alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54c23a52a4cb17a0708b4569/tcop-z-murder

TCOP: Z Murder

Truf Card Of Police: Z Murder


Quote:


Quote:


Quote:

Diubah oleh mpasha14
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Quote:

Diubah oleh mpasha14
Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh mpasha14
#2


"Inspektur! Ada masalah!" Ujar seorang pria yang baru saja tiba di hadapan Inspektur sambil membawa sebuah map merah di tangan kanannya.
"Hmmm. Sepertinya kali ini akan ku batalkan lagi." Gumam Inspektur dalam hati.
"Baca ini." Ujar pria tersebut menyerahkan map yang ia bawa, "Bersiap-siaplah." Tambah pria tersebut.
"Oke." Balas Inspektur seraya meraih map tersebut. Pria itupun berlalu pergi lalu hilang dari pandangan ketika ia berbelok di persimpangan lorong.

Tak lama setalah Inspektur mendapat berita tersebut, Dimas tiba di ruang kerja Inspektur dengan wajah kecut. Tampak jelas aura tak bersemangat menyelimuti tubuh kurusnya.

"Sudahlah. Tak perlu murung begitu, Dimas." Ujar Inspektur seakan mengetahui maksud dari mimik wajah Dimas.
"Sial! Kenapa harus ada kasus!" Gerutu Dimas kesal.
"Tenanglah. aku janji setelah kasus selesai, kita akan pergi bersama ke karoke."
"Janji ya?"
"Sudahlah cepat bersiap-siap."

Setelah semuanya siap, mereka berdua berangkat menuju tempat kejadian perkara di daerah Bandung Utara dengan menggunakan mobil patroli polisi, di ikuti beberapa polisi lain di belakang mereka.

"Dari laporan yang ku terima, sepertinya bukan masalah besar, jadi kita bisa pergi ke karoke sesudahnya" Ujar Inspektur memecahkan keheningan.
"...."

Selama di dalam mobil, Dimas sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya diam mematung di kursi samping kursi kemudi, seraya memandangi barisan gedung-gedung dan pertokoan lewat kaca mobil disampingnya.
Setelah berjalan cukup jauh dari markas, akhirnya mereka tiba di tempat yang mereka tuju.

"Oke, kita sudah sampai." Ucap Inspektur sambil menghentikan mobilnya.
"Memangnya kasus kali ini seperti apa?" Tanya Dimas penasaran.
"Kita hanya perlu mengamankan tempat itu." Ujar Inspektur menunjuk sebuah tempat yang sedari tadi sudah di kerumuni banyak orang.

Tampaknya tempat yang mereka tuju adalah sebuah restoran cepat saji yang cukup terkenal di kawasan Bandung Utara. Dari luar restoran, terlihat banyak orang-orang yang memadati pintu masuk restoran. Tanpa basa-basi lagi, polisi-polisi itu mendatangi restoran cepat saji tersebut. Setelah bersusah payah menyeruak masuk melewati kerumunan orang-orang yang memenuhi pintu masuk restoran tersebut, akhirnya para polisi tersebut berhasil tiba di dalam. Terlihat disana sorang pria muda bertopi hitam polos berdiri di sudut kanan ruangan bersama seorang gadis berumur sekitar 7 tahun yang sedang di peluk dan di todongkan senjata tajam ke arah lehernya. Di seberangnya terdapat pria tua berpakaian putih polos yang di balut dengan dasi kupu-kupu serta celana hitam panjang, dan di sebelah kanan pria tua tersebut terdapat seorang wanita yang tak terlalu tua berumur sekitar 35 tahun sedang menangis tersedu-sedu sambil sesekali menyatukan kedua belah telapak tangannya membentuk gestur meminta pengampunan.

"Jangan bunuh anak saya tolong.." Ujar wanita tersebut. Air matanya terus mengalir melewati pipinya hingga membuat make-upnya luntur.
"Te, tenang tuan. Katakan yang anda inginkan." Ujar pria tua tersebut mencoba menenangkan pria bertopi tersebut.
"Dia!? Aku ingin membunuh dia!?" Teriak pria muda tersebut dengan lantangnya.
"Polisi!" Teriak Inspektur Gilang sambil menunjukan tanda pengenal yang ia kalungkan di lehernya.
"Akhirnya datang juga." Ujar pria tua tersebut.
"Ibu tolong aku!" Teriak gadis kecil itu sambil terus menangis kencang di pelukan pria muda bertopi tersebut.

Dimas yang melihat situasi itu, mencoba mengamankan tempat kejadian perkara dengan menghimbau agar orang-orang yang menonton kejadian tersebut untuk keluar dari restoran. Setelah keadaanya sudah kondusif, Dimas kembali ke dalam restoran dan pintu masuk restoran tersebut di jaga ketat oleh dua orang polisi. Sekarang, di dalam restoran tersebut hanya ada tersangka, sang gadis kecil, ibu dari gadis kecil itu, menejer resotran, beberapa karyawan yang bekerja di restoran itu, serta Inspektur Gilang dan beberapa polisi lain.

"Hei tuan tenangkan diri anda, ucapkan yang kau inginkan." Ujar Inspektur mencoba bernegosiasi.
"Siapa kau! Pergi!" Pria tersebut menodongkan pisau ke arah Inspektur.
"Oke. Mari kita bekerja sama." Ujar Dimas mencoba menghampirinya sambil membawa sepucuk senjata api jenis revolver di tangan kanannya.
"Pergi!" Teriak pria tersebut. Sontak Dimas menghentikan langkahnya.
"To, tolong anak saya." Ucap wanita tersebut yang masih menangis memohon agar anaknya di bebaskan.
"Tolong jangan membuat gaduh restoran saya tuan." Ujar pria tua tersebut yang tampaknya adalah manajer restoran itu.

