alexa-tracking

Sisa Usia

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54c39bf0118b4636778b456d/sisa-usia
Menari Bersama Sisa Usia
"Sini maju lu..." tantangnya sambil memegang erat gagang baseball dengan kedua tangannya.

Suara berat, seperti dipaksakan untuk berubah. Mungkin dia salah satu dari banyak orang yang kukenal. Ada di sekitarku namun aku tak tahu dia. Atau dia...

Aku berdiri, membersihkan tubuhku dengan menepukkan tanganku di bagian yang kotor. Belum selesai, dia sudah mengayunkan tongkatnya ke arahku. Dengan refleks kutahan tongkat itu dengan kedua pergelangan tanganku sambil mencoba menendangnya. Tak kena sayangnya.

Mati rasa, aku tak kuasa untuk menggerakkan tanganku. Pukulannya begitu kuat.

"Cuman segini doang? Yang kayak gini yang disukain sama Viona? Lemah amat."

"Hah?"

Kaget aku mendengarkan ucapannya. Bagaimana ia bisa tau kalau aku ada hubungannya dengan Viona. Apa mungkin yang waktu itu? Kalau ia, seharusnya ia tak mungkin menyerangku lagi. Mengingat dia sudah pernah merasakan amarahku.

"Whuus" suara ayunan tongkat mengarahku, beruntung aku bia menghindar. Meski harus tertatih karena tanganku ini, yang membuat aku tak seimbang.

Dia mulai bersiap menyerang lagi, aku yang masih ingin hidup pun memaksakan tanganku bergerak.
image-url-apps
Cerita ini adalah cerita lanjutan dari Mencari Ketenangan, cerita pertama ane di kaskus yang berhasil ane tamatin. Katanya sih endingnya gantung, padahal menurut ane enggak deh.

Sebenernya ngak ada niat buat bikin cerita, tapi lama-lama ngak lengkap juga rasanya, sering baca, komen, ngasih masukan. Tapi ngak punya thread sama sekali. Dan kebetulan ada yang penasaran kalau ane bikin cerita bagaimana jadinya. Sudahlah, hajar saja.

Buat cerita kedua ini sebelumnya ane ucapkan terima kasih buat yang sudah mantengin cerita ane sebelumnya yang bisa dibilang ala kadarnya.

Mulai dari si technicolor22, adi.prnm, Zeveer, viniest, ngunsong14, lerakcliffheat, uang5ratus dan beberapa kaskuser lain yang ngak bisa ane sebutin. Terima kasih atas perhatiannya.

Dan tak lupa momod samanosuke20 yang udah ngasih kripik yang benar-benar pedes, banget. Nyesek sih pas dibeberin, tapi emang kenyataan begitu sih.

Semoga cerita lanjutannya kali ini ngak cuman menghibur saja, tapi bisa memberi kesan dan manfaat buat kita semua. Ditunggu komen dan kritik pedasnya.

Terima kasih.





emoticon-coffee
image-url-apps
Quote:

Quote:

Quote:


Quote:
KASKUS Ads
image-url-apps
Quote:

Quote:

Quote:
image-url-apps
Quote:

Quote:

Quote:
image-url-apps
reserved 6
image-url-apps
reserved 7
image-url-apps
reserved 8
image-url-apps
reserved 9
image-url-apps
reserved 10

[Kelas 1] #1

image-url-apps
Namaku Umar, Ali Umar. Orang tuaku tak pernah menceritakan kenapa mereka memberiku nama seperti ini. Mungkin mereka ingin aku secerdas khalifah ali dan segarang khalifah umar. Jika itu benar, aku akan benar-benar sedih dan begitu merasa bersalah sekarang, karena aku belum memenuhi harapan mereka menjadi seperti kedua orang khalifah tersebut. Cerdas tidak, garang apalagi. Aku dilahirkan menjadi anak tunggal, sampai sekarang khususnya. Mengingat kita tak tahu apakah nanti aku akan memiliki seorang adik atau tidak.

Menjadi anak tunggal memberi beban tersendiri untukku. Karena anak tunggal, merupakan satu- satunya yang bisa diharapkan untuk bisa meraih kesuksesan melebihi orang tua kita. Kalau gagal, habis sudah harapan. Tak ada yang bisa diharapkan lagi. Kalau kita memiliki saudara masih ada yang diharapkan, entah kakak tau adik kita.

Contohnya saat ini, aku gagal masuk ke SMA yang mereka harapkan. Malah jauh, sangat jauh dari yang mereka harapkan, karena kesalahanku juga yang tak pernah baca aturan mainnya, jadinya ya seperti ini. Asal daftar, asal cabut, terkena blokir.

