukan Jawa ya? emoticon-Bingung ) yg ngomong pake 'gue'. emoticon-Cape d...

Tapi, tetap semangat, Bung! Semoga sukses dengan cerita dan perantauannya.
Ganbatte! emoticon-I Love Indonesia
Quote:


doain aja lancar gan hehehe

Quote:


salken juga gan emoticon-Smilie
nanti dikomen lagi ya ceritanya

Quote:


monggo gan

Quote:


maklum gan anak tunggal

Quote:


'anggap saja ini cerita fiksi' emoticon-Stick Out Tongue
penggunaan 'gue' menurut penulis hanya agar lebih enak dibaca
menurut penulis, jabar identik dengan bahasa sunda, dan anak 'jawa' disini berasal dari jawa timur
oke doakan saja gan emoticon-Big Grin

Terimakasih atas kritiknya emoticon-Smilie

DUA: Kota Rantauku

Suhu udara di dalam kereta mulai menjadi dingin sehingga membuat gue terbangun. Dengan mata segaris, gue melihat jam yang berada di tangan kanan. Ternyata sekarang sudah pukul 04.30. Kira-kira 2 jam lagi, kereta ini akan sampai di tujuannya.

Dengan badan sempoyongan, gue berjalan menuju toilet untuk sekedar cuci muka dan menghilangkan kantuk yang menggelayut di pelupuk mata. Gue buka kran air dan mengambil airnya. Brrr, air yang sebelumnya ga terlalu dingin kini menjadi sedingin air es. Gue membasuh muka dengan air yang sedingin es tersebut dan seketika kantuk yang menerpa menjadi hilang dan wajah gue kembali segar. Gue berjalan kembali menuju kursi. Baru beberapa saat gue duduk, cacing-cacing peliharaan di dalam perut sudah berdemo, peliharaan perut gue sudah meminta jatahnya di pagi hari. Gue belum beranjak dan masih duduk di kursi, menunggu ada seorang prami yang lewat untuk menjajakan makanan. Namun setelah sekian lama gue menunggu, orang yang ditunggu tak kunjung datang.

Mana sih prami-prami nya? Harusnya kan keliling bawa makanan atau apa kek.

Gue menggerutu dalam hati. Akhirnya gue memutuskan untuk pergi menuju kereta makan. Sebelum pergi, gue mengecek isi dompet. Terlihat beberapa lembar uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan. Seingat gue, sehari sebelum berangkat gue hanya membawa uang tunai sebesar 200 ribu. Tapi kok ini nambah sendiri?

Gue merogoh hp yang berada di saku celana untuk menelpon orang rumah. Jam segini, bokap pasti udah bangun.

Tut...tut...tut...

Quote:


Sedikit tentang Mas Dayat, dia seorang supir pribadi di rumah gue. Beliau sudah bekerja bersama keluarga gue semenjak gue kelas 2 SD. Dan beliau pula yang sehari-harinya mengantar jemput gue antara rumah dan sekolah. Gue bisa dibilang cukup dekat dengan Mas Dayat.

Quote:


Telfon gue matikan, untuk sekarang gue gak mempermasalahkan uang yang bertambah dengan sendirinya. Gue langsung menuju kereta makan untuk sarapan.

Sesampainya di kereta makan, ada dua orang prami yang sedang beristirahat. Lalu masih ada 2 orang prami, 3 orang PKD, dan seorang kondektur yang masih terjaga. Kemudian salah seorang prami menghampiri gue.

Quote:


Prami tersebut memberikan menu yang terdapat di kereta makan. Setelah memilih, gue memesan seporsi nasi goreng biasa dan teh manis hangat. Setelah gue menyampaikan pesanan, gue duduk di kursi sebelah kiri kereta. Dan ga lama kemudian, prami tersebut memberikan pesanan yang gue pesan.

Quote:


Prami tersebut tersenyum lalu sambil memberikan pesanan gue.

Nasi goreng yang gue pesan masih terbungkus oleh plastik bening dan teh manisnya masih panas. Gue seruput sedikit teh manis dan kemudian memakan nasi goreng tersebut.

Ga butuh waktu lama untuk menghabiskan seporsi nasi goreng dengan teh manisnya. Lalu gue membayar dua menut tersebut dan kembali menuju kursi gue sendiri.

***


Matahari sudah mulai meninggi, alam yang asri nan sejuk yang dimiliki oleh bumi parahyangan menyambut kedatangan gue disini. Jam sudah menunjukkan pukul 06:40. Mungkin sekitar 10 menit lagi, gue sampai di stasiun tujuan. Gue mempersiapkan diri dan mengambil koper yang disimpan di bagasi atas.

Ga lama kemudian, kereta yang gue tumpangi tiba di stasiun tujuan. Sambil menenteng koper, gue berdiri dan ikut mengantri untuk turun bersama penumpang lainnya. Dari balik jendela kereta yang berbentuk kotak kecil, terlihat orang-orang berpakaian oranye dan bercelana hitam lusuh berlari mengejar kereta. Setelah kereta berhenti, mereka langsung melompat dan menaiki kereta sambil menjajakan jasanya.