Melihat keadaan yang semakin parah, Inspektur mencoba mengambil tidakan dengan menarik revolver dari pinggangnya.

"Baik, kalau begitu bunuh saja aku." Ujar Inspektur seraya meletakan revolvernya di lantai restoran lalu mengangkat kedua tangannya hingga berada di atas kepala.
"Si, siapa kau?!"
Diubah oleh mpasha14
#3


"Aku yang akan membantumu keluar dari kesengsaraan ini." Ujar inspektur mencoba menenangkannya. "Oke. Sekarang kau lepaskan anak itu, dan sebagai gantinya kau bunuh saja aku." Tambah Inspektur Gilang mencoba bernegosiasi.

Belum selesai Inspektur bernegosiasi, Dimas mencoba berjalan perlahan mendekati pria tersebut sambil terus memegang revolver dengan kedua belah tangannya.

"Ja, jangan mendekat! Atau anak ini aku bunuh detik ini juga!" Teriak pria bertopi itu sambil menodongkan pisaunya ke arah Dimas.
"Wow, wow. Tenang kawan." Ujar Dimas santai.

Inspektur menurunkan kembali tangannya lalu mengambil revolver yang sebelumnya ia letakan di lantai dan memasukannya kembali ke tempat khusus di pinggangnya. Melihat anak buahnya bertindak, Inspektur hanya tersenyum sambil menantikan kejadian selanjutnya. Dimas berjalan semakin dekat dengan tersangka, hingga akhirnya ia berada tepat satu meter di depannya.

"Bagaimana kalau begini, anak ini kau lepaskan.." Ujar Dimas mencoba berbicara,'lalu sebagai gantinya, peluru ini akan menembus lehermu detik ini juga." Tambah Dimas sambil menodongkan ujung revolver tepat di bawah dagu pria itu.
"Ibu!? Tolong aku.." Tangisan gadis itu semakin menjadi-jadi.

Seketika tubuh pria tersebut bergetar hebat hingga membuatnya melonggarkan pelukan kepada gadis tersebut, lalu menjatuhkan pisau yang ia bawa. Dengan cepat, pria bertopi tersebut berjalan mundur beberapa langkah hingga akhirnya ia mencapai ujung tembok dan tak dapat mundur lebih jauh lagi. Melihat dirinya terpojok, pria itu pun hanya bisa bersandar pada tembok tersebut lalu menangis seraya menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya. Melihat dirinya bebas, anak perempuan itu langsung berlari mengahampiri ibunya lalu memeluknya erat.

"Detak jantungmu berdetak lebih cepat sehingga nafasmu tersenggal-senggal. Tangan dan lututmu tampak bergetar. Itu sudah membuktikan bahwa kau sebenarnya takut. Kau memiliki tekanan batin yang cukup hebat sehingga emosimu meluap dan ingin segera melampiaskannya." Ujar Dimas menerangkan, "Ditambah lagi kau berkedip berlebihan dan sesekali menelan ludah ketika selesai berbicara. Bukti itu sudah cukup menunjukan bahwa kau benar-benar takut dan kau tak akan benar-benar melampiaskannya kan? Bahkan kau memegang pisau itu terbalik, daerah tajamnya berlawanan arah dengan leher gadis kecil itu. Setakut itukah kau?" Tambah Dimas menjelaskan. Ia pun memasukan revolvernya ke dalam tempat khusus di pinggangnya lalu berjalan menghampiri pria tersebut.
"A, aku memang bodoh." Ujar pria tersebut terbata-bata.
"Tak ada yang bodoh di dunia ini. Yang ada hanyalah orang yang dapat menggunakan otaknya dengan baik dan orang yang tidak dapat memaksimalkan otaknya dengan baik." Bisik Dimas tepat di telinga kiri pria tersebut. Seketika pria tersebut menangis keras sambil menutupi mukanya dengan kedua belah tangannya.

Setelah melakukan aksinya, Dimas berjalan kembali menuju Inspektur yang berdiri tak jauh dari dirinya.

"Amankan dia!" Ujar Inspektur memerintah polisi yang ada di sana untuk mengamankan pria tersebut.
"Bagaimana aksiku tadi?" Ujar Dimas tersenyum lebar.
"Hmm. Cukup baik." Ucap Inspektur membalas senyuman Dimas.
"Hah? Bahkan kau tak memberikanku ucapan selamat, Inspektur."
"Hahahah. Kau ini," Ucap Inspektur tertawa kecil, "Selamat anak muda, kau berhasil." Tambah Inspektur seraya menepuk pundak Dimas.
Diubah oleh mpasha14
okeh ane komeng duluan dimari emoticon-Cool
biar gk tgglam ni crita, cerita fiksi harus di apresiasikan di sfth emoticon-Recommended Seller
Quote:


terimakasih ganemoticon-Big Grin monggo dibaca dulu gan emoticon-Cendol (S)
Diubah oleh mpasha14
Quote:


Betul sekali!

Semangat bikin ceritanya ts!
Quote:


siap gan emoticon-army
manggon dulu ah,
demen ma cerita2 yg model fiksi gini nih..
tapi, ada beberapa yg storytellingnya ga pas..
tapi ga boleh protes ya, ya sudah bantu up aja
kayanya seru nih... ninggalin jejak dulu gan..


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di