Awalnya aku agak sedikit cekcok dengan mereka karena masalah ini, tapi setelah berkali-kali meyakinkan akhirnya mereka bisa menerima keadaan. Tapi meski awalnya begitu menyesal, lama-kelamaan aku merasa sangat beruntung dan begitu bersyukur masuk ke SMA ini, karena di sini, suasanya jauh berbeda dibanding ketika aku masih di SMP. Nyaman, tentram, damai. Semua orang ramah padaku, hanya beberapa yang sinis padaku berbanding terbalik saat SMP yang begitulah, kalian tau sendiri. Di SMA ini aku juga mendapatkan 2 Sahabat baru, Ardi dan Ayu. Meski baru 5 bulan aku masuk ke SMA ini, tapi aku sudah begitu akrab dengan mereka, seperti tak terpisahkan. Kemana-mana selalu bersama, hanya ke toilet saja yang berpisah. Kan tidak mungkin, Ayu masuk ke toilet laki-laki, dan begitu sebaliknya, kami tidak mungkin masuk ke toilet perempuan.

Untuk Ardi, aku mengenalnya saat MOS, dimana saat itu aku dan dia bertengkar karena hal kecil dan tak masuk akal. Namun, karena pertengkaran itu, aku bisa bertemu dengan Ayu.

==========


″Hah, ngebosenin banget, mending ngak usah ikutan.″ ucapku sambil menguap. Memang MOSnya sungguh membosankan dan menyebalkan. Membosankan karena acaranya itu- itu saja dan menyebalkan karena kita dipermalukan dengan pakaian yang aneh ini. Hey! Kenapa MOS selalu seperti ini? Tidak bisakah kegiatan MOS diubah dengan kegiatan lain yang lebih berguna?

″Gua kira gua doang yg bosen, ternyata elo juga toh.″ ucap seorang anak laki-laki yang duduk disampingku.

Perawakannya sungguh membuat para wanita terpesona, khususnya yang seumuran dengannya. Tinggi, putih, tampan. Siapa coba yang tak akan terkagum-kagum dan begitu senang melihatnya? Bahkan laki-laki saja kalau tak kuat iman bisa berubah jalur. Oke, yang terakhir ngawur, bisa diabaikan.

″Loh? Bukannya lu seneng ya? Kan digodain terus sama cewek-cewek.″ aku meledeknya, karena memang sejak tadi pagi ia tak henti-hentinya digoda oleh kakak-kakak kelas yang kecentilan.

″Ngak minat. Ohya, lu bawa itu ngak? Apa tuh? Gurita merah kuning berdarah diatas salju yang banyak pohonnya?″ ucapnya dengan cepat dengan sekali nafas.

″Ngak, bacanya aja dah males.″ sahutku. Coba aku tanya, kalian malas tidak membacanya? Kalau aku sih malas.

″Halah, ikut-ikut aja lu.″ balasnya dengan ketus.

″Elu yang ngikutin kale...″ spontan aku menjawabnya. Enak saja dibilang ikut-ikutan. Mana bisa terima aku.

″Lah elu yang ngikutin. Sekarang gua tanya nih. Yang ganteng siapa?″ sekali lagi, dengan cepat dan sekali nafas. Aku heran, kenapa dia berbicara selalu seperti itu? Mungkinkah dia bercita-cita menjdi seorang rapper?

″Lah enggak jelas lu! Gua tanya balik deh, sekarang yang tuaan siapa?″ balasku. Kenapa aku ikut-ikutan tak jelas juga ya?

″Yang tua mah ngalah, inget umur. Dikit lagi soalnya.″ dia meledek.

″Aturan macam apa itu? Dimana-mana yang muda harusnya ngalah sama yang tua. Hormatin yang tua!″ ucapku dengan sedikit meninggikan nada.

″Enggak bisa gitu! Apapun itu pokoknya elu yang ngikutin!″ teriaknya.

″Elu lah!″ balasku sengit.

″Elu!″ balasnya lagi. Ia tak mau mengalah rupanya.

″Elu! Elu dan Elu!″ aku juga tak mau mengalah. Harga diri.

″Elu!″ Dan terus berlanjut sampai para panitia memarahi kami dan memberi kami hukuman. Lalu kami berdua diperintahkan untuk maju ke depan kelas, untuk menari sambil menyanyikan lagu potong bebek angsa dengan huruf vokal diganti menjadi ″O″ semuanya.

Apa-apaan ini? Menyanyi boleh lah, menari? Aku ingin mati saja sekarang.

″Elu sih...″ bisiknya berusaha menyalahkanku.

″Elu kali! elu yang mulai.″ aku tak terima. Dia yang menyalakan api. Kenapa aku yang disalahkan?