Gue berbalik menuju pintu belakang karena pintu yang sebelumnya akan gue jadikan pintu keluar sudah penuh oleh penumpang dan porter yang saling berdesakan.

Gue duduk di sebuah bangku deret yang gak jauh dari tempat dimana gue turun. Disini, gue kayak orang linglung, celinguk sana, celinguk sini, gue gak tau harus ngapain. Gue memperhatikan suasana sekitar, banyak orang-orang yang sedang menenteng koper bersama dengan sanak saudara mereka dan ada juga turis-turis asing dengan ciri khas mereka sendiri: sepatu olah raga, celana pendek, kaos, dan tidak lupa tas gunung yang selalu mereka bawa. Pagi ini stasiun ini cukup penuh. Maklum, masa liburan kenaikan kelas baru saja dimulai.

Sedang asyik melihat suasana sekitar, ada seorang bapak-bapak yang menggunakan baju berwarna oranye menghampiri gue.

Quote:


Bapak itu bertanya kepada gue, terlihat bulir-bulir peluh yang mulai menuruni keningnya yang sudah mengkerut. Bulir perjuangan di pagi hari untuk mencari rezeki.

Quote:


Jawab gue dingin. Kemudian bapak tersebut tersenyum berlari menuju arah yang berlawanan untuk mencari rezeki yang tak dia dapatkan dari gue.

Gue menggeret koper menuju pintu keluar bagian utara, gue celingukan kanan-kiri untuk mencari supir taksi yang dijanjikan bokap gue. Lalu dari kejauhan, gue melihat ada seorang bapak-bapak yang mengenakan baju biru khas dari seragam taksi tersebut sambil membawa kertas yang bertuliskan nama dan kota asal gue.

Gue mendekati supir taksi tersebut dan berkenalan sedikit. Supir taksi menawarkan dirinya untuk membawa koper yang gue bawa, lalu gue mengiyakan permintaannya.

Di dalam taksi, gue mengambil handphone dan mengabari orang rumah bahwa gue sudah sampai dengan selamat dan sedang dalam perjalanan menuju rumah, rumah yang akan gue huni selama 3 tahun kedepan. Di dalam perjalanan, gue hanya terdiam sambil melihat kota ini, menghapalkan jalan agar gue ga nyasar kalo pergi sendiri.

Lalu, sebuah pikiran kembali mendatangi gue.


Apa gue bisa hidup mandiri disini?


Gue kembali menghela nafas.

Hhhh...


Semoga...
gue ninggalin jejak dl ya coy emoticon-linux2
image-url-apps
masang tenda dulu emoticon-army
salken gan moga story nya bisa sampe tamat emoticon-Big Grin
yuk di lanjut emoticon-army
image-url-apps
Ijin nenda dulu gan, kayaknya asik nie cerita....
image-url-apps
izin nyimak gan, btw ane jg anak rantau emoticon-Big Grin

TIGA: Rumah Baru

Pagi ini sangatlah macet, padahal sudah memasuki masa-masa liburan anak sekolah. Harusnya, kalo liburan pasti kan ga ada orang yang pergi ke sekolah jadi ga macet. Tapi gue sebagai anak baru di kota ini sama sekali belom mengetahui seluk beluk, hiruk pikuk, dan rutinitas di kota ini. Biarlah...

Di dalam taksi, si supir mengajak gue mengobrol namun gue hanya membalasnya dengan ogah-ogahan. Sebenernya, gue ingin mencoba mengobrol lebih jauh dengan supir taksi tersebut. Namun, untuk mencari sebuah topik pembicaraan ternyata sangatlah susah. Sesulit inikah untuk bersosialisasi?

Mungkin sekitar satu jam perjalanan, gue sudah sampai di rumah. Sebelum taksi itu pergi, gue hendak membayar taksi tersebut namun si supir menolak dengan alasan sudah dibayar oleh bokap gue. Akhirnya gue memberi selembar uang berwarna biru kepadanya sebagai uang rokok. Wajahnya sumringah ketika gue beri uang tersebut. Nampaknya, ia sangat bersyukur dengan uang yang gue beri yang menurut gue sendiri uang tersebut ga ada apa-apanya dibanding dengan yang gue punya sekarang. Dari sini gue belajar sesuatu, gue harus bisa bersyukur terhadap sesuatu sekecil apapun. Dari sini juga, gue tersadar bahwa gue kurang bersyukur dengan kelebihan yang gue miliki.

***


Taksi tersebut sudah pergi meninggalkan gue di depan sebuah rumah kecil sederhana namun terkesan modern. Rumah ini bercat cokelat dan berpagar hitam. Gue ga bisa ngeliat ke dalem karena pagar tersebut dilapisi oleh semacam, fiber glass? Entahlah, gue ga tau apa namanya.

Tangan gue mencoba memencet bel yang berada di atas kanan pagar rumah tersebut. Setelah menunggu cukup lama, muncullah seorang ibu-ibu yang sudah berumur dengan mengenakan daster.

Quote:



Bibi? Orang tua gue terlalu baik, memberi sebuah rumah lengkap dengan asistennya. Sepertinya memang gue ga bisa 100% terlepas dari kuasa orang tua gue.

Bibi berjalan tergopoh-gopoh menuju pagar dan membukakannya. Gue melihat ke dalam rumah baru ini. Gue langsung disambut oleh sebuah lahan yang cukup besar untuk parkir sebuah mobil yang beratapkan kanopi berwarna biru. Melihat ke kiri, ada sebuah taman kecil yang berukuran sekitar 3x2 meter dan dipenuhi oleh rumput jarum, di tengah-tengahnya juga terdapat sebuah air mancur kecil. Di sekeliling taman tersebut, ada juga tanaman yang tertanam di sisi taman. Gue kemudian masuk ke dalam lewat pintu tengah sambil membawa koper.

Quote:


Gue menolak permintaan bibi. Tapi gue bingung, kenapa gue dipanggil dengan sebutan 'cep'? Tapi ya sudahlah, gue ga terlalu menghiraukan hal tersebut.

Masuk ke dalam rumah, gue langsung disuguhi dengan pemandangan ruang tamu yang bercat putih, memiliki sebuah sofa panjang berwarna hitam yang terbuat dari kulit, sebuah meja kaca dengan kaki-kaki yang berwarna abu-abu, serta di sudut ruang tamu ini terdapat 2 buah tanaman penghias ruangan.

Masuk lebih jauh ke dalam rumah, gue melihat sebuah ruang tengah lengkap dengan perabotannya. Ada sebuah sofa panjang empuk yang dilapisi beludru berwarna cokelat terang di sebelah kiri ruangan, lalu di sudut belakang ruangan tersebut terdapat sebuah meja makan lengkap dengan 4 buah kursi yang mengitari bentuk kotak dari meja makan tersebut, dan di sebelah kanan ruangan ada 2 buah sofa single seat yang memiliki warna senada dengan sofa panjang tersebut. Di tengah-tengah sofa single seat terdapat sebuah meja kecil dari kaca yang diatasnya ada sebuah tanaman yang masih berfungsi sebagai penghias. Di sudut yang berseberangan dengan meja makan, terdapat sebuah tv yang menempel di dinding, lengkap dengan DVD Player dan sound system-nya. Lalu di tengah ruangan terdapat sebuah meja kayu berornamen yang juga dihiasi oleh tanaman palsu.

For God's sake, ngapain gue pergi dari rumah kalo fasilitas disini tetep sama dengan di rumah?

Di belakang meja makan terdapat sebuah dinding yang membatasi antara ruang keluarga dengan dapur. Gue membuka pintu geser dan melihat isi dapur ini. Setelah melihat-lihat di dapur, gue kembali ke ruang tengah. Di samping kursisingle seat terdapat pintu menuju halaman belakang yang bisa digunakan untuk menjemur pakaian. Di halaman belakang tersesbut terdapat sebuah toilet yang mungkin berfungsi untuk mencuci pakaian.

Di samping kanan dan kiri sofa panjang, terdapat dua buah pintu yang gue tebak-tebak salah satunya adalah kamar yang akan gue tempati.

Quote:


Gue menangguk dan kemudian membawa koper menuju pintu yang berada di sebelah kiri sofa. Begitu masuk, gue langsung menyimpan koper di samping kasur dan gue merebahkan badan. Gue lebih memilih kamar ini karena letaknya yang dekat dengan halaman rumah.

***


Quote:


Terdengar pintu ruang tamu tertutup diiringi dengan suara pagar yang terbuka dan kemudian tertutup.


Sendiri lagi deh gue...


Tapi, gue lebih menikmati kesendirian gue disini. Mungkin karena dulu di rumah lebih sering menyendiri di kamar daripada keluar rumah.



Mulai sekarang, ini merupakan zona nyaman yang baru untuk gue...
wah cerita baru ni emoticon-Big Grin
temanya agak anti mainstream emoticon-Big Grin
penulisannya keren emoticon-thumbsup
izin baca ya gan emoticon-shakehand
====
btw ada ijo-ijo nyempil sekedar sedikit apresiasi emoticon-Big Grin
image-url-apps
Waah ada tetangga baru nih, salam kenal yee gan emoticon-shakehand
Ikut nyimak dan ngomen gan emoticon-Smilie.

SEMANGAT gan emoticon-Angkat Beer
image-url-apps
edited
Quote:


silahkan gan emoticon-Smilie

Quote:


doain aja lancar biar bisa tamat gan emoticon-Smilie

Quote:


silahkan gan emoticon-Smilie

Quote:


waaah ada anak rantau juga disini, salam kenal gan emoticon-Smilie

Quote:


Makasih gan, makasih juga buat ijo ijonya emoticon-Big Grin

Quote:


Salam kenal juga gan emoticon-Smilie

Quote:


Semuanya pasti ada jalan biar bisa berubah walaupun sulit, silahkan gan emoticon-Smilie
image-url-apps
Oke gan emoticon-Big Grin

dimana ada anak manja disitu pula ada mama dan papa bhahahahaha emoticon-Ngakak (S).

Tapi itu kan dulu dimasa lalu yoi ga gan emoticon-Cool.