″Mana ada, coba lu ngalah. Enggak bakal kayak gini!″ dia masih bersikukuh kalau dia yang benar, aku yang salah.

″Lah? Bisa gitu? Dah salah enggak mau ngaku lagi.″ aku juga tak mau kalah.

″Yang salah kan elu bukan gua.″ balasnya. Dasar keras kepala.

″Elu lah!″ ucapku dengan penuh semangat. Kok bisa ya? Entahlah.

″Elu!″ dia masih belum mau mengalah rupanya. Kali ini nadanya lebih tinggi dari sebelumnya. Menantang dia rupanya.

″Elu!″ aku juga tak mau kalah. Kutinggikan lagi nada bicaraku, agar lebih tinggi dari dia.

Panitia yang melihat lama-lama kesal, akhirnya hukuman kami diganti menjadi menyatakan cinta pada salah satu peserta MOS yang ada di ruangan ini.

Aku benar-benar mau mati sekarang.

″Karpet...″ refleksku setelah mendengar hukumannya. Hal yang paling aku malas.

″Ah, saya nyerah deh. Ganti yang lain aja kak.″ aku memelas.

″Boleh, push-up 500 kali. Bisa?″ jawab kakak panita MOS dengan santainya.

″Menyatakan cinta aja deh, kayaknya susahan ini deh. Hehe.″ gila saja, masa' push-up 500 kali? Nenek-nenek jungkir balik juga tahu, kalau aku tak akan kuat. Ini nenek-ku ya yang kumaksud, bukan nenek kalian.

Sementara Ardi, dia kesulitan mencari perempuan yang ingin ia jadikan pasangan untuk menyatakan cintanya. Karena bukannya dia yang mencari, malah mereka yang berharap dinyatakan cinta oleh Ardi. Suara-suara ghaib ″Tembak aku aja!″ ″Tembak aku aja!″ pun bergema dengan hebatnya.

Kalau aku mudah, tinggal melihat mana yang cuek akan kehadiran si Ardi. Atau bukan cuek? Mungkin pasrah? Karena tak mungkin dia akan dipilih Ardi?

Kulihat terus kesana dan kemari, sampai aku menemukan seorang perempuan. Cantik, putih, peseng, seperti punya lesung pipi, padahal kenyataannya tidak, dan yang pasti memikat hati. Membuat jantungku berdetak dengan kencangnya, darahku mengalir dengan hebatnya, keringatku bercucuran, badanku kaku, mulutku terkunci.

Mungkinkah ini yang dinamakan jatuh hati pada pandangan pertama?

Aku agak sedikit kurang percaya diri, tapi kupaksakan untuk terus maju. Bukan kurang PeDe, tapi lebih ke malu, sangat malu. Mendekatinya, menghampirinya, menanyakan siapa namanya lalu menariknya untuk maju kedepan? Astaga. Sungguh memalukan!

Aku berharap ada meteor jatuh ke kelas ini sekarang. Agar sekolah libur, MOS dibatalkan. Tapi, sayangnya itu hanya imajinasi abstark ku saja.

″Eh? Gua? G, gua malu tau. Ish.″ sambil memalingkan wajahnya.

″Cuman sekali seumur hidup, temenin gua ya?″ pintaku.

″Gua janji deh, ntar istirahat, elu enggak gua traktir deh. Beneran. Serius, ngak bohong.″ sambungku.

″Laki-laki apaan tuh? Minta tolong kok begitu. Enggak mau ah. Ish.″ dia cemberut. Bikin kesal.

″Habis, Aku kan enggak punya duit...″ sambil memasang wajah memelas.

″Enggak usah kayak gitu juga ish, dah jelek jadi tambah jelek. Ish.″ ledeknya. Ngeselin sekali, lama-lama kuseret-seret juga nih.

″Enak aja, ganteng begini, dibilang jelek.″ ucapku. Aku memang ganteng kok. Enggak percaya? Coba tanya ibuku. Kalau kalian bisa.

″Ya udahlah ya. Yuk, biar cepet selesai. Biar ngak tambah malu. Ish.″ Ish? Mungkin gaya berbicaranya kah?

Dan pada akhirnya ia mau maju mendampingiku. Sial juga para panitia, tak ada yang mau membantu sama sekali, dibiarkan biar usaha sendiri. Bener-bener.

″Eh, tadi gua mau milih dia tuh!″ teriak Ardi.

″Apaan lu, punya gua nih, enak aja mau diembat.″

″Enggak bisa gitu dong, kan gua yang ngerencanain duluan!″ teriaknya lagi. Ini anak benar-benar membuat aku kesal..

″Tapi gua yang ngambil duluan.″ dengan sedikit menjulurkan lidah. Sedikit mengejek.

Beberapa peserta ada yang tertawa melihat tingkah kami yang seperti dagelan. Ada yang cuek, ada juga yang menyoraki kami. Tapi, entah kenapa aku begitu senang ya kali ini?

″Enggak bisa gitu dong.″ Ardi masih tak mau mengalah.

″Apaan dah lu, pengen amat berantem mulu sama gua. Ganti-gantian aja deh.″

″Oke, gua dulu.″ pinta Ardi.

″Gua lah...″ ucapku. Enak saja, aku yang capek-capek minta dia, dia yang duluan.

″Gua dong, kan yang ngerencanain duluan gua.″ ucapnya, masih tak mau mengalah.

″Gua yang ngambil duluan.″ aku juga tak mau mengalah.

″Yang tua ngalah.″

″Yang muda ngalah! Hormatin yang tua.″

″Yang tua lah!″

″Udah! Berisik amat sih kalian ini dari tadi! Emang kalian anak SD apa? Anak SD aja enggak seribut kalian tau! Suit aja deh kalian, biar tau siapa yang duluan.″ panitia sudah mulai jengkel. Aku langsung tersenyum. Kulihat ardi dia juga tersenyum. Sepertinya dia tahu kenapa alasanku terus meladeninya.

Kami-pun suit, dan Ardi yang menang. Ini lah kenapa aku benci jika ada yang menantangku suit, tak pernah menang.

Lalu Ardi yang menyatakan cinta lebih dulu. Mau tak mau harus menerima dan menunggu lebih lama, padahal harusnya sudah selesai dari tadi. Tapi yasudahlah.

″Ayu, bapak kamu maling ya?″

″Itu mah gombal bukan nyatain cinta.″ selaku.

″Eh, elu diem aja! Liatin aja.″

″Tapi itu salah.″

″Yaelah, ribet amat. Yaudah, ayu, udah dari pertama kali aku ngeliat kamu, aku udah suka sama kamu. Kamu itu kayak bidadari, mengalihkan pendanganku dari perempuan-perempuan yang lain. Dan membuatku yakin kalau kamu itu jodoh aku. Jadi kamu mau enggak jadi pacar aku?″ dengan cepat dan sekali nafas tentunya.

″Enggak. Ish.″ ucap ayu sambil menundukkan kepala. Aku yang tak tahan mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak.

″Bwahahahahahah. Ak!″ tawaku terhenti karena panitia menjitakku dari belakang. Kan, sakit.

″Sekarang giliran kamu tuh, jangan ketawa aja bisanya.″ sambil mendorong bahu`ku dengan telunjuknya.

Aku langsung maju mendekati Ayu, menaikan kepalanya dengan telunjukku agar aku bisa menatap matanya. Lalu secara perlahan menggenggam tangannya. Mukanya memerah. Kemudian aku memegang kedua pundaknya dengan penuh keyakinan. Seakan-akan ini sungguhan, bukan sandiwara belaka.

″Ayu, kamu mau ngak? Jadi pendamping hidupku?″ ucapku sambil mengangguk`kan kepala.

″Beneran juga boleh kok, Mar. Ish.″ tersenyum lalu menundukkan kepalanya sambil mengangguk.
ternyata, sabna.tamara itu cowok emoticon-Hammer

nama udah cewek, ava juga cewek emoticon-Nohope
atau agan itu..... emoticon-Betty (S)

ikut ndeprok dimari ya emoticon-Big Grin
dilanjut!
image-url-apps
Quote:


itu apaan neh... emoticon-Bata (S)

silahkan, semoga betah sampai akhir... emoticon-Big Grin
image-url-apps
rumah baru buat kita isi
image-url-apps
Wokeeee sabb emoticon-Big Grin
Bookmark dulu emoticon-Big Grin
image-url-apps
Wih... cerita barunya dah munculemoticon-Belo
Ada id-kuemoticon-Belo

emoticon-Ngakak (S) lah
Hukuman mos-nya emoticon-Ngakak (S)

image-url-apps
cie udah apdeeet emoticon-Big Grin

pasang tenda dulu ah emoticon-linux2
image-url-apps
yaelah si pertamakabis ngapain dah ikutan mejeng di pekiwan... emoticon-Cape deeehh

emoticon-Ngacir
image-url-apps
Gw pasang jejak dulu ya sist sabna. emoticon-Ngakak (S)
emoticon-Paw

Baca dulu. emoticon-Ngacir
image-url-apps
Gw gak baca yg pertama. emoticon-Frown
Maratonin yg ono dulu lah.. emoticon-Ngacir

Berantem ngilangin bosen ya itu mah. emoticon-Ngakak (